Anda di halaman 1dari 15

JURNAL ILMIAH

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY


TWO STRAY UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI
DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA PADA MATERI BANGUN
RUANG SISI DATAR KELAS VIII H SMP NEGERI 1 BUNGORO

THE IMPLEMENTATION OF COOPERATIVE LEARNING MODEL OF TWO


STAY TWO STRAY TYPE TO IMPROVE STUDENTS’ COMMUNICATION
ABILITIES AND MATHEMATICS LEARNING RESULTS IN FLAT SIDE
GEOMETRY MATERIAL OF CLASS VIII H
AT SMP NEGERI 1 BUNGORO

ERNAWATY

ABSTRAK
ERNAWATY. 2016. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray
untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi dan Hasil Belajar Matematika Siswa pada
Materi Bangun Ruang Sisi Datar Kelas VIII H SMP Negeri 1 Bungoro. (Dibimbing oleh
Suradi Tahmir dan Asdar).

Rendahnya kemampuan komunikasi dan hasil belajar matematika siswa, merupakan


salah satu kasus pengajaran di Sekolah Menengah yang masih perlu perbaikan, hal ini
disebabkan karena siswa kurang memahami materi, kurang berani mengajukan pertanyaan
pada guru dan kurang aktif dalam kegiatan diskusi. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui kemampuan komunikasi dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika
setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray.
Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan
di SMP Negeri 1 Bungoro pada semester II tahun pelajaran 2015/2016. Subjek penelitian ini
adalah siswa kelas VIII H SMP Negeri 1 Bungoro. Teknik pengumpulan data dengan tes dan
non tes melalui lembar observasi.
Pada penelitian ini telah dilaksanakan proses pembelajaran sebanyak 2 (dua) siklus.
Hasil penelitian menunjukkan: (i) Berdasarkan hasil analisis tes, kemampuan komunikasi
matematika meningkat dari siklus I ke siklus II, dilihat dari nilai rata-rata (ii) Berdasarkan
hasil analisis tes hasil belajar, diperoleh bahwa siswa yang berada pada kategori sangat
rendah berkurang dari 4 siswa (12,1%) pada pra tindakan menjadi tidak ada siswa pada akhir
siklus Idanakhir siklus II. Sedangkan siswa yang berada pada kategori sangat tinggi
meningkat dari tidak ada siswa pada pra tindakan menjadi 1 siswa (3,0%) pada akhir siklus I
dan menjadi 3 (9,1%) pada akhir siklus II. Rata-rata skor hasil belajar matematika siswa
meningkat dari 46,69 pada pra tindakan, menjadi 65,27 pada akhir siklus I dan menjadi 69,42
pada akhir siklus II. Selanjutnya, siswa yang mencapai ketuntasan belajarsebanyak 15
siswaatau 45,4% pada akhir siklus I dan pada akhir siklus II sebanyak 21 siswa atau 63,6%.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa pada siklus I dan siklus II
meningkattetapitidak memenuhi kriteria ketuntasan klasikal. (iii) Hasil pengamatan terhadap
aktivitas siswa yang berlangsung selama 2 (dua) siklus diperoleh bahwa dengan
memperhatikan rata-rata aktivitas siswa pada setiap aspek yang diamati menunjukkan bahwa
aktivitas siswa memenuhi kriteria efektif. (iv) Hasil pengamatan terhadap pengelolaan
pembelajaran sudah berada pada kategorisangat tinggi.

1
2

ABSTRACT
ERNAWATY. 2016. The Implementation of Cooperative Learning Model of Two Stay Two
Stray Type to Improve Students’ Communication Abilities and Mathematics Learning Results
in Flat Side Geometry Material of Class VIII H at SMP Negeri 1 Bungoro (supervised by
SuradiTahmir and Asdar).

Low communication abilities and mathematics learning results of students is one of


learning cases in high school that needs to be improved. It is due to the students’ less
comprehension on the material, less ability to ask the teacher and less active in discussion
activity. The objectives of the research are to discover the students’ communication abilities
and learning results in mathematics learning after implementing cooperative learning model
of Two Stay Two Stray type.
The research is classroom action research. The research was conducted at SMP
Negeri 1 Bungoro in second semester of academic year 2015/2016. The subjects of the
research were the students in class VIII H at SMP Negeri 1 Bungoro. The data collection
techniques used were test and non-test through observation sheet.
The research had been conducted in 2 (two) cycles. The results of the research reveal
that: (i) based on the results of the analysis test, the mathematics communication abilities
improve from cycle I to cycle II, seen from the average, (ii) based on the results of learning
results test analysis, it is discovered that the students who are in very low category decrease
from 4 students (12.1%) in pre treatment to no students at the end of cycle I and cycle II.;
whereas, the students who are in very high category improve from no students in pre
treatment improve to 1 student (3.0%) at the end of cycle I and improve to 3 students (9.1%)
at the end of cycle II. The average score of the students’ mathematics learning results
improve from 46.69 in pre treatment to 65.27 at the end of cycle I and improve to 69.42 at the
end of cycle II. Then, the students who achieve learning completeness are 15 students or
45.4% at the end of cycle I and 21 students or 63.6% at the end of cycle II. So, it can be
concluded that the students’ mathematics learning results in cycle I and cycle II improve but
it has not met classical completeness criteria, (iii) the observation result on the students’
activities conducted in 2 (two) cycles indicates that based on the students’ average activities
in each aspect observed reveals that the students’ activities has met the effective criteria, and
(iv) the observation result on learning management is already in very high category.
3

PENDAHULUAN

Matematika merupakan bidang studi yang dipelajari oleh semua siswa dari SD hingga
SLTA dan bahkan juga di perguruan tinggi. Ada banyak alasan tentang perlunya siswa belajar
matematika. Cockroft (dalam Abdurrahman, 2012: 204) mengemukakan bahwa matematika
perlu diajarkan kepada siswa karena (1) selalu digunakan dalam segala segi kehidupan; (2)
semua bidang studi memerlukan keterampilan matematika yang sesuai; (3) merupakan sarana
komunikasi yang kuat, singkat, dan jelas; (4) dapat digunakan untuk menyajikan informasi
dalam berbagai cara; (5) meningkatkan kemampuan berpikir logis, ketelitian, dan kesadaran
keruangan; dan (6) memberikan kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah yang
menantang.
Model pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray dapat mengembangkan beberapa
aspek yaitu dapat mengembangkan potensi siswa dalam kelompok, dapat terjadi hubungan
yang saling menguntungkan antara kelompok, dapat mengembangkan semangat kerja
kelompok dan semangat kebersamaan, dapat menumbuhkan komunikasi yang efektif dan
semangat kompetensi di antara anggota kelompok. Adapun yang menjadi ciri utama dalam
model pembelajaran Two Stay Two Stray adalah sebagai berikut: (a) Siswa bekerja sama
dalam kelompok berempat seperti biasa, (b) Setelah selesai, dua siswa dari masing-masing
kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertamu ke kelompok yang
lain, (c) Dua siswa yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan
informasi mereka ke tamu mereka, (d) Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka
sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain, dan (e) Kelompok mencocokkan
dan membahas hasil-hasil kerja mereka.
Kemp (Sumantri, 2015: 40) menjelaskan bahwa model pembelajaran adalah suatu
kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat
dicapai secara efektif dan efisien. Senada dengan pendapat di atas, Dick dan Carey
(Sumantri, 2015: 40) menyebutkan bahwa model pembelajaran itu adalah suatu set materi
dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil
belajar pada siswa.
Menurut Slavin (dalam Isjoni, 2011: 12), pembelajaran kooperatif adalah suatu
model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil
secara kolaboratif yang anggotanya 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen.
Artz dan Newman (dalam Huda, 2015: 32) mendefinisikan pembelajaran kooperatif
sebagai kelompok kecil pembelajar/siswa yag bekerja sama dalam satu tim untuk mengatasi
suatu masalah menyelesaikan sebuah tugas, atau mencapai satu tujuan bersama. Sementara
menurut Sanjaya (dalam Rusman, 2014: 203) pembelajaran kooperatif merupakan kegiatan
belajar siswa yang dilakukan dengan cara berkelompok. Model pembelajaran kelompok
adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok
tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah model Two Stay TwoStray (TSTS).
“Dua tinggal dua tamu” yang dikembangkan oleh Spencer Kagan 1992. Metode
pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray merupakan sistem pembelajaran kelompok
dengan tujuan agar siswa dapat saling bekerjasama, bertanggung jawab, saling membantu
memecahkan masalah, saling mendorong untuk berprestasi, dan juga melatih siswa untuk
bersosialisasi dengan baik.
4

Dalam proses pembelajaran dengan model Two Stay Two Stray, secara sadar ataupun
tidak sadar, siswa akan melakukan salah satu kegiatan berbahasa yang menjadi kajian untuk
ditingkatkan yaitu keterampilan menyimak. Dengan menerapkan model pembelajaran
kooperatif TSTS seperti itu, siswa akan lebih banyak melakukan kegiatan menyimak secara
langsung, dalam artian tidak selalu dengan cara menyimak apa yang guru utarakan yang
dapat membuat siswa jenuh. Dengan penerapan model pembelajaran TSTS, siswa juga akan
terlibat secara aktif, sehingga akan memunculkan semangat siswa dalam belajar aktif.
Di dalam proses pembelajaran matematika di kelas, komunikasi gagasan matematika
bisa berlangsung antara guru dengan siswa, antara buku dengan siswa, dan antara siswa
dengan siswa. Menurut Hiebert (dalam Herdian, 2010: 1) setiap kali kita mengkomunikasikan
gagasan-gagasan matematika, kita harus menyajikan gagasan tersebut dengan suatu cara
tertentu. Ini merupakan hal yang sangat penting, sebab bila tidak demikian, komunikasi
tersebut tidak akan berlangsung efektif. Gagasan tersebut harus disesuaikan dengan
kemampuan orang yang kita ajak berkomunikasi. Kita harus mampu menyesuaikan dengan
sistem representasi yang mampu mereka gunakan. Tanpa itu, komunikasi hanya akan
berlangsung dari satu arah dan tidak mencapai sasaran.
Menurut Gagne, hasil belajar adalah terbentuknya konsep, yaitu kategori yang kita
berikan pada stimulus yang ada di lingkungan, yang menyediakan skema yang terorganisasi
untuk mengasimilasi stimulus-stimulus baru dan menentukan hubungan di dalam dan di
antara kategori-kategori. (dalam Purwanto, 2013: 42). Gagne membagi lima kategori hasil
belajar, yakni (a) informasi verbal, (b) keterampilan intelektual, (c) strategi kognitif, (d)
sikap, dan (e) keterampilan motoris.
Untuk menentukan volume kubus dapat di perhatikan gambar 2.2 berikut yang
menunjukkan sebuah kubus satuan dengan panjang rusuk 2 satuan panjang.

Gambar 2.3 Bidang Diagonal Kubus


Volume kubus=panjang kubus satuan x lebar kubus satuan x tinggi kubus satuan
= (2 x 2 x 2) satuan volume
= 23 satuan volume
= 8 satuan volume
Jadi diperoleh rumus volume kubus sebagai berikut.
V = rusuk x rusuk x rusuk
=sxsxs
= s3
Sebagaimana halnya mencari luas permukaan kubus, untuk menghitung luas
permukaan balok pun sama, yaitu dengan menghitung semua luas sisi-sisinya atau semua luas
jaring-jaringnya.
5

pxl l l
p
t

Gambar 2.6 Luas Permukaan Balok


Jika panjang balok ditulis p,lebar balok ditulis l dan tinggi balok ditulis tmaka luas
permukaan balok dapat ditentukan sebagai berikut.
Luas permukaan balok = 2 (p x l) + 2 (l x t) + 2 (p x t)
= 2 ((p x l) + (l x t) + (p x t))
= 2 (pl + lt + pt)
Jadi, luas permukaan balok dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut.
Luas permukaan balok = 2(pl + lt + pt)

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang
merupakan suatu siklus yang terdiri dari perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.
Siklus yang digunakan mengikuti model Kemmis &Mc Taggart (Kusumah, 2012:20).
Lokasi penelitian adalah SMP Negeri 1 Bungoro Kecamatan Bungoro Kabupaten
Pangkajene dan Kepulauan. Penelitian ini dilaksanakan pada semester II Tahun Pelajaran
2015/2016.
Yang menjadi subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII H SMP Negeri 1 Bungoro
dengan jumlah siswa 33 orang, yang terdiri dari 17 laki-laki dan 16 perempuan.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut:
1. Menelaah kurikulum/silabus matematika siswa kelas VIII SMP.
2. Menentukan materi yang akan diajarkan.
3. Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran, mengikuti model kooperatif tipe
Two Stay Two Stray.
4. Membuat lembar observasiaktivitas siswadan lembar observasi pengelolaan
pembelajaran.
5. Membuat alat penilaian untuk mengukur kemampuankomunikasi dan hasil
belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay
Two Stray.

Berdasarkan hasil observasi pengelolaan pembelajaran ditemukan bahwa


keterlaksanaan pembelajaran telah mencapai kategori minimal sedang maka peneliti segera
melakukan tes akhir siklus I. Adapun pokok-pokok tindakan yang direncanakan apabila
penelitian ini berlanjut ke Siklus II, dan seterusnya adalah perbaikan-perbaikan tindakan
pembelajaran yang meliputi aktivitas siswa, pengelolaan pembelajaran, perbaikan strategi
pembelajaran bahkan pemberian media-media pembelajaran yang dapat membantu motivasi
belajar siswa. Perbaikan-perbaikan tersebut berdasarkan hasil refleksi tindakan pada siklus
sebelumnya.
1. Sumber Data
Sumber data penelitian ini adalah siswa dan guru.
6

2. Jenis Data
1. Tes komunikasi matematika dan hasil belajar yang menghasilkan data kuantitatif
2. Lembar observasi yang menghasilkan data kualitatif dan kuantitatif
3. Cara pengambilan data
1. Data kemampuan komunikasi matematika dan hasil belajar diambil dari tes pada
setiap akhir siklus.
2. Data mengenai aktivitas siswa, pengelolaan pembelajaran diambil melalui
pengamatan pada saat proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan
lembar observasi.
Data yang terkumpul dianalisis dengan cara kualitatif dan kuantitatif.Data yang
dianalisis adalah: (1) Pengelolaan pembelajaran; (2) Kemampuan komunikasi matematika
siswa; (3) Hasil belajar matematika siswa; (4) Aktivitas siswa. Uraian singkat dari analisis
diatas adalah sebagai berikut :
7

HASIL PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang
bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan hasil belajar matematika siswa
melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray pada kelas VIII H
SMP Negeri 1 Bungoro. Pada bab ini akan disajikan hasil penelitian dan pembahasan, yang
terdiri atas: (1) deskripsi dan analisis data hasil penelitian, (2) pembahasan secara umum, dan
(3) keterbatasan dan kendala penelitian.
Pada kegiatan awal, pembelajaran diawali dengan salam dan berdoa bersama.
Kemudian guru menanyakan kesiapan siswa untuk belajar dan mengecek kehadiran siswa.
Setelah guru membuka pembelajaran, kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran
yang akan dicapai. Pada kegiatan ini pula guru memberikan apersepsi pada siswa dengan
mengingatkan kembali bangun-bangun ruang yang berbentuk kubus dan balok yang telah
dipelajari pada tingkat sekolah dasar. Selain apersepsi, guru juga memotivasi siswa dengan
membahas manfaat mempelajari materi kubus dan balok dalam kehidupan sehari-hari.
Selama pembelajaran berlangsung diadakan pengamatan sesuai dengan pedoman
pada lembar observasi aktivitas siswa yang telah disiapkan sebelumnya. Adapun aspek
aktivitas siswa yang diamati adalah: (1) mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru; (2)
membaca buku siswa; (3) berperan sebagai tamu/penerima tamu; (4) mengerjakan LKS
secara kelompok; (5) mengajukan pertanyaan pada guru; (6) berdiskusi, bekerjasama dan
bertukar jawaban dengan teman; (7) menyajikan atau menanggapi hasil kerja kelompok; (8)
mengerjakan kuis; (9) membuat rangkuman materi yang telah dibahas; (10) perilaku yang
tidak sesuai KBM.
Observasi terhadap pengelolaan pembelajaran dilakukan oleh seorang observer
berdasarkan lembar observasi yang telah disiapkan oleh peneliti. Terdapat enam fase dengan
21 aspek yang diamati selama 6 kali pertemuan. Pada kegiatan pendahuluan terdapat 3 aspek
yang diamati, yaitu: (1) menyampaikan tujuan pembelajaran; (2) melakukan apersepsi dengan
mengingatkan materi yang telah dipelajari sebelumnya; (3) memotivasi siswa dengan
membahas manfaat mempelajari materi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk kegiatan inti
terdapat 15 aspek yang diamati dan pada kegiatan penutup terdapat 3 aspek yang diamati.
Pada kegiatan pendahuluan, aspek menyampaikan tujuan pembelajaran, melakukan
apersepsi serta motivasi siswa dinilai “sesuai” oleh observer.Pada kegiatan inti, dari 15 aspek
yang diamati 11 aspek dinilai “sesuai”dan 4 aspek dinilai “cukup sesuai” oleh observer.
Untuk kegiatan penutup, aspek mengarahkan siswa membuat rangkuman dan aspek menutup
pembelajaran dengan salam dinilai “cukup sesuai”oleh observer sedangkan aspek
mengingatkan topik yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya dinilai “sesuai” oleh
observer.
Kegiatan pendahuluan, aspek menyampaikan tujuan pembelajaran dinilai “sesuai”
oleh observer. Sedangkan aspek melakukan apersepsi dengan mengingatkan materi yang
telah dipelajari sebelumnya dan aspek memotivasi siswa dinilai “cukup sesuai” oleh observer.
Pada kegiatan inti, dari 15 aspek yang diamati 11 aspek dinilai “sesuai” dan 4 aspek dinilai
“cukup sesuai” oleh observer. Untuk kegiatan penutup,aspek mengarahkan siswa membuat
rangkuman, aspek mengingatkan topik yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya dan
aspek menutup pembelajaran dinilai “sesuai” oleh observer.
Guru membuka pikiran siswa tentang contoh-contoh masalah yang berkaitan dengan
bangun ruang sisi datar, kemudian meminta siswa untuk mengumpulkan laporan hasil diskusi
tiap-tiap kelompok. Selanjutnya guru memberikan kuis untuk dikerjakan secara individu
8

mengenai materi yang telah dibahas. Kemudian guru memberikan penghargaan/apresiasi


siswa baik secara individu maupun kelompok yang aktif selama diskusi kelompok.
Selanjutnya sebagai kegiatan penutup, guru memberikan bimbingan kepada siswa
untuk merangkum materi yang baru dibahas, memberikan PR, serta menginformasikan materi
yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya untuk dipelajari terlebih dahulu di rumah.
Setelah dilaksanakan kegiatan pembelajaran enam kali pertemuan, dan pada
pertemuan berikutnya adalah memberikan tes hasil belajar. Materi tes hasil belajar mengacu
pada materi pertemuan ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, ke-5, dan ke-6. Tes hasil belajar dilaksanakan
pada hari kamis tanggal 19 mei 2016. Hasil tes belajar siswa siklus I dapat dilihat pada
lampiran C.4. Hasil analisis deskriptif terhadap skor hasil belajar melalui penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dari 33 siswa yang menjadi subjek
penelitian secara ringkas disajikan pada Tabel 4.1 berikut.
Tabel 4.1 Statistik SkorHasil Belajar Matematika pada Tes Siklus I Siswa Kelas VIII H SMP
Negeri 1 Bungoro
Statistik Nilai Statistik
Subjek 33
Skor tertinggi 100
Skor terendah 40
Rentang 60
Mean 65,27
Median 69,00
Modus 77,00
Standar Deviasi 16,58

Selanjutnya jika skor hasil belajar matematika siswa pada siklus I, masing-masing
dikelompokkan ke dalam lima kategori berdasarkan pengkategorian pada Bab III, maka
diperoleh distribusi frekuensi dan persentase skor yang disajikan pada Tabel 4.2 berikut.
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika pada Siklus I
Siswa Kelas VIII H SMP Negeri 1 Bungoro
Rentang Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)
0 – 39 Sangat Rendah 0 0
40 – 59 Rendah 12 36,4
60 – 74 Sedang 6 18,2
75 – 90 Tinggi 14 42,4
91 – 100 Sangat Tinggi 1 3,0

Jika skor hasil belajar matematika siklus I dianalisis berdasarkanKKM, maka


hasilnya dapat ditunjukkan seperti pada tabel 4.3 berikut.
Tabel 4.3 Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Siklus I Berdasarkan Pencapaian
KKM
Frekuensi dan Persentase
Skor/Nilai Kategori Hasil Belajar Siklus I
Frek. %
N < 75 Tidak tuntas 18 54,6
N ≥ 75 Tuntas 15 45,4
9

Pada kegiatan awal, pembelajaran diawali dengan salam dan berdoa bersama.
Kemudian guru menanyakan kesiapan siswa untuk belajar dan mengecek kehadiran siswa.
Setelah guru membuka pembelajaran, kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran
yang akan dicapai. Pada kegiatan ini pula guru memberikan apersepsi pada siswa dengan
mengingatkan kembali bangun-bangun ruang yang berbentuk prisma dan limas yang telah
dipelajari pada tingkat sekolah dasar. Selain apersepsi, guru juga memotivasi siswa dengan
membahas manfaat mempelajari materi prisma dan limas dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah kegiatan Two Stay Two Stray dilakukan guru kembali mengarahkan
siswa untuk kembali ke kelompok masing-masing dan melaporkan temuannya serta
mencocokkan dan membahas kembali hasil kerjanya. Pada kegiatan mencocokkan
dan membahas kembali hasil kerjanya, guru kembali mendorong terjadinya kerjasama
antar anggota kelompok diskusi dan menghargai pendapat teman jika ada perbedaan
serta guru membimbing siswa yang mengalami kesulitan selama proses
pembelajaran. Selanjutnya untuk mengevaluasi kerja masing-masing kelompok, guru
mengarahkan siswa untuk mempresentasekan hasil diskusi kelompoknya.
Setelah kegiatan pembelajaran dilaksanakan enam kali pertemuan, dan
pertemuan berikutnya adalah memberikan tes kemampuan komunikasi matematika.
Materi tes mengacu pada materi pertemuan ke-7 sampai pertemuan ke-12. Tes hasil
kemampuan komunikasi matematika dilaksanakan pada hari kamis tanggal 26 mei
2016. Hasil tes kemampuan komunikasi matematika melalui penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dari 33 siswa yang menjadi subjek
penelitian dapat dilihat pada lampiran C.8
Berdasarkan lampiran C.8 menunjukkan bahwa skor tes kemampuan
komunikasi matematika pada siklus II siswa SMP Negeri 1 Bungoro pada materi
Prisma dan Limas diperoleh skor tertinggi 92 dan skor terendah 33. Nilai rata-rata
yang diperoleh adalah60,18.
Setelah dilaksanakan kegiatan pembelajaran enam kali pertemuan, pada pertemuan
ke-13 adalah memberikan tes hasil belajar. Materi tes hasil belajar mengacu pada materi
pertemuan ke-7, ke-8, ke-9, ke-10, ke-11, dan ke-12. Tes hasil belajar dilaksanakan pada hari
kamistanggal 26 mei 2016. Hasil tes belajar siswa siklus II dapat dilihat pada lampiran C.7.
Hasil analisis deskriptif terhadap skor hasil belajar melalui penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe Two Stay Two Stray dari 33 siswa yang menjadi subjek penelitian secara
ringkas disajikan pada Tabel 4.5 berikut.
Tabel 4.5 Statistik Skor Hasil Belajar Matematika pada Tes Siklus II Siswa Kelas VIII H
SMP Negeri 1 Bungoro
Statistik Nilai Statistik
Subjek 33
Skor tertinggi 100
Skor terendah 45
Rentang 55,00
Mean 69,42
Median 76,00
Modus 79,00
Standar Deviasi 16,03
10

Selanjutnya jika skor hasil belajar matematika siswa pada siklus II, masing-masing
dikelompokkan ke dalam lima kategori berdasarkan pengkategorian pada Bab III, maka
diperoleh distribusi frekuensi dan persentase skor yang disajikan pada Tabel 4.6 berikut.
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika pada Siklus
IISiswa Kelas VIII H SMP Negeri 1 Bungoro
Rentang Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)
0 – 39 Sangat Rendah 0 0
40 – 59 Rendah 9 27,3
60 – 74 Sedang 3 9,1
75 – 90 Tinggi 18 54,5
91 – 100 Sangat Tinggi 3 9,1

Jika skor hasil belajar matematika siklus II dianalisis berdasarkanKKM, maka


hasilnya dapat ditunjukkan seperti pada tabel 4.7berikut.

Tabel 4.7 Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Siklus II Berdasarkan
Pencapaian KKM
Frekuensi dan Persentase
Skor/Nilai Kategori Hasil Belajar Siklus II
Frek. %
N < 75 Tidak tuntas 12 36,4
N ≥ 75 Tuntas 21 63,6
Berdasarkan pengamatan peneliti selama mengajar siswa kelas VIII H SMP Negeri 1
Bungoro yang menjadi subjek penelitian, yang terlihat bahwa pada umumnya siswa
dalam proses pembelajaran pasif dalam menerima materi pelajaran. Sebagian besar
siswa hanya menerima informasi yang disampaikan oleh guru tanpa memahami
makna dari informasi yang diterimanya sehingga informasi tersebut hanya dapat
mereka ingat pada saat itu saja sehingga pertanyaan-pertanyaan yang diberikan
berkaitan dengan informasi yang telah disampaikan sebelumnya pada beberapa
pertemuan berikutnya, sebagian besar siswa tidak mampu menjawab dengan benar
karena alasan lupa terhadap informasi yang telah disampaikan. Pada saat diberikan
tugas untuk bekerja secara kelompok, yang aktif hanya beberapa siswa saja
sedangkan yang lainnya hanya menerima apa yang telah dikerjakan oleh teman
kelompoknya sehingga kerja kelompok menyita waktu lama bahkan ada beberapa
siswa yang meminta jawaban dari kelompok lain, sehingga pada saat presentasi
dilaksanakan tidak terjadi perdebatan antar kelompok karena hampir semua hasil
kerja kelompok sama.
Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I dapat dilihat pada lampiran berdasarkan
lampiran tersebut pencapaian persentase rata-rata aktivitas siswa pada siklus I untuk
10 aktivitas yang diamati yaitu: ada 1 aktivitas berada pada kategori ketercapaian
sangat efektif, 3 aktivitas berada pada kategori ketercapaian efektif, 6 aktivitas berada
pada kategori ketercapaian tidak efektif. Sedangkan hasil observasi aktivitas siswa
pada siklus II dapat dilihat pada lampiran C.5 berdasarkan lampiran tersebut
11

pencapaian persentase rata-rata aktivitas siswa pada siklus II untuk 10 aktivitas yang
diamati yaitu: 3 aktivitas berada pada kategori ketercapaian sangat efektif, 6 aktivitas
berada pada kategori ketercapaian efektif, 1 aktivitas berada pada kategori
ketercapaian tidak efektif.
Berdasarkan data tersebut dapat dijelaskan bahwa ada peningkatan aktivitas
siswa dari siklus I ke siklus II sehingga dapat disimpulkan bahwa setelah
melaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay
Two Stray pada materi bangun ruang sisi datar dapat meningkatkan aktivitas, yang
berarti telah memenuhi kriteria keberhasilan
Pada pembelajaran bangun ruang sisi datar dengan model pembelajaran kooperatif
tipe Two Stay Two Stray, dilaksanakan dua kali tes, yaitu satu kali tes pada siklus I dengan
materi kubus dan balok, satu kali tes pada siklus II dengan materi prisma dan limas. Jika hasil
belajar matematika tersebut dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh
distribusi frekuensi skor yang disajikan pada tabel 4.8
Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Siklus I dan Skor Hasil
Belajar Siklus II

Hasil Belajar dan Frekuensi


r Kategori Hasil Belajar Siklus I Hasil Belajar Siklus II
Frek. % Frek. %
0 – 39 Sangat Rendah 0 0 0 0
40 – 59 Rendah 12 36,4 9 27,3
60 –74 Sedang 6 18,2 3 9,1
75 – 90 Tinggi 14 42,4 18 54,5
91 – 100 Sangat Tinggi 1 3,0 3 9,1
Jika skor hasil belajar matematika siklus I dan siklus II dianalisis berdasarkan KKM,
maka hasilnya dapat ditunjukkan seperti pada tabel 4.9
Tabel 4.9 Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Siklus I dan Skor Hasil Belajar Siklus
II Berdasarkan Pencapaian KKM
Frekuensi dan Persentase
Skor/Nilai Kategori Hasil Belajar Siklus I Hasil Belajar Siklus II
Frek. % Frek. %
N < 75 Tidak tuntas 18 54,6 12 36,4
N ≥ 75 Tuntas 15 45,4 21 63,6

Berdasarkan lampiran C.2 dan lampiran C.5 dapat dijelaskan bahwa untuk aktivitas 1
(mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru) rata-rata aktivitas siswa pada siklus I berada
pada kategori efektif dan meningkat menjadi kategori sangat efektif pada siklus II. Aktivitas
2 (membaca buku siswa) rata-rata aktivitas siswa pada siklus I berada pada kategori tidak
efektif dan meningkat menjadi kategori sangat efektif pada siklus II. Aktivitas 3 (berperan
sebagai tamu/penerima tamu) rata-rata aktivitas siswa pada siklus I berada pada kategori
tidak efektif dan meningkat menjadi kategori sangat efektif pada siklus II. Aktivitas 4
(mengerjakan LKS secara kelompok) rata-rata aktivitas siswa pada siklus I berada pada
kategori efektif dan tetap pada kategori efektif pada siklus II. Aktivitas 5 (mengajukan
pertanyaan kepada guru) rata-rata aktivitas siswa pada siklus I berada pada kategori tidak
12

efektif dan meningkat menjadi kategori efektif pada siklus II. Aktivitas 6 (berdiskusi,
bekerjasama, dan bertukar ide atau jawaban dengan teman) rata-rata aktivitas siswa pada
siklus I berada pada kategori efektif dan tetap pada kategori efektif pada siklus II. Aktivitas 7
(menyajikan atau menanggapi hasil kerja kelompok) rata-rata aktivitas siswa pada siklus I
berada pada kategori tidak efektif dan meningkat menjadi kategori efektif pada siklus II.
Aktivitas 8 (mengerjakan kuis) rata-rata aktivitas siswa pada siklus I berada pada kategori
sangat efektif dan menjadi kategori efektif pada siklus II. Aktivitas 9 (membuat rangkuman
materi yang telah dibahas) rata-rata aktivitas siswa pada siklus I berada pada kategori tidak
efektif dan menjadi kategori efektif pada siklus II. Aktivitas 10 (perilaku yang tidak sesuai
KMB) rata-rata aktivitas siswa pada siklus I berada pada kategori tidak efektif dan tetap pada
kategori tidak efektif pada siklus II.
Berdasarkan data tersebut dapat dijelaskan bahwa ada peningkatan aktivitas siswa
dari siklus I ke siklus II yaitu adanya peningkatan aktivitas siswa yang sesuai dengan
kegiatan yang direncanakan dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut di atas
dapat diambil kesimpulan bahwa setelah melaksanakan proses belajar dengan model
pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray pada materi bangun ruang sisi datar dapat
meningkatkan aktivitas siswa, yang berarti telah memenuhi kriteria keberhasilan.
Dalam penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di kelas VIII H SMP Negeri 1
Bungoro terdapat keterbatasan-keterbatasan dan kendala-kendala yang cukup berpengaruh
terhadap pelaksanaan penelitian maupun hasilnya, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Pengamatan terhadap aktivitas siswa maupun pengelolaan pembelajaran hanya
dilakukan oleh masing-masing satu pengamat (observer), dan hanya terbatas
pada ukuran pengamatan kuantitatif tanpa memperhatikan faktor-faktor siswa
aktif secara mendalam.
2. Ada beberapa siswa yang tidak mengikuti pelaksanaan tindakan secara lengkap
karena tidak masuk sekolah, sehingga hal ini memungkinkan berpengaruh
terhadap hasil tes siswa yang bersangkutan.

KESIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian pada Bab IV,
maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray pada siswa
Kelas VIII H SMP Negeri 1 Bungoro dapat meningkatkan kemampuan
komunikasi matematika siswa yang dideskripsikan sebagai berikut:
a. Tes kemampuan komunikasi matematika pada siklus I memiliki nilai rata-rata
53,52.
b. Tes kemampuan komunikasi matematika pada siklus II memiliki nilai rata-rata
60,18. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan tes kemampuan
komunikasi matematika dari siklus I ke siklus II dilihat dari nilai rata-ratanya.
2. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray pada siswa
Kelas VIII H SMP Negeri 1 Bungoro dapat meningkatkan hasil belajar siswa
yang dideskripsikan sebagai berikut:
a. Tes hasil belajar pada siklus I memiliki ketuntasan klasikal sebesar45,4%,
jumlahsiswa yang tuntas sebanyak 15 orang siswa dari 33 orang siswa. Hal ini
13

menunjukkan pembelajaran pada siklus I belum memenuhi kriteria ketuntasan


belajar secara klasikal sebesar 85%.
b. Tes hasil belajar pada siklus II memiliki ketuntasan klasikal sebesar 63,6%, jumlah
siswa yang tuntas sebanyak 21 orang siswa dari 33 orang siswa. Hal ini
menunjukkan pembelajaran pada siklus II juga belum memenuhi kriteria
ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 85%.
3. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray pada siswa
Kelas VIII H SMP Negeri 1 Bungoro yang dapat meningkatkan kemampuan
komunikasi dan hasil belajar matematika siswa, dapat digambarkan sebagai
berikut:
a. Siswa bekerja sama dalam kelompok yang beranggotakan 4 orang.
b. Setelah selesai, dua siswa dari masing-masing kelompokakan meninggalkan
kelompoknya dan masing-masing bertamu kekelompok yang lain.
c. Dua siswa yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan
informasi mereka ketamu mereka.
d. Tamu mohon diri dan kembali kekelompok mereka sendiri dan melaporkan
temuan mereka dari kelompok lain.
e. Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasi lkerja mereka.
Berdasarkan kesimpulan yang dikemukakan di atas maka perlu diberikan saran-
saran sebagai berikut:
1. Bagi guru disarankan untuk:
a. Mempertimbangkan untuk menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
Two StayTwo Straydalam mengajarkan materi bangun ruang sisi datar.
b. Mempertimbangkan untuk menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
Two StayTwo Straypada pembelajaran matematika selain materi bangun ruang
sisi datar.
2. Bagi siswa disarankan untuk:
a. Meningkatkan kemauan membaca buku siswa.
b. Meningkatkan keberanian untuk mengajukan pertanyaan pada guru.
c.Meningkatkan keberanian untuk menyajikan atau menanggapi hasil kerja
kelompok.
d. Membuat rangkuman materi yang telah dibahas.
3. Bagi sekolah disarankan untuk:
a. Memberikan dukungan dengan menyediakan fasilitas yang akan digunakan oleh
guru dan siswa untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajaran.
b. Mensosialisasikan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two
Straysebagai alternatif model pembelajaran dalam rangka perbaikan
pembelajaran.
4. Bagi Peneliti disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang
penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Straypada materi
maupun pada jenjang pendidikan yang lain.
14

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono. 2012. Anak Berkesulitan Belajar: Teori, Diagnosis, dan
Remediasinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Aunurrahman. 2014. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Fitriani, DyasAndhin. 2008. BukuPintarGeometri. Jakarta: PT Perca.
Herdian. 2010. Kemampuan Komunikasi Matematika, (online), (http://herdy07_
wordpress.com) diakses 30 Desember 2015
Huda, Miftahul. 2015. Cooperative Learning: Metode, Teknik, Struktur dan Model
Penerapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Isjoni. 2011. Cooperative Learning: Efektivitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabeta.
Ismawati, N., & Hindarto, N. 2011. Penerapan Model Pembelajaran Koopertif dengan
Pendekatan Struktural Two Stay Two Stray untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Siswa Kelas X SMA. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia,ISSN: 1693-1246,
(Online), (http://journal.unnes.ac.id, Diakses 13 Februari 2016).
Kerami, Djati., & Sitanggang, Cormentyna. 2003. Kamus Matematika. Jakarta: Balai
Pustaka.
Kusumah, Wijaya., & Dwitagama, Dedi. 2012. Mengenal Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta: PT Indeks.
Latifah, N, U., & Agoestanto, A. 2015. Keefektifan Model Pembelajaran AIR dengan
Pendekatan RME terhadap Kemampuan Komunikasi Matematik Materi Geometri
Kelas VII. Unnes Journal of Mathematics Education,ISSN: 2252-692 ,(Online),
(http://journal.unnes.ac.id/ sju/index.php/ujme, Diakses 13 Februari 2016).
Lestari, Puji Yani. 2009. Ensiklopedia Matematika (A-J). Bandung : PT. INDAHJAYA
Adipratama.
Lie, Anita. 2008. Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-
Ruang Kelas. Jakarta: PT. Grasindo.
Nuharini, Dewi., & Wahyuni, Tri. 2008. Matematika Konsep dan Aplikasinya. Jakarta: Pusat
Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan. 2015. Daftar Kolektif Hasil Ujian Nasional. Makassar:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Purwanto. 2013. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rachmayani, Dwi. 2014. Penerapan Pembelajaran Reciprocal Teaching untuk Meningkatkan
Kemampuan Komunikasi Matematis dan Kemandirian Belajar Matematika Siswa.
Jurnal Pendidikan Unsika, ISSN: 2338-2996, (Online), Vol. 2, No. 1 November
2014.
Rapiuddin. 2013. Komparasi Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray dan Tipe
Jigsaw pada Materi Trigonometri di Kelas X SMA Negeri 2 Pangkajene. Tesis.
Makassar: Program Pasca Sarjana UNM.
Rizki, Novianti. 2012. Pengembangan Desain Pembelajaran Matematika Model Kooperatif
Tipe Two Stay Two Stray dengan Pendekatan Realistic Pada Siswa Kelas VII A
SMP Negeri 2 Kalukku. Tesis. Makassar: Program Pasca Sarjana UNM.
Roosbiyantana, Dawig. 2007. Mengenal Bangun Ruang Sisi Datar. Yogyakarta : PT Citra Aji
Parama.
Rusman. 2014. Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru.
Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
15

Septiasari, Andini. 2009. Ensiklopedia matematika (K-Q). Bandung : PT. INDAHJAYA


Adipratama.
Sudjana, N. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Sumantri, M, S. 2015. Strategi Pembelajaran: Teori dan Praktik di Tingkat Pendidikan
Dasar. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Trianto. 2013. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Surabaya: Kencana
Prenada Media Group.
Trisdiyanto. 2009. Pengembangan Bahan Ajar Materi Bangun Ruang Sisi Lengkung
Berbasis Konstruktivis Pada Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Bungoro Pangkep.
Tesis. Makassar: Program Pasca Sarjana UNM.
Wiantik, Aksari Basri. 2016. Meningkatkan Pemahaman Matematika Siswa Melalui
Penerapan Pendekatan Matematika Realistik Pada Kelas VI SD INPRES
Mallengkeri Bertingkat Kota Makassar. Hasil Penelitian. Makassar: Program Pasca
Sarjana UNM
Yuniarto. 2004. SimpulMatematika. Bandung: PT SINERGI PUSTAKA INDONESIA