Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

“ Asuhan Keperawatan Kegawatdaruratan pada Gagal Jantung


dan Luka Bakar Pada Ibu Hamil ”

I ILM
GG U
IN K
E
T

S
EH
A
S EKO L

AT A N
SY E NT I K A
D Z A SA I

Dosen Pembimbing : Ns. Tiurmaida Simandalahi, M. Kep

Oleh Kelompok 2

Nama Anggota :

1. Abdul Aziz
2. Destyana Jheri
3. Fitria Yusmita
4. Nopi Irhamni
5. Reza Mailani Putri
6. Lindung Triyuni Oetary

STIKES SYEDZA SAINTIKA PADANG

TAHUN AJARAN

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah Swt. Yang telah memberikan
rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah mengenai
“Asuhan Keperawatan Kegawatdaruratan pada Gagal Jantung dan Luka Bakar
Pada Ibu Hamil”.

Makalah ini dibuat sebagai salah satu tugas yang diberikan kepada kami
sebagai bahan diskusi dalam mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat. Semoga
dengan terselesaikannya makalah ini dapat menjadi pembelajaran yang lebih baik
bagi kami dalam pembuatan makalah yang berikutnya.

Makalah ini dibuat dengan sebagaimana mestinya, dan kami berharap


makalah ini dapat memberikan wawasan baru bagi kami maupun bagi yang
membacanya.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan maka dari
itu kami membutuhkan kritikan dan saran serta masukan, sehingga kedepanya
kami bisa membuat makalah dengan lebih baik lagi.

Padang... July 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

BAB I : PENDAHULUAN............................................................................. 1

A. Latar Belakang ............................................................................................. 1

B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 1

C. Tujuan .......................................................................................................... 1

BAB II : PEMBAHASAN................................................................................ 2

I. GAGAL JANTUNG SELAMA KEHAMILAN .......................................... 2

A. Pengertian gagal jantung .......................................................................... 2

B. Penyebab Gagal Jantung saat Hamil ........................................................ 3

C. Gejala Gagal Jantung saat Hamil ............................................................. 4

D. Perubahanfisiologis pada kehamilan dan dampaknya terhadap kondisi


jantung yang berbeda ................................................................................ 5

E. Kontraindikasi jantung untuk kehamilan.................................................. 6

F. Penanganan ............................................................................................... 7

G. Perawatan Post Partum dan Tindak Lanjut .............................................. 9

H. Pemeriksaan diagnostik ............................................................................ 9

I. Penatalaksanaan kegawatdaruratan Gagal Jantung ................................ 10

II. LUKA BAKAR SELAMA KEHAMILAN ............................................... 11

A. Defenisi .................................................................................................. 11

B. Patofisiologi............................................................................................ 11

C. Etiologi ................................................................................................... 11

D. Tanda dan Gejala .................................................................................... 12

E. Fase luka bakar ....................................................................................... 12

ii
F. Proses Penyembuhan Luka ..................................................................... 15

G. Penanganan kegawatdaruratan Luka Bakar............................................ 15

H. Indikasi rawat inap luka bakar ................................................................ 16

I. Luka Bakar saat Kehamilan.................................................................... 16

BAB III : ASUHAN KEPERAWATAN ........................................................ 18

BAB IV : PENUTUP ....................................................................................... 22

A. Kesimpulan ................................................................................................ 22

B. Saran ........................................................................................................... 22

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Negara Indonesia adalah negara berkembang dengan penduduk yang


terbanyak di dunia dibawah china dan india, dimana di indonesia angka kehamilan
sangatlah tinggi, angka tersebut sangat bertambah tiap tahunnya, akan tetapi
dengan seiringnya dengan itu bnyak juga permasalahan yang muncul pada ibu
hamil, yang mana keadaaan tersebut sangat mempengaruhi kehidupan bagi ibu
dan janinya.

Adapun penyakit dan kondisi yang dapat membahayakan tersebut adalah


adanya angka kehamilan yang disertai dengan gagal jantung, dan sejalan dengan
itu ada juga luka bakar yang terjadi pada ibu pada saat hamil, oleh karena itu
kelompok mengangkat permasalahan tersebut untuk mengetahui apa
permasalahan tersebut dan bagaiman penanganannyya oleh perawat dan dokter..

B. Rumusan Masalah

1. Gagal Jantung Selama Kehamilan?


2. Luka Bakar Selama Kehamilan?

C. Tujuan

1. Mengetahui penjelasan dari gagal jantung selama kehamilan


2. Mengetahui penjelasan luka bakar saat hamil.

1
BAB II
PEMBAHASAN

I. GAGAL JANTUNG SELAMA KEHAMILAN

A. Pengertian gagal jantung

Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologis berupa kelainan fungsi


jantung sehingga jantung tidak mampu memompa darah untuk memenuhi
kebutuhan metabolism jaringan atau kemampuannya hanya ada kalau disertai
peninggian volume diastolic secara abnormal.
Ada beberapa istilah gagal jantung:

 Gagal jantung kiri: kongesti paru menonjol pada gagal ventrikel kiri,
karena ventrikel kiri tidak mau memompa darah yang datang dari paru.
 Gagal jantung kanan: bila ventrikel kanan gagal, yang menonjol adalah
kongesti visera dan jarigan perifer. Hal ini terjadi karena sisi kanan
jantung tidak mampu mengosongkan volume darah dengan adekuat
sehingga tidak dapat mengakomodasi semua darah yang secara normal
kembali dari sirkulasi vena.
 Gagal jantung kongesif: adalah gabungan kedua gambaran tersebut.
 Backward failure: akibat ventrikel tidak mampu memompa volume darah
keluar, menyebabkan darah terakumulasi dan meningkatkan tekanan
dalam ventrikel, atrium dan system vena.
 Forward failure: akibat ketidak mampuan jantung mempertahankan curah
jantung, kemudian menurunkan perfusi jaringan.
 Low output syndrome: bilamana jantug gagal sebagai pompa, yang
mengakibatkan gangguan sirkulasi perifer dan faso konstriksi perifer.

Hight output syndrome: peningkatan kebutuhan metabolic, seperti tampak


pada hipertiroidisme, demam atau mungkin dipicu oleh kondisi hiperkinetik sperti
fistula arteriovenous, beri-beri atau penakit paget’s.

2
3

B. Penyebab Gagal Jantung saat Hamil

Kardiomiopati peripartum diduga terjadi akibat gizi yang tidak dipantau saat
hamil, sehingga otot jantung sang ibu tidak baik. Penyakit ini sebenarnya paling
banyak menyerang ibu-ibu alkoholik, perokok, atau ibu dengan kelainan
hormonal.Selain itu, kardiomiopati peripartum juga terjadi pada ibu yang
hipersensitif dengan kekebalan tubuh.Ini karena pada dasarnya, bayi adalah benda
asing.Jika ada bayi dalam tubuh ibu, mungkin saja terjadi reaksi antigen, yang
menyebabkan jantung mengalami kerusakan, hingga fungsinya menurun.Tubuh
wanita saat hamil cenderung mengalami perubahan agar janin yang dikandung
mendapatkan keamanan, kenyamanan, dan nutrisi yang dibutuhkan.Salah satu
yang dapat berubah adalah sistem kardiovaskular.Sistem sirkulasi darah dan
kardiovaskular mulai berubah sejak trimester pertama. Lalu ia akan memuncak
saat memasuki trimester kedua, dan fase plateau di tiga bulan terakhir. Tubuh
kemudian kembali berfungsi seperti biasa setelah melahirkan.

Saat hamil, volume darah di dalam tubuh bertambah hingga 50 persen, demi
memberikan oksigen dan nutrisi untuk janin.Karena itu, jantung wanita yang
sedang mengandung juga perlu meningkatkan kecepatan dan juga
tekanannya.Detak jantung wanita hamil bisa bertambah hingga 10-15 kali per
menit.Jantung yang dipaksa bekerja keras ini semakin lama dapat mengalami
gangguan serius.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan risiko penyakit jantung saat kehamilan
adalah:

 Obesitas
 Riwayat anggota keluarga yang memiliki penyakit jantung, terutama
miokarditis atau peradangan otot jantung
 Kekurangan nutrisi sebelum dan saat hamil
 Konsumsi alkohol berlebihan
 Ada lebih dari satu janin di dalam kandungan
 Hamil saat berusia lebih dari 30 tahun
4

Kehamilan bisa menyebabkan sejumlah perubahan fisiologis dari sistem


kardiovaskular.Ini bisa ditolerir dengan baik oleh wanita yang sehat.Namun bisa
seorang ibu hamil sebelumnya sudah punya gangguan jantung, ini bisa menjadi
ancaman serius. Tanpa diagnosis yang tepat, maka penyakit jantung dalam
kehamilan dapat menyebabkan kematian sang ibu.

Namun satu hal yang mempersulit diagnosa kelainan jantung adalah karena
secara fisik memang perempuan hamil mengalami banyak perubahan. Sulit
membedakan murmur jantung karena gangguan dan mana yang normal karena
perubahan fisik. Risiko kematian ibu dapat meningkat hingga 25-50% pada kasus
dengan hipertensi pulmonal, sindrom Marfan serta coartasio aorta yang
mengalami komplikasi.Namun jika ditangani sejak dini, kelainan jantung di fase
awal kehamilan dan pascakelahiran dapat memberikan dampak yang signifikan.

C. Gejala Gagal Jantung saat Hamil

Biasanya perempuan dengan gangguan jantung telah didiagnosa sebelum


kehamilan, misalnya bagi mereka yang pernah melakukan bedah jantung akibat
gangguan jantung bawaan, akan mudah untuk mendapatkan informasi yang
mendetail. Namun mungkin saja diagnosa gangguan jantung baru muncul saat
trimester terakhir, seperti yang telah disebutkan di atas.

Gejala klasik penyakit jantung adalah pembengkakan, sesak nafas, dan nyeri
di dada.Karena gejala ini juga terjadi di kehamilan normal, maka Anda perlu
melakukan pengamatan yang cermat untuk menentukan apakah gejala ini sudah
tidak berhubungan dengan kehamilan normal.

Sistolik bising ditemukan pada 80% wanita hamil, umumnya terlihat dengan
membesarnya aorta dan arteri pulmonalis.Tipe bising ini terdiri dari derajat 1 atau
2, midsistolik, paling keras terjadi pada basal jantung.Pada pasien hamil dengan
bising sistolik, biasanya terdengar pemisahan bunyi jantung dua yang keras.Setiap
bising diastolik dan bising sistolik yang terdengar lebih keras, dari derajat 3/6 atau
menjalar ke daerah karotis harus dianggap sebagai gangguan.
5

Pada ibu hamil yang diduga mengalami kelainan jantung yang berakibat pada
gagal jantung, maka perlu dilakukan identifikasi yang cermat terhadap denyut
vena jugularis.Selain itu juga, diperlukan pula identifikasi sianosis pada daerah
perifer.

D. Perubahanfisiologis pada kehamilan dan dampaknya terhadap kondisi


jantung yang berbeda

Kehamilan dikaitkan dengan perubahan hemodinamik fisiologis yang


signifikan, termasuk 30-50% peningkatan curah jantung dan volume darah, dan
fluktuasi lebih lanjut dalam curah jantung/ cardiac output terjadi pada saat
persalinan dan setelah melahirkan. Efek yang dihasilkan pada wanita dengan
penyakit jantung sangat penting untuk identifikasi resiko dan penanganan
selanjutnyapasien ini. Periode resiko terbesar untuk kejadian jantung selama
kehamilan adalah awal trimester ketiga, persalinan dan saat post-partum segera.

Di negara maju, penyakit jantung bawaan adalah penyebab utama dari


penyakit jantung maternal dalam kehamilan, berjumlah hingga 75%. Penelitian
telah menunjukkan bahwa tingkat komplikasi ibu dan bayi adalah tinggi pada
wanita hamil dengan penyakit jantung bawaan.

Di negara berkembang, stenosis mitral rematik masih menjadi penyebab


utama kematian ibu. Telah ada bukti bahwa wanita hamil dengan stenosis mitral
yang moderat hingga berat dengan hipertensi pulmonal berat dan atrial fibrilasi
beresiko gagal jantung dan hasil janin yang merugikan.

Penyakit hipertensi dapat mempersulit 12-22% dari kehamilan dan


merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitasmaternal. Ini termasuk
hipertensi kronis, hipertensi gestasional dan preeklampsia. Ada penelitian selama
dekade terakhir, yang telah memberikan pemahaman yang lebih baik dari
mekanisme potensial yang bertanggung jawab atas patogenesis hipertensi akibat
kehamilan. Kejadian awal tampaknya iskemia plasenta sebagai akibat dari invasi
sitotrofoblas abnormal dari arteriol spiralis, yang menyebabkan aktivasi luas dan
disfungsi endotel vaskular maternal dan hasilnya dalam pembentukan endotelin
dan tromboksan yang banyak, peningkatan sensitivitas vaskular menjadi
6

angiotensinII dan penurunan pembentukan vasodilator. hipertensi gestasional


dibedakan dari preeklamsia oleh kurangnya proteinuria; itu disebut hipertensi
transien kehamilan jika tekanan darah kembali normal dalam 12 minggu post-
partum, dan hipertensi kronis jika tekanan darah masih tinggi.

Kardiomiopati peripartum adalah gagal jantung kongestif yang terjadi di


akhir kehamilan atau awal postpartum. Hal ini terjadi pada 1 dari 1500-3000
kehamilan. Faktor predisposisi mencakup multiparitas, usia ibu lanjut, kehamilan
multifoetal, preeklampsia dan ras Afrika. Ada beberapa penelitian untuk
mengetahui etiologi dan penyebab bisa karena miokarditis, respon imun yang
abnormal, respon maladaptif terhadap tekanan hemodinamik dari kehamilan,
sitokin yang aktif karena stres dan keluarga. Wanita dengan kardiomiopati
peripartum biasanya hadir dengan gagal jantung yang ditandai dengan retensi
cairan , aritmia dan yang kurang umum, stroke embolik.Hasil dari kardiomiopati
peripartum dalam beberapa studi seri kecil telah menunjukkan variabel kematian
maternal mulai dari 12,5% hingga 50% dengan setengah kematian yang terjadi
dalam waktu 3 bulan dari persalinan.

E. Kontraindikasi jantung untuk kehamilan

Kehamilan dikontraindikasikan pada hipertensi pulmonal yang berat (tekanan


arteri pulmonalis> 3/4 tekanan sistemik) , sindromeisenmengers, kardiomiopati
dengan gagal jantung kongestif kelas III atau IV, lesi obstruktif yang berat
(stenosis aorta, stenosis mitral, koartasio, kardiomiopati obstruktif hipertrofi) ,
sindrom Marfan dengan aortic root > 40 mm, sianosis berat dan riwayat
kardiomiopati peripartum dengan disfungsi LV persisten dan / atau gagal
jantung. Ini adalah pasien beresiko tinggi yang harus diberi konseling terhadap
kehamilan dan diberikan saran kontrasepsi yang tepat. Dalam kasus mereka
menjadi hamil, perawatan ahli diperlukan dalam pusat tersier dengan kerjasama
erat antara tim jantung, obstetrik dan pediatrik.
7

F. Penanganan

1. Konseling prankonsepsi

Wanita dengan penyakit jantung yang sudah ada idealnya harus dinilai
dalam klinik multidisiplinpra-kehamilan.Riwayatmenyeluruh harus
diambil, terutama berfokus pada kapasitas latihan dan kejadian
jantung masa lalu. Sebuah penilaian jantung penuh harus dilakukan
untuk menentukan setiap lesi struktural dan beratnya penyakit. Pasien
dan keluarganya harus sepenuhnya dijelaskan mengenai tingkat
keparahan penyakit, resiko kehamilan untuk ibu dan janin, pertimbangan
koreksi bedah sebelum kehamilan, penyesuaian obat selama kehamilan
dan kontrasepsi yang efektif setiap kali kehamilan mungkin ditunda atau
kontraindikasi.

2. Selama kehamilan
Secara umum, kunjungan antenatal harus setiap bulan dalam penyakit
ringan dan setiap 2 minggu pada penyakit yang moderat hingga berat
sampai 28 minggu, dan kemudian mingguan setelahnya sampai
melahirkan. Penanganan harus memerlukan tim multidisiplin
termasuk dokter, ahli jantung, dokter obstetri, dokter anestesi dan
neonatologi atau dokter pediatrik. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan
termasuk saat presentasi, keparahan lesi jantung, persepsi stres jantung,
perkiraan keberhasilan medisterapi, waktu dan cara persalinan, resiko
dengan sebuah anestesi, kesejahteraan janin dan masalah etika pengobatan
ibu-janin.
Pengobatan ditujukan untuk mengatur detak jantung, mengurangi beban
jantung dan meningkatkan kapasitas kontraktilitas jantung.
Umumnya digunakan obat jantung yang relatif aman dalam kehamilan
termasuk beta blocker, digoxin, hydralazine dan diuretik. Beta
blockers selektif seperti atenolol atau metoprolol membatasi
interaksi dengan kontraksi uterus dan umumnya lebih dipilih. Pada pasien
dengan atrial fibrilasi yanghemodinamiknya stabil, beta blockersatau
digoxin dapat digunakan untuk kontrol denyut jantung. Namun, jikapasien
8

hemodinamiknya tidak stabil, kardioversi harus diberikan segera dan aman


pada kehamilan. Diuretik butuh untuk ditambahkanpada kongesti
pulmonal. Kehamilan adalah keadaan
hiperkoagulasi;thromboprophylaxis diindikasikan pada keadaan aritmia
atrium, atrium kiri yang berdilatasi atau prostetik mekanik katup jantung.
Target INR harus tetap sama pada kehamilan.Pasien dengan lesi katup
yang tetap bergejala meskipun pengobatan optimal mungkin memerlukan
intervensi katup perkutan atau operasi. Untuk pasien dengan
mitral stenosis balloon yang berat, valvuloplasty mitral adalah terapi
pilihan; beberapa penelitian telah menunjukkan hasil yang sangat baik
dengan keselamatan dan kelayakan yang terjadi dengan baik.
Aortic balloon valvuloplasty berguna sebagai prosedur
paliatif pada stenosis aorta bergejala, menyediakan katup
yang lentur; memungkinkan penundaan penggantian katup sampai setelah
kelahiran. Operasi jantung terbuka membawa kematian janin 20-
30% dan kematian ibu dari 1-5%; maka biasanya tidak dianjurkan.

Penanganan hipertensi dalam kehamilan tidak berubah secara signifikan


selama bertahun-tahun karena kurangnya bukti untuk pengenalan
terapi baru. Antihipertensi yang sering dianjurkan selama kehamilan
termasuk metildopa, labetalol dan hydralazine. Magnesium sulfat telah
terbukti bermanfaat dalam pre-eklampsia berat daneklampsia.
Memburuknya kondisi ibu, bukti laboratorium dari disfungsi organ
atau gawat janin yang memerlukan persalinan yang cepat, yang
merupakan pengobatan definitif untuk pre-eklampsia.

3. Selama persalinan
Waktu dan cara persalinan harus direncanakan secara hati-hati oleh
tim multidisiplin. Mayoritas, persalinan vagina dengan anestesi epidural
adalah cara persalinan yang lebih baik. Namun, seksio sesarea
diindikasikan jika ada alasan kandungan, pada pasien dengan warfarin
9

antikoagulan, pada pasien dengan hipertensi pulmonal berat dan lesi


jantung. Hal ini bermanfaat untuk memperpendek tahap kedua persalinan
dengan forceps atau vakum. Dekubitus lateral kiri lebih dipilih untuk
melemahkan efek hemodinamik pada posisi terlentang. obat Oxytoxic
tidak diberi kecualikehilangan darah menjadi berlebihan. Jika diperlukan,
itu harus diberikan perlahan-lahan atau sebagai infus. Heparin harus
ditarik 4 jam sebelum operasi sesar atau pada awal persalinan dan
dilanjutkan 6-12 jam setelah melahirkan. Warfarin adalah aman selama
menyusui dan dapat dimulai kembali 6-12 jam setelah melahirkan.
Menurutpedoman klinis NICE terbaru, profilaksis antibiotik rutin
tidak dianjurkan pada pasien dengan penyakit katup jantung yang
menjalani persalinan pervaginamyang tidak rumit atau operasi sesar
kecuali infeksi dicurigai. Namun, profilaksis antibiotik harus
dipertimbangkan pada pasien dengan katup prostetik, riwayat masa lalu
dengan endokarditis dan resiko tinggi bakteremia.Keputusan untuk
memberikan profilaksis antibiotik harus individual sesuai dengan
pengaturan lokal.

G. Perawatan Post Partum dan Tindak Lanjut

Setelah melahirkan, pemantauan cermat status hemodinamik harus dilakukan


setidaknya selama 24 jam, atau lebih lama pada pasien yang berisiko tinggi. Pada
pasien dengan hemodinamik lesi jantung yang berat mungkin abnormal hingga 10
hari setelah melahirkan. Tindak lanjut kunjungan pasien pada 6 minggupost-
partum harus dihadiri oleh tim multidisiplin, penilaian jantung penuh harus
dilakukan, dan kontrasepsi yang tepat harus disarankan.

H. Pemeriksaan diagnostik

1. Rontgen dada untuk mengevaluasi perbesaran ruang jantung dan mengkaji


kongesti pulmonal.
2. Echokardiogram untuk menentukan fraksi ejeksi dan mendeteksi
ketidaknormalan struktur.
3. EKG 12 lead
10

4. B-type natriuretic peptide ( BNP ) lebih besar dari 100 pg/mL


5. Hitung darah lengkap dan panel metabolik

I. Penatalaksanaan kegawatdaruratan Gagal Jantung

1. Mengkaji dan mempertahankan kepatenan airway, breathing dan


circulation sebagai prioritas utama
2. Berikan O2 Tambahan untuk menjaga saturasi diatas 90%
3. Pasang akses IV : berikan cairan dan lakukan dengan hati-hatiuntuk
mencegah kelebihan cairan.
4. Noninvasive positif ventilation dapat memperbaiki kongesti pulmonal
dengan cara memaksa cairan alveolar kembali kekapiler paru.
5. Berikan deuretic loop, furosemide menyebabkan pelebaran vena dengan
cepat di ikuti deuresis dalam waktu 10 menit dari pemberian IV, namun
banyak pasien dengan gagal jantung kronis mungkin sudah resisten
terhadap deuretik loop.
6. Morfin juga menyebabkan pelebaran vena dan penurunan preload, dengan
mengurangi kecemasan klien , morfin mengurangi stimulasi simpatis dan
mengurangi beban kerja jantung.
7. Nitrogliserin IV melebarkan kapasitas pembuluh darah vena sehingga daat
menurunkan preload, nitrogliserin merupakan kontra indikasi jika TD <90
mmHg
8. Monitor secara ketat respon pasien terhadap treatment yandiberikan
terutama
a. Suara nafas, frekuensi pernafasan, dan SO2
b. Sesak nafas dan penggunaan otot pernafasan
c. Tekanan darah dan Nadi
d. Tingkat kesadaran
e. Distensi vena jugularis
f. Urin outpu, dengan penggunaan katteter.
11

II. LUKA BAKAR SELAMA KEHAMILAN

A. Defenisi

Luka bakar adalah kerusakan jaringan karena kontak dengan agens, termal,
kimiawi, atau listrik.Keparahan luka bakar dikaji dengan menentukan kedalaman
cedera luka bakar, persentase area permukaan tubuh yang terkena, dan
keterlibatan bagian tubuh khusus.Luka bakar tidak hanya berpengaruh terhadap
kulit tetapi berpengaruh terhadap sistem tubuh secara menyeluruh. Menghisap
asap dan infeksi pada luka merupakan komplikasi pasien yang mengalami luka
bakar. Ada empat jenis utama luka bakar: termal, kimia, listrik, dan radioaktif.

B. Patofisiologi
Luka bakar disebabkan karena tranfer energi panas dari sebuah sumber energi
ke tubuh, panas akanmenyebabkan kerusakan jaringan. Keparahan luka bakar
menentukan derajat perubahan yang tampak di dalam organ-organ dan sistem
tubuh.Cedera termal menimbulkan luka terbuka karena kulit yang rusak.Setelah
luka bakar, perfusi kulit menurun karena pembuluh darah tersumbat dan terjadi
vasokonstriksi.Volume intravaskular menurun karena cairan merembes dari ruang
intravaskular ke ruang interstisial karena permeabilitas kapiler meningkat. Cedera
paru juga dapat terjadi karena inhalasi asap, nap, atau iritan lain. Pada luka bakar
mayor, curah jantung menurun dan aliran darah ke hati, ginjal, dan saluran
gastrointestinal juga terganggu.Anak dengan luka bakar mayor berada dalam
keadaan hipermetabolik sehingga mengonsumsi oksigen dan kalori dengan
cepat.Reaksi setempat, panas menyebabkan kerusakan protein dan pembuluh
darah.

C. Etiologi

Penyebab luka bakar di antaranya disebabkan oleh:

1. Api langsung
2. Kontak dengan sumber panas
3. Kimia
12

4. Listrik
5. Radiasi

D. Tanda dan Gejala

1. Perubahan fungsi kulit normal menyebabkan:


2. Penurunan fungsi proteksi
3. Kegagalan mengatur temperatur
4. Meningkatkan resiko infeksi
5. Perubahan fungsi sensori
6. Kehilangan cairan
7. Kegagalan regenerasi kulit
8. Kegagalan fungsi ekresi dan sekresi

E. Fase luka bakar

1. Fase akut.
Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Dalam fase awal penderita akan
mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), brething (mekanisme
bernafas), dan circulation (sirkulasi). Gnagguan airway tidak hanya dapat
terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat
terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72
jam pasca trauma.Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama
penderiat pada fase akut. Pada fase akut sering terjadi gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak
sistemik.
2. Fase sub akut.
Berlangsung setelah fase syok teratasi.Masalah yang terjadi adalah
kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber
panas.Luka yang terjadi menyebabkan:
- Proses inflamasi dan infeksi.
- Problem penutupan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang
atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ -
organ fungsional.
13

- Keadaan hipermetabolisme.
3. Fase lanjut.
Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka
dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul pada
fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik, kleoid, gangguan
pigmentasi, deformitas dan kontraktur.

Berat ringannya luka bakar dipengaruhi oleh kedalaman luka, presentase


luka, penyebab, usia, riwayat kesehatan dan lokasi luka bakar. Perkiraan luas
luka bakar didasarkan kepada tubuh mana yang terpengaruh. Bisanya
menggunakan Rule of Nines.

Terdapat beberapa tipe atau derajat luka bakar berdasarkan kedalaman


kerusakan jaringan, yaitu:

Luka bakar derajat I:

 Kerusakan terbatas pada bagian superfisial epidermis.


 Kulit kering, hiperemik memberikan efloresensi berupa eritema.
 Tidak dijumpai bula (bula atau lepuh atau hullo adalah gelembung berisi
cairan).
 Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi.
 Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 5-10 hari.
 Contohnya adalah luka bakar akibat sengatan matahari.
14

Luka bakar derajat II:

 Kerusakan epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi akut


disertai proses eksudasi (pernanahan).
 Dijumpai bula.
 Dasar luka berwarna merah atau pucat, sering terletak lebih tinggi di atas
permukaan kulit normal.
 Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi.

Dibedakan menjadi dua:

a. Derajat II dangkal (superficial):


o Kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis.
o Apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar
sebasea masih utuh.
o Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 10-14 hari.
b. Derajat II dalam (deep):
o Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis.
o Apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar
sebasea sebagian masih utuh.
o Penyembuhan terjadi lebih lama, tegantung apendises kulit yang
tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari satu
bulan.

Luka bakar derajat III:

 Kerusakan meliputi seluruh ketebalan dermis dan sebagian lapisan lebih


dalam.
 Apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea
mengalami kerusakan.
 Tidak dijumpai bula.
 Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan pucat. Kering, letaknya lebih
rendah dibandingkan kulit sekitar akibat koagulasi protein pada lapis
epidermis dan dermis (dikenal dengan sebutan eskar).
15

 Tidak dijumpai rasa nyeri, bahkan hilang sensasi karena ujung-ujung


serabut saraf sensorik mengalami kerusakan atau kematian.
 Penyembuhan terjadi lama karena tidak ada proses epitelisasi spontan baik
dari dasar luka, tepi luka, maupun apendises kulit.

F. Proses Penyembuhan Luka

 Fase Inflamasi
Adalah fase terjadinya luka bakar sampai 3-4 hari pasca luka bakar. Dalam
fase ini terjadi perubahan vascular dan poliferasi seluler. Daeraah luka
mengalami agregasi trombosit dan mengeluarkan serotinin, dan mulai
timbul epitelasi.
 Fase Fibi Oblastic yang dimulai pada hari ke 4-20 pasca luka bakar. Pada
fase ini timbul abrobast yang membentuk kolagen yang tampak secara
klinis sebagai jaringan granulasi yang berwarna kemerahan
 Fase maturasi
Pada fase ini terjadi proses pematangan kolagen dan terjadi penurunan
aktifitas selular dan vaskular. Fase ini berlangsung hingga 8 bulan sampai
lebih dari 1 tahun dan berakhir jika sudah tidak ada tanda-tanda inflamasi
bentuk akhr dari fase ini berupa jaringan parut yang berwarna pucat, tipis,
tanpa rasa nyeri dan gatal

G. Penanganan kegawatdaruratan Luka Bakar

1. Airway kaji pertama kali dan sesring mungkin, dan semua pasien luka
bakar harus menerima tambahan O2 oleh petugas medis.
2. Pasang IV kateter besar, untuk resusittasi cairan dan manajemen nyeri..
3. Jika tidak bisa pada perifer, menggunakan vena sentral.
4. Pemilihan cairan yang tepat.
5. Monitor kecukupan rresusitasi cairan dengan mengukur urin.
6. Kaji adanya pengaruh ketidakcukupan resusitasi cairan
7. Kaji adanya kelebihan cairan
8. Monitor kestabilan hemodinamik.
9. Meninggikan are luka bakar dari jantung dapat mengurangi edema.
16

10. Jika adanya penurunan kesadaran periksa apakah ada trauma penyerta
seperi cidera kepala, keracunan gas CO,hipoksia.
11. Exposure, Lepaskan seluruh perhiasan dan pakaian begitu sampai di IGD.
12. Selimuti dengan kain bersih dan hangat untuk menghindari adanya
hipotermi
13. Menutup luka dengan kain bersih dan kering

H. Indikasi rawat inap luka bakar

1. Luka bakar grade II


a. Dewasa > 20%
b. Anak / Lansia >15%
2. Luka Bakar Grade III
3. Luka Bakar dengan komplikasi : Jantung, Otak

I. Luka Bakar saat Kehamilan

Menderita suatu penyakit selama masa kehamilan tentu menimbulkan


kecemasan tersendiri pada ibu mengenai keselamatan janin.Luka bakar dibedakan
dari derajatnya, dinilai dari kedalamannya dan luasnya.Luka bakar yang luasnya
tidaklebih dari <9-10% persen luas permukaan tubuh dan kedalamannya hanya
mencapai permukaan kulit masih dikatakan ringan, sedangkan luka bakar yang
lebih luas dan dalam beresiko menyebabkan kehilangan cairan yang lebih banyak
dan kerusakan jaringan kulit.Luka bakar ringan umumnya tidak menyebabkan
dampak langsung terhadap janin.Terlepas dari derajatnya, setiap luka bakar harus
mendapatkan penanganan luka yang maksimal untuk mencegah luka memberat
apalagi hingga timbul infeksi.Infeksi selama kehamilan dapat berakibat pada janin
apabila infeksi telah menyebar melalui darah, selain itu saat terjadi infeksi tubuh
mengeluarkan hormon-hormon stres yang bisa berefek pada bayi.Menderita
dehidrasi (kekurangan cairan) pada luka bakar derajat luas juga dapat berdampak
pada bayi.
17

Untuk mengetahui derajat keparahan luka bakar, disarankan untuk tidak


menunda memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang
sesuai, termasuk perawatan luka, pemberian cairan, obat antibiotik yang sesuai
untuk ibu hamil, dsb. Selain itu, jaga kebersihan luka dengan mengganti perban
secara berkala dan konsumsi makanan bergizi (terutama sumber protein, sayur-
sayuran, dan buah-buahan) dan cukup minum air untuk membantu proses
penyembuhan luka.
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

a) Primary Survey
1) Airway
 Penilaian Mengenal patensi Airway
Kaji pertama kali dan sesering mungkin. Menilai jalan nafas bebas.
Apakah pasien dapat bicara dan bernafas dengan bebas ?
Jika ada obstruksi maka lakukan :
 Chin lift / jaw thrust (lidah itu bertaut pada rahang bawah)
 Suction / hisap (jika alat tersedia)
 Guedel airway / nasopharyngeal airway
 Intubasi trakhea dengan leher di tahan (imobilisasi) pada posisi
netral
 Evaluasi
2) Breathing
 Tentukan laju dan dalamnya pernafasan
 Inspeksi dan palpasi leher dan thorax untuk menggali kemungkinan
terdapat defiasi trakhea, dan ekspansi thorax simetris atau tidak,
pemakaian otot tambahan dan tanda-tanda cedera lainya
 Perkusi thorax untuk menentukan redup atau hipersonor
 Auskultasi thorax
 Pengelolaan Menilai pernafasan cukup. Sementara itu nilai ulang
apakah jalan nafas bebas.
 Jika pernafasan tidak memadai maka lakukan :
 Pemberian oksigenj kinsentrasi tinggi
 Dekompresi rongga pleura (pneumotoraks)
 Tutuplah jika ada luka robek pada dinding dada
 Pernafasan buatan
 Evaluasi

18
19

3) Circulation
Penilaian
 Mengetahui sumber pendarahan internal
 Periksa nadi
 Periksa warna kulit dan perhatikan bila adanya sianosis
 Sementara itu nilai ulang apakah jalan nafas bebas dan pernafasan
cukup. Jika sirkulasi tidak memadai maka lakukan :
 Hentikan perdarahan eksternal
 Segera pasang dua jalur infus dengan jarum besar (14 - 16 G)
 Berikan infus cairan
 Evaluasi

4) Disability
Menilai kesadaran dengan cepat, apakah pasien sadar, hanya respons
terhadap nyeri atau sama sekali tidak sadar. mengukur Glasgow Coma
Scale
5) Exposure
Lepaskan baju dan penutup tubuh pasien agar dapat dicari semua cedera
yang mungkin ada. Jika ada kecurigaan cedera leher atau tulang belakang,
maka imobilisasi in-line harus dikerjakan. Dan cegah terjadinya hipotermi
dengan berikan selimut hangat atau tempatkan pada ruangan yang cukup
hangat.

b) Secondary Survey
1) Pemeriksaan kepala
 Kelainan kulit kepala dan bola mata
 Telinga bagian luar dan membrana timpani
 Cedera jaringan lunak periorbital
 Luka Bakar Pada kepala
2) Pemeriksaan leher
 Luka leher
 Emfisema subkutan
20

 Deviasi trachea
 Vena leher yang mengembang
3) Pemeriksaan neurologis
 Penilaian fungsi otak dengan Glasgow Coma Scale (GCS)
 Penilaian fungsi medula spinalis dengan aktivitas motorik
 Penilaian rasa raba / sensasi dan refleks
4) Pemeriksaan dada
 Clavicula dan semua tulang iga
 Suara napas dan jantung
 Pemantauan ECG (bila tersedia)
5) Pemeriksaan rongga perut (abdomen)
 Luka Bakar
 Pasanglah pipa nasogastrik pada pasien trauma tumpul abdomen
kecuali bila ada trauma wajah
 Periksa dubur (rectal toucher)
 Pasang kateter kandung seni jika tidak ada darah di meatus externus
6) Pelvis dan ekstremitas
 Cari adanya fraktura (pada kecurigaan fraktur pelvis jangan
melakukan tes gerakan
 apapun karena memperberat perdarahan)
 Cari denyut nadi-nadi perifer pada daerah trauma
 Cari luka, memar dan cedera lain
7) Pemeriksaan sinar-X (bila memungkinkan) untuk :
 Dada dan tulang leher (semua 7 ruas tulang leher harus nampak)
 Pelvis dan tulang panjang
 Tulang kepala untuk melihat adanya fraktura bila trauma kepala tidak
disertai defisit neurologis fokal
 Foto atas daerah yang lain dilakukan secara selektif.
 Foto dada dan pelvis mungkin sudah diperlukan sewaktu survei
primer
21

c) Diagnosa Keperawatan
1. A
2. A
3. A
4. A
5. A
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

Kami menyadari bahwasanya makalah ini banyak kekurangan, maka dari


pada itu kami mohon kritik dan saran agar kedepanyya kami lebih baik dalam
membuat makalah berikutnya, dan semoga makalah inni dapat bermanfaat bagi
pembaca terutamabagi penulis.

22
23

DAFTAR PUSTAKA

Kurniati, Amelia,dkk. 2018. Keperawatan Gawat Daarurat dan Bencana Sheehy.


ENA : Indonesia