Anda di halaman 1dari 11

Laporan Genetika Simulasi

Persilangan Monohibrid
SIMULASI PERSILANGAN MONOHIBRIDA
A. TUJUAN :
1. Membuktikan adanya prinsip segregasi secara bebas
2. Membuktikan perbandingan Mendel pada F2 persilangan monohibrida, yaitu
perbandingan genotip 1 : 2 : 1 dan perbandingan fenotip 3 : 1
3. Dapat menggunakan uji Chi-Square (khi-kuadrat) dalam analisis genetika Mendel

B. PERMASALAHAN :
1. Bagaimana prinsip segregasi secara bebas pada persilangan monohibrida ?
2. Apakah perbandingan Mendel pada F2 persilangan monohibrida menghasilkan
perbandingan genotip 1 : 2 : 1 dan perbandingan fenotip 3 : 1 ?
3. Bagaimana menggunakan uji Chi – Square (Khi-kuadrat) dalam analisis genetika
Mendel ?

C. LANDASAN TEORI :
Penurunan sifat atau hereditas mendapat perhatian banyak peneliti.
Peneliti yang paling popular adalah Gregor Johann Mendel yang lahir tahun
1822 di Cekoslovakia. Pada tahun 1842, Mendel mulai mengadakan penelitian
dan meletakkan dasar-dasar hereditas. Ilmuwan dan biarawan ini menemukan
prinsip – prinsip dasar pewarisan melalui percobaan yang dikendalikan dengan
cermat dalam pembiakan silang. Penelitian Mendel menghasilkan hukum Mendel
I dan II. Mendel melakukan persilangan monohibrid atau persilangan satu sifat
beda, dengan tujuan mengetahui pola pewarisan sifat dari tetua kepada generasi
berikutnya. Persilangan ini untuk membuktikan hukum Mendel I yang
menyatakan bahwa pasangan alel pada proses pembentukkan sel gamet dapat
memisah secara bebas. Hukum Mendel I disebut juga dengan hukum segregasi.
Persilangan monohibrid yang menghasilkan keturunan dengan
perbandingan F2, yaitu 1 : 2 : 1 merupakan bukti berlakunya hukum Mendel I
yang dikenal dengan nama Hukum Pemisahan Gen yang satu alel (The Law of
Segregation of Allelic Genes). Persilangan monohibrida adalah persilangan
sederhana yang hanya memperhatikan satu sifat atau tanda beda. Percobaan
Mendel menggunakan kacang ercis. Digunakan kacang ercis karena dia memiliki
sifat yang mdah diamati, murah dan memiliki waktu generasi yang singkat. Hasil
dari percobaan mendel adalah sebagai berikut :
Persilangan monohibrid
Hasil percobaan monohibrid menunjukkan bahwa pada seluruh tanaman
F1 hanya ciri (sifat) dari alah satu tetua yang muncul. Pada generasi F2, semua
ciri yang dipunyai oleh tetua (P) yang disilangkan muncul kembali. Ciri sifat tetua
yang hilang pada F1 terjadi karena tertutup, kemudian disebut ciri resesif, dan
yang menutupi disebut dominan. Dari seluruh percobaab monohibrid untuk 7 sifat
yang diamati, pada F2 terdapat perbandingan yang mendekati 3:1 antara jumlah
individu dengan ciri dominan : resesif.
Sebagai salah satu kesimpulan dari percobaan monohibridnya, Mendel
menyatakan bahwa setiap sifat organisme ditentukan oleh faktor, yang kemudian
disebut gen. Faktor tersebut kemudian diwariskan dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Dalam setiap tanaman terdapat dua faktor (sepasang) untuk masing-
masing sifat, yang kemudian dikenal dengan istilah 2 alel; satu faktor berasal dari
tetua jantan dan satu lagi berasal dari tetua betina. Dalam penggabungan
tersebut setiap faktor tetap utuh dan selalu mempertahankan identitasnya. Pada
saat pembentukkan gamet, setiap faktor dapat dipisah kembali secara bebas.
Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Hukum Mendel I, yaitu hukum
segregasi. Perbandingan pada F2 untuk ciri dominan : resesif = 3 : 1, terjadi
karena adanya proses penggabungan secara acak gamet-gamet betina dan
jantan dari tanaman F1. Bukti-bukti Mendel untuk menjelaskan teori partikulat
mengenai pewarisan:
(a) Persilangan tanaman tinggi dan pendek;
Pada generasi F1 semua keturunan (zuriat) berbatang tinggi;
Pada generasi F2 26% berbatang pendek dan 74% berbatang tinggi.
Hukum segregasi Mendel mengikuti proses miosis.
(b) Individu heterozigot untuk alel tinggi (T) dan alel pendek (t).
Setelah kromosom mengganda, melalui miosis I dan II menghasilkan sel-sel
haploid. Tiap-tiap sel memiliki alel tunggal untuk gen tinggi tanaman , baik T atau
t, maka alel T dan t bersegregai bebas satu sama lain.
(c) Selama fertilisasi alel bergabung secara acak.
Keturunan memiliki rasio genotipe: 1 TT : 2 Tt : 1 tt dan rasio fenotipe 3
tinggi : 1 pendek. Secara skema, percobaan Mendel dapat dilihat pada Gambar
2.1 sebagai berikut.
P: ♀ Tinggi x Pendek ♂
DD dd
Gamet D d

F1 : Tinggi
Dd

Menyerbuk sendiri (Dd x Dd)



F2 :

D d

GametG
Gamet E
D DD Dd
(tinggi) (tinggi)

d Dd dd Commented [R1]:
(tinggi) (pendek)

Tinggi (D-) : pendek (dd) = 3 : 1


DD : Dd : dd = 1 : 2 : 1
Gambar 2.1 Diagram persilangan monohibrid untuk sifat tinggi tanaman
Individu tinggi dan pendek yang digunakan pada awal persilangan
dikatakan sebagai tetua (parental), disingkat P. Hasil persilangannya merupakan
keturunan (filial) generasi pertama, disingkat F1. Persilangan sesama individu
F1 menghasilkan keturunan generasi ke dua, disingkat F2.
Tanaman tinggi pada generasi P dilambangkan dengan DD, sedang
tanaman pendek dd. Sementara itu, tanaman tinggi yang diperoleh pada
generasi F1 dilambangkan dengan Dd.
Pada diagram persilangan monohibrid tersebut di atas, nampak bahwa
untuk menghasilkan individu Dd pada F1, maka baik DD maupun dd pada
generasi P membentuk gamet (sel kelamin). Individu DD membentuk gamet D,
sedang individu dd membentuk gamet d. Dengan demikian, individu Dd pada
F1 merupakan hasil penggabungan kedua gamet tersebut. Begitu pula halnya,
ketika sesama individu Dd ini melakukan penyerbukan sendiri untuk
menghasilkan F2, maka masing-masing akan membentuk gamet terlebih dahulu.
Gamet yang dihasilkan oleh individu Dd ada dua macam, yaitu D dan d.
Selanjutnya, dari kombinasi gamet-gamet tersebut diperoleh individu-individu
generasi F2 dengan nisbah DD : Dd : dd = 1 : 2 : 1. Jika DD dan dd
dikelompokkan menjadi satu (karena sama-sama melambangkan individu tinggi),
maka nisbah tersebut menjadi D- : dd = 3 : 1.
Uji Chi-Square (χ²)
Uji Chi Kuadrat adalah pengujian hipotesis mengenai perbandingan antara
frekuensi observasi yang benar-benar terjadi/aktual dengan frekuensi harapan
atau ekspektasi.
 frekuensi observasi → nilainya didapat dari hasil percobaan (o)
 frekuensi harapan → nilainya dapat dihitung secara teoritis (e)
Nilai χ² adalah nilai kuadrat karena itu nilai χ² selalu positif. Bentuk
distribusi χ² tergantung dari derajat bebas(db)/degree of freedom. Uji χ² dapat
digunakan untuk :
a. Uji Kecocokan = Uji kebaikan-suai = Goodness of fit test
b. Uji Kebebasan
c. Uji beberapa proporsi
Rumus

o : frekuensi observasi untuk kategori ke-i i


e : frekuensi ekspektasi untuk kategori ke-i i
Dalam genetika chi-square (chi-kuadrat) sering kali kita digunakan untuk
menguji apakah data yang diperoleh dari suatu percobaan itu sesuai dengan
ratio yang kita harapkan atau tidak. Di dalam suatu percobaan jarang sekali kkita
memperoleh data yang sesuai dengan yang kita harapkan (secara teoritis).
Hampir selalu terjadi penyimpangan. Penyimpangan yang kecil relatif lebih dapat
diterima pada penyimpangan yang besar. Selain itu apabila penyimpangan
tersebut semakin sering terjadinya dapat dikatakan semakin normal dan
cendrung lebih dapat diterima dari pada penyimpangan yang jarang terjadi.
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah seberapa besar penyimpangan itu
dapat kita terima dan seberapa sering terjadinya atau berapa besar peluang
terjadinya, jawabnya dapat dicari dengan uji chi square.
D. ALAT dan BAHAN :
Kancing genetika dua macam warna, masing – masing berjumlah 50

E. METODE KERJA :
1. Mengambil dua warna kancing, masing – masing sebanyak 50, menentukan
simbol – simbol gen sifat yang diwakili oleh setiap warna kancing
2. Memindahkan 50 kancing (misal warna merah) menjadi dua bagian, masing –
masing terdiri dari 25 buah sebagai gamet jantan dan 25 buah sebagian gamet
betina. Demikian pula 50 kancing warna yang lebih (misal kancing putih) dibagi
menjadi dua, 25 buah sebagai gamet jantan dan 25 buah sebagian gamet betina.
3. 25 kancing merah dan 25 kancing putih sebagai gamet jantan dimaasukkan
dalam satu kantong, demikian pula sisanya 25 kancing merah dan 25 kancing
putih sebagai gamet betina dimasukkan dalam kantong yang lain.
4. Mengambil secara acak satu kantong pertama dan 1 kancing dari kantong ke dua
pertemukan dan ditabulasi.
5. Melakukan cara yang sama secara terus menerus sampai kancing – kancing
yang berfungsi sebagi gen ini habis
6. Menghitung perbandingan yang diperoleh baik perbandingan genotip maupun
fenotip
7. Menguji hasil perbandingan yang diperoleh dengan khi-kuadrat

F. HASIL
Tabel Data Kelas

No Homozygot Heterozygot Homozygot Perbandingan Perbandingan


Dominan (Mm) Resesif Genotip Fenotip
(Mm) (Mm)
1 13 24 13 1 : 2 :1 3:1
2 11.5 27 11.5 1 : 2 :1 3:1
3 13.5 23 13.5 1 : 2 :1 3:1
4 13 24 13 1 : 2 :1 3:1
5 12 25 13 1 : 2 :1 3:1
6 12.5 25 12.5 1 : 2 :1 3:1
7 12 25.5 12.5 1 : 2 :1 3:1
8 13.5 23 13.5 1 : 2 :1 3:1
9 12.5 25 12.5 1 : 2 :1 3:1
10 14.5 21 14.5 1 : 2 :1 3:1
11 12.5 25 12.5 1 : 2 :1 3:1
Total 140.5 267.5 142

Tabel Analisis data kelas


Uji chi square

Genotip f0 fh f0 - fh (f0 - fh)2


X2
MM 140.5 137.5 3 9
= 0.065
Mm 267.5 275 -7.5 56.25
0.204
mm 142 137.5 4.5 20.25
0.147
X2 hitung = 0.416

H0 = percobaan sesuai dengan hukum mendel, tidak ada perbedaan yang


signifikan antara f0 dan fh
Ha = perbedaan tidak sesuai hukum mendel
X2 tabel > X2 hitung = H0 diterima
X2 tabel < X2 hitung = H0 ditolak
Tabel Data kelompok

Percobaan Homozygot Heterozygot Homozygot Perbandingan Perbandingan


Dominan (Mm) resesif Genotip Fenotip
(Mm) (mm)
1 10 30 10
2 13 24 13
Rata- rata 11.5 27 11.5 1 : 2,33 : 1 3.35 : 1
Analisis data chi square

Genotip f0 fh f0 - fh (f0 - fh)2


X2
MM 11.5 12.5 -1 1
0.08
Mm 27 25 2 4
0.16
mm 11.5 12.5 -1 1
0.08
X2 hitung = 0.32

X 2 tabel = .... ?
Db = h-1
= 3-1
= 2
P = 5 % = 0.05
X2 tabel = 5.99
X2 tabel > X2 hitung , h0 diterima.

Fenotip f0 fh f0 - fh (f0 - fh)2


X2
Merah 38.5 37.5 1 1
= 0.026
Putih 11.5 12.5 -1 1
0.08
X2 hitung = 0.106

X 2 tabel = .... ?
Db = h-1
= 2-1
= 1
P = 5 % = 0.05
X2 tabel = 3.84
X2 tabel > X2 hitung , h0 diterima.
G. PEMBAHASAN
Pada praktikum genetika kali ini yaitu Simulasi Persilangan Monohibrid dengan
tujuan untuk membuktikan Hukum Mendel 1 tentang persilangan monohybrid.
Percobaan persilangan monohibrid adalah perkawinan yang menghasilkan
pewarisan satu karakter dengan dua sifat beda. Pada percobaan ini
menggunakan kancing yang berwarna merah dan putih yang dimasukkan ke
dalam polibag yang berbeda yang kemudian mengambil masing masing 25X dari
masing-masing polibag sebanyak 2x. Dilakukan pengulangan sebanyak dua kali
agar hasil yang di dapatkan mendekati kebenaran dan dapat diterima sesuai
hukum mendel 1. Hasilnya dapat terlihat di tabel hasil pengamatan, dalam
Hukum Mendel 1 persilangan monohybrid didapat hasil dengan rasio fenotip 3 :
1. Hal ini dikarenakan gen-gen yang sealel memisah. Setelah melakukan sebuah
percobaan pada praktikum simulasi persilangan monohibrida perbandingan
genetis pada kancing maka ada beberapa yang perlu diberitahukan.
Menggunakan kancing agar lebih mudah dalam memahami persilangan pada
suatu mahluk hidup. Fenotipe dan genotipe yang didapatpun sama dengan
mahluk hidup yang sesungguhnya. Untuk memudahkan ditentukanlah dominan
dan resesif pada kedua kancing tersebut.
Hukum Mendel I atau hukum segregasi, alel memisah (segregasi) satu dari yang
lain selama pembentukan gamet dan diwariskan secara seimbang kedalam
gamet yang sama jumlahnya. Sebagai dasar segregasi atau pasang alel terletak
pada lokus yang sama dari kromosom homolog. Kromosom homolog ini
memisah secara bebas pada anafase I dari meiosis dan tersebar kedalam
gamet-gamet yang berbeda.
Hukum Mendel I dikenal sebagai hukum Segregasi. Selama proses meiosis
berlangsung, pasangan-pasangan kromosom homolog saling berpisah dan tidak
berpasangan lagi. Setiap set kromosom itu terkandung di dalam satu sel gamet.
Proses pemisahan gen secara bebas dikenal sebagai segregasi bebas. Hukum
Mendel I dikaji dari persilangan monohibrid. (Syamsuri, 2004:101)
Berdasarkan percobaan yang dilakukan mengenai hukum Mendel I atau
persilangan monohibrid yang diambil secara acak berdasarkan data di atas
sesuai dengan hukum Mendel I. Genotif (MM) ini merupakan hasil interaksi dari
dua faktor dominan yang berdiri sendiri-sendiri, sedangkan genotif (mm)
merupakan hasil dari interaksi dua faktor resesif. Dan (M) digunakan untuk
menandakan warna merah dan (m) untuk menandakan warna putih.
Hukum segregasi Mendel mengikuti proses miosis. Individu heterozigot untuk
alel Merah(M) dan alel putih (m).Setelah kromosom mengganda, melalui miosis I
dan II menghasilkan sel-sel haploid. Tiap-tiap sel memiliki alel tunggal untuk
gen warna merah, baik M atau m, maka alel M dan m bersegregai bebas satu
sama lain.Selama fertilisasi alel bergabung secara acak. Keturunan memiliki
rasio genotipe: 1 MM : 2 Mm : 1 mm dan rasio fenotipe 3 Merah : 1 putih.
Persilangan monohibrid memiliki ciri-ciri antara lain adalah semua individu F1
seragam atau sama, lalu pada waktu individu F1 yang heterozigot membentuk
gamet, terjadi pemisahan alel sehingga gamet memiliki salah satu alel saja,
kemudian jika dominasi tampak sepenuhnya, maka individu F1 memiliki fenotif
seperti induk yang dominan. Selain itu dalam perumpamaan, ketika dominasi
nampak sepenuhnya maka perkawinan monohibrid (Mm >< Mm) menghasilkan
keturunan yang menghasilkan perbandingan fenotif 3 : 1 (¾ Merah : ¼ Putih),
dan menghasilkan perbandingan genotif 1 : 2 : 1 (¼ MM : 2/4 Mm : ¼ mm).

H. KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Hukum Mendel I (hukum segregasi atau hukum pemisahan alel-alel dari satu
gen yang berpasangan) dalam peristiwa pembentukan sel kelamin (gamet),
pasangan-pasangan alel memisah secara bebas. Hukum ini berlaku untuk
persilangan dengan satu sifat beda (monohibrid).
2. Perbandingan Mendel pada F2 persilangan monohibrida yaitu perbandingan
genotip 1:2:1 dan perbandingan fenotip 3:1
3. Metode Chi-Square adalah cara yang dapat dipakai untuk membandingkan data
percobaan yang diperoleh dari persilangan-persilangan dengan hasil yang
diharapkan berdasarkan hipotesis secara teoritis. Rumus Chi-Square test (x2) :
Keterangan :
O = hasil pengamatan
E = harapan

LAMPIRAN
Ganbar hasil persilangan monohibrida
Gamet Merah Gamet Merah Muda

Gamet Putih

Jawanan permasalahan :
1. Perbandingan yang diperoleh kelompok genotip adalah 1 : 2,33 : 1 dan
perbandingan fenotip adalah 3.35 : 1
2. Hasil dari perbandingan dengan hasil kelompok lain yaitu hampir sama dengan
kelompok lain, hasil mendekati perbandingan genotip 1:2:1 dan fenotip 3:1
karena didalam percobaan terbukti kebenaran prinsip segregasi bebas.
3. Hasil yang kelompok peroleh dapat dipercaya kebenarannya, tidak menyimpang
dari yang diharapkan. Karena hasil yang diperoleh telah dianalisis menggunakan
analisis Chi-square pada hipotesis awal dapat diterima.
4. Diagram persilangan
P: ♀ Merah x Putih ♂
MM mm
Gamet M m

F1 : Merah
Mm
Menyerbuk sendiri (Mm x Mm)

F2 :

Gamet♂
M m
Gamet ♀
M MM Mm
(Merah) (Merah)

m Mm mm
(Merah) (Putih)

Merah (M) : Putih (mm) = 3 : 1


MM : Mm : mm = 1 : 2 : 1
Gambar Diagram persilangan monohibrid untuk sifat tinggi tanaman

Kesimpulan yang dapat ditarik yaitu Dari praktikum yang telah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa :
Hukum Mendel I (hukum segregasi atau hukum pemisahan alel-alel dari satu
gen yang berpasangan) dalam peristiwa pembentukan sel kelamin (gamet),
pasangan-pasangan alel memisah secara bebas. Hukum ini berlaku untuk
persilangan dengan satu sifat beda (monohibrid).
Perbandingan Mendel pada F2 persilangan monohibrida yaitu perbandingan
genotip 1:2:1 dan perbandingan fenotip 3:1
Metode Chi-Square adalah cara yang dapat dipakai untuk membandingkan data
percobaan yang diperoleh dari persilangan-persilangan dengan hasil yang
diharapkan berdasarkan hipotesis secara teoritis. Rumus Chi-Square test (x2) :
Keterangan :
O = hasil pengamatan
E = harapan

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil A. 2002. Biologi Jilid 1. Jakarta: Erlangga
Elrod, S. dan William Stansfield. 2010. Genetika Edisi Keempat. Jakarta:Erlangga.
Sofro, A.S.M. 1994. Keanekaragaman Genetik. Yogyakarta: Andi Offset.
Suryo. 2008.Genetika Strata 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Pres.
Widianti,Tuti.Aini H,Noor. 2014. PETUNJUK Praktikum Genetika. Semarang: Jurusan
Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang.

Anda mungkin juga menyukai