Anda di halaman 1dari 8

STUDI KASUS METODE PERBAIKAN STRUKTUR BASEMENT COOLING WATER

PUMP PLTGU PT PLN PERSERO SUMBAGUT MEDAN BELAWAN SICANANG

Wawansyah Pulungan1 dan Emilia Kadreni2


1
Departemen Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara, Jl. Perpustakaan No. 1 Kampus USU Medan
Email : wawansyahpulungan@gmail.com
2
Staf Pengajar Departemen Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara, Jl. Perpustakaan No.1 Kampus USU Medan
Email : emiliakadreni@gmail.com

ABSTRAK

Struktur basement Cooling Water Pump PLTGU Sumbagut Medan Belawan Sicanang mengalami kerusakan seperti
cracking, spalling, dan korosi. Oleh sebab itu, harus dilakukan perbaikan agar tidak mempengaruhi kinerja PLTGU
PT. PLN Persero Sumbagut. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa kerusakan struktur (kolom, balok,
tangga) berdasarkan hasil pengamatan dilapangan untuk menetapkan metode perbaikan yang tepat untuk
diaplikasikan. Metodologi penelitian ini adalah investigasi untuk mendapatkan data-data kerusakan melalui
pengamatan visual ataupun dengan bantuan pengujian non-destructive, semi destructive dan mereview dokumen
yang ada, serta menganalisa data untuk penentuan metode perbaikan. Berdasarkan hasil investigasi visual dan data
sekunder. Untuk balok memanjang A2, Blok II dengan kerusakan terekstrim diperoleh perbandingan volume
kerusakan struktur dibagi volume total struktur sebesar 15%, momen kerja 256,104 kNm dan momen kapasitas
aktual 265,985 kNm. Untuk balok melintang B2, Blok II diperoleh perbandingan volume kerusakan struktur dibagi
volume total struktur sebesar 5%, momen kerja 26,351 kNm dan momen kapasitas aktual 153,007 kNm. Pada
kolom K1 mencapai 0.06%. Pada kolom K2 mencapai 0.01%. Pada tangga mencapai 64.8%. Dari hasil penelitian
terhadap persentase kerusakan dan mengacu pada landasan teori, diperoleh metode perbaikan pada tangga adalah
rebuild, pada balok adalah jacketing, pada kolom adalah grouting.
KATA KUNCI : kerusakan, perbaikan, balok, kolom, tangga

ABSTRACT

Cooling Water Pump basement structure PLTGU Sumbagut Medan Belawan Sicanang damage such as cracking,
spalling, and corrosion. Therefore, improvements should be made so as not to affect the performance of PLTGU PT.
PLN Persero Sumbagut. The purpose of this study is to analyze the damage to the structure (columns, beams, stairs)
based on field observations to determine the appropriate repair method to be applied. The methodology of this study
is an investigation to obtain data destruction through visual observation or with the help of non-destructive testing,
semi-destructive and review documents, and analyze the data to determine the method of repair. Based on the
investigation of visual and secondary data. For the longitudinal beams A2, Block II with the comparison of the
volume of most extreme damage structural damage divided by the total volume of the structure by 15%, working
moment is 256.104 kNm and moment actual capacity is 265.985 kNm. For the transverse beams B2, Block II, the
comparison of the volume of damage to the structure of the total volume of the structure divided by 5%, working
moments is 26.351 kNm and moments actual capacity is 153.007 kNm. In the column K1 reaches 0.06%. In column
K2 reached 0.01%. On the ladder reaches 64.8%. From the results of research on the percentage of damage and
refers to the basic theory, obtained by the method is an improvement on the stairs is rebuild, the beam is jacketing,
the column is grouting.

KEY WORDS: damage, repair, beams, columns, stairs


1. PENDAHULUAN
Seperti kita ketahui semua, pada saat ini dengan makin banyaknya bangunan yang mengalami kerusakan dan yang
sudah memasuki tanda bahaya, hal ini menantang para ahli untuk dapat bergerak cepat. Seperti kerusakan pada
jembatan, gedung, struktur parkir, fasilitas publik, serta struktur lainnya. Celakanya, biaya perbaikan bisa sangat
mencengangkan. Menunda proses perbaikan biasanya menyebabkan pembengkakan biaya perbaikan dikemudian
hari. Lagi pula, jika kerusakan beton tidak cepat ditanggapi dengan benar, dikhawatirkan bangunan tidak aman lagi
sesuai fungsinya, yang lebih parah lagi adalah kegagalan struktur. Dengan adanya tuntutan bahwa bangunan yang
mengalami kerusakan harus sudah dapat secepatnya difungsikan kembali, maka perlu adanya penanganan terhadap
kerusakan-kerusakan yang terjadi, baik dengan melakukan perbaikan ataupun perkuatan. Oleh sebab itu untuk
mendapatkan hasil perbaikan dan perkuatan yang tepat guna dan mencapai sasaran yang telah ditetapkan, maka
perlu dilakukan investigasi untuk mendapatkan data-data kerusakan baik melalui pengamatan visual ataupun dengan
bantuan pengujian non-destructive maupun semi destructive dan mereview dokumen dari struktur yang ada. Dari
hasil investigasi tersebut, kemudian dilakukan analisa dan evaluasi pada struktur tersebut untuk menetapkan apakah
kerusakan yang terjadi hanya perlu perbaikan atau perlu perkuatan atau dalam kondisi yang terjelek struktur yang
mengalami kerusakan harus dilakukan pembongkaran dan dibangun struktur baru. Dari uraian diatas, perlu
dilakukan riset tentang metode perbaikan struktur bangunan basement CWP. Guna mengetahui metode-metode
perbaikan apa yang paling tepat untuk dipakai.

1.1 Kerusakan Beton


a. Retak (crack)
Crack adalah retak pada permukaan beton karena mengalami penyusutan, lendutan akibat beban hidup (live load)/
beban mati (dead load), akibat gempa bumi maupun perbedaan temperatur yang tinggi pada waktu proses
pengeringan serta akibat dari korosi, karat yang terbentuk pada tulangan mengakibatkan pengembangan volume besi
tulangan tersebut. Pengembangan volume ini kemudian mendesak beton sehingga beton tersebut retak, terkelupas
atau pecah, sehingga daya dukung dan dimensi beton menjadi berkurang.
Crack dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) macam yaitu :
1). Retak kecil dengan lebar retakan ≤ 0,5 mm.
2). Retak sedang dengan lebar retakan antara 0,5 mm sampai 1,2 mm
3). Retak besar dengan lebar retakan ≥ 1,2 mm.
b. Pengelupasan (spalling)
Pengelupasan (spalling) pada struktur yaitu terkelupasnya selimut beton besar atau kecil sehingga tulangan pada
beton tersebut terlihat, hal ini apabila dibiarkan dengan bertambahnya waktu, tulangan akan berkarat (korosi)
akhirnya patah.

1.2 Kategori Kerusakan Beton


Menurut Departemen Pekerjaan Umum Ditjen Cipta Karya kerusakan suatu bangunan dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
1) Kerusakan Ringan Non-Struktur
Suatu bangunan dikategorikan mengalami kerusakan nonstruktur apabila terjadi hal-hal sebagai berikut :
a. retak halus (lebar celah lebih kecil dari 0,075 cm) pada plesteran.
b. serpihan plesteran berjatuhan.
c. mencakup luas yang terbatas.

2) Kerusakan Ringan Struktur


Suatu bangunan dikategorikan mengalami kerusakan struktur tingkat ringan apabila terjadi hal-hal sebagai berikut :
a. retak kecil (lebar celah antara 0,075 hingga 0,6 cm) pada dinding.
b. plester berjatuhan.
c. mencakup luas yang besar.
d. kerusakan bagian-bagian nonstruktur seperti cerobong, lisplang, dsb.
e. kemampuan struktur untuk memikul beban tidak banyak berkurang.
f. Laik fungsi/huni.

3) Kerusakan Struktur Tingkat Sedang


Suatu bangunan dikategorikan mengalami kerusakan struktur tingkat sedang apabila terjadi hal-hal sebagai berikut :
a. retak besar (lebar celah lebih besar dari 0,6 cm) pada dinding.
b. retak menyebar luas di banyak tempat, seperti pada dinding pemikul beban, kolom; cerobong miring; dan runtuh.
c. kemampuan struktur untuk memikul beban sudah berkurang sebagian.
d. laik fungsi/huni.
4) Kerusakan Struktur Tingkat Berat
Suatu bangunan dikategorikan mengalami kerusakan struktur tingkat berat apabila terjadi hal-hal sebagai berikut :
a. dinding pemikul beban terbelah dan runtuh.
b. bangunan terpisah akibat kegagalan unsur-unsur pengikat.
c. kira-kira 50% elemen utama mengalami kerusakan.
d. tidak laik fungsi/huni.

5) Kerusakan Total
Suatu bangunan dikategorikan sebagai rusak total / roboh apabila terjadi hal-hal sebagai berikut :
a. Bangunan roboh seluruhnya ( > 65%).
b. Sebagian besar komponen utama struktur rusak.
c. Tidak laik fungsi/ huni.

1.3 Defenisi Korosi


Korosi adalah penurunan mutu logam akibat reaksi elektrokimia dengan lingkungannya. Penurunan mutu logam
tidak hanya melibatkan reaksi kimia namun juga reaksi elektrokimia, yaitu antara bahan-bahan bersangkutan terjadi
perpindahan elektron. Karena elektron adalah sesuatu yang bermuatan negatif, maka pengangkutannya
menimbulkan arus listrik. Dalam banyak hal korosi menyebabkan penurunan daya guna suatu komponen atau
peralatan yang dibuat dari logam seperti peralatan pabrik, peralatan kimia, pembuatan jembatan dan sebagainya.
Peristiwa korosi tidak akan terjadi dengan sendirinya melainkan ada faktor-faktor tertentu yang menyebabkan
timbulnya peristiwa korosi. Faktor-faktor tersebut dapat menimbulkan terjadinya peristiwa korosi apabila
komponen-komponen tersebut terjadi hubungan satu sama lain yang menimbulkan terjadinya aliran elelktron.
Faktor-faktor yang mendasari korosi tersebut dapat dilihat dalam suatu rangkaian sel korosi basah.

Gambar 1.1. Sel Korosi Basah Sederhana


Sumber : John P. Broomfield, “Corrosion Of Steel in Concrete”
Keterangan :
1. Hubungan arus listrik
2. Anoda
3. Katoda
4. Larutan Elektrolit
Pada gambar 1.1 dapat dilihat bahwa antara anoda dan katoda dihubungkan oleh suatu kawat yang menghantarkan
arus listrik yang terjadi akibat reaksi oksidasi pada anoda, jika antara anoda dan katoda terdapat beda potensial atau
selisih energi bebas. Reaksi tersebut adalah reaksi korosi. Dari rangkaian sel korosi terdapat empat faktor yang
mempengaruhi terjadinya korosi yaitu anoda, katoda dalam lingkungan elektrolit dan hubungan listrik antara dua
elektroda. Baja tulangan merupakan suatu bahan yang mudah mengalami korosi. Korosi baja tulangan pada beton
adalah sebuah proses elektrokimia. Sel korosi terbentuk karena perbedaan konsentrasi ion dan gas di sekitas logam.
Secara normal, baja tulangan akan mempunyai lapisan film tipis FeO.OH pada permukaannya yang akan membuat
baja pasif terhadap korosi. Pada proses terjadinya korosi akan dihasilkan suatu senyawa baru yaitu karat
(Fe2O3.nH2O), perubahan baja menjadi karat akan menyebabkan pertambahan volumenya tergantung pada kondisi
oksidasi besinya. Penambahan volume (kurang lebih 600 %) akan menyebabkan ekspansi beton dan keretakan. Laju
korosi atau perusakan lapisan pelindung yang diberikan kepada logam akan dipengaruhi oleh perubahan dari faktor
kelembaban relative, temperature, pH, konsentrasi oksigen, bahan pengotor padat/terlarut dan konsentrasi larutan.
Pada proses korosi, baja tulangan dimasukkan dalam larutan asam sulfat, reaksi kimia yang terjadi pada proses
korosi dapat dijelaskan dengan persamaan (3) dan (4). Asam sulfat (H 2SO4) bereaksi dengan besi (Fe) pada baja
tulangan.
2Fe + 3H2SO4 + 6H2  2Fe3+ + 3SO2  + 6H2O ……………………………… (3)
2Fe3+ + 6H2O  Fe2O3.3H2O + 6 H+ …………………………………… (4)
Pada proses terjadinya korosi juga mengalami perpindahan elektron sehingga tidak semua Fe 3+ yang dihasilkan
berubah menjadi Fe2O3. 3H2O akan tetapi sebagian mengalami reduksi membentuk Fe 2+. Reaksinya dapat dilihat
pada persamaan (5) dan (6). Besi (Fe3+) mengalami reduksi membentuk Fe2+.
2Fe3+ + 2e  2Fe2+ ( + 0.77 V ) ………………………………………. (5)
2+
2Fe + 4 OH -
 2Fe (OH)2  ……………………………………………. (6)

Gambar 1.2. Proses korosi pada baja tulangan


Sumber : John P. Broomfield, “Corrosion Of Steel in Concrete”

Baja tulangan yang telah terkorosi selama sepuluh tahun pada lingkungan udara luar masih sesuai dengan standar
mutu baja tulangan SNI 07-2052-2002. Serangan korosi akan menyebabkan pengurangan diameter baja tulangan
pada laju yang relatif konstan dan merata pada seluruh permukaan yang kontak dengan lingkungan korosif.

1.4 Perbaikan dan perkuatan struktur beton


Untuk memperoleh kesinambungan pelayanan, harus dilakukan upaya perbaikan dan bila perlu perkuatan struktur.
Perbaikan struktur adalah usaha untuk mengembalikan fungsi dan kinerja struktur. Sedangkan perkuatan struktur
dilakukan untuk meningkatkan kekuatan, kekakuan dan kestabilan struktur. Sistem atau metode perbaikan dan
perkuatan struktur beton harus dipilih atau disesuaikan berdasarkan tingkat kerusakannya. Macam metode perbaikan
dan perkuatan struktur beton yaitu:
a). Coating
b). Injection (Grouting)
c). Shotcrete
d). Prepacked concrete
e). Jacketing
f). Penambahan tulangan
Dalam melakukan perbaikan dan perkuatan struktur perlu dilakukan kajian teknis mengenai kerusakan struktur.
Kajian teknis ini dilakukan dengan mengamati struktur secara langsung, memperoleh informasi dari penguna
struktur dan menguji struktur dengan alat-alat ukur. Dari kajian tersebut dapat ditentukan:
a. Kekuatan struktur dalam memikul beban
b. Tegangan yang terjadi
c. Kekakuan elemen struktur dan sistem struktur secara keseluruhan
d. Daktilitas elemen struktur dan keseluruhan sistem struktur
e. Daya tahan struktur dalam menahan beban di atasnya.

Gambar 1.3. Jacketting dengan pemberian selimut beton dan lempengan baja
Sumber : Thomas Telford, “Repair and Strengthening of Concrete Structures”
2. METODOLOGI
2.1 Investigasi lapangan (Field Investigation)
Metode penelitian dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain adalah dengan pengukuran bangunan secara
menyeluruh. Pengukuran yang dilakukan harus teliti agar mendapatkan data yang tepat dan akurat.
Data yang didapat berupa:
1. Ukuran bangunan;
2. Dimensi kolom;
3. Dimensi balok;
4. Dimensi tangga.
Data-data diatas akan dipergunakan sebagai input pada perhitungan manual serta pemodelan program analisa
struktur.

2.2 Penyelidikan visual


Pengamatan visual diperlukan untuk mendefinisikan permasalahan yang ada dilapangan. Dari pengamatan visual ini
didapat informasi mengenai persentase kerusakan struktur seperti retak-retak akibat korosi.

2.3 Analisa dokumen teknis


Data yang digunakan sebagai penunjang penelitian dapat berupa data dokumen teknis dan elemen struktur yang ada
pada gedung CWP. Adapun dokumen teknis yang digunakan dalam penelitian adalah:
1. Hasil Hammer test
2. Hasil Carbonation test
3. Gambar Kerja Struktur

2.4 Proses Penelitian


Dalam proses penelitian ini dibagi dalam tiga tahapan, yaitu :
a) Tahap I : Pada tahap ini yang dilakukan adalah pengamatan visual,
penelitian kondisi beton dan penelitian dokumen teknis,
b) Tahap II : Pada tahap ini dilakukan analisis data lapangan dan analisis
dokumen teknis, membandingkan dengan landasan teori,
c) Tahap III : Pada tahap ini ditentukan metode perbaikan dan kesimpulan.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Metode Perbaikan Pada Struktur Tangga Basement Cooling Water Pump
Berdasarkan hasil dari investigasi visual, carbonation test, dan hammer test, maka perilaku perbaikan pada tangga
dilakukan secara re-build. Dengan tahapan-tahapan sebagai berikut :
Tahap 1 :Perhitungan & Pembongkaran Tangga Beton
Tahap 2 :Pembangunan Ulang Tangga Beton
Tahap 3 :Pengecatan tangga dilakukan dengan menggunakan bahan epoxy

3.2 Metode Perbaikan Pada Struktur Balok Basement Cooling Water Pump
shearconnector tulangan
D13 bagi shearconnector
11cm 11cm D10 D13

4D16

A
11cm

sengkang D10 tulangan


tarik D16
tulangan
scc-08 tarik D19 14cm

Gambar 3.1 Tipikal Perbaikan Balok CWP Blok II ( Metode Jacketting )


90 cm

tulangan sengkang D10

95 cm 109 cm
tulangan bagi 4D16 beton lama
Balok A

tulangan tarik 14D19

beton baru SCC-08

Gambar 3.2 Potongan Melintang Balok A (jacketing bentuk U)

101 cm
90 cm

tulangan sengkang D10

beton lama tulangan bagi 3D10


66 cm 55 cm Balok B
beton baru SCC-08

tulangan tarik 12D16

Gambar 3.3 Potongan Melintang Balok B (jacketing bentuk L)

3.3 Metode Perbaikan Pada Struktur Balok Basement Cooling Water Pump
Besi yang berkarat dipotong lalu diganti dengan tulangan yang baru. Perhatikan sambungan tulangan baru dengan
tulangan yang lama. Sebaiknya tulangan lama menindih tulangan baru (overlaping) dengan panjang sama dengan
diameter x 40. Jika diameter tulangan 12 mm maka panjang overlaping tulangan sekitar 480 mm. Setelah itu, ikatlah
sambungan dengan kawat atau bisa juga dengan las. Tambahkan shear connector D13 dengan kedalaman 110 mm
dan spasi jarak masing-masing shear connector 150 mm. Dengan tujuan agar beton baru tidak tergelincir dan beton
lama dengan beton baru menjadi satu kesatuan.
d=110 mm s=150 mm

Gambar 3.4 Spesifikasi Pemasangan Shear Connector


Pasanglah bekisting di sekitar kolom yang diperbaiki. Setelah itu, masukkan material beton dengan mutu beton
sesuai dengan kualitas mutu beton yang lama atau bisa juga dengan material khusus untuk perbaikan beton. Agar
memudahkan penuangan material beton, bekisting dibuat sedemikian rupa supaya memiliki celah atau bukaan yang
cukup untuk dialirkan beton SCC-08

beton lama 11 cm

2.5 cm

bekisting
15 cm

shear connector

Gambar 3.5. Tipical Perbaikan Kolom CWP ( Metode Grouting )

4. KESIMPULAN

1. Berdasarkan hasil pengamatan visual didapat bahwa kerusakan yang terjadi pada balok A1 dan A2
mencapai 15%. Pada balok B1, B3 dan B4 mencapai 7.95%. Pada balok B2 mencapai 5%. Pada kolom K1
mencapai 0.06%. Pada kolom K2 mencapai 0.01%. Pada struktur tangga mencapai 64.8%.
2. Perhitungan pada balok memanjang A2 diperoleh momen kerja sebesar 256,104 kNm, momen kapasitas
sebesar 265,9848 kNm, dan pada balok melintang B2 diperoleh momen kerja sebesar 26,351 kNm,
momen kapasitas sebesar 153,007 kNm.
3. Dari data kedalaman karbonasi diketahui bahwa balok terpapar senyawa karbonat sedalam 50 mm, pada
kolom sedalam 50 mm, dan struktur tangga 40 mm.
4. Dari data hammer test dihasilkan tegangan beton karakteristik balok 541.5Kg/cm2, tegangan beton
karakteristik kolom 567 Kg/cm2, tegangan beton karakteristik tangga 659.5 Kg/cm2.
5. Tangga dikategorikan rusak berat, sehingga harus digunakan metode rebuild. Tahap 1. Pembongkaran
tangga. Tahap 2. Pembangunan ulang tangga. Tahap 3. Pengecatan tangga dilakukan dengan menggunakan
bahan epoxy.
6. Tipikal perbaikan beton pada balok A menggunakan metode jacketting bentuk U, tebal cor sisi bawah 14
cm, tebal cor sisi luar dan dalam 11 cm. Pada balok B menggunakan metode jacketing bentuk L, tebal cor
sisi bawah 11 cm, tebal cor sisi samping 11 cm.
7. Bahan dan material yang dipakai untuk perbaikan balok A adalah tulangan tarik D19, tulangan bagi D16,
tulangan sengkang D10, shearconnector D13, beton SCC-08. Pada balok B adalah tulangan tarik D16,
tulangan bagi D10, tulangan sengkang D10, shearconnector D13, beton SCC-08.
8. Perbaikan struktur kolom menggunakan metode grouting.

5. SARAN
1. Untuk merencanakan struktur bangunan terutama didaerah retrofit, sebaiknya direncanakan dengan lebar
retak ijin yang sangat kecil (mikrocrack). Agar bangunan dapat bertahan dari serangan korosi.
2. Pihak perusahaan seharusnya sedini mungkin mendeteksi adanya kerusakan pada bangunan yang ada untuk
menekan biaya perbaikan sekecil mungkin.
3. Pengawasan pada saat pelaksanaan pembangunan dilapangan sangat perlu diperhatikan, karena hanya
akibat hal yang sepele, akan berakibat kerusakan struktur dikemudian hari.
4. Sebaiknya pemerintah mengeluarkan standar nasional mengenai perbaikan struktur.
5. Metode investigasi objek yang akan diperbaiki seharusnya menggunakan alat-alat yang terdepan, seperti
Ultrasonic Tester untuk mengetahui jumlah tulangan yang ada tanpa merusak bangunan, Roto-hammer
untuk mengetahui ketebalan selimut beton.

DAFTAR PUSTAKA

Arduini, M., and Nanni, A., 1997, Behavior of Pre-Cracked RC Beams Strengthened with Carbon FRP Sheets,
Journal of Composites in Construction, V. 1, No. 2, pp. 63-70.
Dipohusodo Istimawan, 1994, Strukutr Beton Bertulang, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Hassan, T., and Rizkalla, S., 2002, Flexural Strengthening of Prestressed Bridge Slabs with FRP Systems, PCI
Journal, V. 47, No. 1, pp. 76-93.
Keenan, Kleinfelter, Wood, 1992, Kimia Untuk Universitas, Erlangga, Jakarta.
Kuhlman, Louis A, 1987, Test Method for Measuring the Bond Strength of Latex-Modified Concrete and Mortar,
ACI Materials Journal, Title no. 87-M42, Vo1.87, No. 4. July-August 1990, pp. 387-394.
Lasino . Dan Andrianti,AH,(2003) , Pengendalian Mutu Pekerjaan Beton, Balitbang Kimpraswil.
Pranata, Y.A. 2008. Seminar Bidang Kajian 1: Studi Menentukan Parameter Daktilitas Peralihan Aktual: Studi
Kasus Rangka Beton Bertulang Bertingkat Rendah, Program Pascasarjana, Doktor Ilmu Teknik Sipil,
Universitas Katolik Parahyangan.
Purwanto, Agus, 2003, Korosi Baja Tulangan Serta Penggunaan Aditif Untuk Proteksinya, Jurnal Gema Teknik,
nomor 1, tahun VI, Januari, Surakarta.
Roberge, P.R., 2000, Handbook of Corrosion Engineering, McGraw-Hill, New York.
Telford Thomas, 1991, Repair and Strengthening of Concrete Structures, FIP, London.
Trethewey, Kenneth R. & Chamberlain, John, (alih bahasa : Alex Tri Kantjono Widodo), 1991, Korosi untuk
Mahasiswa Sains dan Rekayasa, PT Gramedia, Jakarta. V

Anda mungkin juga menyukai