Anda di halaman 1dari 14

CARA MENJALANKAN AKUNTABILITAS

DI TEMPAT KERJA
“Akuntabilitas dihasilkan dari integritas dan transparansi, yang
dilakukan secara konsisten dan sepenuh hati oleh pribadi-pribadi yang
dapat diandalkan dan dapat dipercaya.”~Djajendra

Dalam praktik Good Corporate Governance, akuntabilitas adalah sebuah


nilai dan juga prinsip yang wajib dijadikan sebagai karakter kerja.
Realitasnya, semua orang mengerti dan paham tentang makna
akuntabilitas, tetapi mereka tidak mampu menjalankannya.

Akuntabilitas berarti individu bertanggung jawab penuh atas pikiran,


perkataan, perbuatan, emosi, cara kerja, keputusan, dan sikap di tempat
kerja. Dalam hal ini, individu wajib memiliki integritas dan transparansi
di dalam perilaku kerjanya, sehingga dari sanalah akuntabilitas dapat
dijadikan karakter kerja untuk memperkuat tugas dan tanggung
jawabnya.

Seseorang dengan akuntabilitas yang tinggi tidak akan melemparkan


tanggung jawabnya kepada orang lain. Seorang manajer dengan
akuntabilitas yang baik pasti merasa bertanggung jawab penuh atas
kesalahan yang dibuat oleh para stafnya. Demikian juga dengan seseorang
yang memegang hirarki tertinggi, bila dia memiliki akuntabilitas, maka
dia selalu akan bertanggung jawab penuh atas tindakan orang-orang yang
dia pimpin.

Karena akuntabilitas ini sesuatu yang tidak sederhana dan mudah, maka
diperlukan pengendalian diri, kejujuran dan keikhlasan. Bila tidak mampu
menjalankan sebuah tanggung jawab, lebih baik jangan diambil tanggung
jawab tersebut. Jangan karena ingin kekuasaan, jabatan, fasilitas, dan
uang yang banyak, lalu mengambil sebuah pekerjaan yang tidak mampu
Anda pertanggung jawabkan dengan penuh integritas. Jadilah pribadi
yang bekerja secara profesional dan bukan oleh nafsu untuk mengejar
kepentingan pribadi dengan segala cara.

Pastikan bahwa sebelum membuat komitmen dan kewajiban, sudah


dengan sangat jujur menilai kemampuan dan kualitas kompetensi diri
sendiri, sehingga diri sudah dapat memetakan batas akuntabilitas yang
mampu dikerjakan dengan penuh tanggung jawab. Jagalah kata-kata dan
sikap agar tidak berlebihan. Jangan menawarkan hal-hal yang tidak dapat
Anda pertanggung jawabkan. Terimalah pekerjaan yang bisa Anda lakukan
dengan tulus, penuh kualitas, penuh integritas, dan selalu mampu
menindaklanjutinya dengan cara-cara yang lebih kreatif.

Jangan berikan terlalu banyak janji-janji; jangan membuat rencana tanpa


memiliki sumber daya untuk eksekusinya; jangan berandai-andai bersama
pikiran dan kecerdasan Anda. Ingat! Akuntabilitas mengukur integritas
dan kualitas Anda. Jadi, sekali Anda ingkar janji, gagal mewujudkan
rencana, dan tidak mampu memahami realitas, maka rusaklah
akuntabilitas Anda, dan Anda tidak akan dipercaya lagi, atau mungkin
terpaksa harus berurusan dengan hukum.

Memiliki akuntabilitas berarti melakukan yang terbaik dengan sebenar-


benarnya, dan tidak mengabaikan atau menyesatkan tanggung jawab. Bila
Anda sepenuh hati mempertanggung jawabkan segala sesuatu dengan
integritas yang tinggi, maka dari waktu ke waktu reputasi dan kredibilitas
Anda pasti meningkat pesat. Kepercayaan adalah atribut yang diperoleh
dari akuntabilitas Anda. Jadi, bersikaplah dan bertindaklah dengan
konsisten agar Anda menjadi pribadi yang selalu dipercaya dan
diandalkan.

Di tempat kerja, setiap karyawan wajib memiliki akuntabilitas atas


hubungan, posisi, tugas, pekerjaan, dan hirarki. Sebagai profesional wajib
bertanggung jawab kepada pemberi kerja/perusahaan termasuk memiliki
akuntabilitas kepada tata kelola, standar perilaku, kinerja, etika, dan
tata krama.

Ketika akuntabilitas sudah menjadi karakter kerja, maka karyawan secara


pribadi merasa bertanggung jawab penuh atas tindakan, kelalaian, dan
keputusan yang dibuat. Oleh karena itu, mereka akan bekerja dengan
prinsip kehati-hatian; patuh pada hukum dan etika; bekerja dengan
profesional untuk patuh pada prosedur dan sistem; patuh pada standar
kerja perusahaan; selalu menggunakan bukti dan mengadministrasikan
bukti untuk pertanggung jawaban; bekerja melalui proses kerja yang taat
tata kelola dan praktik-praktik terbaik; apapun yang dilakukan atau
dikerjakan selalu berdasarkan pengetahuan yang jelas dan tepat; semua
tindakan pasti memenuhi syarat untuk menjadi hasil akhir yang dapat
dipertanggung jawabkan.
Orang-orang dengan akuntabilitas yang tinggi selalu hidup dalam
integritas yang tinggi; sehingga semua sikap dan tindakan mereka
menjadi unggul dalam etika, prinsip, nilai-nilai, tata kelola, sistem, dan
akal sehat. Dalam hal ini, mereka juga bertindak dengan mengambil
inisiatif untuk mewujudkan tanggung jawab mereka dengan penuh
integritas.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Author: DJAJENDRA
Djajendra adalah praktisi, penulis, dan pembicara di bidang Manajemen Korporasi. Djajendra
menulis dan berbicara untuk kehidupan kerja yang produktif, bahagia, kreatif, damai, tenang,
berintegritas, melayani, bertanggung jawab, dan bersatu untuk mencapai kinerja terbaik. Ingin
Mengundang Djajendra? Apabila perusahaan Anda ingin mengundang Djajendra untuk
memotivasi dan menginspirasi karyawan dan pimpinan buat kesuksesan karier pribadi, bisnis dan
organisasi. Hubungi: PT DJAJENDRA MOTIVASI UNGGUL http://djajendra-motivator.com
Email: training@djajendra-motivator.com Phone: 021 5701505 Mobile phone : 0812 131 888 99
Fax : 021- 5738105 View all posts by DJAJENDRA

Bagaimana Membangun Budaya Akuntabilitas?


Berada di lingkungan kerja dengan performa rekan yang mulai menurun, adanya isu-isu negatif
yang tentu saja akan mempengaruhi kinerja kita, serta karyawan tidak lagi peduli dengan hasil
kerja meraka. Apa yang harus kita lakukan? mencari alasan dengan menyalahkan nilai-nilai
kerja, yang akan mengakibatkan demoralisasi. Sehingga mereka enggan melakukan
pekerjaannya, menolak tanggung jawab, dan bergantung pada orang lain untuk memecahkan
masalah. Hal tersebut terjadi karena kurangnya akuntabilitas.

Bagi karyawan yang memiliki idealisme akan memilih hengkang dari tempat tersebut – jika
mereka bisa. Namun jika tidak, mereka akan memutuskan ” baiklah, mungkin saya cocok dengan
budaya seperti ini dan menjadi bagian dari rekan-rekan lainnya”.
Apa itu Akuntabilitas

Akuntabilitas berasal dari istilah bahasa Inggris accountability yang berarti


pertanggunganjawab atau keadaan untuk dipertanggungjawabkan atau keadaan untuk diminta
pertanggungjawaban. Dengan kata lain, akuntabilitas ialah berfungsinya seluruh komponen
penggerak jalannya kegiatan perusahaan yang sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-
masing (sumber: http://wwwbutonutara.blogspot.co.id)

Kemudian hasilnya dikomunikasikan dan dipahami oleh semua orang. Akuntabilitas ditentukan
secara proaktif, sebelum terjadi sesuatu, bukan secara reaktif, setelah terjadi sesuatu. Saat terjadi
kesalahan, respon yang muncul bukanlah menunjuk kambing hitam dan mencari alasan. Tapi
bagaimana memecahkan masalah dan belajar dari kesalahan tersebut. Setiap karyawan memiliki
sense of belonging terhadap perusahaan dan melakukan apa yang menjadi tujuan perusahaan.

Bagaimana Menciptakan Budaya Akuntabilitas

Dimulai dengan LEADERSHIP!

Pemimpin – mulai dari yang paling atas dan disemua level – akan memberikan pesan yang jelas
dan konsisten terkait dengan “apa yang kita lakukan disini”.

Berikut adalah 8 hal yang bisa dilakukan pemimpin dalam rangka menciptakan budaya
akuntabilitas

1. Contoh sikap akuntabilitas.


Tidak bisa dipungkiri jika banyak organisasi yang tidak mau mengakui adanya kesalahan atau
ketidakberesan dalam organisasi demi menghindari masalah hukum. Namun, hal ini justru akan
memperburuk keadaan dibandingkan dengan kesalahan sebenarnya, dan memberikan pesan pada
karyawan untuk lempar batu sembunyi tangan. Alasan semacam itu dan mencari kambing hitam
hanya akan memperburuk keadaan. Ketika seorang pemimpin dapat berdiri didepan
karywaannya dan mengatakan, ” saya telah melakukan kesalahan – dan ini yang akan kita
lakukan untuk memperbaikinya” adalah contoh positif sikap akuntabilitas dimana nantinya
karyawan tidak ragu untuk mengikutinya.
2.Menentukan hasil dan harapan – sebelum ada kejadian!
Jangan menunggu sampai terjadi kesalahan dan kemudian membuang energi mencari siapa yang
disalahkan. Tentukan standar yang jelas dan harapan, bahkan sebelum memulai sebuah
pekerjaan. Kemudian, pastikan semua karyawan memiliki kesadaran dan memahami apa yang
menjadi sasaran organisasi serta apa yang menjadi harapan seluruh karyawan. Setiap karyawan
harus memiliki pandangan yang jelas terkait dengan hasil yang ingin dicapai perusahaan.

3. Berkomitmen.
“Ok, akan saya coba” bukanlah sebuah komitmen. Tanyakan ” Apakah saya bisa memegang
komitmenmu?, dan dengarkan setiap pendapat yang masuk. Bekerjasama dengan karyawan
untuk mengatasi hambatan dan mendapatkan gambaran kebutuhan apa saja yang mereka
butuhkan untuk memenuhi komitmennya.

4.Terbuka dalam mendapatkan feedback dan memecahkan masalah


tanpa mencari kesalahan.
Pintu organisasi selalu terbuka bagi karyawan yang ingin mengungkapkan ganjalan atau masalah
dalam organisasi tanpa ada rasa takut atau tekanan

5.Memperkerjakan karyawan yang memiliki akuntabilitas.


Jangan hanya memperkerjakan karyawan berdasarkan ketrampilan teknis dan pengalaman saja,
namun pertimbangkan pula kecocokannya dengan budaya kerja organisasi.
6.Melatih karyawan agar akuntabel.
Karyawan memiliki latar belakang yang beragam dimana mereka belum pernah diajarkan
tentang akunabilitas. Mereka hanya mempelajari ketrampilan dan sikap seperti critical thinking
sebelum mereka bisa berkembang dalam budaya akuntabilitas

7.Konsekuensi dan dukungan


. Harus ada konsekwensi yang diberikan pada kinerja yang buruk dan dukungan untuk sikap dan
hasil yang positif. Tanpa ini, karyawan akan menganggap bahwa akuntabilitas hanyalah NATO
(No Action Talk Only)

8. Mempertahankan akuntabilitas.
Dalam budaya akuntabilitas, pemimpin tidak hanya mempertahankan akuntabilitas karyawan.
Saling mengingatkan antar karyawan untuk tetap akuntabel. Setiap karyawan memilki rasa
kepemilikan demi tujuan organisasi. Pemimpin harus bisa menjadi contoh, mengajarkan, dan
mendorong mental akuntabilitas ini

Budaya akan berubah menjadi positif ketikan pemimpin konsisten menerapkan 8 prinsip diatas.

Jika mereka tidak bersedia atau tidak mau, mungkin sudah saatnya mencari pemimpin baru
Akuntabilitas, Transparansi dan
Produktivitas Kinerja
April 10, 2016 bachrudinmusthafa Artikel Lepas 0

Akuntabilitas, Transparansi dan Produktivitas Kinerja

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (Depdiknas/Pusat Bahasa 2008:33), kata
“akuntabel” dimaknai sebagai “dapat dipertanggungjawabkan” dan “akuntabilitas” didefinisikan
sebagai “perihal bertanggungjawab”; “keadaan dapat dimintai pertanggungjawaban.”

Dalam perjalanan penggunaannya dalam komunikasi sehari-hari, kata akuntabilitas (yang


merupakan kata jadian dari kata sifat akuntabel) memiliki makna bernuansa ganda. Satu makna
bernuansa negatif, seperti yang dikandung ungkapan “Anda harus akuntabel bila terjadi apa-apa
pada aset perusahaan ini.” Dalam ungkapan ini kata akuntabel dipergunakan dalam maknanya
yang sepadan dengan “yang membuat sesuatu kesalahan terjadi”. Makna yang mengandung
muatan negatif lain terasa kental dalam ungkapan berikut: “Manajer X diminta akuntabilitasnya
atas lingkungan kerja yang telah mencelakakan bawahannya.” Penggunaan kata “akuntabel” dan
“akuntabilitas” dalam kedua contoh ini bernuansa negatif karena mengarah pada
pertanggungjawaban yang bertautan dengan suatu pelanggaran terhadap suatu aturan. Oleh
karena itu, sesungguhnya penggunaan kata “akuntabel” dan “akuntabilitas” dalam konteks
contoh ini digandengkan dengan ungkapan “kalau terjadi apa-apa biang-keroknya akan ditindak”
(yang tidak dieksplisitkan di sini).

Dalam penggunaannya di dalam organisasi-organisasi perusahaan dan yayasan yang progresif,


kata akuntabel dan akuntabilitas cenderung dimaknai sebagai suatu “cara pikir” (mindset) yang
positif. Tak seperti yang dikesankan dalam penggunaan kata akuntabilitas dalam pengertiannya
yang bernuansa negatif, kata ini tidaklah semata-mata berurusan dengan ketaatan terhadap
aturan-aturan hukum dan perangkat standar industri. Jauh dari keterbatasan itu, kata
akuntabilitas bertaut erat dengan tujuan organisasi dan kepercayaan publik.

Akuntabilitas merupakan kunci bagi pencapaian hasil kerja organisasi karena akuntabilitas
dengan segala kebiasaannya mengeksplisitkan rincian tugas dan ekspektasi capaian kinerja itu
dapat membantu kita mengidentifikasi berbagai kesempatan yang ada dalam jangkauan
organisasi yang bersangkutan. Meminta pegawai bersikap akuntabel—misalnya—sesungguhnya
dapat membantu yang bersangkutan memahami apa arti kepuasan mencapai sasaran kerja
optimal dan apa artinya berkinerja sesuai standar.

Akuntabilitas dapat berarti bisa diandalkan. Kita dapat menakar akuntabilitas dalam pengertian
ini dengan mengajukan pertanyaan kepada diri-sendiri: “Dapatkah orang lain mengandalkan kita
untuk mengerjakan sesuatu yang kita janjikan akan kita lakukan?”

Agar sukses, para manajer harus menagih dirinya sendiri untuk selalu akuntabel tentang
program-program yang dicanangkannya dengan cara menindaklanjuti programnya dengan
rangkaian tindakan akuntabilitas. Salah besar jika seorang manajer memulai proses dan sistem
akuntabilitas, tetapi kemudian dia tidak menindaklanjutinya. Gejala semacam ini dapat disebut
“omdo”—omong doang atawa sekadar pembicaraan tanpa realisasi. “Omdo” adalah
kegagalan.Kegagalan ini dapat menurunkan penghargaan staf terhadap proses dan sistem
akuntabilitas yang telah diinisiasi tersebut dan hal ini dapat memicu keraguan di kalangan
pegawai tentang komitmen atasannya terhadap visi, misi, dan program kerjanya.

Akuntabilitas dapat juga berarti para pejabat publik, organisasi swasta dan yayasan nirlaba
mampu menjelaskan tindakan-tindakannya sesuai ketentuan; dan hal ini juga berarti ada
kesempatan untuk memperbaiki kekeliruan yang telah terlanjur terjadi dalam menjalankan
komitmen kerja yang telah digariskan. Dalam literatur profesional dikenal berbagai jenis
akuntabilitas yang alur pertanggungjawabannya bergerak ke sedikitnya empat arah: akuntabilitas
ke atas (upward accountability) yang bergerak dari pelaksana tugas ke atasannya; akuntabilitas
ke bawah (downward accountability) yang berlaku bagi para manajer dalam kewajibannya
melibatkan staf bawahannya dalam partisipasi pengambilan keputusan (participatory decision-
making); akuntabilitas ke dalam (inward accountability) yang berurusan dengan
pertanggungjawaban dengan hati-nurani dan prinsip-prinsip profesionalitas; dan akuntabilitas ke
luar (outward accountability) yang bertautan dengan menanggapi kepentingan pelanggan,
pemangku kepentingan dan kepada masyarakat luas (oleh karena itu, akuntabilitas jenis ini
disebut juga market dan political accountability). Tata nilai yang memandu sistem akuntabilitas
juga beraneka, termasuk tuntutan (1) kepatutan penggunaan kekuasaan/kewenangan; (2)
pengerahan sumberdaya perusahaan/organisasi harus diarahkan untuk pencapaian misi dan
prioritas perusahaan/organisasi; (3) pelaporan kinerja harus dilakukan secara terbuka karena
akuntabilits itu bersifat publik; (4) efektivitas dan efisiensi penggunaan sumberdaya harus
dijamin dengan cara membandingkannya dengan capaian kinerja yang dihasilkan; (5) jaminan
kualitas program dan layanan yang dihasilkan; dan (6) bersifat menguntungkan publik.

Akuntabilitas tidak dapat secara serta-merta terbentuk dalam suatu oraganisasi. Banyak yang
harus dipenuhi bila kita hendak mengembangkan sistem akuntabilitas dalam suatu oraganisasi,
termasuk lima persyaratan berikut. Pertama, semua staf yang ada dalam organisasi kita harus
mengetahui apa yang kita lakukan. Ini berarti kita harus terbuka dan menyempatkan diri
membicarakan visi dan misi yang kita gariskan dan sasaran-sasaran yang kita pancangkan secara
gamblang sehingga hal ini menjadi jelas bagi anggota pelaksana program dan staf pendukung
yang lain. Pembicaraan ini mungkin harus dilakukan berulang-kali di berbagai tempat dan dalam
berbagai kesempatan agar program ini terhayati dan terinternalisasi menjadi program pribadi
semua orang.
Persyaratan kedua, semua anggota organisasi harus percaya bahwa tujuan dan sasaran yang kita
tuju bersama itu masuk akal dan, oleh karena itu, semua yang terlibat dapat membayangkan
dirinya menjadi bagian dari sukses itu. Kesamaan visi, misi, dan sasaran kerja ini
mempersyaratkan pijakan keyakinan yang sama, yang dapat dibangun dengan keterbukaan di
antara para pimpinan dan anggota organisasi.

Persyaratan ketiga, semua anggota memerlukan patokan-patokan dan sasaran hasil kerja yang
terukur. Keterukuran sasaran hasil kerja ini lebih jauh akan dirasakan adil bagi para anggota
pelaksana tugas bila mereka ini dilibatkan dalam perumusan sasaran kinerja yang dimaksud.
Penting diingat di sini bahwa pembagian tugas dan penentuan besaran sasaran serta bagaimana
pelaksanaannya akan dipantau harus dibicarakan secara terbuka dan disepakati secara kolektif.
Hal penting ini tidak boleh ditentukan secara sepihak oleh pihak penentu kebijakan belaka.

Persyaratan ke-empat, semua pihak memerlukan umpan-balik (feedback) yang mengalir dua-
arah. Yakni, manajer memerlukan umpan-balik dari staf; anggota pelaksana tugas memerlukan
balikan dari atasannya. Hal ini berarti bahwa, dalam organisasi yang hirau-akuntabilitas, wajib
dijamin adanya keterbukaan informasi dan deskripsi tugas yang eksplisit. Yakni, siapa
ditugaskan apa dan berkoordinasi dengan siapa haruslah terlebih dahulu dipancangkan dan
dinyatakan secara formal dan terbuka sehingga jelas siapa bertanggungjawab melakukan apa dan
untuk siapa. Kejelasan ini penting karena staf pelaksana tidak mungkin berkinerja optimal bila
harus menduga-duga sasaran kerja yang harus dicapainya.

Persyaratan ke lima, semua pihak memerlukan evaluasi terhadap pelaksanaan tanggungjawab


yang diembannya dan kegiatan yang dilakukannya. Begitu tugas berhasil dilaksanakan dengan
baik, perayaan pantas dilakukan. Ketika tugas gagal diselesaikan dengan baik, kritik dan
keprihatinan dihadapi dan diselesaikan bersama. Kegiatan saling mengevaluasi pelaksanaan
tugas ini mempersyaratkan keterbukaan dan rasa saling-percaya karena hanya dalam iklim kerja
yang terang-benderang dan suasana relasi antarmanusia yang diikat nilai saling-memuliakan
inilah anggota suatu komunitas/organisasi dapat mengolah pengalamannya dengan optimal.
Dalam iklim kerja yang seperti ini tidak ada orang yang tertarik untuk menimpakan kesalahan
kepada orang lain.

Demikianlah, akuntabilitas dan transparansi saling memerlukan dan saling menguatkan.


Akuntabilitas dan transparansi memungkinkan para anggota suatu organisasi dapat
merundingkan hal-hal yang penting bagi mereka.Transparansi dan akuntabilitas bersinergi
melahirkan kesempatan bagi para anggota suatu organisasi untuk mempengaruhi proses
pengambilan keputusan. Dan, di pihak lain, transparansi dan akuntabilitas juga memudahkan
para pengambil keputusan untuk menjelaskan mengapa keputusan dibuat seperti yang
dilakukannya.

Pada prinsipnya, pejabat publik, para direktur dan manajer perusahaan dan jajaran pimpinan
suatu organisasi berkewajiban bertindak terbuka dan “terang-benderang” agar mudah baginya
untuk menegakkan partisipasi dan akuntabilitas di kalangan anggota staf perusahaan dan
organisasi yang dipimpinnya. Dengan demikian, transparansi merupakan sesuatu yang krusial
bagi akuntabilitas dan tingkat partisipasi anggota satuan kerja dan staf pendukung yang lain.
Akan tetapi, apakah transparansi itu sesungguhnya? Transparansi, seperti tersirat dalam paragraf
terdahulu, berkaitan dengan pemberian informasi secara terbuka. Namun, pemberian informasi
yang terbuka tidak otomatis dapat disebut transparansi bila tidak dimaksudkan untuk membuat
sesuatu menjadi “terang-benderang”. Sesungguhnya, transparansi menghendaki pemenuhan
berbagai persyaratan termasuk: (1) informasi yang digelar harus relevan dan mudah dipahami;
(2) pemberian informasi harus memperhitungkan waktu (agar penerima informasi dapat
menelaah dan mempertimbangkannya dengan baik sebelum mengambil suatu tindakan); dan (3)
informasi yang diberikan harus berkualitas tinggi: mutakhir, akurat dan lengkap.

Dengan demikian, di dalam suatu organisasi yang sehat, sistem akuntabilitas, aliran informasi ,
serta suasana kerja saling berkait-berkelindan sehingga ketiganya membentuk sinergi yang
saling mengukuhkan ke arah optimasi kinerja organisasi. Pegawai yang “dimomong” dalam
sistem akuntabilitas yang jelas, para pekerja yang bergiat dalam suasana relasi sosial yang
terbuka dan saling-percaya serta ditopang perilaku kepemimpinan yang transformasional akan
bertumbuhkembang menjadi anggota satuan kerja yang produktif lahir-batin.

Produktivitas lahir-batin adalah kondisi paripurna yang di dalamnya tercakup produktivitas hasil
kerja yang dapat diukur dengan parameter kuantitatif dan produktivitas ruhani yang dapat
memompa mekanisme memotivasi-diri karena dedikasi kerja yang dimuati semangat
pengembangan diri. Inilah hasil sinergi yang diharapkan terjadi dari tiga serangkai: akuntabilitas,
transparansi, dan produktivitas kinerja.

PENGUKURAN KINERJA SEKTOR


PUBLIK
Konsep dan Praktik Pengukuran Kinerja di Lingkungan Organisasi Sektor Publik

Akuntabilitas Kinerja

A. Akuntabilitas Kinerja

Dalam pengertian yang sempit akuntabilitas dapat dipahami sebagai bentuk pertanggungjawaban yang
mengacu pada keepada siapa organisasi (atau pekerja individu) bertanggungjawab dan untuk apa
organisasi (pekerja individu) bertanggung jawab?. Dalam pengertian luas, akuntabilitas dapat dipahami
sebagai kewajiban pihak pemegang amanah (agent) untuk memberikan pertanggungjawaban,
menyajikan, melaporkan, dan mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggung
jawabnya kepada pihak pemberi amanah (principal) yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta
pertanggungjawaban tersebut. Makna akuntabilitas ini merupakan konsep filosofis inti dalam
manajemen sektor publik. Dalam konteks organisasi pemerintah, sering ada istilah akuntabilitas publik
yang berarti pemberian informasi dan disclosure atas aktivitas dan kinerja finansial pemerintah kepada
pihak-pihak yang berkepentingan dengan laporan tersebut. Pemerintah, baik pusat maupun daerah,
harus bisa menjadi subyek pemberi informasi dalam rangka pemenuhan hak-hak publik.

Akuntabilitas berhubungan terutama dengan mekanisme supervisi, pelaporan, dan pertanggungjawaban


kepada otoritas yang lebih tinggi dalam sebuah rantai komando formal. Pada era desentralisasi dan
otonomi daerah, para manajer publik diharapkan bisa melakukan transformasi dari sebuah peran
ketaatan pasif menjadi seorang yang berpartisipasi aktif dalam penyusunan standar akuntabilitas yang
sesuai dengan keinginan dan harapan publik. Oleh karena itu, makna akuntabilitas menjadi lebih luas
dari sekedar sekedar proses formal dan saluran untuk pelaporan kepada otoritas yang lebih tinggi.
Akuntabilitas harus merujuk kepada sebuah spektrum yang luas dengan standar kinerja yang bertumpu
pada harapan publik sehingga dapat digunakan untuk menilai kinerja, responsivitas, dan juga moralitas
dari para pengemban amanah publik. Konsepsi akuntabilitas dalam arti luas ini menyadarkan kita bahwa
pejabat pemerintah tidak hanya bertanggungjawab kepada otoritas yang lebih tinggi dalam rantai
komando institusional, tetapi juga bertanggungjawab kepada masyarakat umum, lembaga swadaya
masyarakat, media massa, dan banyak stakeholders lain. Jadi, penerapan akuntabilitas ini, di samping
berhubungan dengan penggunaan kebijakan administratif yang sehat dan legal, juga harus bisa
meningkatkan kepercayaan masyarakat atas bentuk akuntabilitas formal yang ditetapkan.

Akuntabilitas publik terdiri atas dua macam, yaitu (1) akuntabilitas vertikal dan (2) akuntabilitas
horisontal. Akuntabilitas vertikal adalah pertanggungjawaban atas pengelolaan dana kepada otoritas
yang lebih tinggi, misalnya pertanggungjawaban unit-unit kerja (dinas) kepada pemerintah daerah,
pertanggungjawaban daerah kepada pemerintah pusat, dan pemerintah pusat kepada MPR.
Pertanggungjawaban horizontal adalah pertanggungjawaban kepada masyarakat luas.

B. Akuntabilitas dengan Responsibilitas

Istilah akuntabilitas dan responsibilitas (responsibility) sering didefinisikan sama yaitu


pertanggungjawaban. Dalam rangka memahami konsep akuntabilitas sangat dibutuhkan suatu analisis
yang jelas dan mendalam sehingga tidak tumpang tindih dengan pengertian responsibilitas. Konsep
akuntabilitas ini dijabarkan dengan sangat sederhana oleh berbagai referensi. Dalam literatur Australia,
konsep akuntabilitas ini sering dipahami dalam dua pengertian, (1) berkaitan dengan virtually
interchangeable (dapat dipertukarkan dengan sebenar-benarnya), dan (2) berkaitan dengan closely
related (terdapat saling keterkaitan yang bersifat tertutup). Sementara itu, responsibilitas mempunyai
sejumlah konotasi termasuk di dalamnya kebebasan untuk bertindak, kewajiban untuk memuji dan
menyalahkan, dan perilaku baik yang merupakan bagian dari tanggung jawab seseorang.

Jadi akuntabilitas dan resposibilitas saling berhubungan sebagai bagian dari sistem yang menyeluruh.
Dalam beberapa kajian disebutkan bahwa akuntabilitas lebih baik dan berbeda dengan resposibilitas.
Akuntabilitas didasarkan pada catatan/laporan tertulis sedangkan responsibilitas didasarkan atas
kebijaksanaan. Akuntabilitas merupakan sifat umum dari hubungan otoritasi asimetrik misalnya yang
diawasi dengan pengawasnya, agen dengan prinsipal, yang mewakili dengan yang diwakili, dan
sebagainya. Selain itu, kedua konsep tersebut sebetulnya juga mempunyai perbedaan fokus dan
cakupannya. Responsibility lebih bersifat internal sebagai pertanggungjawaban bawahan kepada atasan
yang telah memberikan tugas dan wewenang, yang biasanya terbatas pada bidang keuangan saja,
sedangkan akuntabilitas lebih bersifat eksternal sebagai tuntutan pertanggungjawaban dari masyarakat
terhadap apa saja yang telah dilakukan oleh para pejabat atau aparat. Ruang lingkup akuntabilitas tidak
hanya pada bidang keuangan saja, tetapi meliputi:

1. Fiscal Accountability

Akuntabilitas yang dituntut masyarakat berkaitan pemanfaatan hasil perolehan pajak dan retribusi.

2. Legal accountability

Akuntabilitas yang berkaitan dengan bagaimana undang-undang maupun peraturan dapat dilaksanakan
dengan baik oleh para pemegang amanah.

3. Program accountability

Akuntabilitas yang berkaitan dengan bagaimana pemerintah mencapai program-program yang telah
ditetapkan

4. Process accountability

Akuntabilitas yang berkaitan dengan bagaimana pemerintah mengolah dan memberdayakan sumber-
sumber potensi daerah secara ekonomi dan efisien.

5. Outcome accountability

Akuntabilitas yang berkaitan dengan bagaimana efektivitas hasil dapat bermanfaat memenuhi harapan
dan kebutuhan masyarakat

C. Akuntabilitas dan Stewardship

Istilah akuntabilitas juga sering dipersamakan dengan stewardship yaitu keduanya merupakan
pertanggungjawaban. Sebenarnya, akuntabilitas merupakan konsep yang lebih luas dari stewardship.
Stewardship mengacu pada pengelolaan atas suatu aktivitas secara ekonomis dan efisien tanpa dibebani
kewajiban untuk melaporkan, sedangkan akuntabilitas mengacu pada pertanggungjawaban oleh
seorang yang diberi amanah kepada pemberi tanggung jawab dengan kewajiban membuat pelaporan
dan pengungkapan secara jelas.
D. Dimensi Akuntabilitas

Terwujudnya akuntabilitas merupakan tujuan utama dari reformasi sektor publik. Tuntutan akuntabilitas
publik mengharuskan lembaga-lembaga sektor publik untuk lebih menekankan pada
pertanggungjawaban horizontal bukan hanya pertanggungjawaban vertical. Tuntutan yang kemudian
muncul adalah perlunya dibuat laporan keuangan eksternal yang dapat menggambarkan kinerja
lembaga sektor publik.

Akuntabilitas publik yang harus dilakukan oleh organisasi sektor publik terdiri atas beberapa dimensi.
Ellwood (1993) menjelaskan terdapat empat dimensi akuntabilitas yang harus dipenuhi oleh organisasi
sektor publik, yaitu:

1. Akutabilitas Kejujuran dan Akuntabilitas Hukum (Accountability for Probity and Legality)

Akuntabilitas kejujuran terkait dengan penghindaran penyalahgunaan jabatan (abuse of power),


sedangkan akuntabilitas hokum terkait dengan jaminan adanya kepatuhan terhadap hokum dan
peraturan lain yang disyaratkan dalam penggunaan sumber dana publik.

2. Akuntabilitas Proses

Akuntabilitas proses terkait dengan apakah prosedur yang digunakan dalam melaksanakan tugas sudah
cukup baik dalam hal kecukupan sistem informasi akuntansi, sistem informasi manajemen, dan prosedur
administrasi. Akuntabilitas proses termanifestasi melalui pemberian pelayanan publik yang cepat,
responsive, dan murah biaya.

Pengawasan dan pemeriksaan terhadap pelaksanaan akuntabilitas proses dapat dilakukan, misalnya
dengan memeriksa ada tidaknya mark up dan pungutan-pungutan lain di luar yang ditetapkan, serta
sumber-sumber inefisiensi dan pemborosan yang menyebabkan mahalnya biaya pelayanan publik dan
kelambanan dalam pelayanan. Pengawasan dan pemeriksaan akuntabilitas proses juga terkait dengan
pemeriksaan terhadap proses tender untuk melaksanakan proyek-proyek publik. Yang harus dicermati
dalam kontrak tender adalah apakah proses tender telah dilakukan secara fair melalui Compulsory
Competitive Tendering (CCT), ataukah dilakukan melalui korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

3. Akuntabilitas Program

Akuntabilitas program terkait dengan pertimbangan apakah tujuan yang ditetapkan dapat dicapai atau
tidak, dan apakah telah mempertimbangkan alternatif program yang memberikan hasil yang optimal
dengan biaya yang minimal.

4. Akuntabilitas Kebijakan

Akuntabilitas kebijakan terkait dengan pertanggungjawaban pemerintah, baik pusat maupun daerah,
atas kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah terhadap DPR/DPRD dan masyarakat luas.