Anda di halaman 1dari 6

TEORI AKUNTANSI

DAMPAK REAKSI PASAR TERHADAP PENERAPAN IFRS

Ditulis Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teori Akuntansi


Dosen Pengampu Puji Harto,Ph.D, Ak, CA

Disusun oleh:

Hilda Anggraeni 12030117420074

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI & BISNIS
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2018
LATAR BELAKANG

Pasar modal merupakan salah satu wahana yang dapat dimanfaatkan untuk memobilisasi
dana baik dari dalam maupun luar negeri. Kehadiran pasar modal memperbanyak pilihan sumber
dana sehingga pasar modal merupakan salah satu alternatif sumber pendanaan di luar sistem
perbankan yang dapat memberikan dana dengan cara relatif lebih mudah. Di sisi lain bagi pihak
yang memiliki dana, pasar modal dapat berguna untuk menginvestasikan dana dalam aktiva
finansial. Dengan adanya pasar modal sebagai pilihan investasi maka investor memiliki
kesempatan untuk mengoptimalkan dana yang dimilikinya.

Investasi di pasar modal mengandung unsur ketidakpastian atau risiko, karena pemodal
tidak tahu dengan pasti hasil yang akan diperoleh atas investasi yang dilakukannya. Investor hanya
memperkirakan besarnya keuntungan yang diharapkan dari investasinya dan seberapa jauh
kemungkinan hasil yang sebenarnya nanti akan menyimpang dari hasil yang diharapkan. Oleh
karena itu apabila investor mengharapkan untuk memperoleh tingkat keuntungan yang tinggi, ia
harus bersedia menanggung risiko yang tinggi pula (Husnan, 2008:47).

Selain harus mempertimbangkan risk dan return, investor juga harus mempertimbangkan
semua informasi yang dimilikinya dalam rangka memperoleh suatu keputusan invesatsi yang tepat
dan akurat. Semakin banyak pengetahuan dan informasi yang diperoleh, investor akan semakin
matang dan mendalam dalam membuat suatu keputusan investasi (Husnan, 2008:49). Dalam pasar
modal yang efisien, informasi baru yang masuk dengan cepat akan dicerminkan pada harga saham.
Dalam konteks pasar yang efisien, adanya informasi baru akan segera diantisipasi oleh pelaku
pasar dan sesaat akan menyebabkan adanya perubahan harga sekuritas, apakah kenaikan atau
penurunan, untuk selanjutnya harga akan kembali stabil.semakin cepat informasi baru tercermin
pada harga sekuritas, semakin efisien pasar modal tersebut. Implikasi dari konsep pasar efisien
adalah harga saham tidak dapat dengan mudah diprediksi. Harga cenderung mengalami perubahan
dengan tiba-tiba dan cepat. Dengan demikian jika pasarnya efisien, maka akan berlaku pernyataan
bahwa individual investor tidak akan mampu memperoleh tingkat keuntungan di atas normal
(abnormal return) secara konsisten dengan melakukan perdagangan di bursa efek

Saat ini sudah banyak Negara yang mengadaptasi IFRS sebagai pedoman dalam pelaporan
keuangan. Bahkan ada negara-negara yang telah mengadopsi penuh yaitu menerjemah IFRS
sebagai standar akuntansi di negaranya. Uni Eropa, Hongkong, Australia, Malaysia, dan Singapura
adalah beberapa Negara yang telah mengadopsi IFRS. Untuk dapat menarik investor asing,
Indonesia sebagai bagian dari dunia internasional, mau tidak mau harus mengikuti perubahan
tersebut. Dengan mengikuti IFRS, berarti laporan keuangan akuntansi Indonesia telah
menggunakan bahasa global sehingga mudah dipahami oleh pasar global. Perusahaan di Indonesia
akan lebih mudah dalam melakukan transaksi lintas negara termasuk merger dan akuisisi.

Indonesia melakukan harmonisasi dan konvergensi terhadap IFRS sebagai upaya


meminimalisir perbedaan antara SAK dan IFRS untuk diterapkan secara lebih luas. Demi
mencapai keseragaman dan memenuhi prinsip komparabilitas, IFRS tetap harus diadopsi untuk
memenuhi kebutuhan pasar global terutama menyangkut keputusan terhadap sekuritas. Apabila
informasi akuntansi mampu memenuhi harapan investor contohnya dalam mengungkapkan
penurunan resiko, maka investor akan memberikan reaksi positif terhadap naiknya harga saham.

Dalam paper akan dijelaskan dampak dari nilai informasi konvergensi IFRS terhadap
reaksi pasar yang ditunjukkan melalui pergerakan harga saham yang selanjutnya akan
mempengaruhi return saham dan abnormal return saham.

Lambertides dan Mazouz (2013) mengungkapkan bahwa dampak pengadopsian IFRS


terhadap pasar modal dipengaruhi oleh 3 efek, yaitu informational effect, distribution effect, dan
expertise acquisition effect. Informational effect memiliki arti bahwa kualitas informasi dari
laporan keuangan semakin meningkat setelah pengadopsian IFRS. Distribution effect memiliki
arti bahwa informasi akan semakin terdistribusi dengan baik untuk para pengguna laporan
keuangan setelah pengadopsian IFRS. Sedangkan expertise acquisition effect memiliki arti bahwa
keahlian para analis ataupun investor dalam melakukan forecasting akan semakin meningkat yang
ditandai oleh penurunan forecast error setelah IFRS diadopsi. Dalam kaitannya penerapan atau
konvergensi IFRS dapat memberikan dampak perubahan reaksi pasar yang ditunjukkan kepada
harga/return saham, efisiensi pasar, average abnormal return, cumulative abnormal
return,trading volume activity.
 Dampak penerapan IFRS pada efisiensi pasar
Peningkatan efisiensi pasar setelah konvergensi PSAK-IFRS ini tidak terlepas dari
information effect yang dimiliki oleh IFRS. Pada dasarnya, IFRS menuntut pengungkapan
informasi yang lebih mendetil dibandingkan PSAK. Pengungkapan yang lebih detil ini
dapat mengurangi informasi asimetris laporan keuangan, terutama investor (Diamond dan
Verrechia, 1991, Healy et. al., 1999; Sami dan Zhou, 2008). Setelah PSAK terkonvergensi
dengan IFRS, para investor akan memiliki akses informasi yang lebih baik dan dapat
menggunakan informasi publik tersebut untuk melakukan transaksi di pasar modal.
Akibatnya, harga saham akan semakin baik dalam merefleksikan informasi yang tersedia
bagi publik dan pasar modal di Indonesia menjadi lebih efisien dibandingkan sebelum
adanya konvergensi IFRS. Hal ini juga didukung dengan adanya penemuan bahwa IFRS
meningkatkan relevansi nilai informasi akuntansi (Barth et al., 2008 dan Nurafriana (2014).
Peninkatan revansi nilai ini mengindikasikan bahwa kemampuan informasi-informasi
akuntansi yang dibuat berdasarkan IFRS akan semakin mampu mendasari harga saham,
sehingga harga saham akan semakin merefleksikan informasi-informasi dari laporan
keuangan (Francis dan Shipper, 1999).
Peningkatan efisiensi pasar juga dipengaruhi oleh distribution effect dari IFRS, yaitu
bahwa informasi akan semakin terdistribusi untuk para investor dari berbagai kalangan
setelah IFRS diadopsi (Lambertides dan Mazouz, 2013). Hal ini dikarenakan sebagian
besar informasi privat akan diubah menjadi informasi publik setelah pengadopsian IFRS.
Informasi yang tadinya hanya bisa diakses secara privat oleh investor tertentu yang
memiliki akses kedalam perusahaan akan semakin terdistribusi untuk publik. Informasi-
informasi tersebut akan terefleksi dalam harga saham sebagai akibat tingkah laku pasar
dalam menggunakan informasi tersebut dan pasar pun akan cenderung lebih efisien setelah
adanya konvergensi PSAK-IFRS.

 Dampak penerapan IFRS pada return saham


Penerapan IFRS mempengaruhi adanya peningkatan return saham sesudah penerapan
IFRS. Berdasarkan hasil penelitian Gilang Putra Edwantiar (2016) yang menggunakan
sampel perusahaan telah menggunakan standar akuntasi PSAK yang mengadopsi IFRS
terhitung 1 Januari 2012, perusahaan telah listed di BEI lebih dari 5 tahun dan tidak dalam
proses akuisisi, menunjukkan secara empiris adanya peningkatan return saham sesudah
penerapan IFRS, di mana selama rata-rata return saham sebelum penerapan IFRS adalah
sebesar -0,00105, sedangkan rata-rata return saham sesudah penerapan IFRS adalah
sebesar 0,00455.
Hal ini mengindikasikan bahwa secara umum perusahaan mampu meningkatkan return
saham melalui peristiwa penerapan IFRS. Salah satu penyebabnya adalah penerapan IFRS
mempunyai kandungan informasi yang menguntungkan maka akan berpengaruh terhadap
saham yang terlihat dari perubahan return saham. Hal ini disebabkan karena penerapan
IFRS merupakan berita baik (good news) dan membuat harga saham menjadi lebih tinggi
yang akan mendorong investor melakukan transaksi. Besarnya pengaruh tersebut tercemin
dalam besarnya perubahan yang terjadi dalam return saham. Perubahan return saham
diukur dengan membandingkan harga saham yang diperdagangkan periode tertentu,
sebelum penerapan IFRS dibandingkan dengan harga saham sesudah penerapan IFRS.
 Dampak penerapan IFRS pada abnormal saham
Tidak terdapat perbedaan abnormal return saham sebelum dan sesudah perusahaan
menerapkan IFRS. Salah satu penyebab yang mungkin adalah bahwa penerapan IFRS
telah diketahui oleh hampir semua investor, dalam hal ini kondisi pasar yang efisien sangat
memungkinkan tidak ada satupun investor yang mendapatkan informasi yang lebih
daripada investor lainnya. Kondisi tersebut menyebabkan investor sulit mendapatkan
abnormal return saham sebagai akibat penerapan IFRS oleh perusahaan.
Informasi akuntansi menjadi kebutuhan yang mendasar bagi para investor dalam
pengambilan keputusan investasi. Informasi yang dipublikasikan akan mengakibatkan baik
reaksi harga maupun volume perdagangan
Pengumuman laporan keuangan yang akan mempengaruhi pengambilan keputusan
investor. Ada tidaknya pengaruh dapat dilihat dari perubahan harga dan abnormal return
saham di seputar tanggal pengumuman. Efisiensi pasar diuji dengan melihat return tidak
normal (abnormal return) yang terjadi. Pasar dikatakan tidak efisien jika satu atau beberapa
pelaku pasar dapat menikmati return yang tidak normal dalam jangka waktu yang cukup
lama. Abnormal return terjadi karena adanya kebocoran informasi. Abnormal return atau
excess return merupakan kelebihan.
 Trading volume activity
Madura (2005) mendefinisikan volume perdagangan (Trading Volume Activity)
digunakan untuk mengetahui perubahan volume perdagangan harian yang berhasil dicapai
oleh sebuah perusahaan. Setelah beberapa waktu konvergensi IFRS memberikan pengaruh
peningkatan dalam trading volume activity. Peningkatan volume perdagangan saham
disebabkan karena investor investor telah memiliki kepercayaan diri yang tinggi dalam
berinvestasi. Hal tersebut terjadi karena manfaat dari IFRS telah mulai terlihat, pasar yang
semakin efisien dan terus membaiknya kinerja keuangan perusahaan yang listed di pasar
sekunder mendorong mekanismen permintaan dan penawaran saham semakin tinggi, dan
tentu jika dibandingkan dengan sebelum IFRS dilaksanakan, volume perdagangan yang
terjadi sesudah IFRS jauh lebih tinggi (Suhardi, 2013).
 Nilai buku ekuitas dan earning per shares (EPS)
Dari penelitian yang dilakukan oleh Suprihatin dan Tresnaningsih (2013) menunjukkan
bahwa penerapan IFRS pada tahap lanjut, memperkuat relevansi nilai dari nilai buku
ekuitas dan nilai laba secara bersama-sama terhadap harga pasar saham. Hasil penelitian
ini serupa dengan hasil penelitian Iatridis dan Rouvolis (2010) di Inggris dan Chalmers et
al. (2011) di Australia. Kedua hasil penelitian ini menemukan bahwa pada tahap lanjut
penerapan PSAK, dimana telah banyak PSAK berbasis IFRS yang berlaku efektif,
dipandang oleh investor dapat lebih meningkatkan kualitas laporan keuangan sehingga
meningkatkan relevansi nilai dari nilai buku ekuitas dan laba dibandingkan dengan pada
tahap awal penerapan IFRS.