Anda di halaman 1dari 6

Nama TKHI/PKHI : WAHAB HASIBUANA MAMUN

NIP : 198010142010011010

Instansi : UPT PUSKESMAS SINGAPARNA

Daerah Asal : KABUPATEN TASIKMALAYA

No. Handphone : 081323260134

Alamat Email : w.h.buana@gmail.com

RESUME
PERMENKES NO 62 TAHUN 2016
TENTANG PENYELENGGARAAN KESEHATAN HAJI
Undang Undang Nomor 13 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji menyatakan bahwa
penyelenggaraan ibadah haji bertujuan untuk memberikan pembinaan, pelayanan dan perlindungan
yang sebaikbaiknya kepada jemaah haji agar jemaah haji dapat menunaikan ibadahnya sesuai
dengan ketentuan ajaran agama Islam. Pembinaan, pelayanan dan perlindungan yang diberikan
kepada jemaah haji, bukan hanya untuk yang bersifat umum, tetapi juga yang bersifat kesehatan.
Sehingga penyelenggaraan Kesehatan Haji merupakan kesatuan pembinaan, pelayanan dan
perlindungan kesehatan kepada jemaah haji sejak di Tanah Air dan selama di Arab Saudi

Penyelenggaraan Kesehatan Haji bertujuan Untuk :

1. Mencapai kondisi Istithaah Kesehatan Jemaah Haji


2. Mengendalikan Faktor risiko Kesehatan Haji
3. Menjaga agar jemaah Haji dlam kondisi sehat selama di Indonesia, selama perjalanan dan
Arab Saudi
4. Mencegah terjadinya transmisi penyakit menular yang mungkin terbawa keluar dan atau
masuk oleh Jemaah Haji; dan
5. Memaksimalkan peran serta masyarakat dalam Penyelenggaraan Kesehatan Haji

Penyelenggaraan Kesehatan Haji dilaksanakan dalam bentuk

1. Pembinaan Kesehatan Haji


2. Pelayanan Kesehatan Haji; dan
3. Perlindungan kesehatan Haji
Pembinaan Kesehatan Haji diselenggarakan secara terpadu,terencana, terstruktur dan terukur
melalui serangkaian kegiatan promotif dan preventif yag dimulai pada saat jemaah haji mendaftar
sampai kembali ke Indonesia.

Pembinaan Kesehatan Haji di Indonesia meliputi :


1. Pembinaan masa tunggu meliputi kegiatan penyuluhan, konseling, peningkatan kebugaran,
pemanfaatan upaya kesehatan berbasis masyarakat, pemanfaatan media massa,
penyebarluasan informasi dan kunjungan rumah
2. Pembinaan masa keberangkatan meliputi kegiatan penyuluhan, konseling, peningkatan
kebugaran, pemanfaatan upaya kesehatan berbasis masyarakat, pemanfaatan media massa,
penyebarluasan informasi, kunjungan rumah, aklimatisasi dan manasik kesehatan
3. Pembinaan masa kepulangan meliputi kegiatan penyuluhan, konseling, peningkatan
kebugaran, pemanfaatan upaya kesehatan berbasis masyarakat, pemanfaatan media massa,
penyebarluasan informasi dan kunjungan rumah. Pembinaan masa kepulangan dilaksanakan
14 (empat belas) hari sejak jemaah haji tiba di tanah air
Pelayanan Kesehatan Haji di Indonesia diselenggarakan di:
1. Puskesmas / Klinik
Pelayanan Kesehatan Haji di Puskesmas / Klinik dilaksanakan mengikuti sistem pelayanan
kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan
2. Rumah Sakit di Kabupaten/Kota
Pelayanan Kesehatan Haji di Rumah Sakit di Kabupaten/Kota dilaksanakan mengikuti sistem
pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan, dan dapat
berupa rumah sakit pemerintah atau swasta
3. Perjalanan
Pelayanan Kesehatan Haji di perjalanan dilaksanakan dalam bentuk Pertolongan pertama
dan rujukan, meliputi perjalan dari daerah asal ke asrama Haji dan sebaliknya, dan dari
asrama Haji ke bandara keberangkatan dan sebaliknya. Pelayanan Kesehatan Haji di
perjalanan dilaksanakan oleh pemerintah daerah di mana Jemaah Haji berasal dan dapat
berkordinasi dengan pemerinah daerah lainnya
4. Embarkasi/Debarkasi
Pelayanan kesehatan Haji di Embarkasi/Debarkasi meliputi
a. Pemeriksaan kesehatan
b. Pelayanan rawat jalan
c. Pelayanan Rawat darurat
d. Pemeriksaan Laboratorium dan penunjang
e. Pelayanan rujukan
f. Pelaksanaan kekarantinaan kesehatan dan
g. Penanganan jemaah haji wafat di pesawat
Pemeriksaan yang termasuk diatas dilaksanakan dalam rangka menetapkan status kesehatan
Jemaah Haji laik terbang atau tidak laik terbang dan penilaian kembali istithaah kesehatan
jemaah haji. Penilaian kembali istithaah Kesehatn Jemaah Haji dilakukan terhadap jemaah
Haji tertentu yang pada saat di embarkasi secara medis memiliki potensi tidak memenuhi
syarat istithaah kesehatan
5. Rumah Sakit Rujukan
Pelayanan Rujukan dilaksanakan dalam hal jemaah haji di embarkasi/ debarkasi perlu
dirujuk karena sakit atau untuk penegakan diagnostik, dilakukan oleh panitia PPIH
embarkasi/debarkasi bidang Kesehatan ke rumah sakit rujukan yang ditetapkan oleh
peraturan perundang undangan.
Pelayanan Kesehatan Haji di Rumah Sakit Rujukan meliputi:
a. Pelayanan Rawat Darurat
b. Pelayanan Rawat Jalan
c. Pelayanan Rawat Inap
d. Pelayanan tindakan Medik Operatif dan Non operatif
e. Pelayanan darah
f. Pelayanan mobil janazah
g. Pelayanan penunjang medik
h. Pelayanan Intensif; dan
i. Pelayanan rujukan atau evakuasi
Perlindungan Kesehatan Haji diselenggarakan selama di Indonesia dan di Arab Saudi. Perlindungan
Kesehatan Haji dilaksanakan dalam bentuk :
1. Perlindungan Spesifik
Merupakan upaya untuk mencegah terjadinya atau memberatnya keadaan pada penyakit
atau gangguan tertentu pada jemaah haji meliputi :
a. Vaksinasi
Terdiri dari :
a) Vaksinasi yang diwajibkan yaitu vaksinasi yang diwajibkan pemerintah dalam
rangka melindungi jemaah Haji dari penyakit tertentu yang dilaksanakan di
Puskesmas dan/atau Rumah Sakit yang ditunjuk oleh Dinas Kesehatan
setempat
b) Vaksinasi yang disarankan yaitu merupakan pilihan dari jemaah haji yang
dapat dilaksanakan di Puskesmas, Rumah Sakit,dan/atau klinik swasta
b. Penyediaan alat pelindung diri
2. Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan
Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan dilakukan dengan cara inspeksi kesehatan
lingkungan dan intervensi lingkungan.
Intervensi Kesehatan Lingkungan meliputi :
a. Komunikasi, informasi, dan edukasi
b. Perbaikan dan pembangunan sarana
c. Pengembangan teknologi tepat guna; dan
d. Rekayasa Lingkungan
3. Penyelenggaraan Gizi
Penyelenggaraan Gizi dilakukan melalui :
a. Pemberian Rekomendasi kepada Kementrian Agama tentang standar menu dan
gizi makanan bagi jemaah haji dan petugas selama di Embarkasi
b. Pengawasan mutu makanan katering jemaah haji di Embarkasi dan di Arab
saudi; dan
c. Pemberian makanan pada jemaah haji sakit
4. Visitasi Jemaah Haji sakit
Visitasi Jemaah Haji sakit diselenggarakan di Rumah Sakit Arab Saudi. Visitasi dilaksanakan
oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI),
dan/atau Tenaga Pendukung Kesehatan (TPK)
5. Penyelenggaraan sistem kewaspadaan dini dan penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/
Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang meresahkan dunia / KKMD
6. Penyelenggaraan sistem kewaspadaan dini dan penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/
Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang meresahkan dunia dilaksanakan selama di
Indonesia dan di Arab saudi dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang
undangan.
7. Penanggulangan krisis kesehatan
Di selenggarakan sebagai upaya perlindungan terhadap jemaah haji pada saat di Indonesia
dan di Arab Saudi
Surveilans pada Penyelenggaraan Kesehatan Haji dilakukan dengan cara pengumpulan, pengolahan
data, analisa, interpretasi da diseminisasi informasi terhadap kejadian penyakit atau masalah
kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi kesehatan haji. Surveilans digunakan sebagai bahan
evaluasi dan dasar kebijakan/tindakan perbaikan penyelenggaraan kesehatan haji

Untuk mencapai Pembinaan, Pelayanan dan Perlindungan Kesehatan Haji yang berkualitas perlu
dilakukan penguatan Manajemen Penyelenggaran Kesehatan Haji. Penguatan Manajemen
Penyelenggaran Kesehatan Haji dilaksanakan melalui :
1. Peningkatan Kapasitas sumber daya manusia
2. Pengembangan sistem informasi kesehatan; dan
3. Koordinasi dan pengelolaan teknis penunjang penyelenggaraan kesehatan haji di Arab Saudi
Dalam Penyelenggaraan Kesehatan Haji, pemerintah kabupaten/kota bertanggung jawab
melaksanakan :
1. Pembinaan, pelayanan dan perlindungan kesehatan haji di wilayahnya, termasuk dalam
perjalanan dari daerah asal ke embarkasi dan dari debarkasi ke daerah asalnya
2. Penyiapan dan peningkatan sarana dan prasarana kesehatan haji di wilayahnya
3. Peningkatan sumber daya manusia kesehatan haji diwilayahnya
4. Penyediaan perbekalan kesehatan dan transportasi kesehatan jemaah haji sakit
5. Pengamatan penyakit potensi wabah
6. Membuat laporan penyelenggaran kesehatan haji kepada dinas kesehatan provinsi
Dalam Penyelenggaraan Kesehatan Haji, pemerintah provinsi bertanggung jawab melaksanakan :
1. Pembinaan, pelayanan dan perlindungan keehatan haji di wilayahnya termasuk dalam
perjalanan dari daerah asal ke embarkasi dan dari debarkasi ke daerah asalnya
2. Mengkoordinir distribusi vaksin
3. Monitoring dan evaluasi penyelenggaraan kesehatan haji di wilayahnya
4. Proses rekrutmen tim kesehatan haji indonesia
5. Peningkatan sumber daya manusia kesehatan haji di wilayahnya
6. Melakukan monitoring evaluasi penyelenggaraan kesehatan haji di wilayahnya
7. Pengamatan penyakit potensi wabah
Dalam Penyelenggaraan Kesehatan Haji, mentri membentuk PPIH Arab Saudi Bidang Kesehatan yang
bertugas memberikan pembinaan, pelayanan dan perlindungan kesehatan kepada jemaah haji di
Arab saudi yang terdiri dari tenaga dokter spesialis, dokter, dokter gigi, tenaga farmasi, epidemiologi,
perawat, analis kesehatan, tenaga gizi, santrian, penyuluh kesehatan, entomolog, rekam medik,
radiografer, elektromedik, tenaga sisitem informasi kesehatan dan tenaga kesehatan lainnya. Untuk
memperkuat PPIH Arab Saudi bidang kesehatan dalam rangka penyelenggaran kesehatan haji di
Arab Saudi dibentuk tim asistensi. Tim Asistensi terdiri dari unsur pimpinan dilingkungan kementrian
kesehatan dan tenaga profesional.
Tim Asistensi bertugas memberikan masukan dalam rangka pembinaan, pelayanan dan perlindungan
kesehatan haji di Arab Saudi pada saat operasional serta memberikan informasi perbaikan
penyelenggaraan kesehatan haji pada tahun berikutnya.
Setiap kegiatan penyelenggaran Kesehatan haji dicatat dan dilaporkan secara berjenjang oleh
penyelenggara kesehatan haji. Kegiatan pencatatan dilakukan ke dalam Buku Kesehatan Jemaah Haji
(BKJH) dan terintegrasi dengan Siskohatkes dan disusun oleh Tim penyelenggara kesehatan haji
kabupaten/kota yang selanjutnya dilaporkan ke dinas kesehatan provinsi.
Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabpaten/kota, sesuai dengan
kewenangannya melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan kesehatan haji.
Pembinaan dan pengawasan diarah kan untuk :
1. Penguatan program penyelenggaraan kesehatan haji di kabupaten/kota, provinsi,
embarkasi/debarkasi dan di Arab Saudi
2. Peningkatan kualitas pembinaan, pelayanan dan perlindungan kesehatan jemaah haji
Pembiayaan Penyelenggar Kesehatan Haji bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara
(APBN), Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), dan sumber lain yang sah sesuai dengan
peraturan perundang undangan. Bagi jemaah haji yang bukan merupakan peserta JKN pembiayaan
pelayanan kesehatan haji dilakukan secara mandiri atau mengikuti mekanisme asuransi kesehatan
yang dimiliki.
Pada saat peraturan mentri ini mulai berlaku :
1. Keputusan mentri kesehatan nomor 442/menkes/SK/VI/2009 tentang pedoman
penyelenggaraan kesehatan haji
2. Peraturan mentri kesehatan nomor 2407 tahun 2011 tentang pelayanan kesehatan haji
sebagai mana telah diubah dengan peraturan mentri kesehatan nomor 42 tahun 2012
tentang perubahan atas peraturan mentri kesehatan nomor 2407 tahun 2011 tentang
pelayanan kesehatan haji...dicabut dan dinyatakan tidak berlaku
Diundangkan di jakarta tanggal 7 Desember 2016