Anda di halaman 1dari 13

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI “ M” DENGAN GANGGUAN SISTEM

HEMATOLOGI PADA KASUS MALARIA DI GILI NANGGU RSUD PROVINSI NTB


PADA TANGGAL 04 JUNI S/D 02 JUNI 2018
A. KONSEP DIRI
1. Defnisi penyakit
Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh plasmodium yang
menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual didalam
darah. (Sudoyo Aru, dkk 2009).
Penyakit malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan parasit dari kelompok
plasmodium yang berada didalam sel darah merah, atau sel hati yang ditularkan
oleh nyamuk anopheles. Sampai saat ini telah teridentifikasi sebanyak 80 spesies
anopheles dan 18 spesies diantaranya telat dikonfirmasi sebagai vektor malaria.
Penyakit malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh sporozoadari genus
plasmodium yang berada di dalam sel darah merah, atau sel hati. Sampai saat ini
dikenal cukup banyak spesies dari plasmodia yang terdapat pada burung, monyet,
kerbau, sapi, binatang melata. Malaria adalah penyakit yang bersifat akut maupun
kronik yang disebabkan oleh protozoa genus plasmodium yang ditandai dengan
demam, anemia dan splenomegali (Mansjoer, 2001, hal 406).
Malaria adalah penyakit infeksi dengan demam berkala yang disebabkan oleh
parasit plasmodium dan ditularkan oleh sejenis nyamuk anopeles (Tjay & Raharja,
2000).
2. Etiologi
Menurut Harijanto (2000) ada empat jenis plasmodium yang dapat menyebabkan
infeksi yaitu,
a. Plasmodium vivax, merupakan infeksi yang paling sering dan menyebabkan
malaria tertiana/ vivaks (demam pada tiap hari ke tiga).
b. Plasmodium falciparum, memberikan banyak komplikasi dan mempunyai
perlangsungan yang cukup ganas, mudah resisten dengan pengobatan dan
menyebabkan malaria tropika/ falsiparum (demam tiap 24-48 jam).
c. Plasmodium malariae, jarang ditemukan dan menyebabkan malaria
quartana/malariae (demam tiap hari empat).
d. Plasmodium ovale, dijumpai pada daerah Afrika dan Pasifik Barat, diIndonesia
dijumpai di Nusa Tenggara dan Irian, memberikan infeksi yang paling ringan
dan dapat sembuh spontan tanpa pengobatan, menyebabkan malaria ovale
Masa inkubasi malaria bervariasi tergantung pada daya tahan tubuh dan spesies
plasmodiumnya. Masa inkubasi Plasmodium vivax 14-17 hari, Plasmodium
ovale 11-16 hari, Plasmodium malariae 12-14 hari dan Plasmodium falciparum
10-12 hari (Mansjoer, 2001).
3. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala yang di temukan pada klien dngan malaria secara umum menurut
Mansjoer (2000) antara lain sebagai berikut :
a. Demam
Demam periodik yang berkaitan dengan saat pecahnya skizon matang (sporolasi).
Pada Malaria Tertiana (P.Vivax dan P. Ovale), pematangan skizon tiap 48 jam
maka periodisitas demamnya setiap hari ke-3, sedangkan Malaria Kuartana (P.
Malariae) pematangannya tiap 72 jam dan periodisitas demamnya tiap 4 hari.
Tiap serangan di tandai dengan beberapa serangan demam periodik.
Gejala umum (gejala klasik) yaitu terjadinya “Trias Malaria” (malaria proxysm)
secara berurutan :
1) Periode dingin.
Mulai menggigil, kulit kering dan dingin, penderita sering membungkus diri
dengan selimut atau sarung dan pada saat menggigil sering seluruh badan
bergetar dan gigi-gigi saling terantuk, pucat sampai sianosis seperti orang
kedinginan. Periode ini berlangsung 15 menit sampai 1 jam diikuti dengan
meningkatnya temperatur.
2) Periode panas
Muka merah, kulit panas dan kering, nadi cepat dan panas tetap tinggi sampai
40oC atau lebih, respirasi meningkat, nyeri kepala, nyeri retroorbital, muntah-
muntah, dapat terjadi syok (tekanan darah turun), kesadaran delirium sampai
terjadi kejang (anak). Periode ini lebih lama dari fase dingin, dapat sampai 2
jam atau lebih, diikuti dengan keadaan berkeringat
3) Periode berkeringat
Penderita berkeringat mulai dari temporal, diikuti seluruh tubuh, sampai basah,
temperatur turun, penderita merasa capai dan sering tertidur. Bila penderita
bangun akan merasa sehat dan dapat melakukan pekerjaan biasa.
b. Splenomegali
Splenomegali adalah pembesaran limpa yang merupakan gejala khas Malaria
Kronik. Limpa mengalami kongesti, menghitam dan menjadi keras karena
timbunan pigmen eritrosit parasit dan jaringan ikat bertambah (Corwin ,
2000). Pembesaran limpa terjadi pada beberapa infeksi ketika membesar
sekitar 3 kali lipat. Lien dapat teraba di bawah arkus costa kiri, lekukan pada
batas anterior. Pada batasan anteriornya merupakan gambaran pada palpasi
yang membedakan jika lien membesar lebih lanjut. Lien akan terdorong ke
bawah ke kanan, mendekat umbilicus dan fossa iliaca dekstra.
c. Anemia
Derajat anemia tergantung pada spesies penyebab, yang paling berat adalah
anemia karena Falcifarum. Anemia di sebabkan oleh penghancuran eritrosit
yang berlebihan Eritrosit normal tidak dapat hidup lama (reduced survival
time). Gangguan pembentukan eritrosit karena depresi eritropoesis dalam
sumsum tulang (Mansjoer).
d. Ikterus
Ikterus adalah diskolorasi kuning pada kulit dan skIera mata akibat kelebihan
bilirubin dalam darah. Bilirubin adalah produk penguraian sel darah merah.
Terdapat tiga jenis ikterus antara lain :
1) Ikterus hemolitik
Disebabkan oleh lisisnya (penguraian) sel darah merah yang berlebihan.
Ikterus ini dapat terjadi pada destruksi sel darah merah yang berlebihan dan
hati dapat mengkonjugasikan semua bilirubin yang di hasilkan
2) Ikterus hepatoseluler
Penurunan penyerapan dan konjugasi bilirubin oleh hati terjadi pada
disfungsi hepatosit dan di sebut dengan hepatoseluler.
3) Ikterus Obstruktif
Sumbatan terhadap aliran darah ke empedu keluar hati atau melalui duktus
biliaris di sebut dengan ikterus obstuktif (Corwin, 2000).

4. Patofisiologi
Daur hidup spesies malaria pada manusia yaitu:
a. Fase seksual
Fase ini terjadi di dalam tubuh manusia (Skizogoni), dan di dalam tubuh
nyamuk (Sporogoni). Setelah beberapa siklus, sebagian merozoit di dalam
eritrosit dapat berkembang menjadi bentuk- bentuk seksual jantan dan betina.
Gametosit ini tidak berkembang akan mati bila tidak di hisap oleh Anopeles
betina. Di dalam lambung nyamuk terjadi penggabungan dari gametosit jantan
dan betina menjadi zigote, yang kemudian mempenetrasi dinding lambung dan
berkembang menjadi Ookista. Dalam waktu 3 minggu, sporozoit kecil yang
memasuki kelenjar ludah nyamuk (Tjay & Rahardja, 2002, hal .162-163). Fase
eritrosit dimulai dan merozoid dalam darah menyerang eritrosit membentuk
tropozoid. Proses berlanjut menjadi trofozoit- skizonmerozoit. Setelah 2- 3
generasi merozoit dibentuk, sebagian merozoit berubah menjadi bentuk seksual.
Masa antara permulaan infeksi sampai ditemukannya parasit dalam darah tepi
adalah masa prapaten, sedangkan masa tunas/ incubasi intrinsik dimulai dari
masuknya sporozoit dalam badan hospes sampai timbulnya gejala klinis demam.
(Mansjoer, 2001, hal. 409).
b. Fase Aseksual
Terjadi di dalam hati, penularan terjadi bila nyamuk betina yang terinfeksi
parasit, menyengat manusia dan dengan ludahnya menyuntikkan “ sporozoit “
ke dalam peredaran darah yang untuk selanjutnya bermukim di sel-sel
parenchym hati (Pre-eritrositer). Parasit tumbuh dan mengalami pembelahan
(proses skizogoni dengan menghasilakn skizon) 6-9 hari kemudian skizon
masak dan melepaskan beribu-ribu merozoit. Fase di dalam hati ini di namakan
“ Pra -eritrositer primer.” Terjadi di dalam darah. Sel darah merah berada dalam
sirkulasi lebih kurang 120 hari. Sel darah mengandung hemoglobin yang dapat
mengangkut 20 ml O2 dalam 100 ml darah. Eritrosit diproduksi oleh hormon
eritropoitin di dalam ginjal dan hati. Sel darah di hancurkan di limpa yang mana
proses penghancuran yang di keluarkan diproses kembali untuk mensintesa sel
eritrosit yang baru dan pigmen bilirubin yang dikelurkan bersamaan dari usus
halus. Dari sebagian merozoit memasuki sel-sel darah merah dan berkembang di
sini menjadi trofozoit. Sebagian lainnya memasuki jaringan lain, antara lain
limpa atau terdiam di hati dan di sebut “ekso-eritrositer sekunder“. Dalam waktu
48 -72 jam, sel-sel darah merah pecah dan merozoit yang di lepaskan dapat
memasuki siklus di mulai kembali. Setiap saat sel darah merah pecah, penderita
merasa kedinginan dan demam, hal ini di sebabkan oleh merozoit dan protein
asing yang di pisahkan. Secara garis besar semua jenis Plasmodium memiliki
siklus hidup yang sama yaitu tetap sebagian di tubuh manusia (aseksual) dan
sebagian ditubuh nyamuk.
Pathway
5. Kalsifikasi
Sesuai dengan penyebab malaria di bedakan berdasarkan jenis plasmodiumnya.
(Arif Muttaqin, dkk, 2011)

JENIS MALARIA
Jenis Penyebab Klinis
Malaria Plasmodium Malaria tropika adalah jenis malaria
Tropika Falcifarum yang paling berat, di tandai dengan
panas yang iriguler, anemia,
splenomogali, parasitemia, dan sering
terjadi komplikasi. Masa inkubasi 9-14
hari. Malaria ini menyerang semua
bentuk eritrosit. Plasmodium
Falcifarum menyerang sel darah
merah seumur hidup. Infeksi
plasmodium falcifarum sering sekali
menyebabkan sel darah merah yang
mengandung parasit menghasilkan
banyak tonjolan untuk melekat pada
lapisan endotel dinding kapiler dengan
akibat obstruksi trombosis dan
iskemik lokal. Infeksi ini sering kali
lebih berat dan infeksi lainnya dengan
angka komplikasi tinggi (Murphy,
1996)
Malaria Plasmodium Plasmodium malariae mempunyai
Kwartana malariae tropozoit yang serupa dengan
plasmodium vivak, lebih kecil dan
sitoplasmanya lebih kompak/lebih
biru.tropozoit matur mempunyai
granula coklat tua sampia hitam dan
terkadang mengumpul sampai
terbentuk pita. Skizon plasmodium
malariae mempunyai 8-10 merozoit
yang tersusun seperti kelopak
bunga/rosate. Bentuk gametosit sangat
mirip dengan plasmodium vivax tetapi
lebih kecil. (Cunha, 2008)
Ciri-ciri demam tiga hari sekali setelah
puncak 48 jam. Gejala lain adalah
nyeri pada kepala dan punggung,
mual, pembesaran limpa, dan melaise
umum. Komplikasi jarang terjadi,
namun dapat terjadi seperti sindrome
nefrotik dan komplikasi terhadap
ginjal lainnya. Pada pemeriksaan akan
di temukan edema, asites, proteinuria,
hipoproteinemia, tanpa uremia dan
hipertensi (Dorsey, 2000)
Malaria Plasmodium Malaria tersiana (plasmodium Ovale)
Ovale Ovale bentuknya mirip plasmodium
malariae, skizonnya hanya mempunyai
8 merozoid dengan masa pigmen
hitam di tengah. Karakteristik yang
dapat di pakai untuk identifikasi
adalah bentuk eritrosit yang terinfeksi
plasmodium ovale dimana biasanya
oval atau ireguler dan fibriated.
Malaria ovale merupakan bentuk yang
paling ringan dari semua bentuk
malaria yang di sebabkan oleh
plasmodium ovale. Masa inkubasi 11-
16 hari, walaupun priode laten sampai
4 tahun. Serangan proksismal 3-4 hari
dan jarang terjadi lebih dari 10 kali
walaupun tanpa terapi dan terjadi pada
amalam hari ( Busch, 2003)
Malaria Plasmodium Malaria tersiana (plasmodium vivax)
Tersiana Vivax biasanya menginfeksi eritrosit muda
yang diameternya lebih besar dari
eritrosit noramal, bentuknya mirip
dengan plasmodium falcifarum,
namun seiring dengan maturasi,
tropozoid vivax berubah menjadi
amoeboid. Terjadi atas 12-24
merozoid ovale dan pigment kuning
tengguli. Gametosit berbentuk aval
hampir memenuhi seluruh eritrosit,
kromatinin eksternis, pigmen kuning.
Gejala malaria jenis ini secara periodik
48 jam dengan gejala klasik trias
malaria dan mengakibatkan demam
berkala 4 hari sekali dengan puncak
demam 72 jam (karmona, 2009).

6. Pemeriksaan diagnostik
1) Pemeriksaan mikroskopis malar
Diagnosis malaria sebagai mana penyakit pada umumnya didasarkan pada
manifestasi klinis (termasuk anamnesis), uji imunoserologis dan ditemukannya
parasit (plasmodium) di dalam penderita.Uji imunoserologis yang dirancang
dengan bermacam-macam target dianjurkan sebagai pelengkap pemeriksaan
mikroskopis dalam menunjang diagnosis malaria atau ditujukan untuk survey
epidemiologi di mana pemeriksaan mikrokopis tidak dapat dilakukan.
Diagnosis definitif demam malaria ditegakan dengan ditemukanya parasit
plasmodium dalam darah penderita. Pemeriksaan mikrokropis satu kali yang
memberi hasil negatif tidak menyingkirkan diagnosis deman malaria. Untuk
itu diperlukan pemeriksaan serial dengan interval antara pemeriksaan satu hari.
Pemeriksaan mikroskropis membutuhkan syarat-syarat tertentu agar
mempunyai nilai diagnostik yang tinggi (sensitivitas dan spesifisitas mencapai
100%).
a. Waktu pengambilan sampel harus tepat yaitu pada akhir periode
demam memasuki periode berkeringat. Pada periode ini jumlah trophozoite
dalam sirkulasi dalam mencapai maksimal dan cukup matur sehingga
memudahkan identifikasi spesies parasit.
b. Volume yang diambil sebagai sampel cukup, yaitu darah kapiler (finger
prick) dengan volume 3,0-4,0 mikro liter untuk sediaan tebal dan 1,0-1,5
mikro liter untuk sedian tipis.
c. Kualitas perparat harus baik untuk menjamin identifikasi spesies
plasmodium yang tepat.
d. Identifikasi spesies plasmodium
e. Identifikasi morfologi sangat penting untuk menentukan spesies
plasmodium dan selanjutnya digunakan sebagai dasar pemilihan obat.
2) QBC (Semi Quantitative Buffy Coat)
Prinsip dasar: tes floresensi yaitu adanya protein pada plasmodium yang dapat
mengikat acridine orange akan mengidentifikasi eritrosit terinfeksi
plasmodium. QBC merupakan teknik pemeriksaan dengan menggunakan
tabung kapiler dengan diameter tertentu yang dilapisi acridine orange tetapi
cara ini tidak dapat membedakan spesies plasmodium dan kurang tepat sebagai
instrumen hitung parasit.
3) Pemeriksaan imunoserologis
Pemeriksaan imunoserologis didesain baik untuk mendeteksi antibodi spesifik
terhadap paraasit plasmodium maupun antigen spesifik plasmodium atau
eritrosit yang terinfeksi plasmodium teknik ini terus dikembangkan terutama
menggunakan teknik radioimmunoassay dan enzim immunoassay.
4) Pemeriksan Biomolekuler
Pemeriksaan biomolekuler digunakan untuk mendeteksi DNA spesifik parasit/
plasmodium dalam darah penderita malaria.tes ini menggunakan DNA lengkap
yaitu dengan melisiskan eritrosit penderita malaria untuk mendapatkan ekstrak
DNA

7. Penatalaksanaan medis
Penatalaksanaan khusus pada kasus- kasus malaria dapat diberikan tergantung dari
jenis plasmodium, menurut Tjay & Rahardja (2002) antara lain sebagai berikut:
a. Malaria Tersiana/ Kuartana
Biasanya di tanggulangi dengan kloroquin namun jika resisten perlu di
tambahkan mefloquin single dose 500 mg p.c (atau kinin 3 dd 600 mg selama 4-
7 hari). Terapi ini disusul dengan pemberian primaquin 15 mg /hari selama 14
hari)
b. Malaria Ovale
Berikan kinin dan doksisklin (hari pertama 200 mg, lalu 1 dd 100 mg selama 6
hari). Atau mefloquin (2 dosis dari masing-masing 15 dan 10 mg/ kg dengan
interval 4-6 jam). Pirimethamin-sulfadoksin (dosis tunggal dari 3 tablet ) yang
biasanya di kombinasikan dengan kinin (3 dd 600 mg selama 3 hari).
c. Malaria Falcifarum
Kombinasi sulfadoksin 1000 mg dan pirimetamin 25 mg per tablet dalam dosis
tunggal sebanyak 2-3 tablet. Kina 3 x 650 mg selama 7 hari. Antibiotik seperti
tetrasiklin 4 x 250 mg/ hari selama 7-10 hari dan aminosiklin 2 x 100 mg/ hari
selama 7 hari

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a) Anamnesa
Keluhan utama pada pasien malaria bervariasi sesuai dengan siklus yang terjadi di
dalam tubuh pasien. Pada pengkajian, perawat mungkin mendapatkan keluhan utama demam.
Serangan klasik demam tiba-tiba dimulai dengan periode menggigil yang berlangsung selama
sekitar 1-2 jam dan diikuti dengan demam tinggi. Setelah itu akan terjadi penurunan suhu
tubuh secara berlebihan disertai diaforesis dan suhu tubuh pasien turun menjadi normal atau
di bawah normal. Menurut Dorsey (2000) terdapat trias klasik malaria yang terbagi dalam 3
periode. (Arif Muttaqin, dkk, 2011)
Trias Klasik Malaria (Malaria Proxysm)
Fase Klinis
Fase dingin Pada fase ini pasien terlihat menggigil dan
kedinginan, pasien sering membungkus diri
dengan selimut dan pada saat menggigil disertai
badan bergetar, pucat sampai sianosis. Fase ini
berlangsung 15 menit sampai 1 jam diikuti
dengan meningkatnya temperatur
Fase hipertermi Perubahan integumen dengan muka menjadi
merah, kulit ppanas dan kering. Perubahan TTV
dengan nadi cepat dan panas tetap tinggi sampai
400C atau lebih, respirasi meningkat. Perubahan
sistemik dengan adanya nyeri kepala, mual-
muntah, gejala syok (takanan darah menurun),
penurunan tingkat kesadaran menjadi delirium
dan kejang. Fase ini lebih lama dari fase dingin,
dapat sampai 2 jamatau lebih, di ikuti dengan
keadaan berkeringat.
Fase diaforesis Pasien berkeringat mulai dari kening, di ikuti
seluruh tubuh, sampai basah sampai seluruh
tubuh, temperatur turun, pasien kemudian
keletihan dan kemudian tertidur. Bila pasien
bangun akan merasa sehat dan dapat melakukan
aktivitas rutin seperti biasa.
(Dimodifikasi dari Dorsey G, Gandhi M, Oyugi JH, Rosenthai PJ., 2000)

Keluhan klinis sistemik secara umum yang mengikuti, meliputi batuk, cepat letih,
malaise, nyeri otot (mialgia), nyeri sendi (artralgia), dan peningkatan produksi keringat
(setiap 48 atau 72 jam, tergantung pada spesies). Keluhan sistemik lainnya bisa didapatkan
adanya anoreksia dan letargi, mual dan muntah, sakit kepala, serta ikterus mungkin
didapatkan pada beberapa kasus.
Pada riwayat kesehatan, pengkajian awal yang penting bagi perawat untuk ditanyakan
adalah apakah pasien pernah pergi atau diam di tempat endemik malaria. Kebanyakan pasien
tinggal di atau baru saja bepergian ke daerah endemik, namun beberapa kasus dilaporkan
setiap tahun di mana pasien tidak memiliki riwayat perjalanan tersebut (misalnya kendaraan
daran atau air yang pernah singgah atau melewati daerah endemik).
Pengkajian lainnya adalah untuk menentukan status kekebalan pasien, seperti umur,
alergi, kondisi-kondisi medis lainnya, obat lain, dan status kehamilan.
Pengkajian psikososial terutama ditujukan dalam penurunan kecemasan dan
pemenuhan informasi.
b) Pemeriksaan Fisik
Secara umum pasien terlihat sangat sakit, terdapat perubahan status kesadaran yang
semakin menurun sesuai dengan tingkat keaktifan kuman dalam tubuh. TTV biasanya
mengalami perubahan seperti takikardia, hipertermi, peningkatan frekuensi napas, dan
penurunan tekanan darah.
Bl : Fungsi pernapasan biasanya tidak ada masalah, tetapi pada malaria falcifarum
dengan komplikasi akan didapatkan adanya perubahan takipnu dengan penurunan
kedalaman pernapasan, serta napas pendek pada istirahat dan aktivitas.
B2 : Pada fase demam akan didapatkan takikardia, tekanan darah menurun, kulit hangat, dan
diuresis (diaforesis) karena vasodilatasi. Pucat dan lembap berhubungan dengan adanya
anemia, hipovolemia, dan penurunan aliran darah. Pada pasien malaria dengan komplikasi
berat sering didapatkan adanya tanda-tanda syok hipovolemik dan tanda DIC.
B3 : Sistem neuromotorik biasanya tidak ada masalah. Pada beberapa kasus pasien
terkihat gelisah dan ketakutan. Pada kondisi yang lebih berat akan didapatkan adanya
perubahan tingkat kesadaran dengan manifestasi disorientasi, delirium, bahkan
koma. Padabeberapa kasus pasien dengan adanya perubahan elektrolit sering didapatkan
adanya kejang.
B4 : Sistem perkemihan biasanya tidak masalah, tetapi pada saat fase demam didapatkan adanya
penurunan produksi urine, sedangkan pada fase lanjut didapatka adanya poliuri sekunder dari
perubahan glukosa darah.
B5 : Pada inspeksi didapatkan gangguan pencernaan, seperti mual dan muntah, diare
atau konstipasi. Pada auskultasi didapatkan penurunan bising usus. Pada perkusi
didapatkan adanya timfani abdomen. Pada palpasi abdomen sangat sering didapatkan acaura
splenomegali.
B6 : Pada pengkajian integumen didapatkan adanya tanda-tanda anemia dan
ikterus. Pada pemeriksaan muskuloskeletal didapatkan adanya keletihan dan kelemahan
fisik umum, malaise, dan penurunan kekuatan otot.
. Aktivitas/ istirahat
Gejala : Keletihan, kelemahan, malaise umum
Tanda : Takikardi, Kelemahan otot dan penurunan kekuatan.
b. Sirkulasi

Tanda : Tekanan darah normal atau sedikit menurun. Denyut perifer kuat dan cepat (fase
demam) Kulit hangat, diuresis (diaphoresis ) karena vasodilatasi. Pucat dan lembab (vaso
kontriksi), hipovolemia,penurunan aliran darah.

c. Eliminasi

Gejela : Diare atau konstipasi; penurunan haluaran urine


Tanda : Distensi abdomen
d. Makanan dan cairan
Gejala : Anoreksia mual dan muntah
Tanda : Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan, dan Penurunan masa otot.
Penurunan haluaran urine, kosentrasi urine.
e. Neuro sensori
Gejala : Sakit kepala, pusing dan pingsan
Tanda : Gelisah, ketakutan, kacau mental, disorientas deliriu atau koma
f. Pernapasan.
Tanda : Tackipnea dengan penurunan kedalaman pernapasan
Gejala : Napas pendek pada istirahat dan aktivitas
g. Penyuluhan/ pembelajaran
Gejala : Masalah kesehatan kronis, misalnya hati, ginjal, keracunan alkohol, riwayat
splenektomi, baru saja menjalani operasi/ prosedur invasif, luka traumatik.
Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan pada pasien dengan malaria berdasarkan dari tanda dan gejala
yang timbul dapat diuraikan seperti dibawah ini (Doengoes, Moorhouse dan Geissler, 2000)
a. Hipertermia b/d peningkatan metabolisme, dehidrasi, efek langsung sirkulasi kuman
pada hipotalamus.
b. Perubahan perfusi jaringan b/d anemia, penurunan komponen seluler yang diperlukan
untuk pengiriman oksigen dan nutrien dalam tubuh.
c. Aktual/resiko tinggi gangguan elektrolit (hiponatremi, hipokalemi) b/d diuresis
osmotik, diaforesis
d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake makanan yang tidak
adekuat, anoreksia, mual/muntah.
e. Resiko tinggi infeksi b/d penurunan sistem kekebalan tubuh
f. Nyeri dan ketidaknyamanan b/d resfon inflamasi sistemik, mialgia, artralgia,
diaforesis.
g. Kecemasan b/d kondisi sakit, prognosis penyakit malaria falciparum
h. Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d
kurangnya pemajanan, kesalahan interprestasi informasi, keterbatasan kognitif.