Anda di halaman 1dari 7

USULAN TEKNIS PELAKSANAAN PEKERJAAN

PENGUKURAN GEOLISTRIK

Paket Pekerjaan : Pembangunan Sumur Produksi Pabrik Rembang


Lokasi : PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk

Survei geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang digunakan untuk
menduga kondisi geologi bawah permukaan (penyebaran lapisan akuifer secara lateral
dan vertikal), meliputi macam dan sifat batuan berdasarkan sifat-sifat kelistrikan batuan.
Data sifat kelistrikan batuan berupa besaran hambatan jenis (tahanan jenis/resistivity)
akan dikelompokkan dan ditafsirkan dengan mempertimbangkan kondisi geologi.
Besaran inilah yang menjadi target utama dalam survei geolistrik, disamping sifat
polaritas, sifat metal maupun bentuk geometri medium bawah permukaan. Pengukuran
besaran tahanan jenis batuan bawah permukaan dengan menggunakan metode
Schlumberger Vertical Electrical Sounding (VES).
Metode ini bertujuan untuk mengetahui variasi susunan lapisan batuan bawah
tanah secara vertikal dengan memberikan arus listrik ke dalam tanah dan mencatat
perbedaan potensial terukur. Pengolahan data sounding ini dilakukan dengan
menggunakan program inversi. Program inversi dalam pengoperasiannya tidak harus
memasukkan model awal berupa banyaknya lapisan, ketebalan dan resistivitasnya.
Penghalusan data dilakukan secara otomatis, tetapi untuk mendapatkan akurasi yang lebih
tinggi dibutuhkan pencocokan antara kurva lapangan dengan kurva model secara manual,
lalu melakukan inversi dengan menggunakan perangkat lunak.

I. Perambatan Arus di Dalam Tanah


Di dalam medium tanah atau batuan, arus listrik (pergerakan partikel-partikel
bermuatan) menjalar melalui tiga macam konduksi, yaitu konduksi ohmik, elektrolitik
dan dielektrik. Konduksi ohmik adalah jenis konduksi dimana muatan listrik menjalar
melalui struktur-struktur kristalin ataupun logam dengan nilai hambatan cukup kecil.
Konduksi elektrolitik adalah jenis konduksi dimana muatan menjalar melalui air tanah
yang sering terdapat pada lubang tanah yang permeabel, pada sedimen lepas maupun
batuan berpori. Konduksi dielektrik, dimana dengan adanya medan listrik bolak-balik
akan menyebabkan ion-ion dalam medium bergerak melingkar menimbulkan medan
magnet sekunder dan memunculkan medan elektrik sekunder. Kondisi ini dapat terjadi
pada batuan yang mengandung elektron-elektron bebas.
Dalam penjalarannya di dalam tanah, aliran-aliran elektron tersebut mengalami
berbagai hambatan. Di dalam geolistrik, hambatan tersebut dikenal sebagai hambatan
jenis (tahanan jenis/resistivity) yang merupakan tahanan sebagai fungsi jarak bersatuan
Ohm-jarak. Satuan tersebut muncul dikarenakan penerapan fungsi ruang dalam penataan
posisi-posisi elektroda di dalam pengukurannya. Besaran inilah yang menjadi target
utama dalam survei geolistrik, disamping sifat polaritasnya, sifat metalnya maupun
bentuk geometri medium bawah permukaan. Pada medium bumi, nilai tahanan jenis
sangat bergantung dari kombinasi efek ohmik dan dielektrik yang bersesuaian dengan
jenis batuannya, sifat elektrolitiknya dan kandungan air dalam pori-porinya. Tahanan
jenis batuan di bawah permukaan dapat berbeda meskipun pada batuan berjenis sama dan
dalam formasi yang sama.

II. Hukum Ohm dan Resistivitas


Apabila ditinjau sebuah rangkaian sederhana yang terdiri dari sumber arus yang
terhubung seri dengan sebuah tahanan, maka arus yang mengalir dalam kawat loop akan
terhambat oleh keberadaan hambatan tadi. Pada ujung-ujung hambatan dapat diukur beda
potensialnya. Beda potensial ini besarnya dirumuskan oleh George Simon Ohm pada
Persamaan 2.3 berikut:
v = i .r (2.3)
dengan v adalah beda potensial terukur (volt), i adalah besarnya arus yang dilewatkan
(ampere) dan r besarnya tahanan (ohm) hambatan yang dipasang.
Apabila hambatan tersebut berbentuk balok dengan luas penampang A, panjang L
dan hambatannya r, maka dikenal parameter baru yang disebut sebagai tahanan jenis
(resistivitas) pada Persamaan 2.4 berikut:

rA
R (2.4)
L
Apabila ditinjau bahwa media yang dipakai adalah medium homogen setengah
koordinat, garis-garis arus akan menjalar radial dan membentuk setengah bola. Apabila
jarak titik pengukuran adalah d (Gambar 2.2), maka dapat dibuat Persamaan 2.5 sebagai
berikut:
Rd R 1
r   
2d 2
2  d 
(2.5)
sehingga beda potensialnya akan memberikan Persamaan 2.6 berikut:
iR  1 
v  ir     v0  v d
2  d 
(2.6)
yang menunjukkan beda potensial di titik 0 dan potensial pada jarak d. Pada kasus 2 titik
arus sebagai source dan sink (Gambar 2.3) dengan menganggap titik 0 adalah sama, maka
akan diperoleh Persamaan 2.7 berikut:

iR  1 1 
v   
2  d1 d 2 
(2.7)

dengan d1 dan d2 adalah jarak dari titik amat ke kedua elektroda arus.

Gambar 2.2 Penjalaran arus dalam medium half-space dengan 2 elektroda arus

III. Pengukuran Resistivitas


Pengukuran dalam geolistrik menggunakan dua elektroda arus yang berfungsi
untuk menginjeksikan arus ke dalam tanah dan dua elektroda lainnya untuk mengukur
beda potensial di permukaan (Gambar 2.3). Biasanya, tapi tidak selalu, pemasangan
elektroda tersebut berada dalam satu garis (in-line).
Gambar 2.3 Pengukuran beda potensial dengan dua elektroda arus (A dan B) dan dua elektroda
potensial (M dan N)

Berdasarkan Persamaan 2.7 dan notasi disesuaikan untuk Gambar 2.3, maka akan
terpenuhi Persamaan 2.8 berikut:
1
iR 1 
vM    
2
 d1 d 2 
(2.8)
iR  1 1 
vN    
2  d 3 d 4 

dengan penggabungan kedua Persamaan 2.8 tersebut, beda potensial terukur pada kedua
titik MN dihitung dengan Persamaan 2.9 berikut:

iR  1 1 1 1 
v MN  vM  v N       (2.9)
2  d1 d 2 d 3 d 4 
Persamaan 2.5 menunjukkan harga beda potensial dari sebuah media dengan
harga resistivitas yang seragam di seluruh medium, atau dengan kata lain mediumnya
homogen. Sedangkan pada medium tanah atau batuan, harga resistivitas di setiap titik
berbeda dan bidang ekuipotensial yang terbentuk dapat tidak beraturan. Dalam
pengukuran di lapangan dikenal istilah resistivitas semu yaitu rata-rata berbobot
resistivitas yang berbeda-beda. Harga resistivitas semu dapat dihitung dengan Persamaan
2.10 berikut:
1
V 1 1 1 1 
Ra  2 MN      (2.10)
i  d1 d 2 d 3 d 4 
Persamaan 2.6 dipersingkat menjadi Persamaan 2.11 berikut:
vMN
Ra  G (2.11)
i
dengan G yang dikenal sebagai faktor geometri yang harganya bergantung dari susunan
(konfigurasi) elektroda yang digunakan.
IV. Prosedur Survei Geolistrik
Menurut Kirsch (2006), perbedaan prosedur pengukuran tahanan jenis umumnya
dilakukan karena perbedaan geometri objek geologi. Dalam beberapa kasus, pengukuran
harus dilakukan pada lapisan horizontal (misalnya batuan sedimen), bentukan geologi
memanjang, bentukan struktur geologi dua dimensi (misalnya dike, zona patahan) atau
bentukan struktur yang acak (misalnya formasi geologi berbentuk lensa dan gua karst).
Beberapa metode pengukuran tahanan jenis untuk menyiasati variasi perbedaan bentuk
objek geologi, yaitu pengukuran 1-D (Vertical Electrical Sounding), 2-D (Horizontal
Profiling) dan 3-D (Pemetaan tahanan jenis formasi, HES, tomografi tahanan jenis).
Penjelasan metode pengukuran tahanan jenis 1-D dan 2-D yang digunakan dalam
penelitian ini, yaitu:

- Metode tahanan jenis 1-D


Teknik ini disebut juga dengan metode sounding atau VES (Vertical
Electrical Sounding), biasanya digunakan untuk menentukan perubahan atau
distribusi tahahan jenis ke arah vertikal medium bawah permukaan, di bawah suatu
titik sounding. Menurut Kirsch (2009), VES lebih baik digunakan untuk daerah
dengan lapisan batuan atau endapan yang horizontal. Target geologi yang baik untuk
metode ini adalah batuan sedimen yang beraneka ragam, lapisan akuifer yang
memiliki sifat fisik berbeda, batuan sedimen yang menindih batuan beku dan zona
pelapukan dari batuan beku. Metode VES menghasilkan ketebalan dan nilai tahanan
jenis lapisan batuan atau endapan.
Pengukurannya dengan memasang elektroda arus dan potensial yang
diletakkan dalam satu garis lurus dengan jarak antar elektroda tertentu dan
selanjutnya spasi elektroda ini diperbesar secara gradual. Selanjutnya, dilakukan plot
harga tahanan jenis semu hasil pengukuran versus spasi elektroda pada grafik log-
log. Survei ini berguna untuk menentukan letak dan posisi kedalaman benda anomali
di bawah permukaan (Virgo, 2003). Konfigurasi elektroda yang digunakan adalah
konfigurasi Wenner, Wenner-Schlumbeger dan Dipole-Dipole.
- Metode tahanan jenis 2-D
Metode ini disebut juga metode profiling atau Horizontal Profiling yang
digunakan untuk menentukan distribusi tahanan jenis semu secara horizontal per
kedalaman. Secara teknis pengukuran tahanan jenis 2-D merupakan gabungan antara
pengukuran sounding dan profiling. Metode ini dilakukan untuk menginvestigasi
objek geologi kompleks dengan perubahan tahanan jenis secara horizontal.
Kombinasi pengukuran ini menghasilkan informasi tahanan jenis ke arah vertikal
dan horizontal secara bersamaan dengan asumsi variasi tahanan jenis pada bumi
hanya terjadi sepanjang lajur pengukuran, tanpa menganggap perbedaan tahanan
jenis yang tegak lurus profile.
Kelebihan dari prosedur akuisisi dua dimensi adalah resolusi vertikal dan
horizontal yang sangat tepat sepanjang profile, biaya operasional yang relatif murah
karena akuisisi data menggunakan komputer dan tenaga kerja yang dibutuhkan
sedikit. Pengukuran profiling dua dimensi dilakukan dengan memasang elektroda
arus dan potensial pada satu garis lurus dengan jarak antar elektroda tetap, kemudian
semua elektroda dipindahkan atau digeser sepanjang permukaan sesuai dengan arah
yang telah ditentukan sebelumnya. Untuk setiap posisi elektroda akan didapatkan
harga tahanan jenis semu. Dengan membuat peta kontur tahanan jenis semu akan
diperoleh pola kontur yang menggambarkan adanya tahanan jenis yang sama (Loke,
2004).
Menurut Kirsch (2009), data yang didapatkan dari pengukuran tahanan jenis
secara dua dimensi akan ditampilkan sebagai pseudosection sepanjang lintasan.
Pseudosection akan memberikan gambaran dalam dari penampang bawah
permukaan. Umumnya model 2-D membagi-bagi gambaran bawah permukaan
menjadi beberapa persegi yang memiliki nilai tahanan jenis semu sesuai dengan hasil
pengukuran. Model yang digunakan untuk inversi ini terdiri dari unit cell. Ukuran
dari cell tergantung secara otomatis terhadap jarak setiap elektroda terpasang atau
dapat juga diatur secara manual oleh pengguna. Ukuran dari cell biasanya bertambah
besar seiring dengan pertambahan kedalaman serta bertambah kecil akibat kurang
sensitifnya pengukuran pada awal dan akhir lintasan. Hasil akhir dari pengukuran
tahanan jenis secara dua dimensi ini adalah penampang dari perhitungan tahanan
jenis batuan sepanjang lintasan pengukuran. Penampang melintang ini harus
mencakup interpretasi struktural dari data resistivitas yang ada. Konfigurasi
elektroda yang dipakai pada metode ini adalah konfigurasi Wenner, Wenner-
Schlumbeger dan Dipole-Dipole.