Anda di halaman 1dari 10

MODEL LUAR KOTAK PROAKTIF KOMPREHENSIF TOPDOWN

(LUPROKOT)
DALAM UPAYA AKSELERASI PENURUNAN KEMATIAN IBU

Abstrak
Upaya akselerasi penurunan kematian ibu telah dilaksanakan dengan hasil
yang KURANG memuaskan. dengan angka terakhir adalah 4900 ibu atau 359 / 100
ribu kelahiran hidup. Satu angka yang fantastis - tragis, sekitar 35 kali korban
kecelakaan pesawat atau korban KLL saat lebaran. Menurut hemat kami diperlukan
satu upaya lain yang tidak business as usual tetapi lebih luar kotak, proaktif,
terstruktur, sisitimatis dan masif. Model LUPROKOT yang ditugaskan
pada satu komisi di bawah RI 1 kami usulkan sebagai upaya paripurna. Luar kotak
disini berarti lebih memandang kematian maternal sebagai kegagalan penyelamatan
aset strategis bangsa, kegagalan perlindungan terhadap penerusan spesies manusia
dan pelanggaran HAM ibu dan bayi. Political will dari pengambil keputusan sangat
berperan dalam upaya ini. Proaktif disini berati menghilangkan pendekatan
menunggu di rumah sakit namun lebih ke arah Search and Rescue mission terutama
untuk kehamilan risiko sangat tinggi. Komprehensif diartikan sebagai secara
menyeluruh dari hulu ke hilir dari non medis s/d medis, mulai prahamil s/d nifas,
mulai dari Jakarta s/d pedesaan.
Topdown disini diasumsikan sebagai upaya yang lebih memakai pendekatan "harus
harus harus" sebagai pengganti pendekatan 'himbau" Satu wadah khusus yang hanya
menangani upaya penurunan kematian maternal dan tidak melakukan kegiatan lain
sangat diperlukan dengan struktur di bawah Presiden langsung bukan Kem Kes
dengan ketua pelaksana dari militer sehingga punya akses s/d babinsa di pedesaan.
Wadah/ Komisi ini bukan seperti komisi bentukan Kementrian
Model proaktif ini terdiri dari dua intervensi yaitu intervensi sosiokultural
yang melengkapi intervensi medis. Kedua intervensi ini saling terkait dan saling
melengkapi dimana intervensi hulu - hilir, topdwon - bottom up - segmental -
komprehensif dikombinasikan.

Kata kunci: model LUPROKOT, Kematian maternal, Komisi di bawah Presiden


I. Pendahuluan

Kematian ibu bersalin dan bayi sudah cukup rendah di Jawa Timur
dibanding angka nasional atau dunia. . Tetapi meskipun sudah cukup rendah, di
seluruh dunia setiap menit 1 ibu tidak tertolong akibat komplikasi persalinan, setiap
hari Jawa Timur saat ini 2 ibu tidak tertolong, di kota Surabaya setiap minggu 1 ibu
tidak tertolong. Di Indonesia justru meningkat menjadi angka 359 per 100 ribu
kelahiran hidup
Dampak kematian ibu muda tsb tidak hanya bagi ibu tsb namun berdampak
pada bayi yang dilahirkan(sebagian besar meninggal atau kurang gizi), anak yang
ditinggalkan (sebagian besar putus sekolah) dan berkurangnya kesejahteraan
keluarga. Fakta lain: Kematian ibu bersalin merupakan cermin dari ketidak setaraan
gender, rendahnya kesadaran masyarakat tentang masalah ini dan
kemiskinan di samping masalah medis
This is not only a global health emergency, it is a human rights scandal.
Government neglect and discrimination are violating women’s rights to life and
health on a massive scale. Violations of women’s rights, including the violence they
face, the discrimination they experience, and the restrictions they encounter in
controlling the number, spacing and timing of their children, all contribute to
maternal mortality. These needless deaths reflect the cycle of human rights abuse –
deprivation, exclusion, insecurity and voicelessness – that defines and perpetuates
poverty.
Upaya-upaya penakib sudah dilakukan namun masih kurang sesuai harapan.
Dengan begitu rumitnya permasalahan yang dihadapi dan keinginanuntuk lebih
menurunkan kematian ibu bersalin menimbulkan satu pemikiran bahwa diperlukan
beberapa kegiatan yang merupakan kegiatan terobosan (breakthrough), diluar kotak
pemikiran yang ada (out of the box) dan mempunyai daya ungkit yang besar dalam
waktu singkat (praktis intensif)
Kriteria tsb di atas dapat dipenuhi bila terdapat satu pola pikir yang berbeda
dalam memandang kematian maternal (repositioning) - LUAR KOTAK, bila upaya
ini diprioritaskan dan hanya beberapa masalah yang dijadikan fokus penekanan
(langsung pada penyebab terbanyak). Pendekatan yang dipakai adalah jemput bola -
proaktif dan topdown - yang di tingkat kegiatan adalah ssb: Intervensi hulu yang lebih
ke non medis dan determinan antara dan jauh serta intervensi hilir yang lebih ke arah
determinan dekat dan medis. Intervensi nonmedis dan medis ini harus sistimatis -
mulai perubahan mindset, pendekatan,
program sampai kegiatan, terstruktur - mulai KUA s/d POGI dan masif – melibatkan
semua pihak
Hal ini sesuai dengan yang ditulis oleh 2 mantan pejabat organisasI
kesehatan dunia sbb: Dr.T.Turmen , WHO FIGO Pre-Congress Workshop August
2000 “It is not enough to be clinically competent .It is not enough to be socially
aware and socially conscious. The obstetrician and gynaecologist must be a
champion for ALL women’s health , welfare and rights …( they ) must become the
voices of voiceless ……. It is time to move beyond the consulting room, beyond the
hospital ward , to play a prominent part in the revitalisation of the health system as a
whole” dan M Fathalla:
Women are not dying of diseases we can't treat. ... They are dying because societies
have yet to make the decision that their lives are worth saving." Mahmoud Fathalla
II. Determinan Kematian Maternal

Determinan Jauh Determinan antara Hasil

Status wanita dalam


Status kesehatan
keluarga dan
masyarakat - Gizi
- Penyakit infeksi Kehamilan

Status keluarga - Penyakit


dalam masyarakat menahun

Sttus reproduksi Komplikasi


- Pendapatan
keluarga - umur - Perdarahan
- Infeksi
Status masyarakat akses terhadap - Preeklamsia/
pelayanan kesehatan eklamsia
Kesehatan - Partus macet
Sumber daya - Lokasi
transportasi - Jenis pelayanan
yg tersedia
- Kualitas
pelayanan Mati/ cacat

Perilaku pelayanan
kesehatan

- KB
- Asuhan antenatal
- Pelayanan
persalinan

Faktor faktor yang tidak


diketahui/ tidak
diperkirakan

Gambar 1. Determinan dari McCarthy menjelaskan bagaimana faktor determinan


medis dipengaruhi oleh determinan non medis atau dengan kata lain diperlukan satu
model intervensi "baru' yang mengkombinasikan kedua komponen determinan.
Pendekatan dengan memisahkan tsb sudah terbukti kurang menurunkan
kematian maternal secara signifikan

III. Intervensi yang diusulkan


III. 1. Intervensi Non-Medis
Intervensi
1. Pembentukan satgas sesuai tingkatannya
2. Keterlibatan muspika
3. UKS - mengingatkan saudara mengenai risiko persalinan
4. Kursus calon pengantin
5. Menurunkan kehamilan remaja
6. Perjanjian prahamil - jumlah, jarak dan GDO
7. Penomeran bumil
8. Pemakaian buku KIA, KSPR, kartu P4K
9. Panitia persiapan persalinan
10. Pendampingan setiap bumil
11. Pengajian bumil
12. Tabulin
13. Jaringan kamar bersalin - telepon hotline
14. Pemberdayaan bumil -
15. Menyekolahkan anak dukun menjadi bidan
16. Cuti melahirkan 6 bulan
17. Pendataan (TI)- termasuk kantung persalinan
18. Pencanangan hari kesadaran bahaya eklamsia
19. Melibatkan Pusat Studi Wanita, Muslimat, Fatayat, PPPAKB dll
20. Lomba Kota/ Kab/ Propinis/ kecmt Layak Bumil
21. RUU Perlindungan Ibu Hamil dan Melahirkan

III.2. Intervensi Medis


1. Memberdayakan anggota POGI
2. Kebijakan Direktur - Din Kes u PE-HPP
3. Adanya poli preeklamsia-hpp
4. Tim Manajemen Risiko Klinik di RS
5. Periksa 12 kali (3 3 6)
6. Kantung Persalinan
7. Pencarian buristi
8. Kelas ibu hamil - monopoli
9. Senam hamil
10. Simulasi penanganan gawat darurat obstetri(Eklamsia, HPP,
Emboli AK, Dis bahu)
11. Penggunaan daftar tilik
12. Skrining risiko kehamilan
13. Skrining PE
14. Skrining risiko HPP(terutama bekas sesar dan Plas Akreta)
15. Skrining risiko persalinan - termasuk severity index
16. Linakes - fasyankes
17. Terminasi PE minggu ke 37
18. MAK III
19. Mat, sansak dan misoprostol, observasi 6 jam
20. IUD pasca plasenta
21. Audit Mortalitas dan Morbiditas Maternal

IV. Penjelasan Masing-masing Butir Intervensi

IV. 1 Intervensi di kurus calon pengantin


Perjanjian pranikah disini mengaju pada perjanjian untuk merencanakan
jumlah dan jarak(IUD pasca plasenta) Calon Khalifah yang akan diciptakan selama
masa perkawinan ini serta ijin untuk merujuk tanpa menunggu persetujuan suami
apabila mengalami gawat darurat obstetris
Kehamilan selama ini tidak dipandang sebagai periode untuk menyiapkan
seorang calon khalifah namun klebih sebagai menyiapkan persalinan.
Perubahan pola pemikiran ini terkait dengan begitu banyak bukti yang
menyatakan bahwa kehamilan merupakan salah satu periode emas tumbuh kembang
manusia. Bila kehamilan dianggap sebagai periode emas untuk menyiapkan seorang
calon khalifah- maka amanah ini merupakan tugas yang sangat berat. Tugas ini
membutuhkan persiapan dan kematangan fisik, emosi, pendidikan dan keuangan yang
memadai.
Perjanjian pranikah menurut hemat kami merupakan upaya untuk melegalkan
komitmen pasangan tsb dalam menyiapkan seorang atau beberapa calon khalifah.
Di sisi lain, perjanjian pranikah ini dapat dianggap sebagai salah satu upaya
untuk meningkatkan peran wanita dalam rumah tangga- women empowering.

IV. 2. Persepsi terhadap kehamilan dan keluarga berencana


Seperti dijelaskan di butir di atas, persepsi terhadap kehamilan akan berperan
terhadap persepsi keluraga berencana. Bila kita kaji pemakai alat kontrasepsi di
negara maju dan dibandingkan dengan negara berkembang nampak bahwa pengaruh
persepsi terhadap KB memang berpengaruh Namun karena begitu kuatnya pandangan
lain, maka kami usulkan pendekatannya adalah penanganan pasangan usia subur yang
belum dikaruniai anak.
Bila kita pakai pendekatan ini, maka diharapkan lebih diterimanya program
keluarga berencana dan lebih diterimanya upaya-upaya lain dalam mengatur jumlah
dan jarak kehamilan yang pada gilirannya akan menurunkan jumlah kematian
maternal

IV.3. Menyekolahkan anak dukun menjadi bidan


Bila kita menyiapkan anak dukun yang perempuan sebagai calaon bidan
dengan membiayai seluruh pendidikannya, maka dalam jangka panjang jumlah dukun
beranaka yang menangani persalinan secara mandiri akan turun secara bermakna.
Dalam Making Pregnancy safer, butir pertama menyatakan bahwa semua
persalinan ditolong oleh tenaga terlatih. Meskipun pada bebrapa negara termasuk
Indonesia yang dimaksud dengan tenaga terlatih adalah bidan dan dokter, ada yang
masih melatih dukun dengan keterampilan pertolongan pesrsalinan terbatas.

IV.6. Kebijakan Direktur : Sepuluh Langkah Untuk Membantu Menurunkan


Kematian Ibu Bersalin Karena HPP Dan Pre/Eklamsia

1. Menyediakan poliklinik Pre/eklamsia dan HPP


2. Melakukan skrining untuk kasus preeklamsia (klinis dan atau lab)
3. Selalu menerima pasien Pre/eklamsia dan HPP yang dirujuk di poliklinik
maupun kamar bersalin dan tidak dikembalikan ke yang merujuk
4. Melakukan Rapid Initial Assesment, Stabilisasi (SM dan Kondom kateter),
dan rujuk bila diperlukan
5. Ikut berpartisipasi dalam JAKABERRUSASU
6. Tidak menarik biaya untuk 2 kasus ini
7. Melaporkan setiap kasus pada satgas
8. Ikut berpartisipasi dalam mengevaluasi
9. Ikut berpartisipasi dalam Audit Morbiditas dan mortalitas
10. Ikut berpartisipasi dalam menyusun protap 2 kasus ini

IV.7. Jaringan Kamar Bersalin Rumah Sakit


Visi
Menjadikan kamar bersalin di RS sebagai garis terdepan upaya menurunkan
kematian maternal. Pada tahun 2015 kematian maternal di RS turun menjadi 50 %
nya
Misi
Untuk mencapai visi di atas maka jaringan akan
1. Menghimpun data persalinan, nearmiss dan kematian maternal, mengadakan
seminar untuk menganalisis penyebab dan determinannya, memilih solusi
alternatif, melakukan intervensi dan mengevaluasi hasil intervensi
2. Mengkoordinasikan pelayanan kamar bersalin
3. Mendokumentasikan dan menganalisis setiap kematian maternal dalam
waktu 24 jam
Moto
Satu nyawa ibu meninggal karena kehamilan dan persalinan sudah terlalu banyak
1. Semua kematian maternal terjadi di Rumah Sakit
2. Dibentuknya poliklinik preeklamsia dan HPP
3. Diadakannya kamar preeklamsia dan HPP di setiap kamar bersalin di RS
4. Surabaya

IV.8. Puskesmas Penakib


Key Performance Indicators
A. Repositioning: KI sebagai masalah nasional, non medis, bencana, KLB, ditangani
bersama semua komponen masyarakat dan pemerintah.
Kerjasama lintas sektoral:
 keterlibatan pak camat
 keterlibatan ibu pkk
 keterlibatan dinas perlindungan perempuan, anak dan kb
 keterlibatan komnas ham perempuan
 lomba dasawisma layak hamil
 adanya perjanjian prahamil untuk KB
 adanya perjanjian prahamil untuk GDO
 adanya kesepakatan pemakaian IUD pasca plasenta
B. Prioritizing: adanya perhatian, kesadaran, anggaran yang lebih untuk penakib.
Perbandingan dana dan kegiatan dengan program Gizi, AIDS, tbc, kes sekolah,
stroke, psikiatri, lansia, remaja:
 dana untuk KB dan penakib
 skrining untuk bumil
 kunjungan rumah
 buku KIA, P4K, KSPR, KS
 Simulasi tiap minggu
 Skrining bulin
 Partus tenaga terlatih
 IUD pasca plasenta
 Cuti melahirkan 6 bulan

C. Focusing: adanya fokus kegiatan pada 2 penyebab KI terbanyak- PE dan HPP.


Program khusus preeklamsia:
 BMI, MAP, ROT, DVAU,MPV, Skrining Risti, urine rutin
 Simulasi pemberian SM
 Program khusus HPP:
 Anamnesa, BMI, uterotonika termasuk misoprostol kala III, pemakaian mat
 dan sansak
 simulasi KBI, KBE, kondom kateter

IV.9. Lomba Kota Layak Ibu Hamil


Upaya menurunkan kematian ibu bersalin telah dilakukan melalui berbagai
pendekatan, pada kesempatan ini diusulkan melalui Lomba Kota Layak Hamil
Kegiatan ini bisa dipakai untuk menyongsong hari Ibu dan atau Hari Kartini
disamping melengkapi dan menindaklanjuti Deklarasi Grahadi dan Penghargaan
untuk bu Soekarwo dalam upaya Penakib
Deskripsi
Lomba Kota Layak Ibu Hamil untuk ibu hamil merupakan lomba dalam
upaya membantu penakib

Tujuan
Pada akhir lomba diharapkan masing-masing kota lebih terinspirasi untuk
meningkatkan upaya penakib
Tujuan khusus
Untuk mencapai tujuan umum di atas, pada akhir lomba diharapkan masing-
masing kota meningkatkan
1. Mempunyai Komisi Penakib di bawah Walikota bukan di bawah Din Kes
2. Ada kebijakan penakib sebagai bencana nasional/ KLB/
3. Ada kebijakan menangani secara lintas sektoral di bawah komando walikota
atau PPPA atau dinkes
4. Ada perjanjian prahamil untuk menentukan jumlah, saat dan jara kehamilan
5. Penomeran ibu hamil
6. 6. K I 100 %
7. K IV 100 %
8. K XII 50 %
9. Linakes 100 %
10. Ada kebijakan kunjungan rumah
11. Ada pendampingan bumil oleh ibu PKK
12. Ada pendampingan bumil oleh mahasiswa
13. Ada buku hamil khusus risti
14. Ada kebijakan rujukan 2 kasus gratis HPP dan Preeklamsia
15. skrining preeklamsia 100%
16. Poliklinik khusus HPP dan Preeklamsia
17. Kebijakan direktur RSUD untuk penakib
18. Ada kebijakan untuk SIAGA
19. Ada kebijakan suami masuk kamar bersalin
20. IUD pasca plasenta 100 %
21. Ada Kebijakan IMD
22. AKI turun menjadi 25 %
23. Ada kebijakan mengenai audit kematian maternal dan perinatal
24. Ada kebijakan mengenai pembiayaan u bumil-lin
25. Ada kebijakan untuk bayi baru lahir
26. Ada kebijakan cuti melahirkan 6 bulan
Metode
Lomba antar kota
Juri
Dinkes dan POGI

IV.10. Doula(Pendampingan)
Tujuan dari doula adalah untuk memastikan ibu dan suaminya merasa aman
dan percaya diri sebelum, selama, dan setelah melahirkan. Pada kegiatan
pendampingan ini, mahasiswa bertugas mirip doula namun dengan mengedukasi
bumil dan keluarga untuk melewati masa kehamilan, persalinan dan nifas sesuai
program dan pada gilirannya nanti akan menurnukan morbiditas dan mortalitas akibat
komplikasi persalinan - bukan melakukan pelayanan medis ataupun tindakan medis.
Kegiatan mahasiswa ini tidak menggantikan tindakan medis apapun Jenis dukungan
yang dapat diberikan selama masa kehamilan adalah memastikan bahwa ibu dan
suami melakukan periksa hamil, perencanaan persalinan, memberikan dukungan
emosional dan memberikan KIE untuk
keluhan-keluhan yang terjadi.
Sedangkan untuk saat persalinan adalah menjelaskan apa yang terjadi, mengurangi
kekhawatiran, membantu petugas bila ada komplikasi persalinan(merujuk)

V. Penutup
Mudah-mudahan berkenan

Daftar Kepustakaan
Hermanto TJ. 2012. Menurunkan Kematian Ibu Hamil dan Melahirkan Melalui
Pemberdayaan Wanita. Surabaya: Global Persada Press
PB POGI. Pokja PAKIB. 2016. Usulan Rencana Kerja Pokja Penurunan AKI. Jakarta:
PB POGI Pokja PAKIB