Anda di halaman 1dari 8

Prevalensi Fluorosis Gigi pada Anak Sekolah Usia 12 dan 15 Tahun di Kota

Udaipur, India

Abstrak
Lata belakang: Fluoride pada tingkat optimal mengurangi insidensi karies gigi dan juga
dibutuhkan untuk menjaga keutuhan jaringan rongga mulut, tapi jika diberikan berlebihan
saat tahap perkembangan dapat menyebabkan efek samping seperti fluorosis gigi dan
fluorosis tulang. Tujuan: Untuk mengetahui prevalensi dan derajat fluorosis gigi pada anak
sekolah usia 12 dan 15 tahun di Kota Udaipur, India. Metode: Total 1042 anak berpartisipasi
dalam penelitian ini. Sampel dibagi menjadi 2 grup; Grup A anak yang menggunakan air
sumur untuk minum di rumah dan sekolah, serta Grup B yaitu anak yang menggunakan
suplai air perkotaan sebagai minuman di rumah dan di sekolah. Data mengenai jumlah
fluoride dalam air sumur di Kota Udaipur dikumpulkan dari office of wells Udaipur, India.
Survey proforma dipersiapkan berdasarkan WHO Oral Health Assessment Form (1997).
Karl-Pearson coefficient for relation dan simple regression analysis digunakan untuk
mengukur korelasi antara konsentrasi fluoride dalam air minum dengan community fluorosis
index (CFI). Chi-square test digunakan untuk mengevaluasi hubungan antara tingkat fluoride
dalam air minum dan keparahan fluorosis gigi. Hasil: Hubungan linear terlihat antara nilai
CFI anak usia 12 dan 15 tahun dengan konsentrasi fluoride dalam air (r=0,98). Prevalensi
keseluruhan fluorosis gigi pada anak usia 12 dan 15 tahun di Kota Udaipur diperoleh sebesar
29,07%. Prevalensi fluorosis gigi yang tinggi secara signifikan tampak pada Grup A
(43,99%) dan Grup B (17,01%) [p<0,05]. Kesimpulan: Konsentrasi fluoride dalam air sumur
dari semua 4 zona cukup tinggi dibandingkan dengan air perkotaan. Terdapat peningkatan
keparahan fluorosis gigi seiring peningkatan konsentrasi fluoride dalam air minum. Karena
itu, fluorosis gigi dianggap sebagai masalah kesehatan gigi masyarakat di Kota Udaipur dan
berhubungan dengan konsentrasi fluoride tinggi yang ada dalam air tanah.
Kata kunci: Fluorosis gigi; Air sumur; Air perkotaan; Fluoride

Pendahuluan
Fluoride seperti pedang bermata dua; pada tingkat optimal dapat mengurangi insidensi
karies gigi dan juga dibutuhkan untuk menjaga keutuhan jaringan rongga mulut, tapi jika
diberikan berlebihan saat tahap perkembangan dapat menyebabkan efek samping seperti
fluorosis gigi dan fluorosis tulang.
Fluorosis gigi endemik merupakan gangguan pembentukan gigi yang disebabkan oleh
asupan fluoride berlebihan saat masa pembentukan gigi. Derajat keparahan manifestasi klinis
bentuk intoksikasi kronis fluoride ini tergantung pada jumlah, bentuk dan frekuensi konsumsi
fluoride, durasi terpapar, usia subjek, bioavailabilitas kandungan fluoride, serta kemungkinan
adanya faktor yang belum diketahui.
India merupakan salah satu dari 23 negara di dunia dimana terdapat masalah kesehatan
akibat fluoride berlebihan dalam air minum. Endemik fluorosis gigi paling banyak terjadi di
daerah dimana air minum mengandung tingkat fluoride yang tinggi. Di India, Bureau of
Indian Standard menentukan maksimal tingkat fluoride dalam air minum yang dapat diterima
sebesar 1ppm. Sejak dilakukannya penelitian oleh Dean, beberapa usaha telah dilakukan
untuk menentukan hubungan antara terjadinya fluorosis dengan konsentrasi fluoride dalam
air minum di beberapa populasi di seluruh dunia. Konsentrasi fluoride dari air tanah
Rajasthan lebih tinggi daripada batas fluoride yang disarankan sebagai air minum yaitu 0,6 –
1,5 ppm, sehingga pada komunitas ini fluorosis sering terjadi. Karena itu, penelitian ini
direncanakan untuk mengetahui prevalensi dan derajat fluorosis gigi pada anak sekolah usia
12 dan 15 tahun di Kota Udaipur.

Bahan dan Metode


Penelitian ini bertujuan untuk memerkirakan prevalensi dan keparahan fluorosis gigi
pada anak sekolah usia 12 dan 15 tahun di Kota Udaipur, Rajasthan State, India. Setelah
melakukan pilot study, besar sampel diperkirakan sebesar 1000, dengan 250 sampel dari tiap
zona. Total 1042 anak berpartisipasi dalam penelitian. Kota Udaipur dibagi menjadi 4 zona,
kemudian sekolah dan subjek dipilih menggunakan random sampling. Selanjutnya sampel
dibagi menjadi 2 grup. Grup A, subjek yang menggunakan air sumur (borewell) untuk air
minum di rumah dan sekolah karena tidak ada suplai air perkotaan, serta Grup B yaitu subjek
yang menggunakan suplay air perkotaan (municipal water) untuk air minum di rumah dan
sekolah. Metode yang digunakan berbasis sekolah. Anak dipilih dari sekolah secara acak
yang memenuhi kriteria inklusi berikut.
a) Anak sekolah dalam kelompok usia 12 dan 15 tahun
b) Anak yang tinggal menetap sejak lahir, yaitu lahir, dan tinggal di daerah yang sama
kecuali beberapa minggu (hari libur) dalam setahun dan yang menggunakan sumber
air minum yang sama dari lahir sampai usia 10 tahun.
c) Anak dengan gigi permanen paling kurang 50% mahkota telah erupsi dan tidak ada
tambalan pada permukaan fasial gigi.
Data mengenai jumlah fluoride dalam air sumur di Kota Udaipur diambil dari office of
Wells of India, Udaipur. Untuk memastikan tingkat fluoride ini, sampel air sumur diambil
dari daerah sekitar sekolah dan dilakukan analisis di kantor pengawas ahli kimia, Public
Health Engineering Department (PHED) Laboratory, Udaipur. Sebelum menjadwalkan
survey, izin diperoleh dari Komite etika Pacific Dental College, Udaipur. Izin resmi diperoleh
dari Deputy Director of Public Instruction, Udaipur.
Survey proforma dipersiapkan berdasarkan formulir pemeriksaan WHO, 1997. Ini
terdiri dari dua bagian, pertama terdiri dari informasi mengenai data demografi, alamat
tempat tinggal permanen, informasi sumber air minum, hal yang digunakan untuk
memelihara kebersihan mulut (fluoridasi atau nonfluoridasi) serta bagian kedua terdiri dari
tabel untuk mencatat fluorosis menggunakan Dean’s Fluorosis Index.
Karl-Pearson coefficient for relation dan simple regression analysis digunakan untuk
mengukur korelasi antara konsentrasi fluoride dalam air minum dengan community fluorosis
index (CFI). Chi-square test digunakan untuk mengevaluasi hubungan antara tingkat fluoride
dalam air minum dengan keparahan fluorosis gigi.

Hasil
Distribusi subjek penelitian menurut usia, jenis kelamin, sumber air minum, serta
daerah penelitian ditunjukkan pada Tabel 1. Persentase anak 12 tahun sebanyak 541 (51,92%)
dan 15 tahun sebanyak 501 (48,08%). Diperoleh bahwa 466 (44,72%) subjek penelitian
menggunakan Air sumur untuk air minum, sementara 576 (55,28%) menggunakan air
perkotaan. Rata-rata konsentrasi fluoride dalam zona Air sumur antara 0,642 – 0,927 ppm.
Tabel 2 menunjukkan distribusi fluorosis gigi pada subjek penelitian yang
menggunakan air perkotaan dan air sumur di Udaipur City (Zona A, B, C, dan D). Grafik 1
menunjukkan perbandingan prevalensi fluorosis gigi pada Grup A (air sumur) serta Grup B
(air perkotaan). Persentase anak yang terkena fluorosis gigi pada Grup A sebesar 43,99%,
sementara pada Grup B sebesar 17,01%.
Grafik 2 menunjukkan prevalensi fluorosis gigi pada anak usia 12 dan 15 tahun
berdasarkan konsentrasi fluoride (ppm). Persentase anak usia 12 dan 15 tahun yaitu masing-
masing 26,98% dan 31,33%.
Grafik 3 menunjukkan korelasi positif antara konsentrasi fluoride dalam air minum
dengan Community Fluorosis Index. Karl Pearson Correlation Coefficient (r) sebesar 0,98.
Dipilih prediction equation: CFI=1,022 (konsentrasi fluoride) 0,212. Nilai community
fluoride index untuk nilai konsentrasi fluoride yang berbeda ditunjukkan pada Grafik 1.
Untuk tiap perubahan pada konsentrasi fluoride, terdapat perubahan nilai community fluoride
index 1,022.

Tabel 1. Distribusi subjek penelitian menurut usia, jenis kelamin, daerah penelitian, dan
sumber air minum

*4 Zones=A,B,C,D;** B= Borewell (air sumur), T= Tap (Municipal) (air perkotaan); ***M=laki-laki,


F=perempuan

Tabel 2. Prevalensi fluorosis gigi air minum (M) air perkotaan dan (B) air sumur
Grafik 1. Perbandingan prevalensi fluorosis gigi antara Grup a (air sumur) dengan Grup B
(air perkotaan)

Pembahasan
Endemik fluorosis gigi paling banyak terjadi di daerah yang air minumnya mengandung
jumlah fluoride yang banyak. Laporan yang dipublikasikan oleh Rajiv Gandhi National
Drinking Water Mission tahun 1994 melaporkan 14 wilayah dan Union Territory Delhi
mengalami endemik fluorosis.
Rajasthan menyatakan bahwa endemik fluoride dan penggunaan secara luas dalam air
tanah berperan dalam penyebaran prevalensi fluorosis. Karena itu penelitian ini didesain
untuk memerkirakan konsentrasi fluoride dalam air minum (air perkotaan dan air sumur) di
Kota Udaipur dan untuk memeriksa prevalensi fluorosis gigi pada anak yang lahir dan
tumbuh di kota Udaipur.
Bardsen,dkk, Norway melaporkan konsentrasi fluoride dalam air tanah sebesar antara
0,02-9,48 mg/l. Empat belas persen sumur mengandung air dengan konsentrasi fluoride ≥0,50
mg/l. Penelitian dari Northern Rajasthan, India melaporkan konsentrasi fluoride dalam air
tanah antara 4,78-1,01 mg/l. Penelitian ini juga melaporkan konsentrasi fluoride tinggi dalam
air tanah dibandingkan dengan air perkotaan. Konsentrasi fluoride dalam air tanah di 4 Zona
Kota Udaipur sebesar antara 0,64-0,93 ppm. Edmunds dan Smedley mengidentifikasi tiga
faktor utama yang mengontrol alami konsentrasi fluoride dalam air, yaitu lithology, evolusi
geokimia, dan waktu air yang menentukan interaksi air-batu serta pelarutan mineral.

Grafik 2. Prevalensi fluorosis gigi pada anak usia 12 dan 15 tahun berdasarkan konsentrasi
fluoride (ppm)

Grafik 3. Perbandingan dan regresi antara konsentrasi fluoride dalam air minum serta
community fluorosis index
Telah diperoleh dalam penelitian ini bahwa pada konsentrasi fluoride 0,3 dan 0,4 ppm,
12,26% dan 15,87% anak mengalami fluorosis. Temuan ini serupa dengan penelitian
sebelumnya yang dilakukan oleh Chandrashekar,dkk, dimana pada konsentrasi 0,22 ppm dan
0,43 ppm, sebesar 13,1% dan 13,3% anak mengalami fluorosis di distrik Davangere,
Karnataka. Pada konsentrasi 0,642 ppm dan 0,721 ppm, sebanyak 42,3% dan 43,51% anak
mengalami fluorosis. Sementara pada konsentrasi 0,908 ppm dan 0,972 ppm, sebanyak 45%
dan 44,38% anak mengalami fluorosis.
Prevalensi fluorosis gigi dalam penelitian ini serupa dengan penelitian yang dilakukan
oleh Heller,dkk dimana pada kadar fluoride <0,3, 0,3 sampai <0,7, 0,7-1,2 dan >1,2 ppm,
tampak fluorosis masing-masing 13,5%, 21,7%, 29,9%, dan 41,4%. Hubungannya dengan
kondisi Udaipur yang memiliki suhu relatif lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa
daerah di dunia yaitu dibutuhkan konsumsi air per hari lebih tinggi yang menyebabkan
peningkatan konsumsi fluoride. Hal ini menyebabkan prevalensi fluorosis menjadi lebih
tinggi. Hubungan antara konsentrasi fluoride dalam air dengan fluorosis gigi cukup
kompleks. Tapi diamati bahwa semakin meningkatnya kadar fluoride dari 0,3 pp menjadi 0,4,
0,64, 0,72, 0,91, dan 0,93 ppm, terdapat peningkatan besar pada prevalensi fluorosis dari
12,26% menjadi 15,9%, 42,3%, 43,51%, 45%, dan 44,4%.
Peningkatan persentase anak yang menderita fluorosis gigi dengan setiap peningkatan
kadar fluoride dalam air minum serupa dengan penelitian lain yang dilakukan oleh Dean HT,
Moller, Driscoll, Segreto, Reddy dan Tewari, Akihito, Grobler, Banu Ermis, serta
Wondwossen.
Hasil penelitian ini menunjukkan hubungan linear antara nilai CFI dari usia 12 dan 15
tahun serta konsentrasi fluoride dalam air (r=0,98). Temuan ini hampir sama dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Dean, Driscoll, dan Angelillo.
Dean menyatakan bahwa nilai CFI kurang dari 0,4 bukan merupakan masalah
kesehatan masyarakat. Dalam penelitian ini diamati bahwa dari semua, kelompok penelitian
yang mengonsumi air sumur memiliki nilai CFI lebih dari 0,4.
Prevalensi keseluruhan fluorosis gigi pada anak usia 12 dan 15 tahun di Kota Udaipur
diperoleh sebesar 29,07%. Temuan penelitian ini sangat didukung oleh pengamatan yang
dilakukan oleh National Oral Health Survey Fluoride Mapping 2002-2003 (Rajasthan).
Survey tersebut melaporkan 32% dan 29,6% anak usia 12 dan 15 tahun menderita fluorosis
gigi di daerah perkotaan.
Selain itu, penelitian ini menunjukkan prevalensi tinggi fluorosis gigi pada Grup A
(43,99%) dibandingkan dengan Grup B (17,01). Akpata,dkk melaporkan bahwa lebih dari
90% anak usia 12-15 tahun di Saudi Arabia yang meminum air sumur (0,5 – 2,8 ppm)
menderita fluorosis gigi. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan prevalensi fluorosis yang
tinggi pada anak usia 15 tahun (31,34%) dibandingkan dengan usia 12 tahun (26,99%). Hal
ini hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Almas,dkk.
Dengan mengaplikasi formula Galgan dan Vermillion untuk kondisi Udaipur yang
memiliki suhu rata-rata 38,3˚C (100,9˚F) selama 5 tahun terakhir, menunjukkan bahwa 0,58
ppm merupakan kadar yang aman. Karena itu sangat penting bagi setiap negara untuk
mengukur kadar optimal fluoride dalam air minum mereka menurut hubungan dose-response
fluoride dalam air minum dengan tingkat karies dan fluorosis, kondisi cuaca, kebiasaan
makan populasi, serta kemungkinan terpapar fluoride juga harus dipertimbangkan dalam
merumuskan rekomendasi ini. Untuk memutuskan, konsentrasi fluoride dalam air sumur di 4
Zona cukup tinggi dibandingkan dengan air perkotaan. Prevalensi fluorosis gigi meningkat
dari 9,42% pada kadar fluoride 0,3 ppm menjadi 45% pada 0,908 ppm. Terdapat peningkatan
keparahan fluorosis gigi seiring meningkatnya konsentrasi fluoride dalam air minum. Karena
itu, fluorosis gigi dianggap sebagai masalah utama kesehatan masyarakat di Kota Udaipur
dan ini berhubungan dengan konsentrasi fluoride tinggi dalam air tanah.