Anda di halaman 1dari 22

Nama :Citrawati Baby Litone

Kelas :A
NIM : 12030117420080
Dosen Pengampu : Dr. Warsito Kawedar, Ak, CA

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK


RESUME MATERI
AKUNTANSI UNTUK INSTITUSI PADA PERGURUAN TINGGI
(UNIVERSITAS) YANG BERSTATUS BADAN LAYANAN UMUM (BLU)

1. Mengapa otonomi perguruan tinggi sering menimbulkan beberapa masalah yang


bertentangan dengan misi PTN dalam pembangunan nasional serta berikan
solusinya?
Jawaban:
Akhir – akhir ini banyak bermunculan demonstrasi mahasiswa yang memprotes
kenaikan uang sumbangan pembinaan pendidikan (SPP). Besar kemungkinan
masalah kenaikan uang SPP itu untuk mengantisipasi otonomi perguruan tinggi
negeri (PTN) yang terlanjur hidup tergantung subsidi pemerintah, di kelolah
sebagai perpanjangan dari birokrasi pemerintahan yang kaku dan tidak ramah
terhadap perubahan.
Menurut Anderson dan Johnson (1997), otonomi universitas merupakan suatu
kebebasan bagi perguruan tinggi untuk mengelola universitas tanpa campur
tangan pemerintah. Dalam evaluasi DIKTI 1999 / 2000, di sebutkan bahwa pada
dasarnya tujuan umum azaz otonomi di perguruan tinggi adalah
penyelenggaraan manajemen yang di tujuhkan kreatifitas, kemurnian dan
produktivitas dari civitas akademika dapat menghasilkan kinerja yang tinggi.
Tujuan dari perguruan tinggi sudah mengalami pergeseran yang mengarah pada
penguasaan skill dari lulusannya, dan tidak semata – mata hanya
mengembangkan ilmu pengetahuan. Selanjutnya dari pasal 38 PP No.152 tahun
2000, dapat di simpulkan bahwa dengan adanya kewenangan yang lebih besar di
upayakan pendanaan non pemerintah yang lebih besar dan universitas juga di
tuntut untuk meningkankan akuntabilitasnya dalam hal penyelenggaraan, kinerja
dan hasil perguruan tinggi.

1
Beberapa masalah yang timbul sebagai dampak dari adanya otonomi perguruan
tinggi yang memerlukan penanganan secara dini dengan memperhatikan misi
PTN dalam pembangunan nasional yaitu :
1. Otonomi universitas dapat diterjemahkan menjadi otonomi fakultas, bahkan
program studi/jurusan, jurusan atau fakultas yang hanya akan mencari
penghasilan yang sebesar – besarnya yang tidak akan jujur dalam
menyampaikan institutional fee meskipun dana tersebut merupakan subsidi
bagi lembaga dan unit penunjang universitas.
2. Universitas cenderung akan membuka program studi yang laku di pasaran
dan menutup program studi yang tidak menguntungkan.
3. Akan terdapat kecenderungan untuk menaikan SPP dan disertai dengan
“dana pengembangan universitas.” Yang tidak terjangkau oleh sebagian
besar masyarakat (berpenghasilan rendah), sehingga misi “ Pendidikan
Tinggi untuk Mencerdaskan Bangsa “ akan terabaikan (disebut dengan jalur
khusus).
4. Citra kampus sebagai pengantar Reformasi Nasional dapat menjadi pudar
karena berubah dari kampus rakyat menjadi menjadi kampus elit dengan
menara Gadingnya.

Otonomi perguruan tinggi memerlukan pimpinan yang mampu memadukan


antara tuntutan bisnis. Kemampuan akademik di perlukan agar perguruan tinggi
dapat di kembangkan sebagai pusat ilmu, teknologi, dan kebudayaan. Sedangkan
kemampuan manajemen bisnis diperlukan agar perguruan tinggi dapat lebih
tanggap terhadap perubahan dan responsif terhadap tuntutan pasar,serta mampu
menjamin kerja sama dengan dunia bisnis dan industri.
Selanjutnya perguruan tinggi akan mampu menghasilkan sarjana yang dapat
menciptakan lapangan pekerjaan atau sarjana professional. Masyarakat tidak
akan segan – segan memenuhi tuntutan uang SPP berapapun besarnya, asal
sebanding dengan mutu kesarjanaan yang di perolehnya dan sesuai dengan
kebutuhan dunia bisnis dan industri. Bukan untuk menjadi sarjana perguruan
yang membebani dirinya dan masyarakat, hingga menjadi ancaman dan
gangguan stabilitas kehidupan sosial.

2
2. Mengapa kerjasama mutualisme harus dilakukan perguruan tinggi dalam
penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas di masa yang akan datang?
Jawaban:
Kerjasama merupakan upaya bersama yang dilakukan dengan dengan sadar
dengan saling mendukung dan saling menguatkan sehingga dicapai sinergi yang
baik. Adanya sinergi ini dapat ditengarai dengan adanya hasil yang lebih baik
bila dibandingkan kalau bekerja sendiri. Kerjasama yang baik adalah kerjasama
yang mutualistik atau saling menguntungkan. Kerjasama mutualisme yang harus
dilakukan perguruan tinggi dalam mengatasi keterbatasan penyelenggaraan
pendidikan secara berkualitas di masa yang akan datang dapat di lakukan dalam
berbagai bentuk. Salah satu bentuk yang potensial dalam model Zinser yang
memperkenalkan kemitraan perguruan tinggi.
Untuk memperoleh sumber – sumber pendanaan di luar uang SPP, perguruaan
tinggi harus melakukan kerja sama dengan dunia bisnis dengan menjual jasa
pelayanan keilmuan. Di samping itu, kerja sama bisnis dalam kegiatan
pemasaran produk – produk ilmu dan teknologi yang berorientasi pada riset.
Sedangkan kerja sama industri di sektor riil, dengan mendirikan industri skala
besar.
Untuk kerja sama bisnis dan industri skala besar, maka perguruan tinggi tidak
perlu menyetor sahamnya karena dapat memberatkan perguruan tinggi itu
sendiri. tetapi dapat dikompensasikan dengan berbagai riset, penyusunan studi
kelayakan serta sumber daya manusia unggul yang di miliki oleh perguruan
tinggi itu sendiri. di samping itu, dapat digunakan menjadi tempat praktikum
mahasiswanya, agar mereka dapat mengetahui dunia kerja secara konkret.
Perguruan tinggi dan dunia usaha merupakan aset nasional yang sangat
menentukan bagi kemajuan bangsa. Apalagi jika di antara keduanya terdapat
semacam simbiosis mutualisme (kerjasama yang saling menguntungkan), atau
kemitraan. Bagaimanapun, sebuah perguruan tinggi dengan berbagai
perlengkapannya dapat menunjang perkembangan dunia. Sebaliknya, dunia
usaha pun dapat menopang kemajuan sebuah perguruan tinggi.
Dengan adanya kerjasama dengan perguruan tinggi dunia usaha bisa
meningkatkan efektivitas dan efisiensinya. Jasa konsultasi dalam bidang

3
manajemen, akuntansi, gugus kendali mutu, dan yang lainnya juga bisa dilayani
oleh perguruan tinggi. Kerjasama perguruan tinggi dengan dunia usaha juga bisa
dikembangkan lebih lanjut dalam bidang pengabdian masyarakat. Umpamanya
sebuah perusahaan besar dengan bantuan sebuah perguruan tinggi bisa
membantu masyarakat di sekitarnya, yakni melalui program bapak angkat, di
mana masyarakat yang berusaha baik dibidang industri kecil, kerajinan, atau
yang lainnya, memperoleh bantuan teknologi dan pemasaran. Dalam
pelaksanaan corporate social responsibility (CSR) dunia usaha bisa bermitra
dengan perguruan tinggi.Pertumbuhan sebuah perusahaan dan perkembangan
sebuah perguruan tinggi, juga harus bisa dinikmati oleh masyarakat di
sekitarnya.
Satu hal yang sangat penting, sebagai efek dari adanya kerjasama perguruan
tinggi dengan dunia usaha, yakni meningkatnya profesionalisme.
Profesionalisme yang memiliki ciri-ciri keahlian (expertise), tanggung jawab
(responsibility) dan kesejawatan (corporateness), merupakan bentuk nilai
tambah atau pengembangan dari pekerjaan (vocation).
Konsep-konsep manajemen usaha yang lahir di perguruan tinggi lantas
diaplikasikan dalam dunia usaha. Sebaliknya, kasus yang muncul dalam dunia
usaha bisa dikaji lebih lanjut melalui perguruan tinggi. Keterpaduan itu pada
akhirnya akan meningkatkan dan mengoptimalkan fungsi masing-masing pihak.

3. Mengapa dalam akutansi dana untuk Universitas perlu dipisahkan antara


restricted funds dan unrestricted fund?
Jawaban:
Akuntansi dana untuk universitas serupa dengan akuntansi dana untuk unit –
unit pemerintah, akan tetapi terdapat perbedaan di antara keduanya dalam hal
dana yang diterima. Sumber dana pendidikan untuk kegiatan penyelenggaraan
pendidikan (educational enterprise) di dapatkan dari berbagai sumber. Sebagai
mana di sebutkan bahwa sumber – sumber yang di maksud terdiri dari
pemerintah, masyarakat dan orang tua. Bagi perguruan tinggi, dapat diperoleh
dari luar negeri, sedangkan mengenai dana pendidikan di Indonesia yang berasal
dari pemerintah mengandalkan masukan pajak. Pajak yang di maksudkan di

4
peroleh dari rakyat, pajak pendapatan berbagai perusahaan dan industri,
sedangkan dari luar negeri berupa bantuan atau pinjaman.
Perguruan tinggi umum mendapatkan dana dari empat sumber utama, yaitu
bantuan badan legislatif, uang sekolah dan pengajaran, hibah, atau bantuan dari
pemerintah pusat dan daerah, dan bantuan perorangan. Selain apropriasi dari
badan legislatif, sumber dana yang sama juga diberikan ke perguruan tinggi
swasta. Bagi sebagian perguruan tinggi negeri, sumber dana utama berasal dari
Apropriasi dan Legislatif.
Sekolah tinggi dan universitas menggolongkan penggunaan dana menurut
fungsinya. Pengelompokan penggunaan dana menurut fungsinya berguna untuk
tujuan perbandingan, tetapi sistem pengelompokan ini terlalu luas untuk
kepentingan manajerial. Banyak data intern manajemen di hasilkan dari program
yang bisa menghilangkan kendala fungsional. Dalam program, pengeluaran di
golongkan berdasarkan kode obyek pengeluaran, seperti gaji dan upah, alat tulis
kantor, sewa, dan asuransi.
Oleh karena itu, akuntansi dana untu universitas harus memisahkan antara dana
terikat dan dana tidak terikat, dimana pembatasan yang dimaksud berasal dari
pihak eksternal universitas.
- Dana lancar tidak terikat
Dana lancar tidak terikat mencatat dana yang dapat dibelanjakan untuk
menjalankan aktivitas utama dari universitas dan yang penggunaannya tidak
dibatasi untukt ujuan tertentu. Tujuannya serupa dengan Dana Umum pada
entitas pemerintah.
Dasar akuntansinya menggunakan dasar akrual. Namun, sebagai ganti laba
bersih (net income), selisih antara pendapatan dan belanja dicatat sebagai
perubahan bersih atas saldo dana (net change to fund balance). Rincian
anggaran disiapkan menurut fungsi objek, departemen dan kelompok
belanja.Untuk pencatatannya serupa dengan akuntansi pemerintah.
Pencatatan ayat jurnal untuk anggaran ini serupa dengan yang diacatat dalam
akuntansi pemerintah dengan format sebagai berikut :

5
Anggaran pendapatan xxxxx
Estimasi belanja xxxxx
Saldo dana xxxxx

Ayat jurnal tersebut ditutup pada akhir periode. Dalam akuntansi dana
universitas juga menggunakan sistem Encumbrance untuk mencatat pesanan
pembelian yang jadi setiap kali ada pesanan pembelian, maka jurnalnya
adalah :
Cadangan Beban Belanja xxxxx
Beban belanja xxxxx
Belanja xxxxx
Kas xxxxx
- Dana lancar terikat
Dana dalam dana lancar terikat dapat digunakan untuk tujuan operasional
dari universitas sesuai batasan yang ditetapkan pihak eksternal yang
mensponsori dana tersbut. Penerimaan dana dengan pembatasan (restriction)
dicatat sebagai peningkatan dalam kas dan saldo dana, namun tidak diakui
sebagai pendapatan sampai ketentuan yang membatasi pengunaan dana itu
dipenuhi dan dana dibelanjakan sesuai dengan cara yang telah ditetapkan.
Jadi dalam dana lancar terikat, pendapatan tidak diakui sampai belanja yang
sesuai dengan tujuan tertentu telah dilaksanakan. Format jurnal penerimaan
dana dalam dana lancar terikat sebagai berikut:
Kas xxxxx
Saldo Dana xxxxx

Format ayat jurnal ketika dana dibelanjakan sebagai berikut:


Belanja xxxxx
Saldo dana xxxxx
Kas xxxxx
Pendapatan xxxxx
Dalam dana lancar terikat pendapatan tidak diakui sampai belanja yang
sesuai dengan tujuan tertentu telah dilakukan:
- Pendapatan dan penambahan saldo dana lainnya

6
- Balanja dan pengurangan saldo lainnya
- Transaksi lainnya

4. Mengapa dalam mengelola keuangan, BLU (Badan Layanan Umum) lebih


menerapkan pola keuangan yang memberikan fleksibilitas, jelaskan maksud dari
pernyataan tersebut dan apa saja asas – asas BLU?
Jawaban:
Definisi Badan Layanan Umum (BLU) berdasarkan Peraturan Pemerintah
Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum
adalah instansi di lingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberikan
pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang
dijual tanpa mengutamakan keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya
didasarkan pada prinsip efisien dan produktivitas.
Dalam mengelola keuangannya, BLU menerapkan pola keuangan yang
memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktik – praktik
bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam
rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pola pengelolaan keuangan ini disebut dengan Pola Pengelolaan Keuangan
Badan Layanan Umum (PPK – BLU). Pola Pengelolaan Keuangan BLU (PPK –
BLU) diterapkan oleh setiap instansi pemerintah yang secara fungsional
menyelenggarakan kegiatan yang bersifat operasional. Instansi yang dimaksud
dapat berasal dari dan berkedudukan pada berbagai jenjang eselon atau
noneselon. Penetapan sebagai BLU adalah terkait pengelolaan keuangannya,
bukan dalam kelembagaannya. Sehingga pengertian BLU yang menjelaskan
“instansi di lingkungan pemerintah yang dibentuk” tidak berarti suatu instansi
pemerintah yang akan menerapkan PK BLU harus membentuk satuan kerja
(satker) yang baru.
BLU bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka
memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangka dengan
memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip
ekonomi dan produktivitas serta penerapakan praktik bisnis yang sehat.

7
Sedangkan asas – asas BLU adalah sebagai berikut:
1) BLU beroperasi sebagai unit kerja kementerian negara/lembaga untuk tujuan
pemberi layanan umum yang pengelolaannya berdasarkan kewenangan yang
didelegasikan oleh instansi induk yang bersangkutan
2) BLU merupakan bagian perangkat pencapaian tujuan kementerian
negara/lembaga dan karena status hukum BLU tidak terpisah dari
kementerian negara/lembaga/pemerintah daerah sebagai instansi induk
3) Menteri/pimpinan lembaga bertanggung jawab atas pelaksanaan kebijakan
penyelenggaraan pelayanan umum yang didelegasikannya kepada BLU dari
segi manfaat layanan yang dihasilkan
4) Pejabat yang ditunjuk mengelola BLU bertanggung jawab atas pelaksanaan
kegiatan pemberian layanan umum yang didelegasikan kepadanya oleh
menteri/pimpinan lembaga
5) BLU menyelenggarakan kegiatannya tanpa mengutamakan pencarian
keuntungan
6) Rencana kerja dan anggaran serta laporan keuangan dan kinerja BLU
disusun dan disajikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari rencana
kerja dan anggaran serta laporan keuangan dan kinerja kementerian
negara/lembaga
7) BLU mengelola penyelenggaraan layanan umum sejalan dengan praktik
bisnis yang sehat

5. Mengapa dalam penyusunan laporan keuangan, Badan Layanan Umum


diwajibkan untuk menyusun dua laporan keuangan sekaligus dengan
berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan dan Standar Akuntansi Pemerintah
serta sebutkan beberapa implikasi yang akan dihadapi oleh perguruan tinggi
Universitas dalam menerapkan sistem BLU ?
Jawaban:
BLU diharuskan untuk menyusun laporan keuangan sesuai dengan Standar
Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh organisasi profesi. Namun sebagai
entitas pemerintah yang termasuk dalam kekayaan negara yang tidak dipisahkan
laporan keuangan BLU akan dikonsolidasikan dengan LK kementerian lembaga

8
yang membawahinya. Untuk keperluan konsolidasi ini entitas BLU harus
menyusun LK dengan menggunakan SAP (Standar Akuntansi Keuangan
Pemerintah).
Mengonsolidasikan laporan keuangan yang bersumber dari dana Rupiah Murni
(DIPA) dan PNBP. Dana DIPA dilaporkan dengan cara Sistem Akuntansi
Instansi (SAI) yang mengacu Standar Akuntansi Pemerintah (SAP), sedangkan
dana masyarakat atau PNBP dilaporkan sesuai dengan Standar Akuntansi
Keuangan (SAK).
PMK No 76/PMK.05/2008 secara detil mengatur tentang bagaimana pelaporan
keuangan BLU sehingga dapat memenuhi ketentuan UU 17 tahun 2003 tentang
Keuangan Negara dan PP 23 2005 tentang Pengelolaan BLU. PMK tersebut
mengatur tentang sistem akuntansi dan tata caara penyusunan laporan keuangan.
Akuntansi dan pelaporan keuangan BLU yang berdasarkan SAK sesuai yang
diterbitkan oleh Asosiasi Profesi Akuntansi Indonesia. Laporan keuangan
tersebut terdiri dari laporan realisasi anggaran/laporan operasional, neraca,
laporan arus kas, catatan atas laporan keuangan dan laporan kinerja. Sedangkan
laporan keuangan BLU yang berdasarkan SAP terdiri dari laporan realisasi
anggaran, neraca, dan catatan atas laporan keuangan. Berikut dijelaskan uraian
terkait LK K/L berdasarkan SAP dan SAK sebagai berikut:

9
Implikasi penerapan BLU terhadap aplikasi akuntansi
Terdapat beberapa implikasi yang akan dihadapi oleh perguruan tingi universitas
dalam menerapkan sistem Blu tersebut, berikut beberapa implikasinya :
1. Keuangan dan Anggaran
Dana masyarakat yang diterima perguruan tinggi tersebut akan menjadi
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNPB), dengan demikian maka
pengelolaannya harus mengikuti aturan Undang – Undang Keuangan Negara
dan penyimpangan atas pengelolaan PNPB dapat dikategorikan merugikan
keuangan negara. Selanjutnya, anggaran yang disusun oleh perguruan tinggi
harus dikonsolidasikan dengan anggaran Kemdikdub (pemerintah).
Pengonsolidasian dua metode ini merupakan kesulitan tersendiri karena
masing – masing mempunyai kode akun yang berbeda dan tata cara
pengakuannya juga berbeda. DIPA mengacu pada pencatatan berbasis kas
sedangkan PNBP berbasis akrual.
2. Pengelolaan Aset
Aset yang dioperasional di Universitas akan masuk sebagai kategori barang
milik negara dan pengelolaannya harus mengikuti aturan yang diterbitkan
negara yaitu PP No. 6 Tahun 2006 tentang Barang Milik Negaran yang
menjelaskan bahwa pengelolaan barang milik negara meliputi perencanaan
kebutuhan dan penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan,
pengamanan, dan pemeliharaan, penghapusan, pemindahtanganan,
penatausahaan, pembinaan, dan pengawasan serta pengendalian. Masing –
masing kegiatan tersebut memiliki dampak baik secara teknis
pengelolaannya maupun secara akuntansi pencatatannya.
3. Pengelolaan Piutang dan Utang
Pada prinsipnya pengelolaan piutang BLU mengikuti aturan – aturan yang
berlaku pada satuan kerja pemerintah lainnya. Dalam pengelolaan
keuangannya, BLU dapat memberikan piutang terkait dengan tagihan
sedangkan terkait dengan penghapusannya harus berdasarkan PP No. 14
Tahun 2005 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Negara atau Daerah.
Sedangkan untuk pembayaran utang BLU pada prinsipnya juga menjadi
tanggung jawab BLU itu sendiri. Pengelolaan utang harus sesuai dengan

10
peruntukannya yaitu utang jangka pendek untuk belanja operasional dan
utang jangka panjang untuk menutupu belanja modal. Hal tagih atas utang
BLU kedaluwarsa setelah lima tahun sejak utang tersebut jatuh tempo,
kecuali diterapkan lain oleh peraturan yang ada (undang – undang).
4. Pengelolaan Investasi
Satuan kerja BLU tidak diperkenankan melakukan investasi jangka panjang
kecuali atas persetujuan Menteri Keuangan. Meskipun demikian, dapat
dijelaskan bahwa investasi jangka panjang yang dimaksud antara berupa
penyertaan modal, pemilikan obligasi jangka panjang, misalnya pendirian
perusahaan. Namun, apabila satuan kerja BLU mendirikan atau membeli
badan usaha yang berbadan hukum, maka kepemilikannya berada pada
Menteri Keuangan, tetapi keuntungan yang diperoleh menjadi pendapatan
satuan kerja BLU.

6. Mengapa dalam akuntansi dana untuk Universitas perlu memperhatikan


beberapa hal sehubungan dengan pendapatan dan belanja ?
Jawaban :
Universitas merupakan salah satu bentuk perguruan tinggi selain akademik,
politeknik dan institute. Dalam aplikasi akuntansi dana dalam praktiknya dapat
dilihat dari praktik akuntansi universitas sebagai salah satu jenis organisasi
nirlaba. Akuntansi dana untuk universitas serupa dengan akuntansi unit – unit
pemerintah. Keduanya mencatat pendapatan dan belanja untuk masing – masing
dana, menggunakan anggaran untuk merencanakan dan memonitor operasi, juga
menggunakan sistem beban pemesanan untuk mencatat pesanan pembelian yang
dilakukan, memiliki transaksi dan transfer antar dana serta menyajikan neraca
serta laporan operasi untuk periode berjalan.
Sehubungan dengan pendapatan dan belanja dalam akuntansi dana untuk
universtas terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:
a. Remisi uang kuliah dan piutang tak tertagih
Uang Kuliah atau SPP (tuition and fees) adalah sumber pendapatan utama
dari Dana Lancar Tidak terikat. Jumlah uang kuliah yang seharusnya
terkumpul berdasarkan tarif standar diakui secara penuh sebagai pendapatan.

11
Beasiswa dan remisi (potongan) uang kuliah termasuk piutang tak tertagih
dicatat sebagai belanja, hal ini hanya berlaku untuk beasiswa yang
disponsori langsung oleh universitas.
Kas xxxx
Pendapatan belanja xxxxx
b. Pengembalian Uang Kuliah
Pengembalian uang kuliah (untuk mahasiswa yang mengundurkan diri)
dicatat sebagai pengurangan pendapatan. Ketika pengembalian disetujui,
universitas mendebit pendapatan dari uang kuliah dan mengkredit kas atau
piutang.
Pendapatan uang SPP xxxxx
Kas xxxxx
c. Sesi Perkuliahan yang berlangsung pada Dua periode
Suatu sesi perkuliahan mungkin dimulai pada satu periode berjalan namun
baru diselesaikan pada perode berikutnya. Akuntansi dana untuk universitas
mengharuskan bahwa uang kuliah yang dipungut untuk sesi perkuliahan
tersebut diakui sebagai pendapatan pada periode dimana sesi perkuliahan
tersebut paling sering dilaksanakan, bersama dengan seluruh belanja yang
berhubungan dengan sesi perkuliahan tersebut. Jika uang kuliah dipungut
pada periode berjalan sedangkan perkuliahan dilaksanakan pada periode
berikutnya maka akan dijurnal sebagai berikut :
Kas xxxxx
Pendapatan tangguhan xxxxx
d. Transfer dan Penyisihan Dana
Transfer Wajib (mandatory transfer) adalah transfer dari Dana Lancar ke
dana lainnya untuk memenuhi ketentuan dari pihak eksternal dalam suatu
perjanjian. Sedangakan Transfer Tidak Wajib (nonmandotory transfer)
adalah transfer serupa namun ditentukan sendiri oleh pihak universitas untuk
berbagai tujuan.
Penyisihan atau dana yang penggunannya ditetapkan oleh dewan (board-
designated funds) adalah penyisihan internal, serupa dengan penyisihan laba

12
ditahan. Manajemen dapat menetapkan atau mencabut penyisihan menurut
kebijakannya sendiri.
e. Investasi
Dilaporkan pada nilai wajar dalam neraca suatu instuisi publik. Pendapatan
investasi, termasuk perubahan dalam nilai wajar untuk periode berjalan,
harus dilaporkan sebagai pendapatan dalam laporan operasi entitas yang
sesuai.
f. Sumbangan
Universitas mencari pemasukan dari alumni, perusahaan dan lembaga
eksternal. Selain itu, universitas juga mencari pendapatan tambahan dari
lembaga-lembaga internalnya. Untuk sumbangan ini yang perlu diperhatikan
yaitu adanya pemisahan antara sumbanagn yang mengikat dengan
sumbangan yang tidak mengikat.Sumbangan yang mengikat yang diterima
dan dicatat dalam Dana Lancar Teikat dan dibelanjakan sesuai dengan
batasannya. Sumbangan yang tidak mengikat dalam Dana Lncar Tidak
terikat dan dibelanjakan sesuai dengan kebutuhan universitas yang
telahditentukan.
Pemasukan yang berupa property diakui sebagai pendapatan pada nilai
wajarnya. Untuk pemasukan yang berupa jasa, seperti jasa dari mahasiswa
lama untuk melaksanakan program orientasi bagi mahasiswa baru, biasanya
tidak dicatat oleh universitas.
g. Depresiasi
Depresiasi harus dilaporkan sebagai belanja (expenditure) dalam dana yang
menggunkan aktiva bersangkutan selama periode berjalan.
h. Pendapatan
Pendapatan universitas diperoleh dari mahasiswa yang membyaar uang
kuliahnya.
i. Belanja
Belanja yang dilakukan universitas adalah menyangkut persediaan dan
perlengkapan yang digunakan universitas dalah kegiatan operasinya.
j. Transfer

13
Transfer dana yang terjadi di universitas memiliki tujuan yang beragam,
seperti: pembayaran hutang, penambahan dana, perbaikan dan penggantian
aktiva, pemenuhan ketentuan kontrak, pembagian keuntungan investasi, dll

7. Mengapa masalah pembiyaan merupakan faktor yang sangat penting dan


menentukan kehidupan suatu organisasi seperti halnya lembaga – lembaga
pendidikan?
Jawaban:
Pendidikan adalah faktor penting untuk mewujudkan sumber daya manusia
(SDM) yang berkualitas. Kenyataannya, tidak semua orang dapat memperoleh
pendidikan yang wajar karena mahalnya biaya yang harus dikeluarkan. Kondisi
inilah kemudian mendorong dimasukkan aturan tentang pendidikan dalam
amandemen UUD 1945. Konstitusi mengamanatkan kewajiban pemerintah
untuk mengalokasi biaya pendidikan 20% dari APBN maupun APBD agar
masyarakat dapat menikmati pelayanan pendidikan. Dengan diadakannya 20%
alokasi pembiayaan dari APBN dan APBD seharusnya mampu digunakan secara
efektif dan efisien. Oleh karena itu, salah satu aspek penting dalam proses
penyelenggaraan pendidikan baik dari tingkat kementerian pendidikan, dan
kebudayaan, kementeriaan agama sampai dengan tingkat satuan pendidikan
adalah pembiayaan. Manajemen pembiayaan pendidikan adalah segenap
kegiatan yang berkenaan dengan penataan sumber penggunaan dan
pertanggungjawaban dana pendidikan di sekolah atau lembaga pendidikan
sehingga manajemen keuangan dapat dipahami sebagai tindakan
pengurusan/ketatausahaan keuangan yang meliputi pencatatan, perencanaan,
pelaksanaan, pertanggungjawaban dan pelaporan.
Dengan demikian masalah keuangan sangat erat berhubungan dengan
pembiayaan, itulah sebabnya setiap awal tahun bapak Presiden sebagai Kepala
Negara telah mengajukan rencana pendapatan dan belanja Negara di depan
anggota DPR sebagai wakil rakyat Indonesia untuk pembiayaan tahun anggaran
yang akan datang. Dalam pengertian umum keuangan, kegiatan pembiayaan
meliputi tiga hal, yaitu:

14
- Budgeting : penyusunan anggaran
- Accounting : pembukuan
- Auditing : pemeriksaan
1. Budgeting

Istilah anggaran seringkali dianggap sebagai pengertian suatu perencanaan.


Namun dalam bidang pendidikan sering dijumpai dua istilah yaitu RAPEN
(rencana anggaran dan pendapatan belanja Negara) dan RAPES (rencana
anggaran dan pendapatan belanja sekolah). Dalam dua istilah tersebut
“anggaran” bukanlah suatu rencana. Istilah “rencana” telah memberikan
penekanan atas pemakaian istilah “anggaran” sebagai suatu rencana. Setiap
organisasi tentu memerlukan anggaran untuk menunjang kegiatannya. Oleh
karena anggaran ini sifatnya masih rencana dan menyangkut keperluan orang
banyak, maka anggaran baru sah bila mendapatkan pengesahan dari atasan yang
berwenang.

2. Accounting (pembukuan)

Kegiatan kedua dari akuntabilitas pembiayaan adalah pembukuan atau kegiatan


pengurusan keuangan. Pengurusan ini meliputi dua hal yaitu, pertama
pengurusan yang menyangkut kewenngan menentukan kebijakan menerima atau
mengeluarkan uang. Pengurusan ini dikenal dengan istilah pengurusan
ketatausahaan. Pengurusan kedua menyangkut urusan tindak lanjut dari urusan
pertama yakni, menerima menyimpan dan mengeluarkan uang.

3. Auditing (pemeriksaan)

Yang dimaksud auditing adalah semua kegiatan yang menyangkut


pertanggungjawaban penerimaan, penyimpanan dan pembayaran atau
penyerahan uang yang dilakukan bendaharawan kepada pihak – pihak yang
berwenang. Bagi unit – unit yang ada di dalam departemen,
mempertanggungjawabkan urusan keuangan ini kepada BPK melalui
departemen masing – masing.

15
Karakteristik Pembiayaan Pendidikan
Beberapa hal yang merupakan karakteristik atau ciri – ciri pembiayaan
pendidikan adalah :

1. Biaya pendidikan selalu naik. Perhitungan pembiayaan dinyatakan dalam


satuan unit COST (Unit Satuan Terkecil : Cost = Biaya)
Tinjauan unit cost bisa bermacam – macam menurut luasnya faktor yang
diperhitungkan. Unit cost lengkap yaitu perhitungan unit Cost berdasarkan
fasilitas yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan pendidikan termasuk
gedung halaman sekolah, lapangan, gaji guru, gaji personil, pembiayaan
bahan dan alat (teori, praktek, laboratorium) dihitung keseluruhan program
baik yang tergolong dalam kurikulum maupun ekstra kurikuler.
- Unit cost lengkap, yaitu perhitungan unit cost berdasarkan semua
fasilitas yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan pendidikan
- Unit cost setengah lengkap, hanya memperhitungkan biaya kebutuhan
yang berkenaan dengan bahan dan alat yang berangsur habis walaupun
jangka waktunya berbeda
- Unit cost sempit yaitu unit cost yang diperoleh hanya dengan
memperhitungkan biaya yang langsung berhubungan dengan
memperhitungkan biaya yang lain yang berhubungan dengan kegatan
belajar mengajar
2. Biaya terbesar dalam pelaksanaan pendidikan adalah biaya pada faktor
manusia. Pendidikan dapat dikatakan sebagai “Human Investmen” yang
artinga biaya terbesar diserap oleh tenaga manusia
3. Unit cost pendidikan akan naik sepadan dengan tingkat sekolah
4. Unit cost pendidikan dipengaruhi oleh jenis lembaga pendidikan. Biaya
sekolah kejuruan lebih besar daripada biaya untuk sekolah umum
5. Komponen yang dibiayai dalam sistem pendidikan hampir sama dari tahun
ke tahun

8. Mengapa masalah anggaran pendidikan pada era otonomi pengelolaan lembaga


pendidikan perlu disusun dengan pendekatan kinerja?

16
Jawaban:
Seiring dengan tuntutan good corporate governance dan reformasi pengelolaan
sektor publik yang ditandai dengan munculnya era new public management,
dengan tiga prinsip utamanya yang berlaku secara universal yaitu profesional,
transparansi, dan akuntabilitas. Telah mendorong adanya usaha untuk
meningkatkan kinerja di bidang pengelolaan keuangan, dengan mengembangkan
pendekatan yang lebih sistematis dalam penganggaran sektor publik.
Penganggaran berbasis kinerja atau performance budgeting merupakan suatu
pendekatan dalam penyusunan anggaran yang berorientasi pada kinerja atau
prestasi yang ingin dicapai.
Anggaran berbasis kinerja dapat dikatakan merupakan hal baru karena pusat
perhatian diarahkan pada upaya pencapaian hasil, sehingga menghubungkan
alokasi sumber daya atau pengeluaran dana secara eksplisit dengan hasil yang
ingin dicapai. Dengan demikian pengalokasian sumber daya didasarkan pada
aktivitas untuk pencapaian hasil yang dapat diukur secara spesifik, melalui
proses perencanaan strategis dengan mempertimbangkan isu kritis yang dihadapi
lembaga, kapabilitas negara, dan masukan dari stakeholder.
Adanya tuntutan reformasi merupakan tantangan dan prospek bagi lembaga
pendidikan guru untuk merevitalisasi manajemen pendidikan guru. Walaupun
dalam prakteknya, penyelenggaraan otonomi pengelolaan lembaga pendidikan
bagi sebagian Perguruan Tinggi malah menjadi beban tersendiri, karena otonomi
pengelolaan perguruan tinggi sebagai BHMN (Badan Hukum Milik Negara)
tidak dapat dilepaskan dari isu kapasitas keuangan perguruan tinggi, dan
seringkali dikaitkan dengan prinsip automoney, sehingga kemandirian perguruan
tinggi dalam menyelenggarakan kewenangannya diukur dari kemampuannya
menggali sumber – sumber pendapatan sendiri.
Implikasi dari penerapan prinsip automoney ini kemudian mendorong perguruan
tinggi untuk meningkatkan pendapatan internal, antara lain melalui
pengembangan model penerimaan mahasiswa baru yang tidak hanya sebatas
SMPTN, tetapi juga melalui berbagai jalur khusus lainnya seperti ujian masuk
(UM) PTN, yang pada intinya adalah peningkatan penerimaan SPP dan DPP.
Meskipun kini paradigma penyelenggaran otonomi pengelolaan lembaga

17
pendidikan telah mengalami pergeseran, sejalan dengan adanya keputusan
Mahkamah Agung yang membatalkan UU tentang BHP dan cenderung bergerak
ke arah Badan Layanan Umum (BLU). Namun pada kenyataannya kapasitas
keuangan lembaga pendidikan masih dititik beratkan pada kemampuan
menggalli pendapatan internal dari sektor SPP dan DPP, yang justru
menimbulkan beban baru, antara lain menimbulkan biaya ekonomi dan
memberatkan bagi mahasiswa dan masyarakat. Kondisi inilah yang kemudian
mendorong berkembangnya wacana mengenai perlunya dilakukan reformasi
anggaran, karena sistem anggaran yang selama ini digunakan yaitu sistem
lineitem budgeting dan zero based budgeting atau incremental, dalam
penerapannya ternyata memiliki berbagai kelemahan yang memberi peluang
terjadinya pemborosan dan penyimpangan anggaran.
Kelemahan dari sistem anggaran tersebut antara lain: (1) orientasi pengelolaan
anggaran lebih terpusat pada pengendalian pengeluaran berdasarkan penerimaan,
dengan prinsip balance budget, sehingga akuntabilitas terbatas pada
pengendalian anggaran, bukan pada pencapaian hasil atau outcome. (2) Adanya
dikotomi antara anggaran rutin dan pembangunan yang tidak jelas; (3)
Implementasi basis alokasi yang tidak jelas dan hanya terfokus pada ketaatan
anggaran.
Melalui penerapan anggaran berbasis kinerja, lembaga pendidikan dituntut untuk
membuat standar kinerja pada setiap anggaran kegiatan, sehingga jelas kegiatan
apa yang akan dilakukan, berapa biaya yang dibutuhkan, dan apa hasil yang
akan diperoleh . Klasifikasi anggaran dirinci mulai dari sasaran strategis sampai
pada jenis belanja dari masing – masing kegiatan atau program kerja, sehingga
memudahkan dilakukannya evaluasi kinerja. Dengan demikian, diharapkan
penyusunan dan pengalokasian anggaran dapat lebih disesuaikan dengan skala
prioritas dan preferensi lembaga pendidikan bersangkutan, dengan
memperhatikan prinsip ekonomis, efisiensi dan efektivitas.

9. Mengapa pendanaan perguruan tinggi dalam rangka membiayai aktivitasnya


harus diterapkan pada asas good university goovernance yang mengandung

18
prinsip kemandirian, transparansi dan akuntabilitas menjadi salah satu fenomena
dalam suatu tata kelola layanan publik?
Jawaban :
Perguruan Tinggi Negara (PTN) merupakan salah satu lembaga sosial yang
bertugas mengembangkan ilmpu pengetahuan dan teknologi. Dunia usaha,
pemerintah, dan masyarakat menuntut PTN untuk memenuhi kebutuhan mereka
akan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih tinggi. Konsekuensinya, PTN
harus mengikuti perubahan. Untuk memenuhi tuntutan yang semakin global dan
kompleks tersebut, PTN memerlukan pendanaan dalam rangka membiayai
aktivitasnya dengan menekankan pada asas good university governence yang
mengandung prinsip transparansi, akuntabilitas, dan mampu menerapkan
pengelolaan keuangan yang fleksibel dengan menonjolkan produktivitas,
efisiensi, dan efektivitas.
Sebagaimana dipahami bahwa good corporate governance merujuk pada tata
kelola perusahaan yang baik. Menurut Aristo (2005 : 2) mengemukakan wacana
konsep serupa untuk perguruan tinggi, yaitu good governance. Konsep good
corporate governance sebenarnya merupakan turunan dari konsep tata
pemerintahan yang lebih umum, yaitu good governance.
Definisi yang dikutip dari OECD (Organisation for Economic Cooperation and
Development) memberikan penjelasan yang lebih lanjut bahwa struktur
corporate governance memberikan spesifikasi tentang distribusi hak dan
tanggung jawab antara berbagai peserta dalam perusahaan, seperti direksi,
manajer, pemegang saham, dan anggota stakeholder lainnya, dan menjelaskan
aturan dan prosedur tentang pengambilan keputusan dalam perusahaan. Dengan
ini, maka corporate governance memberikan struktur melalui tujuan perusahaan
dapat dicapai, dan dengan cara apa pencapaian tujuan tersebut dan dengan apa
kinerja perusahaan dapat dimonitor. Corporate governance adalah sistem
manajemen yang berprinsip pada kejelasan tanggung jawab dan tugas, keadilan,
transparansi, tanggung jawab dan akuntabilitas. Semua entitas yang perlu
pengelolaan dan dimana stakeholder-nya menyangut masyarakat luas,
memerlukan good corporate governance. Oleh karena itu, sudah sejak lama

19
perguruan tinggi di negara – negara maju sadar akan hal itu dan melaksanakan
corporate governance di universitas masing – masing.
Kemandirian
Sesuai dengan Organisation for Economic Cooperation and Development
(OECD) (2009 : 124) yaitu perguruan tinggi berkaitan dengan aspek
kemandirian, rektor, dan senat memiliki pendapat yang independen dalam setiap
keputusan yang diambil. Sedangkan penerapan kemandirian di bidang SDM
dapat dilakukan dalam penunjukan pejabat di tingkat tertentu. Kandidat yang
terpilih (short listed candidates) ditentukan melalui job tender, sidang jabatan
dan assesment tools melalui assesment center, dengan memperhaikan hasil nilai
kinerja individu, assesment online dan assesment center.
Pelaksanaan kemandirian di perguruan tinggi meliputi :
a. Masing – masing unit kerja di perguruan tinggi telah menghindari terjadinya
dominasi oleh pihak manapun, tidak terpengaruh oleh kepentingan tertentu,
bebas dari benturan kepentingan dan dari segala pengaruh dan tekanan,
sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan secara obyektif.
b. Masing – masing unit kerja di perguruan tinggi telah melaksanakan fungsi
dan tugasnya sesuai dengan anggaran dasar dan peraturan perundang –
undangan, tidak saling mendominasi dan atau melempar tanggung jawab
antara satu dengan yang lain sehingga terwujud sistem pengendalian internal
yang efektif.
Transparansi
Perguruan tinggi bertanggung jawab atas kewajiban keterbukaan informasi serta
menyediakan informasi bagi stakeholders sehingga posisi dan pengelolaan
perguruan tinggi dapat mencerminkan kondisi rill dan harapan terhadap
perguruan tinggi di masa yang akan datang. Pelaksanaan transparansi di
perguruan tinggi meliputi :
a. Perguruan tinggi telah menyediakan informasi secara tepat waktu, memadai,
jelas, akurat, dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh pemangku
kepentingan sesuai dengan haknya

20
b. Prinsip ketebukaan yang dianut oleh perguruan tinggi tidak mengurangi
kewajiban untuk memenuhi ketentuan kerahasiaan universitas sesuai dengan
peraturan perundang – undangan, rahasia jabatan, dan hak – hak pribadi
c. Kebijakan perguruan tinggi telah tertulis dan secara proporsional
dikomunikasikan kepada pemangku kepentingan
Misalnya, transparansi dalam proses pengambilan keputusan antara lain melalui
pengembangan infrastruktur informasi berupa intranet, knowledge management,
yang merupakan sarana karyawan dalam menyampaikan berbagai informasi
berupa tulisan, ide-ide atau gagasan. Transparansi kepada mitra kerja dapat
menerapkan aplikasi e-procurement dan e-tender (e-auction) dan implementasi
modul pemasok manajemen dalam proses pengadaan barang dan jasa.
Transparansi penilaian kinerja pegawai dengan menggunakan kompetensi
assesment tools, melalui assesment online penilaian dilakukan secara langsung
yang melibatkan pegawai yang bersangkutan, atasan langsung, rekan sekerja,
dan bawahan serta dokumen nilai kinerja individu.
Akuntabilitas
Salah satu kebijakan yang di tuangkan pada PP No.61 Tahun 1999 terkait
dengan pengelolaan perguruan tinggi adalah akuntabilitas yang tercantum pada
pasal 20 yang intinya adalah dalam waktu lima bulan setelah tahun buku di
tutup, pimpinan dan majelis wali amanat wajib menyampaikan laporan tahunan
kepada menteri, berupa laporan keuangan dan laporan akademik yang setelah
mendapat pengesahan menteri, menjadi informasi public. Laporan tahunan
keuangan maupun laporan akademik tahuan di tandatangani oleh semua angota
pimpiann perguruan tinggi dan disampaikan ke majelis wali amanat.

10. Mengapa Sistem Penilaian Kinerja (SPK) menjadi hal yang sangat penting
dilakukan dan dibutuhkan tidak hanya dunia bisnis tetapi juga di dunia
pendidikan yaitu perguruan tinggi baik negeri maupun swasta?
Jawaban:
Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap institusi
untuk mewujudkan cita – cita pengelolaan dan mencapai tujuan yang
diharapkan. Dalam rangka itu diperlakukan pengembangan dan penerapan

21
sistem pertanggung jawaban yang tepat, jelas, terukur dan legitimate sehingga
penyelenggaraan kegiatan dan usaha – usaha pengembangan dapat berlangsung
secara berdayaguna, berhasil guna, dan bertanggung jawab.
Pentingnya penilaian kinerja di dunia pendidikan membuat Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi (Dikti) memasukkan penilaian kinerja kedalam format
manajemen baru untuk peningkatan mutu, penilaian kinerja (akreditasi) dan
evaluasi kinerja sebuah perguruan tinggi baik negeri maupun swasta.
Kementerian Pendidikan Nasional mengawasi dan membina mutu pendidikan
tinggi membentuk sebuah badan yang disebut Badan Akreditasi Nasional (BAN)
yang salah satu tugasnya melakukan penilaian kinerja (akreditasi) perguruan
tinggi. Sistem Penilaian Kinerja (SPK) dari BAN lebih menekankan pada
penilaian terhadap kriteria pelaksanaan perguruan tinggi dan dan persyaratan
perizinan, sehingga lebih bersifat administrasi. Dengan kata lain menekankan
pada dampak eksternal.
Laporan akuntabilitas kinerja ini lebih menekankan pada dampak internal dan
tidak hanya bersifat administrasi serta memiliki peran yang besar terhadap
pencapaian visi dan misi tetapi juga memiliki korelasi dengan strategi maka
laporan ini dibangun berdasarkan visi, misi, dan strategi yang telah disepakati.
Perguruan tinggi sebagai sebuah institusi perlu membentuk Sistem Penilaian
Kinerja demi terciptanya visi dan misi sebagai bagian dari sistem penjaminan
mutu. Sistem Penilaian Kinerja yang baik haruslah terintegrasi untuk semua unit
dan aktivitas di Perguruan Tinggi. Indikator kinerja yang terbentuk tidak hanya
berupa indikator kinerja finansial (keuangan) tetapi juga indikator kinerja
nonfinansial.
Pengukuran indikator kinerja dirumuskan berdasarkan sasaran yang
direalisasikan pada program/kegiatan. Sasaran dan program/kegiatan yang
dimaksud pada rencana kinerja ini adalah sasaran dan program/kegiatan
sebagaimana dimuat dalam dokumen renstra dan rencana operasional.

22