Anda di halaman 1dari 19

Nama :Citrawati Baby Litone

Kelas :A
NIM : 12030117420080
Dosen Pengampu : Dr. Warsito Kawedar, Ak, CA

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK


RESUME MATERI
AKUNTANSI RUMAH SAKIT

1. Mengapa terdapat perbedaan karakteristik pengelolaan keuangan antara BLU Rumah


Sakit dengan BUMN/BUMD padahal sama-sama merupakan unit pemerintah yang
dikelola secara otonom dengan prinsip efisiensi, dan produktivitas?
Jawaban:
Rumah sakit berbentuk Badan Layanan Umum (BLU) adalah instansi di
lingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada
masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan
mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip
efisiensi dan produktivitas. Tujuan BLU adalah meningkatkan pelayangan kepada
masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan
kehidupan bangsa dan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan
berdasarkan prinsip ekonomi dan produktivitas dan penerapan praktik yang sehat (PP
No. 23/2005 tentang pengelolaan keuangan BLU). Rumah sakit berbentuk BLU
antara lain, RSCM, RS Jantung Harapan Kita, RS Hasan Sadikin Bandung, RS
Makassar, RS Karyadi Semarang, RS Sanglah Denpasar, RS Padang, RS palembang,
dan RS Dr. Sadjito Yogyakarta. Sedangkan RSUD yang sudah dialihkan menjadi
BLUD antara lain RSUD Budi Asih, RSUD Tarakan , Koja, Duren Sawit, RSUD
Haji, dan RSUD Pasar Rebo.
Rumah sakit milik pemerintah ini dibedakan menjadi rumah sakit milik pemerintah
pusat yang dikenal Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dan rumah sakit milik
pemerintah provinsi dan kabupaten atau kota yaitu RSUD.
Perbedaan keduanya ada pada kepemilikan dimana RSUP merupakan milik
pemerintah pusat yang mengacu pada Departemen Kesehatan (DepKes), sedangkan
RSUD merupakan milik pemerintah provinsi dan kabupaten atu kota dengan

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Page 1


pembinaan urusan kerumahtanggaan dari Departemen Dalam Negeri. Namun, RSUD
tetap berada di bawah koordinasi Departeman Kesehatan.
Berikut dua jenis rumah sakit milik pemerintah :
a. Rumah sakit milik pemerintah yang tidak dipisahkan
Adalah rumah sakit yang dimiliki oleh kekayaan pemerintah. Contoh : RSUD
Banyumas dan RSUD Tangerang
b. Rumah sakit milik pemerintah yang dipisahkan
Adalah rumah sakit yang dimiliki oleh kekayaan pemerintah yang dipisahkan,
misalnya milik BUMN PT Aneka Tambang, PT Pelni dan beberapa perusahaan
perkebunan. Karena rumah sakit tersebut merupakan bagian dari BUMN,
keadaannya sangat bergantung pada kondisi keuangan BUMN yang menjadi
induknya.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat diketahui bahwa berdasarkan kepemilikiannya,
rumah sakit di Indonesia perlu dibedakan. Rumah sakit pemerintah dituntut untuk
menjadi rumah sakit yang murah dan bermutu. Dalam pengelolaannya rumah sakit
pemerintah memiliki peraturan pendukung yang terkait dengan pengelolaan keuangan
yang fleksibel. Berdasar PP No. 23 tahun 2005 tersebut rumah sakit pemerintah telah
mengalami perubahan sebagai badan layanan umum. Perubahan kelembagaan ini
berimbas pada pertanggungjawaban keuangan bukan lagi kepada departemen
kesehatan tetapi kepada departemen keuangan. Oleh karena itu, sekalipun BLU
dikelola secara otonom dengan prinsip efisiensi dan produktivitas ala korporasi,
namun terdapat beberapa karakteristik lainnya yang membedakan pengelolaan
keuangan BLU dengan BUMN/BUMD, yaitu:
1. BLU dibentuk untuk meningkatkan pelayanan kepada msyarakat dalam rangka
memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa;
2. Kekayaan BLU merupakan bagian dari kekayaan negara/daerah yang tidak
dipisahkan serta dikelola dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk menyelenggarakan
kegiatan BLU yang bersangkutan;
3. Pembinaan BLU instansi pemerintah pusat dilakukan oleh Menteri Keuangan dan
pembinaan teknis dilakukan oleh menteri yang bertanggung jawab atas bidang
pemerintahan yang bersangkutan;
4. Pembinaan keuangan BLU instansi pemerintah daerah dilakukan oleh pejabat
pengelola keuangan daerah dan pembinaan teknis dilakukan oleh kepala satuan

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Page 2


kerja perangkat daerah yang bertanggung jawab atas bidang pemerintahan yang
bersangkutan;
5. Setiap BLU wajib menyusun rencana kerja dan anggaran tahunan;
6. Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) serta laporan keuangan dan laporan kinerja
BLU disusun dan disajikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari RKA serta
laporan keuangan dan laporan kinerja kementerian negara/lembaga/pemerintah
daerah;
7. Pendapatan yang diperoleh BLU sehubungan dengan jasa layanan yang diberikan
merupakan pendapatan negara/daerah;
8. Pendapatan tersebut dapat digunakan langsung untuk membiayai belanja yang
bersangkutan;
9. BLU dapat menerima hibah atau sumbangan dari masyarakat atau badan lain;
10. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan keuangan BLU diatur dalam
peraturan pemerintah (dhi. PP No. 23 Tahun 2005).

2. Mengapa rumah sakit sebagai BLU perlu mempersiapkan persyaratan substantif,


persyaratan teknis, dan persyaratan administratif dalam tuntutan sebagai rumah
sakit yang murah dan bermutu dalam pengelolaan?
Jawaban:
Perkembangan pengelolaan rumah sakit, baik dari aspek manajemen maupun
operasional sangat dipengaruhi oleh berbagai tuntutan dari lingkungan, yaitu antara
lain bahwa ruma sakit dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu
dan biaya pelayanan kesehatan terkendali sehinga akan berujung pada kepuasan
pasien. Tuntutan lainnya adalah pengendalian biaya. Pengendalian biaya merupakan
masalah yang kompleks karena dipengaruhi oleh berbagai pihak yaitu, mekanisme
pasar, tindakan ekonomis, sumber daya manusia yang dimiliki (profesionalitas) dan
yang tidak kalah penting adalah perkembangan teknologi dari rumah sakit itu sendiri.
Sesuai dengan syarat-syarat BLU bahwa yang dimaksud dengan persyaratan
substantif, persyaratan teknis dan persyaratan admnistratif adalah berkaitan dengan
standar layanan, penentuan tarif layanan, pengelolaan keuangan,tata kelola semuanya
harus berbasis kinerja. Hal-hal yang harus dipersiapkan bagi rumah sakit untuk
menjadi BLU dalam aspek teknis keuangan adalah:
1. Penentuan tarif harus berdasar unit cost dan mutu layanan. Dengan demikian
rumah sakit pemerintah harus mampu melakukan penelusuran (cost tracing)

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Page 3


terhadap penentuan segala macam tarif yang ditetapkan dalam layanan. Selama ini
aspek penentuan tarif masih berbasis aggaran ataupun subsidi pemerintah
sehingga masih terdapat suatu cost culture yang tidak mendukung untuk
peningkatan kinerja atau mutu layanan. Penyusunan tarif rumah sakit seharusnya
berbasis pada unit cost, pasar (kesanggupan konsumen untuk membayar dan
strategi yang diipilih. Tarif tersebut diharapkan dapat menutup semua biaya,
diluar subsidi yang diharapkan. Yang perlu diperhatikan adalah usulan tarif
jangan berbasis pada presentase tertentu namun berdasar pada kajian yang dapat
dipertanggungjawabkan. Secara umum tahapan penentuan tarif harus melalui
mekanisme usulan dari setiap divisi dalam rumah sakit dan aspek pasar dan
dilanjutkan kepada pemilik. Pemilik rumah sakit pemerintah adalah pemerintah
daerah dan DPRD.
2. Penyusunan anggaran harus berbasis akuntansi biaya bukan hanya berbasis
subsidi dari pemerintah. Dengan demikian penyusunan anggaran harus didasari
dari indikator input, indikator proses dan indikator output.
3. Menyusun laporan keuangan sesuai dengan PSAK 45 yang disusun oleh
organsisasi profesi akuntan dan siap diaudit oleh Kantor Akuntan Independen
bukan diaudit dari pemerintah.
4. Sistem remunerasi yang berbasis indikator dan bersifat evidance based. Dalam
penyusunan sistem remunerasi rumah sakit perlu memiliki dasar pemikiran
bahwatingkatan pemberian remunerasi didasari pada tingkatan, yaitu tingkatan
satu adalah basic salary yang merupakan alat jaminan safety bagi karyawan.
Basic salary tidak dipengaruhi oleh pendapatan rumah sakit. Tingkatan dua
adalah incentives yaitu sebagai alat pemberian motivasi bagi karyawan.
Pemberian incentives ini sangat dipengaruhi oleh pendapatan rumah sakit.
Tingkatan yang ketiga adalah bonus sebagai alat pemberian reward kepada
karyawan.Pemberian bonus ini sangat dipengaruhi oleh tingkat keuntungan rumah
sakit. Implementasi aspek teknis keuangan bagi rumah sakit ini akan menjadi nilai
plus dalam upayanya untuk peningkatan kualitas jasa layanan dan praktik tata
kelola yang transparan. Perhitungan dan penelusuran terhadap unit
cost memerlukan persyaratan sebagai berikut:
1. Menuntut adanya dukungan dari para stakeholder,

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Page 4


2. Memiliki keinginan yang kuat dari rumah sakit untuk berbenah, tanpa
meninggalkan misi layanan sosial tetapi harus tetap mengunggulkan rumah
sakit sebagai alat bargaining position;
3. Kesanggupan untuk mewujudkan desakan akuntabilitas dari publik kepada
rumah sakit, khususnya mengenai pola penentuan tariff;
4. Dukungan dari seluruh tim ahli, baik ahli medis, komite medis, sistem
informasi rumah sakit, akuntansi dan costing;
Dengan implementasi perubahan kelembagaan menjadi badan layanan umum, dalam
aspek teknis keuangan diharapkan rumah sakit akan memberi kepastian mutu dan
kepastian biaya menuju pada pelayanan kesehatan yang lebih baik.

3. Mengapa rumah sakit pemerintah perlu dijadikan Badan Layanan Umum (BLU) dan
apa saja keuntungan BLU bagi rumah sakit?
Jawaban:
Diterbitkannya Peraturan Pemerintah (PP) No. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Badan Layanan Umum (BLU) adalah sebagaimana yang diamanatkan
dalam Pasal 69 ayat (7) UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. PP
tersebut bertujuan untuk meningkatkan pelayanan publik oleh Pemerintah, karena
sebelumnya tidak ada pengaturan yang spesifik mengenai unit pemerintahan yang
melakukan pelayanan kepada masyarakat yang pada saat itu bentuk dan modelnya
beraneka macam.
Jenis BLU disini antara lain rumah sakit, lembaga pendidikan, pelayanan lisensi,
penyiaran, dan lain-lain. Rumah sakit sebagai salah satu jenis BLU merupakan ujung
tombak dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Namun, tak sedikit keluhan
selama ini diarahkan pada kualitas pelayanan rumah sakit yang dinilai masih rendah.
Ini terutama rumah sakit daerah atau rumah sakit milik pemerintah. Penyebabnya
sangat klasik, yaitu masalah keterbatasan dana yang dimiliki oleh rumah sakit umum
daerah dan rumah sakit milik pemerintah, sehingga tidak bisa mengembangkan mutu
layanannya, baik karena peralatan medis yang terbatas maupun kemampuan sumber
daya manusia (SDM) yang rendah.
Perkembangan pengelolaan rumah sakit, baik dari aspek manajemen maupun
operasional sangat dipengaruhi oleh berbagai tuntutan dari lingkungan, yaitu antara
lain bahwa rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang
bermutu, dan biaya pelayanan kesehatan terkendali sehingga akan berujung pada

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Page 5


kepuasan pasien. Tuntutan lainnya adalah pengendalian biaya. Pengendalian biaya
merupakan masalah yang kompleks karena dipengaruhi oleh berbagai pihak yaitu
mekanisme pasar, tindakan ekonomis, sumber daya manusia yang dimiliki
(profesionalitas) dan yang tidak kalah penting adalah perkembangan teknologi dari
rumah sakit itu sendiri. Rumah sakit pemerintah yang terdapat di tingkat pusat dan
daerah tidak lepas dari pengaruh perkembangan tuntutan tersebut.
Dipandang dari segmentasi kelompok masyarakat, secara umum rumah sakit
pemerintah merupakan layanan jasa yang menyediakan untuk kalangan menengah ke
bawah, sedangkan rumah sakit swasta melayani masyarakat kelas menengah ke atas.
Biaya kesehatan cenderung terus meningkat,dan rumah sakit dituntut untuk secara
mandiri mengatasi masalah tersebut. Peningkatan biaya kesehatan menyebabkan
fenomena tersendiri bagi rumah sakit pemerintahan karena rumah sakit pemerintah
memiliki segmen layanan kesehatan untuk kalangan menengah ke bawah. Akibatnya
rumah sakit pemerintah diharapkan menjadi rumah sakit yang murah dan bermutu.
Standar Pelayanan dan Tarif Layanan Rumah Sakit Pemerintah Daerah yang telah
menjadi BLU / BLUD menggunakan standar pelayanan minimum yang ditetapkan
oleh menteri/pimpinan lembaga /gubernur /bupati /walikota sesuai dengan
kewenangannya, harus mempertimbangkan kualitas layanan, pemerataan dan
kesetaraan layanan, biaya serta kemudahan untuk mendapatkan layanan.
Keuntungan BLU Bagi Rumah Sakit
Keuntungan BLU bagi rumah sakit yaitu :
1. Tata kelola keuangan RS lebih baik dan transparan karena menggunakan
pelaporan standar akutansi keuangan yang memberi informasi tentang laporan
aktivitas, laporan posisi keuangan, laporan arus kas dan catatan laporan keuangan.
2. RS masih mendapat subsidi dari pemerintah seperti biaya gaji pegawai, biaya
operasional, dan biaya investasi atau modal.
3. pendapatan RS dapat digunakan langsung tidak disetor ke kantor kas Negara,
hanya dilaporkan saja ke Departemen Keuangan.
4. RS dapat mengembangkan pelayanannya karena tersedianya dana untuk kegiatan
operasional RS.
5. Membantu RS meningkatkan kualitas SDM nya dengan perekrutan yang sesuai
kebutuhan dan kompetensi.
6. Adanya insentif dan honor yang bisa diberikan kepada karyawan oleh pimpinan
RS.

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Page 6


4. Mengapa akuntansi rumah sakit sangat diperlukan dalam menentukan keberhasilan
pengembangan rumah sakit serta adakah kendala dan hambatan akuntansi rumah sakit
pemerintah?
Jawaban:
Manfaat Akuntansi Rumah Sakit
Fungsi utama akuntansi di Rumah sakit adalah sebagai sumber informasi yang
diperlukan untuk pengambilan keputusan dalam pemecahan masalah dan perencanaan
untuk keberhasilan pengembangan Rumah Sakit. Secara umum akuntansi tidak lepas
dari biaya (cost), dengan perhitungan biaya yang berbeda akan menghasilkan
akuntansi biaya yang berbeda pula serta berdampak pada pengambilan keputusan
yang berbeda. Dengan demikian untuk pengambilan keputusan yang tepat serta
keberhasilan perencanaan diperlukan sistem dan pelaksanaan akuntansi Rumah Sakit
secara optimal.
Sistem akuntansi Rumah Sakit Pemerintah bertujuan untuk memberikan pengendalian
dan pengawasan terhadap jalannya keuangan rumah sakit, terlebih lagi saat ini Rumah
Sakit telah ditetapkan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) ataupun
sebagai Badan Layanan Umum yang penerimaannya harus disetor ke Negara melalui
Kantor Kas Negara. Dan membantu dalam upaya memantau peningkatan
perkembangan kinerja dan nilai Rumah Sakit.
Kendala dan Hambatan Akuntansi Rumah Sakit Pemerintah
a. Ketepatan waktu; Laporan yang tertunda dapat menghasilkan informasi yang
kurang relevan. Sebaliknya untuk menghasilkan informasi yang tepat waktu
seringkali mengurangi keandalan informasi. Untuk mengimbangkan antara
relevansi dan keandalan, kebutuhan pengambil keputusan merupakan
pertimbangan yang menentukan.
b. Keseimbangan biaya dan manfaat; Biaya membuat informasi jelas harus lebih
rendah dari manfaatnya. Pertimbangan ini jelas berdampak pada cara pencatatan
dan penyajian laporan akuntansi yang dipilih.
c. Masih minimnya kesadaran pegawai rumah sakit untuk menerapkan pelaporan
keuangan secara bersih dan transparan sesuai dengan ketentuan standar akuntansi
keuangan.
d. Rumah Sakit sebagai unit sosial dihadapkan pada semakin langkanya sumber
dana untuk membiayai kebutuhannya, padahal di lain pihak Rumah Sakit

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Page 7


diharapkan dapat bekerja dengan tarif yang dapat terjangkau oleh masyarakat
luas.
e. Masih sulitnya Rumah Sakit Pemerintah untuk meningkatkan efisiensi dan
efektifitas peranan akuntansi pertanggungjawaban dalam mengendalikan dan
mengevaluasi kinerja manajemen rumah sakit
f. Dalam Rumah Sakit Masih banyak terdapat Earning management merupakan
praktek yang membuat laporan keuangan dapat diatur karena disajikan menurut
tujuan dari penyusunnya.

5. Mengapa imbalan atas barang/jasa layanan yang diberikan RS pemerintah daerah


yang telah menjadi BLU/BLUD ditentukan berdasarkan tarif unit cost dan mutu
layanan?
Jawaban:
Rumah Sakit Pemerintah Daerah yang telah menjadi BLU/BLUD dapat memungut
biaya kepada masyarakat sebagai imbalan atas barang/jasa layanan yang diberikan.
Imbalan atas barang/jasa layanan yang diberikan tersebut ditetapkan dalam bentuk
tarif yang disusun atas dasar perhitungan biaya per unit layanan atau hasil per
investasi dana. Tarif layanan diusulkan oleh rumah sakit kepada menteri
keuangan/menteri kesehatan/kepala SKPD sesuai dengan kewenangannya, dan
kemudian ditetapkan oleh menteri keuangan/kepala daerah dengan peraturan menteri
keuangan/peraturan kepala daerah. Tarif layanan yang diusulkan dan ditetapkan
tersebut harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
1. Kontinuitas dan pengembangan layanan;
2. Daya beli masyarakat;
3. Asas keadilan dan kepatutan; dan
4. Kompetisi yang sehat.
Penentuan tarif harus berdasar unit cost dan mutu layanan. Dengan demikian rumah
sakit pemerintah harus mampu melakukan penelusuran (cost tracing) terhadap
penentuan segala macam tarif yang ditetapkan dalam layanan. Selama ini aspek
penentuan tarif masih berbasis aggaran ataupu subsidi pemerintah sehingga masih
terdapat suatu cost culture yang tidak mendukung untuk peningkatan kinerja atau
mutu layanan. Penyusunan tarif rumah sakit seharusnya berbasis pada unit cost, pasar
(kesanggupan konsumen untuk membayar dan strategi yang diipilih. Tarif tersebut
diharapkan dapat menutup semua biaya, diluar subsidi yang diharapkan. Yang perlu

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Page 8


diperhatikan adalah usulan tarif jangan berbasis pada prosentase tertentu namun
berdasar pada kajian yang dapat dipertanggungjawabkan. Secara umum tahapan
penentuan tarif harus melalui mekanisme usulan dari setiap divisi dalam rumah sakit
dan aspek pasar dan dilanjutkan kepada pemilik. Pemilik rumah sakit pemerintah
adalah pemerintah daerah dan DPRD
BLU di sini beroperasi sebagai unit kerja pemerintah daerah bertujuan memberikan
layanan umum yang pengelolaannya berdasarkan kewenangan yang didelegasikan
oleh instansi induk bersangkutan. Sesuai dengan asas yang diamanatkan, BLU
mengelola penyelenggaraan layanan umum sejalan dengan praktek bisnis yang sehat.
Rumah Sakit Pemerintah Daerah yang telah menjadi BLU/ BLUD menggunakan
standar pelayanan minimum yang ditetapkan oleh menteri/ pimpinan lembaga/
gubernur/ bupati/ walikota sesuai dengan kewenangannya, harus mempertimbangkan
kualitas layanan, pemerataan dan kesetaraan layanan, biaya serta kemudahan untuk
mendapatkan layanan. Dalam hal rumah sakit pemerintah di daerah (RSUD) maka
standar pelayanan minimal ditetapkan oleh kepala daerah dengan peraturan kepala
daerah. Standar pelayanan minimal tersebut harus memenuhi persyaratan, yaitu :
1. Fokus pada jenis pelayanan, dalam arti mengutamakan kegiatan pelayanan yang
menunjang terwujudnya tugas dan fungsi BLU/ BLUD;
2. Terukur, merupakan kegiatan yang pencapaiannya dapat dinilai sesuai dengan
standar yang telah ditetapkan;
3. Dapat dicapai, merupakan kegiatan nyata yang dapat dihitung tingkat
pencapaiannya, rasional sesuai kemampuan dan tingkat pemanfaatannya;
4. Relevan dan dapat diandalkan, merupakan kegiatan yang sejalan, berkaitan dan
dapat dipercaya untuk menunjang tugas dan fungsi BLU/ BLUD; dan
5. Tepat waktu, merupakan kesesuaian jadwal dan kegiatan pelayanan yang telah
ditetapkan.

6. Mengapa mekasnisme pertanggungjawaban menjadi bagian yang tidak terpisahkan


dan tidak akan pernah ditinggilkan dalam pelaksaanaan seluruh aktivitas organisasi
kesehatan serta bagaimana karakteristik pertanggungjawaban untuk rumah sakit dan
puskemas?
Jawaban:
Pengelolaan organisasi pelayanan kesehatan ini sangat erat kaitannya dengan
perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan seluruh kegiatan di dalam sebuah

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Page 9


organisasi atau lembaga. Dan setelah itu,mekanisme pertanggungjawaban menjadi
bagian yang tidak terpisahkan dan tidak akan pernah ditinggalkan dalam pelaksanaan
seluruh aktivitas organisasi kesehatan tersebut. Dalam konteks idealita secara umum,
tidak ada satu organisasi kesehatan pun yang berorientasi pada ketidakjujuran,
pelanggaran terhadap amanah, maupun pelarian dari tanggung jawab. Apabila
program sudah dijalankan, pertanggungjawaban harus dilakukan. Jadi, seluruh aspek
pengelolaan organisasi kesehatan menjadi bahan yang harus dipertanggungjawabkan
oleh penanggung jawab program atau pelaku organisasi.
Di organisasi kesehatan dengan status milik negara atau organisasi publik,
pertangggungjawaban dilakukan berdasarkan birokrasi yang ada. Sebagai contoh,
RSUP berada dibawah naungan pemerintah provinsi, sehingga RSUP bertanggung
jawab kepada pemerintah provinsi. Sedangkan RSUD yang berada di bawah naungan
pemerintah Kabupaten/Kota. Demikian pula, Puskesmas Poliklinik, Polinders, dan
organisasi kesehatan publik lainnya bertanggung jawab kepada badan/divisi yang
membawahinya.
Di organisasi kesehatan dengan staus milik swasta atau nonpemerintahan,
pertanggungjawaban akan dilakukan ke badan/divisi yang menaunginya. Sebagai
contoh, untuk rumah sakit di bawah sebuah yayasan atau sekelompok pribadi,
pertanggungjawabnya dilakukan oleh dewan/bagian yang berwenang. Dalam situasi
tertentu, seperti saat bencana, Rumah Sakit semi-permanen didirikan oleh sebuah
organisasi sosial tertentu dalam rangka memberikan layanan sosial. Dalam hal ini,
pertanggungjawabn dilakukan ke pihak pemberi dana atau organisasi yang
menaunginya.
Pertanggungjawaban Rumah Sakit
Sebagai bukti pertanggungjawaban unit pelayanan rumah sakti pemerintah daerah,
setiap unit Rumah Sakit berkewajiban memberikan laporan akhir sebagai bukti
pertanggungjawaban atas pelaksanaan kegiatan usaha selama suatu periode pelaporan.
Laporan tersebut meliputi laporan alokasi dana, laporan pendapatan, dan laporan
pengeluaran ke pemerintah daerah setempat. Dengan dikeluarkannya UU No. 32
tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 33 tahun 2004 tentang
Pertimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah, pemerintah daerah berhak
menerima laporan pertanggungjawaban akhir dari unit Rumah Sakit Pemerintah. Dana
yang digunakan sebagai biaya operasional untuk pelayanan kesehatan juga berasal
dari pemerintah daerah setempat. Sedangkan untuk unit pelayanan kesehatan

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Page 10


nonpemerintah, modal berasal dari pemilik yang biasanya berbentuk yayasan. Oleh
karena itu, yayasan merupakan pemilik unit tersebut sehingga laporan
pertanggungjawaban diserahkan kepada pimpinan yayasan.
Pertanggungjawaban Puskesmas
Karena puskesmas mendapatkan dana yang digunakan untuk menjalankan kegiatan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat dari pemerintah daerah maupun pemerintah
pusat, Puskesmas mempunyai tanggung jawab penuh untuk melaporkan kegiatan
usahanya ke pemerintah pusat maupun pemerintah daerah melalui SP2TP atau
Sisstem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesma. SP2TP adalah pencatatan dan
pelaporan data umum, sarana, dan pelayanan kesehatan di Puskesmas, yang memiliki
beberapa tujuan seperti:
Tujuan Umum
Semua data tentang hasil kegiatan Puskesmas dan data lainnya yang berkaitan serta
pelaporan ke jenjang yang lebih tinggi
Tujuan Khusus
(a) Tercatatnya semua data hasil kegiatan Puskesmas
(b) Dilaporkannya data ke jenjang yang lebih tinggi
(c) Terolahnya data menjadi informasi di Puskesmas
(d) Diperolehnya kesamaan pengertian SP2TP
(e) Tercatatnya mekanisme pencatatan di Puskesmas
(f) Tercatatnya alur data dari Puskesmas sampai pusat
(g) Mantapnya pelaksanaan SP2TP

7. Mengapa unsur-unsur manajemen sangat penting diterapkan dalam peningkatan


pengelolaan pelayanan kesehatan dalam siklus aktivitas puskesmas?
Jawaban:
Aktivitas dalam Puskesmas terdiri dari berbagai pelayanan kesehatan untuk
masyarakat, seperti melayani pemeriksaan kesehatan, pengobatan, perawatan terhadap
pasien, dari memberikan berbagai penyuluhan kepada masyarakat. Penyuluhan
dilakukan dalam rangka peningkatan kesehatan pribadi, keluarga, dan lingkungan.
Selain itu, penyuluhan juga dilakukan untuk mensukseskan program pemerintah
seperti Keluarga Berencana (KB), Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), pencegahan
penyakit dan penanggulangan wabah, dan lain-lain.

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Page 11


Puskesmas merupakan lembaga pemerintahan yang berada di bawah naungan dinas
kesehatan. Oleh karena itu, berdasarkan PP No. 24 Tahun 2005 tentang Standar
Akuntansi Pemerintah, Instansi Puskesmas menyusun laporan pemakaian dan
penerimaan dana dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah berbasis standar
akuntansi pemerintahan yang telah berlaku. Sistem pencatatan yang dipergunakan
oleh Puskesmas adalah metode akrual.
Dalam rangka peningkatan manajemen di tingkat Puskesmas, unsur-unsur manajemen
yang terdiri atas perencanaan, penggerakan pelaksanaan dan pengawasan,
pengendalian dan penilaian telah dikembangkan.
Perencanaan
Perencanaan di tingkat Puskesmas atau yang disebut juga Microplanning, dikeluarkan
pada tahun 1986. Microplanning atau perencanaan mikro di tingkat Puskesmas adalah
penyusunan rencana di tingkat Puskesmas untuk lima tahun, termasuk rincian tiap
tahunnya. Microplanning ini dirasakan kurang berisfat operasional, karena kurun
waktu rencana yang disusun berjangka waktu lima tahunan. Disamping itu, belum
semua Puskesmas melaksanakan microplanning dan hasil microplanning kurang
dimanfaatkan oleh Dinas Kesehatan II. Oleh karena itu, Pedoman Perencanaan
Tingkat Puskesmas (PTP) dikembangkan dengan memuat petunjuk penyusunan
rencana kegiatan yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu satu tahun. Hasil
penyusunan rencana tingkat Puskesmas ini dapat seragam, sehingga pengelolaan
selanjutnya di tingkat Kabupaten dapat menjadi suatu rencana tahunan kesehatan
daerah.
Di samping itu, Perencanaan Tingkat Puskesmas ini diharapkan menjadi nilai tambah,
berupa peningkatan kemampuan manajemen Puskesmas dalam perencanaan kegiatan
Pokok Puskesmas. Penyusunan Rencana Tingkat Puskesmas dilakukan dalam 4 tahap,
yaitu tahap persiapan, tahap analisis situasi, tahap penyusunan rencana usulan
kegiatan (RUK), dan tahap penyusunan Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK).
Penggerakan Pelaksanaan (P2)
Dalam rangka manajemen Puskesmas yang terdiri dari Perencanaan (P1),
Penggerakan Pelaksanaan (P2) dan Pengawasan serta Pengendalian dan Penelitian
(P3), Loka Karya Mini Puskesmas merupakan pedoman bagi penggerakan
pelaksanaan. Loka karya mini Puskesmas tediri dari empat komponen:
1. Penggalangan Kerja Sama dalam Tim

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Page 12


Yaitu loka karya yang dilaksanakan sebulan sekali pada lingkungan Puskesmas
sendiri, dalam rangka kerja sama antarpetugas Puskesmas untuk peningkatan
fungsi Puskesmas.
2. Penggalangan Kerja Sama Lintas Sektoral
Dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat dan dukungan sektor-sektor
yang bersangkutan, dilakukan penggalangan kerja sama lintas sektoral berupa
pertemuan lintas sektoral setahun sekali. Untuk itu, perlu dijelaskan manfaat
bersama dari pembinaan upaya peran serta masyrakat dalam bidang kesehatan bagi
sektor-sektor yang bersangkutan. Hasil dari pertemuan itu adalah kesepakatan
rencana kerja sama lintas sektoral untuk membina peran serta masyarakat dalam
bidang kesehatan.
3. Rapat Kerja Bulanan Puskesmas
Sebagai tindak lanjut dari rapat penggalangan kerja sama dalam Tim, setiap akhir
bulan diadakan pertemuan antartenaga Puskesmas untuk membandingkan rencana
kerja bulan lalu dengan hasil kegiatannya. Apabila ada masalah yang dijumpai, hal
itu akan dibahas bersama untuk dipecahkan bersama, sehingga rencana kerja bulan
berikutnya dapat disusun.
4. Rapat Kerja Triwulan Lintas Sektoral
Tindak lanjut dari pertemuan penggalangan kerja sama lintas sektoral adalah
pertemuan lintas sektoral setiap 3 bulan sekali untuk mengkaji hasil kegiatan kerja
sama lintas sektoral selama 3 bulan yang lalu, dan memecahkan masalah yang
dihadapi, kemudian menyusun rencana kerja sama lintas sektoral bulan berikutnya.
Pengawasan, Pengendalian, dan Penelitian (P3)
Dalam manajemen, data yang akurat, tepat waktu, dan berkelanjutan serta mutakhir
diperlukan secara periodik. Berdasarkan SK Mentri No. 63/Menkes/II/1981, berlaku
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP). SP2TP adalah tata
cara pencatatan dan pelaporan yang lengkap untuk pengelolaan Puskesmas yang
meliputi keadaan fisik, tenaga, sarana, dan kegiatan pokok yang dilakukan serta hasil
yang dicapai oleh Puskesmas. Dengan melakukan SP2TP yang baik, diperlukan data
dan informasi untuk membuat perencanaan, penggerakan pelaksanaan, pemantauan,
pengawasan, pengendalian, dan penilaian penampilan Puskesmas serta situasi
kesehatan masyarakat umumnya. SP2TP dilakukan oleh semua Puskesmas antara lain
Puskesmas Perawatan, Puskesmas Pembantu, dan Puskesmas Keliling.

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Page 13


Dalam upaya peningkatan fungsi Puskesmas, suatu pola pembinaan Puskesmas
melalui stratifikasi Puskesmas telah dikembangkan. Penilaian prestasi kerja
Puskesmas dilakukan dengan menggunakan pedoman Stratifikasi Puskesmas, di mana
Puskesmas dikelompokkan dalam 3 strata, yaitu:
a. Strata Puskesmas dengan prestasi kerja baik;
b. Strata Puskesmas dengan prestasi kerja cukup; dan
c. Strata Puskesmas dengan prestasi kerja kurang

8. Mengapa pelayanan yang berkarakter dalam rumah sakit menjadi salah satu isu
terpenting dan menjadi fokus perhatian pihak manajemen rumah sakit?
Jawaban:
Pelayanan rumah sakit saat ini merupakan salah satu isu terpenting dalam
meningkatkan kunjungan pasien rawat jalan dan rawap inap di suatu rumah sakit.
Dengan dibangunnya rumah sakit baru yang lebih megah dengan peralatan yang lebih
canggih serta tenaga lebih terampil, rumah sakit swasta dan rumah sakit pemerintah
yang ada harus meningkatkan kepuasan pasiennya. Selain peningkatan mutu
pelayanan teknis medis, peningkatan mutu pelayanan yang paling mudah dan murah
adalah peningkatan mutu pelayanan yang berhubungan dengan emosi pasien.
Pelayanan yang dimaksud di sini adalah pelayanan yang ramah, sopan dan santun,
gesit, terampil, serta peduli dengan keluhan pasien.
Pelayanan tersebut merupakan pelayanan yang berkarakter. Hal-hal tersebut harus
menjadi fokus perhatian pihak manajemen rumah sakit, sehingga dapat menarik
pasien baru dan mempertahanan pasien lama. Hal sepele akan memberikan dampak
yang sangat bedar dalam menggambarkan citra suatu pelayanan rumah sakit.
Pelayanan yang berkarakter itu dimulai dari tingkat paling bawah seperti satpam,
petugas kebersihan, sampai tingkat manjerial: kepada bagian, direktur, para dokter
dan perawat.
Untuk menghasilkan suatu pelayanan yang berkarakter, pihak manajemen harus
melaksanakan hal-hal sebagai berikut:
1. Terhadap karyawan: melaksanakan pendidikan dan pelatihan yang berhubungan
dengan pembentukan karakter yang baik, terutama di bidang pelayanan pasien.
Pihak manajemen harus melakukan pengawasan terhadap perilaku karyawannya,
sehingga hal-hal yang tidak diinginkan langsung dapat diperbaiki.

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Page 14


2. Terhadap pasien: pasien mengetahui hak dan kewajibannya, sehingga ia tahu
mana yang merupakan haknya dan apa yang mejadi kewajibannya. Pihak
manajemen harus mencantumkan atau memasang peraturan-peraturan tersebut,
sehingga pasien mudah membacanya.
3. Terhadap pihak manajemen sendiri: pihak manajemen harus membuka diri untuk
menerima saran dan kritikan dari karyawan serta dari pihak pasien. Pihak
manajemen harus dapat memenuhi hak dan kewajiban untuk mensejahterahkan
karyawannya, seingga kualitas pelayanan dapat ditingkatkan. Pihak manajemen
harus secara terus menerus memperbaiki dan mengevaluasi setiap kebijakan yang
dibuat, sesuai dengan prinsip “good governance”.
Suatu Langkah Terobosan Baru Dalam Manajemen Rumah Sakit Diperlukan
Dalam era keterbukaan saat ini, suatu langkah terobosan baru dalam manajemen
rumah sakit sangat diperlukan, dimana peranan kesehatan sekarang sudah berorientasi
pada profit, bukan lagi berorientasi sosial. Searang perlu diketahui bagaiaman gejala
ini disikapi, karena sudah terjadi pergeseran arah pandang tentang kesehatan. Padahal
kesehatan tidak bisa lepas dari peranan sosialnya, mengingat profesi kedokteran yang
berhubungan dengan hal-hal kemanusia, dimana kode etik yang masih harus
dijunjung tinggi dikembangkan untuk menghindari komersialisasi yang terlalu
berlebihan. Banyak rambu-rambu yang ada pada kode etika sekarang telah dilanggar.
Karena itu, pendidikan karakter, terutama bagi para pengambil keputusan kebijakan
pendidikan di negeri ini sangat diperlukan. Sebenarnya kesehatan adalah hak setiap
warga negara, teruma masyarakat miskin. Pemerintah harus dapat melindungi
warganya untuk dapat hidup layak sehat sejahtera. Pemerintah juga harus dapat
memberikan gaji yang layak bagi para dokter dan paramedis, agar pelayanan yang
baik dan berkarakter dapat diberikan. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus
melibatkan semua sektor yang merupaka tanggung jawab semua pihak, terutama
pemerintah yang mempunyai kewenangan dalam membuat kurikulum pendidikan dan
swasta sera peroragan. Sifat serta perilaku yang baik itu bersifat universal dalam
artian tidak memandang agama, ras, suku, bangsa, dan sebagainya. Semua agama
mengajarkan kebaikan dan tidak ada satu pun agama yang mengajarkan keburukan,
kecuali ajaran tersebut telah diselewengkan. Dengan mengubah ini semua, keluhan-
keluhan tentang pelayanan rumah sakit dapat berkurang, dan rumah sakit yang dapat
memberikan pelayanan terbaiklah yang akan memenangkan persaingan.

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Page 15


9. Mengapa sistem pembiayan jasa pelayanan kesehatan perlu dibedakan menjadi
pembayaran restrospektif dan pembayaran prospektif?
Jawaban:
Dalam UU Kesehatan No. 23 tahun 1992, kesehatan merupakan hak dan kebutuhan
dasar manusia. Sehingga pemerintah mempunyai kewajiban untuk mengadakan dan
mengatur upaya pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau masyarakat dari semua
lapisan. Terkait dengan pembiayaan kesehatan, Pasal 65 UU No. 23 tahun 1992
tersebut menyatakan bahwa penyelenggaraan upaya kesehatan dibiayai oleh
pemerintah dan atau masyarakat. Dalam hubungan dengan jaminan pemeliharaan
kesehatan, pada pasal 66 disebutkan bahwa pembiayaan dilaksanakan secara
praupaya, berasaskan usaha bersama dan kekeluargaan. Pemberlakuan kebijakan
otonomi daerah juga mempunyaii implikasi terhadap penyelenggaraan pelayanan
kesehatan di rumah sakit daerah, di mana rumah sakit dituntut kemampuannya untuk
menggali sumber-sumber dana yang ada dan memanfaatkannya semaksimal mungkin.
Makanya dalam suatu pelayanan jasa kesehatan terdapat dua metode pembiayaan jasa
pelayanan kesehatan yang perlu dibedakan antara lain:
1. Pembayaran Retrospektif
Pembayaran yang disetujui dan dilakukan setelah jasa dilakukan.
a. Fee for sevice payment – payment per items
Merupakan metode pembayarn dengan cara pasien atau penanggung dana
membayar secara penuh kepada penyedia layanan kesehatan (provider) setelah
layanan selesai dilakukan. Metode ini sering disebut sebagai pembayaran per item
pelayanan, misalnya berupa tindakan diagnosis, terapi, dan pelayanan kesehatan.
Jumlah yang dibayar sesuai dengan pa yang tertera pada tagihan. Pembayaran
dihitung per hari perawatan dngan cara lump sum per hari yang dimulai ketika
pasien melakukan admisi di rumah sakit. Skema pembayaran mengikuti skedul
yang ditentukan berdasarkan kesepakatan antara penyedia jasa layanan kesehatan
dengan pembayar. Metode ini merupakan bentuk pembayaran yang paling tidak
efisien karena menyebabkan kenaikan biaya perawatan kesehatan.
b. Fee for service payment – payment per day
Metode ini menyatukan semua jasa yang dilakukan setiap harinya sehingga
pembayaran dilakukan secara lump sum untuk tiap hari rawat inap. Tidak adanya

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Page 16


insentif untuk melakukan prosedur yang mahal, namun ada insentif untuk
memperpanjang waktu tinggal di pusat layanan kesehatan atau lenght of stay
(LOS).

2. Pembayaran Prospektif
Metode pembayaran yang disetujui dan dilakukan lebih lanjut sebelum provisi
atas jasa yang dilakukan, tanpa mempedulikan berapa biaya aktual yang
dikeluarkan oleh penyedia layanan kesehatan.
(a) Pembayaran Kapitasi (capitation payment)
Pembayaran kapitasi merupakan pembayaran yang dilakukan dalam jumlah yang
tetap per orang selama periode waktu tertentu, biasanya satu tahun. Formula
metode kapitasi berasarkan karakteristik penduduk, misalnya demografi atau jenis
penyakit yang signifikan.
(b) Pembayaran dengan Anggaran Global(payment by global budget)
Dalam pembayaran dengan anggaran global ini, penyedia layanan kesehatan
diberi suatu anggaran, biasanya pada awal tahun, untuk menutup semua layanan,
yang tersedia. Anggaran tersebut biasanya didasarkan pada anggaran pengeluaran
tahun sebelumnya.
(c) Pembayaran Case-Mix
Pembayaran case-mix adalah pembayaran bagi paket pelayanan atau episode
pelayanan. Daftar pembayaran mungkin tidak berkaitan dengan biaya pelayanan
sesungguhnya yang diberikan kepada pasien tertentu, biasanya di rumah sakit
atau poliklinik dengan fasilitas rawap inap.

10. Mengapa perlu adanya penyeimbangan biaya, kualitas dan akses dalam sistem
pengolaan jasa pelayanan kesehatan?
Jawaban:
Semua sistem pengelolaan mencoba menyeimbangkan biaya, kualitas, dan akses.
Pembayar menginginkan minimalisasi biaya yang sesuai dengan kualitas dan
aksesnya. Pada saat yang sama, penyedia layanan menginginkan kepastian apakah
mereka menerima pembayaran seimbang dengan penyediaan layanannya. Terkait
keseimbangan di antara isu yang berkembang, terdapat perubahan yang dramatis dari
cara pembayaran yang dibuat oleh penyedia layanan. Dalam pertengahan abad ini,
sistem pembayaran di AS telang berkembang dari sistem fee for service menuju satu

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Page 17


peningkatan berdasarkan pembayar pajak perorangan. Perubahan-perubahan tersebut
mencakup pentingnya biaya, siapa yang mengatur harga, siapa yang mengasumsikan
risiko, dan bentuk serta dasar pembayaran. Oleh karena itu, perlu ada pemahaman
terkait prosedur pembayaran jasa pelayanan kesehatan dan sistem yang digunakan.
Prosedur Pembayaran Jasa Pelayanan Kesehatan
Mekanisme pembayaran (payment mechanism) yang dilakukan selama ini adalah
provider payment melalui sistem budget, kecuali untuk pelayanan persalinan yang
oleh bidan di klaim ke Puskesmas atau kantor pos terdekat. Alternatif lain adalah
“users empowerment” melalui sistem kupon. Kekuatan dan kelemahan alternatif –
alternatif tersebut perlu ditelaah dengan melibatkan para pelaku di tingkat pelayanan.
Informasi tentang kekuatan dan kelemahan masing-masing cara tersebut juga
merupakan masukan penting untuk melengkapi kebijakan perencanaan dan
pembiayaan pelayanan kesehatan.
Secara tidak langsung bida dilakukan perhitungan kasar tentang kebutuhan
pembiayaan kesehatan, kemudian dibandingkan dengan total anggaran pemerintah
(dalam hal ini pemerintah pusat dan daerah). Khusus pembiayaan bagi penduduk
miskis, tahun 2011 muncul gagasan menerapkan sistem “matching grant” untuk
membiayai pendudukan miskin. Dalam hal ini daerah diberi sebagian tanggung jawab
sesuai dengan kemampuan fiskalnya. Analisis awal perlu dilakukan untuk melihat
sejauh mana kapasitas daerah untuk “berbagi” pembiayaan pelayanan kesehatan bagi
penduduk miskin di daerahnya.
Sistem Pembayaran Jasa Pelayanan Kesehatan
Beberapa jenis prosedur sistem pembayaran yaitu sistem berdasarkan charge (charge-
based system), sistem pembayaran berdasarkan biaya (cost based payment) da sistem
pembayaran yang tetap (flat fee system). Masing –masing prosedur sistem
pembayaran memiliki pertimbangan dalam menentukan berapa charge yang
dikeluarkan.
Pada sistem berdasarkan charge (charge-based system) penyedia layanan tidak
mengharapkan keuntungan yang berlebih, dimana pengaturan biaya tergantung pada
aspek operasi, peluang, kemungkinan, dan pengembalian investasi. Misalnya, sebuah
rumah sakit yang beru beroperasi bulan Desember ingin meraih pasar/pelanggan.
Maka selaian memberikan fasillitas dan pelayanan yang baik, rumah sakit itu juga
memberikan harga yang murah. Artinya, total biaya sama dengan total pendapatan
(break even point).

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Page 18


Dalam sistem pembayaran berdasarkan biaya (cost based payment), hal yang
mempengaruhi pemberian charge pada pasien adalah unit pelayanan yang telah
dijalankan/dipakai dan beberapa isu-isu penting: reasonables, case mix, service mix,
staff mix, dan efisiensi. Kelemahan sistem pembayaran ini adalah apabila pasien
mengabaikan pembayaran padahal pelayanan telah diberikan, maka penyedia layanan
harus melakukan penggeseran biaya (cost shifting) kepada pasien lain.
Sedangkan pada flat fee system, pembayaran dapat ditentukan oleh payor atau hasil
negosiasi antara payor dan penyedia layanan kesehatan. Pator membayar jumlah yang
pasti, yang meliputi biaya setiap prosedur, pasien rawat inap, hari, admisi, discharge,
dan diagnosis.

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Page 19

Anda mungkin juga menyukai