Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR NASAL

Disusun Oleh :
EDY NURYANTO
G3A016145

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SEMARANG
2016
LAPORAN PENDAHULUAN
FRAKTUR

A. PENGERTIAN
Fraktur adalah terputusnya kesinambungan sebagian atau seluruh tulang/bahkan
tulang rawan (Pusponegoro, 2012).
Fraktur merupakan hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan, baik yang bersifat
total maupun sebagian yang disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Helmi, 2012)

B. KLASIFIKASI FRAKTUR
1. Fraktur komplit / tidak komplit
a. Fraktur komplit bila garis patah melalui seluruh penampang tulang / melalui
kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
b. Fraktur tidak komplit bila garis patah tidak melalui seluruh penampang
tulang, seperti :
- Hairline fracture / patah retak rambat
- Buckle fracture / torus fracture, bila terjadi lipatan dari satu korteks
dengan kompresi tulang spongiosa dibawahnya, biasanya pada distal radius
anak-anak.
- Greenstick fracture, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks
lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak.
2. Bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma
a. Garis patah melintang : trauma angulasi / langsung
b. Garis patah oblik : trauma angulasi
c. Garis patah spiral : trauma rotasi
d. Fraktur kompresi : trauma aksial – fleksi pada tulang spongiosa
e. Fraktur avulsi : trauma tarikan / traksi otot pada insersinya ditulang, misalnya
fraktur patella.
3.
4. Jumlah garis patah
a. Fraktur kominutif : garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan
b. Fraktur segmental : garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan. Bila
dua garis patah disebut pula fraktur bifocal
c. Fraktur multiple : garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan
tempatnya, misalnya fraktur femur, fraktur kruis dan fraktur tulang belakang.
5. Bergeser / tidak bergeser
a. Fraktur undisplaced (tidak bergeser) : garis patah komplit tetapi kedua
fragmen tidak bergeser, periosteumnya masih utuh
b. Fraktur displaced (bergeser) : terjadi penggeseran fragmen dan fraktur yang
juga disebut lokasi fragmen, terbagai :
- Dislokasi adalah longitudinam cum contractionum (pergeseran searah
sumbu dan overlapping)
- Dislokasi adalah axim (pergeseran yang membentuk sudut)
- Dislokasi adalah latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling
menjauhi)
6. Terbuka / Tertutup
a. Fraktur tertutup (closed) : bila tidak terdapat hubungan antara framen tulang
dengan dunia luar.
b. Fraktur terbuka (open / compound) : bila terdapat hubungan antara fragmen
tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. Fraktur terbuka terbagi
atas 3 derajat (menurut R. Gustillo) yaitu :
- Derajat 1
1) Letak < 1 cm
2) Kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda luka remuk
3) Fraktur sederhana, tranversal, oblik / kominutif ringan
4) Kontaminasi minimal
- Derajat 2
1) Laserasi > 1 cm
2) Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap / ovulsi
3) Fraktur kominutif sedang
4) Komtaminasi sedang
- Derajat 3
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan
neurovaskular serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur derajat 3 terbagi atas :
1) Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat meskipun
terdapat laserasi luas / flap / avulsi, atau fraktur segmental / sangat
kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat
besarnya ukuran luka.
2) Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar /
kontaminasi massif
3) Luka pada pembuluh arteri / saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa
melihat kerusakan jaringan lunak
C. ETIOLOGI
Penyebab trauma nasal ada 4 yaitu:
1. Mendapat serangan misal dipukul.
2. injury karena olah raga
3. kecelakaan (personal accident).
4. kecelakaan lalu lintas.
Dari 4 kasus diatas, yang paling sering karena mendapat serangan misalnya dipukul dan
kebanyakan pada remaja. Jenis olah raga yang dapat menyebabkan injury nasal misalnya
sepak bola, khususnya ketika dua pemain berebut bola diatas kepala; olah raga yang
menggunakan raket misalnya ketika squash, raket dapat mengayun ke belakang atau
depan dan dapat memukul hidung atau karate; petinju. Trauma nasal yang disebabkan
oleh kecepatan yang tinggi menyebabkan fraktur wajah.
D. MANIFESTASI KLINIK
1. Nyeri terus menerus dan bertambah beranya sampai fragmen tulang
dimobilisasi
2. Hilangnya fungsi
3. Deformitas
4. Pemendekan tulang
5. Krepitasi
6. Pembengkakan dan perubahan warna lokal

E. PATOFISIOLOGI
Riwayat kecelakaan dan kondisi patologis, derajat keparahannya, jenis kekuatan
yang berberan menentukan kemungkinan fraktur dan apakah perlu dilakukan pemeriksaan
spesifik untuk mencari adanya fraktur. Nyeri pada fraktur tulang yang panjang sangat
khas. Contoh pada tempat fraktur tungkai akan teraba nyeri sekali dan bengkak. Perkiraan
diagnosis fraktur pada tempat kejadian dapat dilakukan sehubungan dengan adanya nyeri
dan bengkak lokal, kelainan bentuk dan ketidakstabilan. Krepitus menyatakan perasaan
seakan-akan seperti ada 2 kertas gosok yang digosok-gosokan satu dengan lainnya.
Krepitus merupakan petunjuk adanya fraktur dan sensasi ini ditimbulkan karena gesekan-
gesekan fragmen-fragmen tulang yang patah. Fragmen-fragmen tulang yang patah
mungkin tajam dan keras. Pergerakan relatif sesudah cidera dapat menganggu supply
neurovaskular ekstremitas yang terlibat.
Kerusakan jaringan lunak yang nyata dapat juga dipakai kemungkinan adanya
fraktur, dan dibutuhkan pemasangan bidal segera dan pemeriksaan lebih lanjut. Hal ini
khususnya harus dilakukan pada cedera tulang belakang bagian servikal, dimana kontusio
dan laserasic pada wajah dan kulit kepala menunjukkan perlunya evaluasi radiofrafik,
yang dapat memperlihatkan fraktus tulang belakang bagian serviks / dislokasi serta
kemungkinan diperlukannya pembedahan untuk mestabilitasnya.

F. KOMPLIKASI
1. Syok (hipovolemik / traumatic)
2. Syndrom emboli lemak
3. Syndrom kompartemen
4. Tromboemboli
5. Infeksi
6. KID (Koagulapati Intravaskuler Desiminata)

G. PENATALKASNAAN
 Pengobatan fraktur tertutup
2. Terapi konservatif terdiri dari
a. Proteksi saja, misalnya mitela untuk fraktur collum chirungcum humeri
dengan kedudukan baik
b. Imobilisasi tanpa reposisi, misalnya pemasangan gips pada fraktur in
komplit dan fraktus dengan kedudukan baik
c. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips, misalnya pada fraktur
suprakondilus, fraktus colles, fraktur smit. Reposisi seperti dalam anestasi
umum / lokal
d. Traksi, untuk reposisi secara perlahan pada anak-anak dipakai fraksi
kulit (fraksi Hamilton russel, fraksi Bryant), fraksi kulit terbatas untuk 4
minggu dan beban < 5 kg. untuk transaksi dewasa / definitive harus traksi
skeletal berupa balanced tractiar.
3. Terapi operatif, terdiri dari
a. Reposisi terbuka fiksasi interna
b. Reposisi tertutup dengan kontrol radiologist diikuti fiksasi eksterna
 Tindakan pada fraktur terbuka
Tindakan pada fraktur terbuka harus dilakukan secepat mungkin. Penundaan waktu
dapat mengakibatkan komplikasi infeksi. Waktu yang optimal untuk bertindak 6-7
jam (golden period). Berikan tol soid antitetanus serum (ATS) / tetanus human
globulin. Berikan Ab untuk kuman gram positif + negatif dengan dosis tinggi.
Lakukan pemeriksaan kultur dan resistensi kuman dari dasar luka fraktur terbuka.
Teknik debridemen adalah sebagai berikut :
1. Lakukan narcosis umum / anestasi lokal bila luka ringan dan kecil
2. Bila luka cukup luas, pasang dulu torniket (pompa / esmarch)
3. Cuci seluruh ekstremitas selama 5-10 menit kemudian lakukan pencukuran
lakukan diirigasi dengan cairan NaCl steril / air matang 5-10 menit sampai bersih
4. Lakukan tindakan desienfeksi dan pemasangan duk
5. Eksisi luka lapis demi lapis, mulai dari kulit, subkutis, fasia hingga otot. Eksisi
otot dan yang tidak vital. Buang tulang-tulang kecil yang tidak melekat pada
periosteum. Pertahankan fragmen tulang besar yang perlu untuk stabilitas
6. Luka fraktus terbuka selalu dibiarkan terbuka dan bila perlu ditutup 1 minggu
kemudian setelah edema menghilang (secondary sufure) / dapat juga hanya
dijahit situasi bila luka tidak terlalu lebar (jahit luka jarang

H. FOKUS PENGKAJIAN
1. Aktivitas / istirahat
Tanda : keterbatasan / kehilangan fungsi pada bagian yang terkena.
2. Sirkulasi
Tanda : - Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri /
ansietas).
-Hipotensi (kehilangan darah)
-Takikardia (respons stress, hipovolemia)
-Penurunan / tidak ada nadi bagian distal yang cidera
-Pembengkakan jaringan / massa hematoma

3. Neurosensori
Gejala : Hilang gerakan / sensasi, spasme otot, kesemutan (perestesis)
Tanda : Deformitas lokal, angulasi abnormal, pemendekan, kp epitas, agitasi
(mungkin berhubungan dengan nyeri / ansietas / trauma lain)
4. Nyeri / kenyamanan
Gejala : Nyeri tiba-tiba pada saat cedera, tidak ada nyeri akibat kerusakan saraf,
spasme / kram otot seperti imobilisasi.
5. Keamanan
Tanda : Laserasi kulit, avulse jaringan, perdarahan, perubahan warna
pembengkakan lokal.

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan roentgen : menentukan lokasi / luasnya fraktur / trauma
2. Scan tulang, tomogram, CT scan / MRI ; memperlihatkan fraktur juga dapat
digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak
3. Arteriogram : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai
4. Hitung darah lengkap : Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) / menurun
(perobatan bermakna pada sisi fraktur / organ jauh pada trauma multiple).
Peningkatan jumlah SDP adalah respon stress normal setelah trauma
5. Kreatinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal
6. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfuse
multiple / cedera kepala
J.
K. PATHWAYS

Kondisi Traumatik
Osteoporosis Jatuh
Ca tulang Kecelakaan
Tumor tulang Olah raga

Penurunan obsorbsi kalsium dalam tulang Terputusnya kontinuitas tulang

Tulang menjadi rentan

Fraktur

Terbuka Tertutup

Reduksi Immobilisasi

Eksterna Interna Bedrest

Fraksi Pembedahan
Penekanan pada kulit
Penurunan aktivitas
Penekanan pada kulitPengaruh anestasi
Trauma jaringan
Depresi saraf

Penurunan peritaltik
Gangguan integritas kulit
Relaksasi otot Nyeri
Gangguan integritas kulit Risiko infeksi

Gangguan rasa nyaman: nyeri Gangguan eliminasi defekasi


Intoleransi aktivitas
L. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri pada daerah fraktur sehubungan dengan keterbatasan pergerakan dan
aktifitas karena adanya fraktur sehingga pasien hanya dapat berbaring di tempat tidur.
2. Resiko gangguan integritas kulit sehubungan dengan keterbatasan pergerakan
dan aktifitas karena adanya fraktur,sehingga pasien hanya dapat berbaring di tempat
tidur.
3. Gangguan aktifitas sehubungan dengan adanya fraktur.
4. Gangguan istirahat dan tidur sehubungan dengan adanya rasa nyeri pada
daerah yang mengalami fraktur.

M. FOKUS INTERVENSI
No DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONALISASI
KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan napas tidak Bersihan jalan 1. Anjurkan pasien seperti napas dalam, 1. Agar jalan napas pasien kembali
efektie napas kembali batuk, menghela napas sangat dalam, efektif
efektif atau menguap yang dilakukan pada
waktu efek analgesi berada dalam
puncaknya
2. Monitor TTV 2. Untuk menetahui keadaan umum
pasien
3. Belat tempat fraktur dengan tangan
anda untuk membantu latihan
mengembangkan paru
2. Pola pernapasan tidak 1. Baringkan klien dengan posisi 1. Frekuensi pernapasan pasien
efektif yang nyaman; posisi untuk dapat tertur
bernapas dengan optimal adalah
Fowler atau semi-Fowler
2. Kaji TTV 2. Untuk mengetahui keadaan
umum pasien

3. Nyeri sehubungan dengan Pasien merasa 1. Berikan analgesik untuk 1. Menghilangkan nyeri
adanya fraktur nyeri mengurangi rasa nyeri
berkurang. 2. Lakukan kompres dingin atau es 2. Menurunkan oedem/membentuk
24-28 jam pertama dan sesuai hematoma,menurunkan sensasi
keperluan. nyeri.

3. Kolaborasi dalam pemberian 3. Menghilangkan nyeri


perubahan enalgesik. sehubungan dengan tegangan otot
dan spasme.

4. Kecemasan sehubungan Pasien merasa 1. Kaji TTV 1. Untuk mengetahui keadaan


dengan ancaman terhadap tenang umum pasien
perubahan dalam status kembali 2. Berikan penjelasan kepada klien 2. Agar klien mengetahui dan
kesehatan setelah di beri tentang penyakitnya memahami tebtang penyakin
tindakan atas yang dialaminya
penyakitnya
DAFTAR PUSTAKA

Pusponegoro,A, dkk. (2012). Basic Trauma & Basic Cardiac Life Suport (Ed.5). Jakarta :
Yayasan Ambulans Gawat Darurat
Noor Helmi, Zairin, 2012; Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal; jilid 1,Salemba Medika,
Jakarta, hal. 226-231, 534-535.
Mansjoer. Arif dkk, (2008), Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta, Media Aesculapius