Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelayanan gizi di Puskesmas terdiri dari kegiatan pelayanan gizi di dalam gedung
dan di luar gedung. Pelayanan gizi di dalam gedung umumnya bersifat individual, dapat
berupa pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Kegiatan di dalam gedung
juga meliputi perencana program pelayanan gizi yang akan dilakukan di luar gedung.
Sedangkan pelayanan gizi di luar gedung umumnya pelayanan gizi pada kelompok dan
masyarakat dalam bentuk promotif dan preventif. Dalam pelaksanaan pelayanan gizi di
Puskesmas, diperlukan pelayanan yang bermutu, sehingga dapat menghasilkan status
gizi yang optimal dan mempercepat proses penyembuhan pasien. Pelayanan gizi yang
bermutu dapat diwujudkan apabila tersedia acuan untuk melaksanaan pelayanan gizi
yang bermutu sesuai dengan 4 pilar dalam Pedoman gizi Seimbang (PGS).

B. Tujuan
Tersedianya acuan dalam melaksanakan pelayanan gizi di Puskesmas dan jejaringnya

C. Sasaran
Sasaran dari pedoman ini adalah semua petugas kesehatan ( dokter, bidan, perawat)
yang terkait dengan pelayanan gizi di UPT Puskesmas Sukowono.

D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pedoman ini meliputi :
(1) Pelayanan Gizi di Dalam Gedung
(2) Pelayanan Gizi di Luar Gedung
(3) Pencatatan dan Pelaporan
(4) Monitoring dan Evaluasi

E. Batasan Operasional
1. Upaya pelayanan gizi masyarakat
a. Pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi pada Balita 2 kali /tahun (Februari dan
Agustus)
b. Pemberian tablet Besi (90 tablet) pada ibu hamil.
Pemberian tablet tambah darah sebanyak 90 tablet pada ibu
c. Bumil KEK.
Ibnu hamil yang mempunyai LILA < 23.5 cm
d. ASI Eklusif
Pemberian hanya ASI susu ibu saja pada anak umur 0 – 6 bulan
2. Penanganan gangguan gizi
e. Balita gizi buruk mendapat perawatan selama periode januari sd desember,
f. MP-ASI pada anak usia 6 – 24 bulan, BGM Gakin
g. Pemberian PMT pemulihan balita gizi buruk
h. Cakupan rumah tangga yang mengkonsumsi garam beriodium berdasarkan
monitoring melalui anak sekolah (masing-masing desa 1 sekolah SD/MI)
1
3. Pemantauan status gizi
i. Desa bebas rawan gizi
Berdasarkan indek BB/U pada Balita < 15%
j. Balita naik Berat badannya N/D
k. Balita yang ditimbang Berat badannya D/S
4. Kunjungan gizi klinik
Kunjungan yang mendapat pelayanan gizi (Hipertensi, DM, Cholesterol, Asam urat,
Anemia, Bumil KEK, Gibur BGM)

F. Landasan Hukum
(1) Undang-undang no 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak
(2) Undang-undang no 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
(3) Peraturan Pemerintah no 33 Tahun 2012 tentang ASI Eksklusif
(4) Kepmenkes RI no 894/MENKES/SKB/VIII/2001dan Kepala Badan Kepegawaian
Negara no 35 Tahun 2001 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional
Nutrisionis dan Angka Kreditnya

2
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Pengelola program Gizi petugas yang telah mendapat pelatihan program Gizi.
Petugas pelaksana adalah petugas pelaksana yang telah memenuhi standar kualifikasi sebagai tenaga
pelaksana dan telah mendapat pelatihan sesuai dengan tugasnya.

No Nama Jabatan Kualifikasi Formal Keterangan


Penanggung jawab
1 Dokter
Program UKM
Pengelola Program
2 Gizi
Gizi
Melaksanakan
pelayanan Gizi baik di
3 Petugas Pelaksana Gizi
dalam gedung atau di
luar gedung

B. Distribusi Ketenagaan
Pengaturan dan penjadualan kegiatan Gizi dikoordinir penanggung jawab program
UKM dan Pengelola Program Gizi di sesuaikan dengan tugas dan penanggung jawab
desa.

C. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan


1. Pemberian kapsul Vit. A
Setiap bulan februari dan bulan agustus
2. Pemberian tablet tambah darah (tablet besi)
90 tablet pada ibu hamil
Setiap ada ibu hamil (setiap bulan)
3. Konsultasi gizi
Setiap bulan
4. ASI Eklusif
Setiap februari dan agustus
5. Pemberian PMT Pemulihan
Setiap bulan, bila ada kasus
6. Pemantauan Status Gizi /Desa bebas rawan Gizi
Setiap tahun sekali

3
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Standar Fasilitas
1. Fasilitas dan sarana
Poli gizi berlokasi di gedung Puskesmas Sukowono, satu ruangan dengan
ruangan KTU
Peralatan gizi adalah : sejumlah alat gizi yang digunakan untuk melaksanakan
pelayanan gizi
a. Alat-alat gizi
- Mikrotoise
- Timbangan injak
b. Bahan Habis pakai
- Liflet
- Blanko rujukan poli gizi
- Blanko asuhan gizi
c. Perlengkapan
- Tempat sampah
d. Mebelair
- Kursi kerja
- Lemari arsip
- Meja tulis
e. Pencatatan dan Pelaporan
- Buku Register pelayanan poli gizi

BAB IV
TATALAKSANA PELAYANAN

Pelayanan gizi di puskesmas adalah kegiatan pelayanan gizi mulai dari upaya
promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang dilakukan di wilayah kerja puskesmas.
Pelayanan gizi di puskesmas dilakukan di dalam gedung dan di luar gedung, sebagaimana
dijelaskan berikut ini.
A. Pelayanan Gizi di Dalam Gedung
1. Kegiatan Pelayanan Gizi di Dalam Gedung
Kegiatan pelayanan gizi di dalam gedung terdiri dari upaya promotif, preventif, dan
kuratif serta rehabilitatif baik rawat jalan maupun rawat inap yang dilakukan di dalam

4
puskesmas. Kegiatan pelayanan gizi di dalam gedung terdiri dari 2 jenis yaitu
pelayanan gizi rawat jalan dan pelayanan gizi rawat inap. Namun di dalam Puskesmas
Sukowono, pelayanan gizi hanya rawat jalan saja. Berikut adalah uraian mengenai
pelayanan gizi di rawat jalan.
Pelayanan Gizi Rawat Jalan
Pelayanan gizi rawat jalan merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi :
1) Pengkajian gizi
2) Penentuan diagnosis gizi
3) Intervensi gizi
4) Monitoring dan evaluasi asuhan gizi
Tahapan pelayanan gizi rawat jalan diawali dengan skrining/penyaringan gizi oleh
tenaga kesehatan di puskesmas untuk menetapkan pasien berisiko masalah gizi.
Apabila tenaga kesehatan menemukan pasien berisiko masalah gizi maka pasien akan
dirujuk untuk memperoleh asuhaan gizi, dengan langkah – langkah sebagai berikut :
1) Pengkajian Gizi
Tujuan : mengidentifikasi masalah gizi dan faktor penyebab melalui pengumpulan,
verifikasi dan interpretasi data secara sistematis. Kategori data pengkajian gizi
meliputi :
(a) Data Antropometri
Pengukuran Antropometri dapat dilakukan dengan berbagai cara meliputi
pengukuran Tinggi Badan (TB)/ Panjang Badan (PB) dan Berat Badan (BB),
Lingkar Lengan Atas (LiLA), Lingkar Kepala, Lingkar Perut, Rasio Lingkar
Pinggang Pinggul (RLPP), dll.
(b) Data Pemeriksaan Fisik/ Klinis
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan klinis yang
berhubungan dengan gangguan gizi. Pemeriksaan fisik meliputi tanda-tanda
klinis kekurangan gizi atau kelebihan gizi seperti rambut, otot, kulit, baggy pants,
penumpukan lemak dibagian tubuh tertentu, dll.
(c) Data Riwayat Gizi
Ada dua macam pengkajian data riwayat gizi pasien yang umum digunakan yaitu
secara pengkajian riwayat gizi kualitatif dan kuantitatif :
(1) Pengkajian riwayat gizi secara kualitatif dilakukaan untuk memperoleh
gambaran kebiasaan makan/pola makan sehari berdasarkan frekuensi
konsumsi makanan.
(2) Pengkajian gizi secara kuantitatif dilakukan untuk mendapatkan gambaran
asupan zat gizi sehari, dengan cara recall 24 jam, yang dapat diukur dengan
menggunakan bantuan food model.
(d) Data Hasil Pemeriksaan Laboratorium

5
Data hasil pemeriksaan laboratorium dilakuka untuk mendeteksi adanya kelainan
biokimia darah terkait gizi dalam rangka mendukung diagnosis penyakit serta
menegakkan diagnosis gizi pasien/klien. Hasil pemeriksaan laboratorium ini
dilakukan juga untuk menentukan intervensi gizi dan memonitor/mengevaluasi
terapi gizi. Contoh data hasil pemeriksaan laboratorium terkait gizi yang dapat
digunakan misalnya kadar gula darah, kolesterol, LDL, HDL, trigliserida, ureum,
kreatinin, dll.
2) Penentuan Diagnosis Gizi
Diagnosis gizi spesifik untuk masalah gizi yang bersifat sementara sesuai dengan
respon pasien. Dalam melaksanakan asuhan gizi, tenaga gizi puskesmas seharusnya
bisa menegakkan diagnosis gizi secara mandiri tanpa meninggalkan komunikasi
dengan profesi lain di puskesmas dalam memberikan layanan.
Tujuan diagnosis gizi adalah mengidentifikasi adanya masalah gizi, faktor penyebab,
serta tanda dan gejala yang ditimbulkan. Untuk mengetahui ruang ligkup diagnosis
gizi dapat merujuk pada Buku Pedoman Proses Asuhan Gizi Terstandar, Kementerian
RI, 2014 atau di Buku Pedoman Asuhan Gizi di Puskesmas, WHO dan Kementerian
Kesehatan RI, 2011.

3) Pelaksanaan Intervensi Gizi


Intervensi gizi adalah suatu tindakan yang terencana yang ditujukan untuk mengubah
perilaku gizi, kondisi lingkungan, atau aspek status kesehatan individu.
Intervensi gizi dalam rangka pelayanan gizi rawat jalan meliputi :
(a) Penentuan jenis diet sesuai dengan kebutuhan gizi individual.
Jenis diet disesuaikan dengan keadaan/penyakit serta kemampuan pasien/klien
untuk menerima makanan dengan memperhatikan pedoman gizi seimbang
(energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, air, dan serat), faktor
aktifitas, faktor stres serta kebiasaan makan/pola makan. Kebutuhan gizi pasien
ditentukan berdasarkan status gizi, pemeriksaan klinis dan data laboratorium.
(b) Edukasi Gizi
Edukasi gizi bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terkait
perbaikan gizi dan kesehatan.
(c) Konseling Gizi
Konseling yang diberikan sesuai kondisi pasien/klien meliputi konseling gizi
terkait penyakit, konseling ASI, konseling Pemberian Makan Bayi dan Anak
(PMBA), konseling aktifitas fisik, dan konseling faktor risiko Penyakit Tidak
Menular (PTM)` tujuan konseling adalah untuk mengubah perilaku dengan cara
meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai masalah gizi yang
dihadapi.

6
4) Monitoring dan Evaluasi Asuhan Gizi Rawat Jalan
Monitoring dan evaluasi bertujuan untuk mengetahui tingkat kemajuan, keberhasilan
pelaksanaan intervensi gizi pada pasien/klien dengan cara :
1) Menilai pemahaman dan kepatuhan pasien/klien terhadap intervensi gizi
2) Menentukan apakah intervensi yang dilaksanakan sesuai dengan rencana diet
yang telah ditetapkan
3) Mengindektifikasi hasil asuhan gizi yang positif maupun negatif
4) Menginformasikan yang menyebabkan tujuan intervensi gizi tidak tercapai
5) Menetapkan kesimpulan yang berbasis fakta
Evaluasi hasil :
(a) Membandingkan data hasil monitoring dengan tujuan rencana diet atau standar
rujukan untuk mengkaji perkembangan dan menentukan tindakan selanjutnya
(b) Mengevaluasi dampak dari keseluruhan intervensi terhadap hasil kesehatan
pasien secara menyeluruh, meliputi perkembangan penyakit, data hasil
pemeriksaan laboratorium, dan status gizi. Hal-hal yang dimonitor dan dievaluasi
dalam pelaksanaan asuhan gizi antara lain :
1. Perkembangan data antropometri
2. Perkembangan data hasil pemeriksaan laboratorium terkait gizi
3. Perkembangan data fisik/klinis
4. Perkembangan data asupan makan
5. Perkembangan diagnosis gizi
6. Perubahan perilaku dan sikap
2. Alur Pelayanan Gizi di Dalam Gedung
1. Pasien /klien datang sendiri atau dirujuk dari struktural Puskesmas (Pustu,
Polindes, Poskesling) atau UKBM (Posyandu, Posbindu PTM, Poksila, dll) atau
sarana kesehatan lain.
2. Pasien/klien mendaftar ke loket pendaftaran di Puskesmas.
3. Pasien/klien mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan masalah
kesehatannya di Poli Umum/Balai Pengobatan Puskesmas (BP) atau Poli KIA atau
Poli gigi oleh petugas medis atau paramedis.
4. Di Poli Umum/Balai Pengobatan atau Poli KIA pasien sekaligus mendapatkan
Skrining Gizi oleh tenaga kesehatan serta ditentukan apakah pasien perlu dirawat
inap atau cukup rawat jalan. Pasien/klien akan dirujuk untuk mendapatkan
pemeriksaan penunjang apabila diperlukan seperti pemeriksaan laboratorium
radiologi, dan lai-lain sesuai kemampuan Puskesmas. Pasien/klien mendapatkan
obat sesuai masalah kesehatannya dari apotek atau bagian farmasi di Puskesmas
5. Pasien/klien rawat jalan yang berisiko atau tidak berisiko mengalami masalah gizi

7
bisa mendapatkan konseling gizi atas permintaan pasien.
6. Pasien/klien yang mendapatkan pelayanan gizi oleh Tim Asuhan Gizi Puskesmas.
Jika diperlukan akan dilakukan Skrining Gizi Ulang oleh tenaga gizi.
7. Pasien rawat jalan yang berisiko atau tidak berisiko mengalami masalah gizi
mendapatkan pelayanan gizi sesuai Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT) mulai
dari pengkajian gizi, diagnosis gizi, intervensi gizi, monitoring dan evaluasi.
8. Hasil monitoring dan evaluasi ditindaklanjuti oleh Tim Asuhan Gizi Puskesmas.
Tindak lanjut dapat berupa rujukan ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang lebih
tinggi apabila masalah gizi dengan penyakit penyerta dan atau komplikasi yang
dialami pasien/klien tidak memungkinkan ditangani di Puskesmas atau dapat
berupa pengkajian ulang baik maslah medis dan masalah gizinya.

B. Pelayanan Gizi di Luar Gedung


1. Kegiatan Pelayanan Gizi di Luar Gedung
Secara utuh kegiatan pelayanan gizi di luar gedung tidak sepenuhnya dilakukan hanya
di luar gedung, melainkan tahap perencanaan dilakukan di dalam gedung. Kegiatan
pelayanan gizi di luar gedung ditekankan ke arah promotif dan preventif serta
sasarannya adalah masyarakat di wilayah kerja puskesmas. Beberapa kegiatan
pelayanan gizi di luar gedung dalam rangka upaya perbaikan gizi yang dilaksanakan
oleh puskesmas antara lain :
1. Edukasi Gizi/Pendidikan Gizi
a. Tujuan edukasi gizi adalah untuk mengubah pengetahuan, sikap , dan perilaku
masyarakat mengacu pada Pedoman Gizi Seimbang (PGS) dan sesuai dengan
risiko/masalah gizi.
b. Sasarannya adalah kelompok dan masyarakat di wilayah kerja puskesmas.
c. Lokasi edukasi gizi antara lain : Posyandu, Pusling, Institusi Pendidikan, Kegiatan
Keagamaan, Kelas Ibu, Kelas Balita, Upaya Kesehatan Kerja (UKK), dll.
d. Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam edukasi gizi disesuaikan dengan situasi dan
kondisi serta berkoordinasi dengan tim penyuluh di puskesmas misalnya tenaga
promosi kesehatan, antara lain :
1) Merencanakan kegiatan edukasi di wilayah kerja Puskesmas
2) Merencanakan materi edukasi yang akan disampaikan kepada masyarakat
3) Memberikan pembinaan kepada kader agar mampu melakukan pendidikan gizi
di Posyandu dan masyarakat luas.
4) Memberikan pendidikan gizi secara langsung di UKBM, institusi pendidikan,
pertemuan keagamaan, dan pertemuan-pertemuan lainnya.
5) Menyusun laporan pelaksanaan pendidikan gizi di wilayah kerja Puskesmas.

8
2. Konseling ASI Eksklusif dan PMBA
a. Tujuan konseling ASI Eksklusif dan PMBA adalah :
1) Meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku keluarga sehingga bayi baru
lahir segera diberikan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan meneruskan ASI
Eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan.
2) Sejak usia 6 bulan di samping meneruskan ASI mulai diperkenalkan Makanan
Pendamping ASI (MP-ASI)
3) Meneruskan ASI dan MP-ASI sesuai kelompok umur sampai usia 24 bulan.
b. Sasaran konseling adalah ibu hamil dan atau keluarga dan ibu yang mempunyai
anak usia 0-24 bulan.
c. Lokasi konseling antara lain Posyandu, Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI),
terintegrasi dengan program lain dalam kegiatan kelas balita, kelas Ibu.
d. Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam konseling ini disesuaikan dengan situasi
dan kondisi antara lain :
1) Merencanakan kegiatan konseling ASI dan PMBA di wilayah kerja Puskesmas.
2) Menyiapkan materi dan media konseling yang akan digunakan.
3) Melakukan pembinaan kepada tenaga kesehatan lain atau kader yang ditunjuk
untuk melaksanakan tugas konseling ASI dan PMBA.
4) Memberikan konseling kepada sasaran sesuai permasalahan individualnya.
5) Materi konseling PMBA antara lain :
a) Makanan sehat selama hamil
b) Inisiasi menyusu dini (IMD)
c) ASI Eksklusif
d) Makanan MP-ASI kepada bayi mulai usia 6 bulan dan terus memberikan
ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih.
e) Makanan sehat Ibu menyusui
6) Membuat laporan bulanan pelaksanaan konseling di wilayah kerja Puskesmas.

3) Konseling Gizi melalui Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular


(Posbindu PTM)
a. Tujuan : mencegah dan mengendalikan faktor risiko PTM berbasis masyarakat
sesuai dengan sumber daya dan kebiasaaan masyarakat agar masyarakat dapat
mawas diri (awareness) terhadap faktor risiko PTM.
b. Sasaran : masyarakat sehat, berisiko dan penyandang PTM berusia >15 tahun.
c. Lokasi : Posbindu PTM di integrasikan ke kegiatan masyarakat yang sudah aktif
berjalan baik antara lain institusi pendidikan, di tempat kerja maupun di lingkungan
tempat tinggal dalam wadah desa, yang dilakukan minimum 1 (satu) kali dalam
sebulan.

9
d. Peran tenaga gizi puskesmas pada Posbindu PTM adalah sebagai konselor gizi
terkait faktor risiko PTM yang ditemukan saat pemeriksaan kesehatan oleh tenaga
medis.

4) Pengelolaan Pemantauan Pertumbuhan di Posyandu


a. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memantau status gizi Balita menggunakan KMS
(Kartu Menuju Sehat) atau Buku KIA.
b. Sasaran kegiatan ini adalah kader Posyandu.
c. Lokasi pelaksanaan kegiatan ini di Posyandu.
d. Fungsi tenaga gizi puskesmas antara lain :
1) Merencanakan kegiatan pemantauan pertumbuhan di wilayah kerja Puskesmas
2) Memberikan pembinaan kepada kader posyandu agar mampu melakukan
pemantauan pertumbuhan di Posyandu
3) Melakukan penimbangan
4) Membina kader dalam menyiapkan SKDN dan pelaporan
5) Menyusun laporan pelaksanaan pemantauan pertumbuhan di wilayah kerja
Puskesmas
6) Memberikan konfirmasi terhadap hasil pemantauan pertumbuhan.

5) Pengelolaan Pemberian Kapsul Vitamin A


a. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan keberhasilan kegiatan pemberian
vitamin A melalui pembinaan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan
pemantauan sehingga kegiatan pencegahan kekurangan vitamin A dapat berjalan
dengan baik.
b. Sasaran : kegiatan ini antara lain bayi, balita, dan ibu nifas
c. Lokasi pelaksanaan kegiatan ini di Posyandu
d. Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam pengelolaan manajemen pemberian vitamin
A antara lain :
1) Merencanakan kebutuhan vitamin A untuk bayi 6 – 11 bulan, anak usia 12 – 59
bulan, dan ibu nifas setiap tahun.
2) Memantau kegiatan pemberian vitamin A di wilayah kerja Puskesmas yang
dilakukan oleh tenaga kesehatan lain.
3) Menyusun laporan pelaksanaan distribusi vitamin A di wilayah kerja Puskesmas.
e. Ketentuan dalam pemberian vitamin A :
1) Bayi 6 -11 bulan diberikan vitamin A 100.000 SI warna biru, diberikan dua kali
setahun yaitu pada bulan Februari dan Agustus
2) Balita 12 – 59 bulan diberikan kapsul vitamin A 200.000 warna merah, diberikan
dua kali setahun yitu pada bulan Februari dan Agustus

10
3) Bayi dan Balita Sakit
Bayi usia 6 – 11 bulan dan balita usia 12 – 59 bulan yang sedang menderita
campak, diare, gizi buruk, xeroftalmia, diberikan vitamin A dengan dosis sesuai
umur
4) Ibu nifas (0 – 42 hari)
Pada ibu nifas diberikan 2 kapsul merah dosis 200.000 SI, 1 kapsul segera setelah
melahirkan dan 1 kapsul lagi 24 jam berikutnya.

6. Pengelolaan Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) untuk Ibu Hamil dan Ibu
Nifas
a. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan keberhasilan pemberian TTD untuk
kelompok masyarakat yang rawan menderita anemia gizi besi yaitu Ibu Hamil
melalui pembinaan mulai dari perencanaan, pelaksaaan, dan pemantauan
sehingga kegiatan pencegahan anemia gizi besi.
b. Sasaran kegiatan ini adalah ibu hamil dan ibu nifas
c. Lokasi : di tempat praktek bidan, Posyandu.
d. Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam pengelolaan manajemen pemberian TTD
antara lain :
1) Merencanakan kebutuhan TTD untuk kelompok sasaran selama satu tahun.
2) Memantau kegiatan pemberian TTD oleh bidan di wilayah kerja puskesmas.
3) Menyusun laporan pelaksanaan distribusi TTD di wilayah kerja Puskesmas.
4) Ketentuan dalam pemberian TTD untuk Ibu hamil dan Ibu nifas :
a) Pencegahan : 1 tablet/hari sejak awal kehamilan dan dilanjutkan sampai
masa nifas
b) Pengobatan : 2 tablet/hari sampai kadar Hb Normal

7. Edukasi Dalam Rangka Pencegahan Anemia pada Remaja Putri dan WUS
a. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan keberhasilan program pencegahan
anemia gizi besi pada kelompok sasaran
b. Sasaran kegiatan ini adalah Remaja putri, WUS
c. Lokasi pelaksanaan kegiatan ini di UKS (Usaha Kesehatan Sekolah)
d. Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam pengelolaan manajemen pemberian TTD
antara lain :
1) Memberikan pendidikan gizi agar remaja putri dan WUS mengonsumsi TTD
secara mandiri
2) Apabila di suatu daerah prevalensi anemia ibu hamil >20% maka tenaga gizi
puskesmas merencanakan kebutuhan TTD kepada kelompok sasaran
3) Memantau kegiatan pemberian TTD oleh bidan di wilayah kerja Puskesmas

11
4) Menyusun laporan pelaksanaan distribusi TTD di wilayah kerja Puskesmas
5) Ketentuan dalam pemberian TTD untuk Remaja Putri dan WUS
a) Pencegahan : 1 tablet/hari selama haid dan 1 tablet/minggu
b) Pengobatan : 1 tablet/hari sampai kadar Hb Normal

8. Pengelolaan Pemberian MP-ASI dan PMT-Pemulihan


a. MP-ASI
MP-ASI Bufferstock adalah MP-ASI pabrikan yang disiapkan oleh Kementerian
Kesehatan RI dalam rangka pencegahan dan penanggulangan gizi terutama di
daerah rawan gizi/keadaan darurat/bencana. MP-ASI Bufferstock didistribusikan
secara bertingkat. Tenaga gizi puskesmas akan mendistribusikan kepada
masyarakat. Sasaran MP-ASI Buffer Stock : balita 6 – 24 bulan yang terkena
bencana.
MP-ASI Lokal adalah MP-ASI yang dibuat dari makanan lokal setempat dalam
rangka untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan tenaga kesehatan. MP-
ASI lokal dapat dialokasikan dari dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK),
dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) atau dana lain sesuai dengan
peraturan yang berlaku. Sasaran MP-ASI lokal : balita gizi kurang 6 – 24 bulan.
Tugas tenaga gizi puskesmas dalam hal ini adalah :
1. Merencanakan menu MP-ASI lokal
2. Mengadakan bahan MP-ASI lokal
3. Mengolah MP-ASI lokal dibantu oleh kader
4. Mendistribusikan kepada sasaran dibantu oleh kader
b. PMT Pemulihan
1. Sasaran : balita gizi kurang, balita pasca perawatan gizi buruk, ibu hamil KEK
(Kurang Energi Kronik).
2. PMT Pemulihan untuk balita gizi kurang adalah makanan ringan padat gizi
dengan kandungan 350 – 400 kalori energi dan 10 – 15 gram protein.
3. PMT bumil KEK Bufferstock diberikan dalam bentuk makanan padat gizi
dengan kandungan 500 kalori energi dan 15 gram protein.
4. Lama pemberian PMT Pemulihan untuk balita dan Ibu Hamil KEK adalah 90
hari makan anak (HMA) dan 90 hari makan bumil (HMB).
Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam manajemen pemberian MP-ASI dan PMT-
Bumil KEK antara lain :
1) Merencanakan kebutuhan MP-ASI dan PMT Bumil KEK untuk sasaran selama
satu tahun.
2) Memantau kegiatan pemberian MP-ASI dan PMT Bumil KEK, di wilayah kerja
Puskesmas.

12
3) Menyusun laporan pelaksanaan distribusi MP-ASI dan PMT Bumil KEK wilayah
kerja Puskesmas.

9. Pemulihan Gizi Berbasis Masyarakat (PGBM)


Pemulihan gizi berbasis masyarakat merupakan upaya yang dilakukan masyarakat
untuk mengatasi masalah gizi yang dihadapi dengan dibantu oleh tenaga gizi
puskesmas dan tenaga kesehatan lainnya. Pendirian PGBM tergantung kepada
besaran masalah gizi di daerah.
Dalam pelaksanaan PGBM dapat merujuk buku Pedoman Pelayanan Anak Gizi
Buruk, Kementerian Kesehatan 2011.
a. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan status gizi balita
b. Sasaran kegiatan ini adalah balita gizi buruk tanpa komplikasi
c. Lokasi pelaksanaan kegiatan ini di panti/pos pemulihan gizi
d. Fungsi tenaga gizi di PGBM adalah :
1) Melakukan terapi gizi (konseling, pemberian makanan pemulihan gizi,
pemantauan status gizi, dll) untuk pemulihan gizi buruk
2) Memberikan bimbingan teknis kepada kader dalam melaksanakan perbaikan
gizi di Pos Pemulihan Gizi berbasis masyarakat
3) Menyusun laporan pelaksanaan program perbaikan gizi di Pos Pemulihan Gizi
berbasis masyarakat

10. Surveilans Gizi


Kegiatan surveilans gizi meliputi kegiatan pengumpulan dan pengolahan data yang
dilakukan secara terus menerus, penyajian serta diseminasi informasi bagi Kepala
Puskesmas serta Lintas Program dan Lintas Sektor terkait di tingkat Kecamatan.
Informasi dari kegiatan surveilens gizi dimanfaatkan untuk melakukan tindakan
segera maupun untuk perencanaan program jangka pendek, menengah, maupun
jangka panjang. Sebagai acuan bagi petugas gizi puskesmas dalam melakukan
surveilens gizi bisa menggunakan buku Surveilens Gizi, Kementerian Kesehatan RI,
2014.
a. Tujuan :
1) Tersedianya informasi berkala dan terus menerus tentang besaran masalah
gizi dan perkembangan gizi masyarakat
2) Tersedianya informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui penyebab
masalah gizi dan faktor-faktor terkait
3) Tersedianya informasi kecenderungan masalah gizi di suatu daerah
4) Menyediakan informasi intervensi yang paling tepat untuk dilakukan (bentuk,
sasaran, dan tempat)

13
b. Lingkup data surveilans gizi antara lain :
1) Data status gizi
2) Data konsumsi makanan
3) Data cakupan program gizi
c. Sasaran : bayi, balita, anak usia sekolah, remaja, WUS, ibu hamil, ibu menyusui,
pekerja serta lansia.
d. Dalam pelaksanaan surveilans gizi, tenaga gizi puskesmas berkoordinasi dengan
tenaga surveilans di Puskesmas dengan fungsi antara lain :
1) Merencanakan surveilans mulai dari lokasi, metode/cara melakukan, dan
penggunaan data
2) Melakukan surveilans gizi meliputi mengumpulkan data, mengolah data,
menganalisa data, melaksanakan diseminasi informasi
3) Membina kader posyandu dalam pencatatan dan pelaporan kegiatan gizi di
pposyandu
4) Melakasanakan intervensi gizi yang tepat
5) Membuat laporan surveilans gizi

e. Contoh Kegiatan dalam Surveilans Gizi antara lain :


1) Pemantauan Status Gizi (PSG)
a) Tujuan : mengetahi status gizi masyarakat sebagai bahan perencanaan
b) Sasaran : disesuaikan dengan kebutuhan setempat (bayi, balita, anak
usia sekolah, remaja, WUS, ibu hamil, ibu menyusui, pekerja serta lansia)

2) Pemantauan Wilayah Setempat (PWS)


a) Tujuan :
(1) Tersedianya informasi secara terus-menerus, cepat, tepat dan akurat
sebagai dasar penentuan tindakan dalam upaya untuk pencegahan
dan penanggulangan masalah gizi
(2) Memantau situasi pangan dan gizi antar desa/kelurahan dalam 1
kecamatan
b) Sasaran : Lintas program dan lintas sektor di tingkat kecamatan di
wilayah kerja Puskesmas
3) Sistem Kewaspadaan Dini – Kejadian Luar Biasa/SKD-KLB Gizi Buruk
a) Tujuan : mengantisipasi kejadian luar biasa gizi buruk di suatu wilayah
pada kurun waktu tertentu

14
b) Sasaran : balita dan keluarganya, posyandu
4) Pemantauan Konsumsi Garam Beriodium di Rumah Tangga
a) Tujuan : memperoleh gambaran berkala tentang cakupan konsumsi
garam beriodium yang memenuhi syarat di masyarakat. Dilaksanakan
setiap satu tahun sekali
b) Sasaran : rumah tangga

11) Pembinaan Gizi di Institusi


a. Pembinaan Gizi di Sekolah
1) Tujuan kegiatan ini adalah memperbaiki status gizi anak sekolah
2) Sasaran kegiatan ini adalah peserta didik PAUD, Taman Kanak-kanak/RA,
SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA Pondok Pesantren, dan sederajat.
3) Bentuk-bentuk kegiatan perbaikan gizi di sekolah
a) Edukasi gizi (penyuluhan)
b) Penjaringan status gizi di sekolah
c) Pemberdayaan peserta didik sebagai dokter kecil/Kader Kesehatan Remaja
(KKR)
d) Pengawasan dan pembinaan pengelola kantin sehat
4) Fungsi tenaga gizi puskesmas bersama dengan tim UKS
a) Mengkoordinir dan atau melakukan edukasi gizi di sekolah
b) Menapis status gizi anak sekolah
c) Mengkoordinir pemantauan dan intervensi terhadap status gizi anak di
sekolah
d) Menjalin kerjasama dengan sekolah dalam membina kantin sekolah
f) Membuat laporan program perbaikan gizi di sekolah

12. Kerjasama lintas sektor dan lintas program


a. Tujuan : meningkatkan pencapaian indikator perbaikan gizi di tingkat puskesmas
melalui kerjasama lintas sektor dan lintas program
b. Sasaran : seksi pemberdayaan masyarakat kantor camat, Penyuluh Pertanian
Lapangan, juru penerang kecamatan, TP PKK, Dinas Pendidikan, Kepala
Desa/Kelurahan, program KIA bidan koordinator, tenaga sanitarian, tenaga
promosi kesehatan, perawat, sanitarian, juru imunisasi, dan lain-lain.
c. Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam kerjasama lintas sektor dan lintas program
adalah :
a. Merencanakan kegiatan sensitif yang memerlukan kerjasama
b. Mengidentifikasi sektor dan program yang perlu kerjasama
c. Melakukan pertemuan untuk menggalang komitmen kerjasama

15
d. Melakukan koordinasi dalam menentukan indikator-indikator keberhasilan
kerjasama
e. Mengkoordinasikan pelaksanaan kerjasama
f. Membuat lapporan hasil kerjasama
2. Alur Pelayanan Gizi di Luar Gedung
Penanganan masalah gizi memerlukan pendekatan yang komprehensif (promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif). Pelaksanaan pelayanan gizi luar gedung
bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor terkait. Alur pelayanan gizi luar
gedung disesuaikan dengan jenis kegiatan, sasaran dan keadaan wilayah setempat.

C. PENCATATAN DAN PELAPORAN


Pencatatan dan pelaporan untuk mendokumentasikan pelayanan gizi di dalam dan di luar
gedung menggunakan instrumen antara lain :
1. Buku Register Pasien
2. Rekap jumlah pasien yang mendapat konseling
3. Dokumentasi Asuhan Gizi
4. F3/Gizi (Rekapitulasi data gizi dari Puskesmas)
5. F2/Gizi (Rekapitulasi data gizi dari Desa/Kelurahan)
6. F1/Gizi (Rekapitulasi data gizi dari Posyandu)
7. Pelaporan ASI Eksklusif
8. Pelaporan BGM

D. MONITORING DAN EVALUASI


Kegiatan yang dimonitor adalah kegiatan pelayanan gizi baik di dalam maupun di luar
gedung. Cara melakukan monitoring dan evaluasi perlu memperhatikan jenis dan waktu
kegiatan yang dilaksanakan. Dari sisi jenis kegiatan, dapat dibedakan antara monitoring di
dalam gedung dan luar gedung.
1. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan di Dalam Gedung
Kegiatan yang dimonitor dan dievaluasi :
Konseling
1) Data jumlah rujukan permintaan konseling
2) Data jumlah pasien/klien yang mendapatkan konseling
3) Jenis Materi Konseling yang diberikan kepada pasien
2. Monitoring dan Evaluasi di Luar Gedung
Kegiatan yang dimonitor dan dievaluasi :
a. Penyuluhan Gizi
1) Frekuensi penyuluhan gizi yang direncanakan diselenggarakan di luar Puskesmas
per bulan dan per tahun

16
2) Frekuensi penyuluhan gizi yang dilaksanakan di luar Puskesmas per bulan dan per
tahun.
3) Materi penyuluhan yang diberikan per bulan dan per tahun.
b. Konseling
1) Data jumlah rujukan permintaan konseling per bulan dan per tahun
2) Data jumlah pasien/klien yang mendapatkan konseling gizi per bulan dan pertahun
c. Pengelolaan Pemantauan Pertumbuhan di Posyandu
1) Data SKDN yang meliputi jumlah balita yang ada (S), jumlah balita yang punya
KMS (K), jumlah balita yang ditimbang (D), jumlah balita yang naik berat badannya
(N) per bulan, triwulan, semester, tahun
2) Persentase D/S dan N/D per bulan, triwulan, semester, tahun
3) Jumlah balita BGM dan 2T per bulan, triwulan, semester, tahun
4) Jumlah balita BGM dan 2T yang dirujuk per bulan, triwulan, semester, tahun
d. Pemberian Kapsul Vitamin A
1) Data jumlah sasaran yang seharusnya mendapat vitamin A
2) Data jumlah sasaran yang telah mendapatkan vitamin A
e. Pemberian Tablet Tambah Darah pada Ibu Hamil
1) Data jumlah sasaran yang seharusnya mendapat TTD
2) Data jumlah sasaran yang telah mendapatkan TTD
f. Pengelolaan MP-ASI, PMT-Pemulihan
1) Data jumlah sasaran yang seharusnya mendapatkan MP-ASI, PMT-Pemulihan
2) Data jumlah sasaran yang telah mendapatkan MP-ASI, PMT-Pemulihan
g. Pembinaan Gizi Institusi
1) Data jumlah edukasi gizi yang direncanakan per bulan dan per tahun di Institusi di
luar Puskesmas
2) Data jumlah edukasi gizi yang dilaksanakan per bulan dan per tahun di Institusi di
luar Puskesmas
h. PGBM (Pemullihan Gizi Berbasis Masyarakat)
1) Data jumlah anak gizi buruk tanpa komplikasi yang ada di wilayah kerja
Puskesmas per bulan dan per tahun
2) Data jumlah anak gizi buruk tanpa komplikasi yang mendapatkan penanganan di
PGBM per bulan dan per tahun
i. Surveilans Gizi
1) Jenis kegiatan surveilans yang perlu dilakukan Puskesmas
2) Jenis kegiatan surveilans yang telah dilakukan Puskesmas
j. Kerjasama Lintas sektor dan Lintas Program
1) Jumlah rencana rapat LP/LS per bulan dan per tahun
2) Jumlah realisasi rapat LP/LS per bulan dan per tahun

17
BAB V
LOGISTIK

Logistik yang diperlukan dalam pelayanan Gi zi antara lain:

A. Obat Gizi
1. Albendasol (dilaksanakan program P2)
2. Vitamin A Biru
3. Vitamin A Merah
4. Taburia
5. Tablet Tambah Darah ( Fe )
6. Mineral Mix
7. Zink Tablet (dilaksanakan program P2)

B. Alat Gizi
1. Timbangan injak dan Tinggi Badan
2. Food Model
3. Liflet
4. KMS / Buku KIA

18
C. Format pencatatan dan pelaporan cakupan dan logistik.

BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

Keselamatan pasien (patient safety) adalah suatu sistim dimana puskesmas


membuat asuhan pasien lebih aman. Hal ini termasuk asesmen resiko, identifikasi dan
pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis
insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya implementasi solusi untuk
meminimalkan timbulnya resiko. Sistim ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan
oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil.
Tujuan penerapan keselamatan pasien adalah terciptanya budaya keselatan pasien,
meningkatkan akuntabilitas puskesmas terhadap pasien dan masyarakat, menurunkan
kejadian tidak diharapkan (KTD) di puskesmas, terlaksananya program-program
pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan kejadian tidak diharapkan.
Pelayanan gizi memperhatikan keselamatan pasien dengan cara
1. Identifikasi potensi
- Kemungkinan kesalahan pemberian obat gizi
- Kemungkinan kesalahan pemberian PMT yang sudah kadaluwarsa
- Kemungkinan kesalahan pemberian anamnese diet
2. Pencegahan terjadinya kesalahan
- Petugas dalam melakukan pemberian obat gizi, harus sesuai dengan petunjuk
- Petugas dalam melakukan pemberian PMT pemulihan harus melihat dulu
kadaluwarsa bahan yang diberikan
- Jika tidak mendapat bahan PMT dari Dinas Kesehatan, puskesmas melaksanakan
pengadaan bahan PMT sesuai alokasi dari Dinas Kesehatan.
3. Pelaporan
- Pengaduan obat gizi yang sudah kadaluwarsa pada Dinas Kesehatan
- Pengaduan susu yang diberikan yang sudah kadaluwarsa di laporkan pada Dinas
Kesehatan (apabila mendapat bantuan langsung dari Dinas Kesehatan)

19
4. Pengawasan tindak/lanjut
- Mengembalikan susu yang sudah kadaluwarsa ke Dinas Kesehatan.
- Mengembalikan/memusnahkan obat gizi yang sudah kadaluwarsa

BAB VII
KESELAMATAN KERJA

A. Tujuan
- Petugas Kesehatan di dalam menjalankan tugas dan kewajibannya dapat
melindungi diri sendiri, pasien dan masyarakat dari penyebaran infeksi.
- Petugas Kesehatan di dalam menjalankan tugas dan kewajibannya mempunyai
resiko tinggi terinfeksi penyakit menular di lingkungan tempat kerjanya, untuk
menghindarkan paparan tersebut, setiap petugas harus menerapkan prinsip
universal precoution

B. Tindakan yang beresiko terpanjang


- Cuci tangan yang kurang benar
- Masker

C. Prinsip Keselamatan Kerja


Prinsip utama prosedur universal precoution dalam kaitan Keselamatan Kerja adalah
menjaga higiene sanitasi individu, higiene sanitasi ruangan. Kedua prinsip tersebut
dijabarkan menjadi 2 kegiatan pokok yaitu :
- Cuci tangan guna mencegah infeksi silang
- Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian masker.

20
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Pengendalian mutu digunakan di program gi zi PKM Sukowono dalam memberikan


pelayanan adalah ketepatan dalam pemberian obat gi zi, PMT gizi , pelayanan gizi.
Pengendalian mutu akan dipatau oleh Tim Mutu Puskesmas Sukowono, melalui monitoring
dan evaluasi pelaksanaan, pencapaian pengendalian mutu dibahas dalam pertemuan
managemen dan dilaporkan kepada Kepala Puskesmas.

21
BAB IX
PENUTUP

Pedoman ini sebagai acuan bagi karyawan puskesmas dan lintas sektor terkait dalam
pelaksanaan kegiatan pelayanan Gizi di UPT. Puskesmas Sukowono.
Keberhasilan kegiatan upaya pelayanan Gi zi merupakan keberhasilan upaya menekan
angka kematian akibat masalah kekurangan Gi zi.

22