Anda di halaman 1dari 10

KOLAM RETENSI SEBAGAI ALTERNATIF PENGENDALI BANJIR

Evy Harmani, M. Soemantoro

Program Studi Teknik Sipil


Universitas Dr. Soetomo Surabaya

ABSTRAK
Permasalahan banjir dan drainase selalu mewarnai permasalahan yang terjadi di area
perkotaan karena seringkali banjir dan drainase mencuat ke permukaan setelah perkembangan
perkotaan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tata guna lahan. Lahan yang semula
memiliki daya resapan air besar karena masih dalam kondisi alami menjadi lahan masive
yang berdaya resap air relatif sangat kecil setelah banyak pembangunan. Paradigma baru
dalam pengendalian banjir adalah melakukan suatu upaya untuk menahan air selama
mungkin di suatu tempat tanpa menyebabkan gangguan. Hal ini bukan saja sebagai upaya
mengendalikan datangnya banjir tetapi juga sebagai upaya konservasi. Kolam Retensi
ternyata menjadi jawaban bagi kebutuhan tersebut. Dari hasil beberapa penelitian dapat
dilihat dari analisa hidrograf bahwa pemakaian Kolam Retensi ternyata dapat mengendalikan
besarnya debit puncak dengan menekan atau memotong puncak banjir yang seharusnya
terjadi.

Kata Kunci: Kolam Retensi, Reservoir, Retarding Pond, Banjir, Pengendalian Banjir

1. PENDAHULUAN Secara teori yang dimaksud dengan


Banjir adalah salah satu fenomena pengendalian banjir adalah mengalirkan
alam yang terjadi tanpa pernah bisa kelebihan air ke tempat lain agar tidak
dihindari tetapi bisa dikendalikan. Banjir mengganggu kenyamanan yang ada.
dapat terjadi dalam skala yang ringan yaitu Konsep lama dalam pengendalian banjir
terjadi hanya pada saat hujan turun dan adalah mengusahakan agar air secepatnya
surut di saat hujan reda bahkan sampai dialirkan/ dibuang kehilir. Sejalan dengan
skala besar dimana air yang melimpah pengalaman ternyata hal ini tidak selalu
tetap tergenang sehingga menimbulkan membawa hal baik bagi masyarakat yang
gangguan pada lingkungan, kerusakan- tinggal di daerah hilir. Dalam
kerusakan fisik yang pada akhirnya dapat kenyataannya pola ini seringkali hanya
menghambat kegiatan sosial dan ekonomi. memindahkan lokasi banjir yang terjadi.
Sehingga muncullah konsep baru
Banjir dapat diartikan sebagai
pengendalian banjir.
datangnya air secara berlebihan di suatu
tempat. Apabila hal ini tidak mendapatkan Konsep baru dalam pengendalian
penanganan yang semestinya, maka dapat banjir adalah suatu upaya mengendalikan
menimbulkan gangguan dan kerugian bagi air permukaan dengan sasaran
masyarakat yang tinggal di tempat tersebut memperlama kehadirannya pada suatu
bahkan kehilangan kehidupan serta nyawa. tempat, tanpa mengganggu lingkungan
yang ada. Konsep yang baru ini lebih

71
didasarkan pada upaya pelestarian air agar deras dengan intensitas
tidak terjadi kekeringan. hujan yang tinggi di
bagian hulu maka
bagian hilir akan terjadi
2. KONSEP TEORI banjir tiba-tiba. Apabila
Tipe Banjir kapasitas sungai tidak
mencukupi maka aliran
Ada beberapa jenis atau tipe banjir akan keluar melalui
yang menjadi dasar bagi setiap keputusan tanggul-tanggul sungai
yang diambil untuk penanganan bajir, dan membanjiri daerah
yaitu: sekitarnya.
Banjir Sungai : melubernya air sungai Banjir Lokal/ Perkotaan : banjir di area
melalui tanggul-tanggul pemukiman atau
sungai. Hal ini perkotaan akibat
seringkali terjadi pada drainase yng tidak
sungai-sungai perennial memadai atau
dengan intensitas hujan perubahan tata guna
yang tinggi. lahan. Perubahan tata
Banjir Pantai : naiknya muka air laut guna lahan menjadi area
akibat pasang naik. masif seringkali
Daerah-daerah di muara menjadi pemicu utama
sungai seringankali dalam terjadinya banjir,
mengalami bajir tipe karena berkurangnya
ini. Naiknya muka air resapan sehingga aliran
laut akibat pasang tidak banyak memiliki
masuk ke muara sungai akses untuk meresap ke
mengakibatkan dalam tanah.
terhambatnya air di hilir Banjir danau/ tampungan: naiknya muka
sungai sehingga ketika air di danau atau
terjadi hujan dihulu tampungan hingga
sehingga terjadi melewati tanggul
stagnasi aliran di ruas danau/ tampungan.
bagian hilir. Hal ini Akibat intensitas hujan
menyebabkan terjadinya yang tinggi seringkali
banjir. menyebabkan danau
Banjir Tiba-tiba : banjir yang terjadi atau tampungan
secara tiba-tiba akibat melimpaskan airnya
hujan deras dengan melalui tanggul
intensitas tinggi. Banjir sehingga berakibat
ini seringkali terjadi terjadinya banjir/
area pemukiman. genangan di daerah
Kurangnya resapan dan sekitarnya.
tingginya intensitas
hujan menjadi pemicu
utama terjadinya banjir Penyebab Banjir
tipe ini. Banjir ini juga Banjir dan genangan merupakan
sering terjadi di sungai- masalah perkotaan yang hampir setiap
sungai ephemeral. tahun berulang, namun belum juga
Ketika terjadi hujan terselesaikan bahkan semakin meningkat
72
frekuensinya, luasannya, kedalamannya, terjadinya banjir di area yang cukup
maupun durasinya. Jika dilihat selama ini dekat dengan pantai
akar permasalahan banjir dan genangan di
 Back Water atau aliran balik terjadi di
perkotaan berawal dari pertambahan muara-muara akibat naiknya elevasi
penduduk yang semakin pesat yang muka air laut akibat pasang sehingga
kemudian berdampak pada perubahan tata menahan laju aliran sungai menuju
guna lahan. laut. Bila tanggul sungai terlampaui
Dalam upaya penanganan atau maka dapat menimbulkan banjir.
pengendalian banjir, hendaklah diketahui  Aliran Debris. Ketika gunung berapi
penyebab terjadinya banjir tersebut yang mengalami erupsi maka akan
dapat diklasifikasikan sebagai berikut: memuntahkan isi perutnya ke
Banjir dan genangan karena ulah permukaan. Air hujan akan membawa
manusia, yaitu: material ini turun dan seringkali
 Perubahan tata guna lahan di daerah mengisi badan air yang ada
aliran sungai (DAS). disekitarnya sehingga menurunkan
 Perubahan fungsi saluran irigasi kapasitas dan fungsi badan air tersebut.
menjadi saluran drainase.
 Pembuangan sampah ke saluran  Kapasitas Saluran/ Sungai tidak selalu
drainase. memadai jumlah aliran yang
 Kawasan kumuh di sepanjang sungai melaluinya. Perubahan tata guna lahan
atau saluran drainase. memiliki potensi paling besar terhadap
perubahan kapasitas saluran sehingga
 Infrastruktur drainase kurang berfungsi
dapat mengakibatkan banjir.
(bendungan dan bangunan air).
Terjadinya erupsi gunung berarti dan
Banjir dan genangan karena faktor perubahan tata guna lahan pada DAS
alam, yaitu: memiliki potensi terbesar dalam
 Curah Hujan dan Intensitas Hujan yang pemangkasan kapasitas sungai
tinggi sangat potensial menyebabkan sehingga aliran akan meluber melewati
banjir. Pada umumnya banjir tanggul-tanggul sungai
diakibatkan oleh tingginya curah hujan  Penyebab lain-lain. Masih banyak
yang terjadi dalam kurun waktu yang penyebab banjir yang lain seperti
cukup singkat. Tingginya intensitas jebolnya waduk, runtuhnya tanggul
hujan yang terjadi tidak berimbang dan lain sebagainya.
dengan kemampuan infiltrasi sehingga
Banjir yang terjadi tidak selalu
air yang jatuh akan lebih banyak
mengikuti salah satu kriteria di atas.
dilimpaskan sehingga seringkali
Adakalanya terjadi akibat kombinasi dari
menyebabkan banjir.
dua atau lebih kriteria tersebut. Sebagai
 Badai. Umumnya badai disebabkan contoh kota yang terletak pada coastal area
oleh aliran udara/ angin dengan [daerah pantai] dimana sungai juga
kecepatan tinggi. Bila badai terjadi di bermuara ditempat yang sama sangat
area pantai, danau atau sungai-sungai rentan terhadap kejadian banjir. Pada saat
besar maka angin berkecepatan tinggi curah hujan turun cukup tinggi dengan
tersebut dapat menimbulkan intensitas tinggi yang pada saat bersamaan
gelombang yang cukup tinggi sehingga juga terjadi pasang naik menyebabkan air
berpotensi meyebabkan banjir. sungai tertahan sehingga dapat memicu
 Tsunami. Gelombang yang memiliki terjadinya banjir yang akan bertahan cukup
kecepatan sangat tinggi ini memiliki lama.
potensi yang sangat besar terhadap

73
Banjir pada daerah perkotaan umumnya 1. Kanal Banjir
terjadi karena beberapa kasus sebagai Kanal atau saluran dibangun
berikut:
khusus untuk mengalirkan air
 Curah hujan yang jatuh ke permukaan hujan agar tidak terjadi banjir.
tanah tidak dapat masuk kesaluran Dimensi kanal disesuaikan
drainase, karena tertahan oleh dengan debit rencana yang
bermacam penghalang al : bangunan, telah dihitung berdasar kala
bagian permukaan tanah yang lebih ulang tertentu yang menjadi
tinggi.
dasar perencanaan.
 Permukaan jalan yang tidak
mempunyai saluran tepi jalan. Air 2. Perbaikan dan
genangan akan hilang karena menguap Pemeliharaan Saluran/ sungai
dan meresap ke dalam tanah. Perbaikan saluran/ sungai
 Hujan terjadi di lahan/ lapangan yang meliputi normalisasi dan
luas dan di daerah perkembangan yang rehabilitasi saluran.
tidak mempunyai fasilitas drainase Normalisasi saluran dilakukan
yang memadai. apabila dimensi saluran tidak
 Debit banjir lebih besar dari kapasitas seragam dan terjadi
saluran yang ada , karena curah hujan penyempitan di beberapa ruas
yang terjadi melampaui intensitas tengah yang mengakibatkan
hujan yang dipakai untuk pengurangan kapasitas dan
perencannaan menghambat laju aliran.
 Kapasitas saluran drainase berkurang Rehabilitasi diperlukan untuk
karena adanya sedimentasi atau mengembalikan fungsi saluran
pengotoran oleh sampah. sebagaimana mestinya yaitu
 Kelancaran aliran tergganggu oleh dengan memperbaiki tebing/
adanya hambatan di saluran, antara talud saluran yang rusak
lain jembatan, pipa listrik, telpon, air misalnya.
minum yang melintang saluran, dan
bangunan lain yang mengurangi Pemeliharaan saluran
penampang basah saluran, kapasitas memegang peranan penting
gorong-gorong lebih kecil daripada dalam penanganan banjir.
kapasitas saluran dsb. Dangkalnya saluran akibat
 Perubahan tata guna lahan , dan sedimentasi menyebabkan
pengurangan lahan hijau yang berkurangnya kapasitas
menyebabkan berkurangnya daerah saluran yang pada akhirnya
resapan air hujan, sehingga koefisien berakibat banjir. Untuk itu
pematusan meningkat. perlu pengerukan rutin untuk
 Luapan dari saluran drainase akibat menjaga kemampuan saluran
kenaikan permukaan air di saluran dalam menghantarkan aliran
primer/ sungai saat banjir atau saat air sampai ke muara.
muka air laut pasang, yaitu akibat 3. Tanggul dan Pintu pengatur
adanya arus balik yang masuk lewat
out let/ out fall. Tanggul sering kali di bangun
di sepanjang sungai/ saluran
untuk meningkatkan kapasitas
3. METODE PENANGANAN saluran dan diharapkan dapat
BANJIR menampung lebih banyak
debit banjir sehingga tidak
Metode penanganan banjir yang terjadi over-topping aliran.
umum dilakukan adalah sebagai berikut:
74
Pintu-pintu pengatur untuk mencegah terjadinya
seringkali dipakai sebagai banjir. Pada kolam detensi air
upaya pengendalian aliran ditampung sementara waktu
sehingga tidak terjadi banjir. kemudian dialirkan kembali ke
hilir badan air ketika puncak
Di kota-kota pantai seringkali
banjir telah lewat.
dibangun tanggul-tanggul laut
yang dilengkapi dengan pintu- Apabila retention basin selalu
pintu pengatur untuk terisi air sehingga menyerupai
mencegah masuknya air laut danau maka detention basin
ketika terjadi pasang naik. lebih menyerupai danau kering
karena hanya akan terisi air
4. Polder dan Pompa
ketika air berlebih.
Topografi suatu daerah
tidaklah sama satu terhadap 6. Tampungan/ Reservoir
Tampungan atau reservoir
yang lainnya. Untuk daerah
dibangun untuk menampung
dengan topografi yang relatif
kelebihan aliran dalam jumlah
datar perlu klengkapan berupa
besar dengan berbagai tujuan.
pompa sebagai upaya
Salah satunya adalah sebagai
mendorong dan mempercepat
pengendali banjir. Air yang
aliran pada sistem drainase.
tertampung ini kemudian
Daerah atau kota yang terletak dapat dimanfaatkan sebagai
di muara umumnya dilengkapi suplai air bersih, irigasi,
dengan polder, yaitu suatu perikanan dan lain sebagainya.
lahan yang dikelilingi oleh Tampungan di bangun di hulu
tanggul yang disediakan untuk aliran daerah yang terkena
menampung air yang akan banjir untuk mencegah
dibuang ke muara atau laut kelebihan air memasuki area
sehubungan dengan adanya tersebut. Tampungan yang
pasang surut air laut. Polder khusus dibangun untuk
umumnya dilengkapi dengan mengantisipasi banjir disebut
pintu dan pompa. Air yang ada 'Situ' dan dibangun dengan
dibuang melalui bukaan pintu timbunan/ urugan tanah
dikala pasang rendah dan di disekelilingnya sebagai
pompa keluar apabila terjadi tanggul.
pasang naik.
5. Kolam Retensi dan Kolam 4. PARADIGMA PENGENDALIAN
Detensi BANJIR
Paradigma baru dalam pengendalian
Kolam retensi dibangun untuk banjir adalah mengendalikan kelebihan air
mengatur kelebihan aliran permukaan yang dapat dimanfaatkan untuk
permukaan sehingga dapat persediaan air baku dan kehidupan aquatik
terhindar dari bahaya banjir. dengan meresapkan air permukaan
Kolam retensi dibuat bukan sebanyak-banyaknya ke dalam tanah
hanya sebagai upaya (mempertimbangkan konservasi air dan
pengendalian banjir tetapi juga lingkungan). Sebagai upaya
sebagai upaya konservasi atau mengintepretasikan paradigma tersebut
pelestarian air. perlu diketahui isu strategis dalam pola
Sebagaimana kolam retensi, penanganan banjir yaitu:
kolam detensi juga dibangun 1. Ketegasan fungsi drainase, yaitu
75
berfungsi mengalirkan air hujan saja Pertumbuhan jumlah penduduk di
atau dengan mengalirkan air limbah suatu daerah meningkatkan resiko banjir
permukiman (grey water ) setelah hujan deras. Hal ini disebabkan
2. Pengaturan fungsi lahan basah. oleh perubahan tata guna lahan yang telah
3. Pengendalian debit puncak banyak mengubah permukaan permeabel
4. Penanganan sistem drainase secara menjadi permukaan yang impermeabel.
terpadu. Limpasan permukaan menjadi lebih besar
5. Kelembagaan dan kelengkapan dan semakin sedikit yang mampu mengisi
peraturan ruang di dalam tanah. Berikut adalah
perbandingan kondisi lahan yang
permeabel dan impermeabel dalam
5. SUSTAINABLE URBAN penyerapan air hujan.
DRAINAGE SYSTEM

Gambar 1. Perbandingan penggunaan SUDS dan non-SUDS

buangan sebelum dilepaskan kembali ke


Sebuah riset oleh departemen
alam dan memperbesar kemampuan
lingkungan di Amerika Serikat
resapan permukaan tanpa memberikan
memberikan hasil penelitiannya bahwa
dampak negatif terhadap air tanah yang
perubahan tata guna lahan dari lahan alami
mana adalah cadangan air bersih yang
menjadi areal infrastruktur meningkatkan
perlu dilestarikan.
limpasan sebanyak 11 kali lipat dari
sebelumnya dan mengurangi kemampuan System SUDS bertujuan untuk
penyerapan sampai dengan 70%. Sejalan meminimalkan atau bahkan
dengan pola pengendalian banjir yang menghilangkan kelebihan debit agar dapat
baru, muncullah apa yang disebut sebagai meminimalisasi dampak sehingga dapat
Sustainable Urban Drainage System mengurangi bahkan menghilangkan
(SUDS) yaitu suatu pola drainase permasalahan. SuDS juga dapat
pemukiman atau perkotaan yang berbasis melindungi dan meningkatkan kualitas air
lingkungan. Pada SUDS diupayakan suatu tanah.
langkah untuk meningkatkan kualitas air
76
SUDS mengimplementasikan
teknik sebagai berikut:
1. kontrol pada sumber limpasan/ air
buangan
2. permukaan permeable
3. kolam retensi
4. penanaman vegetasi
Paradigma dalam SUDS adalah
mudah dalam hal pengaturan dan
pemakaian dan ramah lingkungan serta
memenuhi kriteria estetika. Contoh dari
paradigma ini adalah wetlands suatu lahan
yang dapat menyimpan dan menyaring air
kotor serta menyediakan lingkungan
sebagai habitat bagi beberapa jenis
binatang dan tumbuhan. Contoh SUDS
dalam drainase perkotaan adalah kolam
retensi yang dilengkapi dengan taman
yang dapat dibuat dalam skala kecil di
lokasi-lokasi pemukiman dan perkantoran
padat.
Contoh sederhana dalam
implementasi SUDS dapat dilihat pada
contoh berikut:

Gambar 2. Koalm Retensi; Salah Satu Contoh Implementasi SUDS

6. KOLAM RETENSI banjir terlewati. Kolam retensi juga


memiliki fungsi sebagai lahan konservasi.
Kolam retensi perlu dibangun untuk
menampung sementara air banjir untuk Sesuai dengan konsep sistem
kemudian dialirkan kembali setelah [uncak drainase yang berkelanjutan maka prioritas
77
utama kegiatan harus ditujukan untuk genangan dan banjir kiriman dari hulu
mengelola limpasan permukaan dengan dapat diminimalkan. Kolam Retensi juga
cara mengembangkan fasilitas untuk dapat menjadi fasilitas resapan dimana
menahan air hujan (rainfall retention dapat berfungsi untuk menjaga elevasi
facilities). Berdasarkan fungsinya, fasilitas muka air tanah dan juga kualitas airnya.
penahan air hujan dapat dikelompokkan Kolam Retensi ini berfungsi untuk
menjadi dua tipe yaitu (1) tipe penyimpan mengontrol parameter debit puncak dan
(storage types) dan (2) tipe peresapan waktu penuntasan, yaitu dengan
(infiltration types).
memotong debit puncak banjir yang
Sebagai salah satu alternative terjadi. Oleh karena itu Kolam retensi
penahan laju air hujan, Kolam Retensi memiliki efektifitas yang baik dalam
memiliki kedua fungsi tersebut. Hal ini pengendalian banjir.
yang menyebabkan Kolam Retensi
menjadi alternative unggulan dalam hal
penanganan dan pengendalian banjir. 7. HIDROGRAF BANJIR DENGAN
Sebagai fasilitas penyimpan air hujan, KOLAM RETENSI
kolam retensi mampu menampung Berikut disajikan beberapa contoh
limpasan air hujan yang cukup besar. hidrograf banjir yang menunjukkan
Efektifitas pengendalian banjir yang tinggi efektifitas pemakaian kolam retensi
membuatnya memiliki tingkat kehandalan sebagai pengendali banjir.
dan keamanan yang cukup besar. Sehingga

600

Tanpa Pond
500
Dengan Pond

400
Debit (m3/dt)

300

200

100

0
0 1 2 3 3.06 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Waktu (jam)

Gambar 3. Hidrograf Debit Banjir Rancangan Tukad Sowan Perancak Akibat Rencana Kolam Retensi

78
500.00

450.00

400.00

350.00
Debit m3/dt

300.00

250.00

200.00

150.00

100.00

50.00

0.00
0 2.5 5 7.5 10 12.5 15 17.5 20 22.5 25 27.5 30 32.5 35 37.5 40
Waktu (jam)

Gambar 4. Hidrograf Debit Banjir Kali Kemuning Akibat Rencana Kolam Retensi

400.00

350.00 K Kemuning
OverFlow Bozem G Madah
300.00
K Colak
250.00 Total

200.00

150.00

100.00

50.00

0.00
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22

Gambar 5. Hidrograf Debit Banjir DAS Kemuning Akibat Rencana Kolam Retensi

8. PENUTUP DAFTAR PUSTAKA


Dari hasil analisa terhadap beberaa
DED PENGENDALIAN BANJIR
hidrograf banjir yang ditampilkan di atas,
KABUPATEN TULUNGAGUNG
maka terlihat bahwa pembuatan atau
KOTA, 2013, Dinas PU Pengairan
pengembangan Kolam Retensi dapat menjadi
Kabupaten Tulungagung
alternative pengendali banjir yag efektif.

79
DED PENGENDALIAN BANJIR SID Pengendali Daya Rusak Air Kali
KABUPATEN JEMBRANA, 2012, Kemuning, 2008, Balai Besar Wilayah
Balai Wilayah Sungai Bali-Penida Sungai Brantas

80