Anda di halaman 1dari 3

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, berpotensi menjadi poros maritim.

Poros maritim adalah gagasan strategis yang diwujudkan untuk menjamin konektivitas antar
pulau, pengembangan industri perkapalan dan perikanan, perbaikan transportasi laut, serta fokus
pada keamanan maritim. Budaya maritim tidak terlepas dari masyarakat Indonesia karena telah
menjadi bagian penting dalam menggerakkan roda perekonomian. Menteri Koordinator Bidang
Perekonomian Chairul Tanjung melalui detik.com mengungkapkan bahwa jumlah pekerja di
sektor pertanian, peternakan, dan kelautan mencapai 40% dari total angkatan kerja. Hal ini
membuktikan bahwa sebagian besar masyarakat kita bekerja sebagai nelayan. Pekerjaan sebagai
nelayan merupakan pekerjaan yang cukup berat apabila dilihat dari alur kerjanya, namun
umumnya nelayan di Indonesia masih memiliki ketrampilan sederhana dalam bekerja baik alat
pelindung diri, posisi kerja maupun sistem kerjanya.
Melihat dari banyaknya kasus kecelakaan kerja yang diiringi dengan meningkatnya jumlah
pekerja dirasa perlu adanya pelayanan kesehatan yang berfokus pada masyarakat pekerja dengan
jenis pekerjaan yang sejenis untuk memudahkan proses identifikasi, analisa dan tindakan
pelayanan yang tepat guna. Pos UKK sebagai salah satu wujud upaya kesehatan bersumberdaya
masyarakat (UKBM) berperan dalam meningkatkan pengetahuan, kemauan dan kemampuan
masyarakat pekerja dalam meningkatkan status kesehatannya. Lumajang sebagai salah satu
Kabupaten yang berfokus pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat mengambil langkah
tegas dalam menyelenggarakan kesehatan kerja dengan mengeluarkan Peraturan Bupati No 18
tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Pos UKK Terintegrasi, Puskesmas penyelenggara Pos UKK
terintegrasi mengalami peningkatan yang cukup tinggi dari tahun 2015 sebanyak 2 buah Pos
UKK, menjadi 18 Pos di tahun 2016 dan sampai akhir Desember 2017 mencapai 25 Pos UKK
dan di tahun 2018 sampai dengan bulan Maret telah terbentuk2 Pos UKK di wilayah kerja
Puskesmas Tempursari dan Puskesmas Bades.Analisis kebijakan kesehatan yang dilakukan
diharapkan nantinya bisa memberikan solusi yang baik bagi pengembangan organisasi
Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan primer milik pemerintah sehingga dengan
analisis kebijakan kesehatan yang dilakukan dapat memberikan rekomendasi yang tepat untuk
tujuan memberikan solusi bagi unsur pemangku kebijakan di Dinas

Kerangka teori diatas menjelaskan bahwa kebijakan kesehatan dipengaruhi oleh beberapa
komponen penting dimulai dari aksi kebijakan yang sudah ada yaitu dengan kebijakan
implementasi Puskesmas Rawat Inap, dilanjutkan dengan masalah kebijakan yaitu berkaitan
dengan semakin banyaknya Puskesmas Rawat Inap yang saat ini ada di Kabupaten Jember yaitu
sebanyak 43 Puskesmas dengan prosentase toral 86% dari 50 Puskesmas yang ada. Hal tersebut
berimbas pada kinerja Pelayanan Puskesmas Rawat Inap yang rendah dalam Penilaian Kinerja
Puskesmas sehingga perlu dilakukannya peramalan kebijakan implementasi Puskesmas Rawat
Inap di Kabupaten jember, pemetaan permasalahan serta pemberian rekomendasi kebijakan
terhadap implementasi kebijakan Puskesmas Rawat Inap yang sudah ada.

Pada Penelitian ini peneliti menggunakan kombinasi model Proses analisis kebijakan oleh
Dunn dan model pendekatan implementasi kebijakan oleh Van Meter dan Van Horn (1975) yang
dikenal dengan A Model of The Policy Implementation Process (Model Proses Implementasi
Kebijakan). Model kombinasi pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini digunakan untuk
mempermudah peneliti dalam melakukan analisis kebijakan tentang implementasi Puskesmas
Rawat Inap dengan kinerja perawatan yang rendah di Kabupaten Jember. Analisis kebijakan
yang dilakukan dengan menggunakan 4 (empat) tahapan yaitu : (1) Tahap identifikasi masalah
kebijakan; (2) tahap peramalan masalah kebijakan; (3) tahap pemataan masalah kebijakan; (4)
tahap pemberian rekomendasi kebijakan. Penjelasan masing-masing tahapan adalah sebagai
berikut:
1) Menggambarkan Aktor Kebijakan : Menggambarkan seluruh aktor kebijakan yang terlibat
dalam Kebijakan Implementasi Puksesmas rawat inap di Kabupaten Jembe.
2) Identifikasi Masalah : Difokuskan pada penemuan masalah Masalah Isi Kebijakan (Policy
Content), Masalah Aktor atau Pemangku Kepentingan (Policy Stakeholder), Masalah
Context/Lingkungan Kebijakan (Policy Environment).Pelaksanaan identifikasi masalah ini
menggunakan pendekatan A Model of The Policy Implementation Process (Model Proses
Implementasi Kebijakan), sistem dan komponen kebijakan. Masalah Isi Kebijakan (Policy
Content): (1) Menelurusi Tujuan dan Ukuran Kebijakan dan Keberhasilan pencapaian tujuan
(Regulasi/Program Implementasi Puskesmas Rawat Inap); (2) Sumber Daya (SDM,
Finansial, Sarana dan Prasarana), Masalah Pemangku Kepentingan (Policy Stakeholder)
(3)Karakteristik Pelaksana; (4) Komunikasi Antar Pelaksana; (5) Sikap Pelaksana Pelayanan
Puskesmas Rawat Inap;Masalah Context/Lingkungan Kebijakan (Policy Environment)(6)
Lingkungan Ekonomi, Sosial, dan Politik

3) Peramalan : Difokuskan pada pemberian penilaian terhadap masalah-masalah yang sudah


ditemukan dalam proses pengidentifikasian masalah kebijakan implementasi Puskesmas
Rawat Inap di Kabupaten Jember.
4) Pemetaan : Melihat sejauhmana masalah tersebut berkontribusi terhadap pelaksanaan
kebijakan kesehatan yang ada dalam hal ini adalah kebijakan implementasi Puskesmas
Rawat Inap di Kabupaten Jember.
5) Permodelan : Membuat model kebijakan Puskesmas Rawat Inap dilihat dari 6 indikator
implementasi kebijakan program di Bidang pelayanaan kesehatan di Faasilitas Pelayanan
Primer
6) Rekomendasi: Dilakukan melalui pendekatan Kualitatif dengan metode SWOT untuk
membuat alternatif strategi dan pemilihan alternatif strategi yang sudah dibuat dengan
Delphi untuk menentukan langkah-lagkah apa kedepannya yang baik bagi Puskesmas untuk
meningkatkan kinerja pelayanan rawat inap Puskesmas.

7) Penelitian ini adalah penelitian eksploratif dengan pendekatan kualitatif, desain yang
digunakan adalah studi kasus. Desain ini digunakan untuk menganalisis dan mengkaji
lebih jauh mengenai proses implementasi kebijakan Puskesmas Rawat Inap yang sudah
dilakukan dan masih belum optimal. Kajian dilakukan pada dengan melihat masalah yang
ada, peramalan masalah, pemetaan masalah, permodelan kebijakan, alternatif kebijakan
dan monitoring kebijakan.Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dikarenakan
penelitian bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek
penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistik
dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus
yang alamiah dan memanfaatkan metode alamiah (Moloeng, 2010).
8) Peneliti menggunakan purposive sampling untuk meningkatkan kegunaan informasi yang
diperoleh dari sampel yang sedikit. Sampling bertujuan membutuhkan informasi yang
diperoleh atau diketahui itu dalam fase penghimpunan data awal mengenai variasi di
antara sub-sub unit sebelum sampel dipilih. Sampel-sampel ini dapat dipilih karena
merekalah agaknya yang mempunyai pengetahuan banyak dan informatif mengenai
fenomena yang sedang diinvestigasi oleh peneliti (Komarudin, 2005). Jumlah informan
dalam penelitian ini didasarkan pada kejenuhan data, artinya ketika data yang telah
dikumpulkan antara satu informan dengan informan yang lain ternyata tidak berbeda,
maka informan penelitian dianggap cukup.