Anda di halaman 1dari 18

Alat Kontrasepsi Wanita

Posted by Alat Kontrasepsi

Banyak kontrasepsi wanita yang


tersedia. Berdasarkan masa kerjanya, kontrasepsi dibedakan menjadi dua kelompok yaitu
sementara (reversible) dan permanen. Pilihan kontrasepsi untuk menunda kehmailan pertama
dan mengatur jarak kehamilan adalah kontrasepsi yang memiliki masa kerja bersifat
sementara, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Pilihan kontrasepsi rasional untuk
memgakhiri kesuburan sangat dianjurkan menggunakan kontrasepsi yang memiliki masa
kerja permanen yaitu kontrasepsi mantap.

a. Kontrasepsi hormonal

Kontrasepsi hormonal adalah pilihan KB yang paling banya dipakai oleh akseptor yang
terbagi dalam 3 cara KB yaitu suntik 28%, pil 13% dan implant 4% atau jika ditotal sekitar
15,2 juta perempuan usia reproduktif menggunakan kontrasepsi hormonal. Kontrsepsi
hormonal berisi estrogen, progestin atau campuran keduanya.

Saat ini makin banyak metode yang bisa dipilih dalam menggunakan kontrasepsi hormonal
selain suntik, pil yang diminum dan implan/susuk yaitu kontrasepsi hormonal dalam rahim
(dimasukkan dalam IUD), transdermal patch (seperti koyo), vaginal ring (kondom wanita),
kontrasepsi emergensi (pil KB darurat setelah berhubungan).

b. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

AKDR atau yang lebih dikenal dengan IUD atau spiral yajuga banyak digemari. Beberapa
alasannya adalah penggunaannya yang jangka panjang, tidak mengganggu produksi ASI serta
tidak memerlukan upaya tertentu untuk mempertahankan AKDR ini bertahan di dalam rahim.

Banyak jenis AKDR yang pernah berkembang di Indonesia, diantaranya adalah bentuk spiral
tapal kuda, copper T. Saat ini telah dikembangkan metode terbaru dari AKDR yang dapat
mengeluarkan hormon progestin levonogestrol dari tangkainya. AKDR yang populer dengan
nama lenovogestrel intrauterine system (LNG-IUS) ini memberikan efek lokal pada daerah
rahim (uterus) dan sekitarnya. Manfaat kontrasepsinya sangat baik dengan indeks “pearl”
mencapai 0.09 dan bisa bertahan selama 5 tahun dengan efek samping cukup minimal.

c. Kontrasepsi mantap wanita (tubektomi)

Kontrasepsi mantap adalah pilihan untuk mengakhiri kehamilan, biasanya dianjurkan untuk
ibu yang sudah memiliki cukup anak dan usia di atas 35 tahun dan harus dipilih dengan
sukarela oleh akseptor. Pada tubektomi, dilakukan pemotongan tuba atau saluran yang
berfungsi sebagai jalan lewat sel telur dari ovarium ke dalam rahim.

d. Kontrasepsi mantap pria (vasektomi)

Vasektomi sebagai cara mantap kontrasepsi pria yang sangat efektif melindungi istri dari
kehamilan dengan tingkat kegagalan 0.1 per 100 perempuan dalam tahun pertama. Vasektomi
berarti pemotongan vas deferens (saluran tempat keluarnya sperma dari testis). Mengakhiri
kesuburan dan pilihan menjalani vasektomi harus secara sukarela, bahagia dan sehat. Untuk
menilai 3 syarat tersebut, maka setiap calon akseptor vasektomi harus menjalani konseling
dan seleksi kelayakan medik pratindakan.

Posted in Alat Kontrasepsi, Jenis Alat Kontrasepsi | Tagged alat kontrasepsi, alat kontrasepsi
dalam rahim, alat kontrasepsi iud, alat kontrasepsi spiral, alat kontrasepsi wanita, andalan,
Kondom, kondom wanita | Leave a comment

Alat Kontrasepsi Kondom


Posted by Alat Kontrasepsi

Kondom mempunyai sejarah yang unik di Inggris. Dokter Condom membuat alat yang
dipergunakan untuk menghindari kehamilan. Kondom dibuat pertama kali dari kulit,
selanjutnya usus sehingga pembuatan kondom mahal dan saat memakai kondom memerlukan
perhatian khusus. Karena dibuat dari kulit dan usus sering menimbulkan irtasi liang
senggama. Tebal kondom menyebabkan kurang nikmat saat dipakai.

Alat kontrasepsi penghalang pada pria adalah kondom. Kondom merupakan selubung
karet tipis yang di pasang pada penis yang ereksi dan dikeakan selama snggama untuk
mencegah penumpuukan sperma dalam vagina. Kondom tersedia secara luas dan
dapat dibeli dengan bebas di toko obat atau di apotik.
Jika digunakan dnegan benar (khususnya bersama preparat spermisida). Kondom
merupakan bentuk kontrasepi yang efeisien. Alat ini merupakan penghalang fisik yang
dapat mencegah kehamilan maupun infeksi oleh mikrooganisme yang menular. Namun
demikian, kondom menggangu proses spontanitas pada senggama karena tidak bisa
dipasang sebelum penis mengalami ereksi.

Sebagian orang merasakan bahwa kondom mengurangi kepekaan. Jika penis tidak segera
dikeluarkan setelah ejakulasi, kondom dapat terlepas dan sperma di dalamnya bisa mengalir
masuk ke vagina. Faktor biaya yang mungkin pula dipertimbangkan pula. Alat kontrsepsi
penghalang pada wanita-diafragma dan cervical cap merupakan dua metode kontrasepsi
penghalang yang sering digunakan pada wanita. Diafragma berupa tutup karet berbentuk
piing kecil dengan kawat pegas di sebelah bingkai sirkulernya. Ketika dipasang, bingkai
diafragma akan berada pada forniks vagina sehingga tutup karet tersebut menutupi serviks.
Cervical cap yang tidak begitu sering digunakan, memiliki bentuk seperti alat pelindung jari
dari logam yang dipakai ketika menjahit (thinble). Besar alat ini pas pada serviks. Preparat
spermisida biasanya dianjurkan unutk digunakan bersama-sama alat kontrasepsi penghalang
ini.

Kerugian pada metode alat kontrasepsi kondom untuk wanita ini adalah alanya tidak selalu
sesuai bagi setiap wanita, khsusunya jika terdapat pergeseran rahim atau dinding vaginanya
kendor. Demikian pula, setelah melahirkan atau bila terjadi penurunan atau penambahan
berat badan yang bermakna, ukuran alat tersebut harus disesuaikan kembali sehingga
diperlukan pengecekan setahun sekali.

Sebagian besar petugas kesehatan menganjurkan penggunaan kombinasi preparat kontrasepsi


kiia dengan kontrasepsi penghalang seperti diafragma atau kondom. Preparat kontrasepsi
kimia dapat dibeli tanpa resep dokter dan membantu melicinkan vagina. Namun demikian,
pemakaiannya mungkin merepotkan karena kebanyakan harus digunakan sebelum senggama
dan kadang-kadang menimbulkan reaksi seperti rasa gatal serta terbakar.

Posted in Alat Kontrasepsi, Jenis Alat Kontrasepsi | Tagged alat kontrasepsi, alat kontrasepsi
dalam rahim, alat kontrasepsi iud, alat kontrasepsi spiral, alat kontrasepsi wanita, andalan,
Kondom, kondom wanita | Leave a comment

Alat Kontrasepsi Paling Aman


Posted by Alat Kontrasepsi

Setiap jenis alat kontrasepsi ada efek sampingnya. Demikian juga dengan suntik KB 3 bulan
yang biasanya berisi hormon progesteron. Efek samping yang sering terjadi adalah
peningkatan berat badan, sakit kepala, mual dan perubahan mood. Berbeda dengan
suntik 1 bulan, suntik KB 3 bulan ini memang seringkali tidak menghasilkan siklus
menstruasi yang rutin. Atau dapat pula flek-flek saja di setiap bulannya seperti yang dialami
kebanyakan wanita pada umumnya. Oleh karenanya, flek berupa keluarnya darah meski
dalam jumlah yang sedikit masih terbilang wajar terjadi dan tidak perlu dirisaukan.
Gambar : alat suntikan KB

Namun apabila terjadi perdarahan yang banyak dan panjang ketika menggunakan alat
kontrasepsi pada pil 3 bulan atau suntik KB, maka perlu dikonsultasikan kepada dokter
terkait atau bidan untuk mencari penyebabnya, apakah karena efek samping KB dan perlu
diganti, atau ada penyebab lain. Mintalah saran untuk penggunaan alat kontrasepsi yang
sekiranya cocok dengan Anda.

Jenis alat kontrasepsi dengan suntik KB yang mengandung hormon di dalamnya.


Suntik KB memiliki masa suntik yang bervariasi yakni per satu atau tiga bulan. Suntik
KB dapat mengurangi risiko telat atau lupa. Efek samping dari kontrasepsi ini adalah
menstruasi tidak teratur, dan peningkatan berat badan.

Sebagian besar wanita yang menggunakan suntikan KB dinilai lebih praktis, sederhana dan
efektif pula. Suntikan KB diberikan di bokong. Namun, suntikan berefek samping perdarahan
spotting atau mungkin juga perdarahan terus-menerus, selain kemungkinan tidak haid sama
sekali (amenorrhoe). Keuntungannya, bagi ibu yang pelupa minum pil, suntikan KB pilihan
yang tepat. Suntik KB termasuk kontrasepsi yang diminati oleh banyak perempuan. Anda
bisa melalukan suntik KB setiap 1 bulan atua 3 bulan sekali. Suntik KB aman digunakan bagi
wanita menyusui setelah 6 minggi pasca persalinan. Efek samping yang biasa terjadi adalah
keluar flek-flek, perdarahan ringan di antara dua masa haid, sakit kepala dan kenaikan berat
badan. Jika Anda menghentikan penggunaan suntik KB kemungkinan untuk hamil kembali
sangat tinggi.

Suntikan KB ini bekerja dengan menghambat pertumbuhan endometrium yang normal.


Diperkirakan hal ini dapat mengganggu rangkaian hubungan hipotalamus-hipofisis-indung
telur. Metode kontrasepsi dengan suntikan KB diperkirakan 99% efektif dan angka
berkelanjutan pemakaian suntikan KB adalah 70% setelah satu tahun.

Posted in Alat Kontrasepsi, Jenis Alat Kontrasepsi | Tagged alat kontrasepsi, alat kontrasepsi
dalam rahim, alat kontrasepsi iud, alat kontrasepsi spiral, alat kontrasepsi wanita, andalan,
Kondom, kondom wanita | Leave a comment
Alat Kontrasepsi Untuk Ibu Menyusui
Posted by Alat Kontrasepsi

Semua alat kontrasepsi tentu ada kekurangan


disamping kegunaan yang sudah tidak diragukan. Pada ibu menyusui dapat menggunakan
kontrasepsi yang prinsipnya tidak mengurangi jumlah ASI, terutama pada 6 bulan pertama di
mana bayi belum mendapat makanan tambahan selain ASI. Yang dapat dipakai bisa KB non
hormonal atau hormonal, misalnya pil KB dr golongan progesteron rendah, atau suntikan
yang hanya mengandung hormon progesteron yang disuntikan per 3 bulan.

Kontrasepsi yang mengandung estrogen tidak dianjurkan karena akan mengurangi jumlah
ASI, misalnya Diane. IUD cukup aman pada ibu menyusui dan banyak dipilih. Mengenai
bergeser atau tidak tentu dokter akan tahu seandainya ibu datang kontrol minimal 6 bulan
sekali.

Untuk ibu menyusui, pilihan kontrasepsi yang aman adalah kontrasepsi non hormonal.
Beberapa alat kontrasepsi ini bisa Anda pilih :

- Kondom untuk mencegah agar sperma tidak masuk ke dalam serviks.

- IUD (Intrauterine Device).

- Spermatisida, yaitu bahan kimia berbentuk cairan atau krim untuk membunuh sperma.

- Operasi tubektomi, bagi yang memenuhi syarat dan indikasi. Yaitu dengan mengikat tuba
falopi agar sperma tidak dapat mencapai sel telur.

- Diafragma, yaitu sejenis alat dari bahan lateks lembut atau silikon yang dimasukkan ke
dalam serviks untuk membentengi serviks agar sperma tidak dapat mencapai uterus. Jika
Anda memilih kontrasepsi ini, hubungi dokter untuk mengukur ulang diafragma yang akan
digunakan karena ukuran dan bentuk leher rahim dapat berubah pasca melahirkan.
Diafragma dapat digunakan kembali 6 minggu setelah melahirkan.

Semua kontrasepsi mempunyai angka keberhasilan yang tinggi, lebih dari 95% sepanjang ibu
menjaga kedisipilinan baik dalam mengkonsumsi atau memeriksakan ke dokter untuk
kontrol.
Perlu diingat bahwa pil KB dengan dosis rendah progesteron untuk ibu menyusui, bekerja
bersama-sama dalam mencegah dalam kehamilan. Jadi bila menyusui sudah jarang,
sebaiknya jangan digunakan lagi karena tidak akan memberi perlindungan yang optimal.

Untuk mendapat pil KB, tentu pertama kali harus ke layanan kesehatan untuk dicek ada
tidaknya kontraindikasi dalam mengkonsumsinya. Biasanya pil KB utk menyusui, akan
terdapat tanda di blisternya berupa gambar payudara dan ada beberapa jenis dipasaran.

Posted in Alat Kontrasepsi, Jenis Alat Kontrasepsi | Tagged alat kontrasepsi dalam rahim,
Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR/IUD), alat kontrasepsi dalam rahim atau IUD, alat
kontrasepsi diafragma, alat kontrasepsi iud, alat kontrasepsi suntik, alat kontrasepsi wanita,
Diafragma, Pil KB | Leave a comment

Alat Kontrasepsi Yang Aman


Posted by Alat Kontrasepsi

Merawat, mendidik, dan membesarkan anak tidak mudah karena memerlukan kesiapan
mental dan fisik orang tua. Memberi jarak yang cukup antara anak pertama, kedua, dengan
anak berikutnya sangat penting. Untuk dapat mengatur waktu kehamilan, baik isteri
maupun suami perlu mepertimbangkan penggunaan suatu metode alat kontrasepsi
yang aman.

Pemilihan alat kontrasepsi sebaiknya dilakukan segera setelah masa nifas habis. Karena pada
waktu tersebut ibu akan kembali memasuki masa subur yang diperkirakan terjadi ovulasi
(lepasnya sel telur matang dari folikel/kantung pada indung telur). Jika pada masa subur
Anda melakukan hubungan intim tanoa kontrasepsi, mungkin saja terjadi kehamilan kembali.
Oleh sebab itu, perlu memilih alat kontrasepsi yang aman.

Sebelum memilih alat kontrasepsi yang aman dan yang diinginkan, diskusikan hal ini dengan
pasangan. Tentukan siapa yang akan menjalani metode alat kontrasepsi yang aman. Saat ini
pria pun dapat menjadi pengguna alat kontrasepsi secara aman dan nyaman. Lakukan pula
konsultasi dengan dokter kandungan. Riwayat kesehatan Anda berdua dapat menjadi acuan
memilih alat kontraspesi paling tepat. Beberapa ibu yang mempunyai alergi tidak dapat
menggunakan alat kontrasepsi tertentu.
Saat ini banyak sekali pilihan alat kontrasepsi. Yang sebaiknya dipertimbangkan pertama kali
adalah metode kontrasepsi non-hormonal atau tidak menggunakan hormon sebagai bahan
aktifnya. Jenis ini tidak akan menganggu proses laktasi bagi ibu yang tengah menyusui bayi.

Posted in Alat Kontrasepsi | Tagged alat kontrasepsi, alat kontrasepsi dalam rahim, Alat
Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR/IUD), alat kontrasepsi dalam rahim atau IUD, alat
kontrasepsi diafragma, alat kontrasepsi iud, alat kontrasepsi kb, alat kontrasepsi spiral, alat
kontrasepsi wanita, alat kontrasepsi yang aman, alat kontrasepsi yang paling aman, Cincin
vagina, Diafragma, KB (keluarga Berencana), Kondom, Kondom perempuan, Kontrasepsi
Hormonal | Leave a comment

Alat Kontrasepsi KB
Posted by Alat Kontrasepsi

Hampir semua pasangan suami -istri memerlukan perencanaan yang matang dari kehamilan
guna untuk membatasi jumlah anak dan menekan angka kelahiran yang semakin bertambah.
Banyak para pasangan suami-istri melakukan program keluarga berencana yang memang
diharuskan. Alasan penggunaan alat kontrasepsi bagi para pasangan suami-istri untuk
menunda kehamilan, memberi jarak antara anak pertama dengan anak kedua sampai pada
tujuan yang mungkin bagi pasangan suami-istri yang telah dikarunia banyak anak dengan
menghentikan kehamilan.

Banyak alasan yang dikemukakan para pasangan suami-istri dalam menggunakan alat
kontrasepsi yang mungkin disertai adanya suatu faktor yang terlihat seperti adanya faktor
ekonomi, faktor kesiapan mental, faktor usia hingga faktor kesehatan.

Alat kontrasepsi memiliki berbagai macam jenis. Secara garis besar, alat kontrasepsi
dibagi menjadi 3 bagian yakni kontrasepsi mekanik, kontrasepsi hormonal, dan
konstrasepsi mantap. Berikut ulasan singkat dari berbagai macam atau jenis alat
kontrasepsi :

1. Kontrasepsi mekanik

Disebut mekanik, karena memiliki sifat untuk melindungi. Kontrasepsi mekanik ini bekerja
dengan cara mencegah pertemuan antara sel sperma dengan sel telur yang ada di dalam
rahim. Yang termasuk dalam kontrassepsi mekanik ini , ialah kondom dan diafragma.

a. Kondom

Kondom yang dahulu terbuat dari usus atau kulit binatang, yang jika digunakan harus
direndam terlebih dahulu, kini ada kondom yang terbuat dari bahan karet yang tipis dan
elastis (lentur) berbentuk seperti kantong. Pada dasarnya fungsi kondom hanya untuk
menampung sperma agar tidak masuk ke dalam vagina. Penggunaan kondom dinilai cukup
efektif mencegah kehamilan hingga 90 %. Bahkan penggunaan kondom untuk pencegahan
kehamilan akan semakin efektif apabila disertai penggunaan spermisida (pembunuh sperma)
namun jarang sekali ditemukan pasangan suami istri yang menggunakan spermisida. Namun
kemungkinan terjadinya kehamilan masih dapat terjadi dari survei yang dilakukan dari 100
pasangan suami-istri yang menggunakan alat kontrasepsi ini sekitar 4 orang wanita yang
terjadi kehamilan.

Kondom mudah didapat, dan harga relatif terjangkau, tidak memerlukan resep dokter.
Kondom selain berfungsi sbagai pencegah kehamilan, kondom juga dapat digunakan sebagai
suatu alat bantu dalam pencegahan penularan penyakit kelamin seksual.

b. Diafragma

Diafragma bentuknya hampir menyerupai kondom. Diafragma berbentuk seperti topi yang
menutupi mulut rahim. Diafragma terbuat dari bahan karet namun agak tebal dibanding
dengan kondom. Kondom berbahan karet tipis yang masih memiliki kemungkinan terjadinya
kebocoran. Namun berbeda dengan diafragma yang berbahan karet tebal sehingga tidak
memungkinkan terjadinya kebocoran. Diafragma ini hanya digunakan ketika ingin
melakukan hubungan intim, usai melakukan aktivitas seksual dapat dilepaskan kembali atau
tetap berada pada tempatnya. Jenis kontrasepsi yang satu ini cukup efektif dalam mencegah
kehamilan yang cara kerjanya hanya dimasukkan ke dalam vagina, untuk mencegah
masuknya sperma ke dalam rahim.

c. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR/IUD)

Alat Kontrasepsi Dalam Rahim atau IUD atau yang lebih dikenal sebagai alat kontrasepsi
spiral. AKDR atau IUD ini berbentuk alat kecil dan banyak variasi. Alat Kontrasepsi Dalam
Rahim (AKDR/IUD) atau spiral ini ada yang terbuat dari plastik seperti huruf S (Lippes
Loop), tembaga yang berbentuk seperti angka 7 (tujuh/ Copper Seven) dan huruf T (Copper
T) serta ada yang berbentuk seperti sepatu kuda (Multiload).

Dari beberapa jenis alat kontrasepsi dalam rahim atau IUD ini yang paling sering digunakan
adalah jenis Copper T dan Multiload. Kedua alat kontrasepsi tersebut dipilih karena
kenyamannya. Adapula model terbaru dari Copper T yakni Nova T yang memiliki
keunggulan karena lebih lembut.

Alat kontrasepsi Dalam Rahim ini hanya dapat dilakukan dan dipasang lelh dokter ahli atau
bidan yang sudah terlatih. Fungsi dari AKDR ini adalah mencegah kehamilan dengan
mencegah sel telur yang telah dibuahi bersarang di dalam rahim. AKDR atau IUD dapat
bertahan di dalam rahim selama 2-5 tahun dan dapat dikeluarkan kembali apabila ada
keinginan untuk hamil kembali.

Namun disarankan bagi wanita atau istri yang menggunakan Alat Kontrasepsi Dalam rahim
ini harus melakukan pemeriksaan ulang, entah 2 minggu sekali, 3 bulan sekal, 6 bulan sekali
atau 1 tahun sekali setelah pemasangan alat konrasepsi ini. Penggunaan alat kontrasepsi yang
dipilih tanpa adanya bahan aktif Copper dapat digunakan hingga menjelang menopause,
namun apabila penggunaan alat kontrasepsi yang mengandung bahan aktif Copper 3-4 tahun
harus diganti.
Hal yang perlu diingat alat kontrasepsi jenis ini dapat menimbulkan infeks vagina,
pendarahan, keputihan yang disebabkan dari benang pada alat kontrasepsi yang digunakan.
Disarankan apabila terdapat infeksi genetalia atau pendarahan yang tidak jelas sebaiknya
jangan menggunakan alat kontrasepsi jenis ini. Namun keuntungan dari alat kontrasepsi jenis
ini adalah dapat digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama dan tidak mempengaruhi
produksi ASI bagi ibu atau wanita yang sedang dalam menyusui balita.

d. Spermisida

Spermisida merupakan alat kontrasepsi yang berbahan kimia yang dapat membunuh sperma.
Spermisida memiliki variasi bentuk ada yang berbentuk busa, jeli, krim, tablet vagina, tablet
atau aerosol. Penggunaan alat kontrsepsi jenis ini memang dinilai kurang efektif karena dapat
menimbulkan ketidaknyaman, ketidak puasan pasangan dalam mencapai orgasme dan
menimbulkan alergi yang tidak enak.

Namun masih ada beberapa wanita yang menggunakan alat kontrasepsi jenis ini. Kontrasepsi
jenis ini digunakan dengan cara sebelum melakukan hubungan seksual, alat ini dimasukkan
ke dalam vagina, dan tunggu sekitar 5-10 menit pemasangan, hubungan sekual baru dapat
dilakukan. Keefektifan alat kontrasepsi ini dinilai efektif apabila dikombinasikan dengan alat
lain seperti kondom atau diafragma.

Jenis alat kontrasepsi apapun masih memungkinkan terjadinya kehamilan. untuk alat
kontrasepsi jenis ini, menurut survei dari 100 pasanagn dalam setahun, ada 3 wanita yang
haml, bahkan ada beberapa kasus yang terjadi karena salah pemasangan atau pemakaiannya,
dapat terjadi kehamilan sampai 30 kehamilan.

2. Kontrasepsi Hormonal

Jenis kontrasepsi hormonal ini diambil dari kombinasi antara hormon estorgen dan
progesteron. Penggunaan kontrasepsi jenis ini dilakukan dalam bentuk pil, suntikan atau
susuk.

Kontrasepsi hormonal ini dilakukan dengan cara menggunakan hormon progesteron dengan
mencegah pengeluaran sel telur dari indung telur dan mengentalkan cairan di leher rahim
sehingga sel sperma kesulitan untuk menembus masuk ke sel telur, membuat lapisan rahim
menjadi tipis dan hasil konsepsi tidak dapat tumbuh, serta menghambat jalannya saluran telur
sehingga sel sperma sulit bertemu dengan sel telur.

a. Pil atau Tablet

Dengan minum pil KB merupakan salah satu alat kontrasepsi yang banyak digunakan para
wanita atau istri dari sekian banyaknya alat kontrasepsi. Di Indonesia, banyak wanita yang
menggunakan PIL KB atau disuntikan sebagai alat kontrasepsi yang dinilai aman. Pil KB
memiliki berbagai macam, ada pil yang hanya mengandung hormon progesteron, adapula
yang mengandung kombinasi antara progesteron dan estrogen.

Namun penggunaan pil KB ini dinilai cukup rumit karena menggunakan sistem kalender
laykanya siklus haid (sekuensial). Dengan menggunakan sistem kalender ini mereka para
wanita dapat mengetahui batasan waktu dalam mengkonsumsi pil KB ini. Pil KB
menggunakan 2 cara yakni
- Diminum dengan menggunakan sistem 28, yang artinya pil diminum terus-menerus tanpa
berhenti (21 tablet pil kombinasi dan 7 tablet plasebo)

- Dengan sistem 22/21, yakni pil diminum terus-menerus, kemudian dihentikan selama 7-8
hari untuk mendapatkan kesempatan menstruasi.

Namun pada beberapa wanita yang menggunakan Pil KB sebagai alat kontrasepsi ini,
mengalami siklus menstruasi dengan perbandingan. Apabila wanita mengkonsumsi pil KB
dengan efek estorgen yang tinggi akan mengalami menstruasi kurang dari 4 hari. Sedangkan
dengan menggunakan pil KB dengan kadar estrogen yang rendah akan mengalami menstruasi
lebih dari 6 hari.

Efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi ini menyebabkan seorang wanita mudah
tersinggung, mudah tegang dan stress, bertambahnya berat badan, nyeri kepala, darah
menstruasi yang banyak seperti pendarahan. Sedangkan yang berkolaborasi progesteron
menyebabkan payudara tegang, menstruasi berkurang, kaki dan tangan sering kram, liang
senggama menjadi kering.

Efek samping lainnya dari pemakaian pil KB dalam jangka waktu yang cukup lama akan
menekan fungsi ovarium. Tak hanya itu efek samping lainnya seperti rasa mual sampai
muntah, pusing, mudah lupa, timbul bercak di kulit wajah seperti flek hitam sampai
mempengaruhi fungsi organ ginjal dan hati. Pil KB yang mengandung estrogen dapat
mengganggu produksi ASI.

Kelebihan dari pil KB ini dapat meningkatkan gairah seksual, sekaligus sebagai obat untuk
mengobati penyakit endometriosis. Haid menjadi teratur, mengurangi nyeri haid, dan
mengatur keluarnya darah haid. Efektifitas penggunaan pil ini 95-98 persen. Jadi, ada sekitar
7 wanita yang hamil dari 1.000 pasangan dalam setahun.

b. Suntikan

Kontrasepsi yang menggunakan sutikan mengandung hormon sintetik. Penyuntikan ini


dilakukan 2-3 kali dalam sebulan. Suntikan setiap 3 bulan (Depoprovera), setiap 10 minggu
(Norigest), dan setiap bulan (Cyclofem).

Salah satu keuntungan suntikan adalah tidak mengganggu produksi ASI. Pemakaian hormon
ini juga bisa mengurangi rasa nyeri dan darah haid yang keluar.

Kontrasepsi dengan menggunakan suntikan ini dapat membuat tubuh mengalami kenaikan
berat badan karena menigkatnya nafsu makan. Tak hanya itu membuat lendir rahim menjadi
tipis sehingga menstruasi menjadi sedikit, bahkan beberapa wanita tidak mengalami
menstruasi sama sekali. Tingkat kegagalannya hanya 3-5 wanita hamil dari setiap 1.000
pasangan dalam setahun.

c. Susuk

Susuk juga digunakan sebagai alat kontrasepsi wanita atau yang juga disebut sebagai alat
kontrasepsi bawah kulit, karena dipasang di bawah kukit pada lengan kiri atas. Bentuk susuk
ini seperti tabung-tabung kecil atau pembungkus silastik (plastik berongga) dan ukurannya
sebesar batang korek api. Susuk dipasang seperti kipas dengan 6 buah kapsul. Susuk yang
ditanam dibawah kulit ini berisi zat aktif yang berupa hormon atau levonorgestrel. Kemudian
susuk tersebut akan mengeluarkan hormon sedikit demi sedikit. Susuk ini bekerja dengan
cara menghalangi terjadinya ovulasi (pembuahan) dan menghalangi migrasi sperma.

Pemakaian susuk dapat diganti setiap 5 tahun (Norplant) dan 3 tahun (Implanon). Sekarang
ada pula yang diganti setiap tahun. Penggunaan kontrasepsi ini biayanya ringan. Pencabutan
bisa dilakukan sebelum waktunya jika memang ingin hamil lagi. Efektifitasnya, dari 10.000
pasangan, ada 4 wanita yang hamil dalam setahun.

Dampak negatif dari penggunaan alat kontrasepsi jenis susuk ini berupa terganggunya
menstruasi, haid tidak lancar, bercak atau tidak mengalami menstruasi sama sekali. Selain itu
mengalami kenaikan berat tubuh, ketegangan payudara dan liang vagina terasa kering.
Timbul infeksi pada pencabutan susuk yang disebabkan susuk sulit untuk dikeluarkan karena
pemasangan susuk yang terlalau dalam.

3. Kontrasepsi Mantap

Kontrasepsi mantap, jarang sekali dilakukan para pasangan suami-istri. Kalau pun dilakukan
didasari alasan yang sangat umum yakni merasa cukup dengan jumlah anak yang dimiliki.
Kontrasepsi mantap ini dilakukan dengan jalan operasi pemotongan atau memutuskan saluran
sperma pada pria yang disebut vasektomi begitu pula dengan wanita memutuskan atau
memotong saluran sel telur yang disebut dengan tubektomi. Sehingga tidak akan terjadi
kehamilan kembali atau tidak akan memiliki keturunan.

Posted in Alat Kontrasepsi, Jenis Alat Kontrasepsi | Tagged alat kontrasepsi, alat kontrasepsi
dalam rahim, Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR/IUD), alat kontrasepsi diafragma, alat
kontrasepsi iud, alat kontrasepsi kb, alat kontrasepsi spiral, alat kontrasepsi suntik, alat
kontrasepsi wanita, alat kontrasepsi yang aman, alat kontrasepsi yang paling aman,
Diafragma, Kondom, Kontrasepsi Hormonal, Kontrasepsi mekanik, Pil atau Tablet KB,
Spermisida, Suntikan KB | Leave a comment

Alat Kontrasepsi Dalam Rahim


Posted by Alat Kontrasepsi

Keluarga yang berkualiatas adalah keluaraga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri dan
memiliki jumlah anak yang cukup ideal dan lain sebagainya. Terkadang ada beberapa
pasangan yang mengeluhkan adanya banyak anak karena seorang wanita atau istri tidak
melakukan KB (keluarga Berencana). Program BKKBN telah digalakkan untuk menekan
jumlah angka kelahiran yang semakin bertambah setiap tahunnya, berbagai penyuluhan pun
dilakukan untuk memiliki jumlah anak yang disesuaikan dengan kemampuan diri dan faktor
ekonomi.

Kini banyak wanita telah melakukan KB dengan menggunakan alat kontrasepsi yang dinilai
aman dan ideal untuk digunakan. Salah satunya adalah IUD atau yang lebih dikenal alat
kontrasepsi dalam rahim (AKDR).

Berikut ini penjelasan singkat mengenai alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) berupa
keuntungan, kekurangan dari AKDR atau IUD, yakni :
- IUD atau Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) dinilai cukup efektif, reversibel dan
berjangka panjang dapat bertahan hingga 10 tahun

- Membuat haid menjadi lebih lama dan lebih banyak

- Dilakukan oleh dokter ahli dibidangnya dalam hal pemasangan dan pengeluaran atau
pencabutan kembali.

- AKDR atau IUD ini dapat digunakan oleh semua wanita dalam usia produktfi. Akan tetapi,
tidak diperkenankan digunakan oleh wanita yang terjangkit infeksi menular pada organ
kewanitaannya.
Gambar model – model alat kontrasepsi dalam rahim atau IUD

Cara Kerja AKDR atau IUD :

- IUD dapat memperlambat kemampuan sel sperma pria untuk menembus masuk ke tuba
fallopi atau oviduk atau buluh rahim.

- Mempengaruhi fertilisasi (pembuahan) sebelum menuju ovum untuk mencapai kavum uteri.

- Fungsi utama AKDR atau IUD ini adalah pertemuan antara sel sperma dan sel telur agar
tidak terjadi pembuahan. Meskipun AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam organ
intim wanita dan mengurangi sperma untuk fertilisasi (pembuahan).

Keuntungan yang didapat dengan menggunakan IUD atau AKDR sebagai alat
kontrasepsi pilihan :

1. AKDR dinilai cukup memiliki ke-efektivan dalam mencegah atau menggagalkan


kehamilan sekitar 0,6-0,8 dari 100 wanita dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125 –
170 kehamilan).

2. AKDR dapat bekerja optimal setelah dipasang.

3. Bertahan dalam waktu yang cukup lama kira-kira 10 tahun perlindungan dari CuT-380A
dan tidak perlu diganti.

4. Tidak menganggu atau merusak hubungan seksual anda dengan pasangan.

5. Tidak menimbulkan efek samping pada fungsi hormonal seksual dengan CuT-380A.

6. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI.

7. AKDR atau IUD, dapat dipasang segera sesudah melahirkan atau abortus (apabila tidak
terjadi infeksi).
8. AKDR atau IUD ini dapat digunakan oleh wanita hingga masa meopause tiba.

9. Tidak mempengaruhi atau berinteraksi langsung terhadap obat-obatan.

10. Membantu mencegah kehamilan secara ektopik.

Kekurangan atau kelemahan dan atau efek samping yang terjadi dari kontrasepsi IUD
:

1. Terjadi perubahan pada siklus menstruasi, membuat menstruasi menjadi lama dan banyak,
pendarahan antar menstruasi, nyeri dan sakit pada saat menstruasi datang.

2. Setelah pemasangan akan merasa sakit yang juga dapat disertai kejang selama 3-5 hari.

3. Jika sedang menstruasi, seperti terjadi pendarahan yang cukup berat yang dapat disertai
dengan anemia atau kekurangan darah.

4. Terjadi perforasi pada dinding uterus (namun sangat jarang terjadi, apabila terjadi biasanya
disebabkan oleh pemasangan yang tidak benar).

5. AKDR atau IUD ini tidak dapat mencegah dari penyakit seksual yang menular seperti
HIV/AIDS.

6. AKDR atau IUD ini tidak disarankan digunakan pada wanita yang kerap kali berganti
pasangan dan terjangkit penyakit seksual yang menular akibat infeksi.

7. Terjadi peradangan pada panggul yang terjadi usai wanita yang terinfeksi penyakit seksual
menular tetap menggunakan alat kontrasepsi jenis ini, sehingga dapat memicu infertilitas.

8. Akan mengalami sedikit rasad nyeri dan oendarahan (spotting) usai pemasangan AKDR.
Namun dapat menghilang dalam 1-2 hari.

9. Pemasangan dan pencabutan AKDR atau IUD ini hanya dapat dilakukan oleh dokter ahli
atau bidan yang terlatih.

10. Mungkin AKDR keluar dari uterus tanpa diketahui, biasnaya terjadi apabila akdr
dipasang usai melahirkan.

11. Tidak dapat mencegah kehamilan ektopik karena fungsinya hanya untuk mencegah
kehamilan normal.

12. Wanita yang menggunakan alat kontrasepsi jenis ini, diharuskan unuk memeriksa posisi
dari benang AKDR dari waktu ke waktu atau setiap 1 bulan sekali.

Selain keuntungan dan kekurangan dari pengunaan AKDR atau IUD ( Alat
Kontrasepsi Dalam Rahim ). Alat Kontrasepsi Dalam Rahim ini hanya boleh digunakan
oleh :

1. Wanita yang masih dalam usia produktif


2. Dalam keadaan nulipara
3. Seorang wanita yang menginginkan atau menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang
4. Wanita yang sedang dalam masa menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi
5. Wanita yang pasca melahirkan dan tidak menyusui
6. Setelah mengalami abortus dan tidak diketahui atau terlihat adanya infeksi
7. Tidak memiliki resiko atau tidak memiliki dari infeksi meular secara seksual

Seseorang yang tidak diperbolehkan menggunakan AKDR atau IUD (Alat Kontrasepsi
Dalam Rahim) :

1. Sedang dalam masa kehamilan


2. Terjadi pendarahan pada vagina yang tidak diketahui
3. Menderita infeksi pada organ vital ( misalnya vaginitis, servisitis)
4. Adanya kelainan uterus yang tidak normal atau tumor jinak pada rahim yang dapat
mempengaruhi kavum uteri
5. Terindeksi adanya penyakit trofoblas yang ganas
6. Diketahui terinfeksi penyakit TBC pelvik
7. Adanya kanker yang berada di organ kewanitaan
8. Ukuran rongga rahim yang kurang dari 5 cm.

Posted in Alat Kontrasepsi | Tagged alat kontrasepsi, alat kontrasepsi dalam rahim, alat
kontrasepsi dalam rahim atau IUD, alat kontrasepsi diafragma, alat kontrasepsi iud, alat
kontrasepsi kb, alat kontrasepsi spiral, alat kontrasepsi suntik, alat kontrasepsi wanita, alat
kontrasepsi yang aman, alat kontrasepsi yang paling aman, KB (keluarga Berencana),
Program BKKBN | Leave a comment

Jenis – Jenis Alat Kontrasepsi


Posted by Alat Kontrasepsi

Bagi mereka yang sudah menikah atau telah lama menikah dan ingin menunda atau belum
mau memiliki anak atau mencegah kehamilan berikutnya dengan berbagai alasan tertentu,
biasanya wanita akan melakukan atau mengikuti anjuran program dalam keluarga berencana
dengan menggunakan beberapa alat kontrasepsi yang menurutnya aman digunakan.

Dalam menggunakan alat kontrasepsi, seorang wanita dituntut untuk bijaksana dan pintar
dalam memilih alat kontrasepsi yang aman digunakan. Berikut beberapa macam atau jenis
alat kontarsepsi yang bisa digunakan dan menjadi beberapa pilihan para wanita :

1. Pil KB

Alat kontrasepsi memiliki banyak ragam dan jenis. Salah satunya adalah dengan
menggunakan pil KB yang banyak mengandung beberapa komponen hormon estrogen dan
progesteron. Pil KB merupakan alat kontrasepsi yang dinilai beberapa wanita sebagai alat
kontrasepsi yang cukup aman, harga terjangkau dan ekonomis. Alat kontrasepsi yang
menggunakan pil dinilai cukup efektif dalam mencegah ovulasi (pembuhaan) dan
mengentalkan lendir serviks sehingga sel sperma tidak dapat mencapai uterus.

Pil KB yang dinilai cukup efektif yang memberikan jaminan perlindungan 100 % dengan
catatan harus rutin diminum selama 21 hari dan dihentikan selama 7 hari. Akan tetapi,
pemilihan alat kontrasepsi dengan menggunakan pil menimbulkan efek samping seperti sakit
kepala, rasa mual, timbul jerawat dan kenaikan berat badan.

2. Cincin vagina

Alat kontarsepsi yang menggunakan cincin vagina memang cukup fleksibel. Cincin vagina
yang hanya berdiameter sekitar 5 cm dengan cara memasukkan cincin vagina dengan
menekan kedua tepi secara bersamaan dan kemudian dikeluarkan setelah 3 minggu. Setelah
cincin vagina dikeluarkan, maka wanita akan mengalami siklus haid. Cincin vagina bekerja
dengan cara melepaskan hormon estrogen dan progesteron secara langsung ke dinding
vagina.

Namun cincin vagina ini hanya digunakan selama 1 bulan untuk mencegah terjadinya
pembuahan (fertilisasi) dan biasanya digunakan oleh wanita yang tidak cocok menggunakan
pil KB sebagai alat kontrasepsi yang menimbulkan efek samping seperti pusing, rasa mual,
dsb. Cincin vagina memiliki efek samping seperti infeksi vagina yang dapat sembuh dalam
beberapa bulan. Cincin vagina ini hanya didapatkan dengan menggunakan resep dokter.

3. Spon

Spon merupakan sejenis alat berbentuk busa yang cara kerja dengan cara dimasukkan ke
dalam vagina beberapa jam sebelum melakukan hubungan intim, dan biarkan didalam vagina
selama 30 jam sesudah berhubungan. Spon yang dimasukkan ke dalam vagina bekerja
dengan cara melepaskan zat pembunuh sperma (spermicide) saat berada dalam kondisi
lembab karena air, dan ditempatkan diatas serviks.

Dampak buruknya dengan menggunakan spon sebagai alat kontrasepsi adalah tidak dapat
mencegah penyakit seksual yang menular. Tak hanya itu spon ini dapat menyebabkan iritasi
vagina dan membuat pengguna alat kontrasepsi jenis spon menjadi rentan terhadap mikroba.

4. Kondom perempuan

Alat kontrasepsi lainnya selain pil KB dan jenis kontrasepsi lainnya. Alat kontrasepsi lainnya
dengan menggunakan kondom yang khusus dibuat untuk para wanita. Kondom yang
dirancang khusus wanita ini berbentuk seperti kantung plastik panjang dengan cincin pada
kedua ujungnya. Pada bagian ujung yang terbuka merupakan jalan masuk penis, sedangkan
ujung yang tertutup yang dibuat khusus untuk menahan alat vital pria masuk ke dalam area
serviks.

Saran untuk beberapa wanita yang ingin menggunakan kondom sebagai salah satu alat
kontrasepsi yang dinilai efektif. Dengan cara menggunakannya, tekan pinggiran salah satu
cincin secara bersamaan dan masukkan sejauh mungkin ke dalam vagina dan bagian cincin
lainnya dibiarkan tergantung di luar tubuh.

5. Diafragma

Selain kondom yang digunakan sebagai alat kontrasepsi. Diafragama juga menjadi salah satu
jenis alat kontrasepsi yang berbentuk tudung/mangkuk yang terbuat dari karet dan bersifat
fleksibel. Diafragma ini dibuat dalam berbagai ukuran sehingga dapat dipilih yang paling pas
dengan tubuh. Selain dapat mencegah kehamilan, diafragma juga sangat efektif dalam
mencegah resiko kanker rahim.

Jika ingin menggunakan diafragma, lakukan hal yang berikut ini :

- Lapisi diafragma dengan zat pembunuh sperma, lipat setengah dan dorong masuk ke dalam
vagina hingga menutupi serviks (leher rahim). Biarkan diafragma berada di dalam vagina
selama kurang lebih 6 jam setelah melakukan aktivitas seksual bersama pasangan. Lalu
keluarkan diafragma kurang lebih 24 jam untuk mencegah resiko dari infeksi kandung kemih.

6. Sterilisasi

Jenis kontrasepsi berikutnya adalah sterilisasi. Jarang sekali ditemui seorang wanita
melakukan atau memilih alat kontrasepsi jenis ini. Meskipun ada sebagaian wanita yang
mungkin menggunakan alat kontrasepsi ini dengan alasan telah memiliki banyak anak, faktor
ekonomi dll. Alat kontrasepsi jenis satu ini merupakan alat pencegahan kehamilan yang
bersifat permanen. Sterilisasi ini dikenal dengan istilah tubektomi yang bekerja dengan cara
memotong atau menutup saluran telur yang terentang dari ujung atas rahim sampai kandung
telur, sehingga membuat wanita tak dapat hamil lagi.

Metode ini tak hanya dapat dilakukan oleh wanita, namun pria pun dapat melakukannya jika
pada pria disebut dengan vasektomi dengan cara mengikat atau memotong saluran sperma
sehingga pria tidak dapat membuahkan sel telur atau dengan kata lain tidak dapat
menghamili.