Anda di halaman 1dari 31

Bagian Keperawatan Maternitas

Program Profesi Ners


STIKes Panakkukang Makassar

LAPORAN PENDAHULUAN KISTA OVARIUM


PADA An ”I” DI RUANGAN AZ ZAHRA
RSUD HAJI MAKASSAR

DI SUSUN OLEH :
ARHAM, S.kep
17.04.055

CI LAHAN CI INSTITUSI

( ) ( )

YAYASAN PERAWAT SULAWESI SELATAN


STIKES PANAKKUKANG MAKASSAR
PROGRAM STUDI NERS
T.A 2017/2018
LAPORAN PENDAHULUAN KISTA OVARIUM

A. Latar belakang
Kesehatan memiliki berbagai macam ruang lingkup yang harus
dipenuhi, salah satu ruang lingkup kesehatan adalah kesehatan reproduksi.
Kesehatan reproduksi adalah keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial
secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang
berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi baik pada laki-laki
dan perempuan. Pada saat ini terjadi banyak masalah kesehatan
reproduksi, diantaranya penyakit yang berkaitan dengan sistem reproduksi
salah satunya penyakit kista (Fadhilah, E. 2013).
Penyakit kista merupakan salah satu jenis penyakit yang hanya
dialami oleh kaum perempuan saja, penyakit kista ini berbentuk benjolan
yang berisi cairan dan digolongkan sebagai salah satu tumor yang jinak
(Indra, D. 2014).Kista dapat terjadi pada vagina, vulva dan ovarium.Kista
yang paling sering terjadi pada perempuan adalah kista yang berasal dari
ovarium sehingga sering disebut kista ovarium. Menurut Nugroho, T.
(2012: 92) Kista ovarium berarti kantung berisi cairan, normalnya
berukuran kecil, yang terletak di indung telur (ovarium).Kista indung telur
dapat terbentuk kapan saja, pada masa pubertas sampai menopause, juga
selama masa kehamilan.
Nugroho, T. (2012: 92) juga menegaskan bahwa, tanda dari kista
ovarium biasanya sering tanpa gejala, kecuali kalau kista tersebut
membesar penderita akan mengeluh nyeri di perut bagian bawah, nyeri
saat menstruasi, nyeri pada punggung terkadang menjalar sampai ke kaki.
Kowalak, (2011) juga menegaskan bahwa, komplikasi kista ovarium dapat
berupa torsi atau ruptur yang menyebabkan tanda- tanda akut abdomen
(nyeri tekan, distensi,regiditas pada abdomen) akibat perdarahan
intraperitoneal yang massif atau peritonitis. Komplikasi lain meliputi
infertilitas dan aminore. Berdasarkan uraian di atas, terdapat banyak
komplikasi akibat dari penyakit kista ovarium, sehingga harus dilakukan
tindakan dengan cepat dan tepat, untuk mengatasi masalah-masalah dan
komplikasi yang dapat terjadi akibat penyakit kista ovarium.
Berdasarkan data World Health Organization (WHO, 2010 dalam
Linawati. L, 2013), angka kejadian kista ovarium tertinggi ditemukan di
negara maju, dengan rata-rata kejadian 10 per 100.000 orang perempuan
dan angka kejadian kista ovarium di Amerika relatif lebih tinggi yaitu 7,7
per 100.000 orang bila dibandingkan dengan angka kejadian kista ovarium
di Asia dan Afrika. Berdasarkan data yang dikeluarkan Departemen
Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI, 2011 dalam Linawati. L,
2013), didapatkan sekitar 25-50% kematian wanita usia subur disebabkan
oleh masalah yang terkait dengan kehamilan dan persalinan serta penyakit
sistem reproduksi salah satunya adalah kista ovarium.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Daerah
Dr. H. MOCH Ansari Saleh Banjarmasin, khususnya di ruang Mutiara
pada tahun 2015 penyakit kista ovarium menduduki urutan ke delapan dari
sepuluh penyakit terbanyak gangguan sistem reproduksi dengan angka
kejadian sebanyak 11 orang dari 297 orang perempuan yang menderita
gangguan sistem reproduksi (Rekam Medik Rumah Sakit Umum Daerah
Dr. H. MOCH Ansari Saleh Banjarmasin, 2015).
Klien dengan kista ovarium membutuhkan tindakan keperawatan
yang tepat dan cepat melalui asuhan keperawatan yang diberikan secara
komprehensif meliputi biologis, psikologi, sosial dan spiritual dengan
menggunakan metode pendekatan Asuhan Keperawatan, sehingga dapat
membantu dalam pemenuhan kebutuhan klien dalam mengatasi masalah-
masalah yang timbul dan menurunkan resiko komplikasi pada klien
dengan kista ovarium
B. Anatomi fisiologi
1. Anatomi Fisiologi
Ovarium merupakan organ endokrin berbentuk oval, terletak di
dalam rongga peritoneum, sepasang kiri kanan.dilapisi mesovarium,
sebagai jaringan ikat dan jalan pembuluh darah dan saraf. Terdiri dari
korteks dan medulla.Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan
pematangan folikel menjadi ovum (dari sel epitel germinal primordial
dilapisan terluar epitel ovarium dikorteks), ovulasi (pengeluaran ovum),
sintesis dan sekresi hormon-hormon steroid (ekstrogen dan progesteron)
(Purwaningsih, W & Fatmawati, S (2010: 5).
Ovarium merupakan kelenjar yang berada dipermukaan posterior
ligamentum latum, didekat infundibulum.Terdiri dari 2 buah, berbentuk
seperti almond, berwarna putih keruh. Memiliki panjang 4 cm, lebar 0,4
cm dan berat sekitar 3 gr. Ovarium dibungkus oleh peritoneum dan
ditopang oleh ligament mesovarium, ligamentum latum, ligament ovarika
dan ligament infundibulum. Ovarium dibagi atas dua bagian yaitu, bagian
korteks atau kulit dan bagian medulla. Korteks merupakan lapisan terluar,
terdiri atas stroma dan folikel ovarian, yaitu unit fungsional pada ovarium
yang sangat penting dalam proses oogenosit, sedangkan bagian medulla
terdiri stroma, pembuluh darah, limfatik, serabut saraf dan otot polos
(Tarwono & Aryani, R. 2009: 246).
Menurut Irianto, K (2013: 495) ovarium mengandung sel-sel telur
muda, folikel primordial, folikel de graaf, badan kuning (korpus luteum),
badan putih (korpus albikans). Indung telur membentuk hormon ekstrogen
dan hormon progesteron, yang berperan dalam peristiwa menstruasi
(haid).Ovarium mengeluarkan telur (ovum) setiap bulan silih berganti
kanan dan kiri.Pada saat telur dikeluarkan wanita disebut dalam masa
subur. Produksi telur pada wanita sesuai dengan usia adalah sebagai
berikut:
Saat lahir bagi wanita mempunyai sel telur 750.000.
Usia 6-15 tahun wanita mempunyai sel telur 439.000.
Usia 16-25 tahun wanita mempunyai sel telur 159.000.
Usia 26-35 tahun wanita mempunyai sel telur 59.000.
Usia 36-45 tahun wanita mempunyai sel telur 34.000.
Masa menopause semua telur menghilang.
Secara anatomi ukuran dan bentuk ovarium tergantung umur dan
stadium dari siklus menstruasi.Bentuk ovarium sebelum ovulasi adalah
ovoid dengan permukaan licin dan berwarna merah muda keabu-abuan.
Pada dewasa muda ovarium berbentuk ovoid pipih dengan panjang kurang
lebih 4 cm, lebar krang lebih 2 cm, tebal kurang lebih 1 cm, dan beratnya
kurang lebih 7 gram. Secara fisiologis, ovarium merupakan organ eksokrin
(sitogenik) dan endokrin. Ovarium disebut organ eksokrin karena mampu
menghasilkan ovum pada saat pubertas, sedangkan disebut organ kelenjar
endokrin karena menghasilkan hormon ekstrogen dan progesterone yang
memengaruhi pertumbuhan genetalia eksternal dan siklus menstruasi
(Mashudi, S. 2011: 19)
C. Pengertian
Menurut Winjosastro (2015: 159) kista ovarium merupakan suatu
tumor, baik yang kecil maupun yang besar, kistik atau padat, jinak atau
ganas.Kehamilan kista ovarium yang dijumpai yang paling sering adalah
kista dermonal, kista coklat atau kista lutein, kista ovarium yang cukup
besar dapat disebabkan kelainan letak janin dalam rahim atau dapat
menghalang-halangi masuknya kepala ke dalam panggul.
Menurut Nugroho, T (2012: 92) kista berarti kantung yang berisi
cairan. Kista ovarium (kista indung telur) berarti kantung berisi cairan,
normalnya berukuran kecil, yang terletak di indung telur (ovarium).Kista
indung telur dapat terbentuk kapan saja, pada masa pubertas sampai
menopause, juga selama masa kehamilan.
Menurut Saraswati, S (2010: 188) kista ovarium (kista indung
telur) biasanya berupa kantong yang tidak bersifat kanker yang berisi
material cairan setengah cair. Meskipun kista tersebut biasanya kecil dan
tidak menghasilkan gejala.
Menurut Robinson, J. M & Saputra, L (2014: 251) kista ovarium
merupakan kantung pada ovarium yang mengandung materi cairan atau
semisolid, biasanya tidak ganas.Kista ovarium biasanya berbentuk kecil
dan tidak menunjukkan gejala, namun memerlukan investigasi mendalam
karena adanya kemungkinan perubahan menjadi ganas.
An ovarian cyst is a sac or pouch filled with fluid or other tissue
that forms on the ovary. Ovarian cysts are quite common in women during
their childbearing years. A woman can develop one cyst or many cysts.
Ovarian cysts can vary in size. There are different types of ovarian cysts.
Most cysts are benign (not cancerous). Rarely, a few cysts may turn out to
be malignant (cancerous). (The American College of Obstetricians and
Gynecologists, 2015).

Arti kutipan di atas adalah:


Kista ovarium adalah sebuah kantung atau kantung di isi dengan cairan
atau jaringan lainnya pada ovarium. Kista ovarium yang cukup umum
terjadi pada wanita usia reproduksi. Seorang wanita dapat memiliki satu
kista atau banyak kista.Kista ovarium dapat bervariasi dalam ukuran, ada
berbagai jenis kista ovarium, kebanyakan kista adalah jinak.Beberapa kista
mungkin berubah menjadi ganas.

Jadi kista ovarium adalah suatu kantong abnormal pada satu ovarium yang
mengandung cairan atau materi semi padat yang dipengaruhi oleh
hormonal dengan siklus menstruasi.
D. Etiologi
Menurut Winjosastro (2015:159) kista ovarium dapat timbul akibat
pertumbuhan abdomen dari epithelium ovarium, dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Kista non neoplasma
Disebabkan karena ketidakseimbangan hormon ekstrogen dan
progesteron diantaranya adalah:

a) Kista non fungsional


Kista serosa inklusi, berasal dari permukaan epithelium
yang berkurang didalam korteks.
b) Kista fungsional
1) Kista folikel, disebabkan karena folikel yang matang
menjadi rupture atau folikel yang tidak matang
direabsorbsi cairan folikuler diantara siklus menstruasi.
Banyak terjadi pada wanita yang menarche kurang dari
12 tahun.
2) Kista korpus luteum, terjadi karena bertambahnya sekresi
progesteron setelah ovulasi.
3) Kista tuba lutein, disebabkan karena meningkatnya kadar
HCG terdapat pada molahidatidosa.
4) Kista stein laventhal, disebabkan karena peningkatan
kadar LH yang menyebabkan hiperstimuli ovarium.
2. Kista neoplasma
a) Kistoma ovarii simpleks adalah suatu jenis kista deroma
serosum yang kehilangan epitel kelenjarnya karena tekanan
cairan dalam kista.
b) Kistadenoma ovarii musinosum
Asal kista ini belum pasti, mungkin berasal dari suatu terutama
yang pertumbuhannya elemen mengalahkan elemen yang lain.
c) Kistadenoma ovarii serosum.
Berasal dari epitel permukaan ovarium (germinal ovarium).
d) Kista endrometreid.
Belum diketahui penyebab dan tidak ada hubungannya dengan
endometroid.
e) Kista dermoid.
Tumor berasal dari sel telur melalui proses pathogenesis. Pada
kehamilan yang dijumpai dengan kista ovarium ini
memerlukan tindakan operasi untuk mengangkat kista tersebut
(pada kehamilan 16 minggu) karena dapat mengakibatkan
gangguan pertumbuhan janin yang akhirnya mengakibatkan
abortus, kematian dalam rahim.

E. Phatofisiologi
Menurut Kowalak (2011: 663) menegaskan bahwa kista ovarium
yang berukuran sangat kecil dan timbul dari folikel yang mengalami
distensi berlebihan.Distensi folikel yang berlebihan ini bisa disebabkan
oleh folikel yang belum ruptur atau yang sudah ruptur, tetapi tersekat
kembali sebelum cairan yang didalamnya meresap.Kista ovarium biasanya
terdiri atas darah atau cairan yang berkumpul didalam rongga. Kalau terus
menetap sampai masa manopause, kista tersebut akan menyekresi estrogen
dengan jumlah berlebihan sebagai reaksi terhadap hiper sekresi FSH
(follicle stimulating hormone)dan LH (luteinizing hormone), yang
normalnya terjadi pada masa manopause.
F. Tanda dan gejala
Menurut Nurarif, A.H & Kusuma, H (2015: 160) tanda gejala kista
ovariumyaitu, kadang-kadang kista ovarium ditemukan pada pemeriksan
fisik, tanpa ada gejala (asimtomatik). Mayoritas penderita kista ovarium
tidak menunjukkan adanya gejala sampai periode waktu tertentu.Hal ini
disebabkan perjalanan penyakit ini berlangsung secara tersembunyi
sehingga diagnosa sering ditemukan pada saat pasien dalam keadaan
stadium lanjut sampai pada waktu klien mengeluh adanya ketidakteraturan
menstruasi, nyeri pada perut bawah, timbul benjolan pada perut.
Pada umumnya kista adenoma ovarii serosim tidak mempunyai
ukuran yang amat besar dibandingkan dengan kista denoma musinosu.
Permukaan tumor biasanya licin, akan tetapi dapat pula berbagai karena
ovarium pun dapat berbentuk multivokuler. Meskipun lazimnya berongga
satu,warna kista putih ke abu-abuan. Ciri khas kista ini adalah potensi
pertumbuhan papiler kedalam rongga kista sebesar 0% dan keluar pada
permukaan kista sebesar 5% isi kista cair kuning dan kadang-kadang
coklat karena campuran darah. Tidak jarang kistanya sendiri pun kecil
tetapi permukaannya penuh dengan pertumbuhan papiler (solid papiloma).

Menurut Nugroho, T (2012: 94) tanda dan gejala kista ovarium yaitu:
a. Sering tanpa gejala
b. Nyeri saat menstruasi
c. Nyeri diperut bagian bawah
d. Nyeri pada saat berhubungan badan
e. Nyeri pada punggung terkadang menjalar sampai ke kaki
f. Terkadang disertai nyeri saat buang air kecil dan atau buang air besar
g. Siklus menstruasi tidak teratur, bisa juga jumlah darah yang keluar
banyak.
Menurut Saraswati, S (2010: 189) gejala gejala kista ovarium (kista
indung telur) biasanya tidak menghasilkan gejala, kecuali terjadi pecah
atau terpuntir sehingga menyebabkan sakit perut, distensi, dan kaku. Kista
yang besar atau kista dalam jumlah banyak dapat menyebabkan
ketidaknyamanan pada panggul, sakit pinggang, rasa sakit saat
berhubungan seksual, dan perdarahan uterus yang abnormal tidak seperti
pola gangguan ovulasi.Kista indung telur yang mengalami pemuntiran
menyebabkan sakit perut yang akut seperti serangan apendisitis.Kista
granulo lutein timbul pada permulaan kehamilan dan diameternya dapat
sebesar 5-6 cm dan menghasilkan rasa tidak enak didaerah
panggul.Apabila pecah, terjadi perdarahan massif pada satu sisi rongga
perut. Pada perempuan yang tidak hamil, kista ini akan membuat
menstruasi terlambat diikuti dengan perpanjangan dan perdarahan iriguler.
Kista indug telur polisistik juga menghasilkan tidak adanya menstruasi
sekunder, penurunan siklus menstruasi dan terjadi infertilitas.
Most ovarian cysts are small and not cause symptoms. Some cysts
may cause a dull or sharp ache in the abdomen and pain during certain
activities. Larger cysts may cause torsion (twisting) of the ovary that
causes pain. Cysts that bleed or rupture (burst) may lead to serious
problems requiring prompt treatment (The American College of
Obstetricians and Gynecologists, 2015).
Arti kutipan diatas:
Kebanyakan kista ovarium yang kecil tidak menimbulkan gejala, beberapa
kista dapat menyebabkan rasa nyeri atau tajam di perut dan sakit saat
kegiatan tertentu.Kista lebih besar dapat menyebabkan torsi dari ovarium
yang menyebabkan rasa sakit, kista yang berdarah atau pecah dapat
menyebabkan masalah serius yang membutuhkan pengobatan yang tepat.
G. Pemeriksaan penunjang
Menurut Nurarif, A.H & Kusuma, H (2015: 160) pemeriksaan
penunjang kista ovarium yaitu:
1. Pap smear
Untuk mengetahui displosia seluler menunjukkan kemungkinan adanya
kanker/kista.

2. Ultrasound/scan CT
Membantu mengidentifikasi ukuran/lokasi massa.

3. Laparoskopi
Dilakukan untuk melihat tumor perdarahan perubahan endometrial.
4. Hitung darah lengka
5. Foto rontgen
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks.
Menurut Nugroho, T (2012: 95) penegakan diagnosis kista
ovarium ditegakkan melalui pemeriksaan ultrasonografi atau USG
(abdomen atau transvaginal), kolposkopi screening, dan pemeriksaaan
darah (tumor marker atau penanda tumor).
Menurut Nugroho, T (2012: 95) pemeriksaan laboratorium kista
ovarium melakukan pemeriksaan sekret yang meliputi trichomonas,
candida/jamur, bakteri batang, bakteri kokus, epitel, lekosit, eritrosit,
epitel, PH dan hematologi misalnya HB (hemoglobin).
H. Komplikasi
Menurut Kowalak (2011: 663) komplikasi kista ovarium dapat
berupa torsi atau ruptur yang menyebabkan tanda-tanda akut abdomen
(nyeri tekan, distensi dan rigiditas pada abdomen) akibat perdarahan
intraperitoneal yang masif atau peritonitis. Komplikasi lain meliputi
infertilitas dan amenore.
I. Pencegahan
Menurut Nurarif, A.H & Kusuma, H (2015: 161) ada beberapa cara
pencegahan terhadap kista ovarium yaitu:
1. Hindari faktor-faktor pencetus penyakit dan istirahat yang cukup.
2. Biasakan olahraga teratur dan hidup bersih serta konsumsi makanan
yang banyak mengandung gizi
3. Pakailah alat kontrasepsi jika ingin melakukan senggama
4. Pemakaian kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas
ovarium.
Beberapa cara pencegahan terhadap kista, yaitu:
a) Kurangi makanan yang berkadar lemak tinggi.

Konsumsi lemak dalam kuantitas yang besar mampu akan


menyebabkan gangguan hormon dan meningkatkan hormon
kotisol (hormon penyebab stress).
b) Konsumsi lebih banyak sayur dan buah.
Sayur dan buah yang mengandung banyak vitamin dan
mineral yang mampu meningkatkan stamina tubuh dan
menetralisir bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh.
Namun bagi penderita kista hindari mengkonsumsi sayuran
seperti tauge yang dapat mendorong pertumbuhan sel
dikhawatirkan akan mengembangkan penyakit kista, sayuran
sawi putih dan kangkungakan mengurangi efektivitas
penyerapan obat.
c) Konsumsi makanan yang mengandung antioksidan.
Makanan dengan kandungan antioksidan akan melawan
radikal bebas yang mungkin dihasilkan karena polusi, debu
dan bahan kimia lainnya.
d) Hindari minuman beralkohol dan bersoda.
Minuman beralkohol dan bersoda pada dasarnya akan
memberikan pengaruh yang buruk pada kesehatan.
e) Hindari makanan yang diawetkan
Penderita kista sebaiknya menghindari makanan yang
diawetkan karena kandungan senyawa kimia yang berbahaya
untuk kesehatan.
f) Menjaga pola hidup sehat
Menghindari rokok dan mulai berolahraga.
g) Lakukan pemeriksaan medis.
Pemeriksaan medis dapat berupa pemeriksaan klinis
genekologik untuk dapat melihat apakah ada gejala yang
memungkinkan pembesaran ovarium, pemeriksaan USG
menggunakan alat Doppler untuk mendeteksi aliran darah
dan pemeriksaan CT-Scan.
h) Gunakan pil KB.
Kontrasepsi oral atau pil KB mampu meminimalisir risiko
terkena kista karena mencegah produksi sel telur.
i) Menjaga kebersihan area kewanitaan.
Pencegahan sel-sel tumor agar tidak berkembang dapat
dilakukan dengan senantiasa membersihkan dan menjaga
kelembapan area kewanitaan.
Asuhan Keperawatan Kista ovarium
Menurut Nurarif, A. H (2015), Mitayani (2009),& Billota, K. A. J (2011) proses asuhan
keperawatan pada klien dengan kista ovarium meliputi pengkajian, diagnosis
keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi
keperawatan.
1. Pengkajian
a. Biodata klien
b. Riwayat penyakit sekarang
c. Keluhan utama :
1) Klien biasanya mengeluh nyeri pada perut kanan bawah
2) Klien biasanya merasa berat pada daerah pelvis dan cepat merasa lelah.
d. Riwayat penyakit dahulu
1) Tanyakan apakah klien pernah mengalami penyakit ini sebelumnya
2) Tanyakan apakah klien ada mengalami / menderita penyakt
molahidatidos / kehamilan anggur, kehamilan ektopik.
e. Riwayat penyakit keluarga
1) Tanyakan apakah ada keluarga yang menderita penyakit yang sama
dengan klien
f. Riwayat Obestri
1) Tanyakan kapan menstruasi terakhir?
2) Tanyakan haid pertama dan terakhir?
3) Tanyakan siklus menstruasi klien, apakah teratur atau tidak?
4) Tanyakan lamanya menstruasi dan banyaknya darah saat menstruasi?
5) Tanyakan apakah ada keluhan saat menstruasi?
6) Pernahkah mengalami abortus? Berapa lama perdarahan?
7) Apakah partus sebelumnya spontan, atern atau preterm
g. Pola Kebiasaan
1) Aktivitas / istirahat
a) Perubahan pola istirahat dan jam tidur pada malam hari, adanya faktor-
faktor yang mempengaruhi tidur seperti: nyeri, cemas, berkeringat
malam
b) Kelemahan atau keletihan.
c) Keterbatasan latihan ( dalam berpartisipasi terhadap latihan ).
2) Sirkulasi.
Palpitasi (denyut jantung cepat / tidak beraturan / berdebar-debar), nyeri
dada, perubahan tekanan darah
3) Integritas ego
a) Faktor stres (pekerjaan, keuangan, perubahan peran), cara mengatasi
stres (keyakinan, merokok, minum alkohol dan lain-lain).
b) Masalah dalam perubahan dalam penampilan : pembedahan, bentuk
tubuh.
c) Menyangkal, menarik diri, marah.
4) Eliminasi
a) Perubahan pola defekasi, darah pada feces, nyeri pada defekasi.
b) Perubahan buang air kecil : nyeri saat berkemih, nematuri, sering
berkemih
c) Perubahan pada bising usus : distensi abdoment.
5) Makanan / cairan
a) Keadaan / kebiasaan diet buruk : rendah serat, tinggi lemak, adiktif,
bahan pengawet
b) Anorexsia, mual-muntah.
c) Intoleransi makanan.
d) Perubahan berat badan.
e) Perubahan pada kulit: edema, kelembaban.
6) Neurosensory
a) Pusing, sinkope (kehilangan kesadaran secara tiba-tiba)
7) Nyeri
a) Derajat nyeri (ketidaknyamanan ringan sampai dengan berat)
h. Pemeriksaan Fisik Head to Toe
1) Inspeksi

Kepala : Rambut rontok, mudah tercabut, warna rambut.


Mata : Konjungtiva tampak anemis, icterus pada sklera.

Leher : Tampak adanya pembesaran kelenjar limfe dan bendungan

vena jugularis.

Payudara : Kesimetrisan bentuk, adanya massa.

Dada : Kesimetrisan, ekspansi dada, tarikan dinding dada pada inspirasi,

frekuensi per-nafasan.

Perut : Terdapat luka operasi, bentuk, warna kulit, pelebaran vena-vena

abdomen, tampak pembesaran striae.

Genitalia : Sekret, keputihan, peradangan, perdarahan, lesi.

Ekstremitas : Oedem, atrofi, hipertrofi, tonus dan kekuatan otot.

2) Palpasi

Leher : Pembesaran kelenjar limfe dan kelenjar submandibularis.

Ketiak : Pembesaran kelenjar limfe aksiler dan nyeri tekan.

Payudara : Teraba massa abnormal, nyeri tekan.

Abdomen : Teraba massa, ukuran dan konsistensi massa, nyeri tekan,

perabaan hepar, ginjal dan hati.

3) Perkusi

Abdomen : Hipertympani, tympani, redup, pekak, batas-batas hepar.

Refleks : Fisiologis dan patologis

4) Auskultasi

Abdomen meliputi peristaltik usus, bising usus, aorta abdominalis arteri

renalis dan arteri iliaca.


Diagnosa keperwatan

1. Nyeri berhubungan dengan terkait gejala penyakit (kista ovarium)


2. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
3. Resiko perdarahan
DAFTAR PUSTAKA
Bilota, K.A.J. (2011). Kapita Selekta Penyakit dengan Implikasi Keperawatan. Jakarta:
EGC.
Fadhilah, E. Hiswani & Jemadi.(2013). Karakteristik Wanita Penderita Kista Ovarium
Di Rumah Sakit Vita Insani. (Internet) Termuat dalam:
<http://download.portalgaruda.org> (Diakses tanggal 6 Juni 2016).
Irianto, K. (2013). Anatomi dan Fisiologi. Bandung: Alfabeta

Indra, D. (2014). Aplikasi Untuk Mendiagnosa Penyakit Kista Ovarium Menggunakan


Metode Forward Chaining. (Internet) Termuat dalam:
<http://webcache.googleusercontent.com> (Diakses tanggal 6 Juni 2016).
Kowalak, J. P. (2014). Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Linawati, L. (2013). Asuhan Keperawatan Kista Ovarium. (Internet). Termuat


dalam:<http://digilib.stikeskusumahusada.ac.id.pdf> (Diakses Tanggal 25 April
2016).
Mitayani, (2009). Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika.

Mashudi, (2011).Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi Dasar. Jakarta: Salemba Medika.

Nugroho, T. (2012). Obsgyn: Obstetri dan Ginekologi. Yogyakarta: Nuha Medika

Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015).Nanda Nic Noc Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosis Medis. Yogyakarta: Mediaction.

Purwaningsih, W. & Fatmawati, S. (2010). Asuhan Keperawatan Maternitas.


Yogyakarta: Nuha Medika.

Saraswati, S. (2010). 52 Penyakit Perempuan: Mencegah & Mengobati 52 Penyakit


Yang Sering Diderita perempuan. Yogyakarta: Katahati.

Tarwono, Aryani R, Wartonah. (2009). Anatomi dan fisiologi Untuk Mahasiswa


Keperawatan. Jakarta: Trans Info Media.

The American College of Obstetricians and Gynecologists.(2015, July).From


<http://www.acog.org/~/media/For%20Patients/faq075.pdf> (DiaksesTanggal 26
April 2016)
Bagian Keperawatan Maternitas
Program Profesi Ners
STIKes Panakkukang Makassar

ASUHAN KEPERAWATANA KISTA OVARIUM


PADA An ”I” DI RUANGAN AZ ZAHRA
RSUD HAJI MAKASSAR

DI SUSUN OLEH :
ARHAM, S.kep
17.04.055

CI LAHAN CI INSTITUSI

( ) ( )

YAYASAN PERAWAT SULAWESI SELATAN


STIKES PANAKKUKANG MAKASSAR
PROGRAM STUDI NERS
T.A 2017/2018
ASUHAN KEPERAWATANPADA Ny.I DENGAN DIAGNOSA KISTA
OVARIUM DI RUANG AZ ZAHRA (NIFAS)
RUMAH SAKIT HAJI MAKASSAR
Tanggal pengkajian: 14 Juli 2018 Ruangan: Az Zahra
Tanggal masuk RS : 13 Juli 2018 Jam : 11.20 WITA
1. Data umumklien
No. RM :201091
Initial : Nn. I
Umur : 30 tahun
Alamat : pangkep
Tgl masuk RS : 13 juli 2018
Diagnose medis : kista ovarium
I. Masalah Utama
Keluhan utama :Nyeri perut bagian bawah
Riwayat keluhan utama
Mulai timbulnya : 1 minggu yang lalu
Sifat keluhan : Hilang timbul
Lokasi keluhan : Perut bagian bawah
Faktor pencetus : Ketika beraktivitas
Keluhan lain : Tidak ada
Pengaruh keluhan terhadap aktivitas/ fungsitubuh : Tidak dapat melakukan
aktivitas seperti biasa
Usaha klien untuk mengatasinya : Berobat ke Rumah sakit
II. Pengkajianfisikseksualitas
Subyektif
Usia menarche : ±15 tahun
Siklus haid : 7 hari
Durasi haid : 28-30 hari
 Dismenora Polimenorea Oligomenorea
Menometroragie Amenorea
Rabas pervaginam : Tidak ada
Metode kontrasepsi terakhir : Suntik KB per 3 bulan
Status obstetri : Pasien menikah
Riwayatpersalinan :
Term penuh : Pernah
Multiple : Tidak pernah
Riwayat persalinan terakhir :
Tahun : 2015 ,Tempat : Puskesmas Pangkep
Lama gestasi : Tidak pernah, Lama persalinan : Tidak pernah
Jenis persalinan : Persalinan normal
Berat badan bayi : 2,5 kg
Komplikasi maternal/bayi : Tidak pernah
Objektif :
PAP Smear terakhir (tgl dan hasil) :
MakanandanCairan
Subyektif:
Masukan oral 4 jam terakhir : 28 tetes/menit
Mual/muntah  Hilang nafsu makan Masalah mengunyah
Polamakan : Teratur (Pagi, Siang, Malam)
Frekuensi : 3x/hari
Komsumsi cairan : 2500 ml/hari
Obyektif:
BB : 57 kg
TB : 157cm
Turgor kulit : Elastis
Membran mukosa mulut : Lembab
Kebutuhan cairan : 2500 ml/hari
Eliminasi
Subyektif:
Frekuensi Defekasi : 1x sehari
Penggunaan laksatif : Tidak ada penggunaan laksatif
Waktu Defekasi terakhir : 2 hari yang lalu
Frekuensiberkemih : Tidak terhitung
Karakter urine : Tidak ada kateter urin
Nyeri/rasa terbakar/kesulitan berkemih : Tidak ada nyeri, tidak ada rasa
terbakar dan kesulitan berkemih
Riwayat penyakit ginjal : Tidak riwayat penyakit ginjal
Data lain : Tidak ada
Penggunaan diuretic : Tidak ada penggunaan diuretik
Obyektif :
Pemasangankateter : Tidak ada pemasangan kateter
Bisingusus : 8 x/menit
Karakter urine : Tidak penggunaan kateter urine
Konsistensi feces : Lunak
Warna Feces : Kuning
Haemoroid : Tidak ada hemoroid
Palpasi kandung kemih (teraba/tidakteraba): Teraba kosong
Aktivitas /istirahat
Subyektif:
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga (IRT)
Hobby : Jalan-jalan
Tidur malam (jam) : 22.00-05.00 WITA
Tidursiang (jam) : Jarang
Obyektif :
Status neurologis : Compos mentis
GCS : M : 6, V : 5, E : 4
Pengkajian neuro muskuler : Baik
Muscle Stretch reflex (Bisep/trisep/brachioradialsis/patella/axiles) : Refleks
positif
Rentang pergerakan sendi (ROM) : Aktif ekstremitas atas dan bawah
Derajat kekuatan otot : 5 5
5 5
Kuku (warna) : Pink
Tekstur : Keras
Membran Mukosa : Lembab
Konjungtiva : Anemis
Sklera : Putih
Hygiene
Subyektif :
Kebersihan rambut (frekuensi) : Bersih, keramas 3 x seminggu
Kebersihan badan : Bersih, mandi 2 x sehari
Kebersihan gigi/mulut : Bersih, tidak ada caries
Kebersihan kuku tangan dan kaki : Bersih, kuku pendek
Objektif :
Cara berpakaian : Rapih
Kondisi kulit kepala : Tidak terdapat lesi dan ketombe
Sirkulasi
Subyektif :
Riwayat penyakit jantung : Tidak ada riwayat penyakit jantung
Riwayat demam reumatik : Tidak ada riwayat demam reumatik
Obyektif :
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 82 x/menit
Suhu : 370c
Pernapasan : 22 x/menit
Distensi vena jugularis : Tidak distensi vena jugularis
Bunyi jantung : Bunyi jantung I dan II regular/normal, tidak
ada jantung tambahan
Irama (teratur/tidakteratur) : Teratur
Kualitas (kuat/lemah/rub/murmur) : Kuat
Ekstremitas
Suhu (hangat/akraldingin) : Hangat
CRT : < 2 detik
Varises (ada/tidakada) : Tidak ada varises
Nyeri/ketidaknyaman
Subyektif ;
Lokasi : Perut bagian bawah
Intensitas (skala 0-10) : Skala 3
Frekuensi : Tertusuk tusuk
Durasi : Hilang timbul
Faktor pencetus : Ketika bergerak
Cara mengatasi : Posisi yang nyaman
Faktor yang berhubungan : Kista ovarium
Obyektif :
 Wajah meringis

 Melindungi area yang sakit


Fokus menyempit
Pernapasan
Subyektif :
Dispnoe Batuk/sputum RiwayatBrinkhitis
Asma Tuberkulosis Emfisema
Pneumonia berulang Perokok,lamanya tahun
Penggunaan alat bantu pernafasan (O2) : …….L/menit
Obyektif :
Frekuensi : 20 x/menit
Irama :  Epno Tachipnoe Bradipnoe
Apnoe Hiperventilasi Cheynestokes
Kusmaul Biots
Bunyi napas: Bronchovesikuler  Vesikuler

Bronchial
Karakteristik sputum : Tidak ada sputum
Interaksisosial
Subyektif :
Status pernikahan : Menikah
Lama pernikahan : 8 Tahun
Tinggal serumah dengan : Suami dan anak
Obyektif :
Komunikasi verbal/nonverbal dengan orang terdekat : Suami, Orang tua dan
saudara
Integritas ego
Subyektif :
Perencanaan kehamilan : Tidak
Perasaan klien/keluargaterhadappenyakit : Menerima
Status hubungan : Menikah
Masalah keuangan : Tidak ada
Cara mengatasi stress : Dengar Lagu
Obyektif :
Status emosional : Terkontrol
Responfisiologis yang diamati : Kurang baik
Agama : Islam
Neurosensori
Subyektif :
Alergi/sensitivitas : Tidak ada
Penyakit masak anak-kanak : Tidak riwayat penyakit
Riwayat imunisasi : Lengkap
Infeksi virus terakhir : Tidak ada riwayat terkena virus
Binatang peliharaan di rumah : Kucing dan Ayam, Bebek
Masalah obstetric sebelumnya : Tidak ada
Jarak waktuk kehamilan terakhir: 3 Tahun
Riwayatkecelakaan : Tidak ada riwayat kecelakaan
Fraktur dislokasi : Tidak ada
Pembesaran kelenjar : Tidak ada pembesaran kelenjar lymfe dan
Obyektif :
Integritaskulit : Lembab
Cara berjalan : baik
Penyuluhan/pembelajaran
Subyektif :
Bahasa dominan : Indonesia
Pendidikan terakhir : SMA
Pekerjaan suami : Wiraswasta
Faktor penyakit dari keluarga : Tidak ada yang menderita dengan penyakit
yang sama dengan pasien
Sumber pendidikan tentang penyakit : Dokter dan tenaga kesehatan
lainnya
Pertimbangan rencana pulang
Tanggal infornasi diambil : Belum di ketahui
Pertimbangan rencana pulang : KU membaik tetapi harus control kembali
Tanggal perkiraanpulang : Belum diketahui
Ketersediaan sumber kesehatan terdekat : Rumah Sakit dan Puskesmas
Pemeriksaan diagnostic :
1. Pemeriksaan Laboratorium : 11-07-2018
Hasil : Non reaktif, result 93
2. USG tampak massa O 9,5x11,9 cm
No Nama Dosis Rute Golongan Indikasi
1 cefotaxiame 19 R/12jam IV Antibiotic Digunakan untuk mengobati
golongan infeksi bakteri atau mencegah
sefalosporin infeksi bakteri sebelum, atau
selama pembedahan tertentu.
2. Nabic 4x1
tab/2jam
3 Commoxosole 2x2
tab/6jam
ANALISIS DATA

Nama/inisial klien : Ny.I


Diagnosa Medis : Kista ovarium Ruangrawat : Az Zahra (Nifas)
DATA MASALAH KEPERAWATAN
DS : Nyeri akut berhubungan dengan cidera
1. Pasien mengatakan sakit pada perut biologis ( penekanan/kompresi jaringan
bagian bawah pada organ ruang abdomen)
2. Pasien mengatakan benjolan pada Domain 12 : Kenyamanan
perut bagian bawah Kelas 1 : Kenyamanan fisik
DO: Kode : 00132
1. Pasien Nampak memegang area yang
nyeri
2. Pasien nampak meringis
3. Pengkajian nyeri :
P : saat beraktivitas
Q : tertusuk
R : perut bagian bawah
S:3
T : hilang timbul
4. USG tampak massa O 9,5x11,9 cm
5. TD : 120/80 mmHg Pernf : 22 x/menit
6. Nadi : 80 x/menit Suhu : 370c
INTERVENSI KEPERAWATAN

Nama/inisialklien : Ny. I No.RM : 201091


Diagnosa Medis : Kista ovarium Ruang rawat : Az Zahra (Nifas)
No Diagnosa Keperawatan Tujuan (NOC) Intervensi (NIC)

1 Nyeri akut berhubungan dengan agens Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x8 1400 : Manajemen Nyeri
cedera biolgis (Perdarahan) jam maka klien dapat mengontrol nyeri dengan
DS : kriteria hasil : 1. Lakukan pengkajian nyeri komperhensif yang
1. Pasien mengatakan sakit pada perut meliputi lokasi, karakteristik, onset/durasi,
Kontrol Nyeri (1605)
bagian bawah
frekuensi, kualitas, intensitas, atau beratnya
2. Pasien mengatakan benjolan pada - 160502 klien mampu mengenali kapan nyeri
perut bagian bawah nyeri/factor pencetus
terjadi
DO: - 160501 klien mampu menggambarkan 2. Beri posisi yang nyaman
factor penyebab nyeri 3. Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi napas
1. Pasien Nampak memegang area
yang nyeri Tingkat Nyeri (2102) dalam
2. Pasien nampak meringis
4. Kolaborasi pemberian obat dengan tim medis
3. Pengkajian nyeri : - 210201 klien mampu melaporkan tingkat
P : saat beraktivitas nyeri yang berkurang
Q : tertusuk
R : perut bagian bawah
S : 3 T : hilang timbul
4. USG tampak massa O 9,5x11,9 cm
5. TD : 120/80 mmHg Pernf : 22
x/menit N : 80 x/menit S : 370c
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN HARI I
Nama/inisialklien : Nn .I
Diagnosamedis : Kista ovarium Ruangrawat : Az Zahra (Nifas)
No Diagnosa Keperawatan Hari/tanggal Jam Implementasi Evaluasi
1 Nyeri akut berhubungan Sabtu 1400 : Manajemen Nyeri Sabtu 14 Juli 2018 pkl : 14.00 WITA
dengan 14-07-2018
1. Lakukan pengkajian nyeri komperhensif yang S : klien mengatakan masih nyeri tapi
11. 00 tidak terlalu
meliputi lokasi, karakteristik, onset/durasi, frekuensi,
kualitas, intensitas, atau beratnya nyeri/factor O : Skala nyeri 2
pencetus A : Masalah Nyeri akut belum teratasi
Hasil : P : lanjutkan intervensi
Pengkajian PQRST :
- Management nyeri
P: pada saat beraktivitas
Q: Tajam/tekan
R: di perut bagian bawah
S: 3
11.20
T: Hilang timbul
2. Beri posisi yang nyaman
11.40
Hasil :berbaring atau posisi fowler
3. Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi napas
dalam
Hasil : Klien melakukan tehnik relaksasi nafas
dalam sesuai dengan yang diajarkan
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN HARI II
Nama/inisialklien : Nn .I
Diagnosamedis : Kista ovarium Ruangrawat : Az Zahra (Nifas)
No Diagnosa Keperawatan Hari/tanggal Jam Implementasi Evaluasi
1 Nyeri akut berhubungan Minggu 1400anajemen Nyeri Minggu 15 Juli 2018 pkl : 13.10
dengan 15-07-2018 1. Lakukan pengkajian nyeri komperhensif yang WITA
10. 00 meliputi lokasi, karakteristik, onset/durasi, S : klien mengatakan sudah tidak nyeri
frekuensi, kualitas, intensitas, atau beratnya O : -
nyeri/factor pencetus
A : Masalah Nyeri akut teratasi
Hasil :
Pengkajian PQRST : P:-

P: pada saat beraktivitas


Q: Tajam/tekan
R: di perut bagian bawah
S: 3
T: Hilang timbul
10.20 2. Beri posisi yang nyaman
Hasil :berbaring atau posisi fowler
10.40 3. Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi napas
dalam
Hasil : Klien melakukan tehnik relaksasi nafas
dalam sesuai dengan yang diajarkan

Anda mungkin juga menyukai