Anda di halaman 1dari 16

ETIKA BISNIS

SATYAM COMPUTER SERVICE LTD

OLEH :

INDRA WIGUNA MARTHANU (C2D017016)

DISUSUN UNTUK MEMENUHI UJIAN TENGAH SEMESTER

MATA KULIAH ETIKA BISNIS

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

MAGISTER AKUNTANSI

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

TAHUN 2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dengan adanya globalisasi, pasar modal semakin ramai dan memiliki posisi penting
dalam perekonomian nasional. Investor perseorangan menjadi aktif dalam pasar tersebut.
Akibatnya, pengungkapan publik, perlindungan terhadap investor, nilai pemegang saham dan
bentuk tata kelola perusahaan yang didorong oleh pasar saham semakin penting. Dengan
demikian, meskipun praktek pengungkapan sangat berbeda-beda dari suatu Negara dengan
Negara lain, perlahan mulai muncul kemiripan (konvergensi). Ratusan perusahaan telah
meningkatkan pengungkapan dan mengadopsi Standar Pelaporan Keuangan Internasional
(IFRS) atau GAAP AS, mematuhi ketentuan pasar bursa efek dan badan regulator domestic
dan luar negeri, dan memberikan respon terhadap berbagai permintaan informasi yang
diajukan para investor dan analis.

Perkembangan sistem pengungkapan sangat berkaitan dengan pengungkapan


perkembangan sistem akuntansi. Standar dan praktik pengungkapan dipengaruhi oleh
sumber-sumber keuangan, sistem hukum, ikatan poltik dan ekonomi, tingkat pembangunan
ekonomi, tingkat pendidikan, budaya dan pengaruh lainnya.

Perbedaan nasional dalam pengungkapan umumnya didorong oleh perbedaan dalam tata
kelola perusahaan dan keuangan. Di Amerika serikat, Inggris dan Negara-negara Anglo
Amerika lainnya, pasar ekuitas menyediakan kebanyakan pendanaan yang dibutuhkan
perusahaan sehingga menjadi sangat maju.

Sedangkan dikebanyakan Negara-negara lain (seperti Prancis, Jepang dan beberapa


Negara pasar yang berkembang) kepemilikan saham masih sangat terkonsentrasi dan bank
(dan atau pemilik keluarga) secara tradisional menjadi sumber utama pembiayaan
perusahaan. Bank-bank mendapat banyak informasi mengenai posisi keuangan dan aktivitas
perusahaan. Pengungkapan publik tidak terlalu maju di pasar-pasar ini dan perbedaan besar
dalam jumlah informasi yang diberikan kepada pemegang saham dan kreditor dengan yang
diberikan kepada publik masih diperbolehkan.
Beberapa studi menunjukkan bahwa pengungkapan dilakukan secara sukarela oleh
manajer. Manfaat dari peningkatan pengungkapan adalah biaya transaksi yang lebih rendah
dalam memperdagangkan surat berharga yang dikeluarkan perusahaan, minat para analis
keuangan dan investor terhadap perusahaan yang semakin besar, likuiditas saham yang
meningkat, dan biaya modal yang lebih rendah. Manajer cenderung menunda pengungkapan
berita yang negatif, mengelola laporan keuangan untuk lebih menunjukkan wajah positif
perusahaan dan menilai lebih kinerja dan prospek keungan perusahaannya. Namun, sejumlah
aturan dan peran auditor memastikan bahwa manajer menerapkan kebijakan akuntansi yang
memadai dan memberikan pengungkapan yang diwajibkan tepat waktu.
Dalam hal ini contoh kasus yang berhubungan dengan permasalahan gagalnya penerapan
GCG adalah perusahaan Satyam, perusahaan melakukan manipulasi terhadap laporan
keuangan, mulai dari melaporkan pendapatan yang jauh lebih besar dari aktual, pencatatan
kas yang sebagian besar fiktif, serta pengakuan utang yang jauh lebih kecil.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, yang menjadi rumusan permasalahan penelitian


adalah “Apa yang mendasari Perusahaan Satyam untuk melakukan fraud dalam hal
pengungkapan dan transparansi?’

1.3 Tujuan Penelitian

“Untuk melihat sejauh mana dampak yang terjadi akibat kegagalan GCG pada perusahaan
Satyam”
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Transparansi dan Pengungkapan


2.1.1 Pengertian Transparansi dan Pengungkapan

Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mengeluarkan


prinsip pengelolaan perusahaan yang telah direvisi tahun 2004, memaparkan enam
prinsip dasar pengelolaan perusahaan. Pengungkapan dan transparansi dikupas pada
prinsip kelima.Prinsip kelima OECD dalam pengungkapan dan transparansi pengelolaan
perusahaan yaitu Kerangka kerja pengelolaan perusahaan harus memastikan bahwa
pengungkapan akurat dan tepat waktu dibuat untuk semua permasalahan menyangkut
perusahaan, termasuk kondisi keuangan, performa, kepemilikan, dan pengelolaan
perusahaan.
a) Pengungkapan harus mencakup, tetapi tidak terbatas pada meteri informasi:
1. Hasil keuangan dan usaha perusahaan.
2. Sasaran perusahaan.
3. Kepemilikan saham mayoritas dan hak voting.
4. Kebijakan pembayaran gaji bagi anggota direksi dan eksekutif utama dan
informasi mengenai anggota direksi, termasuk kelayakan mereka, proses
pemilihan, kepemimpinan di perusahaan lainnya, dan apakan mereka dianggap
independen oleh direksi.
5. Transaksi dan pihak terkait.
6. Faktor risiko terduga.
7. Isu-isu menyangkut pegawai dan pemegang saham lainnya.
8. Struktur dan kebijakan pemerintah, khususnya, isi dari hukum kebijakan
perusahaan dan proses dimana hal ini diterapkan.
b) Informasi harus disiapkan dan diungkapkan sesuai dengan standar kualitas tinggi
akuntansi dan keuangan dan pengungkapan non-finansial.
c) Audit tahunan harus dilaksanakan oleh pihak independen, kompeten, dan auditor
bermutu dalam rangka untuk memberikan sebuah sasaran eksternal dan asuransi
untuk direksi dan pemegang saham di mana laporan keuangan memperlihatkan
kedudukan dan performa keuangan dengan wajar dari peruhaan dalam semua aspek.
d) Auditor dari pihak luar sebaiknya bisa bertanggung jawab kepada pemegang saham
dan perkewajiban perusahaan untuk bertindak sebagai profesional dalam melakukan
audit.
e) Saluran untuk menyebarkan informasi harus seimbang, tepat waktu, dan dapat
diakses oleh pengguna dengan biaya efisien.
f) Rancangan kerja pengelolaan perusahaan harus dilengkapi dengan sebuah
pendekatan efektif yang mengarah dan mengangkat ketentuan analisis atau nasihat
dari analis, broker,agen rating, dan lainnya, yang sesuai dengan keputusan investor,
bebas dari permasalahan bunga yang mungkin membahayakan integritas analisis
atau nasihat mereka

Bushman & Smith (2003, p. 76) mendefinisikan transparansi perusahaan sebagai


ketersediaan relevansi yang tersebar luas, informasi yang dapat dipercaya mengenai
kinerja perusahaan dalam suatu periode yang terkait, posisi keuangan, kesempatan
investasi, pemerintah, nilai dan risiko perusahaan dagang yang bersifat umum. Dalam
tingakatan negara, Bushman, Piotroski, dan Smith (2004) mengidentifikasikan dua jenis
transparansi perusahaan yaitu transparansi keuangan dan transparansi pemerintah.
Transparansi keuangan tingkat negara disusun berdasarkan intensitas pelaporan
perusahaan, waktu pelaporan, jumlah analisis, dan media penyebarannya.

Sedangakan OECD meminta sejumlah penggungkapan, meliputi:

1. Area-area geografis tempat operasi dijalankan dan aktivitas utama yang dijalankan
oleh perusahaan induk dan perusahaan afiliasinya.
2. Hasil operasi dan penjualan per area geografis dan penjualan per lini bisnis utama
bagi perusahaan secara keseluruhan
3. Investasi modal baru yang signifikan per area geografis
4. Jumlah karyawan rata-rata dalam masing-masing area geografis
BAB III

DESKRIPSI KASUS

3.1 Sejarah Perusahaan

Satyam didirikan dan dipimpin oleh Ramalinga Raju, lulusan MBA Ohio University dan
alumnus Harvard University. Ramalinga Raju mendapatkan berbagai penghargaan di
antaranya Ernst & Young Entrepreneur of the Year for Services (tahun 1999), Dataquest IT
Man of the Year (2000), dan CNBC’s Asian Business Leader – Corporate Citizen of the Year
award (2002). Pada 2004, jumlah kekayaan Ramalinga Raju mencapai 495 juta dolar.

Mempunyai 50 ribu karyawan yang tersebar di berbagai pusat pengembangan IT-nya di


negara-negara Asia, Amerika, Eropa, dan Australia. Menjadi rekanan dari 654 perusahaan
global, termasuk General Electric, Nestle, Qantas Airways, Fujitsu, dan 185 perusahaan
Fortune 500 lainnya. Sahamnya listed di India’s National Stock Exchange, The New York
Stock Exchange dan Euronext di Eropa. Merupakan perusahaan penyedia perangkat lunak
resmi di event FIFA World Cup 2010 di Afrika Selatan dan 2014 di Brazil. Pada Maret 2008,
Satyam melaporkan kenaikan revenue sebesar 46,3 persen menjadi 2,1 milyar dolar AS. Di
Oktober 2008, Satyam mengatakan bahwa revenue-nya akan meningkat sebesar 19-21 persen
menjadi 2,55-2,59 milyar dolar pada bulan Maret 2009. Melihat semua reputasinya, pantas
saja jika Satyam dinobatkan menjadi raksasa IT terbesar keempat di India.

3.2 Kronologi Kasus

Sungguh ironis, pada 7 Januari 2009, Ramalinga Raju tiba-tiba mengatakan bahwa sekitar
1,04 milyar dolar saldo kas & bank Satyam adalah palsu (jumlah itu setara dengan 94% nilai
kas & bank Satyam di akhir September 2008). Dalam suratnya yang dikirimkan ke jajaran
direksi Satyam, Ramalinga Raju juga mengakui bahwa dia memalsukan nilai pendapatan
bunga diterima di muka (accrued interest), mencatat kewajiban lebih rendah dari yang
seharusnya (understated liability) dan menggelembungkan nilai piutang (overstated debtors)..
Pada awalnya, Satyam fraud dilakukan dengan menggelembungkan nilai keuntungan
perusahaan. Setelah dilakukan selama beberapa tahun, selisih antara keuntungan yang
sebenarnya dan yang dilaporkan dalam laporan keuangan semakin lama semakin besar.
Begitu kompleksnya situasi yang dihadapi Ramalinga Raju karena fraud yang dilakukannya,
ia mengatakan dalam suratnya.. It was like riding a tiger, not knowing how to get off without
being eaten. Pada 14 Januari 2009, auditor Satyam selama 8 tahun terakhir – Price
Waterhouse India mengumumkan bahwa laporan auditnya berpotensi tidak akurat dan tidak
reliable karena dilakukan berdasarkan informasi yang diperoleh dari manajemen Satyam.
Institusi akuntan di India ICAI, meminta PwC memberikan jawaban resmi dalam 21 hari
terkait skandal Satyam. Ini bukan pertama kalinya PwC tersangkut masalah di India. Pada
2005, The Reserve Bank of India melarang PwC untuk mengaudit bank selama 8 tahun
karena melakukan audit yang tidak memadai atas non-performing asset dari Global Trust
Bank. PwC menghadapi investigasi terkait kegagalannya mengidentifikasi fraud senilai 21
juta euro di divisi air mineral grup perusahaan Greencore. Satyam kini Menyusul skandal
fraud dalam laporan keuangan Satyam, pada 10 Januari 2009 harga saham Satyam jatuh
menjadi 11,5 rupees, atau hanya senilai 2% dari harga saham tertingginya di tahun 2008
sebesar 544 rupees. Satyam adalah pemenang penghargaan the coveted Golden Peacock
Award for Corporate Governance under Risk Management and Compliance Issues di tahun
2008. Gelar itu kemudian dicabut sehubungan dengan skandal fraud yang dihadapinya.
Adapun Raju dan saudaranya, B. Rama Raju, yang juga terkait Satyam fraud, kemudian
ditahan dengan tuduhan melakukan konspirasi kriminal, penipuan, pemalsuan dokumen, dan
menghadapi ancaman hukuman 10 tahun penjara. Belajar dari sejarah kejayaan dan kejatuhan
Satyam, lebih ironis lagi ketika mengetahui bahwa kata Satyam berasal dari bahasa Sanskirt
yaitu ‘Satya’, yang artinya kejujuran.

3.3 Analisa Kasus

Perusahaan-perusahaan di India memiliki karakteristik kepemilikan yang terkonsentrasi dan


penggunaan kelompok usaha atau group yang luas, dengan menggunakan struktur piramida
(pyramid structure) yang memiliki berbagai tingkatan (OECD, 2012). Hal tersebut telah
dibuktikan dari berbagai penelitian, salah satunya yang dilakukan oleh Bhardwaj (2011).
Studi tersebut menunjukkan bahwa dari 1.470 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek
Nasional India pada Maret 2010, pemegang saham pengendali (promoter) memiliki sebesar
57 persen dari total saham yang diperdagangkan dan pemegang saham institusional memiliki
sekitar 20 persen. Penelitian lain yang dilakukan oleh Balasubramanian et al. (2009)
menunjukkan bahwa 142 dari 300 perusahaan dimiliki oleh pemegang saham yang
kepemilikannya lebih tinggi dari 50 persen, sementara 100 lainnya dimiliki oleh pemegang
saham yang memiliki 30-50 persen dari ekuitas (Tabel 1). Di India, umumnya perusahaan
menggunakan struktur dewan single tier. Lebih lanjut, perusahaan dengan struktur
kepemilikan terkonsentrasi dan dalam bentuk kelompok usaha (group) bisa diasosiasikan
dengan karakteristik struktur dewan tertentu. Chakrabarti et al. (2008) mengungkapkan
bahwa 40 persen dari perusahaan di India memiliki promoter, orang yang mendanai atau
mendirikan perusahaan, yang menjabat sebagai dewan di perusahaan tersebut dan lebih dari
30 persen promoter menjabat sebagai direktur eksekutif. Eksekutif dari suatu kelompok usaha
banyak yang juga merupakan dewan non-eksekutif pada perusahaan lain Selain itu, persepsi
direktur independen atas tugasnya juga dapat dipengaruhi oleh pemegang saham pengendali
yang memilih mereka. Direktur independen mungkin merasa bahwa mereka bertanggung
jawab hanya kepada pemegang saham pengendali karena apabila mereka tidak memenuhi
keinginan pemegang saham pengendali, contohnya promoter, maka mereka akan
diberhentikan dari jabatannya. Perusahaan dalam bentuk group umumnya memiliki struktur
kepemilikan piramida ataupun cross holding. Hal tersebut mengakibatkan adanya perbedaan
yan signifikan antara cash flow right (hak atas arus kas) dan control right (hak atas
pengendalian). Adanya perbedaan tersebut dapat menyebabkan timbulnya peluang pemegang
saham pengendali, yang mempunyai control right tinggi, untuk memindahkan sumber daya
dari satu perusahaan, yang cash flow right pemegang saham pengendalinya rendah, ke
perusahaan dalam group atau perusahaan afiliasi, yang pemegang saham pengendali
mempunyai cash flow right lebih tinggi (OECD, 2010). Salah satu metode yang sering
digunakan untuk memindahkan sumber daya dari satu perusahaan ke perusahaan lain adalah
dengan menggunakan transaksi hubungan istimewa atau related party transactions (RPTs).
Satyam memiliki karakteristik seperti mayoritas perusahaan di India yang telah dijabarkan
sebelumnya. Kasus Satyam diawali dengan kebijakan dari direktur Satyam pada akhir tahun
2008 untuk melakukan kebijakan akuisisi dengan Maytas Properties dan Maytas
Infrastructure dengan nilai akuisisi $1,6 milyar yang dijalankan oleh anak laki-laki dari
Ramalinga Raju yang merupakan kepala dan pendiri Satyam (promoter). Hal tersebut
mengindikasikan adanya RPTs yang dilakukan atas hubungan keluarga. Selain itu juga
terdapat indikasi lain yang melatarbelakangi tindakan fraud yang dilakukan oleh Satyam,
yaitu ternyata perusahaan tidak memiliki Dewan Independen dan walaupun Satyam
membedakan posisi CEO dan kepala Dewan, kedua posisi tersebut ternyata diduduki oleh
orang yang masih memiliki hubungan saudara dan memiliki kepentingan utama dalam
manajemen. RPTs tidak selalu merugikan kepentingan perusahaan atau pemegang saham.
Beberapa RPTs dapat dilakukan secara sah dengan tujuan untuk menguntungkan bisnis
perusahaan dan memaksimalkan nilai dari pemegang saham (OECD, 2014). Transaksi
dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa yang dilakukan oleh Satyam ini dapat
dikatakan sebagai salah satu cara untuk membuat perusahaan tumbuh dan meningkatkan
kinerja. Namun, faktanya transaksi ini hanya menjadi salah satu kedok bagi pemegang saham
pengendali untuk mengalihkan aset-asetnya dan menutupi kecurangan yang selama 6 tahun
belakangan telah dilakukan oleh Satyam Tindakan yang dilakukan oleh pemegang saham
pengendali pada kasus Satyam termasuk dalam ekspropriasi. Ekspropriasi didefinisikan
sebagai proses menggunakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan perusahaan
dengan tujuan untuk meningkatkan kekayaannya pribadi dan mengambil alih kekayaan dari
orang lain (Claessens et al., 1999). Terbongkarnya kecurangan yang selama ini dilakukan
oleh Satyam menyebabkan dampak yang signifikan terhadap pemegang sahamnya, terutama
mengekspropriasi pemegang saham minoritas yang bukan bagian dari keluarga Satyam.
Pemegang saham minortas harus menanggung kerugian besar dan juga banyak investor yang
akhirnya tertipu akibat dari tindak manipulasi laporan keuangan sehingga salah mengambil
keputusan investasi di Satyam. Tindakan yang dilakukan oleh Satyam tersebut melanggar
prinsip tiga sub prinsip kedua OECD terkait dengan pelarangan transaksi orang dalam dan
perdagangan tertutup sendiri yang merugikan orang lain (abusive self dealing). Transaksi
tersebut yang pada awalnya dimaksudkan untuk pencitraan bagi para pemangku kepentingan
agar mendapat penilaian kinerja yang baik, malah berujung perusahaan menderita kegagalan
besar dalam tata kelolanya baik karena pelanggaran etis atau pelanggaran akuntansi,
kesalahan atau kelalaian manajemen resiko atau ketidakefektifan dewan pengambilan
keputusan. Selain itu, harga saham Satyam pun juga turun drastis dan hal tersebut merugikan
pemegang saham minoritas dan industrinya. Transaksi pihak berelasi yang abusive juga
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pasar modal secara keseluruhan. Transaksi
tersebut dapat mengakibatkan terjadinya national discount pada pasar modal suatu negara.
Walaupun tidak semua transaksi pihak berelasi bersifat abusive, terdapat pandangan bahwa
transaksi tersebut merupakan sebuah faktor risiko yang tinggi yang dipertimbangkan investor
dalam membuat keputusan investasi. Akibatnya, investor akan menuntut risk premium yang
lebih tinggi terhadap seluruh perusahaan pada negara tersebut (OECD, 2014). Struktur dewan
pada Satyam juga menarik untuk diperhatikan. Kebijakan akuisisi yan diumumkan pada 16
Desember 2008 disetujui oleh para direktur independen. Hal tersebut menimbulkan
kecurigaan media dan investor sehingga investor menghukum perusahaan dengan cara
menjual saham perusahan hingga saham Satyam turun hingga 55 persen dari penutupan
sehari sebelumnya di New York Stock Exchange. Lalu, pada 25 Desember 2015, salah satu
direktur independen mundur dari jabatannya karena ia telah gagal untuk memberikan suara
menolak transaksi tersebut. Tidak hanya itu, terungkap pula bahwa salah satu direktur
independen menerima kompensasi tujuh kali lebih besar dari yang lain dan angkanya di atas
harga pasar. Ternyata dia juga melakukan pekerjaan konsultasi untuk perusahaan, sesuatu
yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang direktur independen karena akan
menyebabkan benturan kepentingan. Data lain menyebutkan bahwa anggota dewan Satyam
kebanyakan diisi oleh keluarga dari pemegang saham pengendali (Tabel 2). Singkatnya,
struktur perusahaan di India, perusahaan dalam bentuk group dengan konsentrasi kepemilikan
tinggi, menciptakan insentif yang kondusif bagi pemegang saham pengendali untuk
melakukan ekspropriasi terhadap pemegang saham minoritas. Dalam hal ini hak pemegang
saham minoritas dapat dengan mudah dilanggar. Pemegang saham minoritas tidak dapat
melakukan hal yang signifikan untuk mencegah hal tersebut dan akan terus dirugikan apabila
tidak dilindungi. Oleh karena itu, pasar harus diimbangi dengan pengaturan tata kelola
perusahaan, hukum perusahaan dan regulasi keuangan.

3.4 Pihak yang terlibat

Dalam kasus ini dapat diketahui beberapa pihak yang terlibat.

 Pihak utama adalah pendiri Satyam Ramalinga Raju, yang mengakui bahwa dia
memalsukan nilai pendapatan bunga diterima di muka (accrued interest), mencatat
kewajiban lebih rendah dari yang seharusnya (understated liability) dan
menggelembungkan nilai piutang (overstated debtors).
 Kemudian pihak berikutnya adalah auditor internal, Auditor Satyam tidak
melaksanakan tanggung jawab profesinya dan bersekongkol dengan R. Hal ini bisa
terlihat jelas dari hal bahwa tidak diperiksa secara benar manipulasi atas invoice yang
ada dalam Satyam. Dari laporan keuangan kuartal 1 tahun 2004 hingga kuartal 2
tahun 2009, terdapat 6603 invoice palsu dengan total pendapatan palsu
$1,122,670,000.
 PwC mengacuhkan bukti-bukti penggelembungan dana. Misalnya dalam saldo kas
dan bank itu fiktif sebanyak Rs 50,40 miliar dibandingkan dengan Rs 53,61 miliar
yang ditunjukkan dalam pembukuan, PwC India praktis telah melanggar independensi
penampilan karena PwC memiliki hubungan istimewa dengan Satyam, yakni
kemitraan strategis hingga akhir tahun 2009 meski aturan internasional U.S Securities
and Exchange Comission dan standar audit India melarang kemitraan semacam itu.
3.5 Pelanggaran GCG

Pelanggaran GCG yang dilakukan Satyam adalah sebagai berikut:

 Transparansi (transparency) adalah keterbukaan dalam melaksanakan proses


pengambilan keputusan dan mengemukakan informasi materil yang relevan mengenai
perusahaan. R tidak terbuka dalam mengemukakan informasi materil perusahaan. Hal
ini bisa dilihat dari tindakan R yang memalsukan saldo sebesar Rs 50,40 miliar,
piutang bunga palsu sebesar Rs 3,76 miliar dan utang yang tidak dinyatakan sebesar
Rs 12,3 miliar.

 Pengungkapan (disclosure) adalah penyajian informasi kepada stakeholders, baik


diminta maupun tidak diminta, mengenai hal-hal yang berkenaan dengan kinerja
operasional, keuangan, dan resiko usaha perusahaan. R juga menyajikan informasi
palsu dengan bukti seperti poin diatas.

 Kemandirian (independence) adalah suatu keadaan dimana perusahaan dikelola


secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak
manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku dan prinsip-
prinsip korporasi yang sehat. PwC India tidak seharusnya menjad auditor eksternal
Satyam karena keduanya memiliki benturan kepentingan berupa kemitraan strategis
dalam bentuk jasa IT.

 Akuntabilitas (accountability) adalah kejelasan fungsi, pelaksanaan dan


pertanggungjawaban manajemen perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan
terlaksana secara efektif dan ekonomis. Aksi CEO Satyam, R tentu kebalikan dari
prinsip akuntabilitas. R melebih-lebihkan dana sebesar Rs 53,61 miliar. Tindakan
tidak benar itu diketahui sistem pengendalian internal Satyam yang hanya
mengabaikan R dan justru mengindahkan faktur-faktur palsu dalam transaksi Satyam.
Pelaksanaan tugas masing-masing pihak menjadi tidak jelas.

 Pertanggungjawaban (responsibility) adalah kesesuaian dalam pengelolaan


perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip
korporasi yang sehat. Jika dilihat dari standar aturan Indonesia, ada pelanggaran yang
dilakukan Auditor Satyam dan PwC. Misalnya dalam Pasal 55 khususnya ayat (b) dan
Pasal 56 Undang-Undang Nomor 5 tentang Akuntan Publik yang dijadikan sebagai
subjek uji materiil Pemohon dinyatakan bahwa akuntan publik yang dengan sengaja
melakukan manipulasi, memalsukan, dan/atau menghilangkan data atau catatan pada
kertas kerja, atau tidak membuat kertas kerja yang berkaitan dengan jasa yang
diberikan. Dalam hal ini, auditor satyam dan PwC bersalah karena tidak melakukan
pengujian dan verifikasi dari awal terjadinya transaksi hingga pelaporan tiap tahun
juga mengabaikan bukti-bukti berupa invoice palsu dalam transaksi.

Ada beberapa prinsip etika profesi akuntansi yang dilanggar oleh auditor internal Satyam
dan PwC India:

 Tanggung Jawab Profesi


Dalam menjalankan tanggung jawab profesinya, auditor harus selalu bertanggung
jawab untuk bekerja sarna dengan sesama anggota untuk mengembangkan profesi
akuntansi, memelihara kepercayaan masyarakat, dan menjalankan tanggung-jawab
profesi dalam mengatur dirinya sendiri. Auditor Satyam tidak melaksanakan tanggung
jawab profesinya dan bersekongkol dengan R. Hal ini bisa terlihat jelas dari hal
bahwa tidak diperiksa secara benar manipulasi atas invoice yang ada dalam Satyam.
Dari laporan keuangan kuartal 1 tahun 2004 hingga kuartal 2 tahun 2009, terdapat
6603 invoice palsu dengan total pendapatan palsu $1,122,670,000.

 Kepentingan Publik

Kepentingan publik didefinisikan sebagai kepentingan masyarakat dan institusi yang


dilayani anggota secara keseluruhan. Ketergantungan ini menyebabkan sikap dan
tingkah laku akuntan dalam menyediakan jasanya mempengaruhi kesejahteraan
ekonomi masyarakat dan negara. Setelah mendapat pengakuan dari R, bursa saham
India langsung anjlok. Bursa India merosot tajam dengan indeks Sensex turun 692,37
poin ke level 9.643,56. Sementara saham Satyam merosot hingga 70,74% menjadi
52,40 rupee(dikutip dari detikfinance). Dengan kata lain, para investor dan klien
satyam tidak lagi menaruh kepercayaan mereka pada Satyam karena laporan
keuangan Satyam tidak reliable.
 Integritas

Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya pengakuan


profesional. Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan
merupakan patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji semua keputusan yang
diambilnya.
Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja, tetapi tidak menerima
kecurangan dan peniadaan prinsip. Kecurangan dalam kasus Satyam ini jelas terlihat
dari jumlah invoice palsu yang mencapai 6603, yang tidak wajar bila disebut sebagai
kesalahan yang tidak disengaja.

 Obyektivitas

Obyektivitas adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan
anggota. Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak,
jujur secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan
kepentingan atau berada di bawah pengaruh pihak lain. Dari hasil investigasi kasus
satyam, diketahui bahwa di dalam perencanaan auditnya, auditor internal lebih
memprioritaskan atas dasar permintaan-permintaan R. Auditor eksternal satyam, PwC
India juga melanggar etika obyektivitas karena memiliki hubungan istimewa
(kemitraan) dengan satyam, tetapi tetap memeriksa Satyam sebagai kliennya. Terlebih
lagi Pwc juga menerima bayaran audit fee yang jauh diatas para pesaing Satyam
dalam melakukan audit.

 Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional

Anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan jasa profesional dengan sebaik-


baiknya sesuai dengan kemampuannya, demi kepentingan pengguna jasa dan
konsisten dengan tanggung-jawab profesi kepada publik. Kompetensi auditor internal
Satyam diragukan, berikut beberapa hal yang dilakukan auditor internal Satyam
dalam menjalankan pekerjaannya(dari hasil investigasi Satyam):

1. Auditor internal tidak melakukan pengujian, meneliti atas verifikasi setiap


transaksi mulai dari awal terjadinya transaksi di setiap tahun hingga berakhirnya
tahun laporan.
2. Tidak pernah memverifikasi atau memeriksa dengan benar cash and bank balance.
3. Tidak pernah melaporkan hasil pekerjaannya kepada komite audit.
4. Sejumlah bukti temuan serius diabaikan oleh ktua tim audit.

Berikut beberapa pelanggaran yang juga dilakukan oleh PwC:

1. Auditor eksternal tidak pernah melakukan konfirmasi kepada bank yang terkait
terhadap saldo bank yang tercantum dalam satyam.
2. Tidak pernah memeriksa secara baik invoice dalam transaksi Satyam.
3. Liabilitas atas pajak tidak pernah dilaporakn dalam hasil auditnya.
4. Tidak pernah memeriksa atau memverifikasi atas tingkat bunga palsu.
5. Meskipun ditemukan bahwa system pengendalian internal satyam lemah, tetapi
tidak melaporkan hasil temuannya itu.

 Perilaku Profesional

Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik
dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi. Satyam tidak seharusnya
menggunakan PwC sebagai auditor eksternal karena memiliki reputasi yang kurang
baik. Seperti berita diatas, PwC gagal mendetesi fraud senilai 21 juta euro didivisi air
mineral grup perusahaan Greencore.

 Standar Teknis

Bila dilihat dari standar aturan yang dikeluarkan oleh Indonesia. Ada pelanggaran
yang dilakukan Auditor Satyam dan PwC. Misalnya dalam Pasal 55 khususnya ayat
(b) dan Pasal 56 Undang-Undang Nomor 5 tentang Akuntan Publik yang dijadikan
sebagai subjek uji materiil Pemohon dinyatakan bahwa akuntan publik yang dengan
sengaja melakukan manipulasi, memalsukan, dan/atau menghilangkan data atau
catatan pada kertas kerja, atau tidak membuat kertas kerja yang berkaitan dengan jasa
yang diberikan. Dapat dilihat dari poin-poin diatas, khusunya kompetensi dan kehati-
hatian professional, auditor satyam karena mengabaikan bukti-bukti berupa transaksi
palsu. R juga melanggar sebagaimana dalam Pasal 56 dinyatakan bahwa pihak
terasosiasi yang melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55,
dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan denda … dan pidana
denda paling banyak 300 juta rupiah.
BAB IV

KESIMPULAN

Profesi akuntan publik timbul dan berkembang karena masyarakat, kreditur dan investor
mengharapkan penilaian yang bebas tidak memihak terhadap informasi yang disajikan dalam
laporan keuangan oleh manajemen perusahaan.

Dalam kasus Satyam ini, jelas bahwa bukan hanya pendiri Satyam, R saja yang
menggelembungkan laba perusahaan, namun juga ada persengkokolan dari pihak auditor
internal Satyam dan auditor eksternal Satyam, yaitu PwC yang mendukung rencana R
tersebut.

Skandal ini memicu keprihatinan atas tata kelola perusahaan di negara yang tingkat
korupsinya masih tinggi. Investor asing sudah sering menyuarakan kekhawatirannya atas
transaksi tidak benar oleh perusahaan India yang dikuasai keluarga. Tapi telah ada harapan
sektor teknologi informasi akan menetapkan tata kelola baru yang dapat menjadi acuan

Kasus ini bagi India menyerupai kasus Enron di AS. Masalah ini tidak akan terhenti di
Satyam, akan ada lebih banyak perusahaan yang akan mengalami seperti ini. Ada
kemungkinan besar investasi di India akan terpengaruh. Kasus ini juga merupakan contoh
absennya good corporate governance dan gagal terdeteksi oleh auditor dan regulator, jika
tidak menerapkan GCG akan menanggung resiko financial yang mungkin sangat besar.
BAB V

DAFTAR PUSTAKA

http://mukhsonrofi.wordpress.com/2009/02/09/skandal-satyam-mengguncang-dunia/
http://dickyragkick.blogspot.com/2012/10/ketika-ethics-dan-good-corporate.html
www.finance.detik.com
www.rum15.blogspot.co.id
www.voaindonesia.com
ikkyfadillah.tumblir.com
triciamargareth93.blogspot.com