Anda di halaman 1dari 5

Aqidatul Awam

Bait 1 click to expand contents


Bait 2 click to expand contents
Bait 3 click to expand contents
Bait 4 click to expand contents
Bait 5 click to expand contents
Bait 6 click to expand contents
Bait 7 click to expand contents
Bait 8 click to expand contents
Bait 9 click to expand contents
Bait 10 click to expand contents
Bait 11 click to expand contents
Bait 12 click to expand contents
Bait 13 click to expand contents
Bait 14 click to expand contents
Bait 15 click to expand contents
Bait 16 click to expand contents
Bait 17 click to expand contents
Bait 18 click to expand contents
Bait 19 click to expand contents
Bait 20 click to expand contents
Bait 21 click to expand contents
Bait 22 click to expand contents
Bait 23 click to expand contents
Bait 24 click to expand contents
Bait 25 click to expand contents
Bait 26 click to expand contents
Bait 27 click to expand contents
Bait 28 click to expand contents
Bait 29 click to expand contents
Bait 30 click to expand contents
Bait 31 click to expand contents
Bait 32 click to expand contents
Bait 33 click to expand contents
Bait 34 click to expand contents
Bait 35 click to expand contents
Bait 36 click to expand contents
Bait 37 click to expand contents
Bait 38 click to expand contents
Bait 39 click to expand contents
Bait 40 click to expand contents
Bait 41 click to expand contents
Bait 42 click to expand contents
Bait 43 click to expand contents
Bait 44 click to expand contents
Bait 45 click to expand contents
Bait 46 click to expand contents
Bait 47 click to collapse contents
‫ـﺎ َﻛـﻠﱠ َﻤﺎ‬‫( َﺣﱠﺘﻰ َرأَى اﻟﱠﻨ ِـﺒ ﱡﻲ َرﺑ‬47) ‫ﻠﺴ َـﻤﺎ‬ ٍ ‫َﻌَﺪ ِإ ْﺳ َـﺮ‬
‫اء ُﻋ ُﺮ ْو ٌج ِﻟ ﱠ‬ ْ ‫َوﺑ‬

Setelah Isro’ lalu Mi’roj (naik) keatas sehingga Nabi melihat Tuhan yang berkata-kata

Setelah perjalanan Isro’, Nabi Muhammad SAW kemudian dimi’rajkan oleh Allah SWT. Mi’raj
adalah perjalanan dari Baitul Maqdis naik ke langit, sampai ke langit yang ketujuh bahkan ke
tempat yang paling tinggi yaitu Sidrah al-Muntaha. Dalam peristiwa Mi’roj, beliau bertemu
dengan arwah para Nabi terdahulu dan peristiwa aneh sebagai simbol kejadian yang akan
dialami umatnya.

Kejadian Isra’ dan Mi’raj dilatarbelakangi oleh meninggalnya dua orang yang selalu
membantu dakwah islamiyyah, yakni paman dan istri beliau, yakni Abu Thalib dan
Sayyidatuna Khadijah. Sekaligus sebagai wisata hati bagi Rasulullah SAW, karena selama
dalam perjalanan, Rasulullah SAW banyak menyaksikan bahkan mengalami
kejadian-kejadian luar biasa, pelajaran yang sangat berguna untuk menempa hati beliau
sebagai seorang nabi dan rasul Allah SWT.

Aqidatul Awam
Bait 1 click to expand contents
Bait 2 click to expand contents
Bait 3 click to expand contents
Bait 4 click to expand contents
Bait 5 click to expand contents
Bait 6 click to expand contents
Bait 7 click to expand contents
Bait 8 click to expand contents
Bait 9 click to expand contents
Bait 10 click to expand contents
Bait 11 click to expand contents
Bait 12 click to expand contents
Bait 13 click to expand contents
Bait 14 click to expand contents
Bait 15 click to expand contents
Bait 16 click to expand contents
Bait 17 click to expand contents
Bait 18 click to expand contents
Bait 19 click to expand contents
Bait 20 click to expand contents
Bait 21 click to expand contents
Bait 22 click to expand contents
Bait 23 click to expand contents
Bait 24 click to expand contents
Bait 25 click to expand contents
Bait 26 click to expand contents
Bait 27 click to expand contents
Bait 28 click to expand contents
Bait 29 click to expand contents
Bait 30 click to expand contents
Bait 31 click to expand contents
Bait 32 click to expand contents
Bait 33 click to expand contents
Bait 34 click to expand contents
Bait 35 click to expand contents
Bait 36 click to expand contents
Bait 37 click to expand contents
Bait 38 click to expand contents
Bait 39 click to expand contents
Bait 40 click to expand contents
Bait 41 click to expand contents
Bait 42 click to expand contents
Bait 43 click to expand contents
Bait 44 click to expand contents
Bait 45 click to expand contents
Bait 46 click to collapse contents
‫ْﻼ ِﻟُﻘ ْﺪ ٍس ﯾ ُْﺪ َرى‬
ً ‫( ِﻣ ْـﻦ َﻣ ﱠـﻜ َﺔ َﻟﯿ‬46) ‫ْـﻞ ِﻫ ْﺠ َـﺮ ِة اﻟﱠﻨـﺒ ﱢﻲ ْاﻹ ْﺳ َﺮا‬
ِ ِ
َ ‫َوَﻗﺒ‬

Dan sebelum Nabi Hijrah (ke Madinah), terjadi peristiwa Isro’. Dari Makkah pada malam hari
menuju Baitul Maqdis yang dapat dilihat.

Satu tahun sebelum hijrah ke Madinah, Nabi Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan
istimewa yang sekaligus kejadian luarbiasa yang dialami oleh Nabi SAW, yaitu perjalanan
Isra’ Mi’raj. Terjadi pada malam Senin tanggal 27 Rajab tahun 621 M.

Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW di malam hari dari Masjid al-Haram (Makkah)
ke Masjid al-Aqsha (Palestina). Sedangkan mi’raj adalah naik ke langit, sampai ke langit
yang ketujuh bahkan ke tempat yang paling tinggi yaitu Sidrah al-Muntaha. Selama
perjalanan antara Makkah dan Baitul Maqdis, beliau singgah dan diperlihatkan jejak-jejak
sejarah di beberapa tempat bersejarah, seperti tanah Yatsrib, perbukitan Sinai (Tursina) dan
lain-lain.

Dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman :

‫ﯿﺮ‬ ِ ‫ﯿﻊ ْاﻟﺒ‬


ُ ‫َﺼ‬ ُ ‫اﻟﺴ ِﻤ‬ َ ‫ﺼﻰ اﻟﱠِﺬي ﺑ‬
‫َﺎر ْﻛَﻨﺎ َﺣ ْﻮَﻟ ُﻪ ِﻟُﻨ ِﺮَﯾ ُﻪ ِﻣ ْﻦ َءاﯾَﺎِﺗَﻨﺎ ِإﱠﻧﻪ ُﻫ َﻮ ﱠ‬ َ ‫ْﻼ ِﻣ َﻦ ْاﻟ َﻤ ْﺴﺠِﺪ ْاﻟ َﺤ َﺮام إَﻟﻰ ْاﻟ َﻤ ْﺴﺠِﺪ ْا‬
َ ‫ﻷ ْﻗ‬ ِ ِِ ِ
ً ‫ﺎن اﻟﱠِﺬي أَ ْﺳ َﺮى ﺑ َﻌﺒِْﺪ ِه َﻟﯿ‬
ِ َ ‫ْﺤ‬
َ ‫ُﺳﺒ‬
1 ،‫)اﻹﺳﺮاء‬.)

“Maha Suci Dzat yang telah menjalankan hamba-Nya (Muhammad SAW) pada suatu malam
dari Masjid al-Haram (Makkah) ke Masjid al-‘Aqsha (Palestina) yang Kami berkati
sekelilingnya untuk Kami perlihatkan ayat-ayat Kami kepada mereka. Sesungguhnya Dia
Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. al-Isra’ : 1).
Aqidatul Awam
Bait 1 click to expand contents
Bait 2 click to expand contents
Bait 3 click to expand contents
Bait 4 click to expand contents
Bait 5 click to expand contents
Bait 6 click to expand contents
Bait 7 click to expand contents
Bait 8 click to expand contents
Bait 9 click to expand contents
Bait 10 click to expand contents
Bait 11 click to expand contents
Bait 12 click to expand contents
Bait 13 click to expand contents
Bait 14 click to expand contents
Bait 15 click to expand contents
Bait 16 click to expand contents
Bait 17 click to expand contents
Bait 18 click to expand contents
Bait 19 click to expand contents
Bait 20 click to expand contents
Bait 21 click to expand contents
Bait 22 click to expand contents
Bait 23 click to expand contents
Bait 24 click to expand contents
Bait 25 click to expand contents
Bait 26 click to collapse contents
‫ـﺤ َـﻜ ِﻢ ْاﻟ َﻌِﻠـﯿ ِْﻢ‬
َ ‫ﻼ ُم ْاﻟ‬
َ ‫( ِﻓﯿ َْﻬـﺎ َﻛ‬26) ‫ْﻞ َو ْاﻟ َﻜِﻠﯿْﻢ‬
ِ
ْ ُ ‫ﺻ ُﺤ‬
ِ ‫ـﻒ اﻟ َﺨـِﻠﯿ‬ ُ ‫َو‬

Dan lembaran-lembaran (Shuhuf) suci yang diturunkan untuk AlKholil (Nabi Ibrohim) dan
AlKaliim (Nabi Musa) mengandung Perkataan dari Yang Maha Bijaksana dan Maha
Mengetahui.

Setiap muslim mukallaf wajib beri’tiqad dan berkeyakinan bahwa Allah menurunkan wahyu
kepada seluruh Nabi dan Rasul melalui perantaraan malaikat Jibril. Wahyu-wahyu tersebut
ada yang ditulis oleh nabi/rasul yang bersangkutan dan ada yang tidak ditulis. Kumpulan
dari tulisan-tulisan wahyu tersebut ada yang berbentuk “Kitab” dan ada yang berbentuk
“Shuhuf”. Bila ditulis di lembaran-lembaran dan dibukukan (dijilid) menjadi satu-kesatuan
buku disebut “Kitab”, dan bila ditulis di lembaran-lembaran terpisah dan tidak
dibukukan/dijilid disebut “Shuhuf”.

Tentu saja jumlah seluruh Kitab dan Shuhuf itu sangat banyak, tak terbatas jumlahnya, atau
paling tidak sebanyak jumlah seluruh Nabi dan Rasul. Namun hanya Allah saja yang
mengetahui jumlah yang sebenarnya. Kaum muslimin tidak diwajibkan untuk mengetahui
satu persatu secara terinci seluruh kitab dan shuhuf yang pernah ada. Tetapi yang wajib
diketahui hanya 4 buah kitab dan 2 buah shuhuf. Ke-4 kitab itu adalah : 1) Kitab Taurat milik
Nabi Musa, 2) Kitab Zabur milik Nabi Dawud, 3) kitab Injil milik Nabi Isa, dan 4) kitab
Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sedangkan 2 Suhuf itu adalah :
1) Shuhuf milik Nabi Ibrohim, dan 2) Shuhuf milik Nabi Musa, sebagaimana yang disinggung
oleh firman Allah:

‫اﻫﯿ َْﻢ َو ُﻣ ْﻮ َﺳﻰ‬


ِ ‫ْﺮ‬ ُ .‫اﻟﺼ ُﺤ ِﻒ اﻷُْ ْوَﻟﻰ‬
َ ‫ﺻ ُﺤ ِﻒ ِإﺑ‬ ‫ٰذا َﻟِﻔﻰ ﱡ‬
َ‫إ ﱠن ه‬.
ِ

“Sesungguhnya ini benar-benar terdapat didalam shuhuf yang terdahulu, (yaitu) shuhufnya
Nabi Ibrahim dan Nabi Musa” (QS Al-A’la : 18-19).