Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENDAHULUAN

1. Konsep Penyakit Stroke Hemoragik


1.1 Definisi
1.1.1 Stroke Hemoragik
Stroke adalah gangguan peredaran darah otak yang menyebabkan
defisit neurologis mendadak sebagai akibat iskemia atau hemoragi
sirkulasi saraf otak (Sudoyo Aru dalam Asuhan Keperawatan
Praktis, 2016).

Sedangkan menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik


yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (global)
dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih
yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas
selain vaskular (Muttaqin, 2008).

Stroke hemoragik adalah pembuluh darah otak yang pecah sehingga


menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke
dalam suatu daerah di otak dan kemudian merusaknya (M. Adib,
2009).

Stroke hemoragik adalah stroke yang terjadi karena pembuluh darah


di otak pecah sehingga timbul iskhemik dan hipoksia di hilir.
Penyebab stroke hemoragi antara lain: hipertensi, pecahnya
aneurisma, malformasi arteri venosa. Biasanya kejadiannya saat
melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat
istirahat. Kesadaran pasien umumnya menurun (Ria Artiani, 2009).
Stroke hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya
pembuluh darah otak. Hampir 70% kasus stroke hemoragik teerjadi
pada penderita hipertensi. Stroke hemoragik ada 2 jenis, yaitu:
a. Hemoragik Intraserebral: pendarahan yang terjadi didalam
jaringan otak.
b. Hemoragik Subaraknoid: pendarahan yang terjadi pada ruang
subaraknoid (ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan
jaringan yang menutupi otak) (Asuhan Keperawatan Praktis,
2016).

1.2 Etiologi Stroke Hemoragik


Menurt Muttaqin (2008) perdarahan intracranial atau intraserebri meliputi
perdarahan didalam ruang subarachnoid atau didalam jaringan otak
sendiri. Perdarahan ini dapat terjadi karena aterosklerosis dan hipertensi.
Pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan perembesan darah ke dalam
parenkim otak yang dapat mengakibatkan penekanan, pergeseran, dan
pemisahan jaringan otak yang berdekatan, sehingga otak akan
membengkak, jaringan otak tertekan sehingga terjadi infark otak, edema,
dan mungkin hemiasi otak.
Penyebab perdarahan otak yang paling umum terjadi:
1.2.1 Aneurisma (dilatasi pembuluh darah) berry , biasanya defek
congenital.
1.2.2 Aneurisma fusiformis dari aterosklerosis. Atherosklerosis adalah
mengerasnya pembuluh darah serta berkurangnya kelenturan atau
elastisitas dinding pembuluh darah. Dinding arteri menjadi lemah
dan terjadi aneurisma kemudian robek dan terjadi perdarahan.
1.2.3 Aneurisma mikotik dari vaskulitis nekrose dan emboli sepsis.
1.2.4 Malformasi arteriovena, terjadi hubungan persambungan pembuluh
darah arteri, sehingga darah arteri langsung masuk vena.
menyebabkan mudah pecah dan menimbulkan perdarahan otak.
1.2.5 Rupture arteriol serebri, akibat hipertensi yang menimbulkan
penebalan dan degenarasi pembuluh darah.

Adapun penyebab stroke hemoragik sangat beragam, yaitu:


a. Perdarahan intraserebral primer (hipertensif).
b. Ruptur kantung aneurisma.
c. Ruptur malformasi arteri dan vena.
d. Trauma.
e. Kelainan perdarahan seperti leukemia, anemia aplastik, gangguan
fungsi hati.
f. Perdarahan primer atau sekunder dari tomur otak.
g. Penyakit inflamasi pada arteri dan vena.

Faktor-faktor yang menyebabkan stroke hemoragik yaitu:


1. Faktor yang tidak dapat dirubah (Non Reversible)
 Jenis kelamin: Pria lebih sering ditemukan menderita stroke
dibandingkan wanita.
 Usia: Makin tinggi usia makin tinggi pula resiko terkena stroke.
 Keturunan: Adanya riwayat keluarga yang terkena stroke.
2. Faktor yang dapat dirubah (Reversible)
 Hipertensi
 Penyakit jantung
 Kolesterol tinggi
 Obesitas
 Diabetes Melitus
 Polisetemia
 Stress Emosional
3. Kebiasaan Hidup
 Merokok
 Peminum alkohol
 Obat-obatan terlarang
 Aktivitas yang tidak sehat: Kurang olahraga, makanan berkolesterol
(Setyopranoto, 2011 dalam Asuhan Keperawatan Praktis, 2016).

Faktor resiko pada stroke adalah :


1. Hipertensi
2. Penyakit kardiovaskuler: arteria koronaria, gagal jantung kongestif,
fibrilasi atrium, penyakit jantung kongestif
3. Kolesterol tinggi, obesitas
4. Peningkatan hematokrit (resiko infark serebral)
5. Diabetes melitus (berkaitan dengan aterogenesis terakselerasi)
6. Kontrasepasi oral (khususnya dengan disertai hipertensi, merokok, dan
kadar estrogen tinggi)
7. Penyalahgunaan obat (kokain), rokok dan alkohol

1.3 Tanda Gejala


Manifestasi klinis yang muncul pada klien Stroke Hemoragik, yaitu:
a. Pengaruh terhadap status mental:
a. Tidak sadar: 30% - 40%
b. Konfuse: 45% dari pasien biasanya sadar
b. Daerah arteri serebri media, arteri karotis interna akan menimbulkan:
a. Hemiplegia kontralateral yang disertai hemianesthesia (30% -
80%).
b. Afasia bila mengenai hemisfer dominan (35% - 50%).
c. Apraksia bila mengenai hemisfer non dominan (30%).
c. Daerah arteri serebri anterior akan meenimbulkan gejala:
a. Hemiplegia dan hemianesthesia kontralateral terutama tungkai
(30% - 80%).
b. Inkontinensia urin, afasia, atau apraksia tergantung hemisfer mana
yang terkena.
d. Daerah arteri serebri posterior
a. Nyeri spontan pada kepala
b. Afasia bila mengenai hemisfer dominan (35% - 50%)
e. Daerah vertebra basiler akan menimbulkan:
a. Sering fatal karenamengenai pusat-pusat vital dibatang otak
b. Hemiplegia alternans atau tetraplegia
c. Kelumpuhan pseudobulbar (kelumpuhan otot mata, kesulitan
menelan, emosi, labil).

Sedangkan manifestasi klinis menurut Setyopranoto, 2011 dalam Asuhan


Keperawatan Klinis, 2016) yaitu:
1. Tiba-tiba mengalami kelemahan atau kelumpuhan separo badan
2. Tiba-tiba hilang rasa peka
3. Bicara cedel atau pelo
4. Gangguan bicara dan bahasa
5. Gangguan penglihatan
6. Mulut mencong atau tidak simetris ketika menyeringai
7. Gangguan daya ingat
8. Nyeri kepala hebat
9. Vertigo
10. Kesadaran menurun
11. Proses kencing terganggu
12. Gangguan fungsi otak
Stroke Hemoragik
Gejala Klinis PIS PSA
(Perdarahan Intraserebral) (Perdarahan Subarakhnoidal)
Gejala defisit lokal Berat Ringan
SIS sebelumnya Amat jrang -
Permulaan (onset) Menit/Jam 1-2 Menit
Nyeri kepala Hebat Sangat hebat
Muntah pada
Sering Sering
awalnya
Hipertensi Hampir selalu Biasanya tidak
Keasadaran Bisa hilang Bisa hilang sebentar
Kaku kuduk Jarang Bisa ada pada permulaan
Hemiparesis Sering sejak awal Tidak ada
Deviasi mata Bisa ada Tidak ada
Gangguan bicara Sering Jarang
Likuor Sering berdarah Selalu berdarah
Perdarahan
subhialoid Tak ada Bisa ada

Paresis/Gangguan -
Mungkin (+)
N III
Sumber: Neurologi Klinis dalam Praktek Umum
Gejala stroke hemoragik yang lainnya bisa meliputi:
1. Perubahan tingkat kesadaran (mengantuk, letih, apatis, koma).
2. Kesulitan berbicara atau memahami orang lain (disartia)
3. Kesulitan menelan (disfagia)
4. Kesulitan menulis atau membaca.
5. Sakit kepala yang terjadi ketika berbaring, bangun dari tidur,
membungkuk, batuk, atau kadang terjadi secara tiba-tiba.
6. Kehilangan koordinasi.
7. Kehilangan keseimbangan.
8. Perubahan gerakan, biasanya pada satu sisi tubuh, seperti kesulitan
menggerakkan salah satu bagian tubuh, atau penurunan keterampilan
motorik.
9. Mual atau muntah.
10. Kejang.
11. Sensasi perubahan, biasanya pada satu sisi tubuh, seperti penurunan
sensasi, baal atau kesemutan.
12. Kelemahan pada salah satu bagian tubuh.

1.4 Patofisiologi
1.4.1 Perdarahan intra cerebral
Pecahnya pembuluh darah otak terutama karena hipertensi
mengakibatkan darah masuk ke dalam jaringan otak, membentuk
massa atau hematom yang menekan jaringan otak dan menimbulkan
oedema di sekitar otak. Peningkatan TIK yang terjadi dengan cepat
dapat mengakibatkan kematian yang mendadak karena herniasi otak.
Perdarahan intra cerebral sering dijumpai di daerah putamen, talamus,
sub kortikal, nukleus kaudatus, pon, dan cerebellum. Hipertensi kronis
mengakibatkan perubahan struktur dinding permbuluh darah berupa
lipohyalinosis atau nekrosis fibrinoid.
1.4.2 Perdarahan subarachnoid
Pecahnya pembuluh darah karena aneurisma atau AVM. Aneurisma
paling sering didapat pada percabangan pembuluh darah besar di
sirkulasi willisi. AVM dapat dijumpai pada jaringan otak dipermukaan
pia meter dan ventrikel otak, ataupun didalam ventrikel otak dan ruang
subarakhnoid. Pecahnya arteri dan keluarnya darah keruang
subarakhnoid mengakibatkan terjadinya peningkatan TIK yang
mendadak, meregangnya struktur peka nyeri, sehinga timbul nyeri
kepala hebat. Sering pula dijumpai kaku kuduk dan tanda-tanda
rangsangan selaput otak lainnya. Peningkatam TIK yang mendadak
juga mengakibatkan perdarahan subhialoid pada retina dan penurunan
kesadaran. Perdarahan subarakhnoid dapat mengakibatkan vasospasme
pembuluh darah serebral. Vasospasme ini seringkali terjadi 3-5 hari
setelah timbulnya perdarahan, mencapai puncaknya hari ke 5-9, dan
dapat menghilang setelah minggu ke 2-5. Timbulnya vasospasme
diduga karena interaksi antara bahan-bahan yang berasal dari darah
dan dilepaskan kedalam cairan serebrospinalis dengan pembuluh arteri
di ruang subarakhnoid. Vasospasme ini dapat mengakibatkan disfungsi
otak global (nyeri kepala, penurunan kesadaran) maupun fokal
(hemiparese, gangguan hemisensorik, afasia dan lain-lain).

Otak dapat berfungsi jika kebutuhan O2 dan glukosa otak dapat


terpenuhi. Energi yang dihasilkan didalam sel saraf hampir seluruhnya
melalui proses oksidasi. Otak tidak punya cadangan O2 karena
kerusakan, kekurangan aliran darah otak walau sebentar akan
menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan
glukosa sebagai bahan bakar metabolisme otak, tidak boleh kurang
dari 20 mg% karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa
sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila
kadar glukosa plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala disfungsi
serebral. Pada saat otak hipoksia, tubuh berusaha memenuhi O2
melalui proses metabolik anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi
pembuluh darah otak.

1.5 Pemeriksaan Penunjang


Menurut Arif Muttaqin, 2008 dalam Asuhan Keperawatan Praktis 2016
pemeriksaan penunjang yaitu diantaranya:
a. Angiografi cerebri
Membantu menentukan penyebab dari stroke secara spesifik seperti
perdarahan arteriovena atau adanya ruptur dan untuk mencari sumber
perdarahan seperti aneurism atau malformasi vaskular.
b. Lumbal Pungsi
Tekanan yang meningkat dan disertai bercak darah pada cairan
lumbal menunjukkan adanya hemoragi pada subarakhnoid atau
perdarahan pada intrakranial.
c. CT Scan
Penindaian ini memperlihatkan secara spesifik letak edema, posisi
hematoma, adanya jaringan otak yang infark atau iskemia dan
posisinya secara pasti.
d. MRI (Magnetic Imaging Resnance)
Menggunakan gelombang megnetik untuk menentukan posisi dan
bsar terjadinya perdarahan otak. Hasil yang didapatkan area yang
mengalami lesi dan infark akibat dari hemoragik.
e. EEG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat masalah yang timbul dan
dampak dari jaringan yang infrak sehingga menurunnya impuls listrik
dalam jaringan otak.
f. USG Doppler
Untuk mengidentifikasi adanya penyakit arteriovena (masalah sistem
karotis).

1.6 Komplikasi
Stroke hemoragik dapat menyebabkan diantaranya yaitu:
a. Infark Serebri
b. Hidrosephalus yang sebagian kecil menjadi hidrosephalus normotensif
c. Fistula caroticocavernosum
d. Epistaksis (perdarahan hidung)
e. Peningkatan TIK, tonus otot abnormal

Sedangkan menurut sumber ilmu bedah saraf satyanegara hal 257 dalam
buku Asuhan Keperawatan Praktis 2016, komplikasinya diantaranya yaitu:
1. Dini (0 – 48 jam pertama)
Edema serebri. Deficit neurologis cenderung memberat, dapat
mengakibatkan peningkatan TIK, herniasi, dan akhirnya menimbulkan
kematian infark miokard. Penyebab kematian mendadak pada stroke
stadium awal.
2. Jangka Pendek (1 – 14 hari)
a. Pneumonia akibat immobilisasi lama
b. Infark Miokard
c. Emboli Paru. Cenderung terjadi 7-14 hari pascastroke, sering kali
terjadi pada saat penderita mulai mobilisasi.
d. Stroke Rekuren, dapat terjadi pada setiap saat.
3. Jangka Panjang
a. Stroke Rekuren
b. Infark Miokard
c. Gangguan vaskuler lain: penyakit vaskuler perifer.
1.6 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan untuk stroke hemoragik, antara lain:
1.6.1 Menurunkan kerusakan iskemik cerebral
Infark cerebral terdapat kehilangan secara mantap inti central
jaringan otak, sekitar daerah itu mungkin ada jaringan yang masih
bisa diselamatkan, tindakan awal difokuskan untuk menyelematkan
sebanyak mungkin area iskemik dengan memberikan O2, glukosa
dan aliran darah yang adekuat dengan mengontrol / memperbaiki
disritmia (irama dan frekuensi) serta tekanan darah.
1.6.2 Mengendalikan hipertensi dan menurunkan TIK
Dengan meninggikan kepala 15-30 menghindari flexi dan rotasi
kepala yang berlebihan, pemberian dexamethason.
1.6.3 Pengobatan
a. Anti koagulan: Heparin untuk menurunkan kecederungan
perdarahan pada fase akut.
b. Obat anti trombotik: Pemberian ini diharapkan mencegah
peristiwa trombolitik/emobolik.
c. Diuretika : untuk menurunkan edema serebral
1.6.4 Penatalaksanaan Pembedahan
Endarterektomi karotis dilakukan untuk memeperbaiki peredaran
darah otak. Penderita yang menjalani tindakan ini seringkali juga
menderita beberapa penyulit seperti hipertensi, diabetes dan penyakit
kardiovaskular yang luas. Tindakan ini dilakukan dengan anestesi
umum sehingga saluran pernafasan dan kontrol ventilasi yang baik
dapat dipertahankan.

Sedangkan menurut Setyopranoto, 2011 dalam Buku Asuhan


Keperawatan Praktis, 2016 yaitu:
Terapi umum: Pasien stroke hemoragik harus dirawat di ICU jika
volume hematoma >30 mL, perdarahan intraventrikuler dengan
hidrosefalus, dan keadaan klinis cenderung memburuk. Tekanan
darah harus diturunkan sampai tekanan darah premorbid atau 15-20%
bila tekanan sistolik >180 mmHg, diastolic >120 mmHg, MAP >130
mmHg, dan volume hematoma bertambah. Bila trdapat gagal
jantung, tekanan darah harus segera diturunkan dengan labetalol iv
10 mg (pemberian dalam 2 menit) sampai 20 mg (pemberian dalam
10menit) maksimum 300 mg; enalapril iv 0,625 – 1.25 mg per 6 jam;
kaptopril 3 kali 6,25 – 25 mg peroral. Jika didapatkan tanda tekanan
intracranial meningkat, posisi kepala dinaikkan 30o, posisi kepala dan
dada disatu bidang,pemberian manitol dan hiperventilasi (Pco2 20-35
mmHg). Penatalaksanaan umum sama dengan pada stroke iskemik,
tukak lambung diatasi dengan antagonis H2 parenteral,sukralfat, atau
inhibitor pompa proton; komplikasi saluran napas dicegah dengan
fisioterapi dan diobati dengan antibiotic spectrum luas.

Terapi khusus: Neuroprotektor dapat diberikan kecuali yang bersifat


vasodilator. Tindakan bedah mempertimbangkan usia dan letak
perdarahan yaitu pada pasien yang kondisinya kian memburuk
dengan perdarahan serebelum berdiameter >3 cm3, hidrosefalus akut
akibat perdarahan intraventrikel atau serebelum, dilakukan VP-
shunting, dan perdarahan lobar >60 mL dengan tanda peningkatan
tekanan intracranial akut dan ancaman herniasi. Pada perdarahan
subaraknoid, dapat digunakan antagonis kalsium (nimodipin) atau
tindakan bedah (ligasi, embolisasi, ekstirpasi, maupun gamma knife)
jika penyebabnya adalah aneurisma atau malformasi arterivena
(arteriovenous malformation, AVM).
1.7 Pathway
II. Rencana Asuhan Klien dengan Gangguan Stroke Hemoragik
2.1 Pengkajian
2.1.1 Riwayat Keperawatan
2.1.1.1 Anamnesis: Identitas klien meliputi nama, umur, jenis
kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku
bangsa, tanggal dan jam masuk rumah sakit, nomor
register, diagnosis medis.
2.1.1.2 Keluhan utama
Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien untuk
meminta pertolongan kesehatan tergantung dari seberapa
jauh penurunan tingkat kesadaran.
2.1.1.3 Riwayat penyakit saat ini
Sejak seminggu tiba-tiba pasien tidak bisa bangun dan
tidak bisa bangun.
2.1.1.4 Riwayat penyakit dahulu
Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi adanya
riwayat hipertensi, riwayat diabetes melitus, dan penyakit
jantung.
2.1.1.5 Riwayat penyakit keluarga
Mengkaji adanya anggota generasi terdahulu yang
mendertita hipertensi dan diabetes mellitus.

2.1.2 Pemeriksaan Fisik


a. Pengkajian Primer
 Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya
penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk
 Breathing
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas,
timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur,
suara nafas terdengar ronchi /aspirasi
 Circulation
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada
tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap
dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin,
sianosis pada tahap lanjut
 Disability
Yang dinilai adalah tingkat kesadran serta ukutan dan
reaksi pupil.
 Exposure/ kontrol lingkungan
Penderita harus dibuka seluruh pakaiannya.

b. Pengkajian Sekunder
1) Aktivitas dan istirahat
Data Subyektif:
 Kesulitan dalam beraktivitas ; kelemahan, kehilangan
sensasi atau paralysis.
 Mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot)
Data obyektif:
 Perubahan tingkat kesadaran
 Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis
( hemiplegia ) ,kelemahan umum
 Gangguan penglihatan
2) Sirkulasi
 Data Subyektif:
Riwayat penyakit jantung (penyakit katup jantung,
disritmia, gagal jantung , endokarditis bacterial ),
polisitemia.
 Data obyektif:
o Hipertensi arterial\
o Disritmia, perubahan EKG
o Pulsasi : kemungkinan bervariasi
o Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta
abdominal
3) Integritas ego
 Data Subyektif:
o Perasaan tidak berdaya, hilang harapan
 Data obyektif:
o Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat,
kesediahan , kegembiraan
o Kesulitan berekspresi diri
4) Eliminasi
 Data Subyektif:
o Inkontinensia, anuria
o Distensi abdomen (kandung kemih sangat penuh),
tidak adanya suara usus (ileus paralitik)
5) Makan/ minum
 Data Subyektif:
o Nafsu makan hilang
o Nausea / vomitus menandakan adanya TIK
o Kehilangan sensasi lidah, pipi , tenggorokan, disfagia
o Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah
 Data obyektif:
o Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek
palatum dan faring )
o Obesitas ( factor resiko )
6) Sensori neural
 Data Subyektif:
o Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama
TIA )
o nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau
perdarahan sub arachnoid.
o Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena
terlihat seperti lumpuh/mati
o Penglihatan berkurang
o Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral
pada ekstremitas dan pada muka ipsilateral ( sisi
yang sama )
o Gangguan rasa pengecapan dan penciuman
 Data obyektif:
o Status mental ; koma biasanya menandai stadium
perdarahan , gangguan tingkah laku (seperti: letergi,
apatis, menyerang) dan gangguan fungsi kognitif
o Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral
pada semua jenis stroke, genggaman tangan tidak
imbang, berkurangnya reflek tendon dalam (
kontralateral )
o Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral )
o Afasia (kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa,
kemungkinan ekspresif/ kesulitan berkata kata,
reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif, global
/ kombinasi dari keduanya.
o Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat,
pendengaran, stimuli taktil
o Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan
motorik
o Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak
bereaksi pada sisi ipsi lateral
7) Nyeri / kenyamanan
 Data Subyektif:
Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya
 Data obyektif:
Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot
/ fasial

2.1.2 Pemeriksaan Penunjang


a. Angiografi cerebri
Membantu menentukan penyebab dari stroke secara spesifik
seperti perdarahan arteriovena atau adanya ruptur dan untuk
mencari sumber perdarahan seperti aneurism atau malformasi
vaskular.
b. Lumbal Pungsi
Tekanan yang meningkat dan disertai bercak darah pada cairan
lumbal menunjukkan adanya hemoragi pada subarakhnoid atau
perdarahan pada intrakranial.
c. CT Scan
Penindaian ini memperlihatkan secara spesifik letak edema,
posisi hematoma, adanya jaringan otak yang infark atau
iskemia dan posisinya secara pasti.
d. MRI (Magnetic Imaging Resnance)
Menggunakan gelombang megnetik untuk menentukan posisi
dan besar terjadinya perdarahan otak. Hasil yang didapatkan
area yang mengalami lesi dan infark akibat dari hemoragik.
e. EEG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat masalah yang timbul
dan dampak dari jaringan yang infrak sehingga menurunnya
impuls listrik dalam jaringan otak.
f. USG Doppler
Untuk mengidentifikasi adanya penyakit arteriovena (masalah
sistem karotis).

2.2 Diagnosa Keperawatan yang mugkin muncul


Diagnosa 1 : Gangguan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan
gangguan aliran darah sekunder akibat peningkatan tekanan intraknranial
2.2.1 Definisi : penurunan oksigen yang mengakibatkan keggalan
pengiriman nutrisi ke jaringan pada tingkat kapiler
2.2.2 Batasan karaktersitik
- Perubahan status mental
- Perubahan perilaku
- Perubahan respons motoric
- Perubahan reaksi pupil
- Kesulitan menelan
- Kelemahan atau paralisis ekstremitas
- Paralisis
- Ketidaknormalan dalam berbicara
2.2.3 Faktor yang berhubungan
- Perubahan afinitas hemoglobin terhadap oksigen
- Penurunan konsentrasi hemoglobin dalam darah
- Keracunan enzim
- Gangguan pertukaran
- Hipervolemia
- Hipoventilasi
- Hipovolemia
- Gangguan transport oksigen melalui alveoli dan membran
kapiler
- Gangguan aliran arteri atau vena
- Ketidaksesuaian antara ventilasi dan aliran darah

Diagnosa 2 : Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan


neuromuskular
2.2.4 Definisi : Keterbatasan dala pergerakan fisik mandiri dan terarah
pada tubuh atau satu ekstremitas atau lebih [sebutkan tingkatnya] :
Tingkat 0 : mandiri total
Tingkat 1 : memnggunakan peralatan atau alat bantu
Tingkat 2 : memerlukan bantuan dari orang lain untuk untuk
pertolongan, pengawasan, atau pengajaran
Tingkat 3 : membutuhkan bantuan dari orang lain dan peralatan
atau alat bantu
Tingkat 4 : ketergantungan, tidak berpartisipasi dalam aktivitas
2.2.5 Batasan karaktersitik
- Penurunan waktu reaksi
- Kesulitan membolak-balik posisi
- Melakukan aktivitas lain sebagai pengganti pergerakan (misal
meningkatkan perhatian pada aktivitas orang lain,
mengendalikan perilaku, fokus pada ketunadayan/aktivitas
sebelum sakit
- Dyspnea setelah beraktivitas
- Perubahan cara berjalan
- Gerakan bergetar
- Keterbatasan kemampuan me;akukan keterampilan motorik
halus
- Keterbatasan kemampuan melakukan keterampilan motorik
kasar
- Keterbatasan rentang pergerakan sendi
- Tremor akibat pergerakan
- Ketidakstabilan postur
- Pergerakan lambat
- Pergerakan tidak terkoordinasi
2.2.6 Faktor yang berhubungan
- Intoleransi aktivitas
- Perubahan metabolism selular
- Ansietas
- Indeks masa tubuh diatas perentil ke 75 sesuai usia
- Gangguan kognitif
- Konstraktir
- Kepercayaan budaya tentang aktivitas sesuai usia
- Fisik tidak bugar
- Penurunan ketahanan tubuh
- Penurunan kendali otot
- Penurunan massa otot
- Malnutrisi
- Gangguan musculoskeletal
- Gangguan neuromuscular, nyeri
- Agens obat
- Penurunan kekuatan otot
- Kurang pengetahuan tentang aktivitas fisik
- Keadaan mood depresif
- Keterlambatan perkembangan
- Ketidaknyamanan
- Disuse, kaku sendi
- Kurang dukungan lingkungan (misal fisik atau sosial)
- Keterbatasan ketahanan kardiovaskular
- Kerusakan integritas struktur tulang
- Program pembatasan gerak
- Keengganan memulai pergerakan
- Gaya hidup monoton
- Gangguan sensori perceptual

Diagnosa 3: Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan


oedema serebral.
2.2.7 Definisi
Suatu penurunan jumlah oksigen yang mengakibatkan kegagalan
untuk memelihara jaringan pada tingkat kapiler
2.2.8 Batasan Karakteristik
 Infark Miokardium
 Embolisme
 Endokarditis infektif
 Hipertensi
 Kardiomiopati dilatasi
 Neoplasma otak
 Tomur otak
2.2.9 Faktor yang berhubungan dengan oedema serebral

Diagnosa 4: Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan anoreksia
2.2.10 Definisi
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
2.2.11 Batasan Karakteristik
a. Asupan makanan kurang dari kebutuhan metabolic, baik kalori
total maupun zat gizi tertentu
b. Kehilangan berat baan dengan asupan makanan yang adekuat
c. Melaporkan asupan makanan yang tidak adekuat kurang dari
RDA.
2.2.12 Faktor yang berhubungan anoreksia

2.3 Perencanaan
No Diagnosa Tujuan Dan Intervensi (NIC) Rasional
. Kriteria Hasil
(NOC)
1. Gangguan Setelah 1. Berikan 1. Keluarga lebih
perfusi dilakukan asuhan penjelasan berpartisipasi dalam
jaringan keperawatan kepada proses penyembuhan
serebral selama … x 24 keluarga klien 2. Untuk mencegah
berhubunga jam diharapkan tentang sebab- perdarahan ulang
n dengan pasien tidak sebab 3. Mengetahui setiap
gangguan mengalami peningkatan perubahan yang
aliran gangguan perfusi TIK dan terjadi pada klien
darah jaringan serebral akibatnya secara dini dan untuk
sekunder dengan kriteria 2. Anjurkan penetapan tindakan
akibat hasil : kepada klien yang tepat
peningkata 1. Mempunyai untuk bed rest 4. Mengurangi tekanan
n tekanan sistem saraf total arteri dengan
intraknrani pusat dan 3. Observasi dan meningkatkan
al perifer yang catat tanda- drainage vena
utuh tanda vital dan dan memperbaiki
2. Menunjukkan kelainan sirkulasi serebral
fungsi tekanan 5. Batuk dan mengejan
sensorimotor intrakranial dapat meningkatkan
kranial yang tiap 2 jam tekanan intra kranial
utuh 4. Berikan posisi dan potensial terjadi
3. Menunjukkan kepala lebih perdarahan ulang
fungsi otonom tinggi 15-30 6. Rangsangan aktivitas
yang utuh dengan letak yang meningkat
4. Mempunyai jantung ( beri dapat meningkatkan
pupil yang bantal tipis) kenaikan TIK.
sama besar 5. Anjurkan klien Istirahat total dan
dan reaktif untuk ketenangan mungkin
5. Terbebas dari menghindari diperlukan untuk
aktivitas batuk dan pencegahan terhadap
kejang mengejan perdarahan dalam
6. Tidak berlebihan kasus stroke
mengalami 6. Ciptakan hemoragik/perdaraha
sakit kepala lingkungan n lainnya
yang tenang 7. Memperbaiki sel
dan batasi yang masih viable
pengunjunng
7. Kolaborasi
dengan tim
dokter dalam
pemberian obat
2. Gangguan Setelah 1. Kaji 1. Mengidentifikasi
mobilitas dilakukan asuhan kemampuan kekuatan/kelemahan
fisik keperawatan secara dan dapat
berhubunga selama … x 24 fungsional/luas memberikan
n dengan jam diharapkan nya kerusakan informasi mengenai
kerusakan pasien tidak awal dan pemulihan. Bantu
neuromusk mengalami dengan cara dalam pemilihan
ular ganguan yang teratur. terhadap intervensi
mobilitas fisik 2. Ubah posisi sebab teknik yang
dengan kriteria minimal setiap berbeda digunakan
hasil : 2 jam untuk paralisis
1. Mempertahan (telentang,miri spastik dengan
kan posisi ng) dan flaksid.
optimal, sebagainya dan 2. Menurunkan risiko
2. Mempertahan jika terjadinya
kan/meningka memungkinkan trauma/iskemia
tkan kekuatan bisa lebih jaringan. Daerah
dan fungsi sering jika yang terkena
bagian tubuh diletakkan mengalami
yang terserang dalam posisi perburukan/sirkulasi
hemiparesis bagian yang yang lebih jelek dan
dan terganggu. menurunkan sensasii
hemiplagia. 3. Letakkan pada dan lebih besar
3. Mempertahan posisi menimbulkan
kan perilaku telungkup satu kerusakan pada kulit/
yang kali atau dua dekubitus.
memungkinka kali sekali jika 3. Membantu
n adanya pasien dapat mempertahankan
aktivitas. mentoleransiny ekstensi pinggul
a. fungsional ; tetapi
4. Mulailah kemungkinan akan
melakukan meningkatkan
latihan rentang ansietas terutama
gerak aktif dan mengenai
pasif pada kemampuan pasien
semua untuk bernapas.
ekstremitas 4. Meminimalkan atrofi
saat masuk. otot, meningkatkan
Anjurkan sirkulasi, membantu
melakukan mencegah kontraktur.
latihan sepeti Menurunkan risiko
latihan terjadinya
quadrisep/glute hiperkalsiuria dan
al, meremas osteoporosis jika
bola karet, masalah utamanya
melebarkan adalah
jari-jari perdarahan. Catatan:
kaki/telapak. Stimulasi yang
5. Sokong berlebihan dapat
ekstremitas menjadi pencetus
dalam posisi adanya perdarahan
fungsionalnya, berulang.
gunakan papan 5. Mencegah
kaki (foot kontraktur/footdrop
board) seelama dan memfasilitasi
periode kegunaannya jika
paralisis berfungsi kembali.
flaksid. Paralisis flaksid
Pertahankan dapat mengganggu
posisi kepala kemampuannya
netral. untuk menyangga
6. Tempatkan kepala, dilain pihak
bantal di paralisis spastik
bawah aksila dapat mengarah pada
untuk deviasi kepala ke
melakukan salah satu sisi.
abduksi pada 6. Mencegah adduksi
tangan. bahu dan fleksi siku.
7. Tempatkan 7. Alas/dasar yang
”handroll’ keras menurunkan
keras pada stimulasi fleksi jari-
teelapak tangan jari, mempertahankan
dengan jari-jari jari-jari dan ibu jari
dan ibu jari pada posisi normal
saling (posisi anatomis).
berhadapan. 8. Mempertahankan
8. Posisikan lutut posisi fungsional.
dan panggul 9. Membantu dalam
dalam posisi melatih kembali jaras
ekstensi. saraf, meningkatkan
9. Bantu untuk respon proprioseptik
mengembangk dan motorik.
an 10. Mungkin diperlukan
keseimbangan untuk
duduk (seperti menghilangkan
meninggikan spastisitas pada
bagian kepala ekstremitas yang
tempat tidur, terganggu.
bantu untuk
duduk di sisi
tempat tidur,
biarkan pasien
menggunakan
kekuatan
tangan untuk
menyokong
berta badan
dan kaki yang
kuat untuk
memindahkan
kaki yang
sakit;
meningkatkan
waktu duduk)
dan
keseimbangan
dalam berdiri
(seperti
letakkan sepatu
yang datar ;
sokong bagian
belakang
bawah pasien
dengan tangan
sambil
meletakkan
lutut penolong
diluar lutut
pasien;bantu
menggunakan
alat pegangan
paralel dan
walker).
10. Anjurkan
pasien untuk
membantu
pergerakan
dan latihan
dengan
menggunakan
ekstremitas
yang tidak
sakit untuk
menyokong/
menggerakkan
daerah tubuh
yang
mengalami
kelemahan.
11. Konsultasikan
dengan ahli
fisioterapi
secara aktif,
latihan
resistif, dan
ambulasi
pasien.
3. Perubahan Setelah 1. Pantau/catat 1. Mengkaji adanya
perfusi dilakukan asuhan status kecenderungan pada
jaringan keperawatan neurologis tingkat kesadaran
serebral selama … x 24 secara teratur 2. Autoregulasi
berhubung jam diharapkan dengan skala mempertahankan
an dengan pasien sadar koma glascow aliran darah otak
oedema penuh dan tidak 2. Pantau tanda- yang konstan
serebral. gelisah dengan tanda vital 3. Aktivitas/ stimulasi
kriteria hasil : terutama yang kontinu dapat
Tingkat tekanan darah meningkatkan
kesadaran 3. Pertahankan Tekanan Intra
membaik, tanda- keadaan tirah Kranial (TIK)
tanda vital stabil baring 4. Menurunkan
tidak ada tanda- 4. Letakkan tekanan arteri
tanda kepala dengan dengan
peningkatan posisi agak meningkatkan
tekanan ditinggikkan drainase dan
intrakranial dan dalam meningkatkan
posisi sirkulasi/ perfusi
anatomis serebral
(netral)
5. Berikan obat 5. Meningkatkan/
sesuai memperbaiki aliran
indikasi: darah serebral dan
contohnya selanjutnya dapat
antikoagulan mencegah
(heparin) pembekuan

4. Gangguan Setelah 1. Kaji factor 1. Untuk menetapkan


pemenuhan dilakukan asuhan penyebab jenis makanan yang
nutrisi keperawatan yang akan diberikan pada
kurang dari selama … x 8 mempengaruh klien
kebutuhan jam diharapkan i kemampuan 2. Untuk klien lebih
tubuh kebutuhan nutrisi menerima mudah untuk
berhubung pasien terpenuhi makan/minum menelan karena
an dengan dengan criteria 2. Hitung gaya gravitasi
anoreksia hasil: kebutuhan 3. Membantu dalam
- Tidak ada nutrisi perhari melatih kembali
tanda-tanda 3. Observasi sensori dan
malnutrisi tanda-tanda meningkatkan
- Berat badan vital kontrol muskuler
dalam batas 4. Catat intake 4. Memberikan
normal makanan stimulasi sensori
- Conjungtiva 5. Timbang berat (termasuk rasa
ananemis/tida badan secara kecap) yang dapat
k anemis berkala mencetuskan usaha
- Tonus otot 6. Beri latihan untuk menelan dan
baik menelan meningkatkan
- Lab: albumin, 7. Beri makan masukan
Hb, BUN via NGT 5. Klien dapat
dalam batas 8. Kolaborasi : berkonsentrasi pada
normal Pemeriksaan mekanisme makan
lab(Hb, tanpa adanya
Albumin, distraksi/gangguan
BUN), dari luar
pemasangan 6. Akan lunak/cairan
NGT, konsul kental mudah untuk
ahli gizi mengendalikannya
didalam mulut,
menurunkan
terjadinya aspirasi
7. Menguatkan otot
fasial dan dan otot
menelan dan
menurunkan resiko
terjadinya tersedak
8. Dapat meningkatkan
pelepasan endorfin
dalam otak yang
meningkatkan nafsu
makan
III. DAFTAR PUSTAKA

Ahern, N. R & Wilkinson, J. M. (2011). Buku Saku Diagnosis Keperawatan


Edisi 9. Jakarta: EGC.

Amin H, Hardhi K. (2016). Asuhan Keperawatan Praktis Edisi Revisi Jilid 1.


Yogyakarta: Mediaction.

Brunner & Suddarth. (2002). Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta:


EGC.

Doenges, Marilynn E., Moorhouse, Mary Frances dan Geissler, Alice C.


(2000). Edisi 3. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta.EGC.

http://penyakitstroke.net/penyakit-stroke-hemoragik/

Judith M.Wilkinson, Nancy R. Ahern (2012). Buku Saku Diagnosis


Keperawatan edisi 9. Jakarta: EGC.

Muttaqin, Arif. (2008). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.

Nurarif, A. H & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda NIC-NOC Edisi Revisi
Jilid 2. Yogyakarta: Penerbit Mediaction.
Banjarmasin, 2017

Preseptor Akademik, Preseptor Klinik,

( ……………………………..) ( …..……………………..)