Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Laporan keuangan adalah laporan yang berisi informasi keuangan sebuah
organisasi. Laporan keuangan merupakan salah satu alat yang digunakan oleh
perusahaan dalam menggambarkan bagaimana kondisi keuangan pada
periode tertentu. Laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan
merupakan hasil proses akuntansi yang dimaksudkan sebagai sarana
mengkomunikasikan informasi keuangan baik kepada pihak internal maupun
eksternal, yang meliputi neraca, perhitungan laba-rugi dan laba yang ditahan,
laporan perubahan posisi keuangan serta catatan atas laporan keuangan.
Analisis laporan keuangan dimaksudkan untuk membantu bagaimana
memahami laporan keuangan, bagaimana menafsirkan angka-angka dalam
laporan keuangan, bagaimana mengevaluasi laporan keuangan dan bagaimana
menggunakan informasi keuangan untuk pengambilan keputusan. Informasi
yang didapat dari laporan keuangan sangat penting dalam mengetahui posisi
keuangan, hasil-hasil yang dicapai serta kegagalan yang diterima perusahaan.
Didalam menganalisis laporan keuangan diperlukan alat analisis keuangan,
salah satunya adalah dengan menggunakan rasio-rasio keuangan. Rasio
keuangan tersebut meliputi rasio likuiditas, rasio solvabilitas (leverage), rasio
aktivitas, rasio profitabilitas, dan rasio pertumbuhan. Diharapkan dengan
analisis ini dapat diketahui gambaran keadaan keuangan perusahaan, sehingga
interpretasi pengguna laporan terhadap laporan keuangan dapat menjadi
bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan, terutama bagi direktur
dalam rangka menetapkan kebijakan.
I.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana analisis laporan keuangan PT. Astra Internasional tbk pada
periode 2014-2016?

1
2. Bagaimana kondisi kinerja keuangan perusahaan serta perkembangannya
selama periode 2014-2016?
3. Bagaimana kesimpulan dari laporan keuangan dalam menilai kinerja
keuangan PT Astra International Tbk pada periode 2014-2016?

I.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui analisis laporan keuangan PT. Astra Internasional tbk
pada periode 2014-2016
2. Untuk mengetahui kondisi kinerja keuangan perusahaan serta
perkembangannya selama periode 2014-2016
3. Untuk mengetahui kesimpulan dari laporan keuangan dalam menilai
kinerja keuangan PT Astra International Tbk pada periode 2014-2016

2
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Laporan Keuangan


a. Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan laporan yang berisi informasi
keuangan sebuah organisasi. Laporan keuangan yang diterbitkan oleh
perusahaan merupakan hasil proses akuntansi yang dimaksudkan sebagai
sarana mengkomunikasikan informasi keuangan terutama kepada pihak
eksternal. Menurut Soemarsono (2004) “Laporan keuangan adalah laporan
yang dirancang untuk para pembuat keputusan, terutama pihak diluar
perusahaan, mengenai posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan”.
Menurut PSAK No.1 Paragraf ke 7 (Revisi 2009), “ Laporan Keuangan
adalah suatu penyajian terstuktur dari posisi keuangan dan kinerja
keuangan suatu entitas”.
b. Tujuan Laporan Kuangan
1) Tujuan Khusus
Tujuan khusus laporan keuangan adalah untuk menyajikan laporan
posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi keuangan lainnya
secara wajar sesuai dengan GAAP (Generally Accepted Accounting
Principles) atau Prinsip-prinsip Standar Akuntansi Keuangan.
2) Tujuan Umum
 Memberikan Informasi yang terpercaya tentang sumber-sumber
ekonomi, dan kewajiban perusahaan.
 Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber kekayaan
bersih yang berasal dari kegiatan usaha dalam mencari laba.
 Menaksir informasi keuangan yang dapat digunakan untuk
menaksir potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.
 Memberikan informasi yang diperlukan lainya tentang perubahan
harta dan kewajiban.

3
3) Tujuan Kualitatif Laporan Keuangan
Informasi keuangan yang disajikan akan bermanfaat tentunya bila
memenuhi beberapa kriteria atau standar. Berikut ini beberapa kriteria
kualitas informasi keuangan:
a. Relevance: memilih informasi yang benar-benar sesuai dan dapat
membantu pemakai laporan dalam pengambilan keputusan.
b. Understanability: informasi yang dipilih untuk disajkan bukan saja
penting tetapi juga harus informasi yang dimengerti pemakai
c. Verifiability: Hasil akuntansi harus dapat diperiksa oleh pihak lain
yang akan menghasilkan pendapat yang sama.
d. Neutrality: Laporan akuntansi harus bersikap netral terhadap pihak-
pihak yang berkepentingan.
e. Timelines: Laporan akuntansi hanya bermanfaat untuk
pengambilaan keputusan apabila diserahkan pada saat yang tepat.
f. Comparability: Informasi akuntansi harus dapat saling di
bandingkan, artinya akuntansi harus memiliki prinsip yang sama
baik untuk suatu perusahaan maupun perusahaan lain.
g. Completeness: Informasi akuntansi yang dilaporkan harus harus
mencakup semua kebutuhan yang layak dari para pemakai.

c. Pengguna Laporan Keuangan dan Tujuan Penggunaannya


1) Investor
2) Kreditur dan Calon Kreditur
3) Pemerintah
4) Langganan dan Supplier
5) Karyawan

d. Jenis-Jenis Rasio Keuangan


1) Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas adalah rasio yang menunjukkan kemampuan
pengelola perusahaan dalam memenuhi kewajiban atau membayar

4
utang jangka pendeknya. Artinya, seberapa mampu perusahaan untuk
membayar kewajiban atau utangnya yang sudah jatuh tempo. Jika
perusahaan mampu memenuhi kewajibannya, maka perusahaan dinilai
sebagai perusahaan yang likuid.
Sebaliknya, jika perusahaan tidak dapat memenuhi
kewajibannya, maka perusahaan dinilai sebagai perusahaan yang
illikuid. Pada saat jatuh tempo, Perusahaan harus membayar
kewajiban kepada pihak luar perusahaan atau likuiditas badan usaha,
ataupun di dalam perushaan atau likuiditas perusahaan. Untuk dapat
memenuhi kewajibannya perusahaan harus memiliki jumlah kas atau
investasi atau aktiva lancar lainnya yang dapat segera dikonversi atau
diubah menjadi kas untuk memenuhi kewajibanya seperti membayar
pengeluaran, tagihan, dan seluruh kewajiban lainnya yang sudah jatuh
tempo.
a) Current Ratio
Rasio ini menunjukkan nilai relative antara aktiva lancar
terhadap utang lancar. Rasionya dihitung dengan membagi nilai
aktiva lancar dengan utang lancar. Formula untuk menghitung
rasio lancar adalah sebagai berikut:

Dari formulanya dapat diketahui bahwa rasio ini


menunujukkan sebarapa besar kemampuan aktiva yang dimiliki
perusahaan dapat digunakan jika kewajiban atau utang harus
dibayar pada saat jatuh tempo. Semakini besar nilai rasio semakin
lancar perusahaan dalam memenuhi kewajibannya.
Jika perusahaan memiliki nilai rasio lancar dua, artinya
perusahaan memiliki aktiva lancar yang nilainya dua kali dari
utang yang harus dibayar. Nilai rasio lancar dua sudah dianggap
cukup baik bagi beberapa perusahaan. Perusahaan sudah berapa
pada keadaan yang dianggap aman untuk jangka pendek.

5
b) Quick Ratio
Rasio cepat menunjukkan nilai relative antara selisih aktiva
lancar dengan inventory terhadap utang lancar. Rasionya
dihitung dengan membagi nilai aktiva lancar setelah dikurangi
nilai inventory dengan utang lancar. Formula untuk menghitung
rasio cepat adalah sebagai berikut:

Dari formulanya diketahui bahwa rasio cepat tidak


memperhitungkan nilai inventori atau persedian. Hal ini akan
menyebabkan nilai rasio ini akan menjadi lebih kecil dari nilai
rasio lancar. Komponen inventory dianggap tidak dengan mudah
atau lancar dapat digunakan untuk mememenuhi kewajiban atau
utang yang segera jatuh tempo.
Walaupun persediaan termasuk dalam aktiva lancar, namun
pesediaan tidak dengan lancar dapat segera digunakan untuk
memenuhi kewajiban perusahaan. Mengkonversi nilai persediaan
menjadi uang kas membutuhkan waktu relative lebih lama jika
dibanding aktiva lainnya. Semakin besar nilai rasio cepat, maka
semakin cepat perusahaan dapat memenuhi segala kewajibannya.

2) Rasio Profitabilitas
Rasio Profitabilitas merupakan rasio yang menunjukkan besarnya
laba yang diperoleh sebuah perusahaan dalam periode tertentu. Rasio
ini digunakan untuk menilai seberapa efisien pengelola perusahaan
dapat mencari keuntungan atau laba untuk setiap penjualan yang
dilakukan. Rasio ini merupakan ukuran yang menunjukkan kemampuan
perusahaan dalam melakukan peningkatan penjualan dan menekan
biaya-biaya yang terjadi. Selain itu, rasio ini menunjukkan kemampuan
perusahaan dalam memanfaatkan seluruh dana yang dimilikinya untuk

6
mendapatkan keuntungan maksimal. Adapun jenis-jenis rasio
profitabilitas yaitu:

a. Gross Profit Margin


Gross Margin on Sales biasa juga disebut sebagai Gross
Margin ratio, Margin Laba Kotor, atau margin laba kotor atas
penjualan. Pada dasarnya Rasio ini menunjukkan nilai relative
antara nilai Laba Kotor terhadap nilai penjualan. Laba kotor adalah
nilai penjualan dikurangi harga pokok penjualan. Formula untuk
menghitung Gross Profit Margin on Sales adalah sebagai berikut:

Dari formulanya dapat diketahui bahwa rasio ini


menunujukkan sebarapa besar laba kotor yang diperoleh
perusahaan untuk seluruh penjualannya. Nilai rasio 0.5 atau 50
persen menunjukkan bahwa laba kotor yang diperoleh perusahaan
adalah 50 persen dari total penjualan yang telah dilakukan oleh
perusahaan. Semakin besar nilai rasionya, maka semakin besar laba
kotor yang diperoleh perusahaan. Artinya profitabilitas perusahaan
semakin tinggi, perusahaan memiliki tingkat keuntungan dalam
laba kotor yang tinggi.

b. Net Profit Margin


Rasio Margin Laba Bersih atau net profit margin ratio
menunjukkan nilai relative antara nilai keuntungan setelah bunga
dan pajak dengan total penjualan. Rasionya dihitung dengan
membagi nilai laba setelah bunga dan pajak dengan total
penjualan.

7
Dari formulanya diketahui bahwa Net Profit Margin Ratio
menunjukkan besarnya pendapatan bersih yang diperoleh
perusahaan dari seluruh penjualannya. Nilai rasio 0,25 atau 25
persen menunjukkan bahwa perusahaan mendapatkan laba bersih
yang nilainya 25 persen dari total penjualan. Semakin besar nilai
rasionya, maka semakin besar profitabilitas yang dimiliki oleh
perusahaan. Artinya semakin besar laba bersih yang diperoleh
perusahaan.

c. Return On Total Asset (ROA)


Return on total asset (ROA) atau bisa disebut juga tingkat
kembalian atas investasi (ROI) yaitu mengukur kemampuan
perusahaan dalam memanfaatkan aktivanya untuk memperoleh
laba. Rasio ini mengukur tingkat pengembalian investasi yang
telah dilakukan oleh perusahaan dengan menggunakan seluruh
dana (aktiva) yang dimilikinya. Laba yang dipakai disini adalah
laba setelah bunga tetapi sebelum pajak.

d. Return On Equity (ROE)


Return on equity (ROE) adalah rasio laba bersih setelah
pajak terhadap modal sendiri yang digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bagi pemegang
saham perusahaan. Rasio ini merupakan ukuran profitabilitas dari
sudut pandang pemegang saham. Tetapi pada rasio ini terdapat
satu kelemahan, yaitu tidak memperhitungkan adanya deviden
maupun capital gain untuk pemegang saham.

8
3) Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas adalah rasio yang menunjukkan besarnya
aktiva sebuah perusahaan yang didanai dengan utang. Artinya,
seberapa besar beban utang yang ditanggung oleh perusahaan
dibandingkan dengan aktivanya. Rasio ini merupakan ukuran yang
menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh
kewajibannya. Baik kewajiban jangka pendek maupu jangka panjang
jika perusahaan dibubarkan, atau dilikuidasi. Perusahaan yang
memiliki rasio solvabilitas yang tinggi memiliki resiko kerugian yang
lebih besar daripada perusahaan dengan rasio solvabilitas yang
rendah.

a. Debt To Asset Ratio


Rasio ini menunjukkan nilai relative antara nilai total utang
terhadap total aktiva. Rasionya dihitung dengan membagi nilai
total utang dengan total aktiva. Formula untuk menghitung Debt
to Asset Ratio adalah sebagai berikut:

Dari formulanya dapat diketahui bahwa rasio ini


menunujukkan sebarapa besar pendanaan perusahaan yang
dibiayai oleh utang disbanding dengan total aktiva yang dimiliki
oleh perusahaan. Nilai rasio 0.5 atau 50 persen menunjukkan
bahwa kreditor mendanai perusahaan 50 persen dari total aktiva
yang dimiliki oleh perusahaan. Semakin besar nilai rasionya,
maka semakin besar utang yang dimiliki oleh perusahaan. Artinya
semakin besar kewajiban perusahaan yang harus dipenuhi kepada
pihak lain.

b. Debt To Equity Ratio


Debt to Equity Ratio menunjukkan nilai relative antara total
utang dengan total equitas. Rasionya dihitung dengan membagi

9
nilai total utang dengan total equitas. Formula untuk menghitung
Debt to Equity Ratio adalah sebagai berikut:

Dari formulanya diketahui bahwa Debt to Equity Ratio


menunjukkan besarnya pendanaan perusahaan yang dibiayai olek
kreditor dibandingkan dengan pendanaan yang dibiayai oleh
pemegang saham. Nilai rasio 0,75 atau 75 persen menunjukkan
bahwa perusahaan dibiayai oleh utang yang nilainya 75 persen
dari total ekuitas. Semakin besar nilai rasionya, maka semakin
besar utang yang dimiliki oleh perusahaan. Artinya semakin besar
kewajiban perusahaan yang harus dipenuhi kepada pihak lain.

2.2 Sejarah PT. Astra International Tbk

PT. Astra International. Tbk (Perseroan) didirikan pada tahun 1957 di


Bandung dan dikelola serta dipimpin oleh William Soeryadjaja, Tjien Kian
Tie dan Liem peng Hong. Pada tahun 1965 PT. Astra International
memusatkan kantor pusatnya di Jakarta, dan kantor Bandung dijadikan
sebagai cabang pertama dengan nama PT. Astra Incorporated. Perseroan
berdomisili di jakarta, Indonesia, dengan kantor pusat di jl. Gaya Motor
Raya No.8, Sunter II, Jakarta. PT.Astra International resmi berdiri secara
hukum dan disahkan di hadapan Notaris Sie kwan Djioe dengan akte notaris
No.67 tanggal 20 februari 1957 di Jakarta, dan dalam keputusan menteri
kesehatan RI No.J.A/53/5 tanggal 1 juli 1957 dan terdaftar di paniteran
pengadilan negeri di Jakarta serta di umumkan dalam tambahan no.01117
berita Negara RI No.85 tanggal 22 oktober 1957.

Perusahaan ini awalnya bergerak dibidang usaha permobilan, yaitu


Toyota, Daihatsu, Isuzu, Nissan Truck, dan pada bidang lainnya seperti :

10
1. PT. Federal, bergerak di bidang pemasaran sepeda motor Honda dan
sepeda Federal.
2. United Traktor, bergerak di bidang usaha mesin berat pertanian seperti :
Traktor, Messey Ferguson, Sumitomo, Link Belt dan lain-lain.
3. Bidang usaha perkantoran dan perdagangan mesin Foto Copy Xerox,
minyak pelumnas dan specialis Caltex.
4. Astra Argo bergerak dibidang usaha pertanian, perkebunan dan
perkayuan.
Pada tahun 1969 mulai mengalihkan usaha impor alat-alat berat dan
barang-barang teknik. Makin luasnya usaha tersebut dikarenakan PT. Astra makin
memperoleh kepercayaan dari para investor luar negeri untuk memasarkan
produk-produk otomotif. Pada tahun 1990, Perusahaan mengubah namanya
menjadi PT. Astra International Tbk. Sesuai dengan pasal 3 Anggaran dasar
perseroan, Ruang lingkup perseroan adalah Perdagangan umum, perindustrian,
jasa pertambangan, pengangkutan, pertanian, pembangunan dan jasa konsultasi.
Ruang lingkup kegiatan utama anak perusahaan meliputi perakitan dan
penyaluran mobil, sepeda motor berikut suku cadangnya, penjualan dan
penyewaan alat-alat berat, pertambangan dan jasa terkait, pengebangan dan jasa
terkait pengembangan perkebunan. PT. Astra Intenational Tbk atau lebih dikenal
dengan Astra Group ini telah tercatat di Bursa Efek Jakarta sejak tanggal 4 April
1990. Saat ini mayoritas Kepemilikan sahamnya dimiliki oleh Jardine Cycle dan
Carriage, Singapura.
Divisi usaha dan anak perusahaan, antara lain:
1. Otomotif
 PT Toyota Astra Motor (Toyota dan Lexus)
 PT Toyota Auto2000 (Auto 2000)
 PT Astra Daihatsu Motor (Daihatsu)
 PT Isuzu Astra Motor Indonesia (Isuzu)
 PT Astra Nissan Diesel Indonesia (Truk Nissan Diesel)
 PT Tjahja Sakti Motor (BMW dan Peugeot)
 PT Serasi Autoraya (TRAC)

11
 PT Serasi Auto Raya (Mobil 88)
 PT Astra Honda Motor (Honda)
 PT Astra Otoparts Tbk
2. Agro Industri
 PT Astra Agro Lestari Tbk
3. Pelayanan Finansial
 PT Astra Credit Company
 PT Toyota Astra Financial Services
 PT Asuransi Astra Buana (Garda Oto)
 PT Federal International Finance
 PT Surya Artha Nusantara Finance
 PT Bank Permata
 PT Astra Aviva Life (Astra Life)
4. Alat-alat berat
 PT United Tractors Tbk (Scania)
 PT Traktor Nusantara
 PT Pamapersada Nusantara
 PT Kalimantan Prima Persada
5. Teknologi Informasi
 PT Astragraphia Tbk
 PT Astra Graphia Information Technologies-AGIT
6. Infrastruktur
 PT Astratel Nusantara
 PT Intertel Nusaperdana
 PT Goldstar Astra
 PT LG Electronics Indonesia

12
BAB III
PEMBAHASAN

Ringkasan Laporan keuangan PT. Astra International Tbk


Tahun 2014-2016

2014 2015 2016

Aktiva lancar 88.352 97.241 103.360

Kewajiban lancar 54.718 73.523 73.066

Persediaan 14.433 16.986 18.198

Total kewajiban 107.806 115.705 117.942

Total aset 213.994 236.029 244.141

Total ekuitas 106.188 120.324 126.199

Laba kotor 35.311 9.395 8.561

Penjualan bersih 193.880 49.821 45.187

Laba setelah pajak 22.297 5.710 4.808


Sumber: Laporan keuangan PT. Astra International Tbk

Untuk lebih memperjelas dalam melihat ringkasan laporan keuangan PT. Astra
International Tbk tahun 2014-2016 maka penulis sajikan dalam bentuk grafik
sebagai berikut:

13
Ringkasan Laporan Keuangan PT. Astra International Tbk
Tahun 2014-2016
300000

250000

200000

150000

100000

50000

0
Aktiva Lancar Kewajiban Lancar Persediaan Total Kewajiban Total Aset

2014 2015 2016

14
Ringkasan Laporan Keuangan PT. Astra
International Tbk Tahun 2014-2016
250000

200000

150000

100000

50000

0
Total Ekuitas Laba Kotor Penjualan Bersih Laba Setelah Pajak

2014 2015 2016

15
Ringkasan Laporan Keuangan PT. Astra International
Tbk Tahun 2014-2016
300000

250000

200000

150000

100000

50000

0
Aktiva Lancar Kewajiban Lancar Persediaan Total Kewajiban Total Aset

2014 2015 2016

Gambar 3.1 Ringkasan laporan keuangan

Ringkasan Laporan Keuangan PT. Astra International Tbk


Tahun 2014-2016
250000

200000

150000

100000

50000

0
Total Ekuitas Laba Kotor Penjualan Bersih Laba Setelah
Pajak

2014 2015 2016

16
Gambar 3.2 Ringkasan laporan keuangan

III.1 Analisis Secara Umum


Dari grafik diatas penulis dapat di analisis secara umum untuk melihat
keadaan PT. Astra International Tbk pada tahun 2014-2016. Adapun analisis
secara umum laporan keuangan PT. Astra International Tbk yaitu sebagai berikut:

1. Dari segi aktiva lancar dapat dilihat pada gambar 3.1 bahwa dari tahun 2014-
2016 PT. Astra International Tbk selalu mengalami kenaikan. Artinya bahwa
persediaan kas baik berupa uang tunai, piutang, persediaan dll yang dapat
dicairkan menjadi uang tunai dalam waktu setahun pada PT. Astra
International Tbk dalam keadaan baik.

2. Dari segi kewajiban lancar yaitu jumlah seluruh uang yang dipinjam oleh
perusahaan yang harus dikembalikan dalam waktu setahun, dapat dilihat pada
gambar 3.1 dari tahun 2014 ke tahun 2015 kenaikan kewajiban lancar PT.
Astra International Tbk cukup signifikan dibandingkan kenaikan antara tahun
2015 ke 2016 itu artinya utang yang harus dibayarkan dalam jangka setahun
PT. Astra International Tbk semakin besar.

3. Dari segi persediaan yaitu barang-barang perusahaan yang akan dijual pada
masa periode tertentu, pada tahun 2014 - 2016 persediaan pada PT. Astra
International Tbk terus mengalami kenaikan yang artinya semakin besar pula
aktiva yang dipunyai oleh PT. Astra International Tbk.

4. Pada total kewajiban dan total aset PT. Astra International Tbk sama sama
mengalami kenaikan dari tahun 2014-2016 yang artinya meskipun
mempunyai utang yang meningkat namun PT. Astra International Tbk juga

17
mempunyai aset yaitu aktiva lancar dan aktiva tetap yang terus meningkat
pula artinya antara total kewajiban dan total aset sebanding.

5. Dari segi ekuitas yaitu modal perusahaan dari para pemegang saham
mengalami kenaikan dari tahun 2014 ke 2016 yang artinya modal perusahaan
semakin besar.

6. Dari segi laba kotor dari tahun 2014 sampai tahun 2016 terus mengalami
penurunan, namun penurunan yang signifikan terjadi pada tahun 2014 ke
tahun 2015.

7. Untuk penjualan bersih PT. Astra International Tbk tahun 2014 ke 2015
mengalami penurunan yang sangat drastis hal ini dikarenakan penjualan
produk-produk mengalami penurunan karena ekonomi sedang melemah.

8. Dari segi laba setelah pajak atau laba bersih yang didapat PT. Astra
International Tbk mengalami penurunanyang signifikan pada tahun 2014 ke
2015. Penurunan laba bersih ini dikarenakan sedang lemahnya ekonomi
Indonesia yang berpengaruh pada penjualan produk-produk PT. Astra
International.

2. Analisis Menurut Rasio


A. Analisis Current Ratio
Current ratio merupakan rasio yang sering digunakan dalam
menganalisa laporan keuangan. Current ratio membandingkan antara
aktiva lancar dengan hutang jangka pendek atau kewajiban lancar.
Current ratio digunakan untuk mengetahui kemampuan suatu perusahaan
dalam melunasi utang-utangnya dalam jangka pendek atau tidak lebih
dari setahun kedepan. Adapun hasil perhitungan current ratio pada PT.
Astra International Tbk, yaitu

Current Ratio
2014 2015 2016
Aktiva Lancar 88352 97241 103360
Kewajiban Lancar 71139 73523 73066

18
Current Ratio 1,24 1,32 1,41

Current ratio memberikan gambaran tentang kemampuan


perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya (hutang &
pinjaman) dengan menggunakan aktiva lancar (kas, piutang, persediaan)
yang dimilikinya. Adapun grafik dari current ratio yaitu:

Current Ratio PT. Astra International Tbk


Tahun 2014-2016

1.41
1.45
1.4 1.32
1.35
1.24
1.3
1.25
1.2
1.15
2014 2015 2016

Current Ratio

Gambar 3.3 Diagram perbandingan current ratio

Dari diagram diatas dapat dilihat bahwa pada hasil perhitungan


current ratio PT. Astra International Tbk mengalami kenaikan adri tahun
2014-2016. Pada tahun 2014 setiap Rp. 1 utang lancar dijamin oleh Rp.
1,24 aktiva lancar. Pada tahun 2015 setiap Rp. 1 utang lancar dijamin oleh
Rp. 1,32 aktiva lancar. Pada tahun 2016 setiap Rp. 1 utang lancar dijamin
oleh Rp. 1,41 aktiva lancar. Dengan aktiva lancar yang lebih besar maka
semakin baik pula kemampuan perusahaaan dalam melunasi utang jangka
pendeknya. Dapat dilihat dari tahun 2014 sampai 2016, current ratio PT.
Astra International Tbk lebih dari Rp. 1 atau 100% semua, artinya
perusahaan masih mempunyai kemampuan melunasi hutang lancarnya
dengan aktiva lancar.

19
B. Debt To Total Asset
Debt to total asset adalah analisis yang membandingkan antara
total kewajiban yaitu kewajiban jangka panjang ditambah kewajiban lancar
dengan seluruh aktiva. Adapun hasil perhitungan debt to total asset pada
PT. Astra International Tbk tahun 2014 – 2016 yaitu

Debt to total Asset


2013 2014 2015
Total Kewajiban 107806 115705 117942
Total Aset 213994 236029 244141
Debt to total asset 0,504 0,490 0,483
Dalam persen 50,38 49,02 48,31

Rasio debt to total asset ini menunjukkan berapa bagian dari


seluruh aktiva yang dibelanjai oleh utang. Semakin besar nilai rasio debt
to total asset maka semakin besar pula utang yang dimiliki perusahaan
artinya semakin besar pula kewajiban yang harus dipenuhi kepada pihak
lain. Adapun diagram debt to total asset yaitu:

20
Debt to Total Asset PT. Astra International Tbk
Tahun 2014-2016
50.38
50.5
50 49.02
49.5
49
48.31
48.5
48
47.5
47
2014 2015 2016

Current Ratio
Gambar 3.4 Diagram perbandingan Debt to Total Asset

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa total kewajiban PT.Astra


International Tbk terus mengalami kenaikan dari tahun 2014-2016 yang
artinya semakin besar pula kewajiban yang harus dipenuhi PT.Astra
International Tbk kepada kreditur. Dari segi total aset juga terlihat bahwa
dari tahun 2014-2016 terus mengalami kenaikan. Jika dihitung dalam debt
to total asset maka pada tahun 2014 dari seluruh aktiva perusahaan sebesar
50,38 % dibiayai oleh utang, yang artinya masih setengah dari total aktiva
dibiayai oleh utang. Dari tahun 2014-2016 mengalami penurunan, tahun
2014 menjadi 49,02% kemudian tahun 2016 turun kembali menjadi
48,31%.
Dari seluruh perhitungan debt to total asset PT.Astra International
Tbk tahun 2014-2016 dapat ditarik kesimpulan bahwa keadaan PT.Astra
International Tbk pada rentang tahun tersebut cukup baik. Apabila
PT.Astra International Tbk ingin menambah tingkat solvabilitas
perusahaan maka dapat dilakukan dengan menambah aktiva tanpa
menambah utang atau menambah aktiva relatif lebih besar dari menambah

21
utang atau mengurangi utang tanpa mengurangi aktiva sehingga beban
kewajiban kepada pihak lain dapat lebih kecil.

C. Return On Asset
Return on asset (ROA) menggambarkan kinerja keuangan
perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari aktiva yang digunakan
untuk operasional perusahaan. Adapun hasil perhitungan Return On Asset
PT. Astra International Tbk tahun 2014-2016 sebagai berikut:
Return On Asset
2014 2015 2016
Laba setelah pajak 22297 5710 4808
Total Aset 213994 236029 244141
Return On Asset 0,104 0,024 0,020
Dalam Persen 10,42 2,42 1,97

ROA digunakan untuk mengetahui kinerja perusahaan berdasarkan


kemampuan perusahaan dalam mendayagunakan jumlah aset yang
dimiliki. ROA semakin bertambah menggambarkan kinerja perusahaan
yang semakin baik. Adapun diagram Return On Asset PT. Astra
International Tbk sebagai berikut:

Return On Asset PT. Astra International Tbk


Tahun 2014-2016

10.42
12
10
8
6 2.42 1.97
4
2
0
2014 2015 2016

Dalam Persen

Gambar 3.5 Diagram perbandingan Return On Asset

22
Dari diagram diatas dapat dilihat bahwa keadaan ROA PT. Astra
International Tbk dari tahun 2014-2016 terus mengalami penurunan. Pada
tahun 2014 ROA PT. Astra International Tbk sebesar 10,42% yang artinya
dari total aset yang dimiliki hanya menghasilkan 10,42% laba bersih.
Penurunan laba ROA yang signifikan terjadi dari tahun 2014 ke 2015 hal
ini disebabkan turunnya laba bersih perusahaan yang sangat drastis.
Penurunan laba ini disebabkan karena seiring berkurangnya konsumsi
domestik kompetisi di sektor mobil dan melemahnya harga komoditas di
Indonesia. Penurunan laba ini terjadi di semua segmen anak usaha PT.
Astra International Tbk.
Dari tahun 2014 sampai 2016 ROA terendah terjadi pada tahun
2016 yaitu hanya 1,97 % artinya dari total aset yang dimiliki hanya
menghasilkan laba bersih sebesar 1,97%. Dari tahun 2014-2016 dapat
disimpulkan jika dilihat dari ROA maka kinerja keuangan PT. Astra
International Tbk kurang baik. Untuk lebih meningkatkan nilai ROA maka
PT. Astra International Tbk harus lebih meningkatkan laba bersih dengan
meningkatkan penjualan di semua sektor usaha.

D. Return On Equity
Return on equity (ROE) adalah rasio laba bersih setelah pajak
terhadap modal sendiri yang digunakan untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba bagi pemegang saham perusahaan.
Adapun hasil perhitungan return on equity PT. Astra International Tbk
pada tahun 2014-2016 sebagai berikut:

Return On Equity
2013 2014 2015
Laba setelah pajak 22297 5710 4808
ekuitas pemegang 106188 120324 126199
saham
Return On Equity 0,210 0,047 0,038
Dalam Persen 21,00 4,75 3,81

23
Rasio ini merupakan ukuran profitabilitas dari sudut pandang
pemegang saham. Tetapi pada rasio ini terdapat satu kelemahan, yaitu
tidak memperhitungkan adanya deviden maupun capital gain untuk
pemegang saham. Adapun grafik dari Return On Equity yaitu:

Return On Equity PT. Astra International Tbk


Tahun 2014-2016

21
25

20

15

10
4.75 3.81
5

0
2014 2015 2016

Dalam Persen

Gambar 3.7 Diagram perbandingan Return On Equity


Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa ROE PT. Astra International
Tbk dari tahun 2014-2016 selalu mengalami penurunan yang artinya laba
yang dibagikan kepada pemegang saham juga mengalami penurunan. Pada
tahun 2014 besar ROE yaitu 21% artinya dari seluruh total modal
perusahaan menghasilkan laba bersih 21%. Dari tahun 2014 ke 2015
terjadi penurunan yang sangat drastis yaitu 21% menjadi 4,75% yang
artinya laba bersih yang dihasilkan dari modal hanya kecil. Penyebab
penurunan ROE ini dikarenakan laba bersih setelah pajak pada PT. Astra
International Tbk pada tahun 2014-2016 terus mengalami penurunan. Dari
rentang 2014-2016 ROE terendah terjadi pada tahun 2016 yakni sebesar
3,81 %.
Penurunan ini disebabkan oleh anjloknya pendapatan karena
turunnya penjualan yang disebabkan oleh lemahnya pertumbuhan ekonomi
dan juga sedikitnya jumlah produk baru yang diluncurkan.

24
BAB IV
PENUTUP

IV.1 KESIMPULAN
Laporan keuangan adalah laporan yang berisi informasi keuangan
sebuah organisasi. Laporan keuangan merupakan salah satu alat yang
digunakan oleh perusahaan dalam menggambarkan bagaimana kondisi
keuangan pada periode tertentu. Dalam melihat keadaan PT. Astra
International Tbk, penulis menggunakan rasio likuiditas, profitabilitas dan
solvabilitas. Pada laporan keuangan PT. Astra International Tbk periode
2014-2016 penulis dapat menyimpulkan beberapa hal antara lain:
1. Dari segi rasio likuiditas dengan analisis current ratio, dapat
disimpulkan bahwa PT. Astra International memiliki current ratio
yang fluktuatif namun tetap likuid atau lancar artinya perusahaan
mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya pada saat jatuh tempo
yang artinya aktiva lancar perusahaan lebih besar dari kewajiban
lancarnya.
2. Dari segi rasio solvabilitas dengan analisis debt to total asset, dapat
disimpulkan bahwa PT. Astra International Tbk periode 2014-2016
solvable, artinya perusahaan dapat melunasi semua kewajibanny baik
kewajiban jangka pendek maupun kewajiban jangka panjang.
3. Dari segi rasio profitabilitas yaitu dengan perhitungan Return On
Asset (ROA) dapat disimpulkan bahwa PT. Astra International Tbk
periode 2014-2016 menunjukkan ROA yang terus menurun dengan
penurunan yang signifikan. Artinya dari aset yang digunakan laba

25
yang dihasilkan semakin mengecil. Jika dilihat dari ROA maka kinerja
keuangan PT. Astra International Tbk kurang baik.
4. Dari segi rasio profitabilitas yaitu dengan perhitungan Return On
Equity (ROE) dapat disimpulkan bahwa PT. Astra International Tbk
periode 2014-2016 menunjukkan ROE yang terus menurun artinya
laba bersih yang didapat perusahaan semakin kecil yang artinya
keadaan perusahaan menurun. Penurunan laba ini disebabkan karena
seiring berkurangnya konsumsi domestik kompetisi di sektor mobil
dan melemahnya harga komoditas di Indonesia. Penurunan laba ini
terjadi di semua segmen anak usaha PT. Astra International Tbk.
5. Dilihat dari keempat analisis yang digunakan oleh penulis maka dapat
ditarik kesimpulan secara umum bahwa PT. Astra International Tbk
periode 2014-2016 menunjukkan keadaan perusahaan yang likuid,
solvable namun kurang profit.

IV.2 SARAN
Berdasarkan analisis dan kesimpulan yang telah dikemukakan,
selanjutnya penulis akan mengemukakan pokok-pokok pikiran yang
sekiranya dapat menjadi masukan bagi PT. Astra International Tbk,
adapun sarannya antara lain:
1. Analisis likuiditas dengan current ratio menunjukkan PT. Astra
International Tbk mampu melunasi utang-utang jangka pendeknya.
Untuk memperbesar current ratio, perusahaan dapat memperbesar
aktiva lancarnya dengan cara menambah aktiva lancar perusahaan
seperti menjaga posisi kas, memperbesar penjualan kredit, menjaga
posisi persediaan dan mengurangi hutang dagang atau hutang lancar
perusahaan dengan cara membeli persediaan bahan baku tunai tidak
dengan pembelian kredit.
2. Dari segi rasio profitabilitas, baik ROA maupun ROE PT. Astra
International memiliki laba yang terus menurun, untuk meningkatkan
laba perusahaan maka dapat dilakukan efisiensi dalam hal operasional,

26
menawarkan produk yang berkualitas dan kompetitif serta mampu
melihat peluang pasar untuk meningkatkan penjualan.
3. Untuk meningkatkan revenue, perusahaan juga harus memperhatikan
struktur keuangan dan juga memperhatikan faktor-faktor eksternal
seperti tingkat inflasi, pergerakan mata uang yang mungkin akan
mempengaruhi kinerja perusahaan.s

DAFTAR PUSTAKA

www.astra.co.id Diakses pada tanggal 5 Juli 2018

27
28