Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Praktek Kerja Lapangan (PKL) merupakan salah satu bagian dari program
pendidikan Sistem Ganda yang dilaksanakan untuk mendapatkan pengalaman
kerja nyata di Perusahaan. Program ini merupakan perwujudan dari kebijakan
“link and match” antara pendidikan di kampus dan tuntunan kebutuhan
industri. Program pendidikan sistem ganda sangat dibutuhkan dalam
penguasaan kompetensi dan pembentukan sikap potensi mahasiswa seperti
tercermin dalam tujuan pendidikan dan pelatihan di kampus terutama
bertujuan untuk membekalkan peserta diklat mengembangkan kepribadian,
potensi akademik, dan dasar-dasar keahlian yang kuat dan benar melalui
pembelajaran program normatif, adaftif, dan produktif.
Menurut undang-undang nomor 2 / 1989 tentang sistem pendidikan
nasional dan peraturan pemerintah nomor 29 tahun 1990 tentang pendidikan
menengah dan peraturan pemerintah nomor 39 tahun 1992 tentang peranan
masyarakat dalam pendidikan nasional. Berikut merupakan dasar hukum :
1. GBHN tahun 1993;
2. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional : Bab IV Pasal 10(1);
3. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional : Bab VIII Pasal 33;
4. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional : Bab XII Pasal 47(1);
5. Peraturan Pemerintah No.29 Bab XI Pasal 29(1) & Bab XIII Pasal 32(2);
6. Peraturan Pemerintah No.39 Bab III Pasal 4(8) & Bab VI Pasal 10;
7. Kep. Mendikbud No. 0490/U/1992, Pasal 33;
8. Kep. Mendikbud No. 080/U/1993.

1.2 Tujuan Praktek Kerja Lapangan(PKL)


Dalam melakukan praktik kerja lapangan (PKL) pendidikan dan pelatihan di
dunia kerja oleh Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura Pontianak memiliki
tujuan agar mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan proses pelaksanaan
suatu kegiatan proyek atau industri konstruksi sehingga memiliki wawasan

1
dan pengetahuan yang luas sehingga dapat mempersiapkan diri dalam mengisi
kebutuhan pada dunia kerja. Dan juga memiliki tujuan khusus :
1. Meningkatkan potensi mahasiswa dalam dunia kerja industri.
2. Memberikan pengalaman kerja yang sesungguhnya agar peserta
menguasai kopetensi keahlian produktif yang standar.
3. Sebagai latihan untuk membiasakan diri membuat tulisan berupa laporan
akhir pelaksanaan praktek kerja industri.
4. Menginternalisasi sikap nilai dan budaya industri yang berorientasi kepada
standar mutu, nilai-nilai ekonomi dan jiwa kewirausahaan, serta
membentuk etos kerja yang produktif dan kompetitif.

1.3 Manfaat Praktek Kerja Lapangan (PKL)


Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan oleh Fakultas Teknik
UNTAN Pontianak adalah dapat memberi manfaat sebagai berikut:
1. Bagi mahasiswa, dapat mempraktekan ilmu didunia kerja yang diberikan
di kampus dengan benar sehingga tujuan dari sistem ganda dapat
terrealisasi dengan baik.
2. Bagi dunia kerja, dapat memberikan secara tidak langsung bantuan tenaga
dalam pekerjaan yang ada dunia kerja.
3. Bagi UNTAN dapat mempromosikan dan memperkenalkan UNTAN
Pontianak kedunia kerja atau dunia Perindustrian di masyarakat luas
bahwa di Universitas Tanjungpura Pontianak memiliki mahasiswa yang
memiliki etos kerja yang bisa diperhitungkan dan memiliki harga jual di
dunia kerja.
4. Selain itu membentuk mental dan motivasi mahasiswa Universitas
Tanjungpura sebagai tenaga kerja yang siap serta mampu mandiri serta
berjiwa pekerja keras, jujur , bertanggung jawab serta ulet dalam bekerja.

2
BAB II
Uraian Singkat Pabrik

2.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan


PT. Indofood Sukses Makmur Tbk merupakan salah satu industri terkemuka
di Indonesia yang bergerak di bidang makanan olahan. PT.Indofood Sukses
Makmur Tbk memiliki 15 cabang perusahaan yang terbesar diseluruh
Indonesia, yaitu di Medan, Riau, Jakarta, Palembang, Tangerang, Cibinong,
Purwakarta, Padalarang, Semarang, Surabaya, Pasuruan, Ujung Pandang,
Banjarmasin, Manado dan Pontianak. Cabang PT.Indofood Sukses Makmur
TbkPontianak didirikan pada tahun 1996 dijalan Raya Wajok Hulu,
Kecamatan Siantan, Kabupaten Pontianak diatas lahan seluas 37.100 m2 . Mie
instan yang diproduksi PT.Indofood berasal dari jepang. Pada waktu itu pula,
ada beberapa orang jepang yang membuat mie pertama kalinya. mie instan
pertama kalinya di kenalkan oleh orang jepang yang bernama Monokukudo.
Mie instan pertama kalinya di bawa ke indonesia sekitar tahun 1970-an. Mie
pertama di kenal adalah mie rasa kaldu ayam.
(Sumber : PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, 2016)

2.2 Visi dan Misi Perusahaan


Visi PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk adalah “Menjadi perusahaan
yang dapat memenuhi kebutuhan pangan dengan produk bermutu, berkualitas,
aman untuk dikonsumsi dan menjadi pemimpin di Industri makanan”. Adapun
misi yang dijalankan untuk mencapai visi tersebut adalah :
1. Meningkatkan kompetensi karyawan, proses produksi dan teknologi.
2. Menyediakan produk yang berkualitas tinggi dan inovatif dengan harga
terjangkau yang merupakan pilihan pelanggan.
3. Memastikan ketersediaan produk bagi pelanggan domestik maupun
internasional.
4. Memberikan Stakeholder’s value secara berkesinambungan.

3
2.3 Perluasan Perusahaan
PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk adalah perusahaan yang
memproduksi berbagai jenis makanan. Awalnya perusahaan yang bernama
PT. Panganjaya Intikusuma. Kemudian diubah menjadi Indofood Sukses
Makmur. Indofood terus melakukan perluasan usaha dengan mengakuisisi 80
persen saham perusahaan, agribisnis dan distribusi. Di tahun 2005 perusahaan
membentuk perusahaan patungan dengan Nestle, mengakuisisi perusahaan
perkebunan di Kalimantan Barat, dan mengakuisisi PT. Supermi Indonesia
dan PT. Sarimi Asli Jaya. Indofood mempunyai visi menjadi solusi makanan
seluruh perusahaan. Agar tetap sukses, perusahaan ini memegang nilai
disiplin. Perusahaan menjalankan bisnis dengan integritas, memperlakukan
stakeholder dengan hormat dan bersatu untuk berjuang menjadi unggul dengan
inovasi yang berkelanjutan. Produk Indofood terkenal dan sangat digemari
oleh seluruh masyarakat Indonesia dan dunia. Salah satu produk unggulan
adalah mie instan yang bernama indomie.

2.4 Lokasi terkini dan kondisi industri Perusahaan

Gambar 1
Denah Lokasi dan Kondisi terkini daerah sekitar
PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk

4
PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk cabang Pontianak secara geografis
terletak pada 00’’01 ‘ 19,9” Lintang Utara 109015”33” Bujur Timur. Secara
administratif perusahaan ini terletak pada Jalan Wajok Hulu Km. 10,7 Desa
Wajok Hulu Kecamatan Siantan Kabupaten Pontianak Provinsi Kalimantan Barat.
Lokasi usaha memilki jarak sejauh 6 km dengan pusat kecamatan, 56 km dari ibu
kota kabupaten, 9 km dari ibu kota provinsi, 0,5 km dari pemukiman penduduk,
dan fasilitas umum seperti rumah sakit 13 km, sekolah 1 km, pasar 7 km, serta
tempat ibadah mesjid 1 km. Batas batas lokasi usaha adalah sebagai berikut :
Utara : Jalan Wajok Hulu
Selatan : Sungai Kapuas
Barat : Kebun Campuran
Timur : Pabrik perakitan sepeda motor
(Sumber : PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, 2016)

2.5 Peraturan-Peraturan Kerja terkait


1. Hari kerja dan waktu kerja pegawai berbeda dengan lainnya sesuai dengan
fungsi atau jabatan pegawai tersebut, namun tidak melebihi 7 jam sehari dan 40
jam seminggu seminggu atau 8 jam sehari dan 40 jam seminggu.
2. Penentuan mengenai hari kerja dan jam kerja seorang pegawai akan diatur oleh
perusahaan dan dapat diubah oleh perusahaan dan dapat diubah oleh perusahaan
selama perubahan tersebut tidak bertentangan dengan ketentuan ayat (1) pasal 1.
3. Setiap kelebihan dari hari kerja sesuai dengan ketentuan ayat (1) pasal 1 harus
dianggap sebagai kerja lembur.
4. Dengan memperhatikan perundang-undangan yang berlaku, maka hari kerja
dan jam kerja di PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk :
Hari Kerja : Senin s/d Sabtu
Jam kerja shift :
a. Shift I : 05.00-14.00 WIB
b. Shift II : 14.00-21.00 WIB
c. Shift III : 21.00-05.00 WIB
(Sumber : PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, 2016)

5
2.6 Keselamatan dan Kesehatan Kerja
PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk menerapkan Sistem Keselamatan dan
Kesehatan Kerja yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, organisasi dan
pengambilan keputusan. Komitmen penerapan SMK3 dituangkan dalam Internal
Memorandum yang selalu di review setiap 1 tahun sekali namun juga tergantung
dari relevan tidaknya dengan kondisi saat ini, jika ada perubahan akan diadakan
sidang sewaktu-waktu.

1. Kebijakan terhadap K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)


PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk menyediakan kondisi kerja yang aman
dan nyaman bagi seluruh karyawan yang bekerja, menjamin standar keselamatan
kerja yang tinggi, dan terus berupaya mengurangi tingkat kecelakaan kerja. Selain
itu kebijakan K3 yang dilaksanakan PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk yaitu
dengan memasang tulisan beisi Undang-Undang No.1 tahun 1970 Tentang
Keselamtan kerja di Kantor P2K3.

2. Program K3 yang diterapkan di Lingkungan PT. Indofood CBP Sukses


Makmur Tbk adalah :
a. Training K3
Rutin dilakukan 1 tahun sekali atau setiap ada kesempatan dan kebutuhan untuk
training K3.
b. Penyuluhan K3
Melalui safety talk yang dilaksanakan setiap hari secara rutin sebelum karyawan
memulai pekerjaannya.
c. Kampanye K3
Secara visual melalui poster-poster K3, spanduk K3 dan bendera K3 yang
dipasang diarea perusahaan.
d. Pemasangan warning sign dan safety sign
Pemasangan dilakukan di area atau lokasi tertentu yang berotensi menimbulkan
bahaya.

6
3. Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja
a. Pengaman Mesin
Pemasangan pengaman mesin di PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk telah
ada sejak pembelian mesin dengan kata lain mesin-mesin di PT. Indofood CBP
Sukses Makmur Tbk telah mempunyai pengaman, sehingga dapat dirasakan
manfaatnya oleh tenaga kerja dalam hal kenyamanan kerja serta pencegahan
terhadap kecelakaan kerja. Sehingga kerugian akibat kecelakaan seperti;
hilangnya hari kerja dan kerugian materi bagi perusahaan dapat dihindarkan.

b. Penanggulangan Kebakaran
PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk potensi terhadap timbulnya kebakaran
cukup tinggi, maka kewaspadaan terhadap potensi bahaya kebakaran merupakan
prioritas utama. Penanggulangan kebakaran dilakukan dengan pemasangan alat
pemadam kebakaran yakni hydrant (pilar dan valve) dan Alat Pemadam Api
Ringan (APAR). Hydrant valve dipasang didalam gedung sedangkan hydrant pilar
serta siames connection berada dihalaman. Alat pemadam kebakaran jenis APAR
diletakkan dititik rawan kebakaran, dengan tinggi pemasangan maksimal 120 cm
dan jarak terendah 15 cm dari permukaan tanah. Hal ini agar tabung APAR tidak
mudah korosi. Jenis-jenis APAR yang dipergunakan sebagai pemadam bahannya
berupa dry chemical, CO2, BCF, AF 11 dan HFC 227.

4. Alat Pelindung Diri


Dalam penyediaan APD departemen GAS bertugas dalan pembeliannya,
penggantian APD dilakukan dalam 1 Tahun sekali atau saat APD sudah tidak
berfungsi lagi (rusak).
(Sumber : PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, 2016)

PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk menyediakan berbagai macam


fasilitas pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk memenuhi dan meningkatkan
kesehatan tenaga kerja. Bentuk fasilitas pelayanan kesehatan tersebut antara lain :
Poliklinik yang memberikan pelayanan kesehatan kepada tenaga kerja selama 24
jam. Poliklinik berfungsi untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada pekerja

7
untuk mengalami kecelakaan kerja, pemeriksaan tenaga kerja, serta memberikan
pelayanan obat-obatan bagi tenaga kerja yang sakit, baik yang disebabkan oleh
penyakit umum maupun penyakit akibat kerja. Pelayanan kesehatan yang
diberikan oleh poliklinik PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk sudah cukup
baik dari segi pengobatan dan pelayanannya, namun untuk keadaan darurat masih
kurang karena belum disediakannya mobil ambulans perusahaan yang dapat
digunakan sewaktu-waktu dalam keadaan darurat.

8
BAB III
PROSES PRODUKSI PABRIK

3.1. Materi Yang Diamati


3.1.1 Mesin Mixer
Mixer merupakan salah satu alat pencampur dalam sistem emulsi sehingga
menghasilkan suatu dispersi yang seragam atau homogen dan memiliki
penyebaran yang sempurna. Prinsip pencampuran didasarkan pada peningkatan
pengacakan dan distribusi dua atau lebih komponen yang mempunyai sifat yang
berbeda. Pencampuran dapat dikarakterisasi dari waktu yang dibutuhkan, keadaan
produk atau bahkan jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk melakukan
pencampuran.
Berdasarkan sifat dari bahannya pencampuran bahan dapat dibedakan atas
pemcampuran bahan cair, bahan viskos, dan pencampuran bahan padat.
Pencampuran bahan padat seperti tepung memiliki karakteristik yang hampir sama
dengan bahan cair yaitu memenuhi ruang, ada aliran bahan ke pengaduk, tidak
memerlukan gaya gunting yang besar dan tenaga yang diperlukan relatif kecil.
Tetapi pada bahan yang padat aliran bahan ke pengaduk bukan karena sendirinya
tetapi ada gaya yang diberikan oleh pengaduk tersebut. Pencampuran bahan padat
berguna untuk mencampur bahan yang meiliki sifat berbeda dan dapat diproses
pada saat yang bersamaan, hal ini juga dilakukan untuk merubah fisik dari bahan
tepung tersebut, dan juga merubah karakteristik bahan tersebut baik dari rasa dan
baunya. (Sumber : PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, 2016)

Gambar 2. Mesin Mixer

9
3.1.2 Mesin Rool Press
Mesin Press Roller merupakan salah satu bagian dari mesin produksi mi.
Mesin ini digunakan pada proses Pressing dan slitting. Pressing merupakan
proses dimana adonan di bentuk menjadi lembaran-lembaran mi melalui beberapa
rool sheet sampai tercapai ketebalan tertentu. Sedangkan slitting merupakan
proses pembentukan lembaran adonan menjadi untaian-untaian mi bergelombang.
Tujuan pressing adalah membentuk struktur gluten dengan arah yang sama secara
merata sehingga lembaran adonan menjadi lembut dan elastis atau sering disebut
dengan proses pembentukan tekstur mi.

Gambar 2. Mesin Rool Press

Klasifikasi Mixer
a) Damper adalah alat yang berfungsi sebagai pintu untuk menurunkan adonan
tepung yang sudah homogen menuju ke bak fedder untuk melakukan proses
pressing.
b) Hopper adalah komponen yang digunakan untuk pemisah dan penyortiran pada
tepung atau sebagai pengayak tepung agar hanya tepung yang halus dan bersih
saja yang akan masuk ke dalam mesin mixer.
c) Cinveyor adalah suatu sistem yang berfungsi untuk meminndahkan atau
menyedot tepung dari hopper yang langsung menuju ke mixer.
d) Valve adalah sebuah perangkat yang mengatur, mengarahkan atau mengontrol
aliran air alkali dari tangki induk menuju ke wighing tank.
e) Weighing Tank adalah sebuah alat untuk menampung air alkali yang di suplai
dari tangki induk alkali.

10
f) Blade Mixer adalah alat sejenis baling-baling yang berfungsi untuk mencampur
adonan dan bumbu- bumbu agar tercampur rata atau homogen.

Cara Mengoperasikan Mixer


Dengan asumsi telah tersedianya :
a) bahan baku utama
b) air larutan alkali
c) suplai listrik
1. Naikkan semua no fuse breaker (NFB) maka lampu power panel menyala.
Tekan tombol ON start preperation, kemudian dumper akan menutup dan
setelah 2 detik lock bekerja
2. Isi tepung terigu ke dalam mesin hopper sebanyak 10 zak. Tekan tombol ON
start untuk melakukan proses pegayakan pada mesin hopper, tekan tombol
push button ON screw conveyor untuk menyedot terigu dari hopper dan tekan
tombol OFF screw conveyor terigu sudah habis, kemudian:
a) Putar selector switch discharge ke posisi ON
b) Putar selector switch scale up ke posisi ON
c) Putar selector switch mixer ke posisi auto
3. Tekan push button 4 ( pada gambar), maka motor pada mixer akan bekerja,
dalam waktu bersamaan T1(timer 1) bekerja untuk menentukan mixing time
selama kurang lebih 15 menit
4. T11 (Timer 11) juga akan bekerja selama 2 menit untuk menghidupkan gear
pump guna mengisi air larutan alkali ke weighing tank sampai mengenai
electrode water level switch dibagian atas
5. Kemudian setelah air alkali mengenai electrode water level, T11 akan off dan
dilanjutkan oleh T12 bekerja selama 4 menit untuk memerintahkan air alkali
turun ke mixer melalui pinch valve.
6. Setelah T1 telah mencapai 15 menit, maka adonan siap diturunkan dan melalui
T2 maka T1 akana off, dan 0,2 detik kemudian T4 akan bekerja dan melepas
kunci dumper.
7. Stelah kunci dumper melepaskemudian T4 off dan dilanjutkan dengan T5 yang
akan bekerja selama 2 detik untuk membuka dumper mixer.

11
8. Setelah dumper terbuka maka T5 akan off dan dilanjutkanoleh T2 ON selama
10 detik untuk memerintahkan dumper menutup kembali.
9. Setelah dumper menutup maka T2 off dan dilanjutkan oleh T3 ON selama 1
detik untuk memerintahkan kunci bekerja.

Hal-hal yang harus di perhatikan pada mixer


1. Arah putaran blade tidak terbalik ( lihat gambar)
2. Operator mixer dilarang meninggalkan adonan dalam mixer lebih dari 5 menit
3. Cara-cara menjalankan mixer sewaktu tiba-tiba listriknya mati sedangkan
adonan masih dalam proses mixing; maka setelah listrik hidup kembali, agar
dapat dilakukan start dan stop sedikit demi sedikit sampai dengan putaran
blade terlihat ringan. Jangan sekali-kali menghidupkan blade mixer sekaligus
karen akan dapat mengakibatkan pada blade mixer menjadi bengkokbahkan
ada yang patah.
4. Seandainya terjadi kelebihan terigu pada mixer yang dikarenakan operator
lupa memindahkan selang flexible pada output screw conveyor, dan langsung
ditambahkan air larutan alkali, perlakuan ini tidak benar. Jangan sekali-kali
dipaksakan mixer diberi beban yang berlebihan karena akan berdampak ke
mekanisme di transmisi mixer dapat rusak dan motor akan over load.

BLADE
MOTOR GEAR BOX

COPLING BODY
TIMMING PULEY

Gambar 3. Blade Mixer dan Mesin Mixer tampak atas

Cara Setting Blade


Seandainya habis melakukan over hold (penggantian blade yang patah
dengan yang baru) dan sebelum menyambung pada chain coupling, maka yang
harus di perhatikan dan sebagai patokan adalah:

12
Sudut 90° antara salah satu blade dengan blade yang disebelahnya, karena jika
pemasangan chain coupling semarangan tidak berpatokan pada keterangan atau
petunjuk diatas maka akan dapat terjadi tamrakan diantara kedua blade.
Blade di bagian ujung mixer posisinya harus diperhatikan yaitu sisi tajam
harus searah putaran mixer.

90o

Gambar 4. Cara Setting Blade Mixer

Cara setting air cylinder lock mixer


Cara setting ini sangat penting karena setting yang tidak tepat akan berdampak ke
terigu tumpah keluar sebelum waktunya. Apabila tekanan angin yang kurang
dengan tiba-tiba.

Berikut ini cara setting air cylinder lock (lihat gambar).

Gambar 5. Cara setting air sylinder lock

13
Dengan memberikan udara bertekanan pada satu sisi permukaan piston,
sisi yang lain terbuka ke atmosfir. Silinder hanya bisa memberikan gaya kerja ke
satu arah. Gerakan piston kembali masuk diberikan oleh gaya pegas yang ada
didalam silinder direncanakan hanya untuk mengembalikan silinder pada posisi
awal dengan alasan agar kecepatan kembali tinggi pada kondisi tanpa beban.
(Sumber : PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, 2016)
Komponen Yang Ada Pada Mixer
Motor penggerak mixer = 7,5 kw
Isi gear box :
- Gigi nylon warna biru muda = M6 x 55 z MC nylon
- Gigi besi = M6 x 55 z
- Gigi spur gear kecil = M6 x 15 z
- Timming pulley motor = M18 x 14 z
- Timming pulley gear box = M18 x 84 z
- Timming belt = 570 II
- Bearing AS NO = UC 310
- Untuk dumper = type = SD 1008 200 A.B
- Untuk lock atau kunci = 4 buah
- Jumlah baling-baling = 8 buah type = CDO.2 B 40 merk SMC
- Rpm baling-baling = 68 buah
- Penyetelan baling-baling = 90°
- Bearing = 6310 / 6309 z
(Sumber : PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, 2016)

Gangguan-gangguan Pada Mixer


Gangguan- gangguan yang terjadi pada mesin mixer adalah:
 Overload pada motor conveyor. Overload terjadi dikarenakan adanya beban
lebih dan karena tepung yang basah pada saat conveyor menyedot tepung atau
pada saat menyedot tepung spiral pada conveyor bengkok membuat motor
tidak berputar.
 Over Load pada mixer disebabkan mixer terlalu diberikan beban yang
berlebihan karena akan berdampak ke mekanisme di transmisi mixer.

14
 Conveyor yang bengkok disebabkan pada saat menyedot tepung ke mixer,
conveyor menyedot tepung yang basah dan sudah menjadi keras.
 Blade mixer bengkok atau patah yang diakibatkan karena saat listrik padam
dan kemudian hidup kembali, blade mixer di nyalakan secara sekaligus.
Cara Mengatasinya :
 Untuk motor yang rusak dibawa keluar pabrik untuk di sevice di tempat lain,
agar mesin mixer tetap bekerja motor diganti dengan yang baru, dikarenakan
keterbatasan alat untuk menggulung kawat elmail.
 Dengan memperbaiki spiral conveyor di ruang workshop dengan alat dan
bahan yang sudah tersedia. Agar conveyor tidak terjadi masalah tersebut,
oparator harus mengecek keseluruhan bagian mesin sebelum proses mixing
dilakukan.
 Agar blade mixer tidak bengkok atau patah, mixer harus dilakukakn proses
start dan stop sedikit demi sedikit, sampai dengan putaran blade terlihat
ringan. (Sumber : PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, 2016)

3.2. Gambar Umum Proses Produksi


Proses pembuatan mie instan terdiri dari delapan tahap, yaitu mixing
(pencampuran), pressing (pengepresan), slitting (pembentukan untaian), steaming
(pengukusan), cutting and folder (pemotongan dan pencetakan), frying
(penggorengan), cooling (pendinginan) dan packing (pengemasan). Proses yang
terjadi pada setiap tahap adalah :
 Mixing atau Pencampuran
Proses mixing adalah proses pencampuran dan pengadukan material-
material yang terdiri dari material tepung dan air alkali (campuran antara air dan
beberapa ingredient yang ditentukan) sehingga diperoleh adonan yang merata atau
homogen. Mutu adonan yang baik adalah yang tidak lembek dan tidak perau atau
dengan kata lain memiliki kadar air sebesar 32% sampai dengan 34%. Proses
pencampuran ini berlangsung kurang lebih selama 15 menit dengan suhu 35 C.

15
Gambar 6. Proses Mixing

 Pressing atau Pengepresan


Selain adonan menjadi homogen, campuran tersebut masuk ke dalam
mesin pengepres adonan. Di dalam mesin pengepres, adonan melalui beberapa
roll press. Adonan akan mengalami peregangan pada saat dipress dan terjadi
relaksasi pada saat keluar dari roll press. Hal ini terjadi beberapa kali pada saat
melalui roll press sehingga terbentuk lembaran yang lembut, homogen, elastik,
dan tidak terputus dengan ketebalan tertentu. Tebal lembaran yang dihasilkan
bergantung dengan jenis mesin yang digunakan. Rataan tebal lembaran yang
dihasilkan adalah 1,12 – 1,18 mm.

Gambar 7. Proses Pressing

16
 Slitting atau Pembentukan Untaian
Suatu proses pemotongan lembaran adonan menjadi untaian mie dan
kemudian siap dibentuk gelombang mie. Selanjutnya untaian mie tersebut
dilewatkan ke dalam suatu laluan berbentuk segi empat yang disebut waving net,
sehingga terbentuk gelombang mie yang merata dan terbagi dalam beberapa jalur.

Gambar 8. Proses Slitting

 Steaming atau Pengukusan


Proses selanjutnya adalah proses pegukusan untaian mie yang keluar dari
slitter secara kontinu dengan menggunakan steam box atau mesin yang memiliki
tekanan uap yang cukup tinggi dengan suhu tertentu. Proses pengukusan akan
berlangsung selama dua menit dengan suhu pemanasan ± 65°C. Tujuannya adalah
memasak mie mentah menjadi mie dengan sifat fisik padat. Dalam proses
steaming ini akan terjadi proses gelatinisasi pati dan koagulasi gluten, yang
menyebabkan gelombang mie bersifat tetap dan memiliki tekstur lembut, lunak,
elastis, dan terlindungi dari penyerapan minyak yang terlalu banyak pada proses
penggorengan atau frying.

Gambar 9. Steaming

17
 Cutting and Folder atau Pemotongan dan Pencetakan
Pemotongan dan pencetakan adalah suatu proses memotong lajur mie pada
ukuran tertentu dan melipat menjadi dua bagian sama panjang, kemudian
mendistribusikannya ke mangkok penggorengan. Mie dipotong dengan
menggunakan alat berupa pisau yang berputar.

Gambar 10. Cutting and Folder

 Frying atau Penggorengan


Proses penggorengan adalah suatu proses merapikan mie didalam
mangkok pengorengan, kemudian merendamnya di dalam media penghantar
panas. Dalam hal ini minyak olein atau minyak goreng pada suhu tertentu dalam
waktu tertentu. Tujuan dari proses penggorengan adalah untuk mengurangi kadar
air dalam mie dan pemantapan pati tergelatinisasi. Kadar air setelah penggorengan
adalah 4% sehingga mie menjadi matang, kaku dan awet.

Gambar 11. Frying

18
 Cooling atau Pendinginan
Ruangan pendingin mie adalah ruangan atau lorong yang terdiri dari
sejumlah kipas untuk menghembuskan udara segar ke mie-mie yang dilewatkan
dalam ruangan tersebut. Tujuan proses pendinginan adalah untuk mendinginkan
mie panas yang keluar dari proses penggorengan hingga diperoleh suhu ± 30°C
sebelum dikemas dengan etiket. Dengan diperolehnya suhu mie yang rendah
sebelum dikemas maka mie akan lebih awet untuk disimpan dalam etiket selama
beberapa waktu dan menghindari penguapan air yang kemudian menempel pada
permukaan bagian dalam etiket yang dapat menyebabkan timbulnya jamur.
Lamanya proses pendinginan adalah kurang lebih dua menit.

Gamber 12. Cooling


(Sumber : PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, 2016)

Secara Sistematis alur proses produksi mie instan dapat dilihat pada diagram
berikut.

Gambar 12. Diagram Alur Produksi Mie Instan

19
Sumber daya yang terlibat dalam proses produksi pembuatan mie instan ini tidak
terlalu membutuhkan sumber daya manusia yang terlalu banyak karena
pengerjaan produksi dilakukan oleh teknologi mesin sehingga SDM yang
dibutuhkan pada proses produksi sebatas pengawas jalannya produksi.
Karakteristik perusahaan dalam melakukan kegiatan produksi yang dimiliki PT
Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. yakni bersifat mass production, yaitu jenis
barang yang diproduksi relatif sedikit tetapi dengan volume produksi yang besar,
permintaan produk tetap/stabil demikian juga desain produk jarang sekali berubah
bentuk dalam jangka waktu pendek atau menengah.
(Sumber : PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, 2016)

3.3. Utilitas
3.3.1 SKALA USAHA DAN KEGIATAN :
1. Peruntukan Lahan
PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Pontianak menempati lahan seluas
37.100 m2. Terdapat perubahan rincian luas lahan yang disebabkan adanya
penambahan area gudang FG. Area ruang terbuka hijau berkurang sebesar 4.83%.
dengan demikian area ruang terbuka hijau yang tersisa menjadi 30,17%.
 Luas lahan yang tertutup bangunan
Bangunan pabrik terdiri dari areal proses, gedung perkantoran, fasilitas
penunjang seperti gudang, workshop dan lain-lain. Adapun luas lahan yang
tertutup bangunan adalah seluas 29.917,5 m2 atau setara dengan 67,16% dari
luas lahan keseluruhan.
 Luas lahan uang tidak tertutup bangunan
Lahan yang tidak tertutup bangunan terdiri atas areal yang dipergunakan untuk
keperluan penghijauan dengan luas 11.192 m2 atau sebesar 30,17% dari luas
lahan secara keseluruhan.
 Lahan percadangan
Luas lahan percadangan yang akan dipergunakan untuk areal pengembangan
pabrik adalah seluar 990 m2 atau sebesar 2,67% dari luas lahan secara
keseluruhan.
(Sumber : PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, 2016)

20
2. Status Lahan
Status lahan yang digunakan untuk kegiatan Industri Mie Instant PT. Indofood
CBP Sukses Makmur Tbk Pontianak merupakan lahan HGB (Hak Guna
Bangunan) dengan sertifikat No. 124 dan bukti kepemilikan tanah terlampir.

3. Kegiatan Industri
a. Produksi PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Pontianak memproduksi
berbagai jenis mie instant dengan kemasan bungkus dan cup yang dihitung dalam
satuan pcs. Kapasitas produksi terpasang berdasarkan izin perluasan dari Menteri
Negara./Kepala Badan Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN
No.207/I/IP/P/PMDN/2014 adalah sebesar 629.032.000 pcs/tahun dengan bahan
baku utama : tepung terigu, bahan baku tambahan : minyak goreng, bumbu, garam
dan air serta bahan baku penolong etiket, karton, foam cup dan garpu.
 Penambahan kapasitas produksi dilakukan pada mesin line 5. Dimana
kapasitas mesin tersebut berubah 20.640 pcs/jam menjadi 43.200 pcs/jam.
Kegiatan di atas dilaksanakan oleh PT. DELTA BAJA LESTARI mulai dari
bulan Juni – November 2015 dengan memperkerjakan sebanyak 25 orang
yang terdiri dari 18 orang pekerja dari luar Kalbar dan 7 orang pekerja yang
merupakan masyarakat sekitar area pabrik. Dampak penambahan kapasitas
tersebut adalah area ruang terbuka hijau berkurang dari 35% menjadi 30.17%.
Perincian pengerjaan penambahan area guna penambahan kapasitas produksi :
1. Penambahan gudang karton lantai 2
2. Penambahan gudang FG (area bongkar muat dijadikan area gudang FG)
3. Pembuatan area bongkat muat FG baru sebesar 12 meter (area jalan dijadikan
area bongkar muat FG baru)
4. Penambahan jalan baru dengan mengambil area taman sebesr 6x18 meter
5. Penambahan taman baru dengna mengambil area parkir mobil staff sebesar
2x50 meter.

 Penggantian fungsi mesin line 4 dari normal noodle ke dry noodle sehingga
terjadi perubahan kapasitas dari 18.000 pcs/jam menjadi 11.520 pcs/jam.
Secara keseluruhan proses pembuatan mie tersebut sama. Perbedaannya hanya

21
terletak pada metoda penggorengan/pengeringan. Dimana pada normal noodle
mie digoreng/dikeringkan menggunakan minyak goreng sedangkan pada dry
noodle mie digoreng/dikeringkan dengan menggunakan udara panas.
(Sumber : PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, 2016)

b. Penggunaan Energi
Sumber energi yang digunakan untuk kegiatan industri mie instan PT. Indofood
CBP Sukses Makmur Tbk Pontianak terdiri atas empat macam, yaitu :
1. Sumber Daya Energi Listrik
2. Batubara
3. Cangkang Sawit
Penggunaan batubara dan cangkang sawit berguna sebagai bahan bakar
boiler. Dimana, hasil pemanasan boiler tersebut menghasilkan uap air panas, yang
selanjutnya akan dialirkan menggunakan pipa menuju ruang steaming dan
dimanfaatkan untuk mengkukus bahan mie. Seiring dengan penambahan kapasitas
produksi jumlah batubara dan cangkang yang dipakai meningkat sehingga limbah
yang dihasilkan juga meningkat. Untuk itu, PT. Indofood CBP Sukses Makmur
Tbk Pontianak melakukan susbtitusi pemakaian batubara ke cangkang dengan
tujuan mengurangi pemakaian batubara yang akan berdampak pengurangan
jumlah limbah B3 batubara.
(Sumber : PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, 2016)

Tabel 1 Spesifikasi Batubara Tahun 2016


Parameter Nilai Ket
Gross Calorific Value (ARB) Min 58000 kcal/kg
Ash Content (ADB) Maks 12%
Total Sulfur (ADB) Maks 1%
Volatile Matter (ADB) Min 30%
Ukuran 20-50 mm (20%), >50 mm (80%)
Sumber : PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, 2016

22
Tabel 2 Penggunaan Bulanan Cangkang Sawit dan Batubara Tahun 2015
Bulan Pemakaian Pemakaian % cangkang % batubara
Cangkang Batubara (kg) sawit
Sawit (kg)
Januari 311,850 240,625 56.44 43.55
Februari 348,090 154,943 69.19 30.80
Maret 336,405 149,741 69.29 30.80
April 332,785 166,714 66.62 33.37
Mei 275,520 122,640 69.19 30.80
Juni 329,640 146,730 69.19 30.80
Juli 392,554 177,664 68.84 31.15
Agustus 366,364 177,116 67.41 32.58
September 338,429 171,641 66.34 33.65
Oktober 371,835 251,303 59.67 40.32
November 317,666 153,574 67.41 32.58
Desember 314,843 207,229 60.30 39.69
Total 4,035,980 2,119,119 65.56 34.43
(Sumber : PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, 2016)

Tabel 3 Penggunaan Energi Listrik


No Jenis Kapasitas Pemakaian Sumber Perijinan
Energi Terpasang
1 PLN 555 KVA 764,840 PLN SK Gub No
Kwh
2 Generator 1500 KVA 1664 Kwh Sendiri 671/Distamben/2016
(Sumber : PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, 2016)

c. Penggunaan Air
Penggunaan air untuk proses produksi PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
Pontianak bersumber pada Sungai Kapuas.

Tabel 4 Penggunaan air


No Sumber air Kapasitas Diolah/tidak Keterangan
m3/hari
1 Sungai 220 Diolah System
Kapuas Reverse
Osmoses
Sumber : PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Pontianak, 2016

23
Pengolahan dengan Metoda Reverse Osmosis dilakukan guna
mendapatkan air bersih. Setiap kali pengolahan hanya menghasilkan 60% air
bersih dan selainnya adalah air reject. Air bersih digunakan untuk proses produksi
mie instan sedangkan air reject dipergunakan untuk MCK dimana air buangan
MCK setiap satu tahun sekali dilakukan pengujian di laboratorium eksternal.
Neraca massa penggunaan air untuk keperluan pabrik, kantor dan fasilitas
penunjang lainnya seperti gudang, workshop .
Waktu Operasi Pabrik :
- Dalam Satu Hari : 22 jam
- Dalam Satu Minggu : 6 Hari Kerja (120 jam)
- Jumlah Shift Tenaga Kerja : 3 Shift
(Sumber : PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, 2016)

4.1 Bahan Baku (Input) PT. Indofood CBP Sukses Makmur


4.1.1 Bahan Baku Utama
Divisi Noodle, PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk menggunakan beberapa
bahan baku dalam pembuatan mie instan. Bahan baku yang digunakan
didatangkan dari beberapa perusahaan yang telah memenuhi persyaratan yang
telah ditetapkan oleh perusahaan. Adapun bahan baku tersebut adalah :
 Tepung Terigu
Tepung terigu diperoleh dari biji gandum yang digiling. Fungsi tepung
terigu dalam pembuatan mie instan, antara lain memberi atau membentuk adonan
selama proses pencampuran, menarik atau mengikat bahan lain dan
mendistribusikan secara merata, mengikat gas selama proses penggorengan,
membentuk struktur mie instan, serta sebagai sumber karbohidrat dan protein.
Divisi Noodle PT. Indofood CBP Sukes Makmur Tbk menggunakan
tepung terigu sebagai bahan baku utama. Tepung tersebut bukan dianggap kelas-
kelas mutu tepung, tetapi mempunyai klasifikasi khusus sehingga akan
disesuaikan untuk tujuan penggunaan berbeda. Tepung tersebut sudah
mengandung telur sehingga mempunyai kadar protein tertentu. Hal ini
dimaksudkan untuk memudahkan penanganan dalam proses pembuatan mie
instan.

24
4.2 Bahan Baku Penunjang
 Air
Air digunakan untuk membentuk tekstur adonan dan gluten, mengkontrol
kepadatan dan suhu adonan, melarutkan garam dan bahan-bahan tambahan
lainnya, sehingga bahan-bahan tersebut dapat tersebar secara merata dalam
adonan. Air yang digunakan harus air bersih, baik secara kimiawi maupun mikro
biologis dan berasal dari Perusahaan Air Minum (PAM).

 Alkali
Alkali merupakan campuran dari zat antioksidan, pengemulsi, pengatur keasaman,
pengental, pengembang, pewarna, mineral dan penguat rasa yang aman untuk
dikonsumsi dan berfungsi untuk membuat bentuk, warna, rasa dan mutu mie
instan lebih baik.
Identifikasi kebutuhan bahan baku adalah penentuan jumlah bahan baku yang
diperlukan untuk produksi mendatang. Identifikasi tersebut dilakukan berdasarkan
perkiraan penjualan produk mie instan yang dihasilkan perusahaan dan pemakaian
bahan baku pada periode sebelumnya.

4.3 Pemasok Bahan Baku


PT. Indofood Sukses Makmur TBK Pontianak bekerja sama dengan beberapa
pemasok (supplier) yang ditunjuk untuk pengadaan bahan baku (raw material) dan
bahan pendukung lainnya. Adapun supplier-supplier yang ditunjuk untuk
pengadaan bahan baku dan bahan pendukung produksi mie instan dapat dilihat
dibawah ini.

Tabel 2 Supplier Raw Material


No Material Supplier Lokasi

1 Tepung Bogasari Flour Mills Jakarta

2 Minyak goreng Salim Ivomas Jakarta

3 Bumbu PT. Food Ingredient Development Cikampek

25
Raci Pack Jakarta
4 Karton Packing
Puri Nusa Bandung

Supermova

Prima Makmur
5 Etiket Jakarta
Respati

Cipta Kemas Abadi

(Sumber : PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, 2016)

Sistem pembelian dan penerimaan bahan baku pada Divisi Noodle, PT. Indoofod
CBP Sukses Makmur Tbk melibatkan beberapa pihak yang saling berkepentingan
menurut fungsinya dalam perusahaan, yaitu Departemen ASP, PPIC, Purchasing
(Pembelian), Ware House (Gudang), PDQC dan Finance and Accounting. Ke
enam bagian ini memegang peranan penting dalam pengadaan bahan baku baik
secara langsung maupun tidak langsung, sehingga produksi dapat berlangsung
karena ketersediaan bahan baku tersebut.

4.4 Sistem Persediaan Bahan Baku


Penyimpanan bahan baku berada pada wewenang Departemen Warehouse
(Gudang). Dalam manajemen gudang bahan baku Divisi Noodle , PT. Indofood
CBP Sukses Makmur Tbk terdapat penanganan bahan baku, yaitu :
 Penerimaan
Sebelum masuk gudang, bagian penerimaan barang digudang akan mengontrol
jumlah yang diterima berdasarkan pesanan (Purcashe Order) dan selanjutnya
Departemen Quality Control akan mengambil contoh untuk memeriksa mutu yang
telah ditetapkan. Perhitungan jumlah bahan baku tepung akan disesuaikan dengan
standar yang telah ditetapkan oleh Divisi Noodle, PT. Indofood CBP Sukses
Makmur Tbk mempunyai berat 50 kg per zak, dan perusahaan telah
memperhitungkan rendemen, sehingga berat per zak 49,85 kg. Sedangkan untuk

26
tepung terigu, berat per zaknya 25 kg dan perusahaan juga telah memperhitungkan
rendemennya sehingga berat per zak 24,55-24,85 kg.

 Penyusunan
Kegiatan pengeluaran bahan baku untuk jenis tepung dilakukan dengan cara
diangkat oleh kuli angkut. Setelah bahan baku diturunkan dari truk atau kontainer,
bahan baku terlebih dahulu ditumpuk secara bersilang agar saling mengunci antar
satu lapisan dengan lapisan lainnya di atas palet, sehingga bahan baku tidak
terkontak langsung dengan lantai. Tinggi tumpukan maksimal tepung adalah 10
zak per palet.
 Pengeluaran
Bahan baku yang dikeluarkan mengikuti sistem First In First Out (FIFO) yaitu
bahan baku yang pertama masuk ke gudang dikeluarkan lebih dahulu dari gudang
untuk proses produksi. Hal ini berkaitan dengan sifat bahan baku yang
mempunyai batas kadaluarsa dan kerugian akibat penyimpanan yang terlalu lama.
Bahan baku tepung terigu mempunyai batas penyimpanan di gudang bahan baku,
yaitu satu bulan. Pada cuaca panas, penyimpanan melebihi satu bulan akan
menimbulkan kutu pada tepung terigu (Sumber : PT. Indofood CBP Sukses
Makmur Tbk Pontianak, 2016).

4.5 Output Produksi PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk


PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. divisi noodle merupakan salah satu
cabang perusahaan yang dimiliki Salim Group yang memproduksi mie dan
memiliki orientasi pasar, dimana produksi yang dilakukan oleh perusahaan
disesuaikan dengan permintaan pasar. Perusahaan selalu berusaha memenuhi
kebutuhan konsumen, baik dalam kuantitas maupun kualitas produk. Oleh karena
itu, perusahaan selalu mengembangkan inovasi guna memenuhi kepuasan
pelanggan, khususnya selera konsumen.
Produk yang dihasilkan PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk divisi mi instan
terdiri dari 2 kelompok besar yaitu :
1. Bag Noodle, yaitu mie instan dalam kemasan bungkus; dan

27
2. Mie telor, yaitu mi yang dalam proses pembuatannya tidak digoreng
melainkan dikeringkan.
Pengemasan mie adalah proses penyatuan dan pembungkusan mie, bumbu,
minyak bumbu dan solid ingredient lainya dengan menggunakan etiket sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan. Tujuan dari proses pengemasan adalah
untuk melindungi mie dari kemungkinan-kemungkinan tercemar atau rusak
sehingga mie tidak mengalami penurunan mutu ketika sampai kepada konsumen.
Setelah dikemas, selanjutnya mie tersebut akan dimasukkan ke dalam karton.
Setelah mie dimasukkan ke dalam karton seluruhnya, karton akan direkatkan dan
kemudian menuju gudang untuk disalurkan.
(Sumber : PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, 2016)

A. Boiler Batubara
Boiler atau ketel uap adalah suatu perangkat mesin yang berfungsi untuk
mengubah air menjadi uap. Proses perubahan air menjadi uap terjadi dengan
memanaskan air yang berada didalam pipa-pipa dengan memanfaatkan panas dari
hasil pembakaran bahan bakar. Pembakaran dilakukan secara kontinyu didalam
ruang bakar dengan mengalirkan bahan bakar dan udara dari luar. Seperti
kebanyakan boiler yang anda kenal, mesin ini terdiri dari bejana sebagai alat
untuk memproduksi uap dan dengan segala peralatan pembantu operasi dan alat-
alat proteksinya.
Pada sumber panasnya yaitu biasanya boiler menggunakan minyak atau
gas sebagai bahan bakar tetapi dalam pebahasan kali ini saya akan menguraikan
tentang boiler dengan bahan bakar yang menggunakan batu bara, yang mana
diperlukan perangkat-perangkat pendukung untuk memaksimalkan penggunaan
boiler batu bara ini, seperti Chain grate stoker, Ash Conveyor, Grit Arrester dan
ID fan dan lain-lain. Berikut penguraian dari perangkat-perangkat atau alat-alat
pendukung pengoperasian boiler batu bara.

28
Gambar 13. Boiler Batubara
a. Air umpan boiler
Air ini digunakan sebagai umpan boiler yang akan memproduksi steam. Steam
jenuh yang dihasilkan boiler merupakan steam yang memiliki temperatur 120
ºC dengan tekanan 7.5 bar.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penyediaan air umpan Boiler adalah:
1. Air bebas dari zat-zat yang dapat menyebabkan korosi. Korosi yang terjadi di
dalam boiler disebabkan karena air mengandung larutan-larutan asam dan gas-
gas terlarut seperti O2, CO2 dan H2S yang masuk baik karena aerasi maupun
kontak dengan udara.
2. Air bebas dari zat yang dapat menyebabkan pembentukan kerak (scale).
Pembentukan kerak disebabkan karena kesadahan seperti adanya garam-garam
karbonat dan silika serta karena suhu tinggi.
3. Air bebas dari zat yang dapat menyebabkan foaming. Foaming biasanya
dikarenakan adanya zat-zat organik dan zat-zat yang tidak terlarut dalam
jumlah besar.
Persyaratan umum air umpan Boiler adalah :
a. Kandungan silika = 0,02 mg/l

29
b. Konduktivitas = 0,2 ( s/cm )

c. O2 = 0,02 mg/liter

d. Besi = 0,02 mg/l

e. pH = 8,8 – 9,2

f. Minyak = 0,mg/liter (Karrasik, I.J., dkk., 2001)

Proses pengolahan air umpan boiler :


 Air demin sebelum menjadi air umpan boiler harus dihilangkan dulu gas-gas
terlarutnya terutama oksigen dan CO2 melalui proses deaerasi.
 Oksigen dan CO2 dapat menyebabkan korosi pada perpipaan dan tube-tube
boiler.
 Proses deaerasi dilakukan di deaerator dalam 2 tahap yaitu: Mekanis : Proses
stripping dengan LP (Low Pressure) steam dapat menghilangkan oksigen
sampai 0,007 ppmKimia: Reaksi dengan N2H4 (hydrazine) dapat
menghilangkan sisa oksigen N2H4 + O2 N2 + H2O

 Proses Deaerasi
 Air demin + kondensat dihilangkan kandungan O2 dan gas-gas terlarut (CO2)
melalui proses stripping dengan LP steam dan reaksi dengan hydrazine
(N2H4)
 pH dinaikkan menjadi 9,0 dengan injeksi NH3 ke aliran air
 Keluaran deaerator disebut Boiler Feed Water (BFW) (Adang, P. 2001,
Technical Training Proses Pembentukan Steam).

 Air pemadam kebakaran (hydrant)


Salah satu bagian dari utilitas pabrik ini adalah air pemadam kebakaran.
Kebutuhan air ini sangat diperlukan jika suatu saat terjadi musibah kebakaran
yang menimpa salah satu bagian dari pabrik. Jadi, penggunaan air untuk
keperluan ini tidak dilakukan secara kontinyu tetapi hanya bersifat insidental
hanya bila terjadi kebakaran. Dalam praktiknya, kebutuhan air ini disalurkan

30
melalui pipa hydrant yang tersambung melalui saluran yang melintasi seluruh
lokasi pabrik. Pipa-pipa hydrant terutama dipersiapkan pada lokasi pabrik yang
cukup strategis dengan pertimbangan utama adalah agar memudahkan
menjangkau semua area pabrik. Perkiraan jumlah air yang dibutuhkan untuk
pemadam kebakaran sekitar 15,043 kg/jam yang akan ditampung dalam bak
penampung. Fasilitas pemadam kebakaran seperti fire mhydrant perlu
ditempatkan pada tempat-tempat yang strategis, disamping itu disediakan pula
portable fire fighting equipment pada setiap ruangan dan tempat-tempat yang
mudah dicapai. Dengan adanya fasilitas ini diharapkan keselamatan dankesehatan
kerja pabrik dapat tetap terjaga.

2. Unit Penyediaan Steam


Sistem penyediaan steam terdiri dari deaerator dan boiler. Proses dearasi terjadi
di dalam deaerator yang berfungsi untuk menghasilkan air bebas mineral (demin
water) dari komponen udara melalui spray, sparger yang berkontak secara
counter current dengan steam. Demin water yang sudah bebas dari komponen
udara ditampung di dalam drum dari deaerator. Deaerator memiliki waktu
tinggal 15 menit. Larutan hydrazin (N2H4) diinjeksikan ke dalam deaerator untuk
mengikat gas O2 yang terdapat pada air bebas mineral sehingga dapat mencegah
terbentuknya kerak (scale). Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
N2H4 (aq) + O2 (g) → N2 (g) + 2 H2O (l) + N2 (g)
Kandungan oksigen keluar dari deaerator didesain tidak lebih besar dari 0,007
ppm . Pembentukan steam terjadi didalam boiler. Untuk pabrik dicalcium
phosphate dihydrate dibutuhkan steam dengan temperatur 120oC. Jenis boiler
yang digunakan adalah water tube boiler dengan air umpan boiler melalui tube
dan terjadi pembentuan steam pada tube. Sementara pembakaran terjadi dalam
kotak chamber terbuka (Adang P., 2001).

B. Laboratorium
Laboratorium merupakan bagian yang sangat penting dalam menunjang
kelancaran proses produksi dan menjaga mutu produksi. Dengan data yang
diperoleh dari laboratorium maka proses produksi akan selalu dapat dikendalikan

31
dan kualitas produk dapat dijaga sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan.
Laboratorium mempunyai tugas pokok antara lain :
1. Sebagai pengendali kualitas bahan baku dan pengendali kualitas produk.
2. Sebagai pengendali terhadap proses produksi dengan melakukan analisis
terhadap pencemaran lingkungan yang meliputi polusi udara, limbah cair dan
limbah padat yang dihasilkan unit-unit produksi.
3. Sebagai pengendali terhadap mutu air proses, air pendingin, air umpan boiler,
steam dan lain-lain yang berkaitan langsung dengan proses produksi.

Laboratorium melaksanakan tugas selama 24 jam sehari dalam kelompok kerja


shift dan non-shift.
a. Kelompok Non–Shift
Kelompok ini bertugas untuk menyediakan reagen kimia yang diperlukan oleh
laboratorium serta melakukan analisis khusus, yaitu analisis yang sifatnya tidak
rutin.
b. Kelompok Shift
Kelompok ini melaksanakan tugas pemantauan dan analisis-analisis rutin terhadap
proses produksi. Dalam melaksanakan tugasnya, kelompok ini menggunakan
sistem bergilir yaitu kerja shift selama 24 jam dengan masing-masing shift bekerja
selama 8 jam.

FLOW DIAGRAM

32
BAB IV
TUGAS KHUSUS DAN PEMBAHASAN

4.1 Spesifikasi Alat


4.1.1. Kompresor
KOMPRESOR
SPESIFIKASI KOMPRESOR
Daya motor 1 Hp
Kapasitas 185 L/menit
Kapasitas Tangki 90 L/menit
Tekanan 8 Kg/cm3 113,8 Psi
P1 70 Bar 713801,4 kg/cm2
P2 100 Bar 1019716,2 kg/cm2
V 134 m3

4.2 Efisiensi Alat


1. Kompresor
Waste Water Treatment Plant (WWTP) di PT. Indofood CBP Sukses Makur Tbk
menggunakan alat kompresor berjenis sentrifugal. Kompresor sentrifugal
digunakan untuk memberikan energi kepada fluida gas, sehingga gas dapat
mengalir dari suatu tempat ke tempat lain. Penambahan energi ini bisa terjadi
karena adanya konversi energi mekanik ke dalam energi tekanan. Kompressor
pada WWTP digunakan untuk menghisap lumpur supaya tidak terbuang pada saat
proses aerasi berlangsung.
Rumus Umum Kompresor :
𝛾−1
γ P2
w 2 = 𝛾−1 P1 V1 [(P )
1
𝛾 -1 ]
Keterangan : (Ramadhan R., 2016)
W = Usaha
V = Volume Tangki CSAS
P1 = Tekanan awal kompressor
P2 = Tekanan pada tangki
γ = Berat Jenis Udara
η = Efisiensi

33
W1 total = v (P2 - P1)
W1 total = 134 x (1019716,2 - 713801,4)
= 40992583,2 Kg-m
γ
W1 pada kompresor =
γ−1 (P1.V)
1,4
=
1,4−1 (713801,4 x 134)

= 334772856,2 kg-m

γ
W1 pada tangki =
γ−1 (P2.V)
1,4
=
1,4−1 (1019716,2 x 134)

= 0,107280604 kg-m

W2 total = W1 kompresor x W2 tangki


= 334772856,2 x 0,107280604
= 35914634,16 kg-m

η (efisiensi) = W2/W1
= 40992583,2 / 35914634,16
η = 87,6 %

2. Neraca massa dan diagram alir WWTP(Waste Water Treatment Plant)


A. Tabel Neraca massa
Neraca air limbah WWTP Actual Tahun 2016
Inlet WWTP
No Bulan (m3) Outlet WWTP (m3)
1 Januari 562,27 562,00
2 Februari 548,64 546,00
3 Maret 765,98 761,00
4 April 609,39 608,00
5 Mei 724,07 722,00

34
6 Juni 834,58 833,00
7 Juli 605,34 604,00
8 Agustus 745,24 743,00
9 September 834,58 943,00
10 Oktober 931,72 930,00
11 November 972,64 974,00
12 Desember 834,07 833,00

Tabel diatas merupakan neraca massa air Waste Water Treatment Plant (WWTP)
di PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Dari data tersebut diketahui bahwa
konsep neraca massa adalah in = out. Tetapi dilihat dari data berikut ada beberapa
data yang tidak sesuai. Hal ini disebabkan karena ada beberapa faktor pemicu inlet
dan outletnya yg membuat data menjadi tidak sesuai.

35
B. Diagram Waste Water Treatment Plant (WWTP)

36
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
Dari hasil Praktek Kerja Lapangan (PKL) selama 2 bulan kami
mendapatkan hasil neraca massa dan efisiensi pada alat yang ada di Waste Water
Treatment Plant (WWTP) seperti Pompa, Kompressor dan Blower. Efisiensi alat
tertinggi terdapat pada alat Kompresor yaitu efisiensinya sebesar 87,6% . Pada
neraca massa pada Waste Water Treatment Plant (WWTP) Memiliki jumlah total
outlet dan inlet yang terkadang tidak sama. Total outlet lebih kecil darpada inlet
disebabkan oleh terdapat zat-zat yang kemungkinan menguap dikarenakan unit
WWTP sendiri berada di luar ruangan (Outdoor), sedangkan total outlet lebih
besar daripada inlet disebabkan tercampurnya air limbah dengan air hujan.

SARAN
Saran yang dapat kami berikan kepada PT. Indofood CBP Sukses Makmur
Tbk setelah kami menjalani Praktek Kuliah Lapangan (PKL) selama 2 bulan yaitu
neraca air limbah WWTP agar total inlet dan outlet nya seimbang dapat dilakukan
dengan cara memberi sedikit penutup atau atap pada tangki pengolahan limbah.
Tujuannya adalah agar mengurangi tingkat penguapan pada air limbah dan
penambahan air limbah yang disebabkan hujan.

37
DAFTAR PUSTAKA

Adang, P., 2001, Technical Training Proses Pembentukan Steam


Administrator, 2008, “Teori Dasar Pompa Sentrifugal. Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta
Alaerts G dan Sumestri S. S., 1987, “Metode Penelitian Air (MPA)”, Usaha
Nasional, Surabaya
Bhavan M, 1987, “Methods of Sampling and Test (Physical and Chemical) for
Water and Wastewater”, Bureau of Indian Standards, New Delhi
Church, Austin H. Harahap Zulkifli, 1993, “ Pompa Dan Blower Sentrifugal”,
Erlangga: Jakarta
Environment Agency, 2006, “Methods for the Examination of Waters and
Associated Materials”, Departement of the Environment
Karassik, I.J., dkk., 2001, Pump Application Engineering, McGraw-Hill Book
Company, New York
Kristiadi, G. Ramadhan R., 2016, “Buku Panduan Pemeriksaan Lokomotif CC
201/203/204/206” , Jakarta : Dipo Lokomotif Jatinegara
Rivai H, 1994, “Asas Pemeriksaan Kimia”, UI Press, Jakarta
Sukdjadi, 1985, ”Penentuan Struktur Senyawa Organik”, Ghalia Indonesia,
Jakarta
World Instant Noodle Association, 2013, “Global Demand for Instant Noodle”,
diakses tanggal 20 September 2017.

38
LAMPIRAN
1. Tangki oil interceptor

2. Tangki sludge holding

3. Tangki effluen holding

39
4. Tangki equalization

5. Tangki CSAS

6. Pompa Celup

40
7. Blower

8. Kompressor

9. Spesifikasi alat-alat di unit WWTP

41
42