Anda di halaman 1dari 29

ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPARATIROID

A. Definisi
1. Hiperparatiroid adalah suatu keadaan dimana kelenjar-kelenjar paratiroid memproduksi
lebih banyak hormon paratiroid dari biasanya. Pada pasien dengan hiperparatiroid, satu
dari keempat kelenjar paratiroid yang tidak normal dapat membuat kadar hormon
paratiroid tinggi tanpa mempedulikan kadar kalsium. dengan kata lain satu dari keempat
terus mensekresi hormon paratiroid yang banyak walaupun kadar kalsium dalam darah
normal atau meningkat.
2. Hiperparatiroidisme adalah karakter penyakit yang disebabkan kelebihan sekresi hormone
paratiroid, hormon asam amino polipeptida. Sekresi hormon paratiroid diatur secara
langsung oleh konsentrasi cairan ion kalsium. Efek utama dari hormon paratiroid adalah
meningkatkan konsentrasi cairan kalsium dengan meningkatkan pelepasan kalsium dan
fosfat dari matriks tulang, meningkatkan penyerapan kalsium oleh ginjal, dan
meningkatkan produksi ginjal. Hiperparatiroidisme biasanya terbagi menjadi primer,
sekunder dan tersier.

B. Klasifikasi
1. Primary hiperparathyroidism (hiperparatiroidisme primer)
Kebanyakan pasien yang menderita hiperparatiroidisme primer mempunyai
konsentrasi serum hormon paratiroid yang tinggi. Kebanyakan juga mempunyai
konsentrasi serum kalsium yang tinggi, dan bahkan juga konsentrasi serum ion kalsium
yang juga tinggi. Tes diagnostik yang paling penting untuk kelainan ini adalah menghitung
serum hormon paratiroid dan ion kalsium.
Penderita hiperparatiroid primer mengalami peningkatan resiko terjangkit batu ginjal sejak
10 tahun sebelum didiagnosis. Pengangkatan paratiroid mereduksi resiko batu ginjal
hingga 8.3%, dan bahkan setelah 10 tahun sejak pengangkatan, resiko menjadi hilang.
2. Hiperparatiroidisme sekunder
Hiperparatiroidisme sekunder adalah produksi hormon paratiroid yang berlebihan
karena rangsangan produksi yang tidak normal. Secara khusus, kelainan ini berkitan
dengan gagal ginjal akut. Penyebab umum lainnya karena kekurangan vitamin D.
(Lawrence Kim, MD, 2005, section 5)
Hipersekresi hormon paratiroid pada hiperparatiroidisme sekunder sebagai respons
terhadap penurunan kadar kalsium terionisasi didalam serum. (Clivge R. Taylor, 2005,
780)
Hiperparatiroidisme sekunder adalah hiperplasia kompensatorik keempat kelenjar yang
bertujuan untuk mengoreksi penurunan kadar kalsium serum. Pada sebagian besar kasus,
kadar kalsium serum dikoreksi ke nilai normal, tetapi tidak mengalami peningkatan.
Kadang-kadang, terjadi overkoreksi dan kadar kalsium serum melebihi normal; pasien
kemudian dapat mengalami gejala hiperkalsemia.
3. Hyperparathyroidism tersier (hiperparatiroidisme tersier)
Hiperparatiroidisme tersier adalah perkembangan dari hiperparatiroidisme sekunder yang
telah diderita lama. Penyakit hiperparatiroidisme tersier ini ditandai dengan perkembangan
hipersekresi hormon paratiroid karena hiperkalsemia.
C. Etiologi
1. Primer (sekresi PTH tidak sesuai )
a. Adenoma (tersering > 80 %)
Kira-kira 85% dari kasus hiperparatiroid primer disebabkan oleh adenoma tunggal.
Sedangkan 15% lainnya melibatkan berbagai kelenjar (contoh berbagai adenoma atau
hyperplasia).
b. Sedikit kasus hiperparatiroidisme utama disebabkan oleh paratiroid karsinoma.
c. Hiperplasi
Etiologi dari adenoma dan hyperplasia pada kebanyakan kasus tidak diketahui. Kasus
keluarga dapat terjadi baik sebagai bagian dari berbagai sindrom endrokin neoplasia,
syndrome hiperparatiroid tumor atau hiperparatiroidisme turunan. Familial hypocalcuric
dan hypercalcemia dan neonatal severe hyperparathyroidism juga termasuk kedalam
kategori ini.
2. Sekunder (sekresi PTH sesuai)
a. Gagal ginjal kronik
b. Malabsorbsi
c. Kelainan gastrointestinal
d. Kelainan hepatobilier
e. Penyebab lain dari hipokalsemi
f. Hiperpospatemia, berperan penting dalam perkembangan hyperplasia paratiroid yang
akhirnya akan meningkatkan produksi hormon paratiroid.
3. Tersier (sekresi PTH autonom ditambah dengan hiperparatiroid sekunder terdahulu)
a. Penyebabnya masih belum diketahui. Perubahan mungkin terjadi pada titik pengatur
mekanisme kalsium pada level hiperkalsemik.
b. Hipernefroma
c. Karsinoma sel skuamuosa paru

D. Manifestasi klinik
1. Hiperparatiroidisme Primer
a) Sebagai akibat hiperkalsemia yang gejalanya berupa anoreksia, nausea, muntah-muntah,
konstipasi dan berat badan menurun, lekas lelah dan otot-otot lemah, miopati proksimal,
polidipsi dan poliuria (diabetes insipidus like syndrome), perubahan mental (depresi,
stupor, perubahan personalitas, koma, konvulsi).

b) Sebagai akibat kalsifikasi visceral, kalsifikasi pada ginjal berupa kalkuli,


nefrokalsinosis. Kalsifikasi ocular terjadi karena deposit kalsium pada konjungtiva dan
kelopak mata, band keratopathy.

c) Sebagai akibat peningkatan resorbsi tulang, nyeri tulang dan deformitas, fraktur
patologis, osteoklastoma dan perubahan gambaran tulang pada foto x-ray.

d) Sebagai akibat hipertensi, gagal ginjal, ulkus peptic, sindrom Zollinger Ellison,
pankreatitis akut, pankreatitis menahun dan kalkuli, multiple adenomatosis syndrome,
hiperurisemia, gout. Apabila ditemukan gambaran klinis, seperti tersebut di atas, maka
harus curiga akan kemungkinan hiperpatiroidisme.
2. Hiperparatiroidisme Sekunder
Hiperparatiroidisme sekunder biasanya disertai dengan penurunan kadar kalsium
serum yang normal atau sedikit menurun dengan kadar PTH tinggi dan fosfat serum
rendah. Perubahan tulang disebabkan oleh konsentrasi PTH yang tinggi sama dengan pada
hiperparatiroidisme primer. Beberapa pasien menunjukkan kadar kalsium serum tinggi dan
dapat mengalami semua komplikasi ginjal, vaskular, neurologik yang disebabkan oleh
hiperkalsemia.
3. HiperparatiroidismeTertier
Manifestasi klinis dari hiperparatiroidisme tersier meliputi hiperparatiroidisme yang
kebal setelah pencangkokan ginjal atau hiperkalsemia baru pada hiperparatiroidisme
sekunder akut.
Secara umum, adapun tanda dan gejala dari hipertiroidisme, yaitu:

1. Gejala apatis
2. keluhan mudah lelah
3. kelemahan otot
4. mual, muntah
5. hipertensi dan aritmia jantung dapat terjadi; semua ini berkaitan dengan peningkatan kadar
kalsium dalam darah
6. Manifestasi psikologis dapat bervariasi mulai dari emosi yang mudah tersinggung dan
neurosis hingga keadaan psikosis yang disebabkan oleh efek langsung kalsium pada otak
serta sistem syaraf. Peningkatan kadar kalsium akan menurunkan potensial eksitasi
jaringan syaraf dan otot.
7. Gejala muskuloskeletal yang menyertai hiperparatiroid dapat terjadi akibat demineralisasi
tulang atau tumor tulang, yang muncul berupa sel – sel raksasa benigna akibat
pertumbuhan osteoklas yang berlebihan. Pasien dapat mengalami nyeri skeletal dan nyeri
tekan, khususnya di daerah punggung dan persendian; nyeri ketika menyangga tubuh;
fraktur patologik; deformitas; dan pemendekan badan. Kehilangan tulang yang berkaitan
dengan hiperparatiroid merupakan faktor resiko terjadinya fraktur.
8. Insidens ulukus peptikum dan pankeatis meningkat pada hiperparatiroid dan dapat
menyebabkan terjadinya gejala gastrointestinal.

E. Komplikasi
Krisis hiperkalsemia akut dapat terjadi pada hiperparatiroidisme. Keadaan ini terjadi
pada kenaikan kadar kalsium serum yang ekstrim. Kadar yang melebihi 15 mg/dl (3,7
mmol/L) akan mengakibatkan gejala neurologi, kardiovaskuler dan ginjal yang dapat
membawa kematian.
Pembentukan batu pada salah satu atau kedua ginjal yang berkaitan dengan
peningkatan ekskresi kalsium dan fosfor merupakan salah satu komplikasi
hiperparatiroidisme yang penting dan terjadi pada 55% penderita hiperparatiroidisme
primer. Kerusakan ginjal terjadi akibat presipitasi kalsium fosfat dalam pelvis dan ginjal
parenkim yang mengakibatkan batu ginjal (renal calculi), obstruksi, pielonefritis serta
gagal ginjal.

F. Penatalaksanaan

1. Kausal: Tindakan bedah, ekstirpasi tumor.


2. Simptomatis: Hiperkalsemia ringan (12 mgr % atau 3 mmol / L) dan Hidrasi dengan
infuse
3. Sodium chloride per os
4. Dosis-dosis kecil diuretika (furosemide) Hiperkalsemia berat (> 15 mgr % atau 3,75 mmol
/ L):
5. Koreksi (rehidrasi) cepat per infuse
6. Forced diuresis dengan furosemide
7. Plicamycin (mitramcin) 25 ug / kg BB sebagai bolus atau infus perlahn-lahan (1-2 kali
seminggu)
8. Fosfat secara intravena (kalau ada indikasi)
9. Dialysis peritoneal, kalau ada insufisiensi ginjal.

G. Pengobatan/ Penyembuhan
1. Primary hiperparathyroidism (hiperparatiroidisme primer)
Operasi pengangkatan kelenjar yang semakain membesar adalah penyembuhan utama
untuk 95% penderita hiperparatiroidisme. Apabila operasi tidak memungkinkan atau tidak
diperlukan, berikut ini tindakan yang dapat dilakukan untuk menurunkan kadar kalsium:
a. Memaksakan cairan
b. Pembatasan memakan kalsium
c. Mendorong natrium dan kalsium diekskresikan melalui urin dengan menggunakan larutan
garam normal, pemberiaqn Lasix, atau Edrecin.
d. Pemberian obat natrium, kalium fosfat, kalsitonin, Mihracin atau bifosfonat.
e. Obati hiperkalsemia dengan cairan, kortikosteroid atau mithramycin)
f. Operasi paratiroidektomi
g. Obati penyakit ginjal yang mendasarinya.
2. Secondary hyperparathyroidisme (hiperparatiroidisme sekunder)
Tidak seperti hiperparatiroidisme, manajemen medis adalah hal yang utama untuk
perawatan hiperparatiroidisme sekunder. Penyembuhan dengan calcitriol dan kalsium
dapat mencegah atau meminimalisir hiperparatiroidisme sekunder. Kontrol kadar cairan
fosfat dengan diet rendah fosfat juga penting.Pasien yang mengalami predialysis renal
failure, biasanya mengalami peningkatan kadar hormon paratiroid. Penekanan sekresi
hormon paratiroid dengan low-dose calcitriol mungkin dapat mencegah hiperplasia
kelenjar paratiroid dan hiperparatiroidisme sekunder.
Pasien yang mengalami dialysis-dependent chronic failure membutuhkan calcitriol,
suplemen kalsium, fosfat bebas aluminium, dan cinacalcet (sensipar) untuk memelihara
level cairan kalsium dan fosfat. Karena pasien dialysis relatif rentan terhadap hormon
paratiroid.Pasien yang mengalami nyilu tulang atau patah tulang, pruritus, dan
calciphylaxis perlu perawatan dengan jalan operasi. Kegagalan pada terapi medis untuk
mengontrol hiperparatiroidisme juga mengindikasikan untuk menjalani operasi.
Umumnya, jika level hormon paratiroid lebih tinggi dari 400-500 pg/mL setelah
pengoreksian kadar kalsium dan level fosfor dan tebukti adanya kelainan pada tulang,
pengangkatan kelenjar paratiroid sebaiknya dipertimbangkan.
3. Hyperparathyroidism tersier (hiperparatiroidisme tersier)
Pengobatan penyakit hiperparatiroidisme tersier adalah dengan cara pengangkatan
total kelenjar paratiroid disertai pencangkokan atau pengangkatan sebagian kelenjar
paratiroid.
H. Pencegahan

1. Minum banyak cairan, khususnya air putih. Meminum banyak cairan dapat mencegah
pembentukan batu ginjal.
2. Latihan. Ini salah satu cara terbaik untuk membentuk tulang kekuatan dan memperlambat
kerusakan tulang.
3. Penuhi kebutuhan vitamin D. sebelum berusia 50 tahun, rekomendasi minimal vitamin D
yang harus dipenuhi setiap hari adalah 200 International Units (IU). Setelah berusisa lebih
dari 50 tahun, asupan vitamin D harus lebih tinggi sekitar 400-800 IU perhari.
4. Jangan merokok. Merokok dapat meningkatkan pengrapuhan tulang seiring meningkatnya
masalah kesehatan, termasuk kanker.
5. Waspada terhadap kondisi yang dapat meningkatkan kadar kalsium. Kondisi tertentu
seperti penykit gastrointestinal dapat menyebabkan kadar kalsium dalam darah meningkat
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Data Demografi
Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya: nama, umur, agama,
pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, alamat, jenis kelamin, status perkawinan, dan
penanggung biaya.
2. Riwayat Sakit dan Kesehatan
a. Keluhan Utama
· Sakit kepala, kelemahan, lethargi dan kelelahan otot
· Gangguan pencernaan seperti mual, muntah, anoreksia, obstipasi, dan nyeri lambung
yang akan disertai penurunan berat badan
· Nyeri tulang dan sendi
b. Riwayat Penyakit Sekarang
c. Riwayat Penyakit Dahulu
d. Diantaranya riwayat trauma/ fraktur.
e. Riwayat penyakit keluarga
f. Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang mungkin ada hubungannya
dengan penyakit klien sekarang, yaitu riwayat keluarga dengan hiperparatiroid
g. Pengkajian psiko-sosio-spiritual
h. Perubahan kepribadian dan perilaku klien, perubahan mental, kesulitan mengambil
keputusan, kecemasan dan ketakutan hospitalisasi, diagnostic test dan prosedur
pembedahan, adanya perubahan peran.
3. Pemeriksaan Fisik ( ROS : Review of System )
a. Breath (B1):
Gejala: nafas pendek, dispnea nocturnal paroksimal, batuk dengan / tanpa sputum kental dan
banyak.
Tanda: takipnea, dispnea, peningkatan frekensi/kedalaman (pernafasan Kussmaul)
b. Blood (B2)
Gejala: Riwayat hipertensi lama atau berat, palpitasi,
Tanda: hipertensi (nadi kuat, edema jaringan, pitting pada kaki, telapak tangan), disritmia
jantung, pucat, kecenderungan perdarahan.
c. Brain (B3)
Gejala: penurunan daya ingat, depresi, gangguan tidur, koma.,
Tanda: gangguan status mental, penurunan tingkat kesadaran, ketidak mampuan konsentrasi,
emosional tidak stabil
d. Bladder (B4)
Gejala: penurunan frekuensi urine, obstruksi traktus urinarius, gagal fungsi ginjal (gagal tahap
lanjut), abdomen kembung,diare, atau konstipasi.
Tanda: perubahan warna urine, oliguria, hiperkalsemia, Batu ginjal biasanya terdiri dari kalsium
oksalat atau kalsium fosfat
e. Bowel (B5)
Gejala: anoreksia, mual, muntah, penurunan berat badan.
Tanda: distensi abdomen, perubahan turgor kulit, kelainan lambung dan pankreas(tahap akhir),
Ulkus peptikum
f. Bone (B6)
Gejala: kelelahan ekstremitaas, kelemahan, malaise.
Tanda: penurunan rentang gerak, kehilangan tonus otot, kelemahan otot, atrofi otot
g. Integritas ego
Gejala: faktor stress (finansial, hubungan)
Tanda: menolak, ansietas, takut, marah, mudah tersinggung, perubahan kepribadiann.

4. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium:
1) Kalsium serum meninggi
2) Fosfat serum rendah
3) Fosfatase alkali meninggi
4) Kalsium dan fosfat dalam urin bertambah
b. Foto Rontgen:
1) Tulang menjadi tipis, ada dekalsifikasi
2) Cystic-cystic dalam tulang
3) Trabeculae di tulang
PA: osteoklas, osteoblast, dan jaringan fibreus bertambah
Analisa Data

No Data Analisis data Masalah


keperawa
tam
1. DS : px mengeluhkan nyeri pada Hiperaratiroid Nyeri akut
tulangnya 
DO :  produksi
S : 36,3 N : 78x/menit kalsium
TD : 160/100 
RR : 20x/menit Merangsang
Pergerakan sendi : terbatas kelenjar
paratiroid untuk
Kekuatan otot : meningkatkan
3 3 sintesis paratiroid
3 3 hormon
Kelainan ekstremitas (+) 
Kelainan tl.belakang (-) peningkatan giant
Fraktur (+) multinukleal
Kompartmen syndrome osteoklas pada
Turgor kulit : kurang lakuna Howship,
serta penggantian
sel normal &
sumsum tulang
dengan jaringan
fibrotik

Peningkatan
kadar kalsium
ekstraselular
(termasuk di
tulang) dan
mengendap pada
jaringan halus.

kalsifikasi
berbentuk nodul
pada jaringan
subkutis, tendon
(kalsifikasi
tendonitis), dan
kartilago
(khondrokalsinos
is).

Nyeri akut

2. DS : px mengeluhkan mual dan Hiperparatiroid Gangguan


muntah  nutrisi
DO : Penurunan kurang
S : 36,3 N : 78x/menit absorbsi kalsium dari
TD : 160/100 di kebutuhan
RR : 20x/menit gastrointestinal tubuh
Muntah (+) 
Abdomen : kembung Fungsi
Nyeri tekan (-) gastrointestinal
Peristaltik : 7x/menit terganggu
Nafsu makan : menurun 
Porsi makan : tidak habis Vomiting,
Reflux, Anorexia,
konstipasi

Penurunan berat
badan

gangguan nutrisi
kurang dari
kebutuhan

3. DS : - hiperparatiroidis Perubahan
DO : me pola
Klien terpasang kateter, tubular ginjal eliminasi
Periksaan USG menunjukan ada  urin
gumpalan batu di vesika urinaria mereabsorpsi
kalsium secara
berlebihan

deposit kalsium
pada parenkim
ginjal

nefrolithiasis

meningkatkan
sekresi bentuk
aktif vitamin D di
ginjal.

Terbentuk Batu
ginjal yang
biasanya terdiri
dari kalsium
oksalat atau
kalsium fosfat

Perubahan pola
eliminasi urin
Diagnosa Keperwatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan kalsifikasi tulang


2. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan terganggunya fungsi
gastrointestinal
3. Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan terbentuknya batu ginjal
C. Intervensi Keperwatan
1. Diagnosis I: Nyeri berhubungan dengan kalsifikasi tulang
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan nyeri dapat berkurang/
hilang
Kriteria Hasil:
a. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri,mampu menggunakan tekhnik non
farmakologi untuk mengurangi nyeri,mencari bantuan )
b. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan manajemen nyeri
c. Mampu mengenal nyeri ( skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
d. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

Intervensi Rasional
Mandiri Mandiri
1 Kaji secara komprehensif tentang 1 Pengkajian secara komprehensif dapat
nyeri, meliputi: lokasi, karakteristik, mengenali karakteristik, lokasi nyeri
dan onset, durasi, frekuensi, kualitas, sehingga dapat membantu menentukana
intensitas /beratnya nyeri, dan faktor- cara menanganan yangg tepat selanjutnya
faktor predisposisi.
2 Mengobservasi isytarat-isyarat non
2 Observasi isyarat–isyarat non verval pada klien dapat mempermudah
verbal dari ketidaknyamanan, perawat berkomunikasi dengan klien
khususnya dalam ketidak-mampuan
untuk berkomunikasi secara efektif. 3 Komunikasi terapeutik dapat membuat
3 Gunakan komunikasi terapeutik klien merasa lebih nyaman sehingga klien
agar pasien dapat mengekspresikan dapat mengekspresikan nyerinya pada
nyeri perawat
4 Teknik non farmakologi dapat melatih
klien untuk mengurahi rasa nyerinya
4 Anjurkan penggunaan tekhnik non sendiri
farmakologi (ex:relaksasi, guided
imagery, terapi musik,
distraksi,aplikasi panas-
dingin,masase, dll) Kolaborasi
1 Obat analgetik dapat mengurangi nyeri
Kolaborasi yang dirasakan klien
1 Berikan anelgetik untuk
mengurangi nyeri

2. Diagnosis II : Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


terganggunya fungsi gastrointestinal
Tujuan : Meningkatkan asupan nutrisi adekuat
Kriteria hasil :
a. Berat badan klien normal atau meningkat
b. Klien dapat menghabiskan makanan sesuai yang telah dijadwalkan oleh ahli gizi dan
dokter

Intervensi Rasional
1 Kolaborasi dengan ahli gizi untuk 1 Perlu adanya konsultasi untuk
menentukan jumlah kalori dan nutrisi menyamakan persepsi mengenai
yang dibutuhkan pasien pemenuhan kebutuhan nutrisi
2 Yakinkan diet yang dimakan
mengandung tinggi serat untuk 2 Untuk menanggulangi masalah
mencegah konstipasi gangguan fungsi gastrointestinal,
Berikan makanan yang terpilih ( sehingga pikanerlu asupan nutrisi yang
sudah dikonsultasikan dengan ahli memperhatikan tekstur dan kaya serat.
gizi )
3 Monitor jumlah nutrisi dan 3 Mengetahui porsi nutrisi adekuat pada
kandungan nutrisi klien
4 Observasi kemampuan pasien 4 Mengetahui efektifitas pola asupan
untuk mendapatkan nutrisi yang nutrisi sebelumnya penatalaksanaan lebih
dibutuhkan lanjut

3. Diagnosis III : Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan terbentuknya batu
ginjal
Tujuan : Meningkatkan pola eliminasi urin
Kriteria hasil :
a. Haluaran urin normal
b. Pengeluaran urin teratur
Intervensi Rasional
1 Pertahankan catatan intake dan 1 Agar tercapai keseimbangan cairan
output yang akurat tubuh, dengan memperhatikan
kemampuan ginjal yang belum bekerja
optimal
2 Monitor tanda-tanda vital 2 Untuk mengetahui kondisi
hemodinamik kien
3 Monitor masukan makanan / 3 Mengetahui asupan dan haluaran cairan
cairan dan hitung intake kalori harian normal klien
4 Kolaborasi pemberian cairan /
makanan 4 Mengetahui tingkat perkembangan
nutrisi klien dengan menghindari atau
5 Monitor status hidrasi membatasi asupan kalsium
(kelembaban membrane, nadi 5 Sebagai kontrol hemodinamik klien
adekuat, tekanan darah ortostatik)
jika diperlukan.
6 Kolaborasi tindakan pembedahan 6 Tindakan penaggulangan medis adanya
batu ginjal, untuk memperbaiki pola
eliminasi.
DAFTAR PUSTAKA

Henderson, M.A.1997.Ilmu Bedah untuk Perawat.Terjemahan dari Essential Surgery for


Nurses.Penerjemah: Dr. Andry Hartono.Editor:Dr. Sutantri.Jakarta: Yayasan Esentia
Medica
Paratiroid_jpg copy.jpg. Diakses 1 Maret 2011, dari humanhormone.blogspot.com Web site:
http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRRAuriVFW6snO5cpmsU6U3bjQuvQqi2Ks
3XiHZENrKRa4W2crj

Paratiroid.jpg. Diakses 1 Maret 2011, dari nursingacademy2c.blogspot.com Web site:


http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRXbieo2QQ26oor09jf2IVUAXKunjs5t9yKC-
O8YLsYuO_Bd7bjcg

Seane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC.
Sjamsuhidayat, R., dkk. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC
Smeltzer, S.C. dan B.G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol.1. E/8. Agung
Waluyo, I Made Karyasa, Julia, H.Y. Kuncara, dan Yasmin Asih, penerjemah. Jakarta:
EGC. Terjemahan dari: Textbook of Medical Surgical Nursing. Vol.1. E/8
ASUHAN KEPERAWATAN HIPOPARATIROID

1. DEFINISI
a. Hipoparatiroid adalah defisiensi kelenjar paratiroid dengan tetani sebagai gejala
utama (Haznam).
b. Hipoparatiroid adalah hipofungsi kelenjar paratiroid sehingga tidak dapat
mensekresi hormon paratiroid dalam jumlah yang cukup. (Guyton).
c. Hipoparatiroidisme adalah kondisi dimana tubuh tidak membuat cukup hormon
paratiroid atau parathyroid hormone (PTH).

Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa hipoparatiroid hipofungsi dari
kelenjar paratiroid sehingga hormon paratiroid tidak dapat disekresi dalam jumlah
yang cukup, dengan gejala utamanya yaitu tetani.

2. Etiologi
a. Hipoparatiroid primer: pada anak-anak dibawah umur 16 tahun, jarang sekali.
b. Hipoparatiroid sekunder:
· Terjadi setelah tindakan strumektomi karena kelenjar paratiroid ikut terekresi.
· Defisiensi sekresi hormon paratiroid, ada dua penyebab utama:
Ø Post operasi pengangkatan kelenjar partiroid dan total tiroidektomi.
Ø Idiopatik, penyakit ini jarang dan dapat kongenital atau didapat.

· Hipomagnesemia.

· Sekresi hormon paratiroid yang tidak aktif.


· Resistensi terhadap hormon paratiroid (pseudohipoparatiroidisme).
4. Gejala Klinik

Gejala utama adalah reaksi neuromuskuler yang berlebihan yang disebabkan oleh
kalsium serum yang rendah. Keluhan penderita ± 70 % adalah tetani.

a. Laten tetani: Mati rasa, tingling, kram pada tangan dan kaki.
b. Over tetani: bronchospasme, laringospasme, spasme carpopedal, dispagia,
potophobia, cardiac disritmia.
c. Gejala lain:
1) Gangguan emosional: cemas, mudah marah, depresi .
2) Perubahan tropik pada ectoderm: rambut jarang dan cepat putih, kulit kering
dan permukaan kasar, kuku tipis.
3) Pada keadaan tetanus laten terdapat gejala patirasa, kesemutan dan kram pada
ekstremitas dengan keluhan perasaan kaku pada kedua belah tangan serta kaki.
Pada keadaan tetanus yang nyata, tanda-tanda mencakup bronkospasme,
spasme laring, spasme karpopedal (fleksi sendi siku serta pergelangan tangan
dan ekstensi sensi karpofalangeal), disfagia, fotopobia, aritmia jantung serta
kejang. Gejala lainnya mencakup ansietas, iritabilitas, depresi dan bahkan
delirium. Perubahan pada EKG dan hipotensi dapat terjadi. (Brunner &
Suddath, 2001)
5. Pemeriksaan Diagnostik

Tetanus laten ditunjukan oleh tanda trousseau atau tanda Chvostek yang positif.
Tanda trousseau dianggap positif apabila terjadi spasme karpopedal yang ditimbulkan
akibat penyumabtan aliran darah ke lengan selama 3 menit dengan manset tensimeter.
Tanda Chvostek menujukkan hasil positif apabila pengetukan yang dilakukan secara
tiba-tiba didaerah nervous fasialis tepat di kelenjar parotis dan disebelah anterior
telinga menyebabkan spasme atau gerakan kedutan pada mulut, hidung dan mata.

Diagnosa sering sulit ditegakkan karena gejala yang tidak jelas seperti rasa nyeri dan
pegal-pegal, oleh sebab itu pemeriksaan laboratorium akan membantu. Biasanya hasil
laboratorium yang ditunjukkan, yaitu:

1. Kalsium serum rendah. Tetanus terjadi pada kadar kalsium serum yang berkisar
dari 5-6 mg/dl (1,2 - 1,5mmol/L) atau lebih rendah lagi.
2. Fosfat anorganik dalam serum tinggi
3. Fosfatase alkali normal atau rendah
4. Foto Rontgen:
Ø Sering terdapat kalsifikasi yang bilateral pada ganglion basalis di tengkorak
Ø Kadang-kadang terdapat pula kalsifikasi di serebellum dan pleksus koroid
5. Density dari tulang bisa bertambah
6. EKG: biasanya QT-interval lebih panjang
6. Komplikasi
a. Hipokalsemia
Keadaan klinis yang disebabkan oleh kadar kalsium serum kurang dari 9
mg/100ml. Kedaan ini mungkin disebabkan oleh terangkatnya kelenjar paratiroid
waktu pembedahan atau sebagai akibat destruksi autoimun dari kelenjar-kelenjar
tersebut
b. Insufisiensi ginjal kronik
Pada keadaan ini kalsium serum rendah, fosfor serum sangat tinggi, karena retensi
dari fosfor dan ureum kreatinin darah meninggi. Hal ini disebabkan tidak adanya
kerja hormon paratiroid yang diakibatkan oleh keadaan seperti diatas (etiologi).
7. Penatalaksanaaan
a. Penatalaksanaan medis
1) Hipoparatiroid akut:
a) Koreksi kalsium secepatnya (calsium glukonas 10 cc IV atau perinfus), hati-
hati karena bisa menyebabkan aritmia dari jantung.
b) Suntikan hormon paratiroid IM (100 – 200 U).
c) Pemberian vitamin D2 per oral (100.000 U)
2) Hipoparatiroid kronik

Maksudnya untuk meningkatkan kadar kalsium serum dan menurunkan kadar


fosfor serum secara kontinue. Usaha yang dilakukan dengan kombinasi diet
dan obat-obatan peroral.

a) Diet:

Diet yang banyak mengandung kalsium dan sedikit fosfor.

b) Medikamentosa:
(1) Untuk menyukarkan absorbsi fosfor dalam intestinum dapat digunakan
alumunium hidroksida.
(2) Suntikan hormon paratiroid dalam jangka lama menyebabkan reaksi
lokal dan pembentukan zat anti, oleh karena itu hormon paratiroid
tidak digunakan untuk hipoparatiroid kronik.
(3) Vit D2 (ergocalsiferol) ditambah DHT3 (dihydrotachysterol) kebutuhan
tubuh terhadap vitamin D ± 400 IU. Fungsi vitamin D:
(a) Menambah absorbsi kalsium dan fosfor di intestinum.
(b) Meningkatkan ekresi fosfor dan menurunkan fosfor serum.
(c) Efek langsung terhadap kalsifikasi.
b. Penatalaksanaan keperawatan
1) Istirahat
2) Observasi vital sign
3) Makanan cair/personde
4) Perhatikan saluran nafas
5) Penanganan kejang
6) Fisiotherapi
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Pengumpulan Data
1) Identitas
a) Identitas klien
b) Identitas penanggung jawab
2) Riwayat kesehatan
a) Sejak kapan klien menderita penyakit
b) Apakah ada anggota keluarga yang berpenyakit sama
c) Apakah klien pernah mengalami tindakan oprasi khususnya pengangkatan
kelenjar paratiroid atau kelenjar tiroid
d) Apakah ada riwayat penyinaran daerah leher.
3) Keluhan utama meliputi:
a) Kelainan bentuk tulang
b) Perdarahan yang sulit berhenti
c) Kejang-kejang, kesemutan dan lemah.
4) Pemeriksaan fisik
a) Sistem persarafan
(1) Parestesis: bibir, lidah, jari-jari, kaki.
(2) Kesemutan
(3) Tremor
(4) Hiperefleksia
(5) Tanda chvostek’s dan trousseau’s positif
(6) Papil edema
(7) Labilitas emosional
(8) Peka rangsang
(9) Ansietas
(10) Depresi
(11) Delirium
(12) Delusi
(13) Perubahan dalam tingkat kesadaran
(14) Tetani
(15) Kejang
b) Sistem muskuloskeletal
(1) Kekakuan
(2) Keletihan
c) Sistem cardiovaskuler
(1) Sianosis
(2) Palpitasi
(3) Disritmia jantung
d) Sistem pernafasan
(1) Suara serak
(2) Edema/stridor laring
e) Sistem gastrointestinal
(1) Mual muntah
(2) Nyeri abdomen
f) Sistem urinaria

Pembentukan kalkuli pada ginjal

g) Sistem integumen
(1) Distrofik, kering, kulit, dan kuku keras
(2) Figmentasi kutan
(3) Alopesia
(4) Tepi kuku horizontal
(5) Kuku rapuh
5) Pemeriksaan penunjang
a) Pemeriksaan laboratorium
b) Pemeriksaan radiologi
c) Pemeriksaan EKG
2. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
a. Potensial cedra berhubungan dengan resiko kejang atau tetani yang diakibatkan
oleh hipokalsemia.
1) Tujuan:

Klien tidak mengalami cedra dengan kriteria: reflek normal, tanda vital stabil,
makan diet dan obat seperti yang dianjurkan, kadar kalsium serum normal.

2) Intervensi:
Intervensi Rasional

a. Pantau tanda-tanda vital dan


reflek tiap 2 jam sampai 4 jam.
b. Pantau fungsi jantung secara
terus menerus/gambaran EKG.
c. Bila pasien dalam tirah baring
berikan bantalan paga tempat
a. untuk mengetahui kelainan sedini
tidur dan pertahakan tempat
mungkin.
tidur dalam posisi rendah.
b. Untuk mengetahui abnormalitas dari
d. Bila aktivitas kejang terjadi
gambaran EKG.
ketika pasien bangun dari
c. Untuk mencegah terjadinya injuri/jatuh.
tempat tidur, bantu pasien
d. Untuk menghindari cedra yang terjadi
untuk berjalan, singkirkan
akibat benda yang terdapat di lingkungan
benda-benda yang
sekitar klien dan mencegah kerusakan
membahayakan, bantu pasien
lebih berat akibat kejang.
dalam menangani kejang dan
e. Antisifasi terhadap hipokalsemia dengan
reorientasikan bila perlu.
cara penanganan medis.
e. Kolaborasi dengan dokter dalam
f. Pemberian kalsium yang terlalu cepat akan
menangani gejala dini dengan
mengakibatkan tromboflebitis hipotensi.
memberikan dan memantau
g. Untuk membantu memenuhi kekurangan
efektifitas cairan parenteral
kalsium dalam tubuh.
dan kalsium.
h. Untuk mengontrol kadar kalsium serum.
f. Pemberian kalsium dengan hati-
hati.
g. Berikan suplemen vitamin D
dan kalsium sesuai program.
h. Kaji ulang pemeriksaan kadar
kalsium.
b. Potensial tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan oedema laring atau
aktivitas kejang.
1) Tujuan:

Jalan nafas efektif dengan kriteria:

a) Frekwensi, irama, dan kedalaman pernafasan normal.


b) Auskultasi paru menunjukan bunyi yang bersih.
2) Intervensi:

Intervensi Rasional
a. Siapkan peralatan penghisap dan a. Supaya memudahkan karena serangan
jalan nafas oral di dekat tempat bisa secara tiba-tiba.
tidur sepanjang waktu. b. Untuk memudahkan dalam tindakan
b. Siapkan tali tracheostomi, apabila terjadi sumbatan jalan nafas.
oksigen, dan peralatan resusitasi c. Untuk mengetahui suara dan keadaan
manual siap pakai sepanjang jalan nafas.
waktu. d. Adanya stridor suatu tanda adanya
oedema laring.
Edema laring:
e. Kolaborasi dengan dokter untuk
mempertahankan jalan nafas tetap
c. Kaji upaya pernafasan dan
terbuka karena perawat terbatas akan hak
kualitas suara setiap 2 jam.
dan wewenang.
d. Auskultasi untuk mendengarkan
f. Agar perawat bisa siap-siap untuk
stridor laring setiap 4 jam.
melakukan suatu tindakan.
e. Laporkan gejala dini pada dokter
g. Untuk mencegah penekanan jalan
dan kolaborasi untuk
nafas/mempertahankan jalan nafas untuk
mempertahankan jalan nafas
tetap terbuka.
tetap terbuka.
h. Bila terjadi kejang otomatis O2 ke otak
f. Intruksikan pasien agar
menurun sehingga bisa berakibat fatal ke
menginformasikan pada perawat
seluruh jaringan tubuh termasuk
atau dokter saat pertama terjadi
pernafasan.
tanda kekakuan pada tenggorok
i. Kolaborasi dengan dokter dalam hal
atau sesak nafas.
tindakan wewenang dokter (pengobatan
g. Baringkan pasien untuk
Intervensi Rasional
mengoptimalkan bersihan jalan dan tindakan).
nafas, pertahankan kepala dalam j. Untuk mencegah terjadinya serangan
posisi kepala dalam posisi berulang.
alamiah, garis tengah.

Kejang:

h. Bila terjadi kejang: pertahankan


jalan nafas, penghisapan
orofaring sesuai indikasi,
berikan O2 sesuai pesanan,
pantau tensi, nadi, pernafasan
dan tanda-tanda neurologis,
periksa setelah terjadi kejang,
catat frekwensi, waktu, tingkat
kesadaran, bagian tubuh yang
terlibat dan lamanya aktivitas
kejang.
i. Siapkan untuk berkolaborasi
dengan dokter dalam mengatasi
status efileptikus misalnya:
intubasi, pengobatan.
j. Lanjutkan perawatan untuk
kejang.
c. Intoleran aktivitas berhubungan dengan penurunan cardiak output.
1) Tujuan:

Kien dapat memenuhi kebutuhan aktivitas dengan kriteria:

a) Tingkat aktivitas meningkat tanpa dispnoe, tachicardi atau peningkatan


tekanan darah.
b) Melakukan aktivitas tanpa bersusah payah.
2) Intervensi:
Intervensi Rasional
a. Kaji pola aktivitas yang lalu. a. Untuk membandingkan aktivitas sebelum
b. Kaji terhadap perubahan dalam sakit dan yang akan diharapkan setelah
gejala muskuloskeletal setiap 8 perawatan.
jam. b. Untuk memantau keberhasilan perawatan.
c. Kaji respon terhadap aktivitas: c. Untuk melihat suatu perkembangan
Catat perubahan tensi, nadi, perawatan terhadap aktivitas secara
pernafasan, hentikan aktivitas bila bertahap.
terjadi perubahan, tingkatkan d. Dengan merencanakan perawatan, perawat
keikutsertaan dalam kegiatan dengan klien dapat mempermudah suatu
kecil sesuai dengan peningkatan keberhasilan karena datangnya kemauan
toleransi, ajarkan pasien untuk dari klien.
memantau respon terhadap e. Untuk mengatasi kelelahan akibat latihan.
aktivitas dan untuk mengurangi, f. Untuk menghemat penggunaan energi
menghentikan atau meminta klien.
bantuan ketika terjadi perubahan.
d. Rencanakan perawatan bersama
pasien untuk menentukan
aktivitas yang ingin pasien
selesaikan: Jadwalkan bantuan
dengan orang lain.
e. Seimbangkan antara waktu
aktivitas dengan waktu istirahat.
f. Simpan benda-benda dan barang
lainnya dalam jangkauan yang
mudah bagi pasien.
d. Resti terhadap inefektif penatalaksanaan regimen therapetik berhubungan dengan
kurang pengetahuan tentang regimen diet dan medikasi.
1) Tujuan:

Klien mengerti tentang diet dan medikasinya, dengan kriteria:

Klien dan orang terdekat mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit


dan prinsip perawatan tindak lanjut dan perawatan di rumah serta pengobatan
dan diet yang diperlukan.

2) Intervensi:

Intervensi Rasional
a. Jelaskan tentang konsep dasar a. Penyuluhan tentang penyakitnya sangat
tentang proses penyakit. penting karena klien membutuhkan medikasi
b. Diskusikan alasan tentang dan modifikasi diet sepanjang hidupnya.
terjadinya perubahan fisik dan b. Agar klien mengerti akan keadaan dirinya
emosional. sehingga klien tahu tentang
c. Ajarkan pasien untuk penanggulangannya.
memeriksakan dan melaporkan c. Agar klien bisa mengontrolkan dirinya
gejala dini tetani, kesemutan, secara berkala sehingga penyakitnya bisa
tremor, tanda chvostek’s atau tertanggulangi dan tidak mengakibatkan
trusseaus positif perubahan lebih parah.
dalam upaya pernafasan. d. Orang terdekat adalah orang yang selalu
d. Ajarkan orang terdekat untuk berada dan tahu persis tentang pasien
mengenali aktivitas kejang sehingga bila terjadi sesuatu terhadap diri
pasien dan menentukan cara klien dia bisa melakukan sesuatu dan apa
yang harus dilakukan yang tidak boleh dilakukan sehingga bisa
menghindari restrain atau memperingan penyakitnya.
menghentikan prilaku, e. Untuk melatih mobilisasi sehingga klien bisa
observasi dan mencatat prilaku melakukan ADLnya.
yang diperlihatkan sebelum f. Untuk mencegah cedra akibat dari
dan selama kejang. lingkungan.
e. Tekankan aktivitas sehari-hari g. Obat-obat tersebut penting untuk
dan latihan sesuai toeransi dan mempertahankan hidupnya.
Intervensi Rasional
untuk melaporkan peningkatan h. Asupan diet yang seimbang akan
keletihan atau kelemahan otot. meningkatkan kadar kalsium darah.
f. Diskusikan tentang pentingnya
mempertahankan lingkungan
yang aman.
g. Ajarkan nama obat-obatan,
dosis, waktu dan metode
pemberian, tujuan, efek smping
dan toxik.
h. Ajarkan klien tentang diet tinggi
kalsium rendah fosfat, seperti
mengurangi susu dan keju
karena banyak mengandung
fosfor.
e. Resti terhadap inefektif penatalaksanaan regimen therapetik berhubungan dengan
kurang pengetahuan tentang regimen diet dan medikasi.
1) Tujuan:

Klien mengerti tentang diet dan medikasinya, dengan kriteria:

Klien dan orang terdekat mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit


dan prinsip perawatan tindak lanjut dan perawatan di rumah serta pengobatan
dan diet yang diperlukan.

2) Intervensi:

Intervensi Rasional
a. Jelaskan tentang konsep dasar a.Penyuluhan tentang penyakitnya sangat
tentang proses penyakit. penting karena klien membutuhkan
medikasi dan modifikasi diet sepanjang
b. Diskusikan alasan tentang
hidupnya.
terjadinya perubahan fisik dan
b.Agar klien mengerti akan keadaan
emosional.
dirinya sehingga klien tahu tentang
Intervensi Rasional
penanggulangannya.
c. Ajarkan pasien untuk memeriksakan
c.Agar klien bisa mengontrolkan dirinya
dan melaporkan gejala dini tetani,
secara berkala sehingga penyakitnya bisa
kesemutan, tremor, tanda
tertanggulangi dan tidak mengakibatkan
chvostek’s atau trusseaus positif
lebih parah.
perubahan dalam upaya
d.Orang terdekat adalah orang yang selalu
pernafasan.
berada dan tahu persis tentang pasien
sehingga bila terjadi sesuatu terhadap diri
d. Ajarkan orang terdekat untuk
klien dia bisa melakukan sesuatu dan apa
mengenali aktivitas kejang pasien
yang tidak boleh dilakukan sehingga bisa
dan menentukan cara yang harus
memperingan penyakitnya.
dilakukan menghindari restrain
e.Untuk melatih mobilisasi sehingga klien
atau menghentikan prilaku,
bisa melakukan ADLnya.
observasi dan mencatat prilaku
f.Untuk mencegah cedra akibat dari
yang diperlihatkan sebelum dan
lingkungan.
selama kejang.
g.Obat-obat tersebut penting untuk
e. Tekankan aktivitas sehari-hari dan mempertahankan hidupnya.
latihan sesuai toeransi dan untuk h.Asupan diet yang seimbang akan
melaporkan peningkatan keletihan meningkatkan kadar kalsium darah.
atau kelemahan otot.

f. Diskusikan tentang pentingnya


mempertahankan lingkungan yang
aman.

g. Ajarkan nama obat-obatan, dosis,


waktu dan metode pemberian,
tujuan, efek smping dan toxik.

h. Ajarkan klien tentang diet tinggi


kalsium rendah fosfat, seperti
mengurangi susu dan keju karena
banyak mengandung fosfor.
DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, C . Suzanne,dkk.2002.Buku Ajar keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Vol 1.


Jakarta: EGC

Hudak & Gallo.2001.Keperawatan Kritis, Edisi VI,Vol I, Jakarta: EGC

Doengoes,ME.2000.Asuhan Keperawatan Edisi 3.Jakarta: EGC