Anda di halaman 1dari 31

Pembuatan Pulp dengan Bahan Baku Jerami

Melalui Proses Basa


January 4, 2015 agribisnisternak Leave a comment

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perkembangan industri pulp di Indonesia berjalan dengan cepat, tetapi hal tersebut tidak
diimbangi dengan pasokan bahan baku yang memadai. Saat ini, sebagian besar industri tersebut
berjalan pada kapasitas terpasangnya bahan baku dari hutan alam yang semakin menipis dan
mahal. Fakta tersebut diperkuat oleh pernyataan Lestari (2010) berdasarkan data statistik
Kementerian Kehutanan Republik Indonesia 2009 yang mencatat bahwa laju kerusakan hutan
Indonesia mencapai 1,08 ha/tahun. Maka untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu ada
upaya konversi bahan baku kayu dengan memanfaatkan hasil hutan non kayu berlignoselulosa
sebagai substitusinya.

Jerami merupakan limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pulping yang
mudah di dapatkan dan merupakan energi yang terbarukan. Juga jerami dapat langsung
digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas. Penggunaan jerami sebagai bahan baku kertas
dapat digunakan setelah masa panen padi yaitu sekitar 2 bulan. Berbeda dengan kayu yang masa
pertumbuhannya sampai tahunan, juga jika menggunakan bahan baku kayu maka akan
menyebabkan berbagai kerugian antara lain bencana alam (Macklin, 2009).

Perkembangan pendidikan dunia yang semakin meningkat, akan berbanding lurus dengan
konsusmsi kertas dunia. Kertas adalah bahan yang tipis dan rata, yang dihasilkan dengan
kompresi serat yang berasal dari pulp. Serat yang digunakan biasanya adalah alami, dan
mengandung selulosa dan hemiselulosa. Dengan demikian inilah yang menjadi latar belakang
penulis melakukan praktikum yang berjudul Pembuatan Kertas dari Jerami Secara Proses Basa.

Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum yang berjudul Pembuatan Kertas dari Jerami Secara Proses Basa
adalah untuk mengetahui kualitas kertas yang dihasilkan dari bahan baku jerami dan
menggolongkannya kedalam kelas layak pakai atau tidak.

TINJAUAN PUSTAKA

Jerami Padi (Oriza sativa)

Jerami adalah bagian vegetatif dari tanaman padi (batang, daun, tangkai malai). Ketiga unsur ini
relatif kuat karena mengandung unsur silika, dan selulosa yang tinggi serta pelapukan yang
memerlukan waktu yang relatif lama. Pada waktu tanaman dipanen, jerami adalah bagian
tanaman yang tidak dipungut. Bobot jerami padi merupakan fungsi dari (a) rejim air, (b) varietas,
nisbah/ gabah jerami, ( c ) cara budidaya, (d) kesuburan tanah, dan (e) musim, iklim, dan tinggi
tempat (Makarim, 2007).

Natrium Hidroksida (NaOH)

Natrium hidroksida (NaOH) adalah suatu basa yang umum digunakan di laboratorium. Namun
demikian, karena padatan natrium hidroksida sulit diperoleh dalam keadaan murni, larutan
natrium hidroksida harus distandarisasi terlebih dahulu dalam kerja analitis yang memerlukan
keakuratan. Kita dapat menstandarisasi lautan hidroksida dengan menitrasinya dengan
menggunakan larutas asam yang sudah diketahui konsentrasinya secara tepat (Chang, 2003).

Natrium hidroksida (NaOH) sering disebut dengan kaustik soda atau soda api. NaOH merupakan
senyawa alkali yang bersifat basa dan mampu menetralisir asam. Bentuknya kristal putih dan
cepat menyerap kelembaban (Hambali, et al., 2006).

Adapun beberapa sifat dari Natrium Hidroksida (Perry & Green, 1999) yaitu :

 Berat Molekul : 40 gr/mol


 Densitas : 1040 kg/m3
 Titik lebur : 318,4 C
 Titik Didih : 1390 C
 Kelarutan dalam air : 111 g/100 ml (20 C)
 Berupa Kristal putih

Pulp

Pulp adalah produk utama kayu, terutama digunakan untuk pembuatan kertas, tetapi pulp juga
diproses menjadi berbagai turunan selulosa, seperti rayon dan selofan. Pulp sering juga disebut
hasil pemisahan serat dari bahan baku berserat (kayu maupun non kayu) melalui berbagai proses
pembuatannya (mekanis, semikimia, kimia). Tujuan utama pembuatan pulp kayu adalah untuk
melepaskan serat-serat yang dapat dikerjakan secara kimia, atau secara mekanik atau dengan
kombinasi keduanya. Prinsip pembuatan pulp secara mekanis yakni dengan pengikisan dengan
menggunakan alat seperti grinda. Proses mekanis yang biasa dikenal diantaranya PGW (Pine
Groundwood), SGW (Semi Groundwood). Proses semi kimia merupakan kombinasi antara
mekanis dan kimia. Yang termasuk ke dalam proses ini diantaranya CTMP (Chemi Thermo
Mechanical Pulping) , NSSC (Neutral Sulfite Semichemical). Sedangkan yang termasuk proses
kimia yaitu proses kraft yang merupakan bagian proses basa dan proses sulfit yang termasuk
proses asam. Dimana proses kraft ini pertama sekali dikenal di Swedia pada tahun 1885. Disebut
kraft karena pulp yang dihasilkan dari proses ini memiliki kekuatan lebih tinggi dari pada proses
mekanis dan semikimia, akan tetapi rendemen yang dihasilkan lebih kecil diantara keduanya
karena komponen yang terdegradasi lebih banyak (lignin, ekstraktif dan mineral) (wikipedia,
2009).

Pulping
Pulping adalah hasil pemisahan serat dari bahan baku berserat (kayu maupun non kayu)melalui
berbagai proses pembuatannya (mekanis, semikimia, kimia).Pulp terdiri dari serat – serat
(selulosa dan hemiselulosa) sebagai bahan baku kertas .Proses pembuatan pulp diantaranya
dilakukan dengan proses mekanis , kimia , dan semikimia. Prinsip pembuatan pulp secara
mekanis yakni dengan pengikisan dengan menggunakan alat seperti gerinda. Proses mekanis
yang biasa dikenal diantaranya PGW (Pine Groundwood), SGW (Semi Groundwood). Proses
semi kimia merupakan kombinasi antara mekanis dan kimia. Yang termasuk ke dalam proses ini
diantaranya CTMP (Chemi Thermo Mechanical Pulping) dengan memanfaatkan suhu untuk
mendegradasi lignin sehingga diperoleh pulp yang memiliki rendemen yang lebih rendah dengan
kualitas yang lebih baik daripada pulp dengan proses mekanis (Macklin, 2009).

Selulosa

Adapun faktor yang membuat selulosa disenangi untuk produksi pulp dan

kertas adalah (Murugan, 1996) :

1. Jumlahnya berlimpah, dapat melengkapi, dan mudah dipanen dan dipindah-pindahkan


dan akibatnya bahan ini murah harganya.
2. Zat ini umumnya berbentuk serat, dan kekuatan tariknya benar-benar tinggi.
3. Zat ini bisa menarik air, yang mempermudah persiapan mekanik dari serat-serat atau
ikatan-ikatan serat ketika campuaran serat tadi dikeringkan
4. Zat ini tidak dapat larut dalam air dan pelarut-pelarut organik
5. Tahan terhadap sejumlah bahan kimia yang menyebabkan dapat diisolasi dan dimurnikan
dari kayu yang merupakan sumber utama selulosa.

Kertas

Kertas merupakan alat dokumentasi, komunikasi, administrasi, dan transaksi yang sampai saat
ini tetap menjadi pilihan utama. Pengguna kertas hamper di setiap kota besar, yang memiliki
kegiatan atau lalu lintas perekonomian tinggi. Di kota- kota tersebut terdapat sejumlah besar
pertokoan, perkantoran, lembaga baik profit maupun non profit, sekolah, Perguruan Tinggi dan
sebagainya. Semua komponen tersebut adalah pengguna kertas yang tinggi (Maulana, ____)

BAHAN DAN METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat

Praktikum Pulp dan Kertas yang berjudul Pembuatan Kertas Tradisional dari Jerami Padi (Oriza
sativa) dilaksanakan pada hari Sabtu, 30 Oktober 2010 di Laboratorium Teknologi Hasil Hutan,
Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah parang, talenan, hot plate, gelas ukur 1000 ml,
spatula kaca, aluminium foil, saringan, kertas saring, cawan petri, oven, blender dan plastik
berbentuk lingkaran.

Bahan yang digunakan adalah 100 g jerami dengan panjang + 1 cm, NaOH (natrium hidroksida),
tepung kanji dan H2O (air).

Prosedur

Proses pulping (pembuburan)

1. Disiapkan + 100 g bahan baku (jerami kering)


2. Dipotong jerami dengan panjang + 1 cm
3. Disiapkan larutan NaOH 1 L sebanyak 6 %
4. Dimasak selama 3–4 jam sehingga menjadi bubur

Pengujian kadar air pulp

1. Diambil 2 g jerami kering yang telah dipulping dan dimasukkan dalam cawan petri
2. Dioven pada suhu 103 + 2 0C sampai beratnya konstan sebanyak 5 kali ulangan
3. Dihitung kadar airnya

Pembuatan lembaran

1. Ditimbang pulp sebanyak 3 g


2. Ditambahkan tepung kanji dengan perbandingan 1:1, 1:2 antara jerami dengan kanji
sebanyak 5 kali ulangan
3. Diaduk dan ditambahkan air secukupnya
4. Diblender sampai halus
5. Dibuat lembaran kertas di atas plastik berbentuklingkaran
6. Dikeringkan sampai kertas bisa diambil dari plastik

DAFTAR PUSTAKA

Chang, R. 2003. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti. Edisi Ketiga. Jilid I. Erlangga. Jakarta.

Hambali, E., Ani S., Dadang, Hariyadi, Hasim H., Iman K. R., Mira R., M. Ihsahnur, Prayoga S.,
Soekisman T., Tatang H. S., Theresia P., Tito P., dan Wahyu P. 2006. Jarak Pagar Tanaman
Penghasil Biodisel. Penebar Swadaya. Depok.

Makarim, A. K. 2007. Jerami Padi Pengelolaannya dan Pemanfaatannya. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Tanaman Pangan. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Agro Inovasi.
Bogor.

Macklin, B. 2009. Pulping Jerami. Online Buku. Bandung.


Maulana, A., Sungkono. __________. Karakterisasi Mesin Peminat Bubur Kertas (Pulper)
dengan Kapasitas 50kg. Fakultas Teknik Universitas Nasional. Jakarta.

Murugan, B. 1996. Proses Kraft Pulping. PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk Perawang.

Perry, Robert H. dan Dow W. Green. 1999. Chemical Engineering HandBook. 7th Edition. New
York: McGraw-Hill Book Company.

Wikipedia. 2009. http://www.wikipedia.co.id/ Pulp. 04 November 2010.


Dosen Ubaya Teliti Kertas Berbahan Jerami

Dosen Ubaya Teliti Kertas Berbahan Jerami

TENGGILIS MEJOYO – Membuat kertas berbahan batang jerami? Kenapa tidak. Bahkan, dari
hasil penelitian dosen Teknik Kimia Universitas Surabaya (Ubaya) Natalia Suseno, kertas juga
bisa dibuat dari bahan baku lain, seperti daun nanas, serat garut, dan kulit jagung.

"Bahan baku lain tentu kertas bekas yang mudah ditemukan di kantor-kantor administrasi. Biar
tidak hanya dibuang, tapi dapat dimanfaatkan lebih baik lagi," ujar Natalia kemarin.

Dia menjelaskan, melalui penelitian itu, pihaknya ingin mengubah mindset bahwa kertas tak
hanya terbuat dari serbuk kayu. Tetapi, ada alternatif bahan pembuat kertas, yakni serat yang
mengandung selulosa. "Yang jelas, kalau lebih dari 30 persen kadar selulosanya, bisa dibikin
kertas," ujarnya.

Serat kayu memiliki selulosa 38–42 persen. Sedangkan selulosa nonkayu 30–40 persen. "Jerami
juga punya kadar selulosa yang cukup untuk membuar kertas,"
imbuh Natalia.

Pembuatan kertas tersebut cukup mudah. Kemarin dia langsung mempraktikkan cara membuat
kertas dengan bahan baku jerami. Proses itu dimulai dengan menggiling jerami kering sampai
halus dengan ukuran tertentu. Selanjutnya, bahan tersebut dimasak dengan larutan kimia. Proses
tersebut digunakan untuk memisahkan selulosa dengan lignin yang terdapat pada serat.

"Diatur juga konsentrasi larutan kimianya, pun suhu dan waktu pemasakan. Itu salah satu yang
mempengaruhi kualitas kertas," ujarnya. Setelah dimasak, kertas
tersebut akan menjadi bubur kertas yang siap dicetak.

Alumnus ITS itu pun menunjukkan beberapa hasil kertas yang sudah jadi. Pada kertas berbahan
baku jerami, masih terlihat tekstur serbuk jerami yang tersebar. Saat dipegang, kertas itu juga
terasa lebih kaku daripada kertas tulis yang biasa ditemui di pasaran. Ada pula kertas dari
beberapa bahan lain yang telah dipajang di etalase laboratorium. Namun, terang Natalia, kertas
hasil penelitiannya itu masih butuh penyempurnaan lagi. (jun/c11/hud)

Dikutip dari: Jawa Pos, Kamis 15 Desember 2011

Ubaya Produksi Kertas dari Jerami Padi

Rabu, 14 Desember 2011


SURABAYA I SURYA Online - Universitas Surabaya (Ubaya) terus mengembangkan
penelitian pengembangan bahan baku produksi kertas. Setelah sebelumnya sukses memanfaatkan
limbah tanaman nanas, jagung, hingga serat garut, kini dikembangkan bahan baku dari serat
limbah jerami padi.

Saat ini, bahan baku itu terus dikembangkan untuk mendapatkan kualitas kertas yang maksimal.
Selain kuat karena seratnya banyak juga kandungan lignin rendah sehingga kertas mudah larut
begitu kena air.

“Ini terus kita kembangkan agar menghasilkan selusa tinggi dan kandungan lignin makin
ditekan. Semua agar kualitas kertas makin bagus dan makin kuat,” kata Natalia Suseno, dosen
Teknik Kimia Ubaya, saat ditemui di Laboratorium Polimer dan Membran Fakultas Teknik,
Rabu (14/12/2011).

Natalia dibantu asistennya yang juga seorang laboran, Diah Ayu Ambarsari, menunjukkan jerami
padi yang sudah dihancurkan. Biasanya, bahan baku serat alam untuk kertas menghasilkan
separo dari bahan baku. Misalnya, 10 kg jerami bisa menghasilkan 5 kg kertas.

Dikutip dari: http://www.surya.co.id


A.PEMBUATAN PLUP KERTAS
Jerami yang diperoleh dari limbah peternakan sapi dipotong-potong dan
dikeringkan.Sebanyak 100 gram jerami kering yang telah di potong kurang lebih satu cm di
masak dengan larutan NaOH 6% sebanyak 250 ml yang bertujuan untuk menghilangkan lignin
dan molekul molekul pengotor lainya yang ada dalam jerami padi

Pemanasan dilakukan selama beberapa 60 menit sampai larutan mendidih dan jerami
terasa lunak atau mudah di putus dengan tangan dan terasa lengket, hal ini menunjukan bahwa
jerami telah siap dihancurkan secara mekanik.Lignin yang hilang atau larut dalam air dapat
ditandai dengan larutan yang berwarna coklat, larutan coklat tebentuk karena lignin dan
pengotor-pengotor lainya larut dalam NaOH, setelah di cuci dengan air bersih selama beberapa
kali agar jerami tadi bersih dan di hancurkan secara mekanik dengan menggunakan blender
B.PEMBUATAN KERTAS PADA SCREEN

Pada penelitian ini kertas teknik yang digunakan sama seperti membuat kertas daur ulang
yang masih menggunakan alat sederhana berupa screen yang terbuat kayu dan kain kasa yang di
buat yang di dibuat dicetak diatas screen yang di buat sendiri dengan ukuran 40 cm x 60 cm
Sebanyak 100 gram pulp yang diperoleh di campur dengan 100 gram kanji dan 100 ml air
(perbandingan 1:1) di campur dan di aduk hingga rata dengan pengadukan mekanik,setelah
larutan tercampur di beri pewarna untuk memperindah warna pada kertas,setelah cukup rata
kemudian dituang di atas screen yang telah disiapkan dengan menggunakan kayu halus
kemudian diratakan,air yang keluar kemudian di serap menggunakan spon,setelah cukup kering
kertas di pindahkan ke triplek yang di lapisi kain dan di jemur di bawah sinar matahari,setelah
kering terbentuklah kertas
Kertas yang di buat dari jerami padi pada penilitian ini sama seperti kertas yang dibuat dengan
kertas yang di buat dari daur ulang,hal ini di sebabkan teknik yang di gunakan masih sangat
sederhana dan dan tidak di lakukan dengan pengepresan sehingga kerta yang dihasilkan masih
tebal dan kurang putih seperti kertas HVS pada umumnya,sehingga di beri pewarnaan untuk
memperbagus hasil dari pembuatan kertas dengan teknik ini.
makalah:kertas dari jerami padi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pulp adalah bahan berupa serat berwarna putih yang diperoleh melalui proses
penyisihan lingnin dari biomasa. Di negara kita banyak terdapat berbagai jenis tumbuh-
tumbuhan seperti akasia, pinus, bambu, padi dan lain-lain , yang dapat dijadikan sebagai
bahan baku untuk pembuatan pulp, dimana bahan baku yang sebagian besar digunakan adalah
dari kayu-kayuan. Kekurangan pemasokan bahan baku kayu untuk produksi pulp yang
disebabkan oleh isu lingkungan menyebabkan naiknya harga kertas. Untuk mengatasi hal
tersebut, maka harus dicari bahan baku alternatif untuk menghasilakn pulp (Johanson, dkk,
1987).
Jerami Padi adalah salah satu bahan baku utama yang digunakan untuk produksi pupl
dan kertas. Dalam konteks masa depan, jerami padi akan memainkan peranan yang penting
dalam industri pupl, khususnya negara-negara berkembang yang mempunyai suplemen batas
kayu, sementara bahan selain kayu banyak tersedia. Jerami padi merupakan salah satu bahan
baku potensial yang tersedia dibeberapa negara didunia. Penelitian tentang pemanfaatan
jerami padi sebagai bahan baku pulp dan kertas yang telah dilakukan kebanyakan
menggunakan proses organosolv. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pulp yang
dihasilkan jerami padi tidak kalah dengan pulp dari bahan lainnya. Selain itu juga memiliki
beberapa keuntungan , diantaranya ramah lingkungan (Mierly, dkk, 1981).
Selama ini proses konvensional banyak digunakan dalam pembuatan pulp, dimana
proses tersebut terdiri dari tiga metode, yaitu metode mekanis, metode semi kimia, dan
metode kimia. Diantara ketiga metode tersebut paling sering digunakan adalah metode kimia
dengan menggunakan proses kraft tetapi karena rendeman pulp masih rendah maka
dikembangkanlah proses alternatif lain, proses tersebut adalah proses organosolv, yaitu
pemprosesan menggunakan pelarut organik. Prinsipnya adalah melakukan fraksionasi biomasa
menjadi komponen utama penyusunnya (selulosa, hemiselulosa, dan lignin ) tanpa banyak
merusak ataupun mengubahnya dan dapat diolah lelbih lanjut menjadi produk yang dapat
dipasarkan. Kelebihan dari proses organosolv dibandingkan dengan proses konvensional
adalah :
1. Berdampak kecil bagi lingkungan yaitu tidak menimbulkan pencemaran seperti gas-gas yang
disebabkan oleh belerang.
2. Cairan pemasak (pelarut organik) bekas dapat digunakan kembali, setelah dimurnikan
terlebih dahulu.
3. Produk samping mempunyai daya jual seperti glukosa, heksosa, fulfural, adhesive, serta
bahan-bahan kimia ( Jiemenez, dkk, 1997)
Berbagai pelarut organik yang dapat digunakan sebagai media delignifikasi antara lain
alkohol, asam amina, glikol, keton, ester, dan turunan penol (Johannes, dkk, 1977).

Salah satu pelarut organik yang dikembangkan pemakaiannya adalah etanol.


Pembuatan pulp dari jerami padi dengan proses etanol diharapkan dapat menghasilkan pulp
dengan kandungan lignin rendah dan kandungan selulosa tinggi.

1.2 Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan mencari kondisi optimum proses delignifikasi, yaitu pengaruh
temperatur pemasukan, pengaruh waktu pemasakan, dan pengaruh konsentrasi katalis NaOH,
untuk memperoleh pulp dengan kandungan selulosa lebih besar dari 90% sehingga memenuhi
syarat bahan baku pembuatan selulosa asetat.

1.3 Manfaat Penelitian


Penelitian ini diharapkan dapt memberikan manfaat, antara lain dapat diperoleh
kondisi optimum proses delignifikasi sehingga memberikan alternatif baru bagi pengolahan
limbah jerami padi , menjadi bahan baku kimia, salah satunya bahan baku pembuatan kertas,
yaitu pulp.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Limbah Padat Jerami Padi

Jerami Padi merupakan biomassa dengan kandungan selulosa terbesar, disamping


hemiselulosa dan lignin dalam jumlah yang lebih kecil. Perbandingan komposisi kimia jerami
padi dengan beberapa biomassa lainnya dapat dilihat pada komposisi kimia jerami padi
dengan beberapa biomassa lainnya dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Komposisi Kimia beberapa Biomassa

Biomassa Selulosa Hemiselulosa Lignin Abu


lignoselulosa
(% Berat) (% Berat) (% Berat) (% Berat)

Sekam Padi 58,852 18,03 20,9 0,6-1

Jerami gandum 29-37 26-32 16-21 4-9

Jerami Padi 28-36 23-28 12-16 15-20

Tandan Kosong 36-42 25-27 15-17 0,7-6


Kelapa sawit

Ampas tebu 32-44 27-32 19-24 1,5-5

Bambu 26-43 15-26 21-31 1,7-5

Rumput Esparto 33-38 27-32 17-19 6-8

Kayu Keras 40-45 7-14 26-43 1

Kayu lunak 38-49 19-20 23-30 1

Sumber : Mierly, (1981)

2.2 Komponen-Komponen Lignoselulosa


Komponen-komponen yang terdapat dalam jerami padi terdiri dari berbagai komponen
penyusun, diantaranya adalah komponen-komponen lignoselulosa yang terdiri dari komponen-
komponen sebagai berikut :

2.2.1 Seluosa

Selulosa merupakan komponen biomasa terbesar , berfungsi sebagai pembentuk


struktur utama dinding sel tumbuhan. Selulosa adalah polisakarida yang tersusun atas β – D
glukopiranosa yang terikat satu sama lainnya dengan ikatan-ikatan glikosida (C-O-C). Molekul-
molekul selulosa membentuk mikrofibril, yang memiliki bagian yang sangat teratur (kristalin)
dengan diselingi bagian yang kurang teratur (amorft) . Rumus kimia untuk ikatan 1,4 – β – D –
Glukopiranosa masing-masing diperlihatkan pada gambar 2.1a dan 2.1b.

Gambar 2.1a . Ikatan 1,4 – β – D – Glukopiranosa


Gambar 2.1a . Ikatan 1,6 – β – D – Glukopiranosa

Gambar 2.2 Struktur Selulosa

Permukaan rantai-rantai selulosa penuh dengan gugus-gusu OH. Gugus-gugus –OH


tersebut tidak hanya menentukan struktur supra molekul tetapi juga menentukan sifat fisika
dan kimia selulosa. Sifat-sifat mekanik lembaran pulp atau kertas ditentukan oleh ikatan
antar serat yang dihasilkan oleh ikatan –H antara permukaan –permukaan serat ( Fengel D,
1983). Sifat-sifat permukaan serat, terutama jumlah gugus-gugus OH yang dapat membentuk
ikatan antar serat menentukan kekuatan suatu lembaran dan tergantung pada proses isolasi (
Fengel D, 1983).

Rumus kimia dari selulosa adalah (C6H10O5)n , dengan n sebagai jumlah pengulangan
unit-unit gula atau ukuran rantai polimer yang dinyatakan dengan derajat polimerisasi (DP) .
Besarnya derajat polimerisasi selulosa bervariasi menurut asal selulosa dan pengolahan yang
dilakukan. Pulp komersial biasanya diperoleh dari bahan kayu dengan selulosa yang memiliki
DP berat rat-rat 600- 1500. Struktur selulosa secara umum diperhatikan pada Gambar 2.2.

Selulosa tidak larut dalam kebanyakan pelarut, tetapi dapat dilarutkan oleh beberapa
asam pekat, seperti : asam sulfat (72%) , asam klorida( 41%), dan asam trifluoro asetat
(100%). Asam maupun enzim dapat menghidrolisis selulosa menjadi monosakarida. Umumnya
kenaikan temperatur dan tekanan dapat meningkatkan laju hidrolisis oleh asam. Adanya lignin
dan hemiselulosa di selulosa merupakan penghambat terhidrolisisnya selulosa ( Fengel. D,
1983).

2.2.2 Hemiselulosa

Hemiselulosa termasuk dalam kelompok polisakarida tetapi berbeda dengan


selulosa, karena memiliki berbagai unit gula, rantai molekul yang lebih pendek, dan adanya
percabangan rantai molekul. Komposisi dan jenis monomer hemiselulosa berbeda-beda untuk
berbagai jenis tanaman. Manosa merupakan monomer terbanyak dalam hemiselulosa kayu
lunak, diikuti oleh selulosa, glukosa, galaktosa, dan arabinosa. Pada kayu keras, selilosa
merupakan monomer utama hemiselulosa, diikuti dengan manosa, glukosa, galaktosa, serta
sejumlah kecil arabinosa. Gula penyusun hemiselulosa sama seperti gula penyusun selulosa
yaitu glukosa, manosa, galaktosa, arabinosa, dan asam glukonat. Beberapa sifat hemiselulosa
antara lain sedikit larut dalam air, larut dalam mineral encer, alkali encer, dan pelarut
organik. (Susanto, 1998).

2.2.3 Lignin

Lignin merupakan komponen makromolekul ketiga yang terdapat dalam


biomassa, berfungsi sebagai pengikat antar serat. Kandungan lignin dalam biomassa bervariasi
menurut spesies dan bagian tanaman. Kebanyakan biomassa kayu mempunyai kandungan
lignin antara 20-40%.

Struktur molekul lignin terdiri dari sistem aromatik yang tersusun atas unit-unit
fenilpropan. Rumus sturktur lignin dapat digambarkan dengan 16 unit fenilpropan yang
menunjukkan sebagian makromolekul lignin. Berat molekul lignin bisa mencapai 11.000
dengan kandungan unit fenilpropan sekitar 60.

Pengisolasian lignin dapat dilakukan dengan hidrolisis dan ekstraksi atau dengan
mengubahnya menjadi turunan lignin yang dapat larut. Beberapa sifat lignin antara lignin
antara lain tidak larut dalam air, asam mineral, dan larut parsial dalam asam organik pekat,
dan larutan alkali encer. ( Susanto, 1998),

2.3 Proses Pembuatan Pulp Secara Konvensional

Sebagian besar pulp yang diproduksi didunia pada saat ini (80%) menggunakan
proses kraft, hanya sebagian kecil yang menggunakan proses kraft. Cairan pemasak yang
digunakan pada proses kraft adalah NaOH ditambah dengan pemasak aliran bawah vertikal,
pada temperatur 160- 180oC , tekanan 7-11 bar dan waktu pemasakan 4-6 jam.

Setelah pemasakan , pulp dan lindi pemasak (lindi hitam) dikeluarkan dari bagian
bawah bejana pada tekanan yang diturunkan masuk kedalam tangki penghembus. Kotoran
ukuran besar yang tidak cukup masak (mata kayu) disaring pada penyaring mata kayu dan
dikembalikan kedalam bejana untuk pemasakan ulang, lalu lindi pamasak bekas dikeluarkan .
Setelah pencucian pulp dengan arus yang berlawanan diproses lebih lanjut sedikit dan
akhirnya dikentalkan dan disimpan untuk diproses lebih lanjut.

Keuntungan –keuntungan proses kraft adalah :

· Selektivitas delignifikasi lebih tinggi


· Sifat-sifat pulp lebih baik
· Pemulihan bahan kimia lebih sederhana
Selain itu, kerugian –kerugian dari penggunaan proses kraft adalah :

· Rendemen pulp rendah


· Warna pulp yang gelap
· Memerlukan proses belaching yang sangat efisiensi

2.4 Pembuatan Pulp dengan Pelarut Organik


Pembuatan pulp dengan menggunakan pelarut organik telah menjadi metode
alternatif : bagi proses –proses pembuatan pulp konvensional. Proses pembuatan pulp dengan
pelarut organik dapat dilihat pada gambar 2.6.

Berbagai pelarut organik yang dapat digunakan sebagai delignifikasi anatara lain :
Alkohol, asam amina, glikol, ester, fenol, dan turunan fenol (Johannson, dkk, 1987). Pelarut
organik yang pertama kali digunakan untuk proses pembuatan pulp ialah Etanol-HCl yang
digunakan oleh klason pada tahun 1893, kemudian pulp dengan menggunakan campuran
etanol-air dan metanol-air tanpa penambahan katalis, tetapi dield pulp sangat rendah dan
merendukan temperatur yang tinggi (Jimenez, dkk.1997). Pelestarian terhadap
pelestarian lingkungan dan konservasi sumber daya alam turut mendorong berkembangnya
penggunaan pelarut organik sebagai media delignifikasi. Pembuatan pulp dengan pelarut
organik dikembangkan berdasarkan pemisahan selektif dari komponen utama biomassa
(selulosa, hemiselulosa, dan lignin), melalui perbedaan sifat kimia komponen penyusunnya.

Kemudian sarkanen (1990), mengembangkan proses tersebut dengan penambahan sedikit


katalis NaOH (7-12%), dengan menambahkan katalis tersebut dapat menurunkan temperatur
reaksi sampai 30oC.

Keuntungan proses etanol adalah :

1. Menghasilkan produk samping yang mempunyai daya jaul


2. Ramah lingkungan ( tidak menimbulkan bau;)
3. Cairan pemasak mudah unutk dipulihkan kembali
Disamping proses etanol terdapat juga proses lain yaitu proses asam asetat, dimana
keuntungan dari proses asam asetat itu adalah :

1. Keluwesan dalam pengoperasian , dapat dilakukan pada tekanan dan temperatur rendah atau
tinggi dan dapat dilakukan dengan atau tanpa katalis
2. Selektivitas delignifikasi yang baik untuk mempertahankan selulosa.Dibandingkan dengan
proses etanol, proses aam asetat ini tidak jauh berbeda dalam hal keuntungan dibidang
lingkungan. Namun saat ini para peneliti mencoba mengembangkan proses etanol
erami Sebagai Alternatif Pengganti Bahan
Baku Kertas
 4 Komentar

Melihat dari tahun ke tahun prospek industri kertas sangat diminati para investor dalam / luar
negeri. Mengingat hal tersebut maka kebutuhan serat sebagai bahan baku akan meningkat.

Kenaikan akan serat diperlukan agar dapat mendukung sasaran produksi kertas industri yang
selanjutnya menunjang pertumbuhan ekonomi secara nasional, juga diharapkan perkembangan
industri serat dan kertas berorientasi pada lingkungan dengan teknologi yang memadai. Di
samping kelestarian hutan yang tetap dipelihara, maka segala jenis tanaman yang berpotensi
serat dapat dikembangkan sebagai sumber bahan baku kertas dengan pengolahan yang ramah
lingkungan bertujuan untuk :

– Mengurangi polusi.
– Mendapatkan sumber serat.
– Menciptakan lapangan kerja bagi keluarga.

Pembuatan serat juga bertujuan untuk menunjang kebutuhan atas pulp bahan baku kertas yang
berupa serat non kayu yang ramah lingkungan, juga untuk meningkatkan pendapatan para
petani atau masyarakat di daerah.

– Keuntungan untuk perusahaan yang akan diperoleh dalam jangka panjang sangat menunjang
perusahaan yang hanya mengandalkan waste paper dari para pemulung maupun lainnya yang
sewaktu – waktu mengendalikan harga jual waste paper/box.

– Adapun keuntungan bagi masyarakat umumnya para petani akan mendapatkan keuntungan
dengan memanfaatkan sumber serat non kayu yang selama ini dibuang sia – sia dan selanjutnya
diolah mejadi pulp setengah jadi untuk dijual.

Sumber bahan baku serat yang sangat melimpah di daerah – daerah pertanian seperti :

 kelapa sawit merupakan sumber yang berkualitas baik untuk pembuatan kertas.
Pemafaatan ex kelapa sawit antara lain : pelepah, tandan, sekam.

 Kaso, Perumpung dan Bambu. Tanaman kaso dan perumpung disebut tanaman perdu
yang banyak tumbuh di areal tanah mati maupun dilereng – lereng pegunungan yang
hidup secara liar dan mudah didapatkan.

 Jerami padi. Jerami padi merupakan limbah hasil tani yang selama ini hanya dibakar
oleh petani untuk dijadikan sumber serat yang sangat melimpah hingga 2 – 3 kali di
musim tanam dalam setahun.
PROSES
Proses pembuatan pulp sangat sederhana yang bersifat ramah lingkungan serta mudah dilakukan
oleh petani dan masyarakat pedesaan.

Alat dan bahan :


– kneader alat penggiling jerami
– kapur/soda bahan perendam jerami
– kolam perendam

Jerami hasil panen yang telah terkumpulkan masukan ke dalam kolam redaman, serta
ditambahkan kapur/soda. Hasil rendaman ditiriskan lalu digiling dengan kneader, hasil gilingan
dijemur hingga kadar air berkurang. Hasil gilingan yang telah dijemur dikemas untuk segera
dijual ke perusahaan pendukung.

Proses Pembuatan Pulp Menggunakan Jerami

By : Gunawan Surya
Report this ad

Berbagi Tak Pernah Rugi

Skip to content

 Home
 About
 Batik Klewer
 Buku Tamu
 BukuKu
 Download
 Jualanku
 Promi

← Potential Advantages of A1 Isolate

Akhirnya Bisa Membuat Pulp dari Jerami →

BioPulping Jerami
Posted on April 15, 2008 | 30 Comments

Saat ini aku sedang mengerjakan penelitian pengomposan limbah sludge pabrik kertas di salah
satu pabrik kertas di bekasi, jawa barat. Selama mengerjakan penelitian ini, aku ditantang oleh
salah satu direkturnya, yaitu untuk membuat pulp dari jerami. Tadinya aku kurang yakin dengan
tantangan ini, tapi alasannya sangat menarik perhatiankku.

Pengalaman kerja dengan jerami

Sebelumnya aku punya pengalaman dengan pengomposan jerami. Jadi sedikit banyak aku
mengenal bahan ini. Menurutku sih jerami ini agak sedikit susah dikomposkan, kata orang sih
karena jerami mengandung banyak silika (Si). Tapi walaupun sulit aku sudah bisa
mengomposkan jerami dan saat ini mulai banyak digunakan oleh petani.
Potensi jerami cukup besar. Aku pernah mencoba menghitung berapa jerami yang dihasilkan
dalam satu ha sawah. Ternyata jumlahnya mencapai 20 ton jerami basah. Lumayan juga kan…

Koleksi Jamur Pelapuk Putih

Selama meneliti masalah pengomposan ini aku juga sering mengisolasi atau mengkoleksi banyak
jamur pelapuk, khususnya jamur pelapuk putih. Beberapa kolegaku di BPBPI juga mengkoleksi
jamur pelapuk putih. Biasanya kalau ada waktu dan biaya baru kami mencoba menguji potensi
dari jamur-jamur pelapuk putih ini.

Nah, aku pernah mencoba menumbuhkan jamur-jamur ini di limbah sludge kertas dan jerami.
Sebenarnya cuma mau menguji apakah jamur-jamur ini bisa tumbuh di dalam kedua bahan
tersebut. Ada sekitar 12 isolat yang aku uji. Ada yang bisa tumbuh ada yang tidak bisa tumbuh,
ada juga yang tumbuhnya sedikit sekali.

Potensi Jerami sebagai Bahan Baku Pulp

Beberapa waktu yang lalu aku bertemu dengan salah satu direktur pabrik kertas. Beliau
menceritakan bahwa saat ini pabrik mengalami kesulitan untuk mendapatkan bahan baku kayu
untuk pulp. Bahkan sudah beberapa bulan ini mereka hanya menggunakan limbah kertas sebagai
bahan bakunya. Mereka mencoba alternatif lain sebagai bahan baku kertas. Salah satunya adalah
jerami padi.

Mereka sudah mencoba jerami sebagai pulp dan bisa. Tapi dengan cara kimia. Cara ini agak
mahal dan terutama masalah limbahnya yang masih jadi kendala. Mereka mengatakan bahwa di
Australia ada penelitan yang sudah bisa membuat pulp dari jerami dengan cara biologis,
biopulping. Mereka ingin mencobanya dan menantang kami untuk membuat biopulping ini.
Menurut mereka potensinya sangat besar. Pulp ini akan diexport ke jepang. Pasarnya sangat
besar. Saat ini saja kabarnya baru sekitar 8% dari permintaan pasar jepang yang bisa dipenuhi
oleh salah satu pabrik kertas di Indonesia.

Ditambah lagi mereka punya anak perusahaan yang bergerak di bidang padi hibrida. Jeraminya
sangat banyak dan mereka bisa mendapatkannya dengan mudah.

Tak Sengaja Ketemu Pulp Jerami

Aku sebenarnya agak lupa dengan penelitian ini. Sampai hari Selasa, 4 September 2007, pagi.
Aku berencana mau bersih-bersih lab. Membuang sisa-sisa percobaanku yang lama. Termasuk
salah satunya percobaan jamur pelapuk putihku.

Awalnya pagi-pagi aku menemui seniorku, Dr. Siswanto. Dengan Beliau aku mendiskusikan
tentang permintaan pabrik kertas untuk membuat pulp jerami secara biologis. Kami
mendiskusikan banyak hal tentang pulp jerami ini. Selesai bertemu beliau aku kembali ke
ruanganku. Pikiranku masih fokus pada pulp jerami ini.
Aku minta tolong ke Azid untuk membantuku membersihkan sisa-sisa penelitanku. Aku minta
dia menaruh penelitianku itu di meja depan ruanganku. Sebelum dibuang aku mau melihatnya
sekali lagi. Sambil melihat-lihat aku tertuju pada percobaan dengan jerami. Sebagian lagi yang
sudah hancur aku suruh azid untuk mencucinya.

Aku lihat baik-baik jerami ini. Trus aku coba buka dan pegang dengan tangaku. Wah…. ini
seratnya masih kasar sekali. Tiba-tiba…… ‘thing…..’ dikepalaku. Jangan-jangan ini bisa jadi
pulp jerami. ……………………..AUREKA………….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Ini seperti
pulp…..Aku perlihatkan percobaanku pada Dr. Siswanto. Dan beliau minta untuk dilihat lebih
teliti lagi.

Aku coba bersihkan kotorannya dan aku buat pulp. Dan ternyata ini memang pulp. Lihat foto-
foto di bawah ini. Aku coba bandingkan dengan jerami yang tidak diberi perlakuan. jeraminya
masih keras dan tidak seperti pulp.

Pulp Jerami

Jerami yang tidak diberi perlakuan

Percobaan Lanjutan

Hari itu juga aku coba mengulang percobaanku yang hampir-hampir aku buang ini. Aku coba
dengan volume yang lebih besar, agar aku bisa dapat pulp yang lebih banyak lagi.

Aku bertanya-tanya kepada beberapa peneliti senior yang pernah melakukan percobaan pulping,
biopulping, dan biobleacing. Mencari tahu apa kendala-kendala yang mereka hadapi dan hasil-
hasil apa yang telah mereka peroleh. Minimal aku tidak melakukan percobaan dari nol lagi.

Aku yakin kalau percobaanku ini berhasil akan banyak membantu industri kertas di Indonesia
Pulp adalah hasil pemisahan serat dari bahan baku berserat (kayu maupun non kayu) melalui
berbagai proses pembuatannya (mekanis, semikimia, kimia). Pulp adalah bahan berupa serat
berwarna putih yang diperoleh melalui proses penyisihan lignin dari biomassa ( delignifikasi).
Pulp digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan kertas dan dapat juga dikonversi menjadi
senyawa turunan selulosa termasuk selulosa asetat. Penyisihan lignin dari biomassa dapat
dilakukan dengan berbagai proses yaitu mekani, semikimia dan kimia.

1. Persiapan Bahan Baku

Bahan baku yang digunakan dalam proses pembuatan pulp ada dua jenis :

 Bahan Baku Primer

Untuk memperoleh serat ini diperoleh dari tumbuh-tumbuhan dengan jenis kayu (wood) dan
bukan kayu (non wood).

Kayu (Wood)

Kayu dapat dibedakan berdasarkan ukuran daun yang dimiliki yaitu kayu berdaun lebar dan kayu
berdaun jarum. Kayu berdaun lebar umumnya menggugurkan daunnya pada musim kemarau
seperti, Albazia Falcatera, Eucalyptus sp dan Antochehalus caladabin. Sedangkan daun berjarum
selalu hijau sepanjang tahun dan tidak menggugurkan daunnya pada musim kemarau seperti
tusam.

Analisis sifat pengolahan kayu digunakan untuk mengetahui jenis kayu yang cocok sebagai
bahan baku pulp. Analisis ini meliputi rendemen pulp, konsumsi bilangan permangate, panjang
putus dan faktor retak.

Bukan Kayu (Non Wood)

Berdasarkan sumber serat, tumbuhan bukan kayu dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

 Serat kulit batang : fax, jule, rami kenaf, haramay


 Serat daun : manila, abaca, sisal, palm, nenas
 Serat bulu biji : kapas, kapuk
 Serat rerumputan : merang, jerami, baggase, bambu, gelaga

 Bahan baku sekunder

Guna penghematan atau efisiensi serat dari bahan baku primer, maka dewasa ini telah
diusahakan pemanfaatan kertas bekas dari berbagai jenis kertas dan karton sebagai bahan baku
pulp. Serat yang dihasilkan dari kertas, karton bahkan dari baju bekas yang dikenal dengan serat
primer.

2. Komposisi Kimia Kayu


Komposisi kimia kayu terdiri dari :

 Selulosa

Bagian utama dinding sel kayu yang berupa polimer karbohidrat glukosa dan memiliki
komposisi yang sama dengan pati. Beberapa molekul glukosa membentuk suatu rantai selulosa.
Selulosa juga termasuk polisakarida yang mengidentifikasi bahwa didalamnya terdapat berbagai
senyawa gula.

Selulosa berantai panjang dan tidak bercabang. Selama pembuatan pulp dalam digester, derajat
polimerisasi akan turun pada suatu derajat tertentu. Penurunan derajat polimerisasi tidak boleh
terlalu banyak, sebab akan memendekkan rantai selulosa dan membuat pulp tidak kuat. Selulosa
dalam kayu memiliki derajat polimersasi sekitar 600 – 1500. Rantai selulosa yang lebih pendek
akan menghasilkan pulp yang encer.

 Hemiselulosa

Hemiselulosa adalah polimer yang dibentuk dari gula sebagai komponen utamanya.
Hemiselulosa adalah polimer dari senyawa gula yang berbeda seperti :

 Hexoses : glukosa, manosa dan galaktosa


 Pentxoses : xylose dan arabinase

Hemiselulosa memiliki derajat polimerisasi lebih kecil dari 300. Hemiselulosa adalah polimer
bercabang atau tidak linear. Selama pembuatan pulp hemiselulosa lebih cepat dibandingkan
dengan selulosa. Rantai hemiselulosa lebih pendek dari rantai selulosa.

Hemiselulosa bersifat hidrofilik (mudah menyerap air) yang menyebabkan struktur selulosa
menjadi kurang teratur sehingga air bisa masuk kejaringan selulosa. Hemiselulosa akan
memberikan fibrilasi yang lebih baik dari pada selulosa dan meningkatkan kualitas kertas.

 Lignin

Merupakan jaringan polimer fenolik tiga dimensi yang berfungsi merekatkan serat selulosa
sehingga menjadi kaku. Pulping kimia dan proses pemutihan akan menghilangkan lignin tanpa
mengurangi serat selulosa secara signifikan. Lignin berfungsi sebagai penyusun sel kayu.

 Ekstraktif

Ekstraktif dapat dikatakan sebagai substansi kecil yang terdapat pada kayu. Ekstraktif meliputi
hormon tumbuhan, resin, asam lemak dan unsur lain. Komponen ini sangan beracun bagi
kehidupan perairan dan mencapai jumlah toksik akut dalam efiven industri kertas dalam
pembuatan pulp pada prinsipnya adalah mengambil sebanyak-banyaknya serat selulosa.

Biomassa atau limbah lignoselulosa tersusun atas komponen-komponen utama. Seperti yang
telah dijelaskan diatas. Pemanfaatan biomassa dalam industri pulp dan kertas sebagai bahan baku
telah digunakan secara luas, karena dapat memberikan keuntungan misalnya mengurangi
ketergantungan industri pulp terhadap kayu hutan, menambah nilai ekonomi karena
memanfaatkan limbah serta dapat menurunkan ongkos produksi.

Prinsip pembuatan pulp kimia adalah kualitas dan perolehan pulp terhadap selulosa dan
hemiselulosa. Yang termasuk kepada proses pulp kimia adalah proses kraft dan sulfit. Proses
kraft melibatkan pemasakan dengan larutan sodium hidroksida dan sodium sulfida dengan
konsentrasi 25 – 35 % pada temperatur 160 – 180 0C. Pada proses kraft ini ditambahkan Na2S
untu komponen aktif tumbuhan.

3. Keuntungan Utama Proses Sulfat :

 Sifat kekuatan pulp sangat baik

 Waktu pemasakan pendek

 Bisa untuk semua kayu

 Pengolahan limbah cair pemasak lebih baik

 Rendemen sulfat lebih tinggi dibandingkan soda

sumber : http://kimiatip.blogspot.co.id/2014/01/pengertian-dan-bahan-baku-pembuatan-
pulp.html
Bagaimana sih pembuatan kertas ?
16.49 |
Bahan baku yang digunakan untuk membuat kertas ialah bahan-bahan yang mengandung
banyak selulosa, seperti bambu, kayu, jerami, merang, dan lain-lain.
Pulp adalah bahan baku yang digunakan untuk membuat kertas. Selain itu pulp dapat juga
digunakan untuk membuat rayon (rayon adalah selulosa dalam bentuk serat-serat).
Ada 3 macam proses pembuatan pulp, yaitu:
1. Proses mekanis
2. Proses semi-kimia
3. Proses kimia
Pada proses mekanis tidak digunakan bahan-bahan kimia. Bahan baku digiling
dengan mesin sehingga selulosa terpisah dari zat-zat
lain.

Pada proses semi-kimia dilakukan seperti proses mekanis, tetapi dibantu dengan
bahan kimia untuk lebih melunakkan, sehingga serat-
serat selulosa mudah terpisah dan tidak rusak.

Pada proses kimia bahan baku dimasak dengan bahan kimia tertentu untuk
mengllilangkan zat lain yang tidak perlu dari serat-serat
selulosa. Dengan proses ini, dapat diperoleh selulosa
yang murni dan tidak rusak.

Ada 2 metode pembuatan pulp dengan proses kimia, yaitu:


a. Metode proses basa

Termasuk di sini adalah:


- proses soda
- proses sulfat

b. Metode proses asam

Yang termasuk proses asam adalah proses sulfit

Proses Basa

Bahan baku yang telah dipotong kecil-kecil dengan mesin pemotong, dimasukkan dalam
sebuah bejana yang disebut "digester."
Dalam larutan tersebut dimasukkan larutan pemasak:
- NaOH 7%, untuk proses soda
- NaOH, Na2S dan Na2CO3 untuk proses sulfat
Pemasakan ini berguna untuk memisahkan selulosa dari zat-zat yang lain.
Reaksi sebenarnya rumit sekali, tetapi secara sederhana dapat ditulis:
Larutan pemasak

Kayu ———————————> pulp (selulosa) + senyawa-senyawa alkohol + senyawa-senyawa asam


+ merkaptan + zat-zat pengotor lainnya.
Kemudian campuran yang selesai dimasak tersebut dimasukkan ke dalam mesin pemisah
pulp dan disaring. Pulp kasar dapat digunakan untuk membuat karton dan pulp halus yang
warnanya masih coklat harus dikelantang (diputihkan/dipucatkan). Pemucatan dilakukan
dengan menggunakan Kaporit atau Natrium hipoklorit. Perlu diperhatikan bahwa, bahan-
bahan kimia yang sudah terpakai tidak dibuang, tetapi diolah kembali untuk dipakai lagi.
Hal ini berarti menghemat biaya dan mencegah pencemaran lingkungan
Reaksi kimia yang penting dalam pengolahan kembali sisa larutan tersebut adalah :
Na2SO4 + 2 C ———————————> Na2S + 2 CO2
Na2CO3 + Ca(OH)2 ———————————> 2 NaOH + CaCO3
Proses Asam
Secara garis besar, proses sulfit dilakukan melalui tahap-tahap yang sama dengan proses
basa. tetapi larutan yang digunakan adalah:
SO2, Ca(HSO3)2 dan Mg(HS03)2

Pulp yang sudah siap, diolah dengan bahan-bahan penolong seperti perekat damar, kaolin,
talk, gips, kalsium karbonat, tawas aluminium, kertas bekas, zat warna dan lain-lain, untuk
kemudian diproses menjadi kertas, melalui mesin pembentuk lembaran kertas, mesin
pengeras dan mesin pengering.
Catatan:

1. Zat-zat tersebut di atas dipakai dalam jumlah kecil sekali, dan bila berlebihan
berbahaya bagi kesehatan.
2. Ada zat pemanis yang dapat menimbulkan kanker pada hewan-hewan percobaan,
sehingga di beberapa negara dilarang.
3. Umumnya zat-zat tersebut di atas adalah sintetis.

Bubur kertas ditaruh di kotak kepala dan diproses.


Tahukah kamu kayu dapat menjadi sumber kertas yang sangat baik berkat adanya molekul
panjang seperti serat yang disebut selulosa?
Dalam proses pembuatan kertas, benang-benang selulosa dipisahkan terlebih dahulu hingga
menjadi bubur kertas. Berikut ini langkah-langkahnya;
1. Kayu dirajang menjadi serpih sebesar kotak korek api, kemudian dimasukkan ke dalam tangki
raksasa yang disebut pencerna.
Di dalam alat ini kayu diberi tekanan dan panas. Beberapa jam kemudian kayu berubah menjadi
bahan lunak seperti kapas. Inilah yang disebut bubur kertas atau pulp.
Jalinan selulosa yang padat menjadi kertas.
2. Setelah keluar dari pencerna, bubur kertas dicampur air. Bubur dengan kadar air 90% ini
kemudian dilewatkan pada mesin yang disebut kotak kepala.
3. Kotak kepala membentangkan bubur kertas yang berair itu di atas sebuah ayakan bergerak
yang disebut kawat. Sewaktu gilingan menekan bubur kertas ke kawat, sekitar 98% airnya
terperas keluar.
4. Serangkaian gilingan lain kemudian mengeluarkan hampir seluruh sisa air dari kertas yang
mengering itu. Kini hanya tinggal sedikit sekali molekul air yang ada.
5. Kertas yang baru saja terbentuk dilewatkan pada silinder tambahan yang dipanaskan dari
dalam. Nah silinder ini akan mengeluarkan air lagi dari kertas yang berjalan.
6. Serat selulosa kini telah menjadi jalinan yang saling terkait. Gelendong besar yang disebut
penggulung mengumpulkan kertas menjadi gulungan raksasa.