Anda di halaman 1dari 5

----- PELAYANAN PUBLIK ----- Rivalitas berarti sifat suatu barang yang menyebabkan pemanfaatan oleh

seseorang mengurangi pemanfaatan oleh orang lain.

Pedoman penyelenggaraan pelatihan dasar CPNS


Golongan III : Perka LAN 17/2017 tentang perubahan N0
21 tahun 2016

1. Konsep dan Prinsip Pelayanan Publik

1. Menurut UU no 5 tahun 2014 tentang ASN, PNS sebagai ASN berlandaskan

a. Nilai-nilai dasar
b. Kode etik dan kode perilaku
c. Komitmen, integrasi moral dan tanggung jawab pada pelayanan publik
d. Kompetensi yang diperlukan sesuai bidang tugas
e. Profesionalisme jabatan 8. Pergeseran status barang

2. Fungsi dan tugas ASN menurut UU no 5 tahun 2014: a. Privat ke publik; pendidikan, keterbukaan informasi (pejabat negara)
b. Publik ke privat: informasi beasiswa
a. Melaksanakan kebijakan publik, yang dibuat oleh Pejabatan Pembinan
Kepegawaian sesuai dengan peraturan perundang-undangan; 9. Paradigma pelayanan Publik
b. Memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas;
c. Mempererat persatuan dan kesatuan Negara Republik Indonesia. a. Old Public Administration (<1930):
1. Fokus pada penyediaan barang publik
3. Pesyaratan menjadi PNS yang profesional: 2. Sistem tertutup karena prinsip efisiensi
3. model pelayanan sentralistik, mekanik, direktiv, manajerialsm
a. Mengambil tanggung jawab b. New Public Management (1990-2000an):
b. Menunjukkan sikap mental positif 1. Transaksi pelayanan publik,
c. Mengutamakan keprimaan 2. Manajer pelayanan publik dituntut inovatif
d. Menunjukkan kompetensi 3. Model pelayanan berorientasi pada prinsip-prinsip pelayanan prima
e. Memegang teguh kode etik c. New Public Service (NPS) 2003-sekarang:
1. Negara kuat dan memberikan pelayanan gratis,
4. Pengertian Pelayanan Publik 2. Keberpihakan Negara dalam melayani masyarakat
3. Model pelayanan yang lebih berorientasi pada asas demokrasi dan good
a. Segala bentuk kegiatan pelayanan umum yg dilaksanakan instansi pemerintah governance
(pusat dan daerah) dalam bentuk barang dan/jasa, baik dalam pemenuhan
kebutuhan masyarakat – LAN,1998
b. Proses bantuan kepada orang lain dengan cara-cara tertentu yang memerlukan
kepekaan dan hubungan interpersonal tercipta kepuasan dan keberhasilan –
Departemen dalam negeri
c. Kegiatan atau rangkaian dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara
dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang
disedakan oleh penyelenggara pelayanan publik – Undang-Undang no 25
tahun 2009
d. Merupakan produk yang tidak ada wujud atau bentuknya sehingga tidak ada
bentuk yang dapat dimiliki, dan berlangsung sesaat atau tidak tahan lama, tetapi
dialami dan dapat dirasakan oleh penerima layanan - Lovelock (1991)
e. Segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan
publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun
pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan –KepmenPANRB
Nomor 63/KEP/M.PAN/7/2003

KESIMPULAN: 10. Prinsip pelayanan publik:

Pelayanan publik adalah pemberian layanan atau melayani keperluan a. Pertisipatif


orang/msayarakat dan/atau organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara b. Transparan
yang ditentukan dan ditunjukkan untuk memberikan kepuasan kepada penerima c. Responsif
layanan. d. Tidak diskriminatif
e. Mudah dan murah
5. Undang-undang No 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik f. Efektif dan efisien
g. Aksesibel
a. Dasar pemikiran h. Akuntabel
1. Kewajiban Negara melayani hak dasar masyarakat. i. Berkeadilan
2. Membangun Kepercayaan Masyarakat kepada Negara.
3. Norma/Dasar hukum hubungan Masyarakat dengan Negara 11. Unsur-unsur pelayanan publik meliputi:
b. Karakter
1. Penguatan dan Pemberdayaan Masyarakat. a. Penrima layanan
2. Penguatan dan Memperbaharui Undang-Undang Sektor b. Organisasi penyelenggara
c. Maksud dan Tujuan c. Kepuasan pelanggan
1. Kepastian hukum bagi masyarakat dan penyelenggara.
2. Batas yang jelas antara hak dan kewajiban, wewenang, larangan. 12. Setiap institusi penyelenggara negara, korporasi, lembaga independen yang
3. Sistem yang layak dan perlindungan masyarakat dibentuk berdasarkan undang-undang untuk kegiatan pelayanan publik, dan badan
hukum yang lain yang dibentuk semata-mata untuk kegiatan pelayanan publik
6. Pelayanan publik penting, karena selain memperkuat demokrasi, juga mengakkan (Pasal 1 ayat (2) UU 25 Tahun 2009)
hampir seluruh hak asasi manusia. Siklus pelayanan publik dimulai saat konsumen
mengadakan kontak pertama kali dengan service delivery system dan 13. Contoh pelayanan publik pada kementerian PUPR:
dilanjutkan dengan kontak-kontak berikutnya sampai dengan selesai jasa a. Perijinan kerjasama pemanfaatan prasarana SDA
tersebut diberikan. b. Sekjen: Pu-net, layanan informasi publik (PPID), PLSe kementerian PUPR
c. Ditjen Cipta Karta : Pelayanan rumah negara gol. III
7. Cara membedakan barang/jasa publik dan privat:

Pembeda Privat Publik 2. Pola Pikir ASN sebagai Pelayan Publik


Berdasarkan swasta pemerintah
penyedia 1. Bertekad melakukan perbaikan atas kurang baiknya kualitas pelayanan publik di
Cara konsumsi Rivalitas dan ekskludabilitas Rivalitas dan ekskludabilitas Indonesia.
tinggi rendah
Keputusan politik Strategis dan menyangkut 2. Memilih jalan sulit untuk berkontribusi memperbaiki birokrasi
kepentingan bangsa
3. Kesadaran seluruh anggota ASN untuk memberikan kontribusi terhadap upaya
perbaikan kualitas pelayanan publik di Indonesia akan memiliki implikasi strategis
Ekskludabilitas berarti sifat suatu barang yang dapat mencegah orang lain dari jangka panjang yang penting bagi upaya untuk mengubah kinerja birokrasi dalam
memanfaatkannya. memberikan pelayanan publik.
4. ASN mengenal prinsip-prinsip pelayanan publik yang baik yang dianjurkan oleh 2. Peraturan Kode Etik ASN:
literatur adminstrasi publik maupun best practices yang telah mempraktikan dan a. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara;
memiliki pelayanan publik yang baik. b. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pengawai
Negeri Sipil;
5. Fundamental pelayanan publik: c. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 7 Tahun
a. Pelayanan publik merupakan hak warga negara sebagai amanat konstitusi 2017 tentang Kode Etik dan Kode Perilaku Pegawai Kementerian PUPR.
b. Pelayanan publik diselenggarakan dengan pajak yang dibayar oleh
warga Negara 3. Kode Etik ASN:
c. Pelayanan publik diselenggarakan dengan tujuan untuk mencapai hal-hal yang a. Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab, dan
strategis bagi kemajuan bangsa di masa yang akan datang. berintegritas tinggi;
d. Pelayanan publik memiliki fungsi tidak hanya memenuhi kebutuhan-kebutuhan b. Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin;
dasar warga negara sebagai manusia akan tetapi juga memberikan c. Melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan;
perlindungan kepada warga negaranya d. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan;
6. ASN memberikan pelayanan publik yang profesional, bebas dari intervensi politik, e. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau Pejabat
bersih dari praktik KKN yang Berwenang sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan
a. Nilai Dasar : jujur, tanggap, cepat, tepat, akurat, berdayaguna, berhasil guna, perundang-undangan dan etika pemerintahan;
santun f. Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara;
b. Kode Etik : Hormat, santun, sopan, tanpa tekanan g. Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung
c. Fungsi ASN : pelaksana kebijakan publik, pelayanan publik, perekat dan jawab, efektif, dan efisien;
pemersatu bangsa h. Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan
tugasnya;
7. ASN sebagai profesi berlandaskan pada prinsip: i. Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada pihak
a. Nilai dasar lain yang memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan;
b. Kode etik dan kode perilaku j. Tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status, kekuasaan,
c. Komitmen, integritas moral, tanggung jawan pada pelayanan publik dan jabatannya untuk mendapat atau mencari keuntungan atau manfaat
d. Kompetensi sesuai dengan bidang tugas bagi diri sendiri atau untuk orang lain;
e. Kualifikasi akademik k. Memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi dan
f. Jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas integritas ASN; dan
g. Profesionalitas jabatan l. Melaksanakan ketentuan peraturan perundang- undangan mengenai
disiplin Pegawai ASN.
8. Patologi birokrasi (problem yang menjerat birokrasi) diantaranya:
a. Penggelembungan organisasi (memperbesar struktur,merekrut lebih banyak 4. Kode Etik KEMENPUPR (Permen PUPR Nomor 7 Tahun 2017)
anggota). Disebut juga Parkinsonian birokrasi. Nilai-nilai Kementerian PUPR (PANCA PANDEGHA) :
b. Duplikasi tugas dan fungsi – inefisiensi a. Visioner : Melakukan sesuatu untuk tujuan yang lebih besar,
c. Red tape – biaya tambahan berupa suap, sogok, uang rokok, uang pelicin untuk b. Integritas : Kesesuaian antara perbuatan dan ucapan,
mempercepat proses c. Profesional : Bekerja secara kompeten dan sesuai dengan prosedur,
d. Konflik kewenangan – kewenangan kabur, tumpang tindih d. Tanggungjawab : Dapat diandalkan dan profesional,
e. KKN - Kolektivisme birokrasi untuk tujuan-tujuan negatif melanggengkan e. Melayani : Memberikan pelayanan yang optimal
kekuasaan mereka yang seperti ini sering disebut sebagai Orwellian
Bureaucracy. Kode Etik Kementerian PUPR (DWADASA PRASETYA) :
f. Enggan melakukan perubahan - bureaucratic inertia, selalu berada pada zona a. Bekerja Profesional.
nyaman b. Berani berubah.
c. Tugas itu amanah.
9. Permasalahan pelayanan birokrasi: d. Bekerja sesuai aturan.
a. Biaya mahal; e. Totalitas itu loyalitas.
b. Prosedurnya sulit dan berbelit-belit; f. Berani berucap, siap berbuat.
c. Pemberi layanan tidak ramah; g. Kesuksesan Kementerian PUPR adalah kesuksesan saya.
d. Diskriminatif; h. Menyelesaiakn apa yang telah dimulai.
e. Tidak ada kepastian kualitas dan waktu penyelesaian layanan; i. Kepercayaan adalah hasil daya upaya.
f. Tidak transparan; j. Kepuasan masyarakat, prioritas kami.
g. Tidak responsive terhadap kebutuhan warga negara; k. Kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
h. Ditandai praktik KKN. l. Bekerja dengan optimal.

10. Hal-hal untuk mewujudkan integritas dalam pelayanan publik adalah : 5. Tujuan Etiket
a. Perilaku pelayan publik (Pegawai Negeri) harus sejalan dengan misi pelayanan a. Untuk menciptakan keakraban, keramahtamahan, dan menjaga sopan santun
publik dari instansi tempat mengabdi. pelayanan
b. Pelaksanaan pelayanan publik dapat diandalkan. b. Untuk dapat menyenangkan dan memuaskan pengguna jasa
c. Warga Negara memperoleh perlakuan “tanpa pandang bulu”sesuai dengan c. Untuk membina dan menjaga hubungan baik dengan pengguna jasa
ketentuan hukum dan keadilan. d. Untuk tidak menyinggung perasaan pengguna jasa
d. Sumber daya digunakan secara tepat, efisien, dan efektif. e. Untuk dapat menjadi daya tarik, termasuk membujuk atau mempertahankan
e. Prosedur pengambilan keputusan adalah transparan bagi publik, dan tersedia kepuasan pengguna jasa
sarana bagi publik untuk melakukan penyelidikan dan pemberian tanggapan.
6. Dasar-dasar Etiket:
11. Tingkatan kualitas pelayanan: a. Politeness / Kesopanan
a. Memenuhi kebutuhan dasar pengguna, b. Respectful / Rasa Hormat
b. Memenuhi harapan pengguna dan c. Attentive / Penuh Perhatian
c. Melebihi harapan pengguna jasa, d. Cooperatif / Koperatif
d. Mengerjakan apa yang lebih dari yang diharapkan. e. Informality / Informalitas, ramah
f. Self Control / Pengendalian Diri
12. Prinsip pelayanan prima:
a. Responsif terhadap pelanggan/memahami pelanggan. 7. Manfaat Etiket:
b. Membangun visi dan misi pelayanan. a. Komunikatif/Communicative
c. Menetapkan standar pelayanan dan ukuran kinerja pelayanan, sebagai b. Menarik/Attractive
dasar pemberian pelayanan. c. Menghargai/Respectable
d. Pemberian pelatihan dan pengembangan pegawai terkait bagaimana d. Percaya Diri/Seft Confidence
memberikan Pelayanan yang baik, serta pemahaman tugas dan fungsi
organisasi. 8. Etiket menangani keluhan:
e. Memberikan apresiasi kepada pegawai yang telah melaksanakan tugas a. Mendengarkan dengan baik
pelayanannya dengan baik. b. Janagn menyela, biarkan mereka berbicara
c. Meminta maaf dengan tulus
13. Sikap pelayanan prima: d. Tanyakan apa yang pelanggan inginkan
a. Pasionate (Sangat bergairah = Bersemangat, Antusias) e. Meyakinkan pelanggan
b. Progressive (Memakai cara yang terbaik = termaju) f. Berterima kasih kepada pelanggan
c. Proaktive (Antisipatif, proaktif dan tidak menunggu)
d. Prompt (Positif = tanpa curiga dan kekhawatiran) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
e. Patience (Penuh rasa kesabaran)
f. Proporsional (Tidak mengada-ada)
g. Punctional (Tepat waktu)

3. Praktek Etiket Pelayanan Publik

1. Perbedaan Etiket dan Etika


Etiket Etika
1. Menyangkut cara suatu perbuatan 1. Apakah perbuatan boleh dilakukan
harus dilakukan manusia atau tidak
2. Hanya berlaku dalam pergaulan 2. Selalu berlaku meski tanpa saksi mata
3. Sifatnya relatif 3. Bersifat absolut, tidak bisa ditawar
4. Memandang dr segi lahiriah saja 4. Dari segi batiniah
----- Whole of Government ----- 11. Persyaratan Best practice penerapan WoG:
a. Budaya dan filosofi – menggabungkan dan adaptasi nilai WoG ke dalam
budaya yg dianut
b. Cara kerja yang baru – penyelenggaraan kepeimpinan yg berbagi dg sektor
1. Konsep Whole of Government lain, keahlian yg melekat pada SDM, fleksibel dan mengikuti perubahan
a. WoG adalah sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintahan yang c. Akuntabilitas dan insentif – outcome dan pelaporan dibagi antarsektor
menyatukan upaya-upaya kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor d. Cara baru pengembangan kebijakan, mendesain program dan pelayanan
dalam ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuan
pembangunan kebijakan, manajemen program, dan pelayanan publik. 12. Implementasi WoG dalam perpektif kebijakan di Indonesia
b. WoG juga dikenal sebagai pendekatan interagency, yaitu pendekatan yang a. Hakekat dasar pelayanan publik
melibatkan sejumlah kelembagaan yang terkait dengan urusan-urusan yang 1. Cita-cita yang tercantum dalam Pembukaan UUD 45 memajukan
relevan. kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa
c. Pendekatan WoG di beberapa negara ini dipandang sebagai bagian dari 2. Negara berkewajiban melayani setiap warga negara dan penduduk
respon terhadap ilusi paradigm New Public Management (NPM) yang untuk memenuhi hak dan kebutuhan dasarnya - pelayanan publik
banyak menekankan aspek efisiensi dan cenderung mendorong ego sectoral 3. Konstitusi Negara membagi fungsi-fungsi penyelenggaraan negara
(shil) dibandingkan perspektif integrasi sektor. dalam berbagai kekuasaan negara - saling bersinergi, check &
d. WoG sering kali dipandang sebagai perspektif baru dalam menerapkan dan balance
memahami koordinasi antar sektor. b. WoG dalam Penyelenggaraan negara
Check and balance system antara lembaga eksekutif, yudikatif dan legislatif
2. Mengapa WoG: c. WoG dalam Penyelenggaraan pemerintahan negara
a. Adanya faktor-faktor eksternal seperti dorongan publik dalam mewujudkan Memanfaatkan dan mendayagunakan
integrasi kebijakan, program pembangunan dan pelayanan agar tercipta 1. kemampuan pemerintah dan segenap aparaturnya dari semua
penyelenggaraan pemerintahan yang lebih baik. peringkat pemerintah beserta seluruh rakyat di wilayah negara
b. Faktor-faktor internal dengan adanya fenomena ketimpangan kapasitas Indonesia, serta
sektoral sebagai akibat dari adanya nuansa kompetisi antarsektor dalam 2. dengan memanfaatkan pula segenap dana dan daya yang tersedia.
pembangunan Sistem penyelenggaraan pemerintahan negara merupakan bagian integral
c. keberagaman latar belakang nilai, budaya, adat istiadat, serta bentuk latar dan paling dominan, karena pemerintah selaku eksekutif.
belakang lainnya mendorong adanya potensi disintegrasi bangsa d. WoG antar pemerintah pusat dan daerah
d. Siloisasi, prinsip single-purpose organizations, dengan banyak Amanat UUD 1945 pasal 18A dan 18B
spesialisasi serta peran dan fungsi non-overlapping mendorong: 1. Hubungan wewenang, - perhatikan keragaman daerah
 Fragmentasi 2. Hubungan keuangan – pemanfaatan SDA dan SD lainnya secara adil
 Kewenangan terpusat di sektor 3. Hubungan dalam pengakuan pembentukan daerah
 Kurangnya kerjasama dan koordinasi yang menyebabkan un- e. ASN dan Pelayanan Publik
efektivitas dan efisiensi - UU no 5 th 2014 tentang ASN – ASN diberikan tugas untuk
e. Devolusi Struktural, desentralisasi, penyerahan kewenangan dari pusat ke melaksanakan tugas pelayanan publik, tugas pemerintahan dan tugas
daerah yang berlebihan pembangunan tertentu
f. Persepsi mengenai dunia yang semakin tidak aman dan berbahaya. Isu - Berdasar pasal 11 UU ASN, tugas ASN adalah:
terorisme, radikalisme, perubahan iklim, dll. 1. Pelaksana kebijakan publik sesaui ketentuan perundangan
2. Memberi pelayanan publik yg profesional dan berkualitas
3. Manfaat WoG 3. Mempererat persatuan dan kesatuan NKRI
a. Meningkatkan: efisiensi, sharing informasi, lingkungan kerja, daya saing, f. WoG dalam Pelayanan Publik di Lingkuo Administrasi Pemerintahan
akuntabilitas, koherensi kebijakan 1. Administrasi Pemerintahan (UU no 30 tahun 2014 tentang Adminitrasi
b. Menurunkan: biaya, pemborosan, duplikasi pekerjaan, inkonsistensi kebijakan, Pemerintahan) adalah tata laksana dalam pengambilan keputusan
waktu penyelesaian layanan tertentu dan/atau tindakan oleh badan dan/atau pejabat oemerintahan adalah
unsur yang melaksanakan fungsi pemerintahan, baik di lingkunagn
4. Keuntungan WoG pemerintah atau oenyelenggara negara lainnya.
a. Outcomes-focused, Berfokus pada outcome yang tidak dapat dicapai oleh 2. Administrasi pemerintaha bertujuan untuk:
K/L sektoral secara masing-masing. - Menciptakan tertib penyelenggaraan administrasi pemerintahan
b. Strengthening prevention, WoG mendorong pencegahan terhadap - Menciptakan kepastian hukum
masalah yang mungkin berkembang lebih jauh - Mencegah penyalahgunaan wewenang
c. Boundary-spanning, Implementasi kebijakan tidak hanya melibatkan satu - Menjamin akuntabilitas pejabat pemerintahan
instansi, tetapi lintas instansi - Memberi perlindungan hukum pada warga masyarakat dan
d. Enabling, WoG membuat pemerintah lebih mampu menangani tantangan aparatur pemerintahan
kebijakan yang kompleks - Melaksanakan ketentuan perundang-undangan
- Memberi pelayanan sebaik-baiknya pada masyarakat
5. Penerapan WoG dalam Pemberian pelayanan yang terintegrasi 3. Asas Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan:
a. Reaksi terhadap disagregasi birokrasi dalam NPM - Asas legalitas
b. Respon terhadap “wicked problems” - Asas perlindungan terhadap HAM
Tingginya angka kriminalitas dapat dijelaskan dalam beberapa cara: jumlah - Asas umum pemerintahan yang baik, terdiri atas:
polisi yang kurang, terlalu banyak penjahat, hukum yang tidak memadai, a) Kepastian hukum
kemiskinan, budaya, terlalu banyak senjata, dsb. b) Kemanfaatan
c. Strategic enabler c) Ketidakberpihakan
WoG mendorong pemahaman isu yang lebih strategis dan berjangka d) Kecermatan
panjang. e) Tidak menyalahgunakan wewenang
d. Respon terhadap tekanan luar f) Keterbukaan
Tekanan internasional merupakan situasi tidak terhindarkan yang harus g) Kepentingn umum
dihadapi oleh pemerintah h) Pelayanan yang baik
g. Asas-asas implementasi WoG (UU no 28 tahun 1999 tentang
6. Bentuk WoG penyelenggara negara yg bersih dan bebas dr KKn)
a. Integrating service delivery (ISD) – proses penyatuan pemberian layanan 1. Asas kepastian hukum
kepada publik, contoh: 1 pintu 2. Asas kepentingan umum
b. Koordinasi dan Kolaborasi – koordinasi pemerintah horisontal 3. Asas akuntabilitas
c. Integrating rebalancing governance – kontrol politik dan otonomi 4. Asas proporsionalitas
administrasi spt di Inggris 5. Asas profesionalitas
d. Culture change – budaya organisasi, sebagai perekat 6. Asas keterbukaan
7. Asas Efisiensi
7. Praktek WoG 8. Asas efektivitas
a. Penguatan korrdinasi antar lembaga – jumlah lembaga yg rasional h. WoG dalam Lingkup penyelenggaran pemerintahan daerah
b. Memebentuk lembaga koordinasi khusus 1. Asas penyelenggaraan pelayanan (kepentingan umum, kepastian
c. Membentuk gugus tugas – pelembagaan yg dilakukan di luar struktur formal hukum, kesamaan hak, keseimbangan hak dan kewajiban,
d. Koalisi Sosial keprofesionalan, partisipatif, tidak diskriminatif, keterbukaan)
2. Manajemen pelayanan publik (meliputi pelaksanaan, pengelolaan
8. Tantangan dalam praktek WoG pengaduan masyarakat, pengelolaan informasi, pengawasan internal,
a. Kapasitas SDM dan institusi yang tidak sama penyuluhan kepada masyarakat, pelayanan konsultasi, pelayanan
b. Nilai dan budaya organisasi publik lainnya sesuai pertauran perundang-undangan)
c. Kepemimpinan – penting! 3. Kewajiban pemda untuk membuat informasi pelayanan publik dan
maklumat pelayanan publik.
9. Praktek WoG dalam pelayanan publik Maklumat sedikitnya memuat:
a. Pelayanan yang bersifat administratif - jenis pelayanan yang disediakan
b. Pelayanan jasa : penndidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, perhubungan - syarat, prosedur, biaya dan waktu
c. Pelayanan barang: jalan, perumahan, jaringan telepon, listrik - hak dan kewajiban pemda dan warga masyarakat
d. Pelayanan regulatif - satuan kerja atau unit kerja penanggung jawab penyelenggaraan
pelayanan
10. Pol pelayanan publik: 4. Penyederhanaan jenis dan prosedur pelayan publik serta
a. Pola pelayanan teknis fungsional pembentukan UPTD
b. Pola pelayanan satu atap 5. Pengaduan
c. Pola pelayanan satu pintu 6. Evaluasi pelayanan publik
d. Pola pelayanan terpusat 7. Partisipasi masyarakat (PP 18 tahun 2016 tentang Organisasi
e. Pola pelayanan elektronik Peerangkat Daerah- unit pelayanan terpadu 1 pintu daerah)
----- MANAJEMEN ASN-----  Pengangkatan jadi PNS
 Sumpah janji

c. Pangkat dan jabatan


UU no 5 tahun 2014 d. Pengembangan karier
UU no 30 tahun 2014 e. Pola karier
PP no 70 tahun 2015 tentang JKK dan JKM bagi ASN f. Promosi
g. Mutasi
1. Transformasi manajemen PNS: (mrnuju birokrasi bersih, kompeten, sejahtera, h. Penilaian kinerja
melayani) i. Penggajian dan tunjangan
2000 – administrasi kepegawaian j. Pernghargaan
2019 - manajemen SDM k. Disiplin
2025 – pengembangan potensi/human capital l. Pemberhentian
m. Pensiun dan tabungan hari rua
n. Perlindungan
o. Sistem informasi manajemen PNS

5. Strategi pengembangan ASN

2. Merit System
a. Sistem merit adalah kebijakan dan manajemen ASN yang berdasatkan oada 6. Pengembangan Kompetensi sebagai hak pegawai (80 JP/tahun)
kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar dengan tanpa a. Kompetensi adalah Pengetahuan, Keterampilan, Sikap/Perilaku yang harus
membedakan latar belakang politik, ras, warna kulit, agama, asal usul, jenis dipenuhi oleh Pegawai ASN untuk menjalankan fungsi dan tugas jabatan secara
kelamin, atau apapun. efisien dan efektif.
b. Penguatan Implementasi meliputi: b. Kompetensi meliputi kompetensi manajerial, pemerintahan, teknis, sosio-kultural
- Manajemen SDm secara efektif dan efisien dan terintegrasi
- Standar integritas dan perilaku untuk kepentingan publik
- Menerapkan prinsip fairness
- Seleksi dan promosi secara adil dan kompetitif
- Penggajian, reward, dan punishment berbasis kinerja
- Melindungi oegawai dari intervensi politik dan memproteksi pegawai dari
kegiatan politik dan dari tindakan semena-mena
c. Laranagn dalam merit system:
- Diskriminatif
- KKN
- Menghalangi hak konstitusional
- Mempergunakan aktivitas politik yg koersif
- Menghalangi hak untuk berkompetisi

3. Jenis ASN:
a. PNS
b. PPPK

4. Hak dan Kewajiban ASN

5. Manajemen ASN meliputi:


a. Penyusunan dan penetapan kebutuhan
 Setiap instansi pemerintah wajib menyusun
 Kebutuhan jenis jabatan dan jumlah disusun 5 tahun yg diperinci setiap 7. pengisian jabatan pimpinan tinggi utama dan madya pada kementerian,
tahun sesuai prioritas kebutuhan kesekertariatan lemabaga negara, lembaga nonstruktural, dan isntansi daerah
 Harus mendukung pencapaian indikatorkeberhasilan sasaran startegis dilakuakn secara terbuka dan kompetitif di kalangan PNS dengan memperhatikan
b. Pengadaan syarat kompetensi, kualifikasi, kepangkatan, pendidikan dan latihan, rekam jejak
 Sistem online jabatan, dan integritas serta persyaratan lain yang dibutuhkans esuai dengan
 Sistem CAT peraturan perundang-undangan.
 Pengangkatan calon cpns dan masa percobaan
8. pejabat pembina kepegawaian dilarang mengganti pejabat pimpinan tinggi selama 2
tahun terhitung sejak pelantikan., kecuali pejabat yg bersangkutan melanggar
ketentuan peraturan perundang-undngan dan tidk lagi memenuhi syarat.

9. pengganian pejabat pimpinan tinggi utama dan madya sebelum 2 tahun atas
persetujuan presiden

10. Dalam pengisisan jabatan pimpinan tinggi, pejabat pembina kepegawaian memberi
laporan proses pelksanaan kepada KSN, KSN melakukan oengawasan.

11. pegawai Asn terhimpun dalam KORPRI, KORPRI memiliki tujuan menjaga kode
etik profesi dan standar pelayanan profesi ASN dan mewujudkan jiwa kiorps sebagai
pemersatu bangsa.

12. sistem informasi Asn untuk menjamin efisiensi, efektivitas, dan akurasi pengambilan
keputusan dalam manajemen ASN. Sistem informasi diselenggarakan secara
nasional dan terintegrasi antar pemimpin daerah.

13. sengketa pegawai ASN diselesaikan melalui upaya administratif, yg terdiri dari
keberatan dan banding administratif.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Anda mungkin juga menyukai