Anda di halaman 1dari 2

ANALISA KASUS RAISA

Raisa adalah seorang perempuan berusia 39-tahun, ia telah menikah dan mempunyai
empat anak remaja. Raisa datang untuk terapi pertamanya ketika ia mengalami
kecemasan dan keluhan somatik. Dia tinggal bersama suaminya (Hamish, berusia 45
tahun) dan anak-anak mereka (Dilan, 19; Milea, 18; Isyana, 17; dan Jaz, 16). Berikut
adalah data ringkasan yang secara singkat didapat selamat proses wawancara konseling
dengan Raisa.
a. Sejarah Psikososial
Raisa adalah anak tertua dari empat bersaudara. Ayahnya adalah seorang tokoh
agama yang fundamentalis, dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Ia tidak
memiliki hubungan yang dekat dengan ayahnya yang mempunyai sifat otoriter dan
kaku, sehingga ia merasa takut jika tidak dapat memenuhi semua tuntutan dan
harapannya. Raisa memandang ibunya sebagai seseorang yang kritis, dan ia berfikir
apapun yang ia lakukan tidak pernah cukup untuk membuat ibunya bahagia, walaupun
terkadang ibunya menunjukkan sikap mendukung terhadap apa yang ia lakukan. Ayah
dan ibunya menunjukkan sedikit kasih sayang dalam keluarga. Seringkali Raisa
mengasuh adik-adiknya hanya untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang orang
tuanya. Ketika ia melakukan sesuatu yang ia senangi, ia mendapatkan penolakan dan
kemarahan dari ayahnya. Hal itu turut membentuk pola hidupnya yang lebih
mementingkan orang lain daripada dirinya.

b. Identifikasi Masalah
Secara umum Raisa merasa tidak puas dengan kehidupannya. Ketika menginjak
usia 39 tahun, ia panik dan merasa telah menyia-nyiakan hidupanya selama ini.
Selama 2 tahun ia mengalami berbagai keluhan psychosomatic, seperti gangguan
tidur, kecemasan, pusing, jantung berdenyut kencang, dan sakit kepala. Ia mudah
menangis karena hal sepele, sering merasa tertekan, dan tidak menyukai tubuhnya.
Saat itu ia memilih untuk meninggalkan rumah.
Raisa menyadari bahwa ia hidup untuk orang lain, bukan untuk dirinya sendiri dimana
ia memaikan peran sebagai “superwoman” dalam semua aspek kehidupannya, namun
tidak jarang melupakan keperluan dan keinginannya sendiri. Dalam sebuah hubungan
Raisa merasa bahwa ia menjadi pihak yang selalu berkorban dan pada akhirnya
membuat ia merasa hampa. Dia mempunyai kesulitan untuk meminta bantuan kepada
orang lain. Ia berusaha untuk menjadi istri dan ibu yang baik yang sesuai dengan
harapan keluarga dan dirinya. Pada beberapa kondisi, Raisa merasa tidak menjadi diri
sendiri. Ia tidak menyukai penampilan dan tubuhnya, serta kekhawatiran tentang
harapan keluarganya.
c. Latar belakang masalah
Pekerjaan utama Raisa adalah sebagai ibu rumah tangga sampai anak-anaknya
beranjak remaja. Ia kemudian melanjutkan perguruan tinggi dan memperoleh gelar
sarjana pada program studi perkembangan anak. Saat ini ia menjadi guru sekolah
dasar, namun ia merasa terbebani oleh keraguannya keinginan untuk mencapai karir
yang lebih tinggi. Melalui komunikasi dengan rekan sejawatnya di Universitas, ia
menyadari bahwa ia telah membatasi dirinya sendiri, bagaimana keluarganya
memperkuat ketergantungan terhadap dirinya, ia juga menyadari bagaimana perasaan
takutnya keluar dari zona nyaman sebagai seorang ibu dan istri. Ia juga mengikuti
pelatihan konseling yang membantunya dapat melihat lebih baik ke arah dirinya
sendiri. Pelatihan dan pengalamannya dengan sesama pelajar yang bertindak sebagai
katalis membuat Raisa dapat lebih jujur melihat hidupnya. Pada titik ini Raisa
menyadari bahwa ada hal yang perlu ia sadari lebih baik selain menjadi seorang ibu,
seorang istri, dan mahasiswa. Ia menyadari bahwa ia tidak mempunyai pengertian
yang baik tentang apa yang dia inginkan untuk dirinya sendiri, dan juga bahwa ia
biasa hidup dari apa yang diinginkan oleh orang lain.

Kriteria analisis kasus adalah:


a. Ketajaman intepretasi dikaitkan dengan pendekatan yang dipakai (konsep dasar,
hakikat manusia, dengan asumsi perilaku bermasalah),
b. Kemungkinan langkah treatment atau intervensi pada kasus tersebut,
c. Follow up dari kasus tersebut.