Anda di halaman 1dari 44

Berdasarkan bentuk partikel alloy, yaitu:

a. Alloy lathe-cut
Alloy ini memiliki bentuk yang tidak
teratur.
b. Alloy spherical
Alloy spherical dibentuk melalui proses
atomisasi. Dimana cairan
alloy diatomisasi menjadi tetesan
logam yang berbentuk bulat
kecil,. Alloy ini tidak berbentuk bulat
sempurna tetapi dapat juga
berbentuk persegi, tergantung pada
teknik atomisasi dan pemadatan
yang digunakan (Baum 1997).
c. Alloy Spheroidal
Alloy spheroidal juga dibentuk melaui
proses atomisasi.
4. Berdasarkan kandungan tembaga
Kandungan tembaga pada amalgam
berguna untuk meningkatkan
kekuatan (strength), kekerasan
(hardness), dan ekspansi saat
pengerasan. Pembagian amalgam
berdasarkan kandungan tembaga
yaitu:
a. Alloy rendah Copper (Low Copper Alloy)
Low copper alloy ini mengandung silver
(68-70%), tin (26-
27%), copper (4-5%), zinc (0-1%).
b. Alloy tinggi copper (High Copper Alloy)
High copper alloy mengandung silver (40-
70%), tin (22-30%),
copper (13-30%), zinc (0-1%). Alloy ini
dapat diklasifikasikan
sebagai :
a) Admixed/dispersi/blended alloys.
Alloy ini merupakan campuran
spherical alloy
dengan lathe-cut alloy dengan
komposisi yang
berbeda yaitu high copper spherical alloy
dengan
low copper lathe-cut alloy. Komposisi
seluruhnya
3

terdiri atas silver (69%), tin (17%), copper


(13%),
zinc (1%).
b) Single composisition atau
unicomposition alloys
Tiap partikel dari alloy ini memiliki
komposisi yang
sama. Komposisi seluruhnya terdiri atas
silver (40-
60%), tin (22-30%), copper (13-30%), zinc
(0-4%).
2.2 PREPARASI TUMPATAN AMALGAM
Preparasi kavitas pada gigi – gigi didesain
kurang lebih untuk memenuhi
kebutuhan dari amalgam, dengan kavitas
bentuk boks, tepi dengan hubungan but
joints, dan underkut untuk menahan
tambalan di dalam kavitas. Karena
amalgam
merupakan logam pengantar panas yang
baik, perparasi kavitas harus dangkal.
Tapi restorasi yang terlalu dangkal akan
cenderung patah, karena amalgam amat
rapuh. Oleh karena itu, preparasi gigi
dibuat mempunyai ketebalan minimal 2
mm. Bila karies dentin menembus lebih
dalam daripada 2 mm, pelapik atau basis
semen harus ditempatkan.
Untuk mengimbangi sifat rapuh dari
bahan ini, seluruh kavitas dibentuk ke
dalam gigi. Dinding – dinding rata sejajar
atau tegak dengan permukaan gigi,
menyusun bentuk preparasi seperti boks.
Retensi dari bahan dicapai dengan
kesejajaran dari dinding yang
berlawanan atau dengan sedikit
underkut pada
dentin.
2.3 Preparasi Tumapatn Amalgam Klas I
Pertimbangan Umum
4

Kavitas pada Klas I meliputi bagian pit


dan fissure permukaan oklusal
gigi. Tambalan amalgam Klas I yang
besar bisa merestorasi permukaan
okluasan email atau dentin yang
hilang atau rusak pada proses
karies.
Tambalan amalgam akan sangat
efektif , dan email di dekatnya
bisa
dipertahankan jika prinsip prinsip
tertentuk diikuti dalam desain kavitas.
Kedalaman kavitas dijaga
keseragamannya dalam setiap gigi.
Kedalamannya
biasanya terdapat di bawah tautan
dentin-email (enamel-dentin-junction)
Preparasi
Kavitas dibuat dengan menggunakan
round bur diamond sampai
kedalaman kira – kira 2 mm. Lalu kavitas
diperluas ke luar ke semua alur
(outline form) yang terjadi kerusakan.
Outline Form dibuat dengan cara
dibulatkan pada ujungnya, sbukan
dibuat seperti ada sudut yang
tajam.
Kedalaman pembuatan kavitas dapat
dengan mudah ditentukan bagi beberapa
klinisi yang berpengalaman, namun
bagi klinisi yang baru praktik, cara
mengukur penembusan secara visual
dapat dilakukan dengan cara
menggunakan ‘alat’ pengukur, yaitu
menandai tangkai bur dengan
menggunakan tinta pena 2 atau 3 mm
dari ujungnya. Axial wall dibuat sejajar
sumbu gigi, pulpa wallnya juga datar
serta halus. Berikut ini beberapa variasi
outline form dan desain kavitas klas 1
untuk molar atas dan molar bawah.
5
Gambar 1 Molar Pertama Atas; variasi
dalam desain preparasi. A.Desain
konservatif hanya meliputi fissure sentral
dan distal. B.Karies di bawah lingir
oblik. C.Karies hanya mengenai fissure
distal dan lingual. D.Preparasi untuk
kerusakan di samping tonjol carabelli.
E.Penampang melintang preparasi. F.
Penyudutan bur untuk preparasi lingual
6
Untuk pembuatan desain kavitas
pada gigi premolar, karena
ukurannya yang kecil sering terkena
pemotongan yang berlebihan dan terlalu
besar akibat penggunaan bur yang tidak
hati – hati. Berikut ini contoh
outline form dari gigi prmolar dan
kesalahan umum yang sering dilakukan.
Gambar 3.Premolar kanan bawah ;
gambar kiri, benar ; gambar kanan,
kesalahan
yang umum dilakukan.
Selanjutnya pulpa wall diratakan dengan
bur konus terbalik. Axial
wall pada lingual dari molar atas
dan bagian fasial molar bawah juga
diratakan, Dalam melakukan pengeburan
dilakukan dengan hati – hati untuk
tidak mengambil bagian bawah dinding
secara berlebihan selama preparasi.
Namun apabila karies telah meluas di
bawah batas optimal dari kedalaman
dasar, pengangkatan karies dentin
ditunda sampai kavitas disiapkan. Karies
dentin dibuang dengan eskavator atau
bur bulat.
Gambar 2. Variasi dalam desain klas I
untuk molar
pertama bawah. A.Preparasi meliputi alur
fasial dan
fissure. B.Preparasi konservatif untuk
fissure sentral
mesial dan distal. C.Preparasi oklusal
yang
diperluas dan juga fisure fasial yang kecil.
D.Menghaluskan dinding dengan hoe
email
7

2.4 Preparasi Tumpatan Amalgam Klas II


Definisi restorasi Klas II adalah bila
jaringan karies telah mengenai
permukaan mesial atau distal (proksimal)
gigi posterior. Walaupun lesi Klas II
terjadi pada permukaan proksimal,
umumnya dianggap sebagai kavitas
campuran,
yaitu suatu kavitas yang mengenai
dua permukaan, salah satunya
adalah
permukaan oklusal. Begitu sering terjadi
sehingga dalam praktik kavitas Klas II
dibagi menjadi mesial-oklusal (MO),
disto-oklusal (DO), atau mesial-oklusal-
distal (MOD). Karena gigi-gigi
biasanya saling berkontak, akses ke
kavitas
tertutup dan harus dibuat dengan
memotong substansi gigi dari lingual,
fasial, atau
oklusal. Cara yang biasa tentunya adalah
membuat akses dari oklusal; meskipun
begitu, bila lesi dekat garis servikal,
kadang-kadang preparasi dari fasial atau
lingual menjadi pilihan.
Amalgam adalah suatu bahan yang
rapuh, sehingga dibutuhkan dinding
kavitas yang tegak lurus terhadap
permukaan email. Bila amalgam
dimampatkan
ke dinding ini, interfase antara email dan
amalgam akan berakhir sebagai butt
join. Karakteristik amalgam yang
buruk ini sering disebut “kekuatan
tepi”.
Kekuatan dan keutuhan bagian tepi
adalah dua kriteria penting untuk
memutuskan
apakah tonjolan yang lemah akan
dipertahankan atau dikorbankan. Jika
dikorbankan, seluruh tonjol dipotong,
dibuang kira-kira sepertiga dari panjang
total mahkota sehingga cukup banyak
ruang untuk logam agar bisa menahan
fraktur selama pengunyahan.
Empat tipe perlekatan dapat dipakai
untuk retensi restorasi: (1) undercut pada
daerah oklusal atau gingival, (2) interlock
aksial (alur fasial dan lingual), (3) parit,
8
dan (4) dowel atau pin. Suatu parit
adalah lubang yang dibuat, tempat
ke
dalamnya amalgam akan dimampatkan.
Setelah mengeras amalgam menjadi kuat
dengan retensi yang besar. Panjangnya
bervariasi dari 2-4 mm dan lebarnya kira-
kira 1 mm. Parit tidak ditempatkan terlalu
jauh ke arah pulpa, tetapi juga tidak
terlalu dekat ke permukaan agar bagian
tepi gigi tidak patah. Lubang parit harus
cukup besar untuk tempat pemampat
yang kecil dan dalamnya 1-2 mm.
Gambar 4. Diagram preparasi gigi,
nomenklatur dasar dari kavitas .
A.Dinding dan dasar B. Pulpa dan dinding
gingival boleh juga dinamakan lantai
Untuk lebih bisa dipahami, kavitas Klas II
dapat dibagi dalam dua
kategori; (1) Klas II amalgam
insipien adalah tambalan yang
sedikit
banyak menutupi lubang masuk
melalui aktivitas mikroba dapat
menyerang gigi, dan (2) Klas II
amalgam yang diperluas merupakan
tambalan yang mengembalikan bagian
gigi yang hilang atau rusak.
`
2.4.1 Amalgam Klas II Insipien
9
Lesi insipien biasanya kecil dan terletak
tepat di bawah titik kontak
anatomik dari gigi. Pada gigi-gigi
yang malposisi, titik kontak yang
sesungguhnya bisa berada di lain tempat,
yang tentunya akan mengubah
lokasi lesi. Deteksi lesi karies Klas II
insipien tidak mudah dilakukan.
Proyeksi sayapgigit (bite-wing) barangkali
merupakan cara yang terbaik,
karena letak gigi-gigi yang berdekatan
menghalangi pemeriksaan dengan
sonde. Gigi harus dipreparasi untuk
restorasi Klas II. Lesi proksimal
insipien menembus hanya dentin kira-kira
1 mm dan semua jaringan karies
otomatis akan hilang dalam preparasi
kavitas.
Gambar 5. Memotong lesi tengah melalui
permukaan proksimal dari tiga
gigi
Ragangan Preparasi Kavitas
Secara umum, ragangan harus kecil dan
konservatif. Usahakan
untuk membatasi ukuran dari
kavitas, khususnya pada orifis
oklusal.
10

Jangan membuang jaringan email


yang sehat terlalu banyak tetapi
sebaliknya, membuat orifis kavitas terlalu
kecil akan membatasi akses ke
gigi. Walaupun demikian, pemakaian
pemampat amalgam yang kecil
dapat memampatkan amalgam dengan
efektif ke dalam bukaan oklusal
yang kecil.
Bentuk kavitas adalah parit terbalik
pada bagian samping gigi.
Dinding gingival sejajar dengan tepi
interseptal gingival dan meluas di
bawah lesi ke dalam email sehat,
biasanya 1 atau 2 mm di bawah titik
kontak. Lokasi tepi fasial dan lingual
ditentukan oleh luas dan sifat dari
email. Tepi ini diperluas di luar titik kontak
dan tentu saja, melebihi tepi
luar dari lesi. Jika daerah email yang
berwarna putih mutiara membatasi
lesi, dinding-dinding ini tidak
ditempatkan terlalu berjauhan bila
dibandingkan jika email teksturnya putih
seperti kapur. Lokasi dinding-
dinding ini ditentukan oleh jarak
antaranya dan permukaan proksimal dari
gigi yang berdekatan. Dalam rongga
mulut yang relatif bebas karies, jarak
ini hanya perlu sebesar ketebalan sonde
yaitu 0,4 mm. Sedangkan pada
mulut yang mudah terserang karies,
jarak adalah 0,75 mm, kira-kira
setebal pahat atau hatchet.
11
Gambar 6. Pandangan mesial dan oklusal
dari preparasi gigi dengan lesi
karies insipien.
Bentuk Intenal
Tegas, dinding yang terpotong jelas
membentuk pinggiran cavo-
surface yang 90 derajat. Dinding aksial
dari preparasi berbentuk datar atau
cembung pada pandangan horizontal;
pada pandangan vertikal, rata dan
sejajar dengan sumbu panjang gigi.
Dinding fasial dan lingual mempunyai
undercut untuk menahan restorasi
amalgam pada tempatnya. Undercut ini
tidak dalam tetapi seragam dan meluas
dari dasar gingiva ke permukaan
oklusal.
Urutan Preparasi
Restorasi Klas II insipien pada dasarnya
adalah preparasi yang
menggunakan bur. Karena tidak
meluas,maka tidak ada karies dentin
yang
perlu diekskavasi dengan instrumen
genggam, sebab bur secara otomatis
sudah menghilangkannya selama
preparasi gigi.
12

1. Preparasi melibatkan alur oklusal dan


ceruk. Pekerjaan ini dilakukan
dengan bur bulat No.
1
/
2
dan disempurnakan dengan bur 330.
Beberapa
ceruk dan alur imun terhadap karies.
2. Memotong bagian fasio-lingual yang
dilakukan untuk mendapat akses
ke lesi proksimal. Kemudian membuat
takikan dengan bur bulat No,
1
/
2
menembus lingir tepi untuk membuka
pertautan dento-email.
3. Setelah orifis dari “parit terbalik”
dibuat, preparasi dentin dengan bur
bulat, dan potong sebuah alur sempit
fasio-lingual di bawah lapisan
proksimal dari email.
4. Lapisan email ditembus denga
alur vertikal. Tindakan ini harus
dilakukan hati-hati agar tidak mengenai
permukaan gigi .
5. Lapisan email yang menjadi
lemah karena pembuatan alur bisa
dipatahkan.
6. Penyempurnaan tepi dilakukan dengan
pahat dan hatchet
7. Dinding aksial diperdalam jika
diperlukan, untuk membentuk kembali
alur aksial, dan untuk melakukan
penyempurnaan tepi sepanjang
oklusal
2.4.2 Amalgam Klas II yang Diperluas
Amalgam yang diperluas jelas lebih besar
karena daerah-daerah
dalam kavitas atau karies rekuren
disekitar tambalan lama. Dinding
dipreparasi datar dan lurus, dengan sudut
cavo-surface 90 derajat. Berbeda
dengan preparasi kavitas insipien, sudut
fasio-gingiva dan lingio-gingiva
13
lebih baik tajam daripada bulat.
Kedalaman dinding aksial tidak
ditentukan
oleh lesi karies atau tambalan yang lama.
Tetapi ditentukan secara acak
dan biasanya lebarnya 1,2 mm untuk gigi
premolar dan 1,8 mm untuk gigi
molar. Faktor-faktor yang
mempengaruhi lebar ini berkaitan
dengan
anatomi gigi, seperti lokasi pertautan
ento-email dan jarak dasar gingiva ke
garis servikal. Gigi-gigi umumnya lebih
menyempit dan email menjadi
lebih tipis di daerah pertautan semento-
email, dan ciri anatomi dari gigi ini
sendiri merupakan faktor yang
menentukan lebar dasar gingiva. Tetapi
satu hal yang tidak mempengaruhi lebar
dasar gingiva adalah kedalaman
karies. Jika karies dentin atau tambalan
yang lama meluas ke arah pulpa ,
basis ditambahkan untuk membawa
preparasi kembali ke lokasi
optimalnya, atau diaplikasikan kalsium
hidroksida untuk melindungi dan
menginsulasi pulpa.
Komponen retentif dasar dari boks
proksimal adalah alur aksial,
satu ditempatkan di fasial dan yang lain
ditempatkan di lingual. Alur-alur
ini lebih dalam pada ujung gingivanya
dan cenderung menghilang ke arah
oklusal. Makin lebar boks, makin besar
sudut yang dibentuk oleh dinding
fasial dan lingual dan akibatnya, makin
dalam alur yang harus dibuat. Bila
sudut ini mendekati 90 derajat, retensi
tambahan diperlukan seperti suatu
parit atau pin.
Gambar 7. Kedalaman alur aksial
dipengaruhi oleh perluasan bucco-
lingual. A. Kavitas yang kecil dengan
perluasan minimal. B.Kavitas mulai
mengelilingi gigi. C. Kavitas yang besar
meluas mengenai sebagian permukaan
bukal dan lingual
Urutan preparasi
Preparasi kavitas ini mengikuti langkah-
langkah dalam preparasi
kavitas dari Dr. G. V Black. Di sini tidak
digunakan bur kecepatan tinggi,
melainkan dilakukan prosedur yang
sama seperti untuk lesi insipien.
Dengan bur fisur runcing No. 700
kecepatan rendah, dentin di bawah
email proksimal dibuang, diikuti
dengan mencungkil sisa email dan
membuat bagian tepi.
14
Gambar 8. Bur no 700 kecepatan rendah
digunakan memotong parit. Sudut
gingiva, khususnya harus tajam dan
berbatas jelas. Semua dentin harus
dihilangkan sehingga hanya tinggal
lapisan email.
1. Preparasi dari alur berparit di bawah
email, tidak boleh terlalu ditekankan.
Dengan hati-hati pertimbangkan
apakah sudut-sudut tajam dan
tegas,
apakah parit cukup diperluas kea rah
fasial dan lingual, apakah dasar
gingiva dari alur rata dan halus, dan juga
apakah semua dentin telah
dihilangkan dari bawah email.
2. Bila operator telah memeriksa parit
dan email yang sudah dipatahkan,
bagian tepi dibuat dengan instrument
genggam.
3. Untuk menambah kesempurnaan
pahat dan hatchet email digunakan
pengasah tepi gingiva untuk
menghaluskan dasar gingival dan
menghilangkan fragmen email yang
tertinggal.
15

4. Pembersihan bagian dalam dari


kavitas. Karies dentin sekarang diperiksa
dan dibuang. Pembersihan bagian dalam
dari kavitas adalah penting dan
rutin, yang meliputo pemeriksaan daerah-
daerah yang terlewatkan seperti
basis semen yang diperdalam
sehingga menyebabkan amalgam
tinggi
dalam oklusi atau memperbaiki dinding
oklusal atau sudut garis.
5. Penyempurnaan alur retensi dengan
bur fisur runcing cross-cut No.700 dan
bur bulat No.
1
/
2
.
6. Mengubah alur retentive yang bulat
menjadi segi empat dengan pengasah
tepi gingival. Jelas bahwa alur
retentive segi empat menambah sifat
retentive dari restorasi.
7. Perencanaan tepi. Ini merupakan
langkah akhir sebelum pemasangan pita
matriks dan pemampatan amalgam.
Permukaan yang tidak teratur
sepanjang dasar gingival dapat
dihaluskan dengan instrument genggam
dan kurva tebalik dari oklusal dapat
dipreparasi dengan pahat bengkok
yang tajam.
8. Kemudian dilakukan pembuangan
debris, penghilangan fragmen semen
dan membersihkan sisa darah yang telah
mongering. Larutan hidrogen
peroksida 3% bisa digunakan untuk
membantu menghilangkan debris.
2.5 Preparasi Tumpatan Amalgam Klas V
Pertimbangan Umum
Restorasi ini, dibatasi pada permukaan
fasial dari molar dan premolar
(kadang-kadang) meliputi permukaan
lingual dari molar), dimaksud untuk
16

menambal karies dan menggantikan


substansi gigi yang berpotensi karies di
dekat gingival.
Secara umum, kavitas kelas V hanya
meliputi email dan dentin.
Suatu kesalahan yang umum terjadi
adalah membatasi panjangnya kavitas
dan mengakhiri tepi mesial dan
distal di tengah-tengah email yang
terdekalsifikasi. Beberapa tahun setelah
restorasi bagian email ini akan pecah,
dan karies sekunder berkembang pada
lokasi ini. Walaupun restorasi klas V
adalah restorasi satu-permukaan, dapat
menjadi sumber kegagalan klinis. Ada
beberapa kesulitan preparasi,
penempatan dan penyelesaian akhir

khususnya disepanjang tepi gingival.
Sesuai dengan bentuk permukaan luar
yang cembung, dinding aksial di
preparasi sedemikian rupa sehingga gigi
mendapat tambalan amalgam yang
cembung serta mempunyai ketebalan
yang
sama. Umumnya, bagian tepi meluas ke
sulkus gingival, berakhir di oklusal
pada ketinggian kontur permukaan fasial.
Tugas operator dalam preparasi gigi
adalah untuk mempertahankan
keseragaman dalamnya kavitas pada
permukaan molar yang panjang dan
untuk membentuk butt-joint. Retensi
didapat dari undercut ke arah oklusal
dan gingival, dan boleh bulat atau
bersudut, tergantung jenisbur yang di
pakai. Karena tepinya rata tidak
dimiringkan untuk penetrasi dinding
aksial
dan karena bilahnya runcing terbalik
sehingga menjaga bur di tengah
kavitas, bur konus terbalik No. 37 (35)
lebih disukai oleh beberapa operator
dibanding bur fisur lurus, khususnya
waktu preparasi dengan kecepatan
rendah. Preparasi tepi kavitas
dengan pahat bersudut dua atau
pahat
lengkung membantu menghaluskan cavo-
surface. Pembersihan kavitas dari
karies dilakukan secara manual dengan
eskavator demikian juga dengan
perubahan pada ragangan untuk
membuang email yang tidak disokong.
17
Alur retensi bisa bulat atau bersudut
Karena banyak kondisi yang tidak
spesifik, preparasi kavitas
dengan permukaan halus kurang mempunya
peralatan yang pasti, yang
mungkin sangat bervarisi dari satu operator
ke operator yang lain.
Urutan Preparasi
Bila karies sudah dalam, dibersihkan dengan
eskavator, bila perlu
dibuka dulu dengan bur bulat kecil. Jika
visibilitasnya baik dan tumpuan
jari ideal, lebih baik dipakai kecepatan tinggi
daripada kecepatan rendah.
Jika tidak, bagaimanapun rasa taktil
mengharuskan pemakaian
burkecepatan rendah. Kavitas dilebarkan
sesuai out line form dengan bur
fisur, pada umunya kavitas dibentuk seperti
ginjal.
18

Kavitas dibentuk seperti ginjal


Keseragaman kavitas tidak mudah
dikontrol karena operator
menggerakan bur dan handpiec di atas
permukaan bukal yang cembung.
Untuk alasan ini, lebih baik dipakai bur konus
terbalik yang besar (CA
kecepatan rendah No. 37) untuk memotong
massa yang tebal. Bentuknya
mencegah terpelesetnya bur ke luar dan
panjang bilah berfungsi sebagai
pengukur kedalaman untuk operator (kedalan
bur 37 adalah 1,0 mm).
Karena retensi tambahan dituntut untuk
kavitas klas V, retensi dibuat pada
incisoaxial line angle dan serviaxial angle line
angle, garis sudut insisal
boleh tajam dan persegi (angular) daripada
bulat. Dasar kavitas/ dinding
aksial diratakan sesuai dengan lengkung
permukaan luar gigi. Setelah
bentuk kavitas dipreparasi, pahat bersudut
dua dan atau dipakai untuk
menghaluskan permukaan email yang
bergerigi dan tidak teratur menjadi
permukaan lurus dan melengkung atau
melengkung dengan baik. Satu
yang harus diperhatikan yaitu bahwa tepi
oklusal harus bertemu dengan
dengan permukaan dengan sudut tegak
lurus, sehingga sejajar dengan
batang email. Underkut gingival dan oklusal
tidak perlu berlebihan tetapi
harus jelas dan terpotong rapi.
Ramus mandibula menghalangi akses pada
daerah disto-bukal dari
molar kedua, dan karena itu mengganggu
ruang untuk kepala handpiec.
Seringkali ujung distal dari kavitas klas V ini
(molar dua) hanya dapat
dicapai melalui penglihatan langsusng dengan
bur bulat dan handpiece
lurus. Walaupun operator dapat memodifikasi
bentuk internal preparasi
pada daerah disto-bukal yang sulit
dijangkau, operator harus selalu
membuat tepi cavo-surface 90
o
dan retensi yang memadai.
19
Preparasi tepi kavitas dengan pahat bersudut
dua atau pahat lengkung
membantu menghaluskan ketidakteraturan
cavosurface.
Dalam beberapa keadaan, email yang tak
tersokong meluas ke
bawah sudut-sudut gigi menuju ke bawah
proksimal tambalan amalgam
yang lama. Pada kasus ini, merupakan
tindakan yang tepat untuk
memperluas kavitas tambalan di
dekatnya, mengakhiri kavitas seakan
beakhir pada email.
Perhatian khusus harus diberikan untuk
mempertahankan
kekeringan selama pemampatan amalgam.
Supaya cairan jangan bocor ke
dalam kavitas sehingga membasahi dentin
dan mengkontaminasi amalgam,
isolator karet dan klem harus dipakai bila
mungkin.

BAB 3
KESIMPULAN
Amalgam merupakan bahan tumpatan
kedokteran gigi yang merupsksn
campuran dari beberapa logam (alloy)
yang salah satunya adalah merkuri.
Kekerasan amalgam dikenal cukup baik
sehingga sering digunakan untuk
menumpat gigi posterior. Amalgam berikatan
dengan gigi secara mekanis. Oleh
karena itu pada saat preparasi kavitas
operator wajib membuat retensi berupa
undercut pada bagian-bagian yang telah
ditentukan sesuai dengan Klas kavitas.
Selain itu, tugas operator dalam preparasi gigi
adalah untuk mempertahankan
keseragaman dalamnya kavitas agar tidak
terjadi kebocoran mikro pada tumpatan
sehingga menurunkan resiko karies sekunder
pada gigi tumpatan.
20
DAFTAR PUSTAKA
Baum, Philips, Lund. 1997. Buku Ajar Ilmu
Konservasi Gigi. Jakarta : EGC.
Chandra, Satish dkk. 2007. Textbook of
Operative Dentistry. New Delhi :
Jaypee Brothers Medical Publishers
Gopikrishna, V. 2011. Preclinical Manual of
Conservative Dentistry. New
Delhi : Elsevier
21
22
Download
of 26

Anda mungkin juga menyukai