Anda di halaman 1dari 4

NAMA : PUTRI ANGGANA DEWI

NIM : I406051065

Perbedaan penurunan fungsi kognitif pada demensia dan pada pasien depresi

Demensia adalah suatu sindrom akibat penyakit otak, biasanya bersifat


kronik atau progresif serta terdapat gangguan fungsi luhur, termasuk daya ingat, daya
pikir, daya orientasi, daya pemahaman, berhitung, kemampuan belajar, berbahasa,
dan daya kemampuan menilai. Kesadaran tidak berkabut, dan biasanya disertai
hendaya fungsi kognitif, ada kalanya diawali oleh kemerosotan(deterioration) dalam
pengendalian emosi, perilaku sosial, atau motivas. Jenis demensia yang paling sering
dijumpai yaitu demensia tipe Alzheimer. Sindrom ini terjadi pada penyakit
Alzheimer, pada penyakitserebrovaskuler, dan pada kondisi lain yang secara primer
atau sekunder mengenai otak.1

Salah satu model patofisiologi Alzheimer adalah kombinasi berbagai faktor


yang mengakibatkan akumulasi amiloid β (Aβ) di otak, mengakibatkan disfungsi
sinaps, pembentukan tangle, dan kematian sel. Proses ini berlangsung bertahun–tahun
sampai beberapa dekade, dimana stadium preklinis Alzheimer dapat terlihat sebagai
MCI.2 Menurut hipotesis ini, gangguan kognitif pada Alzheimer disebabkan deposisi
amiloid–β yang pelan-pelan menghancurkan neuron secara difus. Pembentukan plak
amiloid mencetuskan inflamasi, aktivasi mikroglia dan astrosit serta pelepasan
substansi toksik seperti sitokin dan radikal bebas, selanjutnya mencetuskan
pembentukan tangles didalam neuron dengan cara perubahan beragam ‘kinase’ dan
‘fosfatase’, mengakibatkan hiper-fosforilasi protein tau, dan mengubah mikrotubulus
neuronal menjadi tangle. Akhirnya, disfungsi sinaps berskala luas, disfungsi dan
kematian neuronal mengakibatkan kematian neuronal difus dan menjadi penurunan
fungsi kognitif progresif.3
Gambar 1.1 perbedaan neuron pada orang normal dan alzheimer

Depresi adalah satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan


dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada
pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa
putus asa dan tidak berdaya, serta bunuh diri.
Selama ini kita mengetahui bahwa depresi dengan pengobatan selama ini baik
secara terapi obat maupun dengan psikoterapi angka keberhasilan sembuhnya tidak
terlalu memuaskan. Berbagai penelitian mengatakan bahwa kemungkinan kambuh
depresi pada pasien yang mengalaminya berkisar 50% walaupun dengan pengobatan
yang optimal.

Selain kekambuhan, pengobatan depresi juga sering terkendala dengan adanya


gejala sisa yang sering dialami oleh pasien depresi. Gejala sisa yang sering dialami
pasien depresi antara lain gangguan tidur, kekelahan berkepanjangan, hilangnya
minat melakukan sesuatu, masalah konsentrasi dan perasaan bersalah.
Secara khusus gejala sisa berkaitan dengan masalah fungsi kognitif yang
dialami pasien depresi berkaitan dengan fungsi eksekutif, memusatkan perhatian,
daya ingat dan fungsi visuospasial (berkaitan dengan ruang).

Gejala kognitif ini juga berkaitan dengan masalah pikiran negatif dan
pembicaraan negatif yang sering dialami pasien depresi. Pasien depresi sering merasa
bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya atau merupakan bagian dari
dirinya adalah sesuatu yang buruk dan akan membuat semuanya jadi bermasalah.

Pikiran negatif ini sangat kuat ada di dalam diri pasien sehingga membuat
masalah terkait dengan kesembuhan juga sulit dicapai secara optimal. Terapi seperti
terapi kognitif dan perilaku serta terapi interpersonal memegang peranan penting saat
ini dalam membentuk framing yang baik dan positif berkaitan dengan pikiran dan
perilaku pasien depresi. Hal ini akan membantu pasien untuk bisa keluar dari
polapikiran negatif yang sering kali berlangsung otomatis. Walaupun kondisi ini
biasanya juga sangat berhubungan dengan latar belakang pasien dan hubungan pasien
dengan lingkungannya, terapi kognitif banyak dibuktikan secara ilmiah memperbaiki
gejala depresi.

SUMBER
1. SadockBJ, Sadock VA. Delirium, dementia, amnestic and cognitive disorders.
Dalam: Sadock BJ, editor. Kaplan & Sadock's synopsis of psychiatry:
behavioral sciences/clinical psychiatry. Edisi ke-10. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins; 2007.
2. Budson AE & Solomon PR. 2012. New Diagnostic Criteria for Alzheimer’s
disease amd
MCI for the Practical Neurologist. Practical Neurol. 12 (2), 88 – 96.
3. Stahl SM. 2008. Dementia and Its Treatment. In : Stahl’s Essential
Psychopharmacolo Neuroscientific Basis and Practical Applications, 3rd ed.
(pg 899–942). New York :Cambridge University Press.