Anda di halaman 1dari 9

Nama : Hilda Anggraeni

NIM : 12030117420074
Kelas : A (angkatan 38)

Resume Akuntansi Sektor Publik


“Analisis Rumah Sakit”

1. Mengapa perubahan terbaru yang paling dinamis terhadap struktur organisasi


dalam layanan kesehatan berpusat pada sistem pengiriman terpadu?
Dalam sistem pengiriman yang terintegrasi, organisasi tunggal, atau kelompok
organisasi yang sangat selaras, menawarkan berbagai layanan perawatan dan dukungan
pasien yang dioperasikan secara terpadu. Rentang layanan yang ditawarkan oleh sistem
pengeluaran terpadu dapat berfokus pada area tertentu, seperti perawatan jangka panjang
atau kesehatan mental, atau lebih umum ia mungkin menawarkan layanan subakut, akut,
dan pasca-akut yang komprehensif.
Kekuatan pendorong di belakang sistem ini adalah motivasi untuk menawarkan
serangkaian layanan yang terkoordinasi dan karenanya meningkatkan keefektifan secara
keseluruhan dan menurunkan biaya keseluruhan dari layanan yang disediakan. Biaya
dikurangi dengan hanya menyediakan layanan yang diperlukan dan memastikan bahwa
layanan diberikan pada tingkat klinis yang paling hemat biaya. Sistem pengiriman terpadu
dapat dibentuk oleh rencana perawatan yang dikelola atau bahkan langsung oleh
pengusaha, tetapi lebih sering mereka dibentuk oleh penyedia untuk memfasilitasi kontrak
dengan rencana atau pengusaha. Fitur utama dari sistem pengiriman terpadu adalah bahwa,
untuk menjadi sukses, fokus utama harus efektivitas klinis dan profitabilitas sistem secara
keseluruhan, yang bertentangan dengan masing-masing elemen individu.
2. Mengapa perlu adanya penyeimbangan biaya, kualitas dan akses dalam sistem
pengolaan jasa pelayanan kesehatan?
Semua sistem pengelolaan mencoba menyeimbangkan biaya, kualitas, dan akses.
Pembayar menginginkan minimalisasi biaya yang sesuai dengan kualitas dan aksesnya.
Pada saat yang sama, penyedia layanan menginginkan kepastian apakah mereka menerima
pembayaran seimbang dengan penyediaan layanannya. Terkait keseimbangan di antara isu
yang berkembang, terdapat perubahan yang dramatis dari cara pembayaran yang dibuat
oleh penyedia layanan. Dalam pertengahan abad ini, sistem pembayaran di AS telang
berkembang dari sistem fee for service menuju satu peningkatan berdasarkan pembayar
pajak perorangan. Perubahan-perubahan tersebut mencakup pentingnya biaya, siapa yang
mengatur harga, siapa yang mengasumsikan risiko, dan bentuk serta dasar pembayaran.
Oleh karena itu, perlu ada pemahaman terkait prosedur pembayaran jasa pelayanan
kesehatan dan sistem yang digunakan.
Prosedur Pembayaran Jasa Pelayanan Kesehatan
Mekanisme pembayaran (payment mechanism) yang dilakukan selama ini adalah provider
payment melalui sistem budget, kecuali untuk pelayanan persalinan yang oleh bidan di
klaim ke Puskesmas atau kantor pos terdekat. Alternatif lain adalah “users empowerment”
melalui sistem kupon. Kekuatan dan kelemahan alternatif – alternatif tersebut perlu
ditelaah dengan melibatkan para pelaku di tingkat pelayanan. Informasi tentang kekuatan
dan kelemahan masing-masing cara tersebut juga merupakan masukan penting untuk
melengkapi kebijakan perencanaan dan pembiayaan pelayanan kesehatan.
Secara tidak langsung bida dilakukan perhitungan kasar tentang kebutuhan pembiayaan
kesehatan, kemudian dibandingkan dengan total anggaran pemerintah (dalam hal ini
pemerintah pusat dan daerah). Khusus pembiayaan bagi penduduk miskis, tahun 2011
muncul gagasan menerapkan sistem “matching grant” untuk membiayai pendudukan
miskin. Dalam hal ini daerah diberi sebagian tanggung jawab sesuai dengan kemampuan
fiskalnya. Analisis awal perlu dilakukan untuk melihat sejauh mana kapasitas daerah untuk
“berbagi” pembiayaan pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin di daerahnya.
Sistem Pembayaran Jasa Pelayanan Kesehatan
Beberapa jenis prosedur sistem pembayaran yaitu sistem berdasarkan charge (charge-
based system), sistem pembayaran berdasarkan biaya (cost based payment) da sistem
pembayaran yang tetap (flat fee system). Masing –masing prosedur sistem pembayaran
memiliki pertimbangan dalam menentukan berapa charge yang dikeluarkan.
Pada sistem berdasarkan charge (charge-based system) penyedia layanan tidak
mengharapkan keuntungan yang berlebih, dimana pengaturan biaya tergantung pada aspek
operasi, peluang, kemungkinan, dan pengembalian investasi. Misalnya, sebuah rumah sakit
yang beru beroperasi bulan Desember ingin meraih pasar/pelanggan. Maka selaian
memberikan fasillitas dan pelayanan yang baik, rumah sakit itu juga memberikan harga
yang murah. Artinya, total biaya sama dengan total pendapatan (break even point).
Dalam sistem pembayaran berdasarkan biaya (cost based payment), hal yang
mempengaruhi pemberian charge pada pasien adalah unit pelayanan yang telah
dijalankan/dipakai dan beberapa isu-isu penting: reasonables, case mix, service mix, staff
mix, dan efisiensi. Kelemahan sistem pembayaran ini adalah apabila pasien mengabaikan
pembayaran padahal pelayanan telah diberikan, maka penyedia layanan harus melakukan
penggeseran biaya (cost shifting) kepada pasien lain.
Sedangkan pada flat fee system, pembayaran dapat ditentukan oleh payor atau hasil
negosiasi antara payor dan penyedia layanan kesehatan. Pator membayar jumlah yang
pasti, yang meliputi biaya setiap prosedur, pasien rawat inap, hari, admisi, discharge, dan
diagnosis.
3. Mengapa terdapat perbedaan karakteristik pengelolaan keuangan antara BLU
Rumah Sakit dengan BUMN/BUMD padahal sama-sama merupakan unit
pemerintah yang dikelola secara otonom dengan prinsip efisiensi, dan produktivitas?
Rumah sakit berbentuk Badan Layanan Umum (BLU) adalah instansi di
lingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat
berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari
keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan
produktivitas. Tujuan BLU adalah meningkatkan pelayangan kepada masyarakat dalam
rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa dan
memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip ekonomi dan
produktivitas dan penerapan praktik yang sehat (PP No. 23/2005 tentang pengelolaan
keuangan BLU). Rumah sakit berbentuk BLU antara lain, RSCM, RS Jantung Harapan
Kita, RS Hasan Sadikin Bandung, RS Makassar, RS Karyadi Semarang, RS Sanglah
Denpasar, RS Padang, RS palembang, dan RS Dr. Sadjito Yogyakarta. Sedangkan RSUD
yang sudah dialihkan menjadi BLUD antara lain RSUD Budi Asih, RSUD Tarakan , Koja,
Duren Sawit, RSUD Haji, dan RSUD Pasar Rebo.
Rumah sakit milik pemerintah ini dibedakan menjadi rumah sakit milik pemerintah
pusat yang dikenal Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dan rumah sakit milik pemerintah
provinsi dan kabupaten atau kota yaitu RSUD.
Perbedaan keduanya ada pada kepemilikan dimana RSUP merupakan milik pemerintah
pusat yang mengacu pada Departemen Kesehatan (DepKes), sedangkan RSUD merupakan
milik pemerintah provinsi dan kabupaten atu kota dengan pembinaan urusan
kerumahtanggaan dari Departemen Dalam Negeri. Namun, RSUD tetap berada di bawah
koordinasi Departeman Kesehatan.
Berikut dua jenis rumah sakit milik pemerintah :
a. Rumah sakit milik pemerintah yang tidak dipisahkan
Adalah rumah sakit yang dimiliki oleh kekayaan pemerintah. Contoh : RSUD
Banyumas dan RSUD Tangerang
b. Rumah sakit milik pemerintah yang dipisahkan
Adalah rumah sakit yang dimiliki oleh kekayaan pemerintah yang dipisahkan,
misalnya milik BUMN PT Aneka Tambang, PT Pelni dan beberapa perusahaan
perkebunan. Karena rumah sakit tersebut merupakan bagian dari BUMN, keadaannya
sangat bergantung pada kondisi keuangan BUMN yang menjadi induknya.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat diketahui bahwa berdasarkan kepemilikiannya, rumah
sakit di Indonesia perlu dibedakan. Rumah sakit pemerintah dituntut untuk menjadi rumah
sakit yang murah dan bermutu. Dalam pengelolaannya rumah sakit pemerintah memiliki
peraturan pendukung yang terkait dengan pengelolaan keuangan yang fleksibel. Berdasar
PP No. 23 tahun 2005 tersebut rumah sakit pemerintah telah mengalami perubahan sebagai
badan layanan umum. Perubahan kelembagaan ini berimbas pada pertanggungjawaban
keuangan bukan lagi kepada departemen kesehatan tetapi kepada departemen keuangan.
Oleh karena itu, sekalipun BLU dikelola secara otonom dengan prinsip efisiensi dan
produktivitas ala korporasi, namun terdapat beberapa karakteristik lainnya yang
membedakan pengelolaan keuangan BLU dengan BUMN/BUMD, yaitu:
1. BLU dibentuk untuk meningkatkan pelayanan kepada msyarakat dalam rangka
memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa;
2. Kekayaan BLU merupakan bagian dari kekayaan negara/daerah yang tidak dipisahkan
serta dikelola dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk menyelenggarakan kegiatan BLU
yang bersangkutan;
3. Pembinaan BLU instansi pemerintah pusat dilakukan oleh Menteri Keuangan dan
pembinaan teknis dilakukan oleh menteri yang bertanggung jawab atas bidang
pemerintahan yang bersangkutan;
4. Pembinaan keuangan BLU instansi pemerintah daerah dilakukan oleh pejabat pengelola
keuangan daerah dan pembinaan teknis dilakukan oleh kepala satuan kerja perangkat
daerah yang bertanggung jawab atas bidang pemerintahan yang bersangkutan;
5. Setiap BLU wajib menyusun rencana kerja dan anggaran tahunan;
6. Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) serta laporan keuangan dan laporan kinerja BLU
disusun dan disajikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari RKA serta laporan
keuangan dan laporan kinerja kementerian negara/lembaga/pemerintah daerah;
7. Pendapatan yang diperoleh BLU sehubungan dengan jasa layanan yang diberikan
merupakan pendapatan negara/daerah;
8. Pendapatan tersebut dapat digunakan langsung untuk membiayai belanja yang
bersangkutan;
9. BLU dapat menerima hibah atau sumbangan dari masyarakat atau badan lain;
10. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan keuangan BLU diatur dalam peraturan
pemerintah (dhi. PP No. 23 Tahun 2005).
4. Mengapa rumah sakit berkewajiban memberikan laporan akhir ?
Karena digunakan sebagai bukti pertanggungjawaban unit pelayanan rumah sakit
pemerintah daerah, setiap unit rumah sakit berkewajiban memberikan laporan akhir
sebagai bukti pertanggungjawaban atas pelaksanaan kegiatan usaha selama suatu periode
pelaporan. Laporan tersebut meliputi laporan alokasi dana, laporan pendapatan, dan
laporan pengeluaran ke pemerintah daerah setempat. Dengan dikeluarkannya UU No. 32
Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pusat dan Daerah, pemerintah daerah berhak menerima laporan
pertanggungjawaban akhir dari unit Rumah Sakit Pemerintah. Dana yang digunakan
sebagai biaya operasional unit pelayanan kesehatan juga berasal dari pemerintah daerah
setempat. Sedangkan untuk unit pelayanan kesehatan nonpemerintah, modal berasal dari
pemilik yang biasanya berbentuk yayasan. Oleh karena itu, yayasan merupakan pemilik
unit tersebut, sehingga laporan pertanggungjawaban diserahkan kepada pimpinan yayasan.
5. Mengapa manajemen persediaan mempunyai dampak terhadap keuangan rumah
sakit ?
Dalam manajemen keuangan suatu usaha, salah satunya rumah sakit, akuntansi
berfungsi melakukan pengelolaan dan pencatatan dampak kegiatan usaha dalam bentuk
moneter. Salah satu fungsi manajemen akuntansi adalah pengelolaan aktiva rumah sakit,
mencakup juga persediaan (stock atau inventory). Manajemen persediaan mempunyai
dampak terhadap keuangan rumah sakit secara langsung dan tidak langsung. Hal tersebut
dikarenakan persediaan dapat berupa persediaan barang yang akan langsung dijual ataupun
dibebankan sebagai biaya untuk penyajian produksi jasa. Sebagai contoh, obat apotek dapat
dianggap sebagai persediaan barang dagangan, sedangkan kassa dan alat kesehatan dapat
dibebankan sebagai biaya dalam jasa tindakan medis. Pengelolaan persediaan yang tidak
tepat akan menimbulkan biaya pengadaan, pemeliharaan, dan pemindahan persediaan yang
tidak efisien. Sistem yang terkomputerisasi menggunakan aplikasi Inventory, akan
memberikan banyak kemudahan dibandingkan sistem manual, antara lain:
a) Memudahkan pembuatan laporan rutin tentang data persediaan, seperti:
 Data kondisi persediaan obat, untuk mengatasi kemungkinan kekurangan dan
kelebihan stok.
 Data pemakaian obat menurut pengguna.
b) Memudahkan penelusuran bukti proses persediaan.
c) Mampu menyajikan data sebagai bahan dalam pembuatan perencanaan dan
penganggaran.
6. Mengapa penentuan tarif rumah sakit yang telah menjadi BLU/BLUD seharusnya
berbasis pada unit cost?
Rumah Sakit Pemerintah Daerah yang telah menjadi BLU/BLUD dapat memungut
biaya kepada masyarakat sebagai imbalan atas barang/jasa layanan yang diberikan.
Imbalan atas barang/jasa layanan yang diberikan tersebut ditetapkan dalam bentuk tarif
yang disusun atas dasar perhitungan biaya per unit layanan atau hasil per investasi dana.
Tarif layanan diusulkan oleh rumah sakit kepada menteri keuangan/menteri
kesehatan/kepala SKPD sesuai dengan kewenangannya, dan kemudian ditetapkan oleh
menteri keuangan/kepala daerah dengan peraturan menteri keuangan/peraturan kepala
daerah. Tarif layanan yang diusulkan dan ditetapkan tersebut harus mempertimbangkan
hal-hal sebagai berikut: kontinuitas dan pengembangan layanan, daya beli masyarakat, asas
keadilan dan kepatutan, dan kompetisi yang sehat. Penyusunan tarif rumah sakit
seharusnya berbasis pada unit cost, pasar (kesanggupan konsumen untuk membayar) dan
strategi yang diipilih. Tarif tersebut diharapkan dapat menutup semua biaya, diluar subsidi
yang diharapkan. Yang perlu diperhatikan adalah usulan tarif jangan berbasis pada
prosentase tertentu namun berdasar pada kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Secara umum tahapan penentuan tarif harus melalui mekanisme usulan dari setiap divisi
dalam rumah sakit dan aspek pasar dan dilanjutkan kepada pemilik. Pemilik rumah sakit
pemerintah adalah pemerintah daerah dan DPRD.
7. Mengapa pelayanan rumah sakit merupakan salah satu isu terpenting dalam
meningkatkan mutu?
Karena pelayanan rumah sakit saat ini merupakan salah satu isu terpenting dalam
meningkatkan kunjungan pasien rawat jalan dan rawat inap di suatu rumah sakit. Dengan
dibangunnya rumah sakit baru yang lebih megah dengan peralatan yang lebih canggih serta
tenaga lebih terampil, rumah sakit swasta dan rumah sakit pemerintah yang ada harus
meningkatkan kepuasan pasiennya. Selain peningkatan mutu pelayanan teknis medis,
peningkatan mutu pelayanan yang paling mudah dan murah adalah peningkatan mutu
pelayanan yang berhubungan dengan emosi pasien. Pelayanan yang dimaksud di sini
adalah pelayanan yang ramah, sopan dan santun, gesit terampil, serta peduli dan keluhan
pasien. Pelayanan tersebut di atas merupakan pelayanan yang berkarakter. Hal-hal tersebut
harus menjadi fokus perhatian pihak manajemen rumah sakit, sehingga dapat menarik
pasien baru dan mempertahankan pasien lama. Hal sepele akan memberikan dampak yang
sangat besar dalam menggambarkan citra suatu pelayanan rumah sakit. Pelayanan yang
berkarakter itu dimulai dari tingkat yang paling bawah seperti satpam, petugas kebersihan
sampai tingkat manajerial meliputi kepala bagian, direktur, para dokter dan perawat.
8. Mengapa diperlukan suatu langkah terobosan baru dalam manajemen rumah sakit?
Dalam era keterbukaan saat ini, suatu langkah terobosan baru dalam manajemen rumah
sakit sangat diperlukan, di mana peranan kesehatan sekarang sudah berorientasi pada
profit, bukan lagi berorientasi sosial. Padahal, kesehatan tidak bisa lepas dari peranan
sosialnya, mengingat profesi kedokteran sangat berhubungan dengan hal-hal kemanusiaan,
di mana kode etik yang masih harus dijunjung tinggi dikembangkan untuk menghindari
komerialisasi yang terlalu berlebihan. Banyak rambu-rambu yang ada pada kode etika
sekarang telah dilanggar. Karena itu, pendidikan karakter terutama bagi para pengambil
keputusan kebijakan pendidikan di negeri ini, sangat diperlukan. Sebenarnya kesehatan
adalah hak setiap warga negara, terutama masyarakat miskin. Pemerintah harus dapat
melindungi warganya untuk dapat hidup layak sejahtera. Pemerintah juga harus dapat
memberikan gaji yang layak bagi para dokter dan paramedis, agar pelayanan yang baik dan
berkarakter dapat diberikan.
Indonesia yang merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak
merupakan lahan bagi investor asing untuk menanamkan modalnya. Salah satunya adalah
sektor kesehatan, di mana rumah sakit bertaraf inernasional dibangun. Dengan adanya
persaingan ini, rumah sakit swasta nasional maupun rumah sakit pemerintah harus dapat
meningkatkan mutu pelayanannya.
9. Mengapa RSUD melakukan banyak penyesuaian khususnya pada pengelolaan
keuangan maupun penganggaran, termasuk penentuan biaya?
Salah satu alasannya karena adanya desentralisasi dan otonomi daerah dengan
berlakunya UU tentang Pemerintahan Daerah (UU No. 32 Tahun 2004, terakhir diubah
dengan UU No. 12 Tahun 2008), UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
Pusat dan Daerah, serta Kepmendagri No. 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Umum
Penyusunan APBD, kemudian PP No. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Badan Layanan Umum, PP No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan,
dan Permendagri No. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan
Badan Layanan Umum Daerah, membuat rumah sakit pemerintah daerah harus melakukan
banyak penyesuaian khususnya dalam pengelolaan keuangan maupun penganggarannya,
termasuk penentuan biaya. Dengan terbitnya PP No. 23 Tahun 2005, rumah sakit
pemerintah daerah mengalami perubahan menjadi BLU. Perubahan ini berimbas pada
pertanggungjawaban keuangan tidak lagi kepada Departemen Kesehatan tetapi kepada
Departemen Keuangan, sehingga harus mengikuti standar akuntansi keuangan yang
pengelolaannya mengacu pada prinsip-prinsip akuntabilitas, transparansi dan efisiensi.
Anggaran yang akan disusun pun harus berbasis kinerja (sesuai dengan Kepmendagri No.
29 Tahun 2002). Penyusunan anggaran rumah sakit harus berbasis akuntansi biaya yang
didasari dari indikator input, indikator proses dan indikator output, sebagaimana diatur
berdasarkan PP No. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum,
PMK No. 76/PMK.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Badan
Layanan Umum, dan khusus untuk RSUD, pengelolaan keuangannya harus mengacu dan
berdasarkan Permendagri Permendagri No. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah.
10. Mengapa seiring dengan perubahan RSUP menjadi Unit Swadana, mencari laba
usaha adalah penting meskipun bukan menjadi tujuan utama?
Karena rumah sakit pemerintah merupakan unit kerja dari Instansi Pemerintah yang
memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat umum. Sistem keuangan Rumah
Sakit mengalami perubahan secara keseluruhan diharapkan dana yang dikelola oleh Rumah
Sakit akan menjadi lebih besar dan terus meningkat sejalan dengan peningkatan
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) serta persiapan Badan Layanan Umum dari tahun
ke tahun. Kondisi ini selain akan membawa pengaruh positif bagi peningkatan pelayanan,
juga membuka peluang untuk menghindari penyalahgunaan dalam pengelolaan keuangan
negara. Walaupun Rumah Sakit Pemerintah berorientasi sosial atau nir laba, namun dengan
perubahan menjadi Unit Swadana, maka mencari laba usaha adalah penting walaupun
bukan menjadi tujuan utama pendirian Rumah Sakit tersebut. Rumah Sakit Pemerintah
menggunakan Laporan Hasil Usaha dalam melaporkan hasil usahanya, tetapi berbeda
dengan badan usaha lainnya atau Rumah Sakit yang berbentuk PT, pada Rumah Sakit
Swadana tidak ada bagian yang diserahkan kepada pemilik sebagai dividen.