Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Artritis gout atau biasa dikenal sebagai pirai adalah salah satu tipe dari penyakit artritis
(radang sendi). Pada zaman Yunani Kuno penyakit ini dijuluki sebagai penyakit para raja dan
raja penyakit. Penyakit ini sering menyerang kalangan sosial elite pada waktu itu. Hal ini
diduga disebabkan oleh konsumsi makanan dan alkohol yang berlebihan. Seiring berjalannya
waktu, penyakit pirai ini banyak ditemukan pada seluruh elemen masyarakat.1

Asam urat merupakan senyawa nitrogen yang dihasilkan dari proses katabolisme purin
baik dari diet maupun dari asam nukleat endogen (asam deoksiribonukleat). Gout dapat
bersifat primer, sekunder, maupun idiopatik. Gout primer merupakan akibat langsung
pembentukan asam urat tubuh yang berlebihan atau akibat penurunan ekskresi asam urat.
Gout sekunder disebabkan karena pembentukan asam urat yang berlebihan atau ekskresi
asam urat yang berkurang akibat proses penyakit lain atau pemakaian obat-obatan tertentu
sedangkan gout idiopatik adalah hiperurisemia yang tidak jelas penyebab primer, kelainan
genetik, tidak ada kelainan fisiologis atau anatomi yang jelas.2

Artritis gout merupakan penyakit yang paling sering dijumpai pada laki-laki dewasa
dengan puncak insiden pada dekade keempat dan kelima. Pada tahun 1986 di Amerika
Serikat, terdapat 2,2 juta kasus pirai yang dilaporkan. Pada tahun 1991, dari 1000 pria
berumur 35 – 45 tahun, diperkirakan 15 orang diantaranya adalah penderita pirai. Angka
kejadian gout meningkat menjadi sekitar 18,83 % pada 5 tahun terakhir ini. Di Indonesia
sendiri, penyakit artritis pirai pertama kali diteliti oleh seorang dokter Belanda, dr. Van Den
Horst tahun 1935 dimana pada saat itu, masih ditemukan 15 kasus pirai berat di Jawa.1

Prevalensi gout pada populasi di USA diperkirakan 13,6/100.000 orang. prevalensi ini
meningkat seiring dengan meningkatnya umur menyatakan prevalensi asam urat (gout) di
Amerika serikat meningkat dua kali lipat dalam populasi lebih dari 75 tahun antara 1990 dan
1999, dari 21 per 1000 menjadi 41 per 1000.3 Berdasarkan Riskesdas 2013, prevalensi
penyakit sendi berdasarkan pernah didiagnosis nakes di Indonesia 11,9 persen dan
berdasarkan diagnosis atau gejala 24,7 persen. Provinsi Jawa Barat menempati peringkat
kedua penyakit sendi terbanyak di Indonesia setelah Nusa Tenggara Timur. Persentase yang

1
terkena penyakit sendi ini meningkat seiring umur dimana penderita terbanyak berusia di atas
75 tahun. Petani, nelayan, maupun buruh merupakan pekerjaan terbanyak yang diderita oleh
penderita penyakit sendi dengan persentase 31,2%. Persentase perempuan yang terkena ini
tidak berbeda jauh dengan laki-laki dimana persentase perempuan 27,5% sedangkan laki-laki
21,8%. Untuk kabupaten Karawang persentase penderita penyakit sendi pada tahun 2013
sebesar 11,7%. 4 Di Indonesia, penyakit gout menduduki urutan kedua setelah osteoarthritis.
Penderita gout di Indonesia sendiri diperkirakan 1,6-13,6/100.000 orang.5 Berdasarkan pola
penyakit yang datang di puskesmas Klari tahun 2016, terdapat 1432 kasus artritis (3,19%).

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik deng topik tentang gout artritis
ini untuk mengetahui bagaimanakah pengetahuan para lanjut usia di daerah Karawang
khususnya yang mengikuti kegiatan Prolanis.

I.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka disusun rumusan masalah sebagai berikut :
Bagaimanakah gambaran tingkat pengetahuan gout artritis pada orang lanjut usia peserta
Prolanis di Puskesmas Klari?

I.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan tentang
gout artritis pada orang lanjut usia peserta Prolanis di wilayah kerja Puskesmas Klari,
Kecamatan Klari

I.4 Manfaat Penelitian

I.4.1 Bagi Orang Lanjut Usia

Memberikan informasi dan menambah tingkat pengetahuan orang lanjut usia tentang
gout artritis sehingga dapat melakukan pola hidup yang lebih baik

I.4.2 Bagi Petugas Kesehatan

Sebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan dan diharapkan dapat membantu
meningkatkan pengetahuan orang lanjut usia khususnya peserta program Prolanis di
Puskesmas Klari

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Pengetahuan

II.1.1.Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil tahu setelah individu melakukan pengindraan obyek


tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yakni : indra penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa dan raba yang sebagian besar pengetahuan manusia melalui
mata dan telinga.

Pada bagian lain pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting
untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behavior), karena dari pengalaman dan
penelitian ternyata perilaku akan lebih langgeng dari perilaku yang tidak didasari oleh
pengetahuan.

Perilaku manusia menurut Benjamin Bloom, dapat dibagi ke dalam 3 (tiga) domain,
ranah atau kawasan yakni a) kognitif (cognitive), b) afektif (affective) dan c) psikomotor
(psychomotor).6

II.1.2.Tingkat Pengetahuan

Setelah ada beberapa definisi pengetahuan yang telah diuraikan di atas, pengetahuan
yang dicakup kognitif mempunyai 6 tingkatan yakni :6

A).Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai pengikat suatu materi yang sah dipelajari sebelumnya,
termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengikat kembali (recall) terhadap
suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima,
oleh suatu sebab itu tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.

B).Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara besar


tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara

3
benar, menyebarkan contoh, menyimpulkan dan meramalkan obyek yang dipelajari
tersebut.

C).Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah


dipelajari pada situasi dan kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi dapat diartikan sebagai
penggunaan hukum, rumus, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau sisi lain.

D).Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek
ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu organisasi tersebut dan
masih ada kaitannya satu sama lain.

E).Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau


menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan
kata lain sintesis adalah kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi
yang ada.

F).Evaluasi (evaluation)

Berkenaan dengan kemampuan menggunakan pengetahuan untuk membantu


penilaian terhadap sesuatu berdasarkan maksud atau kriteria tertentu.

II.1.3.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Seseorang

A).Kecerdasan

Intelegensi (kecerdasan) merupakan kemampuan yang dibawa sejak lahir,


yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu. Orang berpikir
menggunakan inteleknya atau pikirannya, cepat atau tidaknya dan terpecahkan
tidaknya suatu masalah tergantung kemampuan intelegensinya. Salah satu faktor yang
mempengaruhi penerimaan pesan dalam suatu komunikasi adalah taraf intelegensi
seseorang. Secara Common sense dapat dikatakan bahwa orang-orang yang lebih
intelegen akan lebih mudah menerima suatu pesan. Dari uraian tersebut dapat

4
disimpulkan bahwa orang yang mempunyai taraf intelegensi tinggi akan mempunyai
pengetahuan yang baik dan sebaliknya.6

B).Pendidikan

Tugas dari pendidikan adalah memberikan atau meningkatkan pengetahuan,


menimbulkan sifat positif serta memberkan atau meningkatkan ketrampilan
masyarakat atau individu tentang aspek-aspek yang bersangkutan, sehingga dicapai
suatu masyarakat yang berkembang. Pendidikan dapat berupa pendidikan formal dan
non-formal. Sistem pendidikan yang berjenjang diharapkan mampu meningkatkan
pengetahuan melalui pola tertentu. Jadi tingkat pengetahuan seseorang terhadap suatu
obyek sangat ditentukan oleh tingkat pendidikannya.6

C).Pengalaman

Menurut teori determinan perilaku yang disampaikan WHO (World Health


Organitation), menganalisa bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku
tertentu salah satunya disebabkan karena adanya pemikiran dan perasaan dalam diri
seseorang yang terbentuk dalam pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan-
kepercayaan dan penilaian-penilaian seseorang terhadap obyek tersebut, dimana
seseorang dapat mendapatkan pengetahuan baik dari pengalaman pribadi maupun
pengalaman orang lain.6

D).Informasi

Teori depensi mengenai efek komunikasi massa, disebutkan bahwa media


massa dianggap sebagai informasi yang memiliki peranan penting dalam proses
pemeliharaan, perubahan dan konflik dalam tatanan masyarakat, kelompok atau
individu dalam aktivitas sosial dimana media massa ini nantinya akan mempengaruhi
fungsi cognitive, afektif dan behavior. Pada fungsi kognitif diantaranya adalah
berfungsi untuk menciptakan atau menghilangkan ambiguitas, pembentukan sikap,
perluasan sistem, keyakinan ambiguitas, pembentukan sikap, perluasan sistem,
keyakinan masyarakat dan penegasan atau penjelasan nilai-nilai tertentu.

Media dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu media cetak yang meliputi
booklet, leaflet, rubik yang terdapat pada surat kabar atau majalah dan poster.

5
Kemudian media elektronik yang meliputi televisi, radio, video, slide dan film serta
papan (billboard).6

E).Kepercayaan

Komponen kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai arah yang berlaku


bagi obyek sikap, sekali kepercayaan itu telah terbentuk, maka ia akan menjadi dasar
pengetahuan seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari obyek tertentu.6

II.1.4.Kriteria Penilaian Pengetahuan

Untuk mengukur pengetahuan menggunakan rumus :

SP
P  x 100 %
SM
Keterangan :

P = Nilai pencapaian (%)

SP = Skor yang didapat

SM = Skor maksimal semua pertanyaan yang di bawah ini dijawab benar

Dalam pemberian skor untuk pertanyaan pengetahuan diberi skor 1 untuk


jawaban yang benar dan jawaban yang salah diberi skor 0.

Berdasarkan hasil pertimbangan kemudian hasilnya di interprestasikan pada


kriteria:6

A).Pengetahuan baik = 76 – 100%

B).Pengetahuan cukup = 56 – 75 %

C).Pengetahuan kurang = 40 – 55 %

D).Pengetahuan tidak baik = < 40%

6
II.2 Gout

II.2.1 Definisi

Menurut American College of Rheumatology, gout adalah suatu penyakit dan potensi
ketidakmampuan akibat radang sendi yang sudah dikenal sejak lama, gejalanya biasanya
terdiri dari episodik berat dari nyeri infalamasi satu sendi.7

Gout adalah radang sendi yang merupakan akibat dari deposit kristal asam urat
(monosodium urate) di jaringan dan cairan dalam tubuh. Proses ini disebabkan karena
peningkatan produksi atau penurunan eksresi dari asam urat.7

Gout adalah bentuk inflamasi artritis kronis, bengkak dan nyeri yang paling sering di
sendi besar jempol kaki. Namun, gout tidak terbatas pada jempol kaki, dapat juga
mempengaruhi sendi lain termasuk kaki, pergelangan kaki, lutut, lengan, pergelangan
tangan, siku dan kadang di jaringan lunak dan tendon. Biasanya hanya mempengaruhi satu
sendi pada satu waktu, tapi bisa menjadi semakin parah dan dari waktu ke waktu dapat
mempengaruhi beberapa sendi. Gout merupakan istilah yang dipakai untuk sekelompok
gangguan metabolik yang ditandai oleh meningkatnya konsentrasi asam urat
(hiperurisemia).7

Gout adalah penyakit yang disebabkan penimbunan kristal monosodium urat


monohidrat di jaringan akibat adanya supersaturasi asam urat. Gout ditandai dengan
peningkatan kadar urat dalam serum, serangan artritis gout akut, terbentuknya tofus,
nefropati gout dan batu asam urat.7

Tofus adalah nodul berbentuk padat yang terdiri dari deposit kristal asam urat yang
keras, tidak nyeri dan terdapat pada sendi atau jaringan. Tofus merupakan komplikasi
kronis dari hiperurisemia akibat kemampuan eliminasi urat tidak secepat produksinya.
Tofus dapat muncul di banyak tempat, diantaranya kartilago, membrana sinovial, tendon,
jaringan lunak dan lain-lain.7

II.2.2 Epidemiologi

Kejadian atau prevalensi artritis gout jumlahnya bervariasi tiap negara. Di Amerika
Serikat, laki-laki berumur di atas 18 tahun prevalensinya mencapai 1,5%. Di Selandia
Baru, didapatkan 1-18 per 1000 penduduk menderita asam urat. Di Indonesia, asam urat

7
banyak dijumpai pada etnis Minahasa, Toraja dan Batak. Prevalensi tertinggi pada
penduduk pantai dan yang paling tinggi yaitu daerah Manado-Minahasa, ini dikarenakan
kebiasaan mereka mengkonsumsi alkohol dalam jumlah besar. Angka kejadian artritis
gout di Minahasa sebesar 29,2% pada tahun 2003.8

Artritis gout lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan, puncaknya
pada dekade ke-5. Di Indonesia, artritis gout terjadi pada usia yang lebih muda, sekitar
32% pada pria berusia kurang dari 34 tahun. Pada wanita, kadar asam urat umumnya
rendah dan meningkat setelah usia menopause. Prevalensi artritis gout di Bandungan, Jawa
Tengah, prevalensi pada kelompok usia 15-45 tahun sebesar 0,8%; meliputi pria 1,7% dan
wanita 0,05%. Di Minahasa (2003), proporsi kejadian artritis gout sebesar 29,2% dan pada
etnik tertentu di Ujung Pandang sekitar 50% penderita rata-rata telah menderita gout 6,5
tahun atau lebih setelah keadaan menjadi lebih parah.8

II.2.3 Etiologi

Gejala artritis gout akut disebabkan oleh reaksi inflamasi jaringan terhadap
pembentukan kristal monosodium urat monohidrat. Karena itu, dilihat dari penyebabnya,
penyakit ini termasuk dalam golongan kelainan metabolik.9

Asam urat merupakan zat sisa yang dibentuk oleh tubuh pada saat regenerasi sel.
Beberapa orang dengan gout membentuk lebih banyak asam urat dalam tubuh nya (10%).
Sisanya (90%), tubuh anda tidak efektif membuang asam urat melalui air seni. Genetik,
jenis kelamin dan nutrisi (peminum alkohol, obesitas) memegang peranan penting dalam
pembentukan penyakit gout.9

II.2.4 Patogenesis

Gout primer (90% dari semua kasus); Mayoritas bersifat idiopatik (>95%), memiliki
pewarisan yang multifaktorial dan berkaitan dengan produksi berlebih asam urat dengan
ekskresi asam urat yang normal atau meningkat atau produksi asam urat yang normal
dengan ekskresi yang kurang, konsumsi alkohol berlebih, dan obesitas merupakan faktor
predisposisi. Kasus primer dengan persentase yang kecil berkaitan dengan defek enzim
tertentu(misalnya defisiensi parsial enzim HGPRT (hypoxanthine-guanine
phosphoribosyltranferase) yang berkaitan dengan kromosom X).10

8
Gout sekunder (10% dari semua kasus); Sebagian besar berkaitan dengan
peningkatan pergantian asam nukleat yang terjadi pada hemolisis kronik, polisitemia,
leukemia dan limfoma. Yang lebih jarang ditemukan adalah pemakaian obat-obatan
(khususnya diuretik, aspirin, asam nikotinat dan etanol) atau gagal ginjal kronik yang
menimbulkan hiperurisemia simtomatik. Intoksikasi timbal (timah hitam) dapat
menyebabkan penyakit saturnine gout. Kadang-kadang defek enzim tertentu yang
menyebabkan penyakit von Gierke (penyakit simpanan glikogenlglycogen storage disease
tipe I) dan sindrom Lesch-Nyhan (dengan defisiensi total HGPRT yang hanya terlihat
pada laki-laki serta disertai defisit neurologis) menimbulkan keluhan dan gejala penyakit
gout.10

II.2.5 Faktor Risiko

Kemungkinan untuk terserang gout lebih tinggi bila kadar asam urat dalam tubuh
tinggi. Faktor yang dapat meningkatkan kadar asam urat dalam tubuh antara lain:11

 Suku bangsa / RAS

Suku bangsa yang paling tinggi prevalensi nya pada suku Maori di Australia.
Prevalensi suku Maori terserang penyakit asam urat tinggi sekali sedangkan
Indonesia prevalensi yang paling tinggi pada penduduk pantai dan yang paling
tinggi di daerah Manado-Minahasa karena kebiasaan atau pola makan dan
konsumsi alkohol.

 Usia dan gender

Gout cenderung lebih sering pada pria dibandingkan wanita dikarenakan wanita
memiliki kadar asam urat lebih rendah dari pria. Setelah menopause kadar asam
urat pada wanita mendekati pria. Pria dapat terserang gout pada usia yang lebih
muda biasanya usia antara 40 sampai 50 tahun, sedangkan wanita cennderung
mulai muncul tanda-tanda gout setelah menopause.

 Gaya hidup

Konsumsi minuman alkohol yang berlebihan dapat meningkatkan resiko gout.


Konsumsi alkohol menyebabkan serangan gout karena alkohol meningkatkan
produksi asam urat. Kadar laktat darah meningkat sebagai akibat produk
sampingan dari metabolisme normal alkohol. Asam laktat menghambat ekskresi

9
asam urat oleh ginjal sehingga terjadi peningkatan kadarnya dalam serum. Selain
itu konsumsi ikan laut juga dapat meningkatkan resiko gout. Ikan laut merupakan
makanan yang memiliki kadar purin yang tinggi. Konsumsi ikan laut yang tinggi
mengakibatkan asam urat.

 Kondisi medis

Beberapa penyakit dan kondisi dapat meningkatkan resiko terserang gout. Misal
seperti hipertensi tidak terkontrol, diabetes, hiperlipidemia, dan arteriosklerosis.

 Obat-obatan

Penggunaan diuretik thiazide biasa digunakan untuk mengobati hipertensi dan


aspirin dosis kecil dapat meningkatkan kadar asam urat. Selain itu, penggunaan
obat imunosupresan yang biasa di resepkan pada pasien post trasnplantasi juga
dapat meningkatkan kadar asam urat.

 Riwayat gout pada keluarga

Riwayat gout dalam keluarga meningkatkan kemungkinan terjadinya gout pada


seseorang.

II.2.6 Gejala Klinis

Tanda dan gejala dari gout hampir selalu akut, muncul tiba-tiba, biasanya saat malam
hari, dan tanpa gejala-gejala awal. Tanda dan gejala gout secara umum antara lain :12

 Nyeri sendi terus-menerus.


 Gout biasanya menyerang sendi ibu jari kaki, namun bisa juga menyerang sendi
kaki, pergelangan, lutut, dan tangan. Nyeri yang paling hebat dirasakan pada
12 – 24 jam setelah nyeri muncul.
 Tidak nyaman. Setelah nyeri sendi dirasakan sudah berkurang, pergerakan sendi
yang terserang akan menjadi terganggu selama berminggu-minggu. Serangan
gout selanjutnya akan berlangsung lebih lama dan menyerang lebih banyak
sendi.
 Inflamasi dan kemerahan. Sendi yang terkena akan tampak membengkak,
kemerahan, dan nyeri bila ditekan.

10
II.2.7 Perjalanan Penyakit Gout Artritis

Gout dapat dibedakan menjadi 4 fase menurut perjalanan penyakitnya:13

 Asimptomatik
Fase dimana penderita tidak memiliki keluhan namun terdapat hiperuricemia dan
deposit kristal pada jaringan. Penimbunan kristal yang terjadi pada fase ini sudah
menimbulkan kerusakan.

 Akut
Fase akut dimulai saat kristal urat pada sendi menyebabkan peradangan akut. Hal
ini ditandai dengan nyeri, kemerahan, bengkak, dan teraba hangat yang
berlangsung bisa sampai seminggu. Nyeri yang dirasakan mulai dari ringan sampai
berat. Biasanya serangan pertama dirasakan pada ekstremitas bawah 50%
menyerang sendi metatarsofalangeal ibu jari kaki. Kadar asam urat mungkin
normal pada setengah penderita gout akut. Gout mungkin menyerang sendi yang
berbeda.

 Interkritikal
Fase interkritikal muncul ketika fase akut sudah mulai menghilang, saat ini
penderita memasuki fase tenang. Walaupun sudah memasuki masa tenang namun
proses penumpukan kristal urat di jaringan tetap berlanjut. Lamanya fase
interkritikal tergantung dari progresifitas penyakit.

 Kronik
Fase gout kronik ditandai dengan artritis kronik dengan nyeri pada sendi. Penderita
gout juga mungkin memiliki tophi (benjolan yang terbentuk dari deposit kristal urat
pada jaringan) – biasanya pada area yang lebih dingin misal siku, telinga, dan sendi
distal jari.9

11
Tabel.1 Fase gout menurut perjalanan penyakitnya :13
Artritis Gout
Asimptomatik Artritis Gout Akut Interkritikal Gout Kronik dengan
Tofi

 Kadar asam  Kadar asam urat tidak  Fase tenang  Mulai dari
urat tinggi terlalu tinggi setelah serangan serangan
 Tidak ada  Perjalanan eksplosif, pertama pertama sampai
gejala diduga ada faktor  Berlangsung 6 kronisitas
arrtritis, tofi, presipitasi bulan sampai 2 memerlukan
urolitiasis  Monoartikuler tahun, bahkan waktu 11 tahun
 50% MTP I sampai 5 atau 10  Poliartikuler
 Serangan biasanya tahun
pada malam hari
 Self-limiting dalam 10
hari namun jika
diobati dapat sembuh
dalam 3 hari
 Pada pria timbul pada
usia 30-45 tahun,
wanita pada saat pasca
menopause

 Tofus terbentuk bila kadar asam urat > 9 mg%, terdiri dari monosodium urat yang
dikelilingi oleh sel inflamasi.
 Lokasi tofus : tulang rawan, tendon, sinovial, lemak, katup mitral, miokard, mata dan
laring.
 Tofus subkutan bisa ditemukan pada jari, pergelangan tangan, telinga, prepatella dan
olekranon.13

12
II.2.8 Pemeriksaan Penunjang

II.2.8.1 Darah

Pemeriksaan darah berguna untuk mengetahui kadar asam urat dalam darah.
Pemeriksaan ini dapat menunjukkan apakah seseorang beresiko terserang gout atau
tidak. Selain itu, melalui pemeriksaan ini juga dapat membantu menentukan fase
perjalanan penyakit penderita gout.14

II.2.8.2 Cairan sendi


Pada pemeriksaan ini, sampel diambil dari cairan sendi sinovial penderita. Dari
pemeriksaan ini dapat dilihat apakah terdapat kristal asam urat dalam cairan sendi.14

II.2.8.3 Foto Polos

Foto polos dapat digunakan untuk mengevaluasi gout, namun, temuan umumnya
baru muncul setelah minimal 1 tahun penyakit yang tidak terkontrol. Bone scanning
juga dapat digunakan untuk memeriksa gout, temuan kunci pada scan tulang adalah
konsentrasi radionuklida meningkat di lokasi yang terkena dampak.14

Pada fase awal temuan yang khas pada gout adalah asimetris pembengkakan di
sekitar sendi yang terkena dan edema jaringan lunak sekitar sendi. 14

Pada pasien yang memiliki beberapa episode yang menyebabkan artritis gout pada
sendi yang sama, daerah berawan dari opacity meningkat dapat dilihat pada plain
foto.14

Gambar 1. Perubahan yang terjadi pada penderita gout artritis

13
Pada tahap berikutnya, perubahan tulang yang paling awal muncul. Perubahan
tulang awalnya muncul pada daerah sendi pertama metatarsophalangeal (MTP).14

Perubahan ini awal umumnya terlihat di luar sendi atau di daerah juxta-artikularis.
Temuan ini antara-fase sering digambarkan sebagai lesi menekan-out, yang dapat
berkembang menjadi sklerotik karena peningkatan ukuran.14

Pada gout kronis, temuan tanda yang tophi interoseus banyak. Perubahan lain
terlihat pada radiografi polos-film pada penyakit stadium akhir adalah ruang yang
menyempit serta deposit kalsifikasi pada jaringan lunak.14

II.2.9 Diagnosis Banding

II.2.9.1 Pseudogout

Kristal kalsium pirofosfat di dalam kartilago sendi. Kadang-kadang, terjadi


artritis akut dan ini dapat menyerupai gout yang asli. Penyebab deposit pirofosfat
tidak diketahui. Ini sangat banyak berhubungan dengan umur dan lebih sering pada
usia lanjut. Pirofosfat diendapkan pada daerah kartilago yang mengalami kerusakan
sebelumnya, ini hanya ditemukan pada sebagian kasus. Ada hubungannya dengan
hiperparatiroidism dan hemokromatosis dan kadang-kadang kasus dalam keluarga
ditemukan.15,16

II.2.9.2 Osteoartritis

Osteoartritis merupakan penyakit degeneratif kronis dari sendi-sendi. Pada


penyakit ini terjadi penurunan fungsi tulang rawan terutama yang menopang sebagian
dari berat badan dan seringkali pada persendian yang sering digunakan. Sering
dianggap juga sebagai konsekuensi dari perubahan-perubahan dalam tulang dengan
lanjutnya usia. Penyakit ini biasa terjadi pada umur 50 tahun ke atas dan pada orang
kegemukan (obesitas), tetapi bisa juga disebabkan oleh kecelakaan persendian . Pada
usia lanjut tampak dua hal yang khas, yaitu rasa sakit pada persendian dan terasa kaku
jika digerakkan. Oseteoartritis diklasifikasikan sebagai tipe primer (idiopatik) tanpa
kejadian atau penyakit sebelumnya. Pertambahan usia berhubungan secara langsung
dengan proses degenerative dalam sendi, mengingat kemampuan kartilago artikuler
untuk bertahan terhadap mikrofraktur dengan beban muatan rendah yang berulang-
ulang menurun.15,16

14
II.2.9.3 Rheumatoid artritis

Merupakan bentuk artritis yang serius, disebabkan oleh peradangan kronis


yang bersifat progresif, yang menyangkut persendian. Ditandai dengan sakit dan
bengkak pada sendi-sendi terutama pada jari-jari tangan, pergelangan tangan, siku,
dan lutut. Dalam keadaan yang parah dapat menyebabkan kerapuhan tulang sehingga
menyebabkan kelainan bentuk terutama pada tangan dan jari-jari. Tanda lainnya yaitu
persendian terasa kaku terutama pada pagi hari, rasa letih dan lemah, otot-otot terasa
kejang, persendian terasa panas dan kelihatan merah dan mungkin mengandung
cairan, sensasi rasa dingin pada kaki dan tangan yang disebabkan gangguan sirkulasi
darah.17

Gejala ekstra-artikuler yang sering ditemui ialah demam, penurunan berat


badan, mudah lelah, anemia, pembesaran limfe dan jari-jari yang pucat. Penyakit ini
belum diketahui secara pasti penyebabnya, namun diduga berhubungan dengan
penyakit autoimmunitas. Rheumatoid artritis lebih sering menyerang wanita daripada
laki-laki. Walaupun dapat dapat meyerang segala jenis umur, namun lebih sering
terjadi pada umur 30-50 tahun.1,17

Gambar 2. Gambaran Diagnosis Banding dari Gout.17

II.2.10 Diagnosis

Gold standard dalam menegakkan gout artritis adalah ditemukannya kristal urat MSU
(Monosodium Urat) di cairan sendi atau tofus. Untuk memudahkan diagnosis gout artritis

15
akut, dapat digunakan kriteria dari ACR (American College Of Rheumatology) tahun 1977
sebagai berikut :18

A. Ditemukannya kristal urat di cairan sendi, atau


B. Adanya tofus yang berisi kristal urat, atau
C. Terdapat 6 dari 12 kriteria klinis, laboratoris, dan radiologis sebagai berikut :
1. Terdapat lebih dari satu kali serangan artritis akut
2. Inflamasi maksimal terjadi dalam waktu 1 hari
3. Artritis monoartikuler
4. Kemerahan pada sendi
5. Bengkak dan nyeri pada MTP-1
6. Artritis unilateral yang melibatkan MTP-1
7. Artritis unilateral yang melibatkan sendi tarsal
8. Hiperurisemia
9. Kecurigaan terhadap adanya tofus
10. Pembengkakan sendi yang asimetris (radiologis)
11. Kista subkortikal tanpa erosi (radiologis)
12. Kultur mikroorganisme negative pada cairan sendi
Yang harus dicatat adalah diagnosis gout tidak bisa digugurkan meskipun kadar asam
urat normal.

II.2.11 Penatalaksanaan

Secara umum penanganan artritis gout adalah pemberian edukasi, pengaturan diet,
istirahat sendi dan pengobatan. Pengobatan dilakukan secara dini agar tidak terjadi
kerusakan sendi atau komplikasi lain, seperti pada ginjal. Pengobatan atritis gout akut
bertujuan untuk menghilangkan keluhan nyeri dan peradangan dengan kolkisin, OAINS,
kortikosteroid, atau hormon ACTH. Obat penurun asam urat seperti allopurinol atau obat
urikosurik tidak boleh diberikan pada stadium akut, namun pada pasien yang telah rutin
mendapat obat penurun asam urat sebaiknya tetap diberikan.19

Dosis standar kolkisin untuk atritis gout secara oral 3-4 kali, 0,5-0,6 mg per hari
dengan dosis maksimal 6 mg. Sedangkan OAINS yang serig dipakai adalah indometasin
dengan dosis 150-200 mg/hari selama 2-3 hari dan 75-100 mg/hari untuk minggu
berikutnya atau sampai nyeri dan peradangan berkurang. Kortikosteroid dan hormon

16
ACTH diberikan apabila pemberian kolkisin dan OAINS tidak efektif atau
kontraindikasi.19

Pada stadium interkritikal dan menahun tujuan pengobatan adalah untuk menurunkan
kadar asam urat hingga normal, guna mencegah kekambuhan. Penurunan kadar asam urat
dilakukan dengan pemberian diet rendah purin dan pemakaian obat allopurinol bersama
obat urikosurik lain.19

Gout biasanya dapat berhasil diobati dengan menghilangkan penyebab dan


menggunakan obat-obatan untuk meringankan gejala. Tetapi jika gejala gout telah terjadi
dan tanpa pengobatan selama lebih dari 10 tahun, kristal asam urat mungkin telah
terbentuk dalam sendi dalam betuk nodul yang disebut tophi. Jika tophi menyebabkan
infeksi, rasa sakit, tekanan, dan merusak bentuk sendi, serta obat-obatan telah gagal dalam
menyusut atau menghilangkan tophi, maka dapat dilakukan opereasi secara eksisi untuk
menghilangkan tophi tersebut.19

Gambar 3. Algoritma Tatalaksana Gout Akut

II.2.12 Pencegahan

Makanan yang mengandung tinggi purin dan tinggi protein sudah lama diketahui
dapat menyebabkan dan meningkatkan risiko terkena gout. Untuk menurunkan kadar asam
urat dalam darah dapat dilakukan sebagai berikut : 20

17
1. Kalori sesuai kebutuhan

Jumlah asupan kalori harus benar disesuaikan dengan kebutuhan tubuh


berdasarkan pada tinggi dan berat badan. Penderita gangguan asam urat yang
kelebihan berat badan, berat badannya harus diturunkan dengan tetap memperhatikan
jumlah konsumsi kalori. Asupan kalori yang terlalu sedikit juga bisa meningkatkan
kadar asam urat karena adanya badan keton yang akan mengurangi pengeluaran asam
urat melalui urin.

2. Tinggi karbohidrat

Karbohidrat kompleks seperti nasi, singkong, roti dan ubi sangat baik
dikonsumsi oleh penderita gangguan asam urat karena akan meningkatkan
pengeluaran asam urat melalui urin. Konsumsi karbohidrat kompleks ini sebaiknya
tidak kurang dari 100 gram per hari. Karbohidrat sederhana jenis fruktosa seperti gula,
permen, arum manis, gulali, dan sirop sebaiknya dihindari karena fruktosa akan
meningkatkan kadar asam urat dalam darah.

3. Rendah protein

Protein terutama yang berasal dari hewan dapat meningkatkan kadar asam urat
dalam darah. Sumber makanan yang mengandung protein hewani dalam jumlah yang
tinggi, misalnya hati, ginjal, otak, paru dan limpa. Asupan protein yang dianjurkan
bagi penderita gangguan asam urat adalah sebesar 50-70 gram/hari atau 0,8-1 gram/kg
berat badan/hari. Sumber protein yang disarankan adalah protein nabati yang berasal
dari susu, keju dan telur.

4. Rendah lemak

Lemak dapat menghambat ekskresi asam urat melalui urin. Makanan yang
digoreng, bersantan, serta margarine dan mentega sebaiknya dihindari. Konsumsi
lemak sebaiknya sebanyak 15 persen dari total kalori.

5. Tinggi cairan

Konsumsi cairan yang tinggi dapat membantu membuang asam urat melalui
urin. Karena itu, Anda disarankan untuk menghabiskan minum minimal sebanyak 2,5

18
liter atau 10 gelas sehari. Air minum ini bisa berupa air putih masak, teh, atau kopi.
Selain dari minuman, cairan bisa diperoleh melalui buah-buahan segar yang
mengandung banyak air. Buah-buahan yang disarankan adalah semangka, melon,
blewah, nanas, belimbing manis, dan jambu air. Selain buah-buahan tersebut, buah-
buahan yang lain juga boleh dikonsumsi karena buah-buahan sangat sedikit
mengandung purin. Buah-buahan yang sebaiknya dihindari adalah alpukat dan durian,
karena keduanya mempunyai kandungan lemak yang tinggi.

6. Tanpa alkohol

Berdasarkan penelitian diketahui bahwa kadar asam urat mereka yang


mengonsumsi alkohol lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi
alkohol. Hal ini adalah karena alkohol akan meningkatkan asam laktat plasma. Asam
laktat ini akan menghambat pengeluaran asam urat dari tubuh.

II.2.13 Komplikasi

Penderita gout dapat mengalami kondisi yang lebih parah, seperti:21

1. Gout berulang : beberapa orang mungkin tidak akan mengalami


kekambuhan, namun sebagian ada yang mengalami kekambuhan berkali-kali
dalam setahun. Mengkonsumsi obat dapat menurunkan kemungkinan
kekambuhan.
2. Gout tahap lanjut : gout yang tidak teratasi dapat menyebabkan deposit
kristal urat di bawah kulit dan membentuk suatu nodul yang disebut tophi.
Tophi dapat timbul dibeberapa area seperti jari-jari, tangan, kaki, siku atau
tendon achiles sepanjang pergelangan kaki bagian belakang. Biasanya tidak
nyeri, namun dapat menjadi bengkak dan nyeri saat serangan gout.
3. Nefrolitiasis urat : insiden terbentuknya kembali batu. Insiden meningkat
dengan peningkatan eksresi asam urat. PH urine menurun, riwayat keluarga
atau diri sendiri pernah memiliki batu asam urat.
4. Gagal ginjal akut : dapat terjadi setelah pelepasan massif asam urat yang
berlansung pada pasien yang telah mengalami pengobatan karena kelainan
mielo- atau limfoproliferatif.

19
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

III.1.Desain Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan desain penelitian observasional tipe deskriptif.

III.2 Subyek Penelitian

Populasi target penelitian adalah orang-orang lanjut usia yang mengikuti kegiatan
Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di Puskesmas Klari. Sampel diambil dengan
metode consecutive sampling yaitu dari data peserta penyuluhan yang mengikuti kegiatan
Prolanis. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi akan dikumpulkan. Dari hasil inklusi dan
ekslusi di dapatkan 25 sampel. Nama subyek tidak akan ditampilkan pada hasil.

III.3 Kriteria Inklusi dan Eksklusi

Kriteria inklusi sampel yang diikutkan dalam penelitian ini adalah:

1. Peserta Prolanis yang berusia lanjut yang bersedia untuk diteliti dengan
menandatangani surat persetujuan peserta penelitian.

2. Tidak ada kelainan jiwa

3. Tidak buta huruf atau bisa membaca

Adapun kriteria eksklusi yaitu orang yang tidak bersedia untuk diteliti dan tidak kooperatif.

III.4.Tempat dan Waktu Penelitian

Kegiatan penelitian dilaksanakan di aula Puskesmas Klari Kab. Karawang pada


tanggal 11 Oktober 2017 pukul 09.00 WIB sampai selesai.

III.5. Kerangka Kerja

Langkah-langkah dalam kegiatan penelitian yang dilakukan tercantum pada bagan di bawah
berikut;

20
Populasi

Peserta Prolanis yang berusia lanjut usia

Teknik Sampling : Consecutive Sampling

Consecutive Sampling

Sampel

Didapatkan 25 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi

Pengumpulan data

Melakukan penyebaran kuesioner terhadap responden yang menjadi sampel


penelitian

Pembahasan dan Penyuluhan

Bagan 1.Kerangka kerja tingkat pengetahuan anak tentang gout artritis pada orang lanjut usia

III.6 .Definisi Operasional

Variabel Definisi operasional Kriteria Alat ukur Skala

Pengetahuan Segala sesuatu yang Baik: 76-100% Kuesioner Ordinal


mengenai gout dipahami, dimengerti
Cukup : 56-75%
artritis oleh orang berusia
lanjut tentang gout Kurang : 40-55%
artritis
Tidak baik : ≤40%

(Arikunto,2006)

Tabel 2. Definisi Operasional

21
III.7.Pengumpulan Data

III.7.1.Proses Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini proses pengumpulan data dilakukan dengan cara pemberian
kuesioner oleh peneliti kepada responden yang dijadikan sampel penelitian sesuai kriteria
inklusi dan eksklusi. Sebelum melakukan pengumpulan data, peneliti meminta inform
consent (surat persetujuan) kepada responden untuk dijadikan sampel penelitian, apabila
responden setuju maka peneliti memberikan kuesioner dan meminta anak untuk mengisi
kuesioner tersebut sesuai pemahaman.

III.7.2. Instrumen Pengumpulan Data

Untuk mengukur pengetahuan anak, instrumen penelitian yang digunakan adalah


kuisioner tertutup dengan jumlah 10 pertanyaan pengetahuan.

III.8. Pengukuran Data

Untuk mengukur pengetahuan menggunakan rumus :

SP
P  x 100 %
SM

Keterangan :

P = Nilai pencapaian (%)

SP = Skor yang didapat

SM = Skor maximal semua pertanyaan yang dijawab benar

Dalam pemberian skor untuk pengetahuan diberi skor 1 untuk jawaban yang benar
dan jawaban yang salah diberi skor 0. Berdasarkan hasil pertimbangan kemudian hasilnya di
interprestasikan pada kriteria:6

A).Pengetahuan baik = 76 – 100%

B).Pengetahuan cukup = 56 – 75 %

C).Pengetahuan kurang = 40 – 55 %

D).Pengetahuan tidak baik = < 40%

22
BAB IV

HASIL PENELITIAN

IV.1 Data Umum

Karakteristik Responden yang Memperoleh Penyuluhan

No Memperoleh Informasi Frekuensi Persentase

1 Ya 25 100%

2 Tidak 0 0%

Jumlah 25 100 %

Tabel 3. Distribusi responden yang memperoleh penyuluhan mengenai gout artritis


sebelumnya

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa seluruh responden telah memperoleh


penyuluhan mengenai gout artritis sebelumnya (100 %)

No Jenis Kelamin Jumlah Persentase

1 Pria 7 28%

2 Wanita 18 72%

Jumlah 25 100 %

Tabel 4. Distribusi jenis kelamin responden

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa responden pria sebanyak 7 orang (28%)
dan sisanya 18 orang (72%) merupakan responden wanita

23
No Umur Responden Jumlah Persentase

1 45-59 tahun 18 72%

2 60-70 tahun 6 24%

3 >70 tahun 1 4%

Jumlah 25 100 %

Tabel 5. Distribusi umur responden

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa responden berusia 45-59 tahun


sebanyak 18 orang (72%), berusia 60-70 tahun sebanyak 6 orang (24%), dan berusia >70
tahun sebanyak 1 orang (4%).

IV.2 Data Khusus

No Tingkat Pengetahuan Lansia Frekuensi Presentase

1. Tidak Baik 4 16%

2. Kurang 10 40%

3. Cukup 9 36 %

4. Baik 2 8%

Jumlah 25 100 %

Tabel 5. Tingkat Pengetahuan Lanjut Usia mengenai Gout Artritis

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki


tingkat pengetahuan yang kurang mengenai gout artritis sebesar 40%, 36% responden
memiliki tingkat pengetahuan yang cukup, 16% responden memiliki tingkat pengetahuan
yang tidak baik, dan hanya 8% responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik
mengenai gout artritis.

24
No Pengetahuan Berdasarkan
Persentase Benar Persentase Salah
Pertanyaan

1. Definisi Gout 56% 44%

2. Penyebab Gout 20% 80%

3. Gejala Gout 76% 24 %

4. Pencegahan Gout 75% 25%

5. Pengobatan Gout 20% 80%

6. Komplikasi Gout 20% 80%

Rata-Rata 44,5% 55,5%

Tabel 6. Tingkat Pengetahuan Lanjut Usia Berdasarkan Pertanyaan

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata responden salah dalam


menjawab pertanyaan dalam kuesioner. Hanya 44,5% persentase jawaban yang benar dari
para responden. Dari persentase jawaban yang benar dari responden, gejala dan pencegahan
gout mempunyai persentase paling besar yaitu berturut-turut 76% dan 75%. Dari persentase
jawaban yang salah dari responden, penyebab, pengobatan, dan komplikasi mempunyai
persentase paling besar yaitu 80%. Hasil ini menunjukkan sebagian besar responden sudah
memiliki pengetahuan yang bagus terhadap gejala dan pencegahan gout tetapi memiliki
pengetahuan yang buruk terhadap penyebab, pengobatan, dan komplikasi gout.

25
BAB V

PEMBAHASAN

Pengetahuan merupakan hasil tahu setelah individu melakukan pengindraan obyek


tertentu.6 Objek yang dimaksud disini adalah berupa informasi mengenai gout artritis. Indera
pendengaran dan penglihatan menangkap informasi yang didapat untuk diproses masuk ke
dalam fase tahu kemudian paham lalu diaplikasikan dalam kehidupan dan dievaluasi output
yang didapatkan.

Pengetahuan manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kecerdasan,


pendidikan, pengalaman, informasi, dan kepercayaan.6 Faktor kecerdasan dan pendidikan
dalam pengetahuan manusia didapat melalui sekolah baik itu formal maupun informal.
Kecerdasan berpengaruh terhadap penerimaan pesan dalam suatu komunikasi. Informasi yang
disampaikan akan menjadi sia-sia jika tidak terjadi penerimaan yang baik kepada
penerimanya.

Informasi mengenai gout atrtritis pada saat ini sebenarnya mudah didapat. Informasi
bisa didapat dari penyuluhan, konsultasi, media tulisan, pamflet, televisi. Internet yang dapat
dengan mudah diakses orang di daerah perkotaan bahkan sudah masuk ke daerah pedesaan
juga, bisa dipakai untuk mencari banyak informasi tentang gout artritis. Permasalahan disini
adalah apakah sarana dan prasarana yang tersedia saat ini dipakai untuk mencari informasi
terhadap suatu permasalahan penyakit. Peran serta masyarakat awam untuk mencari
informasi secara mandiri dapat membantu untuk peningkatan pengetahuan dan pemahaman.

Berdasarkan hasil penilaian karakteristik responden yang memperoleh penyuluhan


menunjukkan bahwa semua sudah pernah diberikan penyuluhan sebelumnya tentang gout
artritis. Hal ini menunjukkan keaktifan kader dan tenaga kesehatan dalam mendukung upaya
penanggulangan penyakit kronis.

Dari hasil yang didapatkan, ternyata sebagian besar responden memiliki tingkat
pengetahuan yang kurang mengenai gout artritis sebesar 40%, 36% responden memiliki
tingkat pengetahuan yang cukup, 16% responden memiliki tingkat pengetahuan yang tidak
baik, dan hanya 8% responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai gout
artritis. Tingkat pengetahuan responden yang kurang perlu diidentifikasi faktor-faktor yang
menyebabkan seperti apakah tingkat pendidikan berpengaruh pada kurangnya pengetahuan,
26
apakah informasi yang didapat masih minim, bagaimana pemahaman responden setelah
diberi informasi. Hal-hal ini perlu dicari lagi penyebabnya sehingga diharapkan dapat
ditemukan solusi dari masalah ini.

Berdasarkan pertanyaan tentang gout artritis, responden memiliki persentase jawaban


benar yang lebih kecil dibandingkan jawaban yang salah yaitu 44,5% berbanding 55,5%. Dari
persentase jawaban yang benar dari responden, gejala dan pencegahan gout mempunyai
persentase paling besar yaitu berturut-turut 76% dan 75%. Dari persentase jawaban yang
salah dari responden, penyebab, pengobatan, dan komplikasi mempunyai persentase paling
besar yaitu 80%. Hasil ini menunjukkan sebagian besar responden sudah memiliki
pengetahuan yang bagus terhadap gejala dan pencegahan gout tetapi memiliki pengetahuan
yang buruk terhadap penyebab, pengobatan, dan komplikasi gout.

Dari uraian di atas, responden terlihat masih belum mengerti sepenuhnya tentang gout
artritis. Untuk meningkatkan pengetahuan orang lanjut usia terhadap gout artritis, dapat
dilakukan dengan menambah informasi penyakit ini. Cara yang dapat dilakukan antara lain
melakukan penyuluhan, memberikan nasehat atau informasi saat konsultasi penyakit,
memberikan brosur, leaflet, dan menaruh spanduk yang berisi pengetahuan tentang suatu
penyakit di areal puskesmas Klari.

27
BAB VI

PENUTUP

VI.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis mengenai tingkat


pengetahuan tentang gout artritis pada lanjut usia prolanis di Puskesmas Klari, Kecamatan
Klari maka dapat penulis simpulkan bahwa:

VI.1.1 Data Umum

Data umum adalah 25 responden merupakan orang lanjut usia yang termasuk
dalam program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) di Puskesmas Klari, Kecamatan
Klari. Berdasarkan jenis kelamin menunjukkan banyaknya pria berjumlah 7 orang (28%)
dan wanita berjumlah 18 orang (72%). Seluruh responden yang mengikuti penelitian
telah memperoleh penyuluhan mengenai gout artritis sebelumnya (100 %)

VI.1.2 Data Khusus

VI.1.2.1 Pada bagian definisi mengenai gout artritis, persentase jawaban benar pada
responden sebesar 56%. Jadi pengetahuan umum mengenai gout artritis termasuk cukup.

VI.1.2.2 Pada bagian pengetahuan penyebab gout artritis, persentase jawaban benar
pada responden sebesar 20%. Jadi pengetahuan diet dan pola hidup mengenai gout
artritis termasuk kurang.

VI.1.2.3 Pada bagian pengetahuan gejala gout artritis, persentase jawaban benar
pada responden sebesar 76%. Jadi pengetahuan diet dan pola hidup mengenai gout
artritis termasuk cukup.

VI.1.2.4 Pada bagian pengetahuan pencegahan gout artritis, persentase jawaban


benar pada responden sebesar 75%. Jadi pengetahuan diet dan pola hidup mengenai gout
artritis termasuk baik.

VI.1.2.5 Pada bagian pengetahuan pengobatan gout artritis, persentase jawaban


benar pada responden sebesar 20%. Jadi pengetahuan diet dan pola hidup mengenai gout

28
artritis termasuk kurang.

VI.1.2.6 Pada bagian pengetahuan komplikasi gout artritis, persentase jawaban


benar pada responden sebesar 20%. Jadi pengetahuan diet dan pola hidup mengenai gout
artritis termasuk kurang.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa responden yang memiliki


tingkat pengetahuan yang kurang mengenai gout artritis sebesar 40%, yang memiliki tingkat
pengetahuan yang cukup sebesar 36%, yang memiliki tingkat pengetahuan yang tidak baik
sebesar 16%, dan yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik hanya sebesar 8%.

VI.2 Saran

VI.2.1 Bagi Orang Lanjut Usia

Diharapkan bagi orang lanjut usia untuk meningkatkan pengetahuan tentang


penyakit khususnya penyakit yang diakibatkan pola hidup untuk dapat meningkatkan
taraf hidup lanjut usia

VI.2.2 Bagi Puskesmas

Diharapkan pihak puskesmas lebih meningkatkan pengetahuan orang lanjut


usia tentang kesehatan sendi baik itu melalui penyuluhan, penyebaran brosur
kesehatan, dan penggunaan spanduk yang berisi informasi penyakit sehingga
mengurangi tingkat morbiditas penyakit sendi pada lanjut usia

VI.2.3 Bagi Tenaga Kesehatan

Diharapkan bagi petugas kesehatan untuk lebih meningkatkan kinerja dan


promosi kesehatan mengenai kesehatan sendi.

VI.2.4 Bagi penelitian selanjutnya

Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi peneliti
lain yang akan melakukan penelitian di masa yang akan datang yaitu sebagai bahan
masukan mengenai pengetahuan tentang gout artritis serta untuk penelitian
selanjutnya hendaknya menggali lebih dalam lagi gambaran atau faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi pengetahuan lanjut usia tentang gout artritis.

29
DAFTAR PUSTAKA

1. So A. Imaging of gout : finding and utility. The Artritis Reseach and Therapy journals.
Available at: http://artritis-research.com/series/gout

2. Wallace KI, Riedel AA, Joseph-Ridge N, Wortmann R. Increasing prevalence of gout and
hyperuricemia over 10 years among older adults in a managed care population. J Rheumatol
2004; 31:1582–87

3. Tjokroprawiro A. Ilmu penyakit dalam. Airlangga University Press. 2007: Surabaya

4. Kementerian Kesehatan RI. Penyakit sendi rematik encok. Dalam: Riset Kesehatan Dasar
2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI;
2013. hal 94-6.

5. Dalimartha S. Resep tumbuhan obat untuk asam urat. Penebar Swadaya. 2008: Jakarta

6.Arikunto S. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. Jakarta :1998.

Rineka Cipta

7. Gout.Center of Disease Control. Available at : http://www.cdc.gov/artritis/basics/gout.htm.


Accessed on: 3rd October 2017

8. Weaver AL. Epidemiology of gout. Cleve Clin J Med. 75 Suppl 5: 2008. page 9–12

9. Chen LX, Schumacher HR. Gout: an evidence-based review. J Clin Rheumatol 14 (5


Suppl): 2008. P.55–62

10. Eggebeen AT. Gout: an update. Am Fam Physician 76 (6): 2007. p. 801–8.

11. Gout. Available at : http://www.mayoclinic.com/health/gout. Accessed on: 4th October


2017

12. Gout. Available at : http://www.ukgoutsociety.org/docs/goutsociety-allaboutgoutanddiet-


0113.pdf . Accessed on: 4th October 2017

13. Gout. Available at : http://www.medline.com/health/gout. Accessed on: 4th October


2017

14. Bieber JD, Terkeltaub RA. Gout. On the brink of novel therapeutic options for an ancient
disease. Artritis Rheum 2004;50:2400–2414

15. Schwartz, Spencer, S., Fisher, D.G. Principles of Surgery eight edition. Mc-Graw Hill a
Division of The McGraw-Hill Companies. Enigma an Enigma Electronic Publication, 2005

16. Sjamsuhidajat R, De Jong W. Dalam : Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta. 2005.

17. Varhan. Artritis. The Orthopaedic and Artritis Surgery Center, Nebraska, USA, 2001.

30
18. Schlesinger N. Diagnosis of gout. Minerva Med. 98 (6): 2007. p. 759–67

19. Schlesinger N. Diagnosing and treating gout: a review to aid primary care
physicians. Postgrad Med 122 (2): 2010. p. 157–61

20. Schlesinger N. Management of acute and chronic gouty artritis – present state of the art.
Drugs 2004;64: 2004. p. 2399‐416.

21. Hak AE, Choi HK. Lifestyle and gout. Curr Opin Rheumatol 20 (2). 2008. p. 179–86

31
LAMPIRAN

INFORMED CONSENT

Gambaran Tingkat Pengetahuan Orang Lanjut Usia

Peserta Prolanis Terhadap Gout Artritis

Saya yang bertandatangan di bawah ini

Nama :

Umur :

Jenis Kelamin :

Telah mendapat penjelasan dari peneliti tentang dampak positif dan negatif pada prosedur
penelitian. Saya juga memahami, dan menyatakan bersedia untuk berpartisipasi dalam
penelitian tentang Gambaran Tingkat Pengetahuan Orang Lanjut Usia Peserta Prolanis
Terhadap Gout Artritis.

Demikianlah surat pernyataan ini dibuat untuk dapat digunakan seperlunya.

Karawang, 11 Oktober 2017

(................................................)

32
LAMPIRAN

KUESIONER
Gambaran Tingkat Pengetahuan Lanjut Usia Peserta Prolanis mengenai Gout Artritis

Nama :
Umur :
Alamat :
Petunjuk Pengisian
Pilihlah salah satu jawaban yang benar dengan menyilang huruf a/b/c/d

1. Apa yang bisa menyebabkan penyakit 6. Makanan apa yang meningkatkan asam
gout (asam urat)? urat?
a.Kurang aktivitas c. Tidak pernah a. Udang c. Mujair
minum susu b. Telur d. Ubi
b.Keturunan/Genetik d. Suka mandi
malam 7. Makanan apa yang dapat dimakan saat
2. Berapa kadar asam urat normal? asam uratnya tinggi?
a. 5.5mg/dL c. 9.5mg/dL a. Permen c. Durian
b. 7.5mg/dL d.Tidak tahu b. Hati d. Nasi

3. Umur berapa yang sering terkena 8. Minuman apa yang dapat diminum saat
penyakit ini? asam uratnya tinggi?
a. 20-40 tahun c. Kurang dari 20 a. Sirup manis c. Jus alpukat
tahun b. Alkohol d. Air mineral
b. Lebih dari 40 d. Tidak tahu
tahun 9. Saat terkena nyeri sendi, apa yang
sebaiknya bapak/ibu lakukan?
4. Jika saat diperiksa di lab, asam uratnya a. Mandi saat malam hari c. Kompres
normal, apakah berarti bapak/ibu tidak hangat
terkena penyakit gout? b. Memantang makanan d. Tidak tahu
a. Ya b. Tidak
10. Komplikasi penyakit apa yang dapat
5.Apa salah satu gejala yang timbul pada ditimbulkan dari penyakit gout?
pasien dengan asam urat? a. Batu ginjal c. Penyakit hati
a. Nyeri di paha c. Nyeri kepala b. Penyakit maag d. Tidak tahu
b. Nyeri dada d. Nyeri di lutut

33