Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP DASAR INSTALASI GAWAT DARURAT


Program Profesi Ners Stase Keperawatan Kritis dan Gawat Darurat

Dosen Pembimbing :
1. Ns. Kiki Hardiansyah Safitri, M.Kep., Sp.Kep.MB
2. Ns. Chrisyen Damanik, S.Kep., M.Kep
Rumah Sakit Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan

DISUSUN OLEH :
Suhardi,S.Kep
NIM :
P170695

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIYATA HUSADA SAMARINDA KALIMANTAN TIMUR
2018
HALAMAN PENGESAHAN

KONSEP DASAR INSTALASI GAWAT DARURAT

Disusun Oleh :

Suhardi,S.Kep

NIM :

P170695

Telah disetujui oleh dosen pembimbing dan preceptor klinik

Pada tanggal …………………………… 2018

Dosen Pembimbing Preceptor Klinik

Keperawatan Kritis dan Gawat Darurat Ruang IGD

(Ns. Kiki Hardiansyah Safitri, M.Kep., Sp.Kep.MB) (…………………………………………………..)


NIK : 113072.88.160.88
LAPORAN PENDAHULUAN

A. DEFINISI

Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit mempunyai tugas menyelenggarakan pelayan
asuhan medis dan asuhan keperawatan sementara serta pelayanan pembedahan darurat bagi

pasien yang datang dengan gawat darurat medis. IGD memiliki peran sebagai gerbang utama
masuknya penderita gawat darurat (Ali, 2014). Pelayanan pasien gawat darurat adalah pelayanan

yang memerlukan pelayan segera, yaitu cepat, tepat dan cermat untuk mencegah kematian dan

kecacatan. Pelayanan ini bersifat penting (emergency) sehingga diwajibkan untuk melayani

pasien 24 jam sehari secara terus menerus.

IGD merupakan unit rumah sakit yang memberikan perawatan pertama kepada pasien. Unit
ini dipimpin oleh seorang dokter jaga dengan tenaga dokter ahli dan berpengalaman dalam
menangani PGD (Pelayanan Gawat Darurat), yang kemudian bila dibutuhkan akan merujuk pasien

ke dokter spesialis tertentu (Hidayati, 2004). IGD menyediakan penanganan awal bagi pasien
yang menderita sakit dan cedera yang dapat mengancam jiwa dan kelangsungan hidupnya.

Adapun tugas IGD adalah menyelenggarakan pelayanan asuhan medis dan asuhan keperawatan

serta pelayanan pembedahan darurat bagi pasien yang datang dengan kondisi gawat darurat.

Menurut Depkes R.I (2006), petugas tim kesehatan di IGD di rumah sakit terdiri dari dokter ahli,

dokter umum, atau perawat yang telah mendapat pelatihan penanganan kegawatdaruratan yang
dibantu oleh perwakilan unit-unit lain yang bekerja di IGD.

B. KEGIATAN IGD

Instalasi Gawat Darurat yang merupakan suatu bentuk penanganan kegawatdaruratan

memiliki berbagai macam kegiatan. Menurut Flynn (1962) dalam Azrul (1997) kegiatan IGD secara

umum dapat dibedakan sebagai berikut :

1. Menyelenggarakan pelayanan gawat darurat.


Kegiatan utama yang menjadi tanggung jawab IGD adalah menyelenggarakan pelayanan
gawat darurat. Sayangnya jenis pelayanan kedokteran yang bersifat khas seing disalah

gunakan. Pelayanan gawat darurat yang sebenarnya bertujuan untuk menyelamatkan


kehidupan penderita (live saving), sering dimanfaatkan hanya untuk memperoleh pelayanan

pertolongan pertama (first aid) dan bahkan pelayanan rawat jalan (ambulatory care)

2. Menyelenggarakan pelayanan penyaringan untuk kasus-kasus yang membutuhkan

pelayanan rawat inap intensif.


Kegiatan kedua yang menjadi tanggung jawab UGD adalah menyelenggarakan pelayanan
penyaringan untuk kasus-kasus yang membutuhkan pelayanan intensif. Pada dasarnya

pelayanan ini merupakan lanjutan dari pelayanan gawat darurat, yakni dengan merujuk
kasus-kasus gawat darurat yang dinilai berat untuk memperoleh pelayanan rawat inap

intensif.
3. Menyelenggarakan pelayanan informasi medis darurat.

Kegiatan ketiga yang menjadi tanggung jawab UGD adalah menyelenggarakan informasi
medis darurat dalam bentuk menampung serta menjawab semua pertanyaan anggota

masyarakat yang ada hubungannya dengan keadaan medis darurat (emergency medical

questions).

C. PROSEDUR DAN PELAYANAN


Prosedur pelayanan di IGD merupakan kunci awal pelayanan petugas kesehatan rumah sakit
dalam melayani pasien secara baik atau tidaknya, dilihat dari sikap yang ramah, sopan, tertib dan

penuh tanggung jawab (Depkes R.I, 2006). Pasien yang datang untuk berobat di IGD jumlahnya
lebih banyak dan silih berganti setiap hari. Di IGD, perawat merupakan anggota tim kesehatan

digaris terdepan yang menghadapi masalah kesehatan klien selama 24 jam secara terus menerus

(Lestari dan Retno, 2010).

Disiplin pelayanan adalah suatu aturan yang berkaitan dengan cara memilih anggota antrian

yang akan dilayani lebih dahulu. Disiplin yang biasa digunakan adalah (Subagyo, 1993) :
1. FCFS : First Come-First Served (pertama masuk, pertama dilayani)

2. LCFS : Last Come-First Served (terakhir masuk, pertama dilayani)

3. SIRO : Service In Random Order (pelayanan dengan urutan acak)

4. Emergency First : Kondisi berbahaya yang didahulukan.

Ada beberapa pembagian penanganan dan kriteria pasien dalam kondisi kegawatdaruratan

di IGD, yaitu :

1. Prioritas I (label merah) : Emergency


Pada prioritas I yaitu pasien dengan kondisi gawat darurat yang mengancam nyawa/fungsi
vital dengan penanganan dan pemindahan bersifat segera, antara lain : gangguan

pernapasan, gangguan jantung dan gangguan kejiwaan yang serius. Kriteria : sumbatan
jalan nafas atau distress nafas, luka tusuk, penurunan tekanan darah, perdarahan pembuluh

darah, problem kejiwaan, luka nakar deajat II >25% tidak mengenai dada dan muka, diare

dengan dehidrasi, patah tulang.

2. Prioritas II (label kuning) : Urgent


Pada prioritas II yaitu pasien dalam kondisi darurat yang perlu evaluasi secara menyeluruh
dan ditangani oleh dokter untuk stabilisasi, diagnosa dan terapi definiti, potensial

mengancam jiwa/fungsi vital bila tidak segera ditangani dalam waktu singkat penanganan
dan pemindahan bersifat jangan terlambat, antara lain : pasien dengan risiko syok, fraktur

multiple, fraktur femur/pelvis, luka bakar luas, gangguan kesadaran/trauma kepala, diare
non dehidrasi.

3. Prioritas III (label hijau) : Non Emergency


Pada prioritas III yaitu pasien gawat darurat semu (false emergency) yang tidak memerlukan

pemeriksaan dan perawatan segera.

4. Prioritas IV (label hitam) : Death, pasien datang dalam keadaan sudah meninggal. Kriteria :

henti jantung yang kritis, henti nafas yang kritis, trauma kepala yang kritis, dan perdarahan

yang kritis.
Pengaturan tindakan medis secara umum dalam UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dapat
dilihat dalam pasal 63 ayat (4) dinyatakan bahwa pelaksanaan pengobatan dan perawatan

berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan hanya dapat dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan. Dalam pelayanan kegawatdaruratan,

Depkes RI (2006), menyebutkan perawat gawat darurat mempunyai peran dan fungsi seperti

fungsi independen yang merupakan fungsi mandiri yang berkaitan dengan pemberian asuhan

(care), fungsi dependen merupakan fungsi yang didelegasikan sepenuhnya atau sebagian dari

profesi lain, dan fungsi kolaboratif, yaitu melakukan kerjasama saling membantu dalam program
kesehatan (perawat sebagai anggota tim kesehatan).

Gambar 1. Pemilihan Pasien Sesuai Tingkat Kegawatdaruratan di RSUD Dr. Kanujoso

Djatiwibowo Balikapapan

D. ALUR PENANGANAN PASIEN DI IGD


Alur penanganan pasien di IGD yaitu perawat menerima pasien, kemudian mencatat identitas
lengkap dan jelas dan informed consent, perawat melakukan anamnesa (auto dan hetero

anamnesa), perawat melakukan pemeriksaan Glascow Coma Scale (GCS), TTV dan pemeriksaan
fisik awal, pengelompokan pasien dan diagnosa awal, seperti gawat darurat : memerlukan

tindakan segera dan mengancam jiwa, non gawat darurat : tidak urgent, tindakan segera dan
tidak mengancam jiwa. Non gawat non darurat boleh diberi terapi simptomatis (berdasar gejala).

Gawat darurat dan gawat non darurat, perawat menghubungi dokter jaga pada hari tersebut dan
melaporkan kondisi terakhir pasien dan boleh melakukan tindakan awal pertolongan pertama/

Basic Live Support meliputi : airway, jaw thrust, chin lift dan hiperekstensi, kemudian

membersihkan jalan nafas dari sumbatan (sekret dan benda asing), memeriksa breathing dengan

memasang oksigen, dan memeriksan circulation, serta memonitor pengeluaran urine.

Kegawatdaruratan merupakan keadaan yang mengancam jiwa, untuk itu diperlukan perawat
yang kompeten sebagai praktisi, juga harus meningkatkan kemampuan yang terkait berbagai
peran, harus mengerti karakteristik pelayanan keperawatan yang tepat, cermat dan cepat serta

mengerti tugas, cara bersikap dan cara berkomunikasi dengan baik dalam kondisi emergensi.
Sementara itu urutan prioritas penanganan kegawatan berdasarkan pada 6-B yaitu :

B -1 = Breath – sistem pernafasan

B -2 = Bleed – sistem peredaran darah ( sirkulasi )

B -3 = Brain – sistem saraf pusat

B -4 = Bladder – sistem urogenitalis


B -5 = Bowl – sistem pencernaan

B -6 = Bone – sistem tulang dan persendian

Kegawatan pada system B-1, B-2, B-3, adalah prioritas utama karena kematian dapat terjadi

sangat cepat, rangking pertolongan ini disebut “ Live Saving First Aid “ yang meliputi :

1. Membebaskan jalan napas dari sumbatan

2. Memberikan napas buatan

3. Pijat jantung jika jantung berhenti


4. Menghentikan pendarahan dengan menekan titik perdarahan dan menggunakan beban
5. Posisi koma dengan melakukan triple airway menuver, posisi shock dengan tubuh

horizontal, kedua tungkai dinaikan 200 untuk auto tranfusi


6. Bersikap tenang tapi cekatan dan berfikir sebelum bertindak, jangan panic

7. Lakukan pengkajian yang cepat terhadap masalah yang mengancam jiwa

8. Lakukan pengkajian yang siatematik sebelum melakukan tindakan secara menyeluruh.


Gambar 2. Alur Pelayanan Pasien IRD di RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikapapan

E. TUJUAN IGD

1. Mencegah kematian dan kecacatan pada penderita gawat darurat

2. Menerima rujukan pasien atau mengirim pasien

3. Melakukan penanggulangan korban musibah masal dan bencana yang terjadi dalam

maupun diluar rumah sakit

4. Suatu IGD harus mampu memberikan pelayanan dengan kualitas tinggi pada masyarakat

dengan problem medis akut

F. KRITERIA IGD

1. IGD harus buka 24 jam


2. IGD juga harus memiliki penderita – penderita false emergency (korban yang memerlukan

tindakan medis tetapi tidak segera),tetapi tidak boleh memggangu / mengurangi mutu

pelayanan penderita- penderita gawat darurat.

3. IGD sebaiknya hanya melakukan primary care sedangkan definitive care dilakukan ditempat
lain dengan cara kerjasama yang baik

4. IGD harus meningkatkan mutu personalia maupun masyarakat sekitarnya dalam

penanggulangan penderita gawat darurat (PPGD)


5. IGD harus melakukan riset guna meningkatkan mutu / kualitas pelayanan kesehatan

masyarakat sekitarnya.
G. KEMAMPUAN MINIMAL PETUGAS IGD
Menurut Depkes 2009 :

1. Membuka dan membebaskan jalan nafas (Airway)


2. Memberikan ventilasi pulmoner dan oksigenasi (Breathing)

3. Memberikan sirkulasi artificial dengan jalan massage jantung luar (Circulation)


4. Menghentikan perdarahan, balut bidai, transportasi, pengenalan dan penanggulangan obat

resusitasi, membuat dan membaca rekaman EKG.

H. KEMAMPUAN TENAGA PERAWAT IGD

Sesuai dengan pedoman kerja perawat (Depkes, 2009)

1. Mampu mengenal klasifikasi dan labelisasi pasien

2. Mampu mengatasi pasien : syok, gawat nafas, gagal jantung, kejang, koma, perdarahan,
kolik, status asthmatikus, nyeri hebat daerah panggul dan kasus ortopedi.
3. Mampu melaksanakan pencatatan dan pelaporan Askep

4. Mampu berkomunikasi : intern dan ekstern

I. SARANA DAN PRASARANA FISIK RUANGAN YANG DIPERLUKAN DI IGD

Ketentuan umum fisik bangunan :

1. Harus mudah dijangkau oleh masyarakat

2. Harus mempunyai pintu masuk dan keluar yang berbeda (Alur masuk kendaraan /pasien
tidak sama dengan alur keluar)

3. Harus memiliki ruang dekontaminasi (dengan fasilitas shawer) yang terletak antara ruang

“triage “ (ruang penerimaan pasien) dengan ruang tindakan)

4. Ambulans / kendaraan yang membawa pasien harus dapat sampai di depan pintu

5. Ruang triage harus dapat memuat minimal 2 brankar

J. PRINSIP PENANGGULANGAN PENDERITA GAWAT DARURAT


Kematian dapat terjadi bila seseorang mengalami kerusakan atau kegagalan dan salah satu
sistem / organ seperti :

1. Susunan saraf pusat


2. Pernafasan

3. Kardiovaskuler

4. Hati

5. Ginjal
6. Pancreas
Kegagalan (kerusakan) sistem/ organ tersebut dapat disebabkan oleh :
1. Trauma / cedera

2. Infeksi
3. Keracunan (polsoning)

4. Degenerasi (kailure)
5. Asfiksi

6. Kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar (excessive loss of water and electrolite)
Kegagalan sistem saraf pusat, kardiovaskuler, pernafasan dan kehilangan hipoglikemia dapat

menyebabkan kematian dalam waktu singkat (4-6 menit). Sedangkan kegagaln sistem / organ

yang lain dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang lebih lama. Drngan demikian

keberhasilan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD) dalam mencegah kematian dan

cacat ditentukan oleh :


1. Kecacatan menemukan penderita gawat darurat
2. Kecepatan meminta pertolongan

3. Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan :


a) Ditempat kejadian

b) Dalam perjalanan kerumah sakit

c) Pertolongan selanjutnya secara mantap di Puskesmas/Rumah Sakit

K. TRIAGE
Mempunyai arti menyortir atau memilih. Dirancang untuk menempatkan pasien yang tepat

diwaktu yang tepat dengan pemberi pelayanan yang tepat. Triage merupakan suatu proses

khusus memilah pasien berdasar beratnya cedera atau penyakit dan menentukan jenis perawatan

gawat darurat serta transportasi. Dan merupakan proses yang berkesinambungan sepanjang

pengelolaan.

Dalam Triage tidak ada standard nasional baku, namun ada 2 sistem yang dikenal, yaitu:

1. METTAG (Triage tagging system).


Sistem METTAG merupakan suatu pendekatan untuk memprioritisasikan tindakan.
Prioritas Nol (Hitam) :

a. Mati atau jelas cedera fatal.


b. Tidak mungkin diresusitasi.

Prioritas Pertama (Merah) :

Cedera berat yang perlukan tindakan dan transport segera.

a. gagal nafas,
b. cedera torako-abdominal,
c. cedera kepala / maksilo-fasial berat,
d. shok atau perdarahan berat,

e. luka bakar berat.


Prioritas Kedua (Kuning) :

Cedera yang dipastikan tidak akan mengalami ancaman jiwa dalam waktu dekat :
a. cedera abdomen tanpa shok,

b. cedera dada tanpa gangguan respirasi,


c. fraktura mayor tanpa shok,

d. cedera kepala / tulang belakang leher,

e. luka bakar ringan.

Prioritas Ketiga (Hijau) :

Cedera minor yang tidak membutuhkan stabilisasi segera :


a. cedera jaringan lunak,
b. fraktura dan dislokasi ekstremitas,

c. cedera maksilo-fasial tanpa gangguan jalan nafas,


d. gawat darurat psikologis.

Sistem METTAG atau pengkodean dengan warna system tagging yang sejenis, bisa

digunakan sebagai bagian dari Penuntun Lapangan START.

2. Sistem triase Penuntun Lapangan START (Simple Triage And Rapid Transportation).

Penuntun Lapangan START memungkinkan penolong secara cepat mengidentifikasikan


korban yang dengan risiko besar akan kematian segera atau apakah tidak memerlukan

transport segera.

Penuntun Lapangan START dimulai dengan penilaian pasien 60 detik, meliputi

pengamatan terhadap ventilasi, perfusi, dan status mental. Hal ini untuk memastikan

kelompok korban :

a. Perlu transport segera / tidak,

b. Tidak mungkin diselamatkan,


c. Mati.

L. PRINSIP UMUM TRIASE


1. Perkenalkan diri anda dan jelaskan apa yang akan anda lakukan.

2. Pertahankan rasa percaya diri pasien.

3. Coba untuk mengamati semua pasien yang datang, bahkan saat mewawancara pasien.

4. Pertahankan arus informasi petugas triase dengan area tunggu & area tindakan. Komunikasi
lancar sangat perlu. Bila ada waktu adakan penyuluhan.
5. Pahami sistem IGD dan keterbatasan anda. Ingat objektif primer aturan triase. Gunakan
sumber daya untuk mempertahankan standar pelayanan memadai.

Prinsip dari triage :


1. Triase harus cepat dan tepat : Kemampuan untuk merespon secara cepat, terhadap

keadaan yang menganca nyawa merupakan suatu yang sangan penting pada bagian
kegawatdaruratan

2. Pemeriksaan harus adekuat dan akurat : Akurasi keyakinan dan ketangkasan merupakan
suatu element penting pada proses pengkajian

3. Keputusan yang diambil berdasarkan pemeriksaan : Keamanan dan keefektifan

perawatan pasien hanya dapat direncanakan jika ada informasi yang adekuat dan data yang

akurat

4. Memberikan intervensi berdasarkan keakutan kondisi : Tanggungjawab utama dari


perawat triase adalah untuk mengkaji dan memeriksa secara akurat pasien, dan memberikan
perawatan yang sesuai pada pasien, termasuk intervensi terapiutik, prosedur diagnostic, dan

pemeriksaan pada tempat yang tepat untuk perawatan


5. Kepuasan pasien tercapai

– Perawat triase harus melaksanakan prinsip diatas untuk mencapai kepuasan pasien

– Perawat triase menghindari penundaan perawatan yang mungkin akan membahayakan

kesehatan pasien atau pasien yang sedang kritis

– Perawat triase menyampaikan support kepada pasien, keluarga pasien, atau teman
(Department Emergency Hospital Singapore, 2009)

Prinsip umum lain dalam asuhan keperawatan yang di berikan oleh perawat di ruang

gawat darurat antara lain :

1. Penjaminan keamanan diri perawatan dan klien terjaga, perawat harus menerapkan prinsip

universal precaution, mencegah penyebaran infeksi dan memberikan asuhan yang nyaman

untuk klien

2. Cepat dan tepat dalam melakukan triage, menetapkan diagnose keperawatan, tindakan
keperawatan dan evaluasi yang berkelanjutan
3. Tindakan keperawatan meliputi resusitasi dan stabilisasi diberikan untuk mengatasi masalah

biologi dan psikologi klien


4. Penjelasan dan pendidikan kesehatan untuk klin dan keluarga diberikan untuk menurunkan

kecemasan dan meningkatkan kerjasama perawat dan klien

5. Sistem monitoring kondisi klien harus dapat dijalankan

6. Sistem dokumentasi yang dipai dapat digunakan secara mudah, cepat dan tepat
7. Penjaminan tindakan keperawatan secara etik dan legal keperawatan perlu dijaga.
M. TIPE TRIAGE
Ada beberapa Tipe triage, yaitu :

1. Daily triage
Daily triage adalah triage yang selalu dilakukan sebagai dasar pada system kegawat

daruratan. Triage yang terdapat pada setiap rumah bsakit berbeda-beda, tapi secara umum
ditujukan untuk mengenal, mengelompokan pasien menurut yang memiliki tingkat keakutan

dengan tujuan untuk memberikan evaluasi dini dan perawatan yang tepat. Perawatan yang

paling intensif dberikan pada pasien dengan sakit yang serius meskipun bila pasien itu

berprognosis buruk.

2. Mass Casualty incident


Merupakan triage yang terdapat ketika sestem kegawatdaruratan di suatu tempat bencana
menangani banyak pasien tapi belum mencapai tingat ke kelebihan kapasitas. Perawatan

yang lebih intensif diberikan pada korban bencana yang kritis. Kasus minimal bisa di tunda
terlebih dahulu.

3. Disaster Triage

Ada ketika system emergensi local tidak dapat memberikan perawatan intensif sesegera

mungkin ketika korban bencana sangat membutuhkan. Filosofi perawatan berubah dari

memberikan perawatan intensif pada korban yang sakit menjadi memberikan perawatan
terbaik untuk jumlah yang terbesar. Fokusnya pada identifikasi korban yang terluka yang

memiliki kesempatan untuk bertahan hidup lebih besar dengan intervensi medis yang cepat.

Pada disaster triage dilakukan identifikasi korban yang mengalami luka ringan dan ditunda

terlebih dahulun tanpa muncul resko dan yang mengalami luka berat dan tidak dapat

bertahan. Prioritasnya ditekankan pada transportasi korban dan perawatan berdasarkan level

luka.

4. Military Triage
Sama dengan tiage lainnya tapi berorientasi pada tujuan misi disbanding dengan aturan
medis biasanya. Prinsip triage ini tetap mengutamakan pendekatan yang paling baik karena

jika gagal untuk mencapai tujuan misi akan mengakibatkan efek buruk pada kesehatan dan
kesejahteraan populasi yang lebih besar.

5. Special Condition triage

Digunakan ketika terdapat faktor lain pada populasi atau korban. Contohnya kejadian yang
berhubungan dengan senjara pemusnah masal dengan radiasi, kontaminasi biologis dan
kimia. Dekontaminasi dan perlengkapan pelindung sangat dibutuhkan oleh tenaga medis.
(Oman, Kathleen S., 2008;2)

N. RUANG IGD
Ruang IGD, selain sebagai area klinis, IGD juga memerlukan fasilitas yang dapat menunjang

beberapa fungsi-fungsi penting sebagai berikut: kegiatan ajar mengajar, penelitian/riset,


administrasi, dan kenyamanan staff. Adapun area-area yang ada di dalam kegiatan pelayanan

kesehatan bagi pasien di IGD adalah : (1) Area administratif, (2) Reception/Triage/Waiting area,
(3) Resuscitation area, (4) Area Perawat Akut (pasien yang tidak menggunakan ambulan), (5) Area

Konsultasi (untuk pasien yang menggunakan ambulan), (6) Staff work stations, (7) Area Khusus,

misalnya: Ruang wawancara untuk keluarga pasien, Ruang Prosedur, Plaster room, Apotik,

Opthalmology/ENT, Psikiatri, Ruang Isolasi, Ruang Dekontaminasi, Area ajar mengajar. (8)

Pelayanan Penunjang, misalnya: Gudang /Tempat Penyimpanan, Perlengkapan bersih dan kotor,
Kamar mandi, Ruang Staff, Tempat Troli Linen, (9) Tempat peralatan yang bersifat mobile Mobile
X-Ray equipment bay, (10) Ruang alat kebersihan. (11) Area tempat makanan dan minuman, (12)

Kantor Dan Area Administrasi, (13) Area diagnostic misalnya medis imaging area laboratorium,
(14) Departemen keadaan darurat untuk sementara/ bangsal observasi jangka pendek/ singkat

(opsional), (15) Ruang Sirkulasi.

Ukuran Total IGD dimana total area internal IGD, tidak termasuk bangsal pengamatan dan
2
area internal imaging sekarang ini sebaiknya, harus sedikitnya 50 m /1000 kehadiran tahunan
2
atau 145 m /1000 jumlah pasien yang masuk setahun, ukuran yang manapun boleh dipakai tetapi

lebih baik dipilih yang lebih besar. Ukuran yang minimum suatu IGD akan lebih fungsional
2
apabila seluas 700 m .

Total ukuran dan jumlah area perawatan akan juga akan dipengaruhi oleh faktor-faktor

seperti: Jumlah angka pasien, pertumbuhan yang diproyeksikan, antipasti perubahan di dalam

teknologi, keparahan penyakit, waktu penggunaan laboratorium dan imaging medis, jumlah atau
susunan kepegawaian dan struktur.
Menurut Kemenkes (2012), kebutuhan ruang, fungsi dan luasan ruang serta kebutuhan

fasilitas pada ruang gawat darurat di Rumah sakit kelas C adalah sebagai berikut:
1. Ruang Penerimaan
a. Ruang administrasi , berfungsi untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi, meliputi:

pendataan pasien IGD, keuangan dan rekam medik. Besaran ruang/luas bekisar antara

3-5 m2/ petugas (luas area disesuaikan dengan jumlah petugas). Untuk kebutuhan

fasilitas antara lain seperti meja, kursi, lemari berkas/arsip, telefon, safety box dan
peralatan kantor lainnya.
b. Ruang tunggu pengantar pasien, berfungsi sebagai ruangan dimana
keluarga/pengantar pasien menunggu. Ruang ini perlu disediakan tempat duduk

dengan jumlah yang sesuai aktivitas pelayanan. Besaran ruang/luas 1-1,5 m2/ orang
(luas disesuaikan dengan jumlah kunjungan pasien/hari). Kebutuhan fasilitas yang

diperlukan antara lain kursi, meja, televisi dan alat pengkondisi udara (AC/Air
Condition).

c. Ruang Triase, ruang tempat memilah – milah kondisi pasien, true emergency atau false
emergency. Kebutuhan fasilitas yang diperlukan seperti wastafel, kit pemeriksaan

sederhana, label.

d. Ruang penyimpanan brankar, tempat meletakkan/ parkir brankar pasien yang siap

digunakan apabila diperlukan.

e. Ruang dekontaminasi (untuk RS di daerah industri), ruang untuk membersihkan/


dekontaminasi pasien setelah drop off dari ambulan dan sebelum memasuki area triase.
Kebutuhan fasilitas ruang diperlukan adalah shower dan sink lemari/rak alat

dekontaminasi.
f. Area yang dapat digunakan untuk penanganan korban bencana massal. Kenutuhan

fasilitas yang diperlukan adalah area terbuka dengan/tanpa penutup, fasilitas air bersih

dan drainase.

2. Ruang Tindakan

a. Ruang resusitasi, ruangan ini dipergunakan untuk melakukan tindakan penyelamatan


penderita gawat darurat akibat gangguan ABC. Luasan ruangan minimal 36 m2.

Kebutuhan fasilitas yang diperlukan seperti nasoparingeal, orofaringeal, laringoskop set

anak, laringoskop set dewasa, nasotrakeal, orotrakeal, suction, trakeostomi set, bag

valve mask, kanul oksigen, oksigen mask, chest tube, ECG, ventilator transport monitor,

infusion pump, vena suction, nebulizer, stetoskop, warmer, NGT, USG.

b. Ruang tindakan bedah, ruangan ini untuk melakukan tindakan bedah ringan pada

pasien. Luasan ruangan minimal 7,2 m2/meja tindakan. Kebutuhan fasilitas yang
diperlukan yaitu meja periksa, dressing set, infusion set, vena section set, torakosintesis
set, metalkauter, tempat tidur, tiang infus, film viewer.

c. Ruang tindakan non bedah, ruangan ini untuk melakukan tindakan non bedah pada
pasien. Luasan ruangan minimal 7,2 m2/ meja tindakan. Kebutuhan fasilitas yang

diperlukan yaitu kumbah lambung set, EKG, irrigator, nebulizer, suction, oksigen medis,

NGT, infusion pump, jarum spinal, lampu kepala, otoskop set, tiang infus, tempat tidur,

film viewer, ophtalmoskop, bronkoskopi, slit lamp.


d. Ruang observasi, ruang untuk melakukan observasi terhadap pasien setelah diberikan
tindakan medis. Kebutuhan fasilitas hanya tempat tidur periksa.

e. Ruang pos perawat (nurse station), ruang untuk melakukan perencanaan,


pengorganisasian, pelayanan keperawatan, pengaturan jadwal, dokumentasi s/d

evaluasi pasien. Pos perawat harus terletak dipusat blok yang dilayani agar perawat
dapat mengawasi pasiennya secara efektif. Kebutuhan fasilitas yang diperlukan antara

lain meja, kursi, wastafel, computer, dll.


3. Ruang Penunjang Medis

a. Ruang petugas/ Staf, merupakan ruang tempat kerja, istirahat, diskusi petugas IGD,

yaitu kepala IGD, dokter, dokter konsulen, perawat. Kebutuhan fasilitas yang diperlukan

adalah sofa, lemari, meja/kursi, wastafel, pantry.

b. Ruang perawat, ruang ini digunakan sebagai ruang istirahat perawat. Luas ruangan
sesuai kebutuhan. Kebutuhan fasilitas yang diperlukan antara lain sofa, lemari,
meja/kursi, wastafel.

c. Gudang kotor, Fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan pasien khususnya
yang berupa cairan. Spoolhoek berupa bak atau kloset yang dilengkapi dengan leher

angsa. Kebutuhan fasilitas yang diperlukan adalah kloset leher angsa, kran air bersih.

d. Toilet petugas, terdiri dari kamar mandi/ WC untuk petugas IGD.

e. Ruang loker, merupakan ruang tempat menyimpan barang-barang milik petugas/staf

IGD dan ruang ganti pakaian.

O. SYARAT KHUSUS INSTALASI GAWAT DARURAT

Komponen pelayanan yang diberikan kepada IGD terdiri atas perlengkapan elektrikal dan
mekanikal serta jenis perabotan dan jumlah. Kualitas juga mempengaruhi terhadap kegiatan yang

berlangsung di dalam ruangan tersebut. Ada 2 faktor penting, yaitu manusia sebagai pengguna
dan bangunan beserta komponen-komponennya sebagai lingkungan binaan yang

mengakomodasi kegiatan manusia. Salah satu fungsi utama IGD adalah untuk menerima,

menstabilkan dan mengatur pasien yang menunjukkan gejala yang bervariasi, gawat dan kondisi-

kondisi yang sifatnya tidak gawat.


Adapun persyaratan khusus untuk IGD menurut pedoman teknis sarana prasarana RS kelas C
yaitu:

1. Area IGD harus terletak pada area depan atau muka dari tapak RS

2. Area IGD harus mudah diliat serta mudah dicapai dari luar tapak rumah sakit (jalan raya)

dengan tanda-tanda yang sangat jelas dan mudah dimengerti masyarakat umum.
3. Area IGD harus memiliki pintu masuk kendaraan yang berbeda dengan pintu masuk
kendaraan ke area Instalasi Rawat Jalan/Poliklinik, Instalasi rawat inap serta area zona servis
dari rumah sakit.

4. Untuk tapak RS yang berbentuk memanjang mengikuti panjang jalan raya maka pintu masuk
ke area IGD harus terletak pada pintu masuk pertama kali ditemui oleh pengguna kendaraan

untuk masuk ke area RS.


5. Untuk bangunan RS yang berbentuk bangunan bertingkat banyak yang memiliki ataupun

tidak memiliki lantai bawah tanah maka perletakan IGD harus berada pada lantai dasar atau
area yang memiliki akses langsung.

6. IGD disarankan untuk memiliki area yang dapat digunakan untuk penanganan korban

bencana massal.

7. Disarankan pada area untuk menurunkan atau menaikkan pasien memiliki sistem sirkulasi

yang memungkinkan ambulan bergerak satu arah.


8. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan instalasi bedah sentral.
9. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan unit rawat intensif (Intensive Care Unit).

10. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan unit kebidanan.


11. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan instalasi laboratorium.

12. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan instalasi radiologi.

13. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan BDRS (Bank Darah Rumah Sakit).

Menurut DepKes RI tahun 1991, konsep dasar Unit Gawat Darurat ditetapkan dengan

pertimbangan dasar, yaitu:


1. Pemisahan antara ruang bedah dan non bedah.

2. Dilakukan pemisahan sirkulasi antara pasien dengan perawat/dokter.

3. Pengaturan sirkulasi perawat/dokter dan tempat alat-alat medik (bench) sehingga

dimungkinkan penggunaan alat-alat secara bersama.

4. Pembentukan ruang-ruang perawatan yang memungkinkan untuk digunakan sebagai ruang

periksa, observasi dan resusitasi. Keseluruhan ruang dan alat ditetapkan untuk dapat

digunakan selama 24 jam.


5. Mempunyai pintu masuk khusus yang mudah dilalui kendaraan dan mudah dilihat.

Ada banyak klasifikasi triage yang digunakan, adapun beberapa klasifikasi umum yang dipakai :
1. Three Categories Triage System

Ini merupakan bentuk asli dari system triase, pasien dikelompokkan menjadi :

– Prioritas utama

– Prioritas kedua
– Prioritas rendah
Tipe klasifikasi ini sangat umum dan biasanya terjadi kurangnya spesifitas dan subjektifitas
dalam pengelompokan dalam setiap grup

2. Four Categories Triage System


Terdiri dari :

– Prioritas paling utama (sesegera mungkin, kelas 1, parah dan harus sesegera mungkin)
– Prioritas tinggi (yang kedua, kelas 2, sedang dan segera)

– Prioritas rendah (dapat ditunda, kelas 3, ringan dan tidak harus segera dilakukan)
– Prioritas menurun (kemungkinan mati dan kelas 4 atau kelas 0)

3. Start Method (Simple Triage And Rapid Treatment)

Pada triase ini tidak dibutuhkan dokter dan perawat, tapi hanya dibutuhkan seseorang dengan

pelatihan medis yang minimal. Pengkajian dilakukan kdengan sangat cepat selama 60 detik

pada bagian berikut :


– Ventilasi / pernapasan
– Perfusi dan nadi (untuk memeriksa adanya denyut nadi)

– Status neurologi
Tujuannya hanya untuk memperbaiki masalah-masalah yang mengancam nyawa seperti

obstruksi jalan napas, perdarahan yang massif yang harus diselesaikan secepatnya. Pasien

diklasifikasikan sebagai berikut :

a) The Walking Wounded

Penolong ditempat kejadian memberikan instruksi verbal pada korban, untuk berpindah.
Kemudian penolong yang lain melakukan pengkajian dan mengirim korban ke rumah sakit

untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

b) Critical / Immediate

Dideskripsikan sebagai pasien dengan luka yang serius, dengan keadaan kritis yang

membutuhkan transportasi ke rumah sakit secepatnya, dengan kriteria pengkajian :

– respirasi >30x/menit

– tidak ada denyut nadi


– tidak sadar/kesadaran menurun
c) Delayed

Digunakan untuk mendeskripsikan pasien yang tidak bisa yang tidak mempunyai keadaan
yang mengancam jiwa dan yang bisa menunggu untuk beberapa saat untuk mendapatkan

perawatan dan transportasi, dengan criteria

– Respirasi <30x/menit

– Ada denyut nadi


– Sadar/ respon kesadaran normal
d) Dead
Digunakan ketika pasien benar-benar sudah mati atau mengalami luka dan mematikan

seperti luka tembak di kepala (Departement Emergency Hospital Singapore, 2009).

Sistem klasifikasi pasien yang digunakan, diantaranya :


1. Traffic director

Dalam sistem ini, perawat hanya mengidentifikasi keluhan utama dan memilih antara status
“mendesak” atau “tidak mendesak”. Berdasarkan klasifikasi ini pasien dikirim ke ruang tunggu

atau area perawatan akut. Tidak ada tes diagnostik permulaan yang dilakukan sampai tiba

waktu pemeriksaan.

2. Spot check

Pada model ini, perawat mendapatkan keluhan utama bersama dengan data subjektif dan
objektif yang terbatas, dan pasien dikategorikan ke dalam salah satu dari tiga prioritas
pengobatan berikut ini : “gawat darurat,” “mendesak,” atau “ditunda”. Dapat dilakukan

beberapa tes diagnostic pendahuluan, dan pasien ditempatkan di area perawatan tertentu atau
di ruang tunggu. Tidak ada evaluasi ulang yang direncanakan sampai dilakukan pengobatan.

3. Comprehensive

Sistem comprehensive adalah sistem yang paling maju dengan melibatkan dokter dan perawat

dalam menjalankan peran triase. Data dasar yang diperoleh meliputi pendidikan dan kebutuhan

pelayanan kesehatan primer, keluhan utama, serta informasi subjektif dan ojektif. Tes diagnostic
pendahuluan dilakukan dan pasien ditempatkan di ruang perawatan akut atau ruang tunggu.

Jika pasien ditempatkan di ruang tunggu, pasien harus dikaji ulang setiap 15 sampai 60 menit

(Rea, 1987).

Ada beberapa istilah yang digunakan dalam unit gawat darurat berdasarkan Prioritas

Perawatannya, antara lain :

a. Gawat Darurat (P1)

Keadaaan yang mengancam nyawa/adanya gangguan ABC dan perlu tindakan segera,
misalnya cardiac arrest, penurunan kesadaran , trauma mayor dengan perdarahan hebat
b. Gawat Tidak Darurat (P2)

Keadaan mengangancam nyawa tetepi tidak memerlukan tindakan darurat. Setelah


dilakukan resusitasi maka ditindak lanjuti oleh dokter specialis. Misalnya : pasien kanker

tahap lanjut, fraktur, sickle cell dan lainya.

c. Darurat Tidak Gawat (P3)


Keadaan yang tidak mengancam nyawa tetapi memerlukan tindakan darurat. Pasien sadar,
tidak ada gangguan ABC dan dapat langsung diberikan terapi definitif. Untuk tindak lanjut

dapat ke poliklinik, misalnya: laserasi, fraktur minor/tertutup,sistitis, otitis media dan lainya.
d.Tidak Gawat Tidak Darurat

Keaadaan yang tidak mengancam nyawa tetapi tidak memerlukan tindakan gawat. Gejala
dan tanda klinis ringan/asimptomatis. Misalnya penyakit kulit, batuk, flu, dan sebagainya

(ENA, 2001;Iyer, 2004)

DAFTAR PUSTAKA

Aninomous,1999. Triage officers course. Singapore : departement of emergency medicine singapore


general hospital

Iyer, P. 2004. Dokumentasi Keperawatan : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan, Jakarta : EGC

Oman, K 2008. Panduan Belajar Keperawatan Gawat Darurat : Jakarta : EGC

Wikipedia, the free encyclopedia, 2009, triage, (Online), (http://en.wikipedia. org/wiki/triage, Diakses

pada tgl 21 Maret 2010).