Anda di halaman 1dari 4

PEMIJAHAN IKAN LELE

(Makalah Manajemen dan Teknologi Pembenihan Ikan)

Oleh

Aditya Zulfadlya S (1614111058)


Eldira Marinta U (1614111060)
Aditya Kusuma N (1614111062)

LABORATORIUM PERIKANAN DAN KELAUTAN


PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
JURUSAN PERIKANAN DAN KELAURAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2018
Ikan lele adalah jenis ikan yang memiliki banyak nama dan julukan yang berbeda
di beberapa negara, bahkan di Indonesia. Ikan lele memiliki nama yang berbeda
pada beberapa daerah, hal ini disebabkan karena ikan lele termasuk jenis ikan
yang memiliki banyak spesies. Secara ilmiah ikan lele lebih dikenal dengan nama
Clarias, berasal dari kata chlaros bahasa Yunani yang berarti kuat atau lincah.
Seperti pada kenyataannya di alam bebas, ikan lele memang terkenal lincah dan
mampu bertahan hidup meskipun dalam kondisi air dan kadar oksigen yang
minim karena ikan lele memiliki alat pernapasan tambahan berupa labirin.

Ikan jenis Clarias termasuk ikan lele memiliki ciri tubuh yang memanjang atau
lonjong, kulit tubuhnya tidak bersisik dan licin karena dilindungi oleh sejenis
cairan pelindung, sirip punggungnya memanjang pada bagian punggung dan
terkadang menyatu dengan ekor, sementara di bagian bawah perut juga terdapat
sirip anus yang memanjang hingga ke ekor, tidak seperti tubuhnya yang lonjong,
bagian kepala lele cenderung lebih gepeng dan dilindungi oleh tulang yang sangat
keras, matanya terlihat hitam dan kecil disisi kiri dan kanan kepala, berada di
belakang kumis atau yang sering disebut sebagai sungut peraba yang berjumlah
delapan, empat disisi kiri dan empat lainnya disisi kanan, pada bagian dada, ikan
lele memiliki dua buah patil, yaitu sirip yang terdiiri dari tulang yang keras dan
lancip.

Ikan lele biasa hidup di perairan air tawar, seperti sungai, rawa dan telaga, bahkan
ikan lele juga mampu bertahan hidup di selokan got daerah perkotaan yang sudah
tercemar. Ikan lele termasuk jenis ikan yang lebih aktif di malam hari.

Keberhasilan pemijahan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya


tingkat kematangan gonad ikan yang akan dipijahkan, pakan yang diberikan
selama pemeliharaan dan kondisi lingkungan. Pemijahan merupakan proses
pengeluaran sel telur oleh induk betina dan sperma oleh induk jantan yang diikuti
dengan pembuahan sel telur oleh sperma (fertilisasi).
Secara umum pemijahan ikan dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu secara alami
dan induksi. Pemijahan secara alami adalah pemijahan yang dilakukan di alam
terbuka sesuai dengan sifat hidupnya tanpa perlakuan dan bantuan manusia.
Sedangkan pemijahan lnduksi, yaitu pemijahan yang dilakukan dengan bantuan
atau penanganan manusia melalui pemberian hormon yang dimaksudkan untuk
melancarkan proses kematangan gonad, sehingga dapat mempercepat proses
pemijahan ikan tersebut.

Lele di alam memijah pada awal musim penghujan. Rangsangan memijahnya di


alam berhubungan erat dengan bertambahnya volume air yang biasanya terjadi
saat musim hujan, serta ketersediaan jasad renik (pakan alami), lele terangsang
memijah setelah turun hujan lebat dan munculnya bau tanah yang cukup
menyengat (bau ampo) akibatnya tanah kering terkena hujan juga. Karena terjadi
peningkatan kedalaman air, lele suka mijah di tempat teduh dan terlindungi. Lele
berkembang biak secara ovipar (eksternal).

Pada pembenihan lele lokal di kolam dapat dengan dua cara yaitu secara
berpasangan dan secara masal, lele lokal biasanya akan setia pada pasangannya
yaitu dengan cara meletakkan satu lele jantan dan betina dalam satu kolam.
Dengan lele jantan atau betina yang siap memijah, lele akan bergantian untuk
menjaga telurnya. Lele yang dibudidayakan dapat dikawinkan sepanjang tahun
asalkan dikelola dengan baik. Rangsangan yang dilakukan tidak digunakan
dengan menggunakan harman tapi dengan menjernihkan kolam, menjemur dan
mengisinya dan menimbulkan bau ampa. Bau itulah yang merangsang induk ikan
untuk memijah. Pemijahan bisa dilakukan sore atau malam hari, setelah pada hari
kakaban akan dipenuhi telur. Selanjutnya kakaban dipindahkan ke wadah
penetasan baru untuk ditetaskan sampai berukuran benih waktu yang diperlukan
untuk menetas sekitar 24 – 40 jam. Larva yang berumur 1 – 9 hari masih
memperoleh pakan dari kuning telur yang masih melekat di bagian perunya

Pemijahan ikan dapat dipercepat dengan cara memanipulasi kondisi yang ada,
misalnya dengan memberikan rangsangan menggunakan kelenjar hipofisis atau
hormon yang disuntikkan pada tubuh ikan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan
adalah dengan menambahkan atau menyuntikkan hormon ovaprim ke dalam tubuh
ikan yang sudah matang gonad untuk mempercepat proses pemijahan sehingga
dapat dihasilkan benih ikan yang baik, dengan jumlah, mutu dan waktu
penyediaannya dapat diatur sesuai yang diinginkan.

Ovaprim adalah campuran analog salmon Gonadotropihin Releasing Hormon


(sGnRH-a) dan anti dopamine. Ovaprim adalah hormon yang berfungsi untuk
merangsang dan memacu hormon gonadothropin pada tubuh ikan sehingga dapat
mempercepat proses ovulasi dan pemijahan, yaitu pada proses pematangan gonad
dan dapat memberikan daya rangsang yang lebih tinggi, menghasilkan telur
dengan kualitas yang baik serta menghasilkan waktu laten yang relatif singkat
juga dapat menekan angka mortalitas.