Anda di halaman 1dari 14

Bagaimana Cara Meningkatkan Pelayanan Terpadu pada Orang – Orang

dengan Kondisi Kronis


Liesbeth Borgermans, Yannick Marchal, Loraine Busetto, Jorid Kalseth, Frida Kasteng, Kadri
Suija, Marje Oona, Olena Tigova, Magda Rösenmuller and Dirk Devroey

Abstrak
Latar belakang: Para petinggi politik dan kesehatan masyarakat semakin
menyadari perlunya mengambil tindakan segera mengatasi masalah penyakit
kronis dan multimorbiditas. Negara - negara Eropa menghadapi hal yang belum
pernah terjadi sebelumnya. Permintaan untuk menemukan cara-cara baru untuk
memberikan perawatan untuk meningkatkan kepedulian dan personalisasi pasien
dan untuk menghindari waktu yang tidak perlu di rumah sakit. Perawatan yang
berpusat pada orang dan terpadu telah menjadi bagian utama dari kebijakan untuk
meningkatkan akses, kualitas, kontinuitas, efektivitas dan keberlanjutan sistem
perawatan kesehatan dan menjadi prasyarat untuk keberlanjutan ekonomi sistem
perawatan kesehatan dan sosial Uni Eropa.
Tujuan: Penelitian ini menyajikan ikhtisar pelajaran yang bisa dipelajari dan
faktor-faktor penentu keberhasilan dalam pembuatan kebijakan tentang perawatan
terpadu berdasarkan temuan dari EU FP-7 Project Integrate, tinjauan pustaka,
serta proyek yang relevansi dengan penelitian ini. Sejumlah praktik, penelitian
dan pembuatan kebijakan dalam perawatan terpadu di tingkat nasional dan
internasional.
Hasil: Tujuh pelajaran yang dipetik dan faktor-faktor penentu keberhasilan dalam
pembuatan kebijakan tentang perawatan terpadu telah didapatkan.
Kesimpulan: Pelajaran yang didapat dan faktor-faktor penentu keberhasilan
untuk pembuatan kebijakan pada perawatan terpadu bahwa perspektif sistem yang
komprehensif harus memandu pengembangan perawatan terpadu menuju lebih
baik pada praktik kesehatan, pendidikan, penelitian, dan kebijakan.

Introduksi
Populasi lanjut usia dan peningkatan jumlah orang - orang yang
didiagnosis dengan penyakit kronis memaksa pemimpin dan pembuat kebijakan
bidang kesehatan masyarakat untuk mempercepat reformasi sistem. Di Uni Eropa
27, populasi dengan usia lebih dari 80 tahun akan tumbuh dari 5% pada tahun
2010 menjadi 11,5% pada 2050. 20 - 40% pasien yang berusia 65 atau lebih
mengalami multimorbiditas, yang ditandai dengan lebih dari lima kondisi kronis.
Golden Burden Disease Study 2013 (GBD 2013) telah menunjukkan angka
Disability Adjusted Life Years (DALYs) meningkat pada sebagian besar penyakit
yang tidak menular antara 2005 hingga 2013. Multimorbiditas sangat terkait
dengan angka kematian yang tinggi, kualitas hidup dan status fungsional yang
menurun, tingkat penggunaan layanan kesehatan meningkat termasuk unit gawat
darurat.
Di Uni Eropa 27 jumlah uang yang dihabiskan untuk perawatan medis
lebih tinggi daripada yang produk domestik kotor (PDK), namun pertumbuhan
layanan yang konstan mungkin tidak terjangkau, juga dukungan pasar tenaga kerja
yang terus melanjutkan ekspansi. Selain itu, krisis keuangan dan ekonomi dan
pengenalan langkah - langkah penghematan di banyak negara Uni Eropa,
berkontribusi pada konteks baru untuk kebijakan perawatan kesehatan diarahkan
pada orang dengan kondisi kronis. Saat ini semua membutuhkan perubahan yang
signifikan, dan pembuat kebijakan memiliki peran kunci dalam kemajuan. Setiap
pembuat kebijakan itu bertujuan untuk Triple Aim (menjamin perawatan yang adil
dan terbukti berkualitas tinggi dengan biaya yang masuk akal), harus diakui
bahwa tantangan petugas kesehatan agar sukses dihadapkan dengan orang yang
bekerja dalam isolasi atau serangkaian intervensi yang terbatas (misalnya insentif
keuangan) untuk meningkatkan perawatan untuk orang dengan kondisi kronis.
Proses integrasi menyatukan berbagai pelaku dan organisasi secara
kolektif untuk merancang dan memberikan layanan model baru yang didukung
oleh kerja multidisipliner dan dokter umum. Manajemen integrasi penyakit tidak
menular memiliki tiga hal penting. Pertama, kebanyakan orang memiliki lebih
dari satu faktor risiko dan atau kondisi atau penyakit kronis (misalnya hipertensi
dan obesitas), yang dapat diobati dalam kerangka perawatan terpadu. Kedua,
sebagian besar penyakit kronis menuntut pekerja kesehatan dan sistem kesehatan.
Ketiga, sebagian besar penyakit kronis umumnya bersifat faktor risiko primer dan
sekunder. Selain manajemen terpadu penyakit kronis, integrasi umum dalam
layanan kesehatan juga sangat penting. Penyakit kronis seharusnya tidak
dipertimbangkan secara terpisah melainkan sebagai satu bagian dari status
kesehatan individu. Kesehatan dalam konteks ini berarti 'kemampuan untuk
beradaptasi dan mengelola diri sendiri di tantangan sosial, fisik dan emosional.
Pertanyaan yang menentukan untuk kedepannya bukan apakah praktik integratif
atau kolaboratif memiliki efek. Sebaliknya, pertanyaan utamanya adalah
bagaimana kita bisa merubah sistem perawatan kesehatan untuk mencapai hasil
terbaik. Dalam melakukannya kita harus menggunakan evidence based untuk
membangun kerangka kerja untuk mengubah kebijakan nasional dan internasional
tentang perawatan terpadu.
Dalam paradigma baru profesional kesehatan yang bukan pusat utama,
melainkan pasien. Pergeseran itu akan memiliki konsekuensi yang sangat besar,
karena kepentingan pendukung status quo yang tangguh, dan kompleksitas
perubahan substansial. kompleksitas membutuhkan pemimpin yang menerima
kompleksitas, adaptif akan inovasi dan kreativitas yang berkembang dan
kemudian mengintegrasikan praktik terbaik dalam struktur organisasi formal.
Dengan studi ini, kami mengedepankan pembelajaran dan faktor penentu
keberhasilan dalam pembuatan kebijakan terintegrasi, seperti yang diidentifikasi
dari EU FP-7 Project INTEGRATE. (Project Integrate bertujuan untuk
mendapatkan wawasan tentang kepemimpinan, manajemen dan melakukan
perawatan terpadu) untuk mendukung sistem perawatan eropa dalam menanggapi
tantangan pada populasi yang menua dan munculnya orang yang tinggal bersama
kondisi jangka panjang. Proyek ini dilakukan lebih dari satu periode empat tahun
(2012–2016) dan terdiri dari sembilan negara Eropa.

Metode
Pelajaran yang diambil dan faktor - faktor penentu keberhasilan dalam
pembuatan kebijakan pada perawatan terpadu diidentifikasi dari lima sumber yang
berbeda (Tabel 1). Sumber pertama adalah temuan dan rekomendasi dari EU
Project INTEGRATE. Sumber kedua adalah literatur tentang kebijakan perawatan
terpadu untuk orang dengan kondisi kronis. Empat sumber tambahan yang
digunakan ada pada a) kerangka kerja yang berpusat/terintegrasi pada orang
dengan kondisi kronis, b) temuan utama dari penargetan Proyek UE lainnya pada
perawatan terpadu penyakit kronis, c) Praktik terbaik yang terpilih dari berbagai
negara tentang perawatan terpadu dan d) pengalaman kami sendiri dengan
penelitian dan pembuatan kebijakan dalam perawatan terpadu di tingkat nasional
dan internasional.

Hasil
Tujuh pelajaran utama telah diidentifikasi dapat dirangkum sebagai: 1) ini
tentang belas kasih dan kompeten 2) ini tentang yang merusak inovasi, 3) ini
tentang kompetensi, 4) ini adalah tentang gambaran yang lebih luas tentang
kesejahteraan, 5) ini tentang strategi implementasi yang efektif, 6) ini tentang
konteks, 7) ini tentang hasil.
1. Ini adalah tentang belas kasih dan kompeten
Banyak dari strategi perawatan penyakit kronis saat ini terpancar dari
model Perawatan Wagner Chronic (CCM) dan kerangka perawatan inovatif untuk
Kondisi Kronis (ICCC). Interpretasi yang berbeda dari CCM dan ICCC telah
menyebabkan integrasi yang berbeda program perawatan/intervensi dalam
penyakit kronis secara keseluruhan. Meningkatnya kompleksitas dikaitkan dengan
konsep perawatan terpadu dari segi perspektif teoritis operasional dan
implementasi telah menimbulkan kebingungan yang semakin besar atas makna
dan hasilnya. Konstruksi yang dimaksud dalam literatur termasuk perawatan yang
berpusat pada pasien, koordinasi perawatan, kesinambungan perawatan,
manajemen penyakit kronis, pelaksanaan kesehatan terpadu serta lainnya. Temuan
dari Project Integrate menunjukkan keinginan satu suara ketika berbicara tentang
perawatan terpadu.
Kasus yang berbeda dalam konteks pada dasarnya mencerminkan banyak
komponen apa yang dianggap sebagai "perawatan yang belas kasih dan
kompeten". Jenis perawatan yang terakhir pada dasarnya integrasi, berpusat pada
orang-orang dan menghargai pendekatan bio-psiko-sosial untuk menekankan
pentingnya kesetaraan, dan kualitas hidup yang tinggi. Intervensi kesehatan yang
kontinu dan bertujuan pada pengalaman perawatan yang lebih baik dan dengan
penggunaan sumber daya yang lebih efisien.
Apa yang penting untuk belas kasih dan kompeten adalah berfokus pada
aspek-aspek perawatan yang secara langsung dan intrinsik penting bagi orang-
orang, bukan input dan output yang mungkin digunakan untuk memberikan hasil
tersebut. Pertanyaan untuk pasien: yang paling penting kepada anda harus
mendorong bagaimana belas kasih dan kompeten perawatan dioperasionalkan.
Dengan berfokus obyektif dan intrinsik subyektif, berguna sebagai informasi
bagaimana mereka menjalani hidupnya. Ini juga membuat kita tahu distribusi
hasil perawatan kronis di seluruh populasi sebagai yang bisa digunakan sebagai
tolak ukur, termasuk disparitas yang terkait dengan usia, jenis kelamin,
pendidikan dan pendapatan. Gagasan tentang 'kesehatan penduduk' ini penting
untuk perawatan penuh kasih dan kompeten. Ada tiga model bersaing untuk
menghasilkan kesehatan dan meningkatkan kesehatan dalam suatu populasi yaitu,
medis, kesehatan masyarakat dan model kesehatan determinan sosial. Ketiga
model ini harus seimbang.
2. Ini adalah tentang gebrakan inovasi
Project ini menunjukkan bahwa pembuat kebijakan perlu pertimbangkan
“gebrakan inovasi” saat merancang kebijakan untuk target perbaikan dalam
perawatan untuk orang - orang dengan kondisi kronis. Jenis inovasi ini tidak
mengecualikan penggunaan pendekatan bertahap. Ada dua dasar pendekatan
untuk mengembangkan kebijakan kesehatan tersebut. Pertama, berhati-hati dan
cermat (ide kecil dan intervensi kecil atau bahkan ide besar dan intervensi kecil),
lebih cenderung diuji dan diimplementasikan karena institusi dan profesional
tidak akan terancam oleh besarnya perubahan. Tetapi pendekatan ini menjalankan
risiko mendiskreditkan konsep yang sedang diuji karena apa yang sedang
dilaksanakan terlalu terbatas, dibatasi, atau sedikit demi sedikit. Membuat
perubahan marginal beresiko membuang-buang waktu, dan krisis yang dihadapi
sistem perawatan kesehatan Eropa membutuhkan lebih dari perubahan marginal.
Kedua, pendekatan ini bersifat mengganggu dan berani (ide besar dan intervensi
besar). Gebrakan inovasi adalah jenis inovasi yang menciptakan jaringan dan
pemain baru dan cenderung melepaskan struktur dan aktor yang ada, dan seperti
itu contoh pergeseran paradigma yang nyata. Mencapai nilai dan mengendalikan
biaya akan mengalami kesulitan mengenai perawatan yang diberikan dan
bagaimana kita menghargai orang untuk menghasilkan layanan.
Proyek ini telah menunjukkan bahwa pembuat kebijakan perlu memilih
perubahan yang komprehensif, bukan inovasi di margin serta tidak bertentangan
penggunaan pendekatan bertahap. Namun besarnya perubahan yang dibutuhkan
tidak cukup untuk diatasi secara berurutan, juga tidak cukup dengam menerapkan
strategi top-down di organisasi level (misal pendanaan, tata kelola, akuntabilitas).
Area fokus utama untuk inovasi dalam perawatan kesehatan adalah model dan
intervensi baru dalam penyampaian kesehatan yang berbasis masyarakat dan
berpusat pada desentralisasi dari tempat perawatan kesehatan seperti rumah sakit,
hingga model perawatan terpadu (misal tim multidisiplin seluler yang
menyediakan kesehatan mental di rumah). Inovasi lainnya adalah teknologi
terbaru yang memungkinkan diagnosa awal dan dipersonalisasi obat, promosi,
terapi berbasis komunitas dan perawatan dan pemberdayaan pasien/ warga, juga
sebagai teknologi kuratif potensial (misalnya obat regeneratif, imunoerapi untuk
kanker). Contoh terakhir adalah pendekatan yang berorientasi pada orang untuk
pengobatan pasien dengan beberapa penyakit kronis, lemah dan atau hilangnya
fungsi dalam konteks multi-budaya, edukasi tenaga kerja kesehatan dan transfer
keterampilan dan tugas dari yang sangat terlatih, personel biaya tinggi untuk
personel yang memiliki spesialisasi kurang terlatih dan lebih terjangkau (misalnya
dari generalis ke perawat, dan akhirnya untuk pasien sendiri).
Ini penting untuk dicatat bahwa inovasi skala besar mungkin menjadi
menakutkan, dan membutuhkan identifikasi risiko yang jelas dan meyakinkan dan
kontrol. Sebagian orang (termasuk pasien dan pengasuh dengan tanggung jawab
baru) mungkin merasakan kerugian fungsi, kontrol, pendapatan dan status dan
mungkin akan menentang inovasi. Implementasi dari inovasi ini membutuhkan
rencana penciptaan model dan manajemen organisasi baru, kehadiran kerangka
kerja yang menguntungkan kondisi dan pengembangan model komisioning baru
dan pembiayaan (insentif untuk adopsi dan difusi). Adopsi dan difusi setiap
inovasi harus selalu didasarkan pada bukti evaluasi mendalam yang
mempertimbangkan elemen seperti biaya dan manfaat potensial, manfaat
transformasi, reversibilitas pilihan, jenis hambatan yang harus diatasi, dan aspek
ketidakpastian.
3. Ini tentang kompetensi
Proyek ini telah menunjukkan perkembangan yang sukses dalam
perawatan terpadu dengan adanya kompetensi baru. Proses pencocokan
kompetensi tenaga kerja kesehatan untuk kebutuhan pasien melibatkan lebih dari
sekedar mengamankan kesehatan tenaga kerja yang memiliki pengetahuan dan
keterampilan teoretis intuk bekerja lebih efisien dan efektif. Kompetensi
kelompok untuk layanan kesehatan terpadu termasuk pemerintahan, advokasi
pasien, komunikasi yang efektif, kerja tim, perawatan yang berpusat pada orang,
jaminan kualitas dan kesediaan untuk terus belajar. Kebutuhan untuk
mempersiapkan tenaga kesehatan untuk perubahan paradigma ini sangat
mendesak. Terutama para profesional kesehatan dari masa depan perlu bermitra
dengan pasien dalam memfasilitasi kepedulian dan menjaga kesehatan. Ketika
para profesional kesehatan bermitra dengan pasien dan keluarga, pasien membuat
lebih banyak pilihan tentang perawatan mereka, penggunaan obat lebih banyak
dengan aman, berlatih manajemen diri yang lebih efektif, berkontribusi untuk
inisiatif pengendalian infeksi, dan membantu mengurangi kesalahan medis yang
menjadi peningkatan terukur dalam kualitas dan keamanan perawatan. Pasien dan
keluarganya juga diharapkan untuk menguasai kompetensi untuk perawatan
terpadu. Khususnya, kompetensi pasien termasuk membuat keputusan,
memainkan peran aktif dalam menentukan rencana perawatan mereka, sesuai
dengan yang disepakati dan secara keseluruhan mengambil tanggung jawab untuk
kesehatan dan kesejahteraan untuk mereka sendiri. Perawatan diri didefinisikan
sebagai: “Apa yang terjadi jika individu, keluarga, dan masyarakat
mempromosikan, memelihara, atau memulihkan kesehatan dan untuk mengatasi
penyakit dan kecacatan dengan atau tanpa dukungan profesional kesehatan seperti
apoteker, dokter, dokter gigi dan perawat. Ini termasuk tetapi tidak terbatas pada
pencegahan diri, diagnosis diri, pengobatan sendiri dan manajemen diri penyakit
dan kecacatan”. Ini mengasumsikan kompetensi mental, keaksaraan dan faktor –
faktor pendukung pengambilan keputusan masih sangat kurang dibahas di Eropa.
Juga, kepemimpinan kompetensi diperlukan untuk mewujudkan hal paling
mendasar untuk perubahan yang kita butuhkan. Kepemimpinan memiliki banyak
bentuk dan variasi sesuai tugas dan konteks. Kepemimpinan didefinisikan sebagai
'persepsi atau penerimaan oleh anggota kelompok kemampuan atasan mereka
untuk menginspirasi, mempengaruhi dan memotivasi mereka untuk mencapai
tujuan dan berkontribusi untuk pencapaian tujuan bersama.
Hierarki Tradisional Kepemimpinan 'terkonsentrasi' dikaitkan dengan
posisi tertentu, sementara kepemimpinan terdistribusi melibatkan mereka dengan
keterampilan dan kemampuan khusus berbagai tingkatan. Para pemangku
kepentingan melihat bentuk kepemimpinan yang paling efektif untuk perawatan
terpadu dengan memadukan kepemimpinan terdistribusi dan terkonsentrasi.
Komponen kepemimpinan yang efektif adalah membangun hubungan
transformasional, mendefinisikan secara kolaboratif nilai berorientasi, mendukung
pengembangan bersama makna tentang perubahan, menanamkan budaya kolektif
penyelidikan dan akuntabilitas bersama, manajemen model peran praktik,
komunikasi yang efektif dan fleksibilitas,keterlibatan dengan pasien dan keluarga,
koordinasi dukungan perawatan, dan pengembangan staf.
4. Ini adalah tentang gambaran yang lebih luas tentang kesejahteraan
Proyek ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan perawatan bagi orang
- orang dengan kondisi kronis penting untuk memperhitungkan faktor penentu
yang lebih luas dan dengan 'gambaran besar' dari kesejahteraan. Sementara
layanan kesehatan sendiri penting untuk kesehatan, mereka bukan hanya layanan
yang relevan penting untuk kesehatan yang baik nutrisi, kebersihan rumah tangga
dan pribadi, akses ke teknis bantuan, perumahan yang aman, dan sosialisasi.
Berkelanjutan dan peningkatan keadilan dalam kesehatan dan kesejahteraan
orang dengan kondisi kronis akibatnya adalah produk kebijakan yang efektif di
semua bagian pemerintahan dan upaya kolaboratif di semua bagian masyarakat.
Sementara tidak ada resep tunggal untuk kesejahteraan, ada peningkatan
konsensus di sekitar daftar bahan-bahan bermanfaat yang umum. Kerangka
OECD untuk mengukur kesejahteraan individu termasuk sebelas dimensi berbeda
yang penting untuk kesejahteraan saat ini dikelompokkan di bawah dua bagian
besar yaitu: kondisi material (pendapatan dan kekayaan, pekerjaan dan
penghasilan, perumahan), dan kualitas hidup (status kesehatan, keseimbangan
kehidupan kerja, pendidikan dan keterampilan, koneksi sosial, keterlibatan dan
pemerintahan sipil, kualitas lingkungan, keamanan pribadi dan kesejahteraan
subjektif). Kesejahteraan demikian dialami pada tingkat individu yang subyektif
dan itu juga dapat dijelaskan secara obyektif melalui beberapa indikator di tingkat
populasi. Terlibat dengan penuh kompleksitas kesejahteraan subjektif menuntut
multidisipliner, pendekatan kesehatan terpadu, yaitu. eko-bio-psikososial
pendekatan perawatan.
5. Ini tentang strategi implementasi yang efektif
Proyek ini telah menunjukkan bahwa ide - ide yang tampaknya bagus
dalam mempromosikan perawatan terintegrasi tidak selalu menghasilkan
perubahan dalam prakteknya. Penggunaan strategi top-down terpusat termasuk
misalnya pengaturan kontrak dan peraturan. Kerangka kerja seringkali gagal
untuk menunjukkan hasil yang lebih baik. Struktur yang terintegrasi saja tidak
cukup untuk menjamin penyampaian layanan terpadu, begitu pula bentuknya
integrasi tentu mempengaruhi keefektifan layanan. Struktur terintegrasi tanpa
strategi implementasi tidak akan terjadi peningkatan kinerja. Alasan ini penting
untuk memahami cara kerja baru yang diperkenalkan, berkelanjutan dan menjadi
mapan di hari-hari ini berlatih. Sangat penting jika keuntungan dalam perawatan
pasien yang berasal dari inovasi harus dipertahankan. Strategi implementasi dalam
hal ini pikiran bertindak sebagai penghalang atau fasilitator yang terintegrasi
program perawatan. Contoh strategi implementasi berbasis bukti adalah: misi dan
visi bersama (dibagi ambisi), nilai-nilai bersama, rasa urgensi, instrumental dan
kemitraan transformatif, pemahaman tentang peran dan tanggung jawab yang
berbeda dalam tim, pelatihan untuk mencerminkan perubahan peran dan tanggung
jawab, komunikasi, sikap, budaya organisasi, system IT, - siklus tindakan pada
tingkat yang berbeda, pengaturan pendanaan, pengaturan tata kelola di antara para
mitra, belajar organisasi, pelatihan dan pengembangan karier, manajemen,
penggunaan norma - norma kualitas berdasarkan realisasi keberhasilan, perjanjian
kinerja dengan banyak pemangku kepentingan, dukungan organisasi, pemantauan,
dan laporan pertanggungjawaban kuartal. Strategi Integrasi yang efektif sering
dikaitkan dengan hubungan sosial di mana orang secara interaktif menetapkan,
menginterpretasi ulang dan bernegosiasi ulang identitas, nilai, dan metode kerja
mereka.
6. Ini tentang konteks
Proyek initelah menunjukkan kebijakan kesehatan yang layak harus
kompatibel dengan sistem nilai negara karena berlaku di lokal, regional dan
tingkat nasional. Dalam konteks ini, diskusi tentang peran masing-masing
pembuat kebijakan nasional dan unit lokal pemerintah sangat penting. Di dalam
negara ada perbedaan sosioekonomi, budaya, geografis, politik dan realitas sistem
kesehatan yang memberikan informasi cara perawatan terintegrasi diadopsi.
Integrasi perawatan dalam pengertian ini kompleks, interdisipliner, proses
perubahan nonlinier dan dinamis. integrasi program perawatan dikembangkan
dalam konteks yang sangat berbeda dengan karakteristik dan dinamika yang unik
dan terutama konteks lokal yang paling penting. Gagasan 'sistem adaptif
kompleks' berlaku karena sistem seperti itu memiliki kecenderungan untuk
belajar, beradaptasi dan mengatur diri sendiri sebagai tanggapan terhadap umpan
balik yang berkelanjutan dari mengubah pola hubungan dan interaksi di antara
semua pemangku kepentingan dan lingkungan di mana mereka beroperasi.
7. Ini tentang hasil
Proyek ini telah menunjukkan bahwa banyak negara-negara berjuang
dengan apa yang harus diukur terkait dengan pelaksanaan perawatan yang
berpusat pada pasien dan terintegrasi. Negara-negara telah mengembangkan
serangkaian jasa indikator kualitas yang menyertai pengenalan kesehatan
terintegrasi. Contoh yang terkenal berasal dari Inggris di mana berbagai indikator
umum untuk mengukur kualitas perawatan terpadu telah dikembangkan (yaitu 35
indikator di enam domain utama). Terutama 'Triple Indikator Aim memainkan
peran penting dalam perumusan kebijakan dan perbandingan efektivitas pasien
yang berpusat pada pasien dan intervensi perawatan terpadu. Proyek ini
menunjukkan bahwa meskipun mengukur dampak/hasil intervensi perawatan
terpadu adalah koleksi bukti yang penting dan sistematis saat ini tidak di tempat di
bidang ini. Sebaliknya, pengukuran perawatan terpadu sebagian besar berfokus
pada aspek pengukuran perawatan terpadu individ. Aspirasi tindakan saat ini lebih
banyak dari tolak ukur integral masyarakat. Ada instrumen yang komprehensif
untuk mengukur perawatan integrasiyang mencerminkan sifat komprehensif dari
konsep perawatan terpadu pada struktur, proses dan tingkat hasil perawatan.
Faktor-faktor kunci keberhasilan
Tujuh faktor kunci keberhasilan dalam pembuatan kebijakan terintegrasi
perawatan diidentifikasi, yaitu:
1.kepemimpinan politik,
2.penggunaan kerangka pemersatu,
3.pendekatan bertahap,
4.strategi yang jelas,
5.kebutuhan untuk membangun antar sektoral,
6.kemitraan aksi, instrumental dan transformatif dan
7.pengembangan narasi berbasis bukti pelayanan terpadu.
1. Politik dan kepemimpinan
Menteri kesehatan, pelayan kesehatan regional dan local dan para
profesional kesehatan memiliki peran sebagai advokasi untuk pasien, kepentingan
fasilitas kesehatan dan sebagai lembaga yang bertanggung jawab untuk
memastikan tujuan sistem kesehatan pemerintah terpenuhi. Kepemimpinan politik
dicirikan oleh beberapa fitur dan penatagunaan dimaksudkan sebagai kapasitas
kementerian kesehatan untuk memulai dan memimpin yang diperlukan untuk
intervensi dan mengatasi "sistem inersia". Banyak kebijakan di berbagai negara
juga menekankan pentingnya kepemimpinan dalam reformasi perawatan kronis.
Kepemimpinan dapat memainkan peran dalam merangsang kualitas peningkatan
dan inovasi baru dalam desain layanan, dengan konsekuensi positif untuk
keselamatan dan kepuasan pasien. Masalah sistem seharusnya tidak hanya
ditangani oleh politisi, yang hampir tidak berdaya untuk membuat perubahan yang
berarti dalam perawatan kesehatan sampai dokter yang memperbaikinya.
Dokter harus memiliki suara dalam memutuskan bagaimana biaya
dikaitkan dengan terintegrasi perawatan kronis yang lebih tepat mencerminkan
nilai dan kebutuhan masyarakat. Perencanaan untuk itu harus dimulai sekarang,
tetapi tidak dapat dipimpin oleh satu keahlian khusus organisasi, alat penting
untuk menciptakan kemitraan transformatif adalah jaringan penelitian kesehatan
masyarakat, pusat penelitian penyakit kronis, badan kesehatan dan lainnya.
2. Menggunakan kerangka pemersatu
Sangat penting bagi pembuat kebijakan untuk menggunakan kerangka
pemersatu untuk perawatan terpadu untuk memastikan tindakan di semua
tingkatan dan semua sektor saling mendukung. Beberapa model organisasi untuk
perawatan terpadu telah diusulkan dan dilaksanakan secara internasional.
Mungkin yang paling dikenal dan paling berpengaruh adalah Chronic Care Model
yang telah diadopsi atau diadaptasi oleh banyak negara – Negara lain.
3. Menggunakan pendekatan bertahap
Meskipun kebijakan kesehatan sangat bervariasi biayanya, pastinya akan
lebih mudah bagi negara kaya daripada yang miskin untuk memperkenalkan
banyak kebijakan, terutama yang didasarkan pada ketentuan layanan Tetapi
beberapa variasi mencerminkan perbedaan dalam sumber daya yang tersedia,
sementara yang lain mencerminkan perbedaan kesediaan untuk mengambil
tindakan, seperti yang digambarkan oleh fakta negara tetangga dalam kondisi
ekonomi serupa kadang - kadang memiliki hasil yang sangat berbeda. Pengalaman
Orang Eropa menunjukkan bahwa secara umum kebijakan perawatan kronis
cenderung mengikuti pendapatan nasional, tetapi dalam beberapa kasus,
pemerintah tampaknya berada di depan, melakukan lebih dari yang mungkin
diharapkan, sementara yang la tertinggal di belakang melakukan lebih sedikit.
Secara keseluruhan, tampaknya penting untuk menggunakan langkah demi
langkah pendekatan, khususnya di negara-negara yang tidak memiliki cukup
sumber daya untuk melakukan semua tindakan yang disarankan.
4. Gunakan strategi penskalaan yang jelas
Ada berbagai cara berpikir tentang peningkatan model dan perawatan
skala terintegrasi. Satu pendekatan dengan memperbesar model untuk mencakup
tangkapan yang lebih luas pada daerah atau populasi. Namun, ini artinya
meningkatkan jumlah mitra untuk memastikan kecukupan pelayanan untuk
populasi yang lebih besar, cara berpikir lain tentang peningkatan skala adalah
menyalin model yang sukses dan mengimplementasikan di tempat lain dengan
mempertahankan identitas lokal. Sementara ini tampaknya layak di beberapa
pengaturan, menimbulkan pertanyaan dari implementabilitas dalam dengan sosio-
ekonomi dan demografi yang berbeda.
5. Menetapkan tindakan antar sektor (HiAP)
Penting bagi pembuat kebijakan untuk mengembangkan kebijakan dan
kemitraan multi-sektoral untuk pengembangan pencegahan dan pengendalian
penyakit kronis. Health in All Policies (HiAP) berjanji untuk meningkatkan
kesehatan penduduk dengan memanfaatkan energi dan kegiatan dari berbagai
sektor. Area non-kesehatan umum kebijakan seperti kebijakan fiskal, perlindungan
sosial, pendidikan, transportasi dan pembangunan regional (antara lain) dapat
memiliki efek penting pada akses ke layanan kesehatan, dan sangat penting untuk
setiap strategi efektif dalam menanggapi penyakit tidak menular.
6. Buat instrumental dan kemitraan transformatif
Penting bagi pembuat kebijakan untuk menciptakan instrumental dan
kemitraan transformatif dengan pasien dan keluarga pasien, masyarakat sipil,
pengasuh profesional, sektor swasta, universitas dan organisasi internasional.
Terutama pentingnya keterlibatan pasien dan Organisasi Masyarakat Sipil dalam
pembuatan kebijakan tentang perawatan terpadu. Ini akan memungkinkan untuk
memunculkan pandangan pasien, tidak hanya pada 'apa yang berhasil' untuk
pasien tetapi juga pada keinginan akan intervensi dan faktor-faktor yang
mempengaruhi pelaksanaan teknologi kesehatan tertentu, yang sesuai dan mereka
terima. Pembuat kebijakan sering gagal melibatkan orang-orang yang
menggunakan layanan kesehatan layanan: pasien, keluarga mereka dan anggota
masyarakat. Strategi dan program kesehatan Eropa terbaru menyatakan
keterlibatan pengguna layanan menjadi penting dalam pengembangan dan
evaluasi kebijakan dan layanan. Disepakati bahwa umpan balik dari pasien dan
keluarga mereka harus lebih teliti dan digunakan untuk menginformasikan latihan,
bukan hanya dikumpulkan untuk penelitian.
7. Kembangkan model berbasis bukti
Penting bagi pembuat kebijakan untuk memperkuat kapasitas negara untuk
pengawasan dan penelitian pada penyakit kronis, faktor risiko, faktor penentu dan
memanfaatkan hasil penelitian ini untuk mendukung pengembangan program
kebijakan berbasis bukti. Pemerintah harus ambisius dalam mengukur kemajuan
perawatan terpadu dalam mengatasi manajemen dan pencegahan penyakit kronis.
Sebagian besar kerangka kebijakan internasional dengan indikator langsung dan
tidak langsung memungkinkan mengukur kemajuan terhadap target yang
ditentukan sebelumnya untuk penyakit kronis dan at u perawatan terpadu. Dalam
konteks, penting untuk dicatat bahwa penelitian perawatan terpadu masa depan
untuk penyakit kronis akan semakin bergantung pada komunikasi elektronik yang
lebih baik untuk mengkoordinasikan perawatan (berdasarkan klien yang dibagikan
dan pandangan profesional). Integrasi data besar akan menjadi semakin penting,
yang berkisar dari catatan kesehatan elektronik, lebih dari populasi dan pasien
kohort dan pendaftar dan data tentang gaya hidup, sosial ekonomi status, dan
sebagainya. Penggunaan ‘big data’ yang efisien membutuhkan interoperabilitas
dan stardardisation dari dataset yang berbeda, dan mensyaratkan penerimaan
publik berdasarkan jaminan dari perlindungan privasi individu. Dalam hal ini,
kemitraan antara institusi pendidikan tinggi dan layanan kesehatan lokal
diperlukan untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan untuk menghasilkan
dan melaksanakan penelitian melalui interaksi berkelanjutan antara akademisi dan
layanan kesehatan.

Kesimpulan
Berdasarkan temuan dari Project Integrate dan sumber lain, kami
berpendapat bahwa sistem yang komprehensif perspektif harus memandu
pengembangan pelayanan terpadu terhadap praktik kesehatan yang lebih baik,
pendidikan, penelitian dan kebijakan. Ketujuh pelajaran dipelajari dan faktor-
faktor keberhasilan dipertimbangkan untuk pengembangan sistem komprehensif
perspektif dan implementasi yang efektif dalam konteks Uni Eropa dan
seterusnya.
Kami mempertimbangkan temuan kami sama pentingnya untuk sistem
perawatan kesehatan model Bismarck atau Beveridge yang berlaku atau model
asuransi kesehatan nasional.