Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.
Perkembangan dunia olahraga dewasa ini semakin berkembang dan maju.
Indonesia merupakan Negara berkembang yang selalu dipertimbangkan dalam percaturan
dunia olahraga. Ada cabang-cabang olahraga yang dapat mengharumkan nama bangsa ini,
dalam upaya meningkatkan dan mempertahankan prestasi olahraga tersebut di Negara ini,
maka upaya tersebut tidak terlepas dari sumber daya manusia yang menjadikan objek
tersebut berkembang. Objek yang dimaksud adalah atlet dan pelatih.
Pelatih merupakan ujung tombak dalam upaya menunjang keberhasilan prestasi
olahragawan. Agar atlet mencapai prestasi dengan baik, maka pelatih harus menguasai
teori dan metodologi latihan atau prinsip-prinsip melatih, bekal dasar ilmu melatih
tersebut merupakan landasan yang berpedoman pada pembinaan dan peningkatan kondisi
fisik, beban latihan, meningkatkan keterampilan, teknik, taktik dan strategi.
Ledakan pengetahuan dalam ilmu Kepelatihan telah mencapai yang mengagumkan.
Di banyak Pendidikan dasar Universitas mendukung penelitian yang ditujukan
untuk meneliti gerakan manusia. Banyak majalah penelitian baru yang diterbitkan untuk
menampung jumlah penelitian yang makin banyak yang dihasilkan oleh berbagai ilmu
olahraga. Hal yang nampak di tahun akhir-akhir ini, praktik para pelatih telah
menampakkan keadaan pengetahuan ilmu kepelatihan. Pada waktu terdahulu untuk
menjadi calon pelatih hanyalah hasrat untuk bekerja dengan olahragawan dan
pengetahuan dasar olahraga tertentu. Sekarang pelatih yang berhasil harus memahami
prinsip-prinsip ilmu yang bias menerapkan dan menunjukkan penampilan olahragawan.
Pada tahun terakhir metode telah di tetapkan pada penelitian olahraga secara meyakinkan.
Ribuan ilmuwan yang bekerja di bidang ini dan di Laboratorium di seluruh dunia telah
mengadakan penelitian dengan maksud untuk memperjelas pengetahuan kita tentang
olahragawan dan factor-faktor yang menentukan tingkat penampilan mereka.
Kebanyakan pelatih yang mapan berpendapat bahwa pelatih yang berhasil itu adalah
sebagian seni dan sebagaian lainnya ilmu. Hal ini mengandung pengertian bahwa
pelatihan menuntut kreativitas dan interpretasi mengenai cabang perorangan maupun
situasinya.

1
Kegiatan-kegiatan dalam dasar ilmu kepelatihan merupakan suatu aspek kegiatan
dasar manusia bergerak sebagai objek formalnya. Oleh karena untuk mempelajarinya
diperlukan ilmu-ilmu penunjang yang ada hubungannya dengan kegiatan kepelatihan
seperti : ilmu faal (fisiologi), ilmu urai (anatomi), ilmu jiwa (psikologi), ilmu gizi, ilmu
pendidikan, sejarah biomekanik, ilmu social, statistic, cidera olahraga, tes dan
pengukuran olahraga, belajar motorik. Dengan mempelajari ilmu-ilmu penunjang
tersebut agar lebih mudah bagi seorang pelatih membahas dan memecahkan
permasalahan menyangkut kepelatihan. Permasalahan yang timbul dalam dunia
kepelatihan kompleksitasnya sangat tinggi, sebagai contoh apabila sang atlet mempunyai
kondisi fisiknya lemah antisipasi seorang pelatih harus meningkatkan kondisi fisik
tersebut, dilain sisi akan tertundanya proses latihan teknik, mental dan keterampilan, hal
semacam ini dilakukan bersama-sama atau bagian demi bagian dalam proses, disinilah
bahwa pelatih juga dapat dikatakan sebagai seniman, yaitu antara memadukan seni latihan
fisik dan seni latihan keterampilan. Dan pada akhir semua komponen latihan ini menjadi
satu kesatuan pola cara melatih keseluruhan dan menghasilkan prestasi yang optimal.

B. Rumusan Masalah
1. Arti Kepelatihan ?
2. Arti dan Definisi Kepelatihan
3. Ruang Lingkup Kepelatihan Dasar ?
4. Tugas Pokok Seorang Pelatih/ coach ?
5. Fungsi dan Peran Pelatih ?
6. Kepribadian Seorang Pelatih ?
7. Kepemimpinan seorang pelatih ?
8. Prinsip-Prinsip Kepelatihan

C. Tujuan Makalah
1. Memberikan informasi tentang hal-hal yang mencakup pada kepelatihan.

D. Metode Pengumpulan Data


1. Referensi Internet

2
BAB II
PEMBAHASAN

1. Arti Kepelatihan.
Kepelatihan di indonesia adalah sebuah bentuk kepemimpinan seseorang di dalam
hati dan bertugas membimbing sebagian dari sebuah suatu kelompok tertentu dimana
seorang pemimpin ini menjadi tegas dan bijaksana jika menjalankan tugas-tugasnya yang
telah di kerjakannya dengan cara mengontrol sifat dari dalam hati dan menumbuhkan rasa
yang menjadikan suatu kelompok tadi menjadi disiplin yang tinggi.Berbekal dari kondisi
ideal dan tuntutan kualitas maka pelatih harus memiliki filosofi kepelatihan yang berisi
aspek-aspek kepribadian yang mendasari semua tindakan dalam melakukan tugasnya
sebagai seorang pelatih.Agar menjadi seorang pelatih yang dihargai oleh orang lain
(respecting coach) atau pelatih yang disegani maka seseorang harus memiliki 3 aspek
penting yaitu:
1. Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan yang harus dimiliki oleh seorang pelatih terutama pengetahuan
tentang cabang olahraga yang digeluti Selain harus mengetahui ilmu mengenai
kecabangan olahraganya, mereka juga harus mendalami ilmu penunjang seperti ilmu
Periodisasi latihan, Biomekanika, Faal olahraga, Gizi, Psikologi olahraga.
Mendalami karakter cabang olahraga adalah mutlak, sehingga tidak akan salah dalam
membina karakter atlit yang tentunya akan disesuaikan dengan kebutuhan
kecabangannya .
2. Pengalaman (experience)
Dengan mengalami salah benar akhirnya mereka akan menemukan “Filosophy
Kepelatihannya “ sendiri. Menerapkan strategi hasil pengayaan dari beberapa buku dan
pendapat para pakar, secara otomatis akan mendapatkan atau menemukan strategi
andalannya dalam melatih Kemampuan menanggulangi berbagai masalah baik teknis
maupun non- teknis juga merupakan keunikan tersendiri. Dari hasil pengalaman
memimpin team di berbagai event yang diikutinya akan didapatkan nilai “ Art of
Coaching “ yang akan selalu menjadi cirikhasnya dalam melatih dan memimpin tim.

3
3. Karakter(caracter)
Dengan menyadari sepenuhnya bahwa didalam dunia kepelatihan unsur-unsur
yang mengandung nilai positif harus selalu diketengahkan, maka otomatis akan
membentuk kepribadian yang kuat dalam membina atlitnya .
Mengerti akan sifat dan karakter anak didiknya, tentunya akan membantu banyak
dalam tugas kesehariannya menghadapi atlitnya baik selama masa latihan maupun
pertandingan . Hubungan yang kondusif ini dimana dia mampu bertindak sebagai
orang tua atlet maupun pelayan akan membuat nilai kepribadiannya sebagai pelatih
akan semakin tinggi. Adapun Hal penting yang harus diketahui dalam kepelatihan
yaitu :
a. Pengembangan Filosofi
Dalam membentuk filosofi dalam bentuk karakter yang kuat pada diri seorang
pelatih menggunakan berbagai cara, dan berlangsung terus menerus selama bertahun-
tahun, dimulai dengan pengalaman pribadi saat menjadi atlet, mengamati berbagai
macam pertandingan, dan akan berlanjut disaat mempelajari lebih dalam tentang
sebuah permainan dan penerapannya kepada atlit.
b. Kesadaran diri (self-Awarenes)
Seringkali kegagalan dalam melatih dan karier terjadi, karena kita gagal
mengenali siapa diri kita sebagai pelatih yang sesungguhnya. Tidak jarang kita
mengalami konflik emosional dan pertentangan batin karena apa yang dilakoni dan
dikerjakan justru tidak sesuai dengan minat dan ke mampuan yang dimiliki. Dalam
menjalankan profesinya seorang pelatih perlu memiliki self esteem atau harga diri
yang tinggi. Self esteem atau harga diri yang tinggi penting dimiliki karena taraf harga
diri akan mempengaruhi perilaku kerja individu. self-esteem akan nampak pada diri
pelatih ditandai dengan:
1. Potensi kekuatan yang dimiliki
2. Kemampuan berkomunkasi
3. Penampilan
c. Keterbukaan (Self –Disclosure)
Dalam menjalin komunikasi baik dengan atlet maupun dengan orang lain,
pelatih pada dasarnya melakukan pengungkapan diri sendiri. Namun, pengungkapan
diri tersebut mungkin saja baru sampai pada sisi-sisi terluar dari kemampuan
dirinya.Ketika situasi komunikasi antar pribadi terbentuk dan pelaku komunikasi
berkeinginan mempengaruhi jalannya komunikasi maka self-disclosure berlangsung.

4
2. Arti dan Definisi Kepelatihan.
Pelatihan adalah proses pendidikan jangka pendek yang menggunakan prosedur
yang sistematis dan terorganisir. Selanjutnya, Udai menyatakan:
“Training and development is defined as the human recourse practice which focuced is
identifying, assessing and through planned learning helping development the key
competences which enable people to perform current or future job”, these activities
which are designed to improve human performance on the job employee is presently
doing or is being hired to do”. (Pelatihan dan pengembangan didefinisikan sebagai
praktek jalan manusia yang fokus adalah mengidentifikasi, menilai dan melalui
pembelajaran yang direncanakan membantu pengembangan kompetensi kunci yang
memungkinkan orang untuk melakukan pekerjaan saat ini atau masa depan", kegiatan
yang dirancang untuk meningkatkan kinerja manusia pada kerja karyawan adalah saat
melakukan atau sedang disewa untuk melakukan)".
Definisi tersebut menggambarkan bahwa pelatihan merupakan kegiatan yang
dirancang untuk mengembangkan sumber daya manusia melalui rangkaian kegiatan
identifikasi, pengkajian serta proses belajar yang terencana. Hal ini dilakukan melalui
upaya untuk membantu mengembangkan kemampuan yang diperlukan agar dapat
melaksanakan tugas, baik sekarang maupun di masa yang akan datang. Ini berati bahwa
pelatihan dapat dijadikan sebagai sarana yang berfungsi untuk memperbaiki masalah
kinerja organisasi, seperti efektivitas, efesiensi dan produktivitas.
Pelatihan juga merupakan upaya pembelajaran yang diselenggarakan oleh organisasi baik
pemerintah, maupun lembaga swadaya masyarakat ataupun perusahaan dengan tujuan
untuk memenuhi kebutuhan organisasi dan mencapai tujuan organisasi.
Pengertian ini didasarkan pada definisi yang dikemukakan oleh Sudjana bahwa:
“Training is a process used by organization to meet their goals. It is called into operation
when a discrepancy is perceived between the current situation and a preferred state of
affairs”. Pelatihan adalah upaya pembelajaran yang diselenggarakan oleh organisasi
(instansi pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, perusahaan) untuk memenuhi
kebutuhan atau untuk mencapai tujuan organisasi sehingga pelatihan dapat diartikan
sebagai kegiatan edukatif untuk membawa keadaan perilaku peserta pelatihan saat ini
kepada perilaku yang lebih baik sebagaimana yang diinginkan oleh organisasi Pelatihan
sebagai bagian dari pendidikan yang mengandung proses belajar untuk memperoleh dan
meningkatkan keterampilan, waktu yang relatif singkat dan metode yang lebih
mengutamakan praktek dari pada teori Beberapa pengertian tersebut di atas

5
menggambarkan bahwa pelatihan merupakan proses membantu peserta pelatihan untuk
memperoleh keterampilan agar dapat mencapai efektivitas dalam melaksanakan tugas
tertentu melalui pengembangan proses berpikir, sikap, pengetahuan, kecakapan dan
kemampuan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan beberapa
pengertian yang terkait dengan pelatihan, yaitu:
a. Adanya proses pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan peserta
pelatihan.
b. Adanya proses pendidikan yang dilakukan secara teratur, sistematis dan terencana.
c. Orientasi belajar lebih menekankan pada hal-hal yang praktis, fungsional, aplikatif
sesuai dengan kebutuhan peserta pelatihan.
d. Menggunakan waktu yang relatif singkat.
e. Memiliki tujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian
peserta pelatihan.
f. Ditekankan kepada perbaikan kinerja peserta pelatihan dalam laksanakan tugas.

3. Ruang Lingkup Kepelatihan Dasar.


a. Tujuan Dan Ruang Lingkup Pelatihan
Tujuan utama latihan adalah untuk mengembangkan keterampilan dan
performa atlet. Tujuan latihan atau training adalah untuk membantu atlet
meningkatkan keterampilan dan prestasinya semaksimal mungkin. Tujuan umum
latihan disamping memperhatikan faktor keselamatan dan kesehatan, mencakup
pengembangan dan penyempurnaan:
1) fisik secara khusus sesuai dengan cabang olahraga.
Program latihan kondisi fisik perlu direncanakan secara sistematis.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesegaran jasmani dan kemampuan
ergosistem tubuh. Proses latihan kondisi fisik yang dilakukan secara cermat,
berulang-ulang dengan kian hari meningkat beban latihannya, akan meningkatkan
kebugaran jasmani. Hal ini akan menyebabkan seseorang kian terampil, kuat dan
efisien dalam gerakannya.
2) teknik cabang olahraga.
Teknik olahraga itu tergantung dengan olahraga yang bersangkutan, tidak
mungkin teknik olahraga renang disamakan dengan teknik bermain voly, oleh
karena itu teknik olahraga itu tergantung dengan cabang olahraga itu masing-

6
masing. Setiap cabang olahraga mempunyai perlakuan yang berbeda. Dan setiap
teknik olahraga mempunyai tujuan yang berbeda.
Teknik olahraga telah disadari oleh banyak orang di kalangan olahragawan
maupun patih dan juga pengamat olahrga, olahraga dapat menunjang pelaksanaan
olahraga lebih baik lagi, namun dalam pelaksanaan teknik olahraga belum efektif
seperti yang dihaarapkan dikarenakan didalam pelaksanaan teknik olahraga
adanya faktor-faaktor penentu keberhasilan belajar dan berlatih teknik dan
koordinasi yang belum dipahami oleh kalangan olahragawan.
3) taktik/strategi yang dibutuhkan.
Taktik adalah suatu siasat atau akal yang dirancang dan akan dilaksanakan
dalam permainan oleh perorangan, kelompok, maupun tim untuk memenangkan
suatu pertandingan secara sportif. Pada hakikatnya, penggunaan taktik dalam
sepakbola adalah suatu usaha mengembangkan kemampuan berpikir, kreativitas,
serta improvisasi untuk menentukan altenatif terbaik memecahkan masalah yang
di hadapi dalam suatu pertandingan secara efektif, efesien, dan produktif dalam
rangka memperoleh hasil yang maksimal yaitu sebuah kemenangan dalam
pertandingan.
Strategi adalah suatu siasat atau akal yang dirancang sebelum pertandingan
berlangsung dan digunakan oleh pemain maupun pelatih untuk memenangkan
pertandingan yang dilaksanakan secara sportif dan sehat. Strategi mengacu pada
gerakan-gerakan yang dibutuhkan dalam pertandingan. Kedudukan strategi dalam
olahraga memiliki makna sebagai pendukung aspek taktik olahraga. Dengan
demikian, antara taktik dan strategi memiliki perbedaan, akan tetapi dalam
pelaksanaannya keduanya saling berkaitan serta mendukung untukmencapai
tujuan yang sama, yaitu memenangkan pertandingan.

4. Tugas Pokok Seorang Pelatih/Coach.


Tugas pokok seorang pelatih tidak hanya untuk membantu sang atlet untuk meraih
prestasi, tetapi pelatih juga harus mampu menanamkan nilai-nilai luhur yang terkandung
didalam olahraga tersebut. Yang berarti bukan hanya menanamkan tentang juara/prestasi,
tetapi juga tentang perilaku sosial seorang atlet juga harus mendapat perhatian, karena
atlet secara tidak langsung akan menjadi model bagi masyarakat. Dalam berbagai cabang
olahraga yang dipertangingkan, selalu ada seorang yang sibuk diluar lapangan atau

7
bangku cadangan yang menentukan strategi, mengatur teknik, meminta pergantian
pemain atau time out, itulah yang disebut sebagai seorang pelatih (coach).
Sebenarnya seorang pelatih memang betul-betul manager atau pemimpin
dilapangan. Seorang pelatih biasanya memiliki beberapa pembantu (asisten)., seperti
teknik atau pelatih fisik. Itulah sebabnya seorang pelatih sering disebut sebagai pelatih
kepala (head coach) yang dibantu oleh beberapa asisten yang sering disebut sebagai
trainer. Seorang pelatih sangat diharapkan dapat berperan dalam berbagai disiplin seperti
petugas pembimbingan dan penyuluhan, pemimpin, guru, ahli strategi dan sebagainya.
Bahkan seorang pelatih diharapkan dapat berperan sebagai bapak atau teman akrab
sebagai tempat untuk mencurahkan isi hati, atau pelindung dari atlitnya. Apabila seorang
pelatih tidak memiliki asisten, maka semua tugas yang seharusnya dikerjakan oleh asisten
harus dikerjakan sendiri. Sedangkan seorang pelatih dengan beberapa asisten, dengan
atlit, maupun dengan lingkungannya. Tugas-tugas pokok yang harus dilakukan seorang
pelatih adalah:
a. Mengadakan pemanduan (talent scouting)
b. Menyusun Program latihan
c. Menyusun strategi dan taktik
d. Mengadakan evaluasi
e. Selalu berusaha meningkatkan pengetahuan.

5. Fungsi dan Peran Seorang Pelatih.


a. Fungsi Pelatih Secara Umum.
1) Sebagai seorang perencana (planner)
Mengarahkan atlit dalam program jangka pendek dan jangka panjang.
Sebagai pelatih merencanakan suatu program latihan adalah mutlak,
merencanakan suatu latihan bermuara pada tujuan, tujuan yang ingin dicapai bagi
seorang pelatih adalah meningkatkan prestasi atletnya. Dalam perencanaan latihan
olahraga ada sasaran-sasaran program yang ingin dicapai yaitu program jangka
pendek dan jangka panjang.
2) Sebagai pemimpin (leader)
Memimpin dan melaksanakan program latihan dan mengadakan diskusi
dengan atlit. Dalam situasi latihan sosok seorang pelatih adalah seorang pemimpin
yang terdidik, pelatih mempunyai tujuan yang akan dicapai, pencapaian proses

8
latihan yaitu hubungan objek yang dibina, maka mengatur suatu sistem latihan
diperlukan figur seorang pelatih yang dapat memimpin atlet.
3) Sebagai teman (friend)
Selalu penuh pengertian dan simpati bila ada suatu hal yang terjadi pada
atlet. Dengarkan keluhan dan masalah-masalah pada atlet. Saat-saat di luar atau
sesudah latihan pelatih harus menyesuaikan diri dan berlaku sebagai teman,
pelatih diharapkan dapat menyesuaikan diri baik kelompok maupun individu.
4) Sebagai seorang yang mau belajar (learner)
Selalu siap mempelajari dan mencobakan hal-hal yang baru.
Mendengarkan saran-saran perubahan dari para pakar, rekan, maupun dari atlet
sendiri. Banyak membaca dan mempelajari hal-hal yang baru, untuk menambah
pengetahuan. Makin banyak belajar, akan makin banyak yang tidak anda ketahui.
5) Kewajaran (Realist)
Memperkirakan potensi atlet yang wajar dan selalu melihat tahap
perkembangannya. Membuat suatu target yang wajar, yang dapat dicapai oleh
setiap atlet. Maka seorang pelatih dalam menilai atau memperkirakan situasi baik
latihan atau pertandingan.

b. Peran Pelatih.
1) Peran Pelatih Secara Keseluruhan.
a) Sebagai Pemimpin
Mengatur dan mengorganisasi pelaksanaan kegiatan latihan merupakan
peran seorang pelatih. Dalam setiap pelaksanaan latihannya, pelatih harus
mampu sebagai sosok seorang pemimpin, yakni berwibawa tegas, bijaksana,
demokrasi, kreatif, cerdik, dan pandai mengolah situasi latihan maupun dalam
pelaksanaan penerapan bentuk-bentuk latihan.
b) Sebagai Guru.
Peran pelatih sebagai guru yakni dia harus mampu menjadi seorang
pendidik yang ulung,yang mampu membimbing dan membina atletnya
menjadi seorang yang memiliki sikap dan sifat yang beretika dan bermoral
baik serta jujur. Peranan sebagai guru, pelatih paham betul bagaimana konsep
belajar gerak dapat diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan latihan. Belajar dan
latihan tidak dapat di pisahkan satu dengan yang lainnya. Bahkan antara
belajar latihan mennyatu menjadi satu kesatuan yang saling ketergantungan.

9
c) Sebagai Pengganti Orang Tuanya.
Pada umumnya proses pelatihan itu di mulai dari atlet muda yaitu rata-
rata dari mulai usia sekolah dasar. Oleh karena pola pembinaan di laksanakan
dari mulai atlet muda,dimana usia tersebut masih termasuk ke dalam usia
perhatian kasih sayang penuh dari orangtuanya. Tentu hal tersebut akan
berhubungan dengan kebiasaan perilaku hidup di lingkungan keluarganya
seperti sipat kemanjaan,ingin ada perhatian khusus, selalu ingin pujian dan
bukan cacian, ingin selalu di bimbing, ingin selalu dia antara orang tuanya,
ketika akan pergi ketempat tertentu. Karena alasan karekteristik itulah seorang
pelatih harus mampu menyesuaikan kebiasaan hidup atlet muda antara di
rumah dengan di lapangan.
d) Sebagai Teman Sejatinya
Sosok pelatih sebagai seorang manusia dewasa relatif menyulitkan
ketika suatu waktu dai harus menjadi seperti anak-anak atau remaja. Dengan
penuh pengertian dan simpati seorang pelatih di tuntut harus mampu
menyesuaikan dunianya dengan dunia atlet mudanya, seperti mendengar
keluhan dan masalah yang umumnya muncul di atlet muda. Pada saat itulah
pelatih harus bisa menjadi teman sejati untuk bisa ikut dia ajk berdikusi
tentang dunianya kehidupan anak atau remaja.
e) Sebagai Perencana Latihan.
Peran pelatih sebagai perencana latihan merupakan syarat mutlak dan
menjadi konsekuensi tuntutan seorang terhadap kualitas pekerjaan yang akan
di lakukanya. Agar pekerjaan sebagai pelatih memiliki arah dan tujuan yang
jelas,serta stuktural dalam setiap melakukan unit kerjanya. Sebelum terjun
kelapangan, pelatih harus menyusun beberapa rincian dari setiap unit kegiatan
latihan kedalam bentuk rencana latihan yang sistematik dan terukur.

6. Kepribadian Seorang Pelatih.


Beberapa tipe kepribadian seorang pelatih banyak digambarkan dalam beberapa
tipe, diantaranya yaitu, seseorang yang merupakan individu yang keras, tidak kenal
kompromi; ada juga yang dilukiskan sebagai seorang yang sportif, pembimbing,
pelindung, dan ada pula yang gambarkan sebagai individu yang santai dan seolah-olah
tidak mempedulikan anak didiknya. Terdapat lima kategori tipe kepribadian pelatih yang
dominan, yaitu:

10
1. Pelatih yang Otoriter (authoritarian hard nose coach). Pelatih dengan tipe seperti ini
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Berpegang teguh pada disiplin.
b. Biasanya menerapan system hukuman untuk memaksa atlet patuh pada
peraturan, meskipun dirasakan pahit/kurang adil oleh atlet. Pelatih tidak peduli
apakah karena caranya tersebut atlet merasa sakit hati atau sampai tidak mau
berlatih lagi.
c. Ketat dalam rencana dan jadwal latihan.
d. Biasanya dia bukanlah pelatih yang hangat/menyenangkan. Biasanya kurang
dekat dan tidak suka mengadakan hubungan pribadi yang terlalu dekat karena
“takut” atlet nanti akan mengambil keuntungan dari situasi demikian.
e. Dia seringkali menggunakan ancaman untuk memotivasi para atletnya.
f. Dia tidak senang mempunyai asisten yang mempunyai tipe kepribadian yang
sama dengannya.
2. Pelatih yang baik hati (nice guy coach).
a. Senang memberi motivasi.
b. Senang memberi pujian.
c. Humoris.
d. Sangat luwes dalam membuat rencana latihan.
3. Pelatih Pemacu (intense driven coach)
Pelatih dengan tipe seperti ini hampir serupa dengan pelatih otoriter. Dia
sangat efektif dalam memberikan rangsangan, motivasi, dan semangat kepada
atletnya. Hanya saja bedanya dia tidak menerapkan system hukuman terhadap atlet
yang kurang memenuhi tugasnya.
4. Pelatih yang Santai (easy going coach)
Pelatih dengan tipe seperti ini merupakan kebalikan dari tipe pelatih pemacu.
Ia adalah pelatih yang bersikap pasif, santai, laissez faire, dan karena itu tidak
pernah merasa ada beban stress.
5. Pelatih Tipe Bisnis (the scientific business like coach)
Pelatih tipe ini sering dijuluki sebagai the scientific coach. Inovatif dan
pengetahuannya mengenai olahraga menakjubkan. Dia juga hafal setiap atletnya,
kelemahan, kekuatan, prestasi, dsb. Dia cerdas, selalu yakin akan gagasannya, dan
dia pembicara yang mengesankan.

11
7. Kepemimpinan Seorang Pelatih.
Pemimpin adalah seorang yang membimbing atau mengarahkan individu,
kelompok/group, tim, dan organisasi (Logman : 1987). Sedangkan kepemimpinan adalah
suatu proses mempengaruhi orang untuk mengarahkan usaha-usaha ke arah pencapaian
tujuan tertentu (Gibson dan Hodgetts : 1986). Kemudian Forsyth (1983) mengemukakan
bahwa kepemimpinan adalah proses timbal balik/reciprocal, di mana individu
diperbolehkan mempengaruhi dan memotivasi yang lain untuk mempermudah pencapaian
yang saling memuaskan kelompok dan tujuan individu.
a. Gaya-Gaya Kepemimpinan Pelatih:
1) Gaya Otoriter.
Ciri-Ciri Kepemimpinannya :
 Lebih banyak menggunakan gaya otoriter dalam pembinaan atlet.
 Sifatnya ”perintah” dan harus dipatuhi.
 Bertindak kurang manusiawi.
 Menentukan sendiri tugas-tugas yang akan dilaksanakan. Tugas-tugas itu harus
dilaksanakan dan diselesaikan.
 Hukuman diberikan kepada atlet yang tidak menurut perintahnya.

2) Gaya Demokratis.
Ciri-ciri kepemimpinannya :
 Lebih akrab dengan atlit
 Mendengar suara atlit
 Memberi izin kepada atlit untuk saling berinteraksi tanpa harus meminta izin
terlebih dahulu kepada pelatih
 Tidak banyak memberikan instruksi atau perintah

3) Gaya People Centered.


Gaya yang menekankan kepada pemenuhan kebutuhan pribadi atlet.
Keuntungannya yaitu:
 Dapat mengurangi anxiety walaupun tugas tidak dijalankan dengan baik.
 Komunikasi lebih baik dengan atlet yang bimbang atau gelisah.
 Lebih efektif dalam situasi yang menguntungkan.
Kelemahannya yaitu:
 Kurang keras dalam menuntut pada atlet untuk menjalankan tugas dengan baik.
 Kurang efektif dalam situasi yang kurang menguntungkan.
 Kurang dapat diterima oleh atlet yang senang pada gaya task oriented.

8. Prinsip-prinsip Kepelatihan.
a. Prinsip Beban Berlebih (Overload) yaitu pemberian beban terhadap tubuh, akan
direspon oleh tubuh itu sendiri. Jawaban dari tubuh merupakan penyesuaian diri
terhadap rangsangan yang diterimanya.
b. Prinsip Spesifikasi, yaitu ketika latihan berkaitan dengan unsur biomotorik maka
pelatih harus tahu betul sistim energi apa dan unsur-unsur fisik apa yg paling

12
dibutuhkan (dominan untuk cabang olahraga yang dilatihnya. Apakah kapasitas
aerobik, anaerobik (laktat atau alaktat), daya tahan, kekuatan, power, kelincahan,
kecepatan, stamina atau yang lain.
c. Prinsip Pemulihan Asal (Reversibility) adalah prinsip ini menggambarkan bahwa
apabila tubuh kita diberikan waktu istirahat yang tertalu lama, maka kemampuan atau
kesegaran tubuh yang sudah dimiliki melalui proses latihan sebelumnya, akan
kembali ke tingkat semula, atau sama seperti ketika tidak melakukan latihan.
d. Prinsip Aktif dan Kesungguhan Atlet, seoarang atlet dituntut aktif dan memiliki
inisiatif sendiri dalam melakukan berbagai latihan yang sesuai dengan kebutuhan
cabang olahraga yang digelutinya dengan sungguh – sungguh agar latihan tersebut
hasilnya maksimal.
e. Prinsip Kesadaran Atlet, seorang atlet dalam berlatih diharapkan memiliki kebutuhan
dalam melakukan latihan, bukan latihan tersebut dianggap sebagai keharusan. Karena
dengan memiliki rasa kebutuhan atlet tidak terpaksa dalam melakukan latihan,
apabila terpaksa maka hasil latihan tidak dapat mencapai hasil yang maksimal.
f. Prinsip Individual, merupakan salah satu penyebab ketidak berhasilan seorang pelatih
dalam mempersiapkan atlet atau timnya, dapat disebabkan oleh kurang pahamnya
prinsip indivualisasi ini. Prestasi seseorang atau tim dapat dicapai secara optimal
apabila setiap program latihan apapun yang diberikan mengacu pada asas
individualisasi ini.
Beberapa ahli olahraga maupun kedokteran mengemukakan pendapat yang
senada tentang individu sosok manusia. Mereka mengemukakan bahwa tidak ada satu
orangpun yang sama persis baik keadaan fisiknya maupun psikisnya. Setiap orang akan
memberikan respon yang tidak sama terhadap setiap rangsangan (fisik, teknik, taktik,
mental) yang diterimanya.
1. Prinsip Multilateral, prinsip perkembangan menyeluruh sebaiknya diterapkan pada
atlit-atlit muda. Pada permulaan belajar mereka harus dilibatkan dalam beragam
kegiatan agar memiliki dasar-dasar yang lebih kokoh untuk menunjang keterampilan
spesialisasinya kelak.
2. Prinsip Spesialisasi, setelah melakukan prinsip Multilateral, dilanjutkan dengan
pengembangan khusus sesuai dengan cabang olahraga yang digelutinya, dan
spesialisasi baru dimulai setelah disesuaikan dengan umur yang cocok untuk cabang
olahraganya.

13
3. Prinsip Variasi, pemberian variasi latihan mrupakan cara yang baik agar atlit dapat
menikmati latihan dengan senang dan gembira supaya atlit tidak bosan.
4. Prinsip Model dalam Latihan, model atau imitasi, atau tiruan merupakan suatu
simulasi dari kenyataan yang dibuat dari elemen atau unsure spesifik dari fenomena
yang dicari atau diamati serta mendekati keadaan sebenarnya.
5. Prinsip Penggunaan Sistem Latihan, prinsip ini menuntut bahwa program latihan
harus dibuat secara sistematis dan efisien. Dari mulai program jangka panjang sampai
program latihan tiap unit, dan juga harus memperhatikan karakter individu atlet.
6. Prinsip Periodisasi, prinsip ini menekankan dalam proses pemberian materi latihan
harus secara bertahap, tidak bisa langsung latihan pada tahap pertandingan akan
tetapi kita harus melewati tahap persiapan sebagai modal untuk tahap selanjutnya.
7. Prinsip Presentasion, dalam prinsip ini proses latihan dilakukan dengan memberikan
atlet untuk melihat video mengenai gerakan – gerakan teknik yang benar. Sehingga
atlet dapat merekam gerakan yang benar tersebut di benaknya dan berusaha untuk
melakukan gerakan yang serupa.
8. Prinsip Intensitas Latihan, prinsip fisiologis dan psikologis yang positif hanyalah
mungkin terjadi apabila atlet dilatih melalui suatu program latihan yang intensif,
dimana pelatih secara progresif menambahkan beban kerja, repetisi, serta kadar
intensitas dari repetisi tersebut. Intensitas latihan dapat diukur dengan menghitung
denyut nadi maksimal (DNM).
9. Prinsip Kualitas Latihan, berlatih secara intensif belum cukup apabila tidak bermutu /
berkualitas. Oleh karena itu suatu latihan harus berkualitas agar mendapat hasil yang
maksimal tanpa mengeluarkan banyak tenaga dan waktu, karena latihan singkat dan
berkualitas lebih baik daripada latihan lama yang tak bermutu.
10. Prinsip Berfikir Positif, prinsip penanaman berpikir positif akan berdampak baik
pada perilakunya karena akan merasa lebih kuat, melatih atlet selalu berpikir optimis
dan positif, mengubah sikap bawah sadar yang negatif menjadi positif.
11. Prinsip Penetapan Sasaran, menetapkan sasaran latihan bagi atlit sangat penting,
karena atlit tidak berlatih dengan sungguh-sungguh atau kurang motivasi jika tidak
ada tujuan / sasaran yang jelas untuk berlatih.

14
BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Beberapa tipe kepribadian seorang pelatih banyak digambarkan dalam beberapa
tipe, diantaranya yaitu, seseorang yang merupakan individu yang keras, tidak kenal
kompromi; ada juga yang dilukiskan sebagai seorang yang sportif, pembimbing,
pelindung, dan ada pula yang gambarkan sebagai individu yang santai dan seolah-olah
tidak mempedulikan anak didiknya.
Selain berguna untuk meningkatkan kesegaran jasmani, latihan kondisi fisik
merupakan program pokok dalam pembinaan atlet untuk berprestasi dalam suatu cabang
olahraga. Atlet yang memiliki tingkat kesegaran jasmani yang baik akan terhindar dari
kemungkinan cedera yang biasanya Bering terjadi jika seseorang melakukan kerja fisik
yang berat.
Kurangnya daya tahan, kelentukan persendian, kekuatan otot, dan kelincahan
merupakan penyebab utama timbulnya cedera olahraga. Hal ini disebabkan program
latihan kondisi fisik yang dilakukan seseorang ticlak sempurna sebelum dia terjun
mengikuti pertandingan atau melaksanakan kegiatan fisik yang lebih berat.

2. Saran-saran
Untuk setiap atlet yang berkecimpung di bidang olahraga manapun di harapkan
agar bisa mningkatkan kondisi fisiknya masing-masing, sehingga dalam suatu
pertandingan tidak mengalami kelelahan ataupun cidera pada saat latihan, di era yang
kaya akan teknologi dan pengertian dan pemahaman dalam peningkatan fisik perlu
peningkatan mutu gizi juga.
Setiap pelatih dalam setiap bidang olahraga haruslah mengerti dan memahami
cara peningkatan kualitas fisik atlet dan bukan hanya fisik saja yang harus dimengerti
oleh seorang pelatih tetapi juga tentang kebutuhan gizi setiap atlet harus diprhatikan oleh
setiap pelatih. Agar kedepannya para pelatih dapat menciptakan atlet yang mempunyai
kualitas fisik bagus dan sehat.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. http://ilmukepelatihandasar.blogspot.co.id/2010/11/hakikat-dan-ruang-lingkup-
pelatihan.html
2. http://www.etanal.web.id/2014/04/fungsi-pelatih.html
3. http://aglan-love.blogspot.co.id/2011/12/latihan-kondisi-fisik.html
4. https://www.facebook.com/kakawahyudinthea/posts/195017733999369
5. https://sports.sindonews.com/read/727892/51/atlet-tak-cuma-butuh-bakat-tapi-pengetahuan
6. https://www.sahabatnestle.co.id/content/view/manfaat-olahraga-beregu.html
7. cillasmartlucky.blogspot.co.id
8. http://gemicandra.blogspot.co.id/2016/05/teknik-dalam-olahraga.html

16