Anda di halaman 1dari 32

Teori Bilangan Keterbagian FPB

KETERBAGIAN FPB

pengertian teori bilangan keterbagian FPB, sifat-sifat teori bilangan keterbagian FPB,

Dalil-dalil teori bilangan keterbagian, contoh soal teori bilangan keterbagian, Pengertian

keterbagian, definisi keterbagian, sifat-sifat keterbagian, dalil-dalil keterbagian, contoh-

contoh keterbagian, keterbagian, makalah keterbagian, makalah teori bilangan,

Pengertian I keterbagian

Keterbagian atau divisibility artinya, sudut pandang matematika yang mempelajari suatu

bilangan yang habis oleh bilangan lain.

Misalkan a dan b bilangan-bilangan bulat sebarang; b pembagi a jika dan hanya jika ada

bilangan bulat c sedemikian sehingga a = bc. Jika ba maka b adalah suatu faktor atau suatu

pembagi a, dan a adalah suatu kelipatan dari b.

Jangan dikacaukan antara ba dan b/a yang diterjemahkan sebagai b : a. ba merupakan suatu

relasi benar atau salah. Sedangkan b/a merupakan suatu operasi yang mempunyai suatu nilai

bilangan tertentu. Untuk lebih memantapkan pengertian ini, bandingkan antara 0 : 0 dan 00. Kita

tahu bahwa 0 : 0 tidak terdefinisi, tetapi 00 adalah pernyataan yang benar karena 0 = 0 . a untuk

setiap bilangan bulat a. Kita menulis 5┼12 untuk menyatakan bahwa 12 tidak dapat dibagi (tidak

habis dibagi) oleh 5, atau 5 tidak membagi 12. Penulisan 5┼12 juga untuk menyatakan bahwa 12

adalah bukan kelipatan 5 dan 5 adalah bukan faktor dari 12.

Contoh :

1) 3 │12, sebab ada bilangan bulat 4 sedemikian sehingga 12 = (4) 3.

2) 3 │-30, sebab ada bilangan bulat -10 sedemikian sehingga –30 = (-10)3.
Pengertian II Keterbagian

Keterbagian
Jika a dan b adalah bilangan bulat dengan a dikatakan membagi b, jika terdapat sebuah bilangan
bulat m sedemikian sehingga b = am dan ditulis a│b dan jika a tidak membagi b,maka
ditulis a ł b.

Pengertian III Keterbagian


Divisibility itu artinya keterbagian, sudut pandang matematika yang mempelajari suatu
bilangan yang habis oleh bilangan lain.
Definisi Keterbagian : Suatu bilangan bulat a disebut membagi b jika ada bilangan bulat lain
c sehingga b = ac. Kita juga akan menyebut bahwa a pembagi dari b atau b kelipatan dari a dan
ditulis a│b. Jika a tidak membagi habis b maka ditulis a | b
Misalnya kita ingin mengatakan “10 habis dibagi 5”, kita bisa mengilmiahkannya dengan

berkata “5 membagi 10”. Nah, lebih ilmiah lagi jika ditulis: 10 mod 5 = 0 atau . Jika tidak

habis dibagi, kita dapat mencoret miring lambangnya. Misalnya: . (10 tidak habis dibagi
6).

B. Teori-teori Keterbagian

Teori Keterbagian
Keterbagian Bilangan Bulat

a. Suatu bilangan habis dibagi 2^n apabila n digit terakhir dari bilangan tersebut habis dibagi 2^n
Contoh :
134576 habis dibagi 8 = 2^3, sebab 576 habis dibagi 8 (576 : 8 = 72)

4971328 habis dibagi 16 = 2^4 sebab 1328 habis dibagi 16

b. Suatu bilangan habis dibagi 5 apabila digit terakhir dari bilangan tersebut adalah 0 atau 5

Contoh : 67585 dan 457830 adalah bilangan-bilangan yang habis dibagi 5.

c. Suatu bilangan habis dibagi 3 apabila jumlah digit bilangan tersebut habis dibagi 3.

Contoh : 356535 habis dibagi 3 sebab 3 + 5 + 6 + 5 + 3 + 5 = 27 dan 27 habis dibagi 3.


d. Suatu bilangan habis dibagi 9 apabila jumlah digit bilangan tersebut habis dibagi 9.

Contoh : 23652 habis dibagi 9 sebab 2 + 3 + 6 + 5 + 2 = 18 dan 18 habis dibagi 9.

e. Suatu bilangan habis dibagi 11 apabila selisih antara jumlah digit dari bilangan tersebut pada
posisi ganjil dengan jumlah digit dari bilangan tersebut pada posisi genap habis dibagi 11.

Contoh : 945351 habis dibagi 11 sebab (9 + 5 + 5) - (4 + 3 + 1) = 11 dan 11 habis dibagi 11.


Contoh bilangan lain yang habis dibagi 11 adalah 53713 dan 245784.

f. Jika suatu bilangan habis dibagi a dan juga habis dibagi b, maka bilangan tersebut akan habis
dibagi ab dengan syarat a dan b relatif prima.
Berlaku sebaliknya.
Contoh : 36 habis dibagi 4 dan 3, maka 36 akan habis dibagi 12.

g. Misalkan N jika dibagi p akan bersisa r.


Dalam bentuk persamaan N = pq + r dengan p menyatakan pembagi, q menyatakan hasil bagi
dan r menyatakan sisa.
Persamaan di atas sering pula ditulis N=r (mod p)

h. Kuadrat suatu bilangan bulat bulat, habis dibagi 4 atau bersisa 1 jika dibagi 4.
maka suatu bilangan bulat yang bersisa 2 atau 3 jika dibagi 4, bukanlah bilangan kuadrat.

i. Angka satuan dari bilangan kuadrat adalah 0, 1, 4, 5, 6, 9.

j. Bilangan pangkat tiga (kubik) jika dibagi 7 akan bersisa 0, 1 atau 6.

k. Dua bilangan dikatakan prima relatif, jika faktor persekutuan terbesarnya (FPB) sama dengan
1.

Contoh : 26 dan 47 adalah prima relatif sebab FPB 26 dan 47 ditulis FPB(26,47) = 1

C. Sifat-sifat keterbagian

Sifat-Sifat Keterbagian
Berikut sifat-sifat keterbagian :

Beberapa sifat-sifat / Teorema keterbagian


Teorema 1
Jika a, b, dan c adalah bilangan bulat dengan a│b dan b│c maka a│c.
Bukti
a│b dan b│c maka menurut Definisi, terdapat bilangan bulat m dan n sedemikian sehingga c =
bn = (am)n = a(mn). Jadi, c = a(mn). Untuk suatu mn = p anggota bilangan Bulat maka c =
ap Akibatnya menurut Definisi, a│c.
Untuk lebih jelasnya, diberikan Contoh berikut.
Contoh
Jika 2│6 dan 6│90 maka menurut Teorema 2│90 karena terdapat bilangan bulat 45 sedemikian
sehingga (45)(2) = 90
Teorema 2
Jika a, b, dan c adalah bilangan bulat dengan c│a dan c│b maka c│(am+bm). untuk
suatum,n anggota bilangan Bulat
Bukti
c│a dan c│b maka terdapat bilangan bulat xdan y sedemikian sehingga a =cx dan b =cy
Sehingga, am = c(xm) dan bn =c(yn). untuk suatu xm = p dan (yn)=q, Maka:
am + bn = c(p+q). Akibatnya,c│(am+bn).
Teorema 3 (Buchmann, 2002: 3)
a. Jika a│b dan b ≠ 0 maka |a| ≤ |b|.
b. Jika a│b dan b│a maka |a| = |b|.

Bukti
a. Jika a│b dan b ≠ 0 maka menurut Definisi, terdapat m ≠ 0 sedemikian sehingga b = am.
Karena b = am maka |b| = |am| ≥ |a| sehingga, |a| ≤ |b|.
b. Andaikan a│b dan b│a. Jika a = 0 maka b = 0 dan jika a ≠ 0 maka b ≠ 0.
Selanjutnya,
Jika a ≠ 0 dan b ≠ 0 maka sesuai dengan Teorema 3a, |a| ≤ |b| dan |b| ≤ |a| sehingga |a| = |b|.

Penjelasan Sifat-Sifat Keterbagian diatas :


1. Jika suatu bilangan b dibagi oleh bilangan a, dan bilangan c dibagi oleh bilangan b, maka
bilangan c dapat dibagi bilangan a.
2. Jika suatu bilangan c dibagi oleh ab (ab merupakan perkalian dua buah bilangan), maka c dapat
dibagi oleh bilangan a dan dapat dibagi oleh bilangan b.
3. Jika suatu bilangan b dan c dapat dibagi oleh bilangan a, maka ketika bilangan b dan c tersebut
dikali dengan suatu bilangan bulat, akan dapat pula dibagi oleh bilangan a.
Berikut adalah sifat-sifat keterbagian yang lainnya :
a. Suatu bilangan habis dibagi 2^n apabila n digit terakhir dari bilangan tersebut habis dibagi 2^n.
Contoh :
134576 habis dibagi 8 = 2^3, sebab 576 habis dibagi 8 (576 : 8 = 72)
4971328 habis dibagi 16 = 2^4 sebab 1328 habis dibagi 16
b. Suatu bilangan habis dibagi 5 apabila digit terakhir dari bilangan tersebut adalah 0 atau 5.
Contoh :
67585 dan 457830 adalah bilangan-bilangan yang habis dibagi 5.
c. Suatu bilangan habis dibagi 3 apabila jumlah digit bilangan tersebut habis dibagi 3. Contoh :
356535 habis dibagi 3 sebab 3 + 5 + 6 + 5 + 3 + 5 = 27 dan 27 habis dibagi 3.
d. Suatu bilangan habis dibagi 9 apabila jumlah digit bilangan tersebut habis dibagi 9. Contoh :
23652 habis dibagi 9 sebab 2 + 3 + 6 + 5 + 2 = 18 dan 18 habis dibagi 9.
e. Suatu bilangan habis dibagi 11 apabila selisih antara jumlah digit dari bilangan tersebut pada
posisi ganjil dengan jumlah digit dari bilangan tersebut pada posisi genap habis dibagi 11.
Contoh : 945351 habis dibagi 11 sebab (9 + 5 + 5) - (4 + 3 + 1) = 11 dan 11 habis dibagi 11.
Contoh bilangan lain yang habis dibagi 11 adalah 53713 dan 245784.
f. Jika suatu bilangan habis dibagi a dan juga habis dibagi b, maka bilangan tersebut akan habis
dibagi ab dengan syarat a dan b relatif prima. Berlaku sebaliknya.
Contoh : 36 habis dibagi 4 dan 3, maka 36 akan habis dibagi 12.
g. Misalkan N jika dibagi p akan bersisa r.
Dalam bentuk persamaan N = pq + r dengan p menyatakan pembagi, q menyatakan hasil bagi
dan r menyatakan sisa.
Persamaan di atas sering pula ditulis N=r (mod p)
h. Kuadrat suatu bilangan bulat bulat, habis dibagi 4 atau bersisa 1 jika dibagi 4.
maka suatu bilangan bulat yang bersisa 2 atau 3 jika dibagi 4, bukanlah bilangan kuadrat.
i. Angka satuan dari bilangan kuadrat adalah 0, 1, 4, 5, 6, 9.
j. Bilangan pangkat tiga (kubik) jika dibagi 7 akan bersisa 0, 1 atau 6.
k. Dua bilangan dikatakan prima relatif, jika faktor persekutuan terbesarnya (FPB) sama dengan 1.
Contoh : 26 dan 47 adalah prima relatif sebab FPB 26 dan 47 ditulis FPB(26,47) = 1
Berikut adalah sifat-sifat keterbagian suatu bilangan :
1. Bilangan kelipatan 2
Jika bilangan tersebut merupakan bilangan genap (satuan 0, 2, 4, 6, atau 8)
Contoh:
3.560, 467.792, 687.904, 7.586.436, 8.765.368
2. Bilangan kelipatan 3
Jika jumlah angka-angka pembentuk bilangan tersebut merupakan bilangan kelipatan 3. Contoh :
564.741 ------ jumlah angka-angkanya 5 + 6 + 4 + 7 + 4 + 1 = 27 ---- 2 + 7 = 9
9 merupakan bilangan kelipatan 3, jadi 564.741 juga merupakan bilangan kelipatan 3.
3. Bilangan kelipatan 4
Jika nilai 2 angka terakhir dari bilangan tersebut merupakan bilangan kelipatan 4. Contoh:
53.632 -------- 32 merupakan bilangan kelipatan 4, jadi 53.632 juga merupakan bilangan
kelipatan 4.
4. Bilangan kelipatan 5
Jika bilangan tersebut bersatuan 0 atau 5
Contoh: 5.095, 53.890
5. Bilangan kelipatan 6
Jika bilangan tersebut merupakan bilangan genap, dan jumlah angka-angkanya pembentuk
bilangan tersebut merupakan bilangan kelipatan 3
Contoh:
24.576 ---------- bersatuan 6, berarti merupakan bilangan genap
Jumlah angka-angkanya 2 + 4 + 5 + 7 + 6 = 24 ----- 2 + 4 = 6 ( 6 kelipatan3)
Karena memenuhi kedua syarat tersebut, maka 24.576 merupakan bilangan kelipatan 6.
6. Bilangan kelipatan 7
Sampai saat ini belum diketemukan formulanya
7. Bilangan kelipatan 8
Jika nilai 3 angka terakhir dari bilangan tersebut merupakan bilangan kelipatan 8. Contoh:
5.768.144 ----- 144 merupakan bilangan kelipatan 8, jadi 5.768.144 juga merupakan bilangan
kelipatan 8.
8. Bilangan kelipatan 9
Jika jumlah angka-angka pembentuk bilangan tersebut merupakan bilangan kelipatan 9. Contoh:
43.785 --------- jumlah angka-angkanya 4 + 3 + 7 + 8 + 5 = 27 ---- 2 + 7 = 9
9 merupakan bilangan kelipatan 9, jadi 43.785 juga merupakan bilangan kelipatan 9
9. Bilangan kelipatan 10
Jika nilai satuanya adalah 0
Contoh : 5.640, 67.000, 435.790

D. Dalil-dalil Keterbagian

Keterbagian Dalam Bilangan Bulat

Sifat-sifat yang berkaitan dengan keterbagian telah dipelajari oleh Euclid 350 SM (Niven,
1999:4). Pengembangan selanjutnya telah banyak dikembangkan oleh beberapa ahli matematika
yang lain, misalnya yang berkaitan dengan bilangan komposit, perkalian dalam usaha untuk
mengembangkan teori bilangan. Karena pentingnya sifat keterbagian maka akibatnya konsep
tersebut sering muncul dalam Aljabar Modern dan Struktur Aljabar (Muhsetyo, 1994:18)

Definisi
Suatu bilangan bulat x dikatakan habis dibagi oleh suatu bilangan bulat y ≠ 0, jika terdapat satu
bilangan bulat p sedemikian sehingga x = py. Jika hal ini dipenuhi maka y dikatakan membagi x
dan dinotasikan dengan y │ x yang dapat diartikan sebagai y adalah faktor (pembagi) x, atau x
adalah kelipatan y. Jika y tidak membagi x dinotasikan dengan y ┼ x.

Contoh :

1) 3 │12, sebab ada bilangan bulat 4 sedemikian sehingga 12 = (4) 3.

2) 3 │-30, sebab ada bilangan bulat -10 sedemikian sehingga

–30 = (-10)3.

Dalil
Jika a,b,c Z maka berlaku:

1) a│ b → a │bc, untuk setiap c Z.

2) (a │ b, b │c) → a │ c.

3) (a │ b, b │a) → a = ± b.

4) (a │ b, a │c) → a │ (b ± c).

5) (a │ b, a │c) → a │ (ax + by) untuk setiap x,y Z.

Untuk selanjutnya ax + by disebut kombinasi linear dari b dan c


6) ( a>0, b > 0 dan a │b) → a ≤ b.

7) a │b ↔ ma │ mb untuk setiap m Z dan m ≠ 0

8) ( a│b dan a │ b+c ) → a │c.


(Dalil Algoritma Pembagian)

Jika a > 0, dan a,b Z, maka ada bilangan-bilangan q, r Z yang masing-masing tunggal (unique)
sehingga b = qa + r dengan 0 ≤ r < a.

Jika a ┼ b maka r memenuhi ketidaksamaan 0 < r < a.

Bukti.

Misal a, b Z, maka dapat dibentuk suatu barisan aritmatika b – na, n Z, yaitu:

…, b –3a, b – 2a, b-a, b, b + a, b + 2a, ….

Barisan di atas mempunyai bentuk umum b – na.

Selanjutnya, misal S adalah suatu himpunan yang unsur-unsurnya suku yang bernilai positip dari
barisan b – na, sehingga:

S = { (b – na) │n Z, dan b – na > 0 }

Menurut prinsip urutan, maka S mempunyai unsur terkecil, sebut saja r.


Karena r S, maka r dapat dinyatakan sebagai r = b – qa, dengan q Z.

Dari r = b – qa dapat diperoleh b = qa + r.

Jadi jika a > 0 dan a,b Z maka ada q,r Z sedemikian sehingga b = qa + r.

Untuk menunjukkan bahwa 0 r < a, maka digunakan bukti tidak langsung sebagai berikut:

Anggaplah bahwa 0 r < a tidakbenar, maka r a dan dalam hal ini r tidak mungkin negatip karena
r S.

Jika r a maka r – a 0.

r = b – qa r – a = b – qa – a

= b – ( q +1) a.

r – a 0 dan r-a = b – ( q + 1 ) a 0.

r – a 0 dan r – a mempunyai bentuk b – na, maka r – a S.


Karena a > 0 maka r – a < r sehingga r – a merupakan unsur terkecil dari S dan lebih kecil dari r.
Hal ini bertentangan dengan pengambilan r sebagai unsur terkecil S. Jadi haruslah 0 r < a.

Untuk menunjukkan ketunggal q dan r, dimisalkan q dan r tidak tunggal yaitu q1, q2, r1, r2 Z dan
memenuhi hunbungan persamaan

b = q1a + r1

b = q2a + r2

Sehingga berlaku q1a+ r1 = q2a+ r2

( q1 – q2 ) a + ( r1 – r2 ) = 0

( r1 – r2 ) = ( q2 – q1 )a

a│ ( r1 – r2 )

a│ ( r1 – r2 ) r1 – r2 = 0 atau r1 – r2 a ( a r1 – r2 )

r1 – r2 = 0 r1 = r2 (q1 – q2 ) a = 0 q1 = q2

r1 – r2 a > 0, r1 > 0 , r2 > 0 r1 a = 0.

Jadi r1 = r2 dan q1 = q2 yaitu q dan r masing-masing adalah tunggal.

Selanjutnya jika a ┼ b, maka tidak ada q Z sehingga b = qa. Hal ini berarti b qa atau b = qa + r
dengan 0 < r < a. ( r 0, sebab jika r = 0 diperoleh b = qa).
Definisi

Ditentukan x,y Z yang keduanya tidak bersama-sama bernilai 0, a Z disebut pembagi


persekutuan dari x dan y jika a │x dan a │y.

a Z disebut pembagi persekutuan terbesar (FPB) dari x dan y jika a adalah bilangan bulat positip
terbesar sehingga a│x dan a│y.
Untuk selanjutnya jika a adalah pembagi persekutuan terbesar dari x dan y dinyatakan dengan
(x,y) = a.

Perlu diperhatikan bahwa (x,y) = a didefinisikan untuk setiap pasangan bilangan bulat x,y
Z kecuali untuk x = 0 dan y = 0. Demikian pula perlu dipahami bahwa (x,y) selalu bernilai
positip yaitu (x,y) > 0, atau (x,y) ≥ 1.

Contoh:

1. Faktor dari 8 adalah -8, -4, -2, -1, 1, 2, 4, 8.


2. Faktor dari 20 adalah –20, -10, -5, -4, -2, -1, 1, 2, 4, 5, 10, 20
3. Faktor Persekutuan 8 dan 20 adalah –4,-2,-1, 1, 2, 4
4. Faktor Persekutuan terbesar 8 dan 20 adalah 4 atau (8,20) = 4
Selanjutnya perhatikan bahwa

(12,16) = 4, (60,105) = 15, (3,5) = 1, (17,19)= 1. dan seterusnya.


Dalil

1. Jika d = (x,y) maka d adalah bilangan bulat positip terkecil yang mempunyai bentuk umum aox
+ boy dengan ao, bo Z
Bukti.

Dibentuk kombinasi linear (ax + by) dengan a,b Z. Barisan bilangan ax + by memuat bilangan-
bilangan negatip, bilangan nol (untuk a = 0 dan b = 0), dan bilangan-bilangan yang bernilai
positip.

Ambil S = {ax + by │ ax + by > 0 }, maka dapat ditentukan bahwa S N. Karena N adalah


himpunan terurut dan S N, maka S mempunyai unsur terkecil dan sebutlah dengan t, dan t S,
maka tentu ada a = ao dan b = bo sehingga t = aox + boy dan selanjutnya dapat dibuktikan bahwa
t │ x dan t │ y.

Untuk membuktikan apakah t │ x, digunakan bukti tidak langsung .

Misal t ┼ x, maka menurut dalil sebelumnya ada q, r Z sehingga

x = qt + r dengan 0 < r < t

r = x – qt

= x – q(aox + boy)

r = ( 1-aoq)x + (-boq)y

r = a1x + b1y dengan a1 = 1-aoq Z, dan

b1 = -boq Z.

Jadi r = a1x + b1y Z dengan r, t S, t merupakan unsur terkecil S ran r < t. Hal ini bertentangan
dengan dengan pemisalan t ┼ x. Dengan demikian anggapan t ┼ x tidaklah benar. Jadi haruslah t
│ x.

Dengan cara yang sama dapat ditunjukkan bahwa t │ y.


Dari t │ x dan t │ y berarti t adalah pembagi persekutuan dari x dan y.

d = (x,y) berarti d │ x sehingga p S sehingga x = dp.

d = (x,y) berarti d │ y sehingga p S sehingga y = dp.

t = aox + boy

= ao (dp) + bo (dp)

d │ t, d 0, t > 0 maka sesuai dengan dalil sebelumnya d t dan d tidak lebih kecil dari t,
sedangkan d adalah pembagi persekutuan dari x dan y.

Jadi d = t = aox + boy

Berdasarkan urian di atas jelaslah bahwa d = (x,y) merupakan bilangan bulat positip terkecil
yang mempunyai bentuk (ax + by) dengan a,b Z.

Dengan demikian terlihat bahwa tidak ada bilangan positip selain d yang membagi x dan y dan
mempunyai bentuk (ax + by)

1. Jika t Z dan t > 0, maka (tx,ty) = t (x,y)


Bukti

Sesuai dengan bukti dalil 1 di atas, maka:

(tx,ty) = bilangan bulat positip terkecil yang mempunyai bentuk(atx + bty) dengan bilangan
a,b Z

= atx + bty

= t (ax + by)

= t merupakan bilangan bulat positip terkecil yang mempunyai bentuk (ax+by)

= t (ax +by)

1. Jika x,y Z dan d = (x,y) maka (,) = 1


Bukti

d = (x,y) berarti d │x dan d │y dan , Z

(x,y) = (d. , d.) = d (, )

Karena d > 0 maka d (, ) atau 1 = (, )


Dengan demikian (, ) = 1

1. Jika x,y,w Z, w │xy, dan (y,w) = 1 maka w │ x.


Bukti

(y,w) = 1 maka menurut definisi FPB 1 adalah bilangan bulat positip terkecil yang mempunyai
bentuk ay + bw dengan a,b Z

ay + bw = 1 berarti ayx + bwx = x

w │ xy → w │ axy

w │ axy dan w │ bxw → w │ axy + bxw

w │ axy + bwx dan axy + bxw = x → w │ x.

1. Jika (x,t) = 1 dan (y,t) = 1, maka (xy,t) = 1


Bukti:

(x,t) = 1 → terdapat ao dan bo Z sedemikian sehingga aox+bot=1

(y,t) = 1 → terdapat ao dan bo Z sedemikian sehingga a1y+b1t=1

aox+bot=1 → aox = 1 – bot

a1y+b1t=1 → a1y = 1 – b1t

a1x = 1 – bot dan a1y = 1 – b1t maka:

(aox)(a1y) = (1 – bot)(1 – b1t)

= 1- (bo - b1 + bob1t)t

(aoa1)(xy) = (1- b2)t atau (xy) a2 +b2t=1 dengan

a2 = aoa1 dan b2 = bo - b1 + bob1t

Karena (xy,t) = 1 adalah bilangan bulat positip tekecil yang mempunyai bentuk (xy) a2 +b2t=1
maka (xy,t) haruslah 1 sehingga (xy,t) = 1

1. Ditentukan x,yZ , (x,y) = d. Ekuivalen dengan d > 0, d │x, d│y dan f │d untuk setiap f
pembagi persekutuan x dan y.
Bukti
d = (x,y) maka menurut definisi d adalah bilangan bulat positip terbesar sehingga d │x, d│y,
hal ini berarti bahwa d > 0. Demikian pula d = (x,y) berarti d adalah bilangan bulat positip
terkecil dan berbentuk (ax + by), dengan a,bZ.

Jadi d = ax + by.

Misal f adalah sebarang pembagi persekutuan dari x dan y, maka berlaku f │x dan f │y,
sehingga f │ax dan f │ay dan menurut sifat keterbagian berlaku f │ ax + by.

f │ ax + by dan d = ax + by → f │d.

Sebaliknya, jika d > 0 dan d │ x d│ y serta f │ d, dengan f adalah sebarang pembagi


persekutuan x dan y maka d f ( karena d = kf, k Z ) untuk sebarang f pembagi persekutuan x dan
y.

Jadi d adalah pembagi persekutuan terbesar dari x dan y. Atau d = (x,y)

1. Untuk setiap a, x, y Z, berlaku:


( x,y ) = ( y,x ) = ( x,-y) = ( x, y + ax ).

Bukti

d = (x,y) maka menurut definisi d adalah bilangan bulat positip terbesar sehingga d │x, d│y,
hal ini berarti bahwa d > 0.

Jadi d = (x,y) atau d = (y,x).

Karena d merupakan bilangan bulat positip terbesar yang membagi x dan y, dan y membagi (-y),
maka d juga merupakan bilangan bulat positip terbesar yang membagi x dan (-y), sehingga d =
(x,-y).

Selanjutnya (x,y) │x berarti (x,y) │ax.

(x,y) │ax dan (x,y) │y → (x,y) │ax + y.

(x,y) │ax dan (x,y) │ax + y →(x,y) adalah pembagi persekutuan dari x dan y+ax, sehinggga
menurut dalil sebelumnya berarti (x,y) │(x,y+ax)

(x,y+ax) adalah pembagi persekutuan dari x dan (y+ax), hal ini berarti

(x,y+ax) │x dan (x,y+ax) │ (y+ax)

(x,y+ax) │x (x,y+ax) │ax

(x,y+ax) │x dan (x,y+ax) │y+ax (x,y+ax) │y


Karena (x,y+ax) adalah suatu pembagi persekutuan dari x dan y,

maka (x,y+ax) │ (x,y) . Jadi (x,y+ax) = (x,y)

Cara Lain Menentukan Faktor Persekutuan Terbesar dan Kombinasi Linear

Marilah kita ingat kembali dalil Algoritma Pembagian Euclides

Jika r1, r2 Z, dan r1 > r2 dan dengan proses algoritma pembagian dibentuk

Suatu barisan menurun bilangan-bilangan bulat r1, r2, r3, … , rk-1, rk, rk+1=0

Yaitu:

r1 = q1r2 + r3 , 0 ≤ r3 < r2.

r2 = q2r3 + r4 , 0 ≤ r4 < r2.

r3 = q3r4 + r5 , 0 ≤ r5 < r2.

r4 = q4r5 + r6 , 0 ≤ r6 < r2.

………………………………………

rk-2 = qk-2rk-1 + rk , 0 ≤ rk < r2.

rk-1 = qk-1rk + rk+1 , rk+1 = 0

Maka (r1,r2) = rk.

Sehingga diperoleh :

r3 = r1 – q1r2

r4 = r2 – q2r3

r5 = r3 – q3r4

r6 = r4 – q4r5

ri = ri-2 – qi-2ri-1

Berdasarkan persamaan tersebut di atas dapat diketahui bahwa bilangan bulat ri ditentukan oleh
r1-1 dan ri-2

Andaikata Algoritma pembagian Euclid di atas dinyatakan dalam bentuk x dan y, yaitu:

x1 = q1x2 + x3 , 0 ≤ x3 < x2.


y1 = q1y2 + y3 , 0 ≤ y3 < y2.

maka dengan cara yang sama (analog) diperoleh bentuk persamaan dalam x dan y yang secara
umum dinyatakan oleh xi = xi-2 – qi-2xi-1 dan yi = yi-2 – qi-2yi-1 .

Sehingga terdapat 3 persamaan dalam bentuk ri, xi, dan yi dan selanjutnya masing-masing
konstanta tersebut dapat dimulai dengan syarat awal yang berbeda.

r-1 = r1, ro = r2

x-1 = 1, xo = 0

y-1 = 0, ro = 1

Secara lengkap langkah untuk menentukan masing-masing konstanta dapat dilihat pada table
berikut ini:

i qi+1 ri xi yi
-1 * r1 (b) 1 0
0 … r2 (a) 0 1
1 … ….. …. …..
2 ….. ….. …. …..
3 ….. ….. …. …..
Dstnya. ….. ….. …. …..
Titik-titik pada masing-masing kolom diisi dengan menyesuaikan bentuk persamaan

ri = ri-2 – qi-2ri-1

xi = xi-2 – qi-2xi-1

yi = yi-2 – qi-2yi-1

Contoh.

1. Tentukan (42823,6409) dan tentukan selesaian kombinasi linearnya.


42823 x + 6409 y = 17

Jawab

Tabel untuk masing-masing konstanta adalah


i qi+1 ri xi yi
-1 - 42823 1 0
0 6 6409 0 1
1 1 4369 1 -6
2 2 2040 -1 7
3 7 289 3 -6-2(7)=-20
7-7(-
4 17 17 -1-7(3)=-22
20)=147
5 - 0 - -
Diperoleh (42823,6409) = 17 dan 17 = 42823(-22) + 6409(147)

E. FPB

FAKTOR PERSEKUTUAN TERBESAR (FPB)


FPB merupakan faktor paling besar dari gabungan beberapa bilangan
Cara mencari FPB

Menggunakan Himpunan Faktor Persekutuan


Contoh
Tentukan FPB dari bilangan 18 dan 24
Faktor 18 = {1, 2, 3, 6, 9, 18}
Faktor 24 = {1, 2, 3, 4, 6, 8, 12, 24}
Faktor persekutuan dari 18 dan 24 = { 1, 2, 3, 6}
FPB dari 18 dan 24 = 6
Tentukan FPB dari bilangan 75 dan 120
Faktor 75 = {1, 3, 5, 15, 25, 75}
Faktor 120 = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 8, 10, 12, 15, 20, 24, 30, 40, 60, 120}
Faktor persekutuan dari 75 dan 120 = {1, 3, 4, 15}
FPB dari 75 dan 120 = 15
Tentukan FPB dari bilangan 36, 48 dan 72
Faktor 36 = {1, 2, 3, 4, 6, 9, 12, 18, 36}
Faktor 48 = {1, 2, 3, 4, 6, 8, 12, 16,24, 48}
Faktor 72 = {1, 2, 3, 4, 6, 8, 9, 12, 18, 24, 36, 72}
Faktor persekutuan dari 36 dan 48 = {1, 2, 3, 4, 6, 12}
FPB dari 36 dan 48 = 12
Menggunakan Pohon Faktor
 Buatlah pohon faktor dari kedua bilangan yang dicari FPB-nya.
 Tulis faktorisasi primanya.
 Pilihlah bilangan pokok yang sama pada kedua faktorisasi prima.
 Jika bilangan tersebut memiliki pangkat yang berbeda, ambillah bilangan prima dengan pangkat
yang terendah.
Contoh

Tentukan FPB dari bilangan 20 dan 30

 2 dan 5 adalah bilangan prima yang sama-sama terdapat faktorisasi prima kedua pohon faktor.
 Pangkat terendah dari 2 adalah 1.
 Pangkat terendah dari 5 adalah 1.
 Maka FPB = 2 X 5 = 10

Tentukan FPB dari bilangan 48 dan 60


 2 dan 3 adalah bilangan prima yang sama-sama terdapat faktorisasi prima kedua pohon faktor.
 Pangkat terendah dari 2 adalah 2.
 Pangkat terendah dari 3 adalah 1.
 Maka FPB = 22 X 3 = 12
Tentukan FPB dari bilangan 18, 30, dan 36

 2 dan 3 adalah bilangan prima yang sama-sama terdapat faktorisasi prima ketiga pohon faktor.
 Pangkat terendah dari 2 adalah 1.
 Pangkat terendah dari 3 adalah 1.
 Maka FPB = 2 X 3 = 6
Menggunakan Tabel
 Buatlah cara tabel untuk mencari faktorisasi prima dari bilangan yang dicari FPB-nya.
 Beri tanda faktor prima yang sama.
Contoh
Tentukan FPB dari bilangan 21 dan 35
21 35

3 7 5

5 7 1

7 1 1

FPB = 3
Tentukan FPB dari bilangan 36 dan 54
36 54

2 18 27

2 9 27

3 3 9

3 1 3

3 1 1

FPB = 2 X 3 X 3
= 2 X 32 = 18
Tentukan FPB dari bilangan 75, 105 dan 120
75 105 120

2 75 105 60

2 75 105 30

2 75 105 15

3 25 35 5

5 5 7 1

5 1 7 1

7 1 1 1
FPB = 3 X 5 = 15
FAKTOR PERSEKUTUAN TERBESAR TEORI BILANGAN

Definisi 3… ( Sukirman,2006 )

Jika a dan b bilangan bulat yang sekurangnya satu diantaranya tidak sama dengan nol, maka faktor
persekutuan terbesar ( FPB ) dari a dan b diberi simbol (a,b) adalah suatu bilangan bulat positif,
misalnya d yang memenuhi :

(i) d|a dan d|b, serta

(ii) Jika e|a dan e|b, maka e ≤ d

Contoh :

a. ( -12,30) = 6

b. (8,15) = 1

c. (0,5) = 5

Teorema 3….( Rosen,2011 )

Jika a dan b bilangan bulat dengan (a,b) = d, maka (a/d,b/d) = 1 ( a/d dan b/d relatif prima )

Bukti

Diketahui :

- a dan b Є Bilanga bulat

- (a,b) = d

Dibuktikan

- ( a/d, b/d ) = 1

Pembuktian
Misal c Є Bilanga bulat positif sehingga c|( a/d) dan c|(b/d) maka dibuktikan c = 1

c|(a/d) maka ada bilangan bulat k sehingga (a/d ) = kc

c|(b/d) maka ada bilngan bulat l sehingga (b/d) = lc

( a/d ) = kc berarti a = dck

(b/d) = lc berarti b = dcl

a = dck dan b = dcl maka dc adalah faktor persekutuan a dan b

Karena d adalah FPB dari a dan b maka dc ≤ d berarti c = 1

Jadi terbukti ( a/d,b/d ) = 1

Teorema 3….( Rosen, 2011 )

Untuk a,b dan c bilangan bulat, maka ( a + cb,b ) = ( a,b )

Bukti

Diketahui a,b dan c bilangan bulat.

Dibuktikan

Faktor Persekutuan a+cb dan b = Faktor Persekutuan a dan b

Pembuktian

(i) Jika e faktor persekutuan a + cb dan b maka e faktor persekutuan a dan b

e faktor persekutuan a + cb dan b, dengan teorema keterbagian maka e | ( a + cb ) – cb= e|a sehingga e
faktor persekutuan a dan b

(ii) Jika f faktor persekutuan a dan b maka f faktor persekutuan a + cb dan b

f |a dan f | b dengan teorema linearitas keterbagian maka f | ( a + cb ) sehingga f faktor persekutuan a +


cb dan b

Dari (i) dan (ii) maka terbukti ( a + cb,b ) = ( a,b )

Definisi 3….( Rosen,2011 )

Jika a dan b bilangan bulat, maka terdapat kombinasi linear a dan b dalam bentuk ma + nb, dengan m
dan n bilangan bulat
Contoh :

Kombinasi linear dari 9m + 15n diantaranya -6 = 1.9 + (-1).15 ; -3 = (-2).9 + 1.15 dsb.

Bezout’s Theorem 3….( Rosen,2011 )

Jika a dan b bilangan bulat, maka ada bilangan bulat m dan n sehingga ma + nb = (a,b)

Bukti

Diketahui a dan b bilangan bulat

Dibuktikan

ma + nb = (a,b)

Pembuktian

Ambil S = { ma + nb > 0, dengan m dan n bilangan bulat } maka ada bilangan positif terkecil dari S, misal
d maka d = ma + nb, dengan m dan n bilangan bulat, akan ditunjukkan d|a dan d|b

(i) d|a berdasarkan Algoritma pembagian a = dq + r , 0 ≤ r < d

sehingga r = a – dq = a – q(ma + mb)

= a – qma – qmb

= a( 1 – qm ) – qmb

Ini berarti r adalah kombinasi linear a dan b, karena 0 ≤ r < d dan d bilangan positif terkecil maka r = 0
sehingga a = dq atau d|a

(ii) d|b berdasarkan Algoritma pembagian b = dq + r , 0 ≤ r < d

sehingga r = b – dq = b – q(ma + mb)

= b – qma – qmb

= b( 1 – qm ) – qma

Ini berarti r adalah kombinasi linear a dan b, karena 0 ≤ r < d dan d bilangan positif terkecil maka r = 0
sehingga b = dq atau d|b
Dari (i) dan (ii) telah ditunjukkan bahwa d bilangan bulat terkecil dari kombinasi linear a dan b adalah
faktor persekutuan a dan b.

Selanjutnya dibuktikan bahwa (a,b) = d

Misal diambil c adalah sembarang faktor persekutuan a dan b, maka c|a dan c|b dengan sifat linearitas
keterbagian c|( ma + nb ) atau c|d sehingga c|d

Maka terbukti (a,b) = d atau ma + nb = (a,b)

Teorema 3. ( Rosen,2011)

Bilangan bulat a dan b relatif prima jika dan hanya jika ada bilangan bulat m dan n yang memenuhi ma
+ nb = 1

Bukti

(i) Diketahui (a,b) = 1

Dibuktikan

ma + nb = 1

Pembuktian

(a,b) = 1 berdasarkan teorema Benzout maka ada m dan n bilangan bulat ma + nb = 1

(ii) Diketahui ma + nb = 1

Dibuktikan

(a,b) =1

Pembuktian

Misal (a,b) = d harus dibuktikan (a,b) = 1

(a,b) = d maka d|a dan d|b, menurut sifat linearitas keterbagian maka d|(ma + nb) = d|1 sehingga d = 1.
Terbukti (a,b) = 1

Dari (i) dan (ii) teorema terbukti.

Contoh :

1. Untuk a bilangan positif, tentukan FPB dari a dan a2 ( Rosen,2011: 99 )

Penyelesaian :
Faktor a : 1,a

Faktor a2 : 1,a,a2

Maka ( a, a2 ) = a

2. Buktikan bahwa FPB dari bilangan genap dan ganjil adalah ganjil!( Rosen,2011 : 99 )

Penyelesaian :

Diketahui :

a bilangan genap , maka a = 2k untuk bilangan bulat k

b bilangan ganjil, maka b = 2l + 1 untuk bilangan bulat l

Buktikan :

( a, b ) = ganjil

Pembuktian :

Misal (a,b) = d menurut teorema Benzout d = ma + nb

d = m2k + n(2l + 1)

= 2mk + 2nl + n

= 2(mk + nl ) + n

Menurut algoritma pembagian 0 ≤ n < 2, sehingga n = 1 maka

d = 2 (mk + nl ) + 1 merupakan bilangan ganjil.

Terbukti ( a, b ) = bilangan ganjil.

3. Buktikan Jika a dan b bilangan bulat dengan ( a,b ) = 1 maka ( a + b, a – b ) = 1 atau 2 ( Rosen,2011 : 99
)

Penyelesaian

Diketahui ;

( a,b ) = 1

Dibuktikan :

( a + b, a – b ) = 1 atau 2

Pembuktian :
Misal ( a + b, a – b ) = d dibuktikan d = 1 atau 2

( a + b, a – b ) = d maka d | ( a + b ) dan d | ( a – b )

Menurut sifat teorema keterbagian maka d | ( a + b + a – b ) sehingga d | 2a

Menurut sifat teorema keterbagian maka d | ( a + b – a + b ) sehingga d | 2b

d | 2a dan d | 2b menurut sifat teorema keterbagian d | (2a + 2 b)

sehingga d | 2 ( a + b ) yang berarti

d | 2 sehingga d = 1 atau d = 2

Jadi terbukti ( a + b , a – b ) = 1 atau 2

Diskuisikan :

1. Untuk a dan b bilangan bulat positif, Tentukan FPB dari a dan a + 2 !

2. Buktikan bahwa jika a dan b bilangan ganjil dan keduanya tidak nol, maka ( a,b ) = 2( )

3. Buktikan bahwa jika a,b dan c bilangan bulat sehingga (a,b) = 1 dan c | ( a + b ), maka ( c,a ) = ( c,b ) =
1

Jawaban diskusi

1. Faktor a = a ,1

Faktor a + 2 = 1, ( a+b )

Jadi ( a, ( a + 1 ) ) = 1

2. Diketahui

a dan b bilangan ganjil dan keduanya tidak nol

Dibuktikan

( a, b ) = 2( )

Pembuktian
a = 2k + 1 → k =

b = 2l + 1 → l =

Misal ( a,b ) = d maka d | a dan d | b

Sehingga d | ( 2k + 1 ) dan d | ( 2l + 1 ) berdasarkan sifat linearitas keterbagian maka

d | ( 2k + 1 + 2l + 1 )

d | ( 2k + 2l + 2 )

d | 2( + + 1 )

d | 2( – + - + 1 )

d|2( + )

d = ( a,b ) = 2 ( + )

3. Diketahui

( a, b ) = 1 dan c | ( a + b )

Dibuktikan

( c,a ) = ( c,b ) = 1

Pembuktian

c | ( a + b ) sehingga c | a dan c | b dengan c ≤ ( a,b )

sehingga c ≤ 1 karena c bilangan bulat maka c = 1

( c,a ) = ( 1,a ) = 1

( c,b ) = ( 1,b ) = 1

Terbukti ( c,a ) = ( c,b ) = 1


MATEMATIKA 3

Minggu, 06 Juli 2014

teori bilangan ( sifat - sifat FPB )

FAKTOR PERSEKUTUAN TERBESAR ( FPB )

Bag. Sifat – Sifat FPB

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

“Teori Bilangan”

Disusun oleh:

Alivatul Nurnandia

NIM. 210611085
Dosen Pengampu:

Kurnia Hidayati, M. Pd.

Jurusan/Prodi/Semester

Tarbiyah/PGMI/6

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

(STAIN) PONOROGO

2014

SIFAT – SIFAT FPB

A. Definisi dan sifat – sifat FPB I


1. Definisi
Sebuah bilangan bulat “b”dikatakan habis dibagi bilangan bulat “a”dan a 0 dan terdapat

bilangan bulat “c”, sehingga b = a . c, ditulis a | b


Contoh:
12 habis dibagi 4, karena 12 = 4 . 3 sehingga ditulis 4 | 12
Istilah lain untuk a | b ; a faktor dari b, a pembagi b, atau b kelipatan a.
2. Sifat – sifat
Beberapa sifat yang merupakan akibat dari definisi “faktor”. Meskipun pembagi tidak
dicantumkan, akan tetapi pembago diasumsikan tidak nol.
a. a | 0, 1 | a, a | a
 a 0 dapat ditulis a . 0 = 0
Contoh : 2 | 0 2 . 0 = 0

 1 | a dapat ditulis 1 . a = a
Contoh: 1 | 3 1 . 3 = 3

 a | a dapat ditulis m . a = a, dimana m = 1


Contoh: 5 | 5 1 . 5 = 5

b. a | 1 jika dan hanya jika a = ± 1


Contoh: - 1 | 1 , 1 | 1
c. Jika a | b dan c | d maka ac | bd
Contoh : 2 | 6 dan 4 | 8 maka 2 . 4 | 6 . 8 → 8 | 48
d. Jika a b dan b c maka a c

Contoh : 2 4 dan 4 16 maka 2 16

e. a b dan b a jika dan hanya jika a = ± b

Contoh : - 2 2 dan 2 2 maka 2 - 2

f. Jika a b dan b 0 maka a b

Contoh : 3 6 dan 6 0 maka 3 6

g. Jika a b dan a c maka a ( bx + cy ) untuk x dan y bilangan bulat sebarang

Contoh : : 5 10 dan 5 25 maka 5 ( 10 . 2 + 25 . 1)

5 ( 20 + 25 )

5 45

B. Definisi dan sifat – sifat FPB II


1. Definisi
FPB ( a, b ), memenuhi:
a. d | a dan d | b
b. Jika c | a dan c | b maka c | d dengan c b dan d 0

Contoh :
a. 12 | 36 dan 12 | 48
b. 6 | 36 dan 6 | 48 maka 6 | 12 dengan 6 ≤ 48 dan 12 > 0
 Sebagai ilustrasi:
36 = ( 1, 2, 3, 4, 9, 6, 6, 12, 18, 36 )
48 = ( 1, 2, 3, 4, 6, 8, 12, 16, 24, 48 )
Jadi faktor persekutuannya adalah ( 1, 2, 3, 4, 6, 12 )
Maka FPB ( 36, 48 ) = 12
 Kombinasi linier
FPB ( 36, 48 ) = 36 . ( -1 ) + 48 . 1
= - 36 + 48
= 12
2. Sifat – sifat
a. Sifat 1
Jika a dan b bilangan – bilangan bulat dan keduanya tidak nol maka ada bilangan – bilangan
bulat x dan y sedemikian sehingga
FPB (a,b) = ax + by
Contoh :
FPB (6,15) = 6 . 3 + 15 . ( -1 )
= 18 + ( - 15 )
=3

Bukti .
1) Himpunan S adalah himpunan semua kombinasi linier positif dari a dan b
S = {au + bv | au + bv 0; u, v bilangan – bilangan bulat }

Contoh : jika a = 6 dan b = 15, maka S adalah :


S = { 6 . (-2) + 15 . 1, 6 . (-1) + 15 . 1, 6 . 1 + 15 . 0, … }
= {3, 9, 6, … }
Kita mengamati bahwa 3 adalah bilangan bulat terkecil di dalam S.
Jadi 3 = FPB ( 6, 15 )
2) Dengan menggunakan alogaritma pembagian, kita dapat memperoleh q dan r sedemikian sehingga a =
qd + r, dimana 0 r d.r dapat kita tulis dalam bentuk

a = a – qd = a – q ( ax + by )
= a ( 1 – qx ) + b( - qy )
Jika r = 0 dan a = qd, atau ekuivalen dengan d | a. dengan demikian penalaran yang serupa, d | b.
Akibatnya d adalah faktor sekutu dari a dan b.
Contoh :
a = 12, b = 28, q = 2, d = 4, r = 4, maka
12 = 12 – 2 . 4 = 12 – 2 ( 12 . (-2) + 28 . 1 )
= 12 ( 1 – 2 . (-2)) + 28 ( - 2 . 1)
= 12 . 5 + 28 . ( - 2 )
= 60 + ( - 56 )
=4
Jadi 4 adalah FPB ( 12, 28 )
b. Sifat 2
Jika a dan b bilangan – bilangan bulat tidak nol maka himpunan
T = { ax + by | x, y bilangan – bilangan bulat }
Adalah himpunan semua kelipatan d = FPB ( a, b )
Bukti.
Karena d | a dan d | b, kita mengetahui d | ( ax + by ) untuk setiap x, y bilangan bulat. Dengan demikian
setiap anggota T adalah kelipatan dari d. d dapat ditulis d = + untuk suatu dan bilangan

bulat. Sedemikian sehingga sebarang kelipatan d adalah berbentuk


nd = n ( + )=a(n )+b(n )

Dengan demikian, nd adalah kombinasi arah dari a dan b, dengan definisi terletak di T.
Definisi.
Apabila bilangan bulat a dan b keduanya tidak nol di sebut bilangan prima jika FPB ( a, b ) = 1
Contoh :
6 = FPB ( 12, 30 )
Bukti.
T = { 12 . (-2) + 30 . 1, 12 . (-1) + 30 .1, 12 . 1 + 30 . 0, … }
= { 6, 18, 12, … }
Jadi FPB ( 12,30 ) = 6
c. Sifat 3
Jika a dan b bilangan prima dan keduanya tidak nol maka FPB ( a, b ) = 1. Sifat satu menjamin bahwa ada
bilangan bulat x dan y yang memenuhi
1 = ax + by. Konversnya, misalkan 1 = ax + by untuk suatu x dan y, dan d = FPB ( a, b ). Karena d | a dan d
| b, d | ( ax + by ), atau d | 1
Contoh :
FPB ( 3, 7 ) = 1
1 = 3 . (-2) + 7 . 1
= -6 + 7
=1
Karena 1 | 3 dan 1 | 7, 1 | ( 3 . (-2) + 7 . 1), atau 1 | 1
d. Sifat 4
Jika FPB ( a, b ) = d maka FPB (a/d, b/d ) = 1
Contoh :
FPB ( 8, 12 ) = 4 maka FPB ( , ) = 1 → ( 2, 3 ) = 1

e. Sifat 5
Jika a | c dan a | c, dengan FPB ( a, b ) = 1 maka ab | c
Contoh :
Jika 2 | 28 dan 2 | 28, dengan FPB ( 2, 7 ) = 1 maka 2.7 | 28 → 14 | 28
f. Sifat 6
Jika a | bc, dengan FPB ( a, b ) = 1, maka a| c
Contoh :
Jika 2 | 5.10, dengan FPB ( 2, 5 ) = 1, maka 2 | 10
g. Sifat 7
Misalkan a, bilangan – bilangan bulat, keduanya tidak nol dan d bilangan bulat positif. d = FPB ( a, b )
jika dan hanya jika:
1) d | a dan d | b
2) Jika c | a dan c | b maka c | d
Contoh :
2 = FPB ( 6, 8 ) jika dan hanya jika
1) 2 | 6 dan 2 | 8
2) Jika 2 | 6 dan 2 | 8 maka 2 | 2