Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM 1

“ANTENA PEMANCAR, ANTENA PENERIMA, DIAGRAM POLAR ANTENA DAN


PENGUKURAN PENGUATAN “

JTD-3A/KELOMPOK 3

Disusun oleh :

Muhammad novian r.r

1541160019

PROGRAM STUDI JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2018
ANTENA PEMANCAR

1. Tujuan
1.1 Mengoperasikan pemancar UHF dan mengetahui daya yang diradiasikan.
1.2 Mengerti kondisi match dan mis-match, antara beban pada ujung saluran koaksial
dan antenna pemancar.
1.3 Mengerti dasar-dasar antenna pemancar yang digunakan sebagai beban
1.4 Mengenal hubungan asymmetric, antenna batang setengah gelombang (rod
antenna) dan antenna dipole symetric setengah gelombang, menggunakan
rangkaian simetri dengan saluran koaksial.
1.5 Mengenal kualitas dan efektivitas rangkaian simetri ini, saat antenna matching.
1.6 Mengukur distribusi arus dan tegangan sepanjang setengah gelombang dipole dan
sepanjang rod antenna
1.7 Menentukan dengan pengukuran, polarisasi gelombang yang diradiasikan
1.8 Mengerti perubahan pada cirri-ciri antenna, menghasilkan perubahan
perbandingan yang baik.

2. Alat dan instrument yang digunakan


1 Pemancar UHF
1 Antena 2-elemen
1 Setengah gelombang, folded dipole (dari antenna Yagi)
1 kabel koaks (50 ohm), panjang 50 cm
1 hand probe untuk indikasi arus
1 hand probe untuk indikasi tegangan

3. Set-up perangkat
a. Siapkan alat dan instrument yang digunakan
b. Pasang kabel power pada pemancar UHF
c. Hubungkan antenna folded dipole dengan pemancar UHF menggunakan kabel
koaksial (50Ω).
d. Nyalakan saklar listrik
e. Nyalakan power pemancar UHF
f. Atur Pout pemancar 0,5W
a. Antena Pemancar
S1
1
S2
0

P Out Sensitivitas

b. Pengukuran pemancar dan antena

S1 S1
1 1
S2 S2
0 0

P Sensitivitas P Sensitivitas
Out Out

c. Pengukuran polarisasi

S1
1
S2
0

P Sensitivitas
Out

S1
1
S2
0

P Out Sensitivitas

d. Pengukuran distribusi arus dan tegangan


Distribusi Arus

Distribusi Tegangan

4. Prosedur percobaan
4.1 Pemancar
4.1.1 Pengoperasian
Pemancar membangkitkan frekuensi 434 MHz. Daya keluaran dapat diatur
dengan control 1 (Pout) antara 0 sampai 2 Watt.

S1
1
S2
0

P Out Sensitivitas

Meter menunjukkan daya yang dibangkitkan oleh pemancar, saat switch


S1 ke atas untuk mengatur “Pout”.
Untuk pengukuran matching, dihubungkan secara langsung didalamnya
antara unit pemancar dengan output BNC socket, dengan salah satu
penunjukkan :
a. Tegangan maju (forward voltage), switch S1 ke “SWR” (Standing
Wave Ratio) dan S2 ke “UF” (Forward Voltage).
b. Untuk keadaan mis-match, tegangan balik (reflected voltage), ketika
S2 diatur ke “UR”

Control 2 (sensitivity), digunakan untuk mengatur sensitivitas meter untuk


pengukuran SWR

Contoh, control ini diatur penunjukan jarum 100 % (f.s.f) untuk forward
voltage, dengan mengatur S2 pada “UR” reflection factor dapat dibaca
langsung dari skala meter.

1+𝑟 𝑈𝑅
𝑆𝑊𝑅 = dengan r =
1−𝑟 𝑈𝐹

Antenna dapat dipasang a pada bahan dielektrik, secara langsung pada


pemancar.

4.1.2 Pengukuran pemancar


Hubungkan folded dipole dengan kabel koaksial ke output pemancar.
S1 ke posisi “Pout” dan S2 pada “UF”, amati perubahan daya output dengan
mengatur control 1 antara 0 sampai 2 Watt.
Amati daya pemancar untuk perubahan saat obyek logam di bawa
mendekati antenna. Hindari hal ini, agar pengoperasianya dalam kondisi
normal.
Hitung panjang gelombang pada frekuensi 434 MHz, menggunakan
persamaan,
𝑐
𝝀 = 𝑓 dengan c = 300.000 km/sec kecepatan cahaya

4.2 Antena pemancar


Antenna yang dimaksud adalah dua jenis antenna yang dipergunakanbdalam
percobaan :
a. Folded dipole, dimatch dengan kabel koaksial 50 Ω yang menggunakan stub
λ/2 seperti gambar 16, dan
b. Double antenna, terdiri dari 2 dipole lurus yang menurut aturan kopling
induktif parsial dan transformasi impedansi feeder, dapat juga dihubungakan
dengan kabel koaksial.
Susunan antenna ini, satu dipole dengan panjang lurus terhadap yang lain dan
antenna ini diarahkan sesuai yang diinginkan, seperti pada bagian sebelumnya.
4.3 Pengukuran Pemancar dan Antena
4.3.1 Mengukur matching antenna
a. Hubungkan folded dipole dengan kabel koaksial pada pada output
pemancar dan atur daya output 2W. set switch pada SWR, set
tegangan Uf pada 100%
b. Dalam Pensetingan switch “UR”, presentase reflected forward voltage
dapat langsung dibaca pada meter.
c. Tentukan factor refleksi dari antenna :
UR
R= UF

d. Hitung reflected power, PR


PR = r2 . Pout
e. Hitung daya yang diradiasikan uleh antenna, P𝜏
P𝜏 = Pout - PR = Pout. (1-r2)
f. Hitung SWR antenna
SWR = 1+r
1-r
Tunjukkan bagaimana besar tegangan fluktuasi yang direfleksikan
ketika obyek logam yang menimbulkan pengaruh pada antenna. Ini
harus dihindari dalam pemakaian praktek.
g. Ulangi pengukuran dan perhitungan diatas, menggunakan antenna
double dipole.
4.3.2 Pengukuran polarisasi
a. Pasang folded dipole pada tiang pemancar dan cari polarisasi
horizontal
b. Atur daya output pemancar mendekati 0.5 W
c. Gunakan hand probe untuk indikasi tegangan dan pada jarak kurang
lebih 1cm, tunjukkan bidang polarisasi, periksa tegangan yang
ditunjukkan hand probe saat probe diputar hingga 90 derajat pada
bidang polarisasi.
d. Ulangi pengukuran, dengan menggunakan antenna double dipole
e. Putar tiang, bersama dengan double dipole 180 derajat dan amati hand
probe, perbedaan dalam radiasi pada posisi depan dan belakang
antenna.
f. Amati juga bidang polarisasi.
4.3.3 Pengukuran distribusi arus dan tegangan
a. Untuk tujuan pengetesan, double dipole lurus digunakan secara inisial.
Atur daya pemancar mendekati 0.5 W. Gerakkan hand probe untuk
indikasi tegangan sepanjang antenna, pada jarak mendekati 1 cm dari
antenna
b. Amati respon probe (dengan mengatur sensitivitas probe pada level
yang sesuai), pada kuat medan E dan bandingkan dengan medan E.
Ulangi pengukuran dengan folded dipole, distribusi arus diukur dengan
hand probe indikasi arus.
c. Kurangi daya pemancar kurang lebih 0.1 W. gerakkan hand probe
indikasi arus sepanjang dipole. Amati penyimpangan pada probe meter
dan bandingkan distribusi arus.

5. Hasil Percobaan
𝑐 3 × 108
𝜆= = = 0,691 𝑚
𝑓 434 × 106

5.1 Pengukuran Matching Antena


Antena Folded dipole

𝑈𝑅 Pτ = Po-PR 1+𝑟
Pout (Watt) UF UR r = 𝑈𝐹 PR= r2.Pout SWR=
1−𝑟
atau Po. (1- r2)
2W 100% 10% 0.1 0.02 W 1.98 W 1.222

Antena Double dipole

𝑈𝑅 Pτ = Po-PR 1+𝑟
Pout (Watt) UF UR r = 𝑈𝐹 PR= r2.Pout 2
SWR= 1−𝑟
atau Po. (1- r )
2W 100% 13% 0.13 0.338 W 1,9662 W 1.298
5.2 Pengukuran Distribusi Arus

Double Dipole Folded Dipole

Jarak Arus Jarak Arus

0 4 0 4
3 3 3 3
6 2 6 2
9 2 9 1
12 1 12 1
15 1 15 1
18 1 18 1
21 2 21 1
24 3,5 24 2
27 4 27 4,5

Double Dipole
5
4 4
4 3.5
3
3
2 2 2
2
1 1 1
1

0
0 3 6 9 12 15 18 21 24 27

Folded Dipole
5 4.5
4
4
3
3
2 2
2
1 1 1 1 1
1

0
0 3 6 9 12 15 18 21 24 27
ANTENA PENERIMA

1. Tujuan
a. Mengetahui matching polarisasi antena pemancar dan penerima
b. Mengetahui hambatan dalam transmisi antara pemancar dan penerima, dapat
menyebabkan interferensi pada sinyal.
c. Mengenal kemungkinan isolasi sinyal oleh pengoperasian sistem yang menggunakan
diversi polarisasi.
d. Menghitung pelemahan ruang bebas ( free space ) antara pemancar dan penerima.
e. Menentukan perbedaan level sinyal dan pelemahan dalam “ decibel “ (dB ).
f. Mengukur penurunan kuat medan sinyal, dengan bertambahnya jarak antena
penerima.

2. Alat dan Instrumen yang digunakan


a. 1 pemancar UHF dengan antenna
b. 1 penerima UHF dengan antenna
c. 1 antena 2 elemen
d. 1 folded dipole setengah – gelombang, dari antenna Yagi
e. 2 kabel koaksial dengan konektor BNC ( 50Ω )
f. 1 handprobe untuk indikasi tegangan
g. 1 tiang pemasangan dengan beberapa elemen director ( dari antena Yagi )

3. Set up Perangkat
a. Siapkan alat dan instrument yang digunakan
b. Pasang kabel power pada pemancar dan penerima UHF
c. Letakkan pemancar dan penerima UHF berjarak 0,5m
d. Pasang antenna folded dipole pada pemancar UHF dan antenna double dipole pada
penerima UHF secara horizontal kemudian vertical (antenna bergantian)
e. Pasang kabel koaksial (50Ω) pada antenna dan sambungkan ke pemancar atau
penerima UHF
f. Nyalakan saklar listrik
g. Nyalakan power pemancar dan penerima UHF
Rangkaian Percobaan
a. Antena pemancar dan penerima dalam posisi Horisontal
Antena Folded Dipole Antena Double Dipole

D= 0,5

RF In DETECTOR
S1
1 1
S2 SENS
0 0

P Sensitivitas UHF RECEIVER


Out

b. Antena pemancar dalam posisi horizontal dan antenna penerima dalam posisi
vertical

Antena Double Dipole


Antena Folded Dipole

D= 0,5 m

RF In DETECTOR
S1
1
1
S2 SENS
0
0

P Sensitivitas UHF RECEIVER


Out

c. Cross-Polarisasi

Antena Double Dipole


Antena Folded Dipole

Elemen Director Antena Yagi

RF In DETECTOR
S1
1 1
S2 SENS
0 0

P Sensitivitas
UHF RECEIVER
Out
d. Co-Polarisasi

Antena Double Dipole


Antena Folded Dipole

Elemen Director Antena Yagi

RF In DETECTOR
S1
1 1
S2 SENS
0 0

P Sensitivitas
UHF RECEIVER
Out

4. Prosedur Percobaan
a. Unit Penerima

Pemancar Penerima

Gambar1. Unit Pemancar dan Penerima

Pemancar diletakkan berjauhan dengan penerima

1. Frekuensi tinggi, melalui detector HF dan mengatur penguatan d.c, dapat


dihubungkan ke test meter pada socket BNC “ Penerima UHF “.
2. Antena penerima dipasang pada tiang yang telah disediakan pada unit penerima,
tiang dapat diputar dan sudutnya dapat dirubah atau diatur sesuai dengan
pembacaan pada skala yang ada untuk pengaturan antena.
3. Jarak antena pemancar dan penerima , dalam praktek, lebih kecil 10 kali dari
panjang gelombang signal yang ditransmisikan.
4. Tidak boleh ada bahan logam yang sifatnya memantulkan dalam ruang atau
daerah pengukuran. Hal ini menyebabkan terjadinya gelombang berdiri (
standing wave ).
b. Co – Polarisasi dan Cross – Polarisasi

Gambar 2. Polarisasi Horisontal dan Vertical

1. Memasang Folded dipole horizontal pada pemancar dan atur daya pemancar 0,1
W
2. Memasang antena 2 elemen pada penerima, juga horisontal, dengan dipole yang
lebih pendek diarahkan ke pemancar. Hubungkan input penerima dan atur kontrol
“ Sensitivity “ untuk penyimpangan jarum yang besar.
3. Mengamati Pembacaan pada meter penerima dan catat hasilnya.
4. Memasang antena 2 elemen pada penerima dengan posisi vertikal.
5. Mengamati pembacaan pada meter penerima dan catat hasilnya.
Apa yang terjadi pada pembacaan meter penerima, bila daya pemancar dinaikkan.
Perkirakan pelemahan yang dihasilkan oleh pemilihan polarisasi yang salah,
misalnya apakah dengan adanya polarisasi isolasi tersebut lebih besar ( atau cross
– polarisasi ) dapat dicapai ?

c. Pengukuran dan Perhitungan untuk pelemahan antara Antena Pemancar dan


Penerima.
1. Menggunakan Nomograph , tentukan pelemahan ruang bebas pada frekuensi 434
MHz, untuk jarak transmisi seperti dalam tabel :

Jarak 3m 30 m 300 m 3 km 30 km

Perhitungan 34,74 54,74 74,74 94,74 -

[ Pelemahan Ruang Bebas ] dB dB dB dB


2. Menempatkan pemancar dan penerima sekitar 1 m
3. Mengurangi daya pemancar kurang lebih 0,1 W untuk penyimpangan skala tengah
pada meter penerima.
4. Menambahkan jarak antena pemancar dan penerima sekitar 1 m.
5. Menaikkan daya pemancar, sehingga diperoleh pembacaan meter yang sama pada
penerima sebelumnya.

6. Bandingkan, berapa daya pemancar yang dinaikkan antara kedua antena, sehingga
diperoleh sinyal penerimaan yang sama sebelum jarak dinaikkan.
7. Bila memungkinkan, naikkan jarak antena dari 1 m sampai 2 m. Sekali lagi, amati
daya pemancar, bila perlu, pertahankan penerimaan signal konstan.
8. Pertahankan handprobe untuk indikasi tegangan di tengah, antara antena pemancar
dan penerima, pada posisi co – polarisasi dan cross – polarisasi.
Apa pengaruh pada meter penerima.

9. Menempatkan elemen director antena Yagi, dalam sumbu radiasi antara antena
pemancar dan penerima, juga dalam posisi co – polarisasi dan cross – polarisasi.
Amati apa pengaruhnya?

5. Hasil Percobaan
5.1 Co-Polarisasi dan Cross Polarisasi
 Antenna pemancar Folded Dipole
Polarisasi Ppemancar (Watt) RFin
Co-Polarisasi (H) 0.1 Watt 100%
Cross-Polarisasi (V) 0.1 Watt 10%
 Bila daya pemancar dinaikkan, maka nilai RFin juga meningkat (antenna
dalam posisi Cross-Polarisasi (V) ).
Ppemancar (Watt) RFin
0.1 Watt 10%
0.25 Watt 30%

 Pelemahan akan semakin besar apabila pemilihan polarisasi salah.


RFin 𝑃
Pelemahan : 𝑎(𝑑𝐵) = 10 log 𝑅 𝑃𝜏
100% 0 dB
10% -10 dB

5.2 Pengukuran dan Perhitungan untuk pelemahan antara antenna pemancar dan
penerima
Pelemahan Antena Menggunakan Nomograph
Jarak 3m 30 m 300 m 3 km 30 km
Pelemahan Ruang Bebas 35 dB 54 dB 74 dB 94 dB -

4𝜋𝑅
Perhitungan Pelemahan Antena Menggunakan rumus : N = 20 log ( )
𝜆
Jarak 3m 30 m 300 m 3 km 30 km

Pelemahan Ruang Bebas 34 dB 54 dB 74 dB 94 dB -

 Pengukuran daya pemancar dengan berdasarkan jarak yang ditentukan


Jarak Rf in Daya Pemancar
0,5 m 50 % 0.1 watt
1m 50 % 0.2 watt

 Tabel pengukuran tanpa yagi dengan jarak 1 meter


Polarisasi Rf in Daya Pemancar
Co-polarisasi 50 % 0.2 watt
Cross Polarisasi 20 % 0.2 watt

 Tabel pengukuran dengan yagi posisi horisontal pada penerima


Polarisasi Rf in Daya Pemancar
Co-polarisasi 100 % 0.2 watt
Cross Polarisasi 25 % 0.2 watt
 Tabel pengukuran dengan yagi posisi vertikal pada penerima
Polarisasi Rf in Daya Pemancar
Co-polarisasi 10 % 0.2 watt
Cross Polarisasi 40 % 0.2 watt

 Tabel perbandingan P.transmitter dan P.receiver


P. Transmitter P. Receiver
Polarisasi
Dengan yagi Tanpa yagi Dengan yagi Tanpa yagi
Co-polarisasi 2 Watt 2 watt 100 % 40 %
Cross Polarisasi 2 Watt 2 watt 40 % 20 %

 Apa pengaruh pada meter penerima?


RFin Hand probe tegangan pada posisi Co-Polarisasi (H) lebih besar dari RFin
hand probe tegangan pada posisi Cross-Polarisasi (V)

 Pengukuran RFin dengan elemen director antena yagi dalam sumbu radiasi
antara antena pemancar dan antena penerima (RFin awal 50%, jarak antena
2m).
Polarisasi RFin Elemen director antena yagi
Co-Polarisasi (H) 100%
Cross-Polarisasi (V) 10%

 Apa pengaruhnya pada meter penerima?


RFin Elemen director antena yagi pada posisi Co-Polarisasi (H) lebih besar
dari RFin hand probe tegangan pada posisi Cross-Polarisasi (V). Hal tersebut
dikarenakan jika Elemen director antena yagi pada posisi Co-Polarisasi (H)
maka polarisasi Elemen sama dengan antena pemancar dan penerima,
sedangkan jika Elemen director antena yagi pada posisi Cross-Polarisasi (V)
maka polarisasi Elemen tidak sama dengan antena pemancar dan penerima.
DIAGRAM POLAR ANTENA DAN PENGUKURAN PENGUATAN

A. TUJUAN
1. Menentukan karakteristik pengarahan, celah antenna atau jarak antara elemen dan
lebar arahan setengah gelombang (half wave beam width) antenna.
2. Menggambarkan diagram polar horizontal dan vertical antenna dari pengukuran yang
dilakukan pada linier atau koordinat polar.
3. Mengartikan gambar diagram polar, sehingga menerti bentuk “Side-lobe”, “Zero-
point”, dan “Front-to-back ratio”.
4. Mengenal hubungan antara maksud pengarahan dan penguatan antenna.
5. Menentukan penguatan antenna dengan dengan perhitungan atau pengukuran.

B. ALAT DAN INSTRUMEN YANG DIGUNAKAN


1. 1 pemancar UHF, dengan antenna
2. 1 penerima UHF, dengan antenna yang dapat diputar
3. 1 antena double dipole
4. 1 antena folded dipole
5. 2 kabel koaksial dengan konektor BNC (50Ω)

C. SET UP PERANGKAT
1. Siapkan alat dan instrument yang digunakan
2. Pasang kabel power pada pemancar dan penerima UHF
3. Letakkan pemancar dan penerima UHF berjarak 0,5m
4. Pasang antenna folded dipole pada pemancar UHF dan antenna double dipole pada
penerima UHF secara horizontal kemudian vertical (antenna bergantian)
5. Pasang kabel koaksial (50Ω) pada antenna dan sambungkan ke pemancar atau
penerima UHF
6. Nyalakan saklar listrik
7. Nyalakan power pemancar dan penerima UHF
8. Atur Pout pemancar 0,5W
9. Atur sensitivity pada penerima UHF sehingga diperoleh RFin maksimal
D. PROSEDUR PERCOBAAN
 Polar Horisontal
Diagram polar antena horizontal, antena dua elemen dan dipole folded
RF In DETECTOR S1
1 1
SENS S2
0 0

P Sensitivitas
UHF RECEIVER
Out

Gambar Layout percobaan Pemancar dan Penerima

1. Pertama menggunakan folded dipole pada pemancar, dipasang pada tiang


dielektrik, secara horizontal.
2. Sebagai antenna tes, antenna 2-elemen dipasang pada tiang penerima, juga secara
horizontal.
3. Pemasangan kedua antena dengan jarak 0,5 m dan atur daya sebesar 0,5 W untuk
pembacaan maksimum pada meter penerima.
4. Putar antena penerima 1800, perstep 100, searah jarum jam; perhatikan nilai pada
meter penerima setiap step dan semua nilai sesuai dengan pengaturan sudut, pada
diagram koordinat polar.
5. Sekarang ganti dua antena dengan yang lain dan ulangi pengukuran untuk folded
dipole pada penerima.
 Polar Vertikal
Diagram polar antena vertical, antena dua elemen dan dipole folded

RF In DETECTOR S1
1 1
SENS S2
0 0

P Sensitivitas
UHF RECEIVER
Out

1. Pertama menggunakan folded dipole pada pemancar, dipasang pada tiang


dielektrik, secara vertical.
2. Sebagai antenna tes, antenna 2-elemen dipasang pada tiang penerima, juga secara
vertical.
3. Pemasangan kedua antena dengan jarak 0,5 m dan atur daya sebesar 0,5 W untuk
pembacaan maksimum pada meter penerima.
4. Putar antena penerima 1800, perstep 100, searah jarum jam; perhatikan nilai pada
meter penerima setiap step dan semua nilai sesuai dengan pengaturan sudut, pada
diagram koordinat polar.
5. Sekarang ganti dua antena dengan yang lain dan ulangi pengukuran untuk folded
dipole pada penerima.

Diagram polar antena horizontal, dipole folded dan antenna dua elemen

RF In DETECTOR S1
1 1
SENS S2
0 0

P Sensitivitas
UHF RECEIVER
Out

Diagram polar antena vertikal, dipole folded dan antenna dua elemen

RF In DETECTOR S1
1 1
SENS S2
0 0

P Sensitivitas
UHF RECEIVER
Out
E. HASIL PERCOBAAN
5.1. Diagram Koordinat Polar
 Polarisasi Horisontal

Antena Folded Dipole Antena 2 Elemen


Pemancar Pemancar
Derajat Rfin Derajat Rfin
0° 100% 0° 100%
10° 100%
10° 100%
20° 100%
20° 100%
30° 100% 30° 70%
40° 20%
40° 70%
50° 10%
50° 60%
60° 10% 60° 60%
70° 10%
70° 55%
80° 10%
80° 50%
90° 10% 90° 40%
100° 10%
100° 30%
110° 10%
110° 30%
120° 10% 120° 15%
130° 10%
130° 10%
140° 10%
140° 5%
150° 10% 150° 0%
160° 10%
160° 0%
170° 15%
170° 0%
180° 20% 180° 0%
Folded Dipole sebagai Pemancar (horizontal)

350°360°
100% 10°20°
340° 30°
330° 80% 40°
320° 50°
60%
310° 60°
300° 40% 70°
290° 20% 80°
280° 0% 90°
260° 100°
250° 110°
240° 120°
230° 130°
220° 140°
210° 150°
200°190° 160°
170°
180°
Double Dipole sebagai Pemancar (horizontal)

350°360°
100% 10°20°
340° 30°
330° 80% 40°
320° 50°
60%
310° 60°
300° 40% 70°
290° 20% 80°
280° 0% 90°
260° 100°
250° 110°
240° 120°
230° 130°
220° 140°
210° 150°
200°190° 160°
170°
180°
 Polarisasi Vertical

Antena Folded Dipole Antena 2 Elemen


Penerima Penerima
Derajat Rfin Derajat Rfin
100% 100%
0° 0°
100% 100%
10° 10°
100% 95%
20° 20°
80% 90%
30° 30°
80% 80%
40° 40°
75% 80%
50° 50°
70% 60%
60° 60°
60% 60%
70° 70°
60% 50%
80° 80°
50% 40%
90° 90°
50% 40%
100° 100°
30% 25%
110° 110°
30% 25%
120° 120°
15% 15%
130° 130°
10% 10%
140° 140°
0% 10%
150° 150°
0% 0%
160° 160°
0% 0%
170° 170°
0% 0%
180° 180°
Folded Dipole sebagai Pemancar (vertical)

350°360°
100% 10° 20°
340° 30°
330° 80% 40°
320° 50°
60%
310° 60°
300° 40% 70°
290° 20% 80°
280° 0% 90°
260° 100°
250° 110°
240° 120°
230° 130°
220° 140°
210° 150°
200°190° 170°160°
180°
Double Dipole sebagai Pemancar (vertical)

350°360°
100% 10° 20°
340° 30°
330° 80% 40°
320° 50°
60%
310° 60°
300° 40% 70°
290° 20% 80°
280° 0% 90°
260° 100°
250° 110°
240° 120°
230° 130°
220° 140°
210° 150°
200°190° 170°160°
180°