Anda di halaman 1dari 40

BAB l

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Salah satu tonggak penting dalam pengembangan ekonomi Syariah di

Indonesia adalah beroperasinya perbankan Syariah yang manakala sejak

diterbitkannya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas

undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan memungkinkan bagi

bank-bank Konvensional menjalankan Dual Banking System atau Bank

Konvensional tersebut dapat mendirikan divisi Syariah.

Dengan adanya undang-undang tersebut bank-bank konvensional mulai

melirik dan membuka unit-unit usaha Syariah. Tak heran jika perkembangan

perbankan Syariah mulai pesat di Indonesia. Sebelumnya pada bank maupun unit

syariah hanya boleh melayani calon nasabah di kantor cabang syariah atau kantor

cabang pembantu.

Namun sejak Office-Channeling yang didasari Peraturan Bank Indonesia

No. 8/3/PBI/2006 tentang Perubahan Kegiatan Usaha Bank Umum Konvensional

Menjadi Bank Umum Yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip

Syariah Dan Pembukaan Kantor Bank Yang Melaksanakan Kegiatan Usaha

Berdasarkan Prinsip Syariah Oleh Bank Umum Konvensional dan berlaku efektif

Mei 2007 pelayanan jasa financing, seperti pembukuan rekening, setoran, transfer,

kliring, dan tarik tunai bisa dilakukan di cabang bank umum yang memiliki unit

Syariah. Bank Islam (Islamic bank) adalah bank yang pengoperasiannya


disesuaikan dengan prinsip syariat Islam. Saat ini banyak istilah yang diberikan

untuk menyebut entitas bank Islam selain istilah bank Islam itu sendiri, yakni

bank tanpa bunga (interest-free bank), bank tanpa riba (lariba bank), dan bank

syariah (shari’a bank). Sebagaimana akan dibahas kemudian, di Indonesia secara

teknis yuridis penyebutan bank Islam mempergunakan istilah resmi “bank

syariah”, atau yang secara lengkap disebut “bank berdasarkan prinsip syariah”.

Konsep teoritis mengenai Bank Islam muncul pertama kali pada tahun

1940-an, dengan gagasan mengenai perbankan yang berdasarkan bagi hasil.

Berkenaan dengan ini dapat disebutkan pemikiran-pemikiran dari penulis antara

lain Anwar Qureshi (1946), Naiem Siddiqi (1948) dan Mahmud Ahmad (1952).

Uraian yang lebih terperinci mengenai gagasan pendahuluan mengenai perbankan

Islam ditulis oleh ulama besar Pakistan, yakni Abul A’la Al-Mawdudi (1961)

serta Muhammad Hamidullah (1944-1962) . Rintisan praktek perbankan Islam di

Indonesia dimulaipada awal periode 1980-an, melalui diskusi-diskusi bertemakan

bank Islam sebagai pilar ekonomi Islam.

Pertumbuhan bank syariah di Indonesia sendiri diawali dengan

dikeluarkannya Undang–Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang

kemudian disempurnakan oleh Undang–Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang

Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang

memberikan peluang yang lebih luas bagi Bank Syariah untuk menyelenggarakan

kegiatan usaha, termasuk pemberian kesempatan kepada bank umum

konvensional untuk membuka kantor cabang yang khusus melaksanakan kegiatan

2
berdasarkan prinsip syariah atau bahkan mengkonversi diri secara total menjadi

Bank Syariah.

1.2 Rumusan Masalah

1. Jelaskan konsep dasar operasionalisasi sistem syariah ?

2. Klasifikasikan produk bank syariah di Indonesia ?

3. Deskripsikan system penghimpunan dana, penyaluran, atau pembiayaan

dana ?

1.3 Tujuan / Manfaat

1. Untuk Mengetahui konsep dasar operasionalisasi, prinsip-prinsip dasar

operasional bank syariah, dan produk-produk bank syariah di Indonesia.

2. Untuk Mengetahui sistem penghimpunan dana, penyaluran, atau

pembiayaan dana dalam produk bank syariah.

3. Untuk Mengetahui pelayanan jasa dalam produk bank syariah.

3
BAB Il

PEMBAHASAN

2.1 KONSEP PERBANKAN SYARIAH

Bank Syari’ah dalam menjalankan usahanya tidak dapat dipisahkan dari

konsep-konsep syari’ah yang mengatur produk dan operasionalnya. Konsep

dasar syari’ah akan dijadikan pijakan dalam mengembangkan produk bank

syari’ah. Oleh karena itu, dalam makalah ini disusun untuk memberikan

wacana mengenai konsep dasar syari’ah dalam pengembangan produk bank

syari’ah.

Topik-topik yang dibahas dalam makalah ini meliputi: konsep dasar

operasionalisasi sistem syari’ah, prinsip-prinsip dasar operasional Bank

Syari’ah, operasional produk bank syari’ah di Indonesia.

2.2 KONSEP DASAR OPERASIONALISASI SISTEM SYARIAH

Konsep negara hukum yang tercantum dalam konstitusi Indonesia

memberikan dampak terhadap subjek hukum baik warga negara atau badan

hukum, sehingga setiap perbuatan yang dilakukan oleh subyek hukum wajib

memiliki dasar hukum, mengikuti hukum yang berlaku, dan tidak melanggar

peraturan-peraturan yang ada. Berdasarkan pasal 7 ayat (1) Undang-Undang

Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan,

jenis dan heirarki Peraturan Perundang-Undangan yang dijadikan sumber

hukum di Indonesia, baik materiil maupun formil, adalah sebagai berikut:

4
1. Undang-Undang Dasar Dasar Negara Republik Indonesia

Tahun 1945

2. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang

3. Peraturan Pemerintah

4. Peraturan Presiden

5. Peraturan Daerah

A. Pasal 33 Undang-Undang Dasar Tahun 1945

Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945 dalam ilmu hukum

disebut sebagai sumber dari segala sumber hukum. UUD Tahun 1945

menempati posisi teratas dalam heirarki perundang-undangan sebagaimana

yang tedapat pada pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004

tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan di atas. Peletakan

UUD 1945 pada posisi ini disebabkan kedudukannya yang urgen bagi

negara, yaitu sebagai salah satu syarat terbentuknya sebuah negara.

Menurut Hans Kalsen Undang-Undang Dasar dikategorikan sebagai

Grundnormen atau norma dasar yang menjadi payung bagi peraturan-

peraturan yang berada dibawahnya. Aturan dasar pada ranah

perekonomian terdapat dalam Pasal 33 UUD Tahun 1945 yang berbunyi:

1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas

asas kekeluargaan.

2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan

yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

5
3. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung

didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-

besarnya kemakmuran rakyat.

4. Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas

demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi

berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian,

serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan

ekonomi nasional.

5. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal

ini diatur dalam undang-undang.

B. UU No.7 Tahun 1992

Sejak diberlakukannya UU No.7 Tahun 1992, yang memosisikan

bank Syariah sebagai bank umum dan bank perkreditan rakyat,

memberikan angin segar kepada sebagian umat muslim yang anti-riba,

yang ditandai dengan mulai beroperasinya Bank Muamalat Indonesia

(BMI) pada tanggal 1 Mei 1992 dengan modal awal

Rp.106.126.382.000,00. Namun bukan hanya itu, Tercatat bahwa bank-

bank (pedesaan) Islam pertama di Indonesia adalah BPR ”Mardatillah”

(BPRMD) dan BPR “Berkah Amal Sejahtera”. Keduanya beroperasi atas

dasar hukum Islam (syariah) dan terletak di Bandung. Keduanya mulai

mengoprasikan usahanya pada tanggal 19 Agustus 1991.

Meskipun UU No.7 Tahun 1992 tersebut tidak secara eksplisit

6
menyebutkan pendirian bank syariah atau bank bagi hasil dalam pasal-

pasalnya, kebebasan yang diberikan oleh pemerintah melalui deregulasi

tersebut telah memberikan pilihan bebas kepada masyarakat untuk

merefleksikan pemahaman mereka atas maksud dan kandungan peraturan

tersebut.

C. UU No.10 Tahun 1998

Arah kebijakan regulasi ini dimaksudkan agar ada peningkatan

peranan bank nasional sesuai fungsinya dalam menghimpun dan

menyalurkan dana masyarakat dengan prioritas koperasi, pengusaha kecil,

dan menengah serta seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi. Karena

itu, UU No.10 Tahun 1998 tentang perubahan atas undang-undang No.7

Tahun 1992 hadir untuk memberikan kesempatan meningkatkan peranan

bank syariah untuk menampung aspirasi dan kebutuhan masyarakat

Dalam pasal 6 UU No.10 Tahun 1998 ini mempertegas bahwa:

 Pertama, Bank Umum adalah bank yang menyelesaikan kegiatan

usaha secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah yang

dalam kegiatan usahanya memberikan jasa dalam lalu lintas

pembayaran.

 Kedua, Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan

kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan Prinsip

Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu

lintas pembayaran.

7
Dalam UU No.10 Tahun 1998 ini pun memberi kesempatan bagi

masyarakat untuk mendirikan bank yang menyelenggarakan kegiatan

usaha berdasarkan prinsip Syariah, termasuk pemberian kesempatan

kepada BUK untuk membuka kantor cabangnya yang khusus

menyelenggarakan kegiatan berdasarkan Prinsip Syariah. Selain itu,

pemerintah juga menjabarkan apakah yang dimaksud dengan Prinsip

Syariah dalam pasal ini, yaitu terdapat dalam pasal 1 ayat 13 UU No.10

Tahun 1998: Prinsip Syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum

Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau

pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai

dengan syariah, antara lain pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil

(mudharabah), pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal

(musyarakah), prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan

(murabahah), atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa

murni tanpa pilihan (ijarah), atau dengan adanya pilihan pemindahan

kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain

(ijarah wa iqtina).

D. UU No.23 Tahun 2003

UU No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia telah menugaskan

kepada BI untuk mempersiapkan perangkat aturan dan fasilitas-fasilitas

penunjang lainnya yang mendukung kelancaran operasional bank berbasis

Syariah serta penerapan dual bank sistem.

E. UU No.21 Tahun 2008

8
Undang-undang yang secara spesifik mengatur tentang perbankan

syariah adalah Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008. Undang-undang

ini muncul setelah perkembangan perbankan syariah di Indonesia

mengalami peningkatan yang signifikan. Pada bab I pasal 1 yang berisi

tentang Ketentuan Umum undang-undang ini telah membedakan secara

jelas antara bank kovensional beserta jenis-jenisnya dengan bank syariah

beserta jenis-jenisnya pula. Perbedaan penyebutan pun telah dibedakan

sebagaimana diatur dalam pasal 1 poin ke-6 yang menyebut “Bank

Perkreditan Rakyat” sedangkan poin ke-9 menyebutkan dengan “Bank

Pembiayaan Rakyat”.

Usaha Bank Syariah dalam menjalankan fungsinya adalah

menghimpun dana dari nasabah dan menyalurkan pembiayaan berdasarkan

akad-akad yang terdapat dalam ekonomi Islam. Seperti mudharabah,

wadi’ah, masyarakah, murabahah, atau akad-akad lain yang tidak

bertentangan dengan hukum Islam.

F. Beberapa Peraturan Bank Indonesia mengenai Perbankan syariah

1. PBI No.9/19/PBI/2007 tentang pelaksanaan prinsip syariah dalam

kegiatan penghimpunan dana dan penyaluran dana serta pelayanan jasa

bank syariah.

2. PBI No.7/35/PBI/2005 tentang perubahan atas peraturan bank

Indonesia No. 6/24/PBI/2004 tentang bank umum yang melaksanakan

kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah

9
3. PBI No.6/24/PBI/2004 tentang bank umum yang melaksnakan

kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.

G. Fatwa Majelis Ulama Indonesia

Selain dasar hukum yang telah disebutkan di atas, landasan hukum

Islam yang dimaksud dalam perbankan syariah adalah fatwa yang

dikeluarkan oleh lembaga tertentu yang berwenang sebagaimana yang

diatur pada pasal 1 poin ke-12 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008:

Prinsip Syariah adalah prinsip hukum Islam dalam

kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga

yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah.

Meskipun tidak disebutkan secara langsung, undang-undang

memberikan Dewan Syariah Nasional MUI sebagai lembaga yang

berwenang mengeluarkan fatwa sekaligus berwenang merekomendasikan

Dewan Pengawas Syariah yang ditempatkan pada bank-bank syariah dan

unit usaha syariah. Dan fatwa MUI belum memiliki kekuatan hukum yang

cukup jika tidak dikonversi ke dalam peraturan yang termasuk dalam

heirarki perundang-undangan. Akan tetapi fatwa tersebut termasuk dalam

doktrin hukum yang bisa dipakai jika pencari fatwa sepakat dengan

pendapat mufti.

MUI sebagai salah satu lembaga yang dipercaya oleh Undang-

Undang maupun Peraturan Pemerintah unruk mengeluarkan acuan berupa

fatwa, telah mengeluarkan kurang lebih 43 fatwa terkait dengan perbankan

10
syariah. Di antaranya adalah fatwa tentang giro dengan menggunakan

sistem wadhi’ah, yaitu pada fatwa DSN No.01/DSN-MUI/IV/2000. Pada

fatwa ini, giro yang berdasarkan Wadhi’ah ditentukan bahwa:

1. Dana yang disimpan pada bank adalah bersifat titipan

2. Titipan (dana) ini bias diambil kapan saja (on call)

3. Tidak ada imbalan yang disyaratkan kecuali dalam bentuk

pemberian yang bersifat sukarela dari pihak bank

Meskipun demikian, kedudukan fatwa lebih cocok jika

dikategorikan sebagai doktrin hukum yang tidak terlalu kuat jika dijadikan

sumber rujukan untuk membuat suatu hukum apabila tidak dikonversi

menjadi salah satu jenis produk hukum yang terdapat dalam heirarki

perundang-undangan.

H. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2008 tentang

Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah

Lahirnya Undang-Undang Nomor 3 tahun 2006 tentang Perubahan

atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama telah

membawa beberapa perubahan yang signifikan terhadap kedudukan dan

eksistensi peradilan agama di Indonesia. Kewenangan absolut dari

peradilan agama mengalami perluasan, yakni pengadilan agama

berwenang menangani permasalahan ekonomi syariah yang meliputi

perbankan syariah, lembaga keuangan mikro syariah, asuransi syariah,

reasuransi syariah, reksadana syariah, dan beberapa masalah ekonomi

11
Islam lainnya.

Perkembangan ini menuntut Mahkamah Agung mengeluarkan peraturan

yang terkait dengan permasalahan ekonomi Islam. Pada tanggal 10

September 2008 Mahkamah Agung mengeluarkan Peraturan Mahkamah

Agung Nomor 2 Tahun 2008 tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah.

PERMA ini adalah sarana memperlancar dalam pemeriksaan dan

penyelesasian sengketa ekonomi syariah sekaligus pedoman bagi hakim

mengenai hukum ekonomi berdasarkan prinsip Islam, sebagaimana

terdapat di dalam konsiderannya.Penyusunan KOHES ini tidak bisa

terlepas dari sejumlah rujukan baik dari beberapa kitab fiqh, fatwa-fatwa

DSN MUI, dan peraturan BI tentang Perbankan Syariah.

I. Dasar Hukum Islam (Rujukan)

a) Al-baqarah ayat 275

275. Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak

dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan

syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila Keadaan mereka yang

demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat),

sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah

menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang

telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti

(dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya

dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah)

12
kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang

itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

b) Ar-Rum ayat 39

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia

bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada

sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu

maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat

demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).

2.3 PRINSIP – PRINSIP DASAR OPERASIONAL BANK SYARIAH

Pengertian Bank Syariah, Menurut Undang-undang No.10 tahun 1998

bank syariah adalah Bank yang melaksanakan kegiatan usahanya

berdasarkan prinsip syariahyang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu

lintas pembayaran.

Prinsip syariah menurut Pasal 1 ayat 13 Undang-undang No.10 tahun 1998

tentang perbankan adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum islam antara bank

dengan pihak lain untuk penyimpanan dana atau pembiayaan kegiatan usaha, atau

kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah antara lain pembiayaan

berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah), pembiayaan berdasarkan prinsip

penyertaan modal (musyarakah), prinsip jual beli barang dengan keuntungan

(murabahah), /atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni

tanpa pilihan (ijarah), atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas

barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina).

13
Prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara

bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan

usaha, atau kegiatan lainnya yang sesuai dengan syariah.

Beberapa prinsip/ hukum yang dianut oleh sistem perbankan syariah antara lain

 Pembayaran terhadap pinjaman dengan nilai yang berbeda dari nilai

pinjaman dengan nilai ditentukan sebelumnya tidak diperbolehkan.

 Pemberi dana harus turut berbagi keuntungan dan kerugian sebagai akibat

hasil usaha institusi yang meminjam dana.

 Islam tidak memperbolehkan "menghasilkan uang dari uang". Uang hanya

merupakan media pertukaran dan bukan komoditas karena tidak memiliki nilai

intrinsik.

 Unsur Gharar (ketidakpastian, spekulasi) tidak diperkenankan. Kedua

belah pihak harus mengetahui dengan baik hasil yang akan mereka peroleh dari

sebuah transaksi.

 Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha yang tidak diharamkan

dalam Islam. Usaha minuman keras misalnya tidak boleh didanai oleh perbankan

syariah.

Prinsip perbankan syariah pada akhirnya akan membawa kemaslahatan

bagi umat karena menjanjikan keseimbangan sistem ekonominya. Prinsip dasar

operasional bank Islam/ syariah tidak mengenal adanya konsep bunga uang dan

yang tidak kalah pentingya adalah untuk tujuan komersial, Islam tidak mengenal

peminjaman uang tetapi adalah kemitraan/ kerjasama (mudharabah dan

14
musyarakah) dengan prinsip bagi hasil, sedang peminjaman uang hanya

dimungkinkan untuk tujuan social tanpa adanya imbalan apapun.

Perkembangan bank-bank syariah di dunia dan di Indonesia mengalami

kendala karena bank syariah hadir di tengah-tengah perkembangan dan praktik-

praktik perbankan konvensional yang sudah mengakar dalam kehidupan

masyarakat secara luas. Kendala yang dihadapi oleh perbankan (lembaga

keuangan) syariah tidak terlepas dari sebelum tersedianya sumber daya manusia

secara memadai dan peraturan perundang-undangan. Hal ini mengingat bahwa di

masing-masing Negara, terutama yang masyarakatnya mayoritas muslim, tidak

mempunyai infrastruktur pendukung dalam operasional perbankan syariah secara

merata. Konsekuensi perkembangan di masing-masing Negara tersebut tentunya

akan berdampak baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap

perkembangan perbankan syariah di dunia. Apalagi pada saat ini produk-produk

keuangan semakin cepat perkembangannya.

Pesatnya pertumbuhan bank syariah di Indonesia juga belum seiring

dengan pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang sistem operasional

perbankan syariah. Meski bank syariah terus berkembang setiap tahunnya, banyak

masyarakat Indonesia yang masih belum mengenal apa dan bagaimana bank

syariah menjalankan kegiatan bisnisnya.

Pendapat mereka produk-produk yang ditawarkan oleh bank syariah

hanyalah produk-produk bank konvensional yang dipoles dengan penerapan akad-

akad yang berkaitan dengan syariah. Sehingga hal ini justru memunculkan

15
anggapan negative masyaraka bahwa kata syariah hanya sekedar lipstick dalam

perbankan syariah.

Masih terdapat kebingungan pada karakteristik dasar yang melandasi

sistem operasional perbankan syariah, yakni sistem bagi hasil. Sistem bagi hasil

dalam prakteknya dipandang masin menyerupai sistem bunga bagi bank

konvensional. Penyaluran dana bank syariah leibh banyak bertumpu pada

pembiayaan murabahah, yang mengambil keuntungan berdasarkan margin, yang

masih dianggap oleh masyarkat hanyalah sekedar polesan dari cara pengambilan

bunga pada bank konvensional.

Mereka masih sangat sulit untuk membedakan antara bagi hasil, margin

dan bunga bank konvensional. Kalupun bias hanyalah pada tataran teorinya saja,

sedangkan prakteknya masih terlihat rancu untuk membedakan bagi hasil, margin

dan bunga.

Secara garis besar hubungan ekonomi berdasarkan Syariah Islam tersebut

ditentukan oleh hubungan akad yang terdiri dari tujuh (5) dasar akad. Bersumber

dari kelima konsep dasar inilah dapat ditemukan produk-produk lembaga

keuangan Bank Syariah dan lembaga keuangan bukan Bank Syariah untuk

dioperasionalkan.

Kelima konsep tersebut adalah:

1. Prinsip Mudharabah

Merupakan Perjanjian antara dua pihak dimana pihak

pertama sebagai pemilik dana (sahibul maal) dan pihak kedua

sebagai pengelola dana (mudharib) untuk mengelola suatu kegiatan

16
ekonomi dengan menyepakati nisbah bagi hasil atas keuntungan

yang akan diperoleh, sedangkan kerugian yang timbul adalah risiko

pemilik dana kecuali mudharib melakukan kesalahan yang

disengaja, lalai atau menyalahi perjanjian.

2. Prinsip Musyarakah

Merupakan akad kerja sama antara dua pihak atau lebih

untuk lebih suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak

memberikan kontribusi dana (atau amal/expertise) dengan

kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung

bersama sesuai dengan kesepakatan.

3. Prinsip Wadi’ah(Simpanan Murni)

AL-WADI’AH merupakan fasilitas yang diberikan oleh

Bank Syariah untuk memberikan kesempatan kepada pihak yang

mempunyai dana lebih untuk menyimpan dananya dalam

bentuk Al-Wadi’ah. Fasillitas ini biasanya diberikan untuk tujuan

investasi guna mendapatkan keuntungan seperti halnya tabungan

dan deposito. Dalam dunia perbankan konvensional konsep Al-

Wadi’ah identik dengan Giro.

4. Prinsip At-Tijarah (Jual Beli)

AT-TIJARAH merupakan suatu sistem yang menerapkan

tata cara jual beli dimana bank akan memberi terlebih dahulu

barang yang dibutuhkan atau mengangkat nasabah sebagai agen

bank melakukan pembelian barang atas nama bank, kemudian bank

17
menjual barang tersebut kepada nasabah dengan harga sejumlah

beli ditambah keuntungan (margin).

5. Prinsip Kebajikan

Yaitu penerimaan dan penyaluran dana kebajikan dalam

bentuk zakat infaq shodaqah (ZIS) dan lainnya, serta

penyaluran qardul hasan yaitu penyaluran dalam bentuk pinjaman

untuk tujuan menolong golongan miskin dengan penggunaan

produktif tanpa diminta imbalan kecuali pengembalian pokok

hutang.

2.4 PRODUK –PRODUK BANK SYARIAH DI INDONESIA

Produk – produk yang ada di bank syariah diklasifikasikan berdasarkan

empat macam kategori perjanjian yang dikenal dalam Islam. Dalam perbankan

syariah, setiap produk yang dikeluarkan didasarkan pada prinsip titipan, jual

beli, sewa menyewa, bagi hasil, dan akad yang sifat sosial (tabaru).

Keempat konsep di atas adalah akad yang apabila dijalankan sesuatu

dengan syarat rukunnya akan menghasilkan transaksi – transaksi yang bebas

dari riba, maysir, dan gharar.

Secara garis besar kegiatan operasional bank syariah dan bank

konvensional dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu :

1. Kegiatan penghimpunan dana (Funding)

Kegiatan penghimpunan dana dapat ditempuh oleh

perbankan melalui mekanisme tabungan, giro, serta deposito.

Khusus untuk perbankan syariah, tabungan dan giro dibedakan

18
menjadi dua macam yaitu tabungan dan giro yang didasarkan pada

akad wadiah dan tabungan dan giro yang didasarkan pada akad

mudharabah. Sedangkan khusus depositi hanya memakai akad

mudharabah, karena deposito memang ditujukan untuk kepentingan

investasi.

2. Kegiatan penyaluran dana atau pembiayaan (Lending /

Financing)

Kegiatan penyaluran dana kepada masyarakat (lending)

dapat ditempuh oleh bank dalam bentuk pembiayaan murabahah,

mudharabah, musyarakah, ataupun qardh. Bank sebagai penyedia

dana akan mendapatkan imbalan dalam bentuk, margin keuntungan

untuk murabahah, bagi hasil untuk mudharabah dan musyarakah,

serta biaya administrasi untuk qardh.

3. Jasa bank

Kegiatan usaha bank di bidang jasa, dapat berupa

penyediaan bank garansi (Kafalah), Letter of Credit (L/C), Hiwalah,

Wakalah, dan jual beli valuta asing.

Berdasarkan pada ketentuan Peraturan Bank Indonesia No.

7/46/PBI/2005 tentang Akad Penghimpunan dan Penyaluran Dana

bagi Bank yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip

Syariah, sebagaimana telah dicabut melalui PBI No. 9/19/PBI/2007

tentang Pelaksanaan Prinsip Syariah dalam Kegiatan Penghimpunan

Dana dan Penyaluran Dana Serta Pelayanan Jasa Bank Syariah dan

19
diubah dengan PBI No. 10/16/PBI/2008 secara garis besar produk –

produk perbankan syariah terdiri dari :

1. Produk Bank Syariah yang di dasarkan pada Akad Jual Beli

a. Murabahah

Adalah jual beli barang sebesar harga pokok

barang ditambah dengan margin keuntungan yang

disepakati.

b. Istishna

Adalah jual beli barang dalam bentuk

pemesanan pembuatan barang dengan kriteria dan

persyaratan tertentu yang disepakati dengan

pembayaran sesuai dengan kesepakatan.

c. Salam

Adalah jual beli barang dengan pemesanan

dengan syarat – syarat tertentu dan pembayaran

tunai terlebih dahulu secara penuh.

2. Produk Bank Syariah yang di dasarkan pada Akad Bagi

Hasil

a. Mudharabah

Adalah penanaman modal dari pemilik dana

(shahibul maal) kepada pengelola dana (mudharib)

untuk melakukan kegiatan usaha tertentu, dengan

pembagian menggunakan metode bagi untung dan

20
rugi (profit and loss sharing) atau metode bagi

pendapatan (revenue sharing) antara kedua belah

pihak berdasarkan yang telah disepakati

sebelumnya.

Akad mudharabah dibedakan menjadi dua

macam yang didasarkan pada jenis dan lingkup

kegiatan mudharib, yaitu :

1) Mudharbah Mutlaqah

Adalah perjanjian

mudharabah antara shahibul maal

dan mudharib, dimana pihak

mudharib diberikan kebebasan untuk

mengelola dana yang diberikann

mudharabah mutlaqah ini

diaplikasikan oleh bank syariah

dalam kegiatan menghimpun dana

(funding) dari masyarakat.

2) Mudharabah Muqayadah

Adalah perjanjian

mudharabah yang mana dana yang

diberikan kepada mudharib hanya

dapat dikelola untuk kegiatan usaha

tertentu yang telah ditentukan baik

21
jenis maupun ruang lingkupnya.

Mudharabah muqayadah ini

diaplikasikan oleh bank syariah

dalam kegiatan penyaluran dana

(lending) kepada masyarakat

sehingga dapat mempermudah bank

dalam melakukan kegiatan

monitoring terhadap usaha yang

dilakukan oleh nasabah.

b. Musyarakah

Adalah penanaman dana dari pemilik

dana/modal untuk mencampurkan dana/modal pada

suatu usaha tertentu, dengan pembagian keuntungan

berdasarkan nisbah yang telah disepakati

sebelumnya, sedangkan kerugian ditanggung semua

pemilik dana/modal berdasarkan bagian dana/modal

masing-masing. Skim musyarakah ini diaplikasikan

oleh bank syariah untuk pembiayaan suatu proyek

(project financing) atau dalam bentuk modal ventura

(venture capital).

3. Produk Bank Syariah yang di dasarkan pada Akad Sewa

Menyewa

a. Ijarah / Sewa Murni

22
Adalah transaksi sewa menyewa atas suatu

barang dan atau upah mengupah atas suatu jasa

dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa atau

imbalan jasa.

b. Ijarah wa Iqtina / Ijarah Muntahiyah bi Tamlik

(IMBT)

Merupakan rangkaian dua buah akad, yakni

akad al-Bai’ dan akad Ijarah Muntahiyah Bittamlik

(IMBT). Al-Bai’ merupakan akad jual beli,

sedangkan IMBT merupakan kombinasi antara sewa

– menyewa (ijarah) dan jual beli atau hibah diakhir

masa sewa.

4. Produk Bank Syariah yang di dasarkan pada Akad

Pelengkap Yang Bersifat Sosial (Akad Tabrru)

a. Qardh

Adalah pinjam meminjam dana tanpa

imbalan dengan kewajiban pihak peminjam

mengembalikan pokok pinjaman secara sekaligus

atau cicilan dalam jangka waktu tertentu. Ada juga

qard al hasan yang pada dasarnya pihak yang

mendapatkan utang, apabila memang tidak mampu

mengembalikan utangnya pun tidak apa – apa,

karena qard al hasan ini adalah suatu fasilitas

23
pembiayaan yang memang ditujukan bagi pihak –

pihak yang tidak mampu.

b. Hiwalah

Adalah pengalihan utang dari orang yang

berutang kepada orang lain yang wajib

menanggungnya. Secara teknis di

dalamnyamelibatkan tiga pihak, yaitu bank sebagai

faktor selaku pengambil alih / pembeli piutang,

nasabah selaku pemilik piutang, dan customer

selaku pihak yang berutang kepada nasabah.

Dengan melalui mekanisme hiwalah maka nasabah

akan mendapatkan instant cash atas produk yang

dijualnya secara kredit kepada customer.

Sedangakan bank akan mendapatkan fee dari pihak

klien atas jasa yang diberikan.

c. Wakalah

Adalah perjanjian pemberian kuasa dari satu

pihak kepada pihak yang lain untuk melaksanakan

urusan, baik kuasa secara umum maupun kuasa

secara khusus.

d. Kafalah

Adalah jaminan yang diberikan oleh

penanggung (kafil) kepada pihak ketiga untuk

24
memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang

ditanggung. Kafalah juga berarti mengalihkan

tanggung jawab seseorang yang dijamin dengan

berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai

penjamin. Praktik yang dilakukan bank adalah

dalam bentuk pemberian bank garansi.

e. Wadiah

Adalah penitipan dana atau barang dari

pemilik dana atau barang pada penyimpanan dana

atau barang dengan kewajiban pihak yang menerima

titipan untuk mengembalikan dana atau barang

titipan sewaktu – waktu.

2.5 PENGHIMPUNAN DANA

Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat

dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam

bentuk kredit dan atau bentuk – bentuk lainnya dalam rangka

meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Dalam sistem perbankan konvensional dan perbankan syariah

kegiatan penghimpunan dana dari masyarakat dilakukan melalui

mekanisme giro (demand deposit), tabungan (saving deposit), dan deposito

(time deposit). Perbedaannya adalah bahwa dalam sistem perbankan

syariah tidak dikenal adanya bunga sebagai kontraprestasi terhadap

nasabah deposan, melainkan mekanisme bagi hasil dan bonus yang

25
bergantung pada jenis produk apa yang dipilih oleh nasabah. Dengan

demikian, produk penghimpunan dana (funding) yang ada dalam sistem

perbankan syariah terdiri dari :

1. Giro (Demand Deposit)

Simpanan giro adalah simpanan pada bank yang

penarikannya dapat dilakukan setiap saat, artinya adalah bahwa

uang yang disimpan di rekening giro dapat diambil setiap waktu

setelah memenuhi berbagai persyaratan yang ditetapkan. Giro yang

dikenal dalam perbankan konvensional dapat diaplikasikan dalam

perbankan syariah dengan menghilangkan unsur bunga yang ada

didalamnya.

a. Giro Wadiah

Giro Wadiah dapat diartikan sebagai bentuk

simpanan yang penarikannya dilakukan setiap saat dengan

menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran

lainnya atau dengan cara pemindahbukuan yang didasarkan

pada prinsip titipan.

Jika motif tujuan nasabah membuka rekening giro

hanya untuk kemudahan dalam melakukan transaksi

pembayaran, maka giro wadiah yang tepat karna melalui

wadiah bank akan selalu siap menerima penarikan dana dari

nasabah dan nasabah tidak terancam oleh risiko kerugian.

b. Giro Mudharabah

26
Giro Mudharabah dapat diartikan sebagai bentuk

simpanan yang penarikannya dilakukan setiap saat dengan

menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran

lainnya atau dengan cara pemindahbukuan yang didasarkan

pada prinsip bagi hasil.

Jika motif tujuan nasabah membuka rekening giro

untuk mencari keuntungan / investasi maka giro mudharabah

yang selayaknya dipilih, karena dengan memilih giro

mudharabah nasabah akan mendapatkan keuntungan berupa

bagi hasil yang telah disepakati di awal.

2. Tabungan (Saving Deposit)

Simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada

waktu tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan

cek, bilyet giro, dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan

itu. Penarikan dapat dilakukan dengan datang langsung membawa

buku tabungan, slip penarikan atau melalui sarana Authometed

Teller Machine (ATM).

a. Tabungan Wadiah

Tabungan wadiah dipilih nasabah, jika motif

nasabah hanya menyimpan saja.

b. Tabungan Mudharabah

Tabungan mudharabah dipilih nasabah, jika motif

nasabah untuk investasi atau mencari keuntungan.

27
3. Deposito (Time Deposit)

Simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada

waktu tertentu berdasarkan perjanjian antara nasabah penyimpan

dengan bank. Jangka waktu penarikan biasanya berkisar antara satu

bulan, tiga bulan, enam bulan, dan seterusnya. Dengan kata lain

penarikannya dapat dilakukan setelah tanggal jatuh tempo.

Deposito merupakan produk dari bank yang memang

ditujukan untuk kepentingan investasi dalam bentuk surat – surat

berharga, sehingga dalam perbankan syariah akan memakai prinsip

mudharabah. Berbeda dengan perbankan konvensional yang

memberikan imbalan berupa bunga bagi nasabah deposan, maka

dalam perbankan syariah imbalan yang diberikan kepada nasabah

deposan adalah bagi hasil (profit sharing) sebesar nisbah yang telah

disepakati di awal akad.

Bank dan nasabah masing – masing mendapatkan

keuntungan. Keuntungan bagi bank dengan menghimpun dana

lewat deposito adalah uang yang tersimpan relatif lebih lama,

mengingat deposito memiliki jangka waktu yang relatif panjang dan

frekuensi penarikan yang panjang. Sehingga bank akan lebih leluasa

melempar dana tersebutuntuk kegiatan yang produktif. Sedangkan

nasabah akan mendapatkan keuntungan berupa bagi hasil yang

besarnya sesuai dengan nisbah yang telah disepakati di awal

perjanjian.

28
2.6 PENYALURAN / PEMBIAYAAN DANA

Bank sebagai lembaga intermediasi keuangan (financial

intermediary institution) selain melakukan kegiatan penghimpunan dana dari

masyarakat, ia juga akan menyalurkan dana tersebut ke masyarakat dalam

bentuk kredit atau pembiayaan. Istilah kredit banyak dipakai dalam perbankan

konvesional yang berbasis pada bunga (interest based), sedangkan dalam

perbankan syariah lebih dikenal dengan istilah pembiayaan (financing) yang

berbasis keuntungan riil yang dikehendaki (margin) ataupun bagi hasil (profit

sharing).

Dalam perbankan syariah bank menyediakan pembiayaan dalam

bentuk penyediaan barang nyata (asaset), baik yang didasarkan pada :

1. Akad Jual Beli

Implementasi akad jual beli merupakan salah satu

cara yang ditempuh bank dalam rangka menyalurkan dana

kepada masyarakat. Produk dari bank yang didasarkan pada

akad jual beli ini terdiri dari :

a. Murabahah

Murabahah diartikan sebagai suatu

perjanjian antara bank dengan nasabah dalam

bentuk pembiayaan pembelian atas sesuatu barang

yang dibutuhkan oleh nasabah. Objeknya bisa

berupa barang modal seperti mesin – mesin industri,

29
maupun barang untuk kebutuhan sehari – hari

seperti sepeda motor.

b. Salam

Salam adalah jual beli barang dengan cara

pemesanan dengan syarat – syarat tertentu dan

pembayaran tunai terlebih dahulu secara penuh.

Dalam salam pihak pembeli harus membayar

terlebih dahulu secara tunai dimuka (advance

payment) dan objeknya biasanya berupa produk –

produk hasil pertanian.

c. Istishna

Istishna didefinisikan sebagai kegiatan jual

beli barang dalam bentuk pemesanan pembuatan

barang dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang

disepakati dengan pembayaran sesuai dengan

kesepakatan. Dalam istishna pembeli dibiarkan

terserah mau membayar harga beli dimuka secara

tunai, secara angsuran, ataupun membayar pada saat

barang pesananan sudah jadi, kemudian uang

menjadi objek istishna biasanya berupa barang

furniture.

2. Akad Sewa Menyewa

30
Salah satu produk penyaluran dana dari bank

syariah kepada nasabah adalah pembiayaan yang

berdasarkan perjanjian / akad sewa menyewa (ijarah).

Ijarah adalah transaksi sewa menyewa atas suatu barang

dan atau upah mengupah atas suatu jasa dalam waktu

tertentu melalui pembayaran sewa atau imbalan jasa. Ijarah

juga dapat diinterpretasikan sebagai suatu akad pemindahan

hak guna atas barang atau jasa melalui pembayaran upah

sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepeimilikan

(ownership/milkiyyah) atas barang itu sendiri.

Inti dari suatu perjanjian sewa menyewa adalah

Perjanjian yang berkaitan dengan pemberian manfaat

kepada pihak penyewa dengan kontraprestasi berupa biaya

sewa. Bank syariah selaku institusi keuangan menyediakan

pembiayaan kepada nasabah dalam bentuk sewa menyewa,

baik sewa murni atau sewa yang memberikan opsi kepada

nasabah selaku penyewa untuk memiliki objek sewa diakhir

perjanjian sewa atau yang lebih dikenal dengan ijarah

muntahiyah bittamlik (ijarah wa iqtina). Ijarah wa iqtina

bisa memakai mekanisme janji hibah maupun mekanisme

janji menjual, di mana janji tersebut akan berlaku diakhir

masa sewa.

3. Akad Bagi Hasil

31
Bentuk penyaluran dana yang ditujukan untuk

kepentingan investasi dalam perbankan Islam dapat

dilakukan berdasarkan akad bagi hasil. Secara umum akad

bagi hasil yaitu :

a. Mudharabah

Mudharabah atau qirad adalah penanaman

dana dari pemilik dana (shahibul maal) kepada

pengelola dana (mudharib) untuk melakukan

kegiatan usaha tertentu, dengan pembagian

menggunakan metode bagi untung dan rugi (profit

and loss sharing) atau metode bagi pendapatan

(revenue sharing) antara kedua belah pihak

berdasarkan nisbah yang telah disepakati

sebelumnya. Keuntungan yang ada dibagi sesuai

dengan syarat – syarat yang telah disepakati,

sedangkan jika terjadi kerugian, maka dibebankan

kepada pemilik harta saja. Sementara orang yang

mengusahakan menanggung kerugian dalam

usahanya, sehingga tidak perlu diberi beban

kerugian yang lain.

32
b. Musyarakah

Musyarakah adalah penanaman dana dari

pemilik dana / modal untuk mencampurkan dana /

modal mereka pada suatu usaha tertentu, dengan

pembagian keuntungan berdasarkan nisbah yang

telah disepakati sebelumnya, sedangkan kerugian

ditanggung semua pemilik dana / modal

berdasarkan bagain dana / modal masing – masing.

Inti dari musyarakah adalah bahwa para pihak sama

– sama memasukkan dana ke dalam usaha yang

dilakukan.

c. Muzzara’ah

Muzzara’ah adalah kerja sama pengelolaan

pertanian antara pemilik lahan dan penggarab,

dimana pemilik lahan memberikan lahan pertanian

kepada si penggarap untuk ditanami dan dipelihara

dengan imbalan bagian tertentu (persentase).

d. Musaqah

Musaqah adalah bentuk yang lebih

sederhana dari muzzara’ah dimana si penggarap

hanya bertanggung jawab atas penyiraman dan

pemeliharaan sehingga ia berhak atas nisbah

tertentu dari hasil panen.

33
4. Akad Pinjam Meminjam Nirbunga

Salah satu produk perbankan syariah yang lebih

mengarah kepada misi sosial ini adalah qardh. Qardh

adalah pemberian harta kepada orang lain yang dapat

ditagih atau diminta kembali atau dengan kata lain

meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan. Dalam fikih

klasik, al – qardh dikategorikan dalam akad taawuniah,

yaitu akad yang berdasarkan prinsip tolong menolong.

Qardh termasuk produk pembiayaan yang

disediakan oleh bank ddengan ketentuan bank tidak boleh

mengambil keuntungan berapa pun darinya dan hanya

diberikan pada saat keadaan emergency. Bank terbatas

hanya dapat memungut biaya administrasi dari nasabah.

Nasabah hanya berkawajiban membayar pokoknya saja,

dan untuk jenis qardh al – hasan pada dasarnya nasabah

apabila memang dalam keadaan tidak mampu ia tidak perlu

mengembalikannya.

2.7 PELAYANAN JASA

Produk perbankan syariah di bidang jasa ini merupakan salah satu

sektor pendapatan yang saat ini dikembangkan oleh bank – bank syariah.

Berbagai produk baru dikeluarkan oleh bank dengan terlebih dahulu pihak

bank meminta fatwa dari DSN. Pengeluaran produk baru sebagaimana

34
dimaksud juga memerlukan izin dari Bank Indonesia sebagai pemegang

otoritas perbankan.

Melalui metode rekayasa keuangan Islami (Islamic financial engineering

method) ternyata dapat menghasilkan berbagai produk yang diharapkan dapat

memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang keuangan yang sesuai dengan

prinsip syariah. Sharia Cahrge Card dan KPR Syariah merupakan contoh dari

praktik rekayasa terhadap akad – akad tradisional Islam tersebut.

Produk perbankan syariah di bidang jasa didasarkan pada akd – akad yang

sudah dikenal dalam Islam, antara lain :

a. Hiwalah

Hiwalah adalah pengalihan utang dari orang yang

berutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya.

Dalam istilah Islam merupakan pemindahan beban utang

dari muhil (orang yang berutang) menjadi tanggungan

muhal’alaih atau orang yang berkewajiban membayar utang.

Dalam mengaplikasikan akad hiwalah dalam produk

perbankan syariah ini paling tidak terdapat tiga pihak yang

di antaranya diikat dengan perjanjian. Ketiga pihak tersebut,

yaitu bank sebagai faktor (muhal alaih), nasabah sebagai

pelaku klien (muhil), dan pihak yang mempunyai utang

kepada nasabah (customer).

Hiwalah dibedakan menjadi beberapa jenis. Hanafi

membedakan hiwalah ini menjadi dua jenis, yaitu :

35
1) Hiwalah mutlaqah

Yaitu seseorang memindahkan utangnya

kepada orang lain dan tidak mengaitkan dengan

utang yang ada pada orang itu.

2) Hiwalah muqayyadah

Yaitu seseorang memindahkan utang dan

mengaitkan dengan piutang yang ada padanya. Inilah

hiwalah yang boleh (jaiz) berdasarkan kesepakatan

para ulama.

b. Kafalah

Dalam konteks Islam penanggungan utang dikenal

dengan istilah kafalah, yaitu orang yang diperbolehkan

bertindak (berakal sehat) berjanji menunaikan hak yang

wajib ditunaikan orang lain atau berjanji menghadirkan hak

tersebut di pengadilan.

Dalam perjanjian pertanggungan utang disyaratkan

adanya Kafiil, ashiil, makfullaahu dan makfulbihi. Kafiil

adalah orang yang wajib melakukan penanggungan,

sedangkan ashiil adalah orang yang berutang dan

membutuhkan seorang penanggung. Di sisi lain ada

makfullaahu yaitu orang yang memberikan utang, yang tentu

saja harus dikenal oleh kafiil. Sedangkan makfulfihi adalah

36
sesuatu yang dijadikan jaminan atau tanggungan, baik

berupa jaminan kebendaan ataupun jaminan perorangan.

Menurut M. Sayfi’i Antonio al – Kafalah

merupakan jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafiil)

kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiabn pihak kedua

atau yang ditanggung. Dalam pengertian lain, kafalah juga

bearti mengalihkan tanggung jawab seseorang yang dijamin

dengan berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai

penjamin.

c. Wakalah

Pemberian kuasa (wakalah) secara umum dapat

didefinisikan sebagai suatu perjanjian dimana seseorang

mendelegasikan atau menyerahkan sesuatu wewenang

(kekuasaan) kepada seseorang yang lain untuk

meyelenggarakan sesuatu urusan dan orang lain tersebut

menerimanya dan melaksanakannya untuk dan atas nama

pemberi kuasa.

d. Gadai (Rahn)

Rahn menurut syariah adalah menahan sesuatu

dengan cara yang dibenarkan yang memungkinkan ditarik

kembali. Rahn juga bisa diartikan menjadikan barang yang

mempunyai nilai harta menurut pandangan syariah sebagai

jaminan utang, sehingga orang yang bersangkutan boleh

37
mengambil utangnya semuanya atau sebagian. Dengan kata

lain, rahn adalah akad berupa menggadaikan barang dari

suatupihak kepada pihak lain, dengan utang sebagai

gantinya.

Dalam teknis perbankan, akad ini dapat digunakan

sebagai tambahan pada pembiayaan yang beresiko tinggi.

Akad ini juga dapat menjadi produk tersendiri untuk

melayani kebutuhan nasabah guna keperluan yang bersifat

jasa dan konsumtif, seperti pendidikan, kesehatan dan

sebagainya. Bank atau lembaga keuangan bukan bank tidak

menarik manfaat apapun kecuali biaya pemeliharaan atau

keamanan barang yang digadaikan tersebut.

e. Sharf

Transaksi jual beli mata uang, baik antar mata uang

sejenis maupun antar mata uang berlainan jenis dengan

penyerahan segera/spot berdasarkan kesepakatan harga

sesuai dengan harga pasar pada saat pertukaran.

38
BAB lll

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Dari pembahasan makalah diatas, maka dapat kami simpulkan bahwa

Dalam konteks kehadiran lembaga keuangan mutlak adanya karena ia

bertindak sebagai intermediate antara unit supply dengan unit

demand.Secara garis besar, hubungan ekonomi berdasarkan syari’ah Islam

tersebut ditentukan oleh hubungan aqad yang terdiri dari lima konsep dasar

Aqad.

Bersumber dari konsep dasar inilah dapat ditemukan produk-produk

lembaga keuangan bank syari’ah dan lembaga keuangan bukan bank

syari’ah untuk dioperasionalkan.

3.2 SARAN

Dilihat dari keuntungan-keuntungan dan manfaat penggunaan

metode akuntansi syariah seharusnya baik Lembaga, perusahaan dan

masyarakat menggunakannya. Namun faktanya pada zaman ini masih

banyak yang menggunakan metode akuntansi konvensional karena tergiur

oleh bunga yang dijanjikan. Padahal bunga adalah riba dalam hukum

Islam

39
DAFTAR PUSTAKA

Antonio, Muhammad Syafi’i. 2001. Bank Syariah dari Teori ke Praktik. Jakarta :

Gema Insani

Umam, Khotiubl, 2009, Perbankan Syariah (Dinamika dan Perkembangan di

Indonesia), Instan Lib, Yogyakarta

Slamet Wiyono, 2005. Cara Mudah Memahami Akuntansi Perbankan Syariah di

Indonesia. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia