Anda di halaman 1dari 4

BAB II

PENDAHULUAN

2.1 Ikan Boronang

Ikan beronang merupakan salah satu jenis ikan yang mempunyai nilai

ekonomis penting dan potensial untuk dibudidayakan. Ikan tersebut hidup pada

daerah berkarang, dasar perairan berpasir yang banyak ditumbuhi rumput laut dan

sering masuk dalam tambak. Ikan beronang jenis Siganus javus dan Siganus

vermiculatus umumnya hidup di sekitar perairan yang berhutan bakau, pelabuhan,

dan kadang-kadang masuk dalam sungai serta danau (Suharyanto, 2008).

Pertumbuhan ikan beronang, perubahan salinitas yang cukup tinggi 10 – 30

ppt tidak berpengaruh terhadap nafsu makan ikan beronang. Menurut Burhanuddin

(1987), ikan beronang (Siganus vermiclatus) dapat hidup normal pada kisaran

salinitas antara 5 – 35 ppt. Hal ini sangat sesuai dengan kondisi perairan tambak yang

selalu mengalami fluktusi salinitas cukup tinggi ( Suharyanto, 2008).

2.2 kolagen

Kolagen merupakan komponen struktural utama jaringan ikat putih (white

connective tissue) yang meliputi hampir 30% total protein pada tubuh. Hingga kini

terdapat sekitar 25 tipe kolagen yang telah diidentifikasi, yaitu tipe I sampai XXV.

Tipe kolagen yang teridentifikasi pada ikan hanya tipe I dan V. Kolagen tipe I

terdapat pada kulit, tulang, dan sisik ikan (Nagai & Suzuki, 2000), sementara kolagen

tipe V terdapat pada jaringan ikat dalam kulit, tendon dan otot ikan yang juga
mengandung kolagen tipe I Kolagen dapat diaplikasikan pada industri makanan,

kosmetik, biomedis dan industri farmasi ( Nurhayati, 2013).

Kolagen adalah komponen utama lapisankulit dermis (bagian bawah

epidermis) yang dibuat oleh sel fibroblast. Pada dasarnya kolagen adalah senyawa

protein rantai panjang yang tersusun lagi atas asam amino alanin, arginilisin, glisin,

prolin, serta hiroksiproline. Sebelummenjadi kolagen, terlebih dahulu terbentuk

prkolagen.

Gambar 1. Bentuk fisis kolagen

Kolagen merupakan protein penting yang menghubungkan sel dengan sel

yang lain. Sepertiga dari protein yang terkandung dalam tubuh manusia terdiri dari

kolagen. Fungsi dari kolagen pada tubuh berbeda-beda tergantung pada lokasinya.

Namun demikian, kolagen sangat diperlukan dalam menjaga kemudian dan kesehatan

(Hartati, 2010).

2.3 hidrolisis kolagen

Metode ekstraksi yang digunakan adalah metode ekstraksi maserasi yaitu

salah satu metode ekstraksi dingin. Ekstraksi maserasi dilakukan dengan cara

merendam selama beberapa waktu, umumnya 24 jam dengan menggunakan satu atau
campuran pelarut. Maserasi bertujuan untuk menarik zat-zat berkhasiat yang tahan

pemanasan maupun yang tidak tahan pemanasan.Secara teknologi maserasi termasuk

ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian konsentrasi pada keseimbangan (tridhar,

2016).

Maserasi dilakukan dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada

temperatur ruangan atau kamar Pada proses ekstraksi enzimatis enzim yang

digunakan adalah enzim protease, karena enzim protease adalah enzim yang

berfungsi untuk memecah protein dengan cara menghidrolisa ikatan peptida yang

menghubungkanasam-asam amino dalam rantai polipeptida. Enzim protease

memecah protein dengan cara merusak asam amino yang berada di ujung rantai dan

dengan merusak ikatan peptida yang ada di dalam protein. Asam asetat digunakan

untuk merubah materi kimia yang ada didalam sisik dan tulang ikan dimana pilinan

heliks rantai kolagen akan terurai dari yang berbentuk heliks tiga rantai menjadi

rantai yang sederhana (tridhar, 2016).

2.4 Glatin

Hidrolisis kolagen dari tulang hewan dapat menghasilkan salah satu jenis protein

konversi berupa gelatin terhidrolisis secara parsial terdiri dari campuran rantai

polipeptida polidispersi dengan berat molekul lebih dari 30 kDa. Reaksinya dapat

dilihat sebagai berikut:


pembuatan gelatin yang diekstrak dari tulang ikan telah banyak dilakukan, seperti

tulang ikan tuna, kakap, pari, hiu, gabus, bandeng, nila, cucut, kaci-kaci ( Ridhay,

2016).

Gelatin merupakan protein hasil hidrolisis kolagen tulang dan kulit. Gelatin

merupakan salah satu bahan yang semakin luas penggunaannya, baik untuk produk

pangan maupun produk non pangan. Hal ini terkait dengan manfaatnya antara lain

sebagai bahan penstabil, pembentuk gel, pengikat, pengental, pengemulsi, perekat,

pembungkus makanan. Industri pangan yang menggunakan bahan gelatin ini antara

lain, yaitu industri permen, industri es krim, industri jelly (sebagai pembentuk gel),

sedangkan industri non pangan yang biasa menggunakan bahan gelatin antara lain

industri fotografi (sebagai pengikat bahan peka cahaya), industri kertas (sebagai

sizing paper), farmasi (bahan kapsul, pengikat tablet), industri kosmetik (bahan

sabun, lotion), dan produk kosmetik lainnya ( Wijaya, 2015).

Anda mungkin juga menyukai