Anda di halaman 1dari 34

ARCHITECTURE AND CRITICAL

IMAGINATION-WAYNE ATTOE
Tim Dosen :
1. Dr.Ir R. Siti Rukayah,M.T
2. Prof.Dr.Ing.Ir Gagoek Hardiman
3. Dr.Ir. Titin Woro Muritni,MSA

Disusun oleh :

Fajar Dewantoro -21020116420009


Aretha Nuri Okkyana- 21020116420016
Amalia Hafizhah Jarot – 21020116420013
Hana Faza Surya Rusyda - 21020116420015
Soraya Rizky Nabila – 21020116420008
Jundi Jundullah Afgani -21020116420011
B. Yosef Arya W. -21020116420017

PROGAM STUDI MAGISTER TEKNIK ARSITEKTUR


UNIVERSITAS DIPONEGORO
2017
BAB I – CRITICISM
OLEH FAJAR DEWANTORO - -21020116420009

Sebagian besar bentuk kritik terhadap arsitektur


tidak diragukan lagi merupakan komentar dan penilaian
di surat kabar, majalah dan jurnal profesional. Ada Louise
Huxtable adalah kritikus Jurnalis Amerika yang paling
terkenal, yang telah menulis untuk The New York Times
selama lebih dari satu dekade. Lewis Mumford
sebelumnya menggunakan serial 'Sky Line' di Majalah
New Yorker untuk menarik perhatian orang lain. Di antara
kritik yang ditulis dalam jurnal profesional, Montgomery
Schuyler dan Mumford di Amerika Serikat, seorang J.M.
Richards di Inggris akan diidentifikasi telah memberikan
kontribusi penting.
Tapi sejarawan juga kritikus. Kritik mereka
cenderung memberi tahu kita apa yang sebenarnya
terjadi atau untuk menunjukkan kejadian dimana banya
pihak yang mendapat perhatian khusus. ketika sejarawan
menyuruh kami untuk lebih selektif dan kemudian
memberi tahu apa yang special dalam acara ini, mereka
cenderung menjadi juru bahasa dan bukan dokumenter.
Banyak sejarawan telah memberikan begitu banyak
kontribusi terhadap pengetahuan dan pemahaman
kepada kita tentang arsitektur yang mengidentifikasi satu
atau dua kunci suatu yang mungkin menjadi hampir tidak
mungkin, diperkirakan bahwa harus ada persetujuan
bahwa tanpa karya Sir Nikolaus Pevsner, keadaan seni
saat ini akan sangat berbeda.
Kurang familiar dengan masyarakat umum,
namun masih sangat penting 'kritik arsitektur', dalam
ucapan para guru (desain kritik) di studio desain

2
akademik. Ajaran arsitektur sebenarnya dibangun
dengan pengalaman dan peraturan. Di studio peraturan
kritik cenderung didasarkan mungkin lebih dari beberapa
peraturan lain pada campuran metode, termasuk kutipan
fakta, interpretasi, dogma dan aturan praktis. Kita
berharap agar setiap siswa keluar sekolah, ada
pengalaman dari setidaknya satu guru kritikus terkenal
yang kebijaksanaan, kepekaan, antusiasme, atau
kemarahan moralnya yang cukup menarik untuk
memberikan referensi selama bertahun-tahun untuk
perancangan yang akan datang.
Bagi sebagian orang kritik itu berharga karena
memudahkan pemahaman. mereka ingin tahu mengapa
bangunan ada dalam bentuk yang mereka lakukan, siapa
yang bertanggung jawab atas mereka, dan apa artinya
budaya atau subkultur dibangun di wa ini. sejarawan
biasanya berbicara pada audiens ini. untuk
peoplecritisisme lainnya sangat berharga sebagai umpan
balik. Arsitek, perencana dan pembuat kebijakan perlu
mengetahui keputusan sebelumnya yang sukses
sehingga keputusan masa depan mungkin akan
terpengaruh.
Meskipun tanggapan kita terhadap kritik sering
kali bersifat defensif dan kita diintimidasi oleh penilaian
negatif yang tampaknya merupakan penilaian negatif
atas pekerjaan kita dan karena itu nilai pribadi kita,
hubungan kritisnya bisa berbeda. Pemahaman tentang
metode kritik harus memungkinkan pembedaan antara
metode dan niat dan melihat metode kritik sebagai hanya
taktik, sebuah vehilcle untuk menyampaikan substansi
yang signifikan (thougt bias). Pandangan kritik yang
mungkin terlalu memaafkan dan optimis ini setidaknya
akan membuat kita merasa jauh lebih lama untuk melihat
lebih dekat kritik apa yang dilakukan para kritikus.

3
Juan Pablo Bonta (1975) memberikan dukungan
yang sangat baik terhadap pandangan kritik sebagai
perilaku, bukan penghakiman terakhir. Analisis
tanggapannya terhadap Paviliun Barcelona Mies van der
Rohe selama periode 45 tahun menunjukkan karakter
pribadi kritis dari penilaian kritis. Awalnya, pada tahun
1929, bangunan itu tidak 'terlihat'.
Ketika kritikus menyaring dan membuat
perbedaan, dia melakukannya dengan peralatan yang
dibatasi oleh bias yang melekat dan dibatasi oleh
konsepsi prianya tentang peran kritikus. Bias kritikus
biasanya lebih mudah dilihat daripada konsep patikinya
tentang peran kritikus. kata sifat seperti aman,
kontroversial, retardataire, dan segar, dengan jelas
menunjukkan bias Ada Louise Huxtable dalam
penilaiannya terhadap Center of the Arts di New York
City. Dari sudut pandangnya, kompleks itu seharusnya
baru dalam konsep (kemungkinan) dan juga bentuk baru
dari kainnya. (Huxtable, 1972, hlm. 24-27) Bias yang
mendukung eksperimen, eksplorasi dan inovasi tidak
jarang terjadi di kalangan kritik jurnalis.
Bagi Walter Abell (1966) ada enam tradisi penafsiran
dalam seni:
1. Ikonografi, penekanan pada materi pelajaran dan
sumber alam atau sastranya sebagai dasar untuk
memahami seni.
2. Kritik Biografi, penekanan pada kepribadian
kreatif sebagai basis utama untuk memahami
seni.
3. Penetapan Historis, penekanan pada peradaban
dan lingkungan sebagai sumber pengkondisian
bentuk seni.
4. Estetika Materialisme, penekanan pada materi,
teknik dan fungsi sebagai faktor utama
menentukan bentuk seni.

4
5. Teleskop Estetik, bentuk seni dijelaskan sebagai
hasil dari "keinginan akan seni" psikologis yang
terkait dengan berjalannya zaman.
6. Visibilitas Murni, karya seni dijelaskan dalam hal
signifikansi formal yang dihasilkan dari
pengorganisasian garis, warna, dan elemen
plastik lainnya.

KESIMPULAN

Kritik pertama dan paling utama tentang kritikus, bukan


tentang objek yang dikritik. Citra diri kritikus, cara dia
memandang perannya yang melekat pada pemikiran dan
perasaan. Tindakan atau perilaku seseorang merupakan
pertimbangan penting ketika para desainer dan orang lain
dalam menghadapi kritik dan mulai meresponsnya. .Hal
ini berlaku terlepas dari mana kritik tersebut muncul, baik
di surat kabar harian, desain studio, atau berita. Begitu
juga dalam penilaian atau posisi kritik diakui, Karena
suatu kritik harus membangun atau memberi kritik yang
baik, supaya tidak terjadi kesalahpahaman antar sesama.

5
BAB II – KRITIK NORMATIF
OLEH ARETHA NURI OKKYANI - 21020116420016

Hakikat kritik normatif adalah :

 Adanya keyakinan (conviction) bahwa di lingkungan


dunia manapun, bangunan dan wilayah perkotaan selalu
dibangun melalui suatu model, pola, standard atau
sandaran sebagai sebuah prinsip.
 Dan melalui ini kualitas dan kesuksesan sebuah
lingkungan binaan dapat dinilai.
 Norma bisa jadi berupa standar yang bersifat fisik,
tetapi adakalanya juga bersifat kualitatif dan tidak dapat
dikuantifikasikan.
 Norma juga berupa sesuatu yang tidak konkrit dan
bersifat umum dan hampir tidak ada kaitannya dengan
bangunan sebagai sebuah benda konstruksi

Evaluasi terhadap suatu bangunan berdasarkan aturan


samar sangat berbeda dengan evaluasi yang dilakukan
ahli bangunan proyek. Rentang kompleksitas, abstrak, dan
spesifik dari kritik normatif menimbulkan beberapa macam
perbedaan, antara lain kritik doktrinal, kritik sistematis,
kritik tipe, dan kritik terukur.

A.Kritik Doktrinal

Kritik doktrinal merupakan pernyataan umum dan prinsip


yang tidak beralasan. Doktrin sebagai dasar pengambilan
keputusan arsitektural dan karenanya kritik menjadi pengait
yang menarik melalui sejarah arsitektur.

6
 Doktrin sebagai dasar dalam pengambilan keputusan
desain arsitektur yang berangkat dari keterpesonaan dalam
sejarah arsitektur.
 Sejarah arsitektur dapat meliputi : Nilai estetika, etika,
ideologi dan seluruh aspek budaya yang melekat dalam
pandangan masyarakat.
 Doktrin bersifat tunggal dalam titik pandangnya dan
biasanya mengacu pada satu ‘ISME’ yang dianggap paling
baik.
 Contohnya adalah slogan 'form follows function', 'less
is more', dan sebagainya. Menurut Shaw (1956), kritik
doktrinal sangat kuat pandangannya terhadap paham 'one-
best-wayism'

Keuntungan kriting doktrinal bagi perancang adalah


maknanya yang samar, maksudnya adalah doktrin tersebut
merupakan panduan tunggal yang pada saat yang bersamaan
memberikan banyak ruang bagi perancang untuk
menginterpretasikan doktrin tersebut.

B.Kritik Sistematis

 Kritik sistematis merupakan kumpulan prinsip atau


arahan yang saling terkait. Para kritikus dan
perancangan yang bijaksana tidak banyak yang
hanya tergantung pada satu doktrin untuk
mendukung penilaian mereka.

 Menggantungkan pada hanya satu prinsip akan


mudah diserang sebagai : menyederhanakan
(simplistic), tidak mencukupi (inadequate) atau
kadaluarsa (out of dated )
 Alternatifnya adalah bahwa ada jalinan prinsip dan
faktor yang dapat dibangun sebagai satu system
untuk dapat menegaskan rona bangunan dan kota.

7
Kritik sistematik dikembangkan dari satu analisis :

 Bahwa Problem arsitek adalah membangun sistem


dalam kategori-kategori formal yang tidak memungkinkan
kita untuk melukiskannya dan membandingkannya dalam
struktur yang formal. Ketika kita mengatakan bahwa analisis
formal mengandung indikasi elements and relations.
 Elements (bagian bentuk arsitektur ), bermakna bahwa
kita harus memperlakukan objek sebagai dimensi
kesebandingan.

Melahirkan konsep :

a) Mass (massa), Bentuk wujud tiga dimensi yang


terpisah dari lingkungan
b) Space (ruang), Volume batas-batas permukaan di
sekeliling massa
c) Surface (permukaan), batas massa dan ruang

 Relations , bahwa kita menterjemahkan saling


keterhubungan ini diantara dimensi-dimensi
 Capacity of the structure, kelayakan untuk mendukung
tugas bangunan
 Valuable, nilai yang dikandung yang mengantarkan
kepada rasa manusia untuk mengalami ruang.

C.Kritik Tipikal

 Kritik Tipikal merupakan model yang digeneralisasi


untuk kelas bangunan tertentu, seperti supermarket
atau open plan.

 Studi tipe bangunan saat ini telah menjadi pusat


perhatian para sejarawan arsitektur. Hal ini dapat
dipahami karena desain akan menjadi lebih mudah

8
dengan mendasarkannya pada type yang telah
standard, bukan pada innovative originals (keaslian
inovasi).

 Studi tipe bangunan lebih didasarkan pada kualitas,


utilitas dan ekonomi dalam lingkungan yang telah
terstandarisasi dan kesemuanya dapat terangkum
dalam satu typologi

 Metode Tipikal, yaitu suatu pendekatan yang


mempunyai uraian urutan secara tersusun. Contoh:
Bangunan sekolah, tipe yang ada ialah seperti ruang
kelas, ruang guru,ruang kepala sekolah,
ruang kesenian, lab, perpustakaan, kantin, gudang,
toilet.

D.Kritik Terukur

 Kritik Terukur mencakup penilaian lingkungan


yang dibangun terhadap standar yang didefinisikan
dengan baik dan biasanya terukur oleh hitungan,
maksudnya adalah menyatakan satu penggunaan
bilangan atau angka hasil berbagai macam observasi
sebagai cara menganalisa bangunan melalui hukum-
hukum matematika tertentu.
 Norma pengukuran digunakan untuk memberi
arah yang lebih kuantitatif. Hal ini sebagai bentuk
analogi dari ilmu pengetahuan alam.
 Pengolahan melalui statistik atau teknik lain
akan mengungkapkan informasi baru tentang objek
yang terukur dan wawasan tertentu dalam studi.
 Bilangan atau standar pengukuran secara
khusus memberi norma bagaimana bangunan
diperkirakan pelaksanaannya.

9
 Standarisasi pengukuran dalam desain
bangunan dapat berupa :

Ukuran batas minimum atau maksimum, Ukuran


batas rata-rata (avarage), Kondisi-kondisi yang
dikehendaki

Contoh : Bagaimana Pemerintah daerah melalui


Peraturan Tata Bangunan menjelaskan beberapa
standar normatif : Batas maksimal ketinggian
bangunan, sempadan bangunan, Luas terbangun,
ketinggian pagar yang diijinkan

 Adakalanya standar dalam pengukuran tidak


digunakan secara eksplisit sebagai metoda kritik
karena masih belum cukup memenuhi syarat kritik
sebagai sebuah norma

KESIMPULAN

Kritik normatif merupakan kritik yang dilakukan berdasarkan


keyakinan, suatu hal yang dianggap benar untuk menilai
keberhasilan suatu karya arsitektur. Terdapat 4 (empat) jenis
kritik normatif berdasarkan jenis sudut pandang atau keyakinan
dari sang kritikus, yaitu Kritik Doktrinal, Kritik Sistematis, Kritik
Tipikal, dan Kritik Terukur.

1. Kritik Doktrinal

Kritik yang dilakukan berdasarkan satu doktrin, atau


pemahaman yang biasanya tanpa alasan namun memiliki
tujuan yang kuat. Kritik ini mampu memberi pemahaman yang
bias sehingga menjadi multitafsir dalam penerapannya.

10
2. Kritik Sistematis

Kritik yang dilakukan berdasarkan beberapa pemahaman


yang kemudian dijalin menjadi satu sistem sehingga mampu
menerjemahkan dengan lebih terstruktur.

3. Kritik Tipikal

Merupakan kritik yang dilakukan berdasarkan klasifikasi


bangunan yang akan dikritik. Misalnya adalah bangunan
sekolah, bangunan pusat perbelanjaan, open plan, dan
lainnya.

4. Kritik Terukur

Merupakan kritik yang dilakukan berdasarkan standarisasi


pengukuran dan dilakukan analisis menggunakan metode
statistik atau perhitungan matematis. Adapun hasil data dan
analisis yang diperoleh bersifat kuantitatif.

11
BAB III- KRITIK INTERPRETIF
OLEH AMALIA HAFIZHAH JAROT - 21020116420013
1. Karakteristik utama kritik interpretif  kritik bersifat
sangat personal, ciri lainnya:
 Kritikus bertindak sebagai penerjemah bagi viewer 
kritikus tidak mengklaim untuk melayani doktrin,
sistem atau tipe, dan tidak mengklaim untuk membuat
objektif, evaluasi terukur.
 Kritikus berusaha untuk membentuk pandangan
orang lain dapat melihat seperti apa yang kritikus
lihat.

2. Teknik untuk melakukan kritik interpretif:


 Kritik advokasi
 Kritik evokatif
 Kritik impresionistik

3. Kritik advokasi:
 Membutuhkan sebuah perspektif baru pada objek,
sebuah cara baru untuk melihatnya (biasanya dengan
mengubah metafora bagaimana cara kita melihat
bangunan  melakukan metafora interpretative
dalam kritik advokasi).
 Kritikus lebih merupakan pendukung penulis yang
sering dilupakan atau tidak disukai, dimana karyanya
dia publikasikan.
 Kritikus berusaha untuk menarik perhatian para
penulis lainnya dan membantu mereka untuk melihat
manfaat yang sering diabaikan dan untuk
menemukan hal yang menarik di mana sebelumnya
mereka mengira hanya terdapat hal-hal yang
membosankan.
 Kritikus lebih menekankan utamanya dalam
menciptakan apresiasi, bukan untuk memberikan
penilaian. Sejatinya kritikus telah memberikan

12
penilaian terhadap bangunan yang dikritik dan
berusaha untuk meyakinkan orang lain dengan
keputusan penilaian tersebut.
 Pendekatan advokasi dalam kritik dibuktikan pada
manifesto dan pernyataan polemik oleh arsitek dan
para juru bicaranya. Hal ini tergantung pada metafora
segar, interpretasi baru pada suatu peristiwa.

4. Kritik evokatif:
 Dari pada mempengaruhi cara seseorang melihat
bangunan serta pemahaman intelektual seseorang
untuk mengerti makna yang mereka maksud, kritikus
malah bisa membangkitkan orang tersebut dan
respon emosionalnya.
 Sementara pada kritik advokasi setidaknya terdapat
sedikit argumentasi rasional (kasus dibuat, contoh
dikutip, kesimpulan ditarik), sebaliknya pada kritik
evokasi tidak dilakukan dengan cara tersebut 
kritikus evokatif tahu apa yang dia rasakan saat
menghadapi suatu bangunan atau lingkungan
perkotaan, dan menggunakan cara apapun yang
diperlukan untuk membangkitkan perasaan yang
serupa pada pembaca/viewer.
 Media grafis bahkan mungkin lebih mengena
daripada kata-kata dalam kritik evokatif yang
berhubungan dengan bangunan  foto-foto secara
khusus memiliki potensi untuk membangkitkan
respon emosional.
 Salah satu teknik dalam melakukan fotokritisme
evokatif adalah metode untuk mengintensifkan suatu
gambar  membuat gambar lebih evokatif
(menggugah) dengan memotong unsur-unsur asing
yang mengganggu dan menekankan kontras.
Mungkin gambar yang paling evokatif dari semuanya
adalah gambar yang menangkap momen yang
sebenarnya dan momen pada saat transisi, pada
ambang perubahan.

13
 Metode/teknik ini tentu belum cukup dalam
melakukan kritik evokatif. Dengan menggunakan
gambar saja belum bisa menjamin respon emosional,
pasti sudah terdapat investasi emosional pada
pengamatan langsung pada gedung dan oleh
pengamat dilepaskan dengan memilih gambar
secara cermat dan berhati-hati.

5. Kritik impresionistik:
 Kritikus membagun sebuah karya yang
bebas/independen, dengan menggunakan bangunan
sebagai wahana/sarana  kritik impresionistik
menggunakan karya seni atau bangunan sebagai
fondasi dimana kritikus kemudian membangun karya
seninya sendiri  bagi kritikus karya seni hanyalah
sebuah saran bagi karya barunya sendiri, yang tidak
perlu memiliki kemiripan dengan hal yang dikritiknya.
 Dalam mode impresionistik kritikus menggunakan
ruangan, misalnya, sebagai titik loncatan untuk
interpretasi pribadi yang seringkali dapat berdiri
dengan sendirinya, yang tidak perlu dievaluasi
terhadap standar.
 Media kritik impresionistik tidak terbatas pada
wacana verbal dan manipulasi grafis, namun
mencakup modifikasi bangunan itu sendiri.
 Subjektifitas dan tidak adanya standar dalam kritik
impresionistik mengganggu mereka yang
menginginkan kritik menjadi bagian dari proses
evolusioner yang mana melalui ini lingkungan binaan
akan ditingkatkan.
 Karena kritik impresionistik membangun lebih citra
provokatif daripada menghubungkan fakta, hal ini
dapat dengan cepat membuat pembaca/viewer
menjadi bias, dan membuat analisis objektif menjadi
lebih sulit.
 Sebaliknya kritikus impresionistik memberikan
layanan dengan membuat lingkungan fisik menjadi
terlihat dan mudah diingat, atau setidaknya

14
menghibur. Contoh terdapat kritik lelucon terhadap
suatu bangunan yang menyebut bangunan tersebut
dengan suatu istilah yang tidak berarti istilah tersebut
dapat meningkatkan pemahaman kita tentang
sebuah bangunan, namun membuatnya lebih mudah
diingat. Misalnya pada bangunan Trans World
Airways Terminal di New York yang dijuluki sebagai
“pregnant oyster” karena bentuk bangunannya mirip
kerang.

KESIMPULAN
1. Kritik intrepetif merupakan kritik yang sifatnya sangat
personal, dimana kritikus berusaha untuk menyamakan
pandangan orang lain dengan cara pandang kritikus.
2. Teknik untuk melakukan kritik intrepetif :
 Kritik advokasi  dengan membuat perspektif baru
untuk menilai sebuah objek.
 Kritik evokatif  kritik yang membangkitkan respon
emosional seseorang.
 Kritik impresionistik  menggunakan karya seni
atau bangunan yang sudah ada sebagai dasar untuk
menciptakan karya baru.

15
BAB IV- KRITIK DESKRIPTIF
OLEH HANA FAZA SURYA RUSYDA-21020116420015

Kritik deskriptif adalah kritik cenderung bersifat factual yang


mencatat fakta tentang bangunan atau setting perkotaan yang
sesuai dengan pertemuan seseorang. Lebih bertujuan dalam
kenyataan bahwa sesunguhnya dalam kejadian maupun
proses kejadiannya dapat lebih memahami makna dari
bangunan.

Kritik deskriptif menetapkan dasar untuk memahami melalui


berbagai bentuk penjelasan dan tidak berusaha untuk menilai
atau bahkan untuk menafsirkan (to judge or to interprete), tapi
untuk membantu melihat apa yang sebenarnya ada.

Kritik diskriptif dipahami sebagai sebuah landasan untuk


memahami yang melalui berbagai unsur yang ditampilkan.

Berikut merupakan macam-macam kritik deskriptif meliputi:

 Depictive criticism (gambaran), di mana aspek statis


atau dinamis bangunan digambarkan untuk kita baik
secara verbal maupun geografis; dan mungkin juga
menguraikan proses generatif dimana bangunan itu
dirancang;
- Static aspects (secara grafis)
- Dynamic aspects (secara verbal)
- Process aspects (secara prosedural)
 Biographical criticism (biografi), di mana fakta tentang
pembuat bangunan dicatat;
 Contextual criticism (kontekstual), dimana kejadian
yang terkait dengan desain dan produksi bangunan
diceritakan.

1. Depictive Criticism (gambaran)


a. Static aspects (aspek grafis)

16
Depictive criticism tidak dilihat sebagai suatu “kritik”
karena pada kritik tersebu tidak didasarkan pada
pernyataan “baik” atau “buruk”pada sebuah bangunan.
Dalam kritik ini menyatakan apa yang sesungguhnya
ada dan terjadi disana. Dimana orang-orang
cenderung memandang dunia sesuai dengan
keterbatasan pengalaman masa lalunya, maka melalui
perhatian khusus terhadap objek tertentu bangunan
dan menceritakan kepada kita apa yang telah dilihat,
sehingga kritik depiktif telah menjadi satu metode
penting untuk membangkitkan satu catatan
pengalaman baru seseorang. Depictive criticism tidak
butuh pernyataan betul atau salah karena penilaian
dapat menjadi bias akibat pengalaman seseorang
sebelumnya. Kritik ini juga memfokuskan penilaian
pada bentuk, material dan sifat tekstur. Hal tersebut
bertujuan supaya dapat menjelaskan dan memberi
pandangan kepada pembaca tentang apa yang telah
dia lihat agar lebih memahami sebuah bangunan
sebelum pembaca menentukan penafsiran sendiri dari
tentang bangunan tersebut yang dikritik. Penggunaan
media grafis (static) dalam depictive criticism dapat
dengan baik merekam dan mengalihkan informasi
bangunan secara non verbal tanpa kekhawatiran
terhadap bias.
Produk dari depictive criticism antara lain:
- Fotografi
- Diagram
- Pengukuran
- Kata-kata

b. Dynamic aspect (aspek verbal)


Aspek dynamic depictive mencoba melihat bukan dari
apa bangunan di buat, tetapi fungsi banunan dan
bagaimana bangunan digunakan.
Aspek dinamis mengkritisi bangunan melalui :
- Bagaimana manusia bergerak melalui ruang-ruang
sebuah bangunan?
- Apa yang terjadi disana?

17
- Pengalaman apa yang telah dihasilkan dari sebuah
lingkungan fisik?
- Bagaimana bangunan dipengaruhi oleh kejadian-
kejadian yang ada didalamnya dan disekitarnya?

c. Process aspects ( aspek prosedural)


Process aspects menginformasikan tentang proses
bagaimana sebab-sebab lingkungan fisik terjadi seperti
itu. Apa bila kritik yang lain dibentuk dengan
pengkarakteristikan informasi yang datang saat
bangunan itu telah ada, maka aspek proses lebih
melihat pada langkah-langkah keputusan dalam
proses desain yang meliputi :
- Kapan bangunan mulai direncanakan
- Bagaimana perubahannya
- Bagaimana bangunan diperbaiki
- Bagaimana proses pembentukannya

2. Biographical Criticism (biografi/ riwayat hidup)


Kritik yang hanya memperhatikan pada penncipta (artist),
khususnya pada aktivitas yang dilakukan dengan
memahami secara logis perkembangan artist sangat
diperlukan untuk mempisahakan perhatian terhadap
intensitas pada karya-karyanya secara lebih spesifik. Sejak
jaman Renaissance, telah ada ketertarikan khusus pada
kehidupan pribadi seniman dan arsitek dan perhatian
dalam menceritakan kejadian dalam kehidupan tersebut
hingga produksi benda seni dan bangunan. Seperti kritik
deskriptif, kritik biografi berharga dalam memberi penonton
/ pembaca lebih banyak hal untuk dicari sehingga lebih
kaya pengalaman dengan bangunan. Misalnya, bagaimana
pengaruh kesukaan Frank Lyod Fright waktu remaja pada
permainan Froebel Bloks (permainan lipatan kertas)
terhadap karyanya? Bagaimana pengaruh karier lain Le
Corbusier sebagai seorang pelukis? Bagaimana pengaruh
hubungan Eero Sarinen dengan ayahnya yang juga
arsitek? Informasi seperti ini dapat memberi kita
kesempatan untuk lebih memahami dan menilai bangunan-
bangunan yang dirancang.

18
3. Contextual Criticism (kontekstual)
Contextual criticism adalah untuk memberikan lebih
ketelitian untuk lebih mengerti pada suatu bangunan.
Dalam kritik ini diperlukan beragam informasi dekriptif,
informasi seperti aspek tentang konteks sosial, politikal,
dan ekonomi pada bangunan yang telah terdesain. Seperti,
apa tekanan pada arsitek maupun klien? Kesempatan aoa
yang dikapitalisasi? Hambatan apa yang dielakan?
Kebanyakan kritikus tidak mengetahui informasi mengenai
pada faktor yang mempengaruhi proses desain kecuali
mereka terlibat. Dalam kasus lain, ketika kritikus memiliki
beberapa akses ke informasi, mereka tidak mampu untuk
menerbitkannya mereka takut pada aksi legal terhadap
mereka. Informasi yang tidak kontroversial tentang konteks
suatu proses desain bangunan terkadang tersedia.

Kesimpulan

Menurut pengertian di atas, kritik diskriptif adalah kritik yang


memahami melalui bantuk penjelasan yang bersifat factual
yang apa sebenarnya ada dengan tidak berusaha untuk menilai
atau menafsirkan. Macam dari kritik diskriptif adalag depictive
criticism (gambaran), biographical criticism (riwayat
hidup/biografi), contextual criticism (kontekstual).

Kritik depictive dibagi beberapa aspek, meliputi

 aspek static (grafis) yakni kritik yang menginformasikan


bangunan secara non verbal tanpa kekhawatiran
terhadap bias, sehingga dapat menentukan penafsiran
sendiri, produknya berupa fotografi, diagram,
pengukuran, dll.
 dynamic (verbal) merupakan kritik yang menelusuri
dari fungsi dan bagaimana bangunan digunakan.
 aspek process (procedural) merupakan kritik yang
mlebih melihat langkah-langkah proses mendesain,
perubahan, pembentukan, perbaikan dll.

19
Kritik yang hanya memperhatikan pada arsitek yakni
menceritakan kejadian kehidupan hingga produksi benda seni
dan bangunan sehingga dapet memahami dan menilai
bangunan yang dirancang.

Pada kritik contextual mempunyai pengetian dalam memberika


ketetelitian untuk lebih mengerti suatu bangunan sehingga
perlunya informasi aspek konteks sosial, politikal, dan ekonomi
pada bangunan yang telah terdesain.

20
BAB V- RETORIK DARI KRITIK
OLEH SORAYA RIZKY NABILA - 21020116420008

Pengungkapan bahasa dari kritik sama sama sulitnya dalam


mengungkapkannya pada semua bahasa, karena bersifat
personal. Nikolaus Pevsner (1951) berkata bahwa kritik dalam
arsitektur mustahil karena tidak ada persamaan dalam
memaknai bangunan. Semua kritik mulai dari arsitektur, art,
musik, atau buku tidak memiliki referensi yang jelas.
Bahasa retorik dapat digunakan untuk menyampaikan
kritik. Karena bahasa retorik sifatnya yang mudah dipahami,
sehingga para pengritik dihimbau untuk mengenali strategi
retorik yang digunakan.
Kritik mengandung metafora atau kiasan untuk
mengungkapkan apa yang dipikirkan oleh kritikus. Berikut ini
karakterikstik kritik :
a. Metafora positif
 Kritik singkat Reyner Banham tentang bangunan
Yale University Arts dan Architecture. Ini adalah
salah satu dari sedikit bangunan yang saya tau, yang
ketika diabadikan, benar-benar seperti gambar,
dengan semua bayangan yang digambar dengan
pensil yang sangat tipis. Ini adalah bangunan untuk
arsitek dengan konsep yang dikandung di
dalamnnya. (Banham, 1965, p. 102). Bangunan A&A
di Yale bukan bangunan tentang arsitek atau gedung
yang menceritakan tentang sesuatu. Pendapat di
atas adalah pendapat para pengkritik dan pendapat
yang kita rasakan saat melihat gedung.
b. Metafora negatif
 Wolf von Eckardi (1973) melihat Hall Gund di
Universitas Harvard dengan cara tertentu. Bagi dia,
bangunan itu adalah 'blockbuster', 'neobrutalist',
'pabrik', ruang boiler’.

21
 Penghancuran gedung Brokaw menunjukkan
pemikiran Huxtable (1972, p.43) tentang ‘kebodohan
arsitektur’: Lihatlah landmark arsitektural
dihancurkan sedikit demi sedikit. Hadirlah ketika
bangunan indah menjadi sampah. Hadirlah ketika
gergaji menghancurkan balok dan kasau yang
besar. Sensasi kehancuran. Ambil lah untuk sampel
di rumah, cepatlah...
c. Metafora dramatis
 Huxtable mengkritik bangunan kosmetik di Lincoln
Center. seperti ‘bungkus kado’. John Lahr (1967),
menilai bangunan itu mirip ‘kursi para diva’.
 Contoh kritik di atas adalah kiasan dalam kritik yang
dikemas dengan lucu, tanpa tahu asal dan motivasi
dibelakang kiasan yang digunakan, persetujuan
kiasan untuk menilai bangunan sesuai atau tidak,
atau ketidaksetujuan diantara kritikus.
d. Satire
 Adalah salah satu teknik retorik untuk mengkritik.
Karena satire sangat luas, satire dapat menjadi alat
kritik yang bersifat negatif atau menghancurkan.
Misalnya Montgomery Schuyler (1897) mengkritik
penurunan kualitas dalam detail arsitektur.

Macam teknik dalam kritik menurut 10 kritik satire


arsitektur di London. A. Trystan Edwards (1926) :
1. Personifikasi
 Yaitu bangunan dianggap memberikan suara dan
perasaan sehingga para pengktirik dapat
mengeskpresikan pendapatnya tanpa merasa
bersalah.
 Contoh Edwards mengkritik signage (papan nama)
bangunan Gamages :
‘Selamat pagi’, saya berkata. ‘Dapatkah anda memberi
tahu jalan ke Gamages?’

22
‘Tapi saya adalah Gamages!’, gedung berteriak.
‘Apakah anda tidak dapat melihat tulisan raksasa pada fasad
yang sebagian menyembunyikan struktur bangunanku?
‘Maaf’, jawabku. ‘Aku tidak terlalu mahir menguraikan
kata. Jadi anda adalah Gamages?’.
‘Tentu saja, saya Gamages, dan papan nama saya
tertulis dua kali,pertama dengan tulisan raksasa dengan tinggi
10 ft, yang kedua dengan tipe kecil’.
‘Oh saya melihatnya, itu seperti kandang anjing
dengan lubang besar untuk anjing besar dan lubang kecil untuk
anjing kecil. Mengapa namamu tidak ditulis satu kali sehingga
lebih efisien?’.
‘Tidak. Semakin banyak dan semakin besar nama yang
ditulis, akan semakin baik’.
Bangunan tersebut memperlihatkan papan nama
dengan raksasa dan kesan amarah, terlihat memalukan.
2. Dualisme
 Yaitu retorik yang bergantung pada kejelasan dan
perbedaan.
 Contoh Nikolaus Pevsner (1960. P. 7) menggunakan
Dualisme untuk mengkritik perbedaan bangunan
dan istilah artitektur. Menurutnya Gudang sepeda
adalah bangunan, sedangkan Licoln Center adalah
bagian dari arsitektur karena bangunan itu didesain
dengan tujuan untuk menarik estetika.

3. Juxtaposition (penjajaran)
 Yaitu menyejajarkan sesuatu yang berlawanan.
Seringkali digunakan dalam penjelasan mengenai
perubahan, kerusakan yang tidak diinginkan.
Juxtaposition dapat digunakan dalam photociticism.
 Fungsi lain dari Juxtaposition untuk menunjukkan
dua hal yang terlihat sama, namun ternyata sangat
berbeda. Huxtable (1972, p. 150) memperlihatkan
gedung Pengadilan Hudson yang lama dan yang
baru. Bangunan tersebut terlihat sama karena di
lokasi yang sama. Namun gedung lama dan gedung
baru sangat berbeda pada fasad, material, dan
strukturnya.

23
4. Exaggeration (berlebihan) dapat diselesaikan
dengan teknik intensifikasi yaitu memotong atau
cropping unsur-unsur yang mengganggu dan
membiarkan pola yang kuat.
5. Dilution (penggurangan) merupakan lawan dari
Exaggeration. Subjek foto ditutupi oleh background
sehingga potensial dari foto tersebut menjadi hilang.
6. Teknik invention of terminology. Kata-kata atau
bahasa baru yang digunakan oleh kritikus jika baik,
akan diadopsi menjadi bahasa sehari-hari. Contohnya
Huxtable dengan ‘Manhatanization’, atau istilah
‘Subtopia’(Suburbia+Utopia) yang digunakan dalam
majalah Architectural Review kemudian menjadi
istilah yang sering digunakan.

Retorika adalah sebuah bahasa untuk mengkritik,


bahwa semua kritik bias, namun bukan berarti bahwa kritik itu
tidak benar. Kritik memiliki peran penting untuk kita mencari
dan menerapkan solusi desain lingkungan yang lebih baik.
Senjata 'penting' yang harus kita tempuh, dalam mengkritik
adalah pengetahuan tentang bahasa kritikus sebagai objek
yang layak. Kritik berhubungan dengan formulasi bahasa,
yaitu: hubungan antara bahasa kritis dan bahasa pengarang
dan hubungan antara objek yang dikritik dengan dunia.
Criticism diciptakan oleh interaksi kedua bahasa ini. Kritik dapat
dijabarkan, ditafsirkan, atau dinilai. Tujuan dari kritik bukan
untuk dikritik, namun untuk mempengaruhi dunia.

Kesimpulan:
Bahasa kritik sulit untuk diungkapkan karena bersifat
personal. Salah satu cara menyampaikan kritik adalah dengan
bahasa retorikal. Kritik mengandung metafora atau kiasan yang
bersifat positif, negatif, dramatis, atau satire. Jenis bahasa
retorik yang dapat digunakan untuk mengkritik antara lain :
Personifikasi, Dualisme, Juxtaposition (penjajaran),
Exaggeration (berlebihan), Dilution (pengurangan), dan Teknik
invention of terminology. Kritik memiliki peran penting untuk kita
mencari dan menerapkan solusi desain yang lebih baik.

24
BAB VI - PENGATURAN KRITIK
OLEH JUNDI JUNDULLAH AFGANI- 21020116420011

Situasi dimana kritik biasanya terjadi dapat


diidentifikasi secara kasar dengan cara yaitu : diri, otoritas,
pakar, rekan kerja dan orang awam. Kategori ini mengacu pada
situasi dan peran yang dikritik oleh kritikus. Pengaturan otoritas,
misalnya, memiliki kepala sekolah atau guru yang menjelaskan
dan memberikan penilaian atas pekerjaan inisiat. Sebaliknya,
ahli dipandang tidak memiliki kekuatan spesifik atas kritik yang
dia kritik: dampaknya bergantung pada kesan orang lain
dengan pengetahuan dan wawasan khusus. Para ilmuwan,
majalah , koran dan sejarawan contoh ahli yang pengaruhnya
berasal dari gambaran umum situasi, mulai dari imajinasi
informasi dan pengalaman. Pakar harus meyakinkan
sementara kekuatan figur penguasa berada pada posisinya.

Ada pengaturan tambahan untuk kritik yang dalam


beberapa hal tampaknya merangkum banyak hal di atas,
termasuk aspek otoritas, pakar, rekan kerja, pemula dan orang
awam. Ini adalah setting kritis diri, situasi di mana perancang
atau pengambil keputusan mengkritik dirinya sendiri dalam
proses perancangan. Kritik diri merupakan ciri utama pemikiran
deliberatif, dan walaupun fakta ini telah dikenali oleh banyak
orang kreatif, sedikit penelitian nyata telah dilakukan untuk
mempelajari lebih lanjut tentang fenomena tersebut.

Tujuan saya di sini bukan untuk menjelaskan prosesnya tapi


hanya untuk memberikan beberapa kait konseptual untuk
mengatur pengalaman kita.

menyuarakan 1: Otoritas

25
Suara otoritas sering digambarkan sebagai karakter
orang tua dan dikaitkan dengan super ego. Ini adalah sisa
pengalaman masa kanak-kanak ketika kita mengetahui bahwa
ada hak dan kesalahan dan standar dan orang lain tahu apa itu.
Yang bisa kita lakukan hanyalah mencoba, dan sering gagal,
dan ditegur. Sekali lagi, saya menduga bahwa setiap penulis
diam-diam menulis untuk seseorang, mungkin untuk orang tua
atau guru yang tidak percaya kepadanya pada masa kanak-
kanak. Kritikus yang menolak untuk memahami segera menjadi
teridentifikasi dengan orang ini, dan pemahaman banyak
pengagum hanya menambah kepahitan rahasia penulis jika
penolakan satu ini tetap ada. Secara bertahap orang menyadari
bahwa selalu ada seseorang yang tidak menyukai
pekerjaannya. (spender, 1955)

menyuarakan 2: Rekan

Teman-teman profesional saya selamanya tidak


mengatakan kepada saya bahwa saya harus melakukan ini
atau itu, tapi itu adalah tanggung jawab saya untuk melakukan
ini atau itu: siapa yang tahu apa yang baik dan yang buruk,
atau benar atau salah, dalam skema besar hal-hal "Tapi pada
edisi khusus hari ini di dunia seperti yang kita ketahui, adalah
tanggung jawab kita untuk bertindak seperti ini. 'Penyebab
arsitektur' adalah cara jujur Lloyd wright menyebutnya.

Bagi philip thiel (1974) penyebabnya sekarang bersifat


ekologis. Dalam pandangannya "kita berkewajiban untuk
mempertimbangkan setiap intervensi yang kita buat di
lingkungan fisik dari sudut pandang konsekuensi ekologis dan
sosialnya.

Pengaturan otoritatif

kritik otoriter adalah kekuatan yang melekat dalam


posisi sosial, hubungan bersifat hierarkis dengan individu di

26
atas membuat keputusan dan penilaian. Dalam beberapa
kasus, ini menjadi dasar kritik dalam situasi akademis studio:
Keheningan mutlak terjadi selama kunjungan sang pelindung.
Dia melanjutkan dari satu dewan ke dewan yang lain dan
menyampaikan kritik atau sarannya untuk keuntungan semua
orang. Jika pelindung melewati sebuah proyek tanpa komentar,
dipahami bahwa proyek tersebut tidak dianggap cukup layak
untuk membenarkan pengembangan lebih lanjut (McGuire,
1983)

Sementara otoritas kasar dari kurikulum seni “beaux”


adalah pengecualian sekarang, dan model pendidikan guru
sebagai mitra dalam proses belajar lebih cenderung
dikemukakan, tetap saja struktur situasi pembelajaran
kontemporer menunjukkan bahwa guru, betapapun sensitifnya
terhadap individu. Keinginan, tetap merupakan sosok semi
otoriter.

Guru di sekolah arsitektur tentu saja tidak berada


dalam posisi semi kewenangan tanpa ada pembenaran. Guru
juga semacam ahli, dan profesi telah membuat kombinasi
peran ini-pakar berkenaan dengan sekumpulan informasi,
otoritas yang berkaitan dengan standar profesional inti
pendidikan dalam arsitektur. Kritik desain secara tradisional
memiliki tiga tujuan untuk memberi tahu, menilai kinerja, dan
menyaring para penyimak. Sayangnya kita hanya tahu sedikit
tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam kritik desain dan
evaluasi akhir proyek (disebut juri) .

Satu dekade kemudian sebuah eksperimen di universitas


Wisconsin, milwaukee, mengambil taktik yang berbeda dalam
melihat situasi di mana proposal rancangan siswa dinilai.

Siswa diberi draft bab 2-4 dari pekerjaan ini dan diminta
untuk menggunakan taksonomi tersebut untuk menganalisis
kritik terhadap karya siswa lain. Sementara penelitian ini, yang

27
dilakukan oleh penulis, uriel cohen dan tim Mcginty, juga
berfokus pada kritikus dalam setting evaluatif, sementara ini
menunjukkan beragam perilaku kritis dari pada konsistensi
atau pola selama periode waktu tertentu. siswa mengamati
kritik dalam proses, membuat catatan, dan kemudian
menganalisis apa yang telah terjadi. Mungkin karena
taksonomi metode kritis itu baru bagi mereka, banyak siswa
menanggapi secara laporan dan bukan analitis. Beberapa
tanggapan, bagaimanapun, tampaknya memotong dan
mengidentifikasi dorongan yang mendasarinya.

- Jika tujuan proses pendidikan dalam arsitektur adalah


pengembangan individu yang mampu bertindak secara
independen dan bertanggung jawab sebagai
profesional untuk secara positif mempengaruhi
kehidupan orang lain, nampaknya jelas bahwa
pengaturan otoriter yang rawan akan sedikit
membantu, dan sebenarnya akan menunda proses.
yang keduanya diperlukan dan dapat diprediksi.o

Kritik ahli

Kritikus ahli beroperasi bukan dari posisi kekuasaan yang


ditunjuk, namun berdasarkan pada dasar informasi khusus, di
atas terbukti sensitivitasnya. Kritik yang ditulis di media populer
(koran dan majalah) adalah contoh yang jelas. Mereka adalah
pakar karena mereka sering menjadi jurnalis dan oleh karena
itu mungkin memiliki perasaan berita dan cara menarik untuk
mempresentasikan fakta. Melalui beberapa rangkaian
pengalaman dan keterlibatan lainnya, mereka harus
merancang lingkungan.

Kritik awam

orang awam tidak dilatih tidak menyarankan agar


kritiknya kurang berharga dibandingkan dengan perancang

28
atau kritikus profesional. Ini menyiratkan bahwa orang awam
tidak akan diprogram untuk melihat dan menafsirkan
lingkungan dengan cara yang biasanya profesional. Sebaliknya
fakta bahwa desainer dan kritikus telah dilatih tidak
menyarankan agar kritik mereka tidak valid atau sempit.

Lozar (1974) mengidentifikasi empat jenis perilaku dasar


yang mungkin dipamerkan oleh orang-orang sebagai respons
terhadap lingkungan binaan. Dari jumlah tersebut hanya dua
yang dapat secara sah dicirikan sebagai kritik: perilaku dan
aktivitas yang dapat diamati di lingkungan fisik, dan sikap
umum terhadap lingkungan fisik. Perilaku lain yang
diidentifikasikannya, persepsi visual tentang lingkungan fisik
dan respons fisiologis berkorelasi dengan persepsi, sikap dan
perilaku yang diamati sama sekali tidak disengaja dan oleh
karena itu tidak setara dengan karakter kritik diskriminasi yang
bersifat pusaka. Lozat juga menguraikan metode untuk
mengamati respons pengguna terhadap lingkungan fisik, Dari
metode ini dan dari dua kategori kritik awam kita (perilaku dan
aktivitas yang dapat diamati, dan sikap umum), kita dapat
memperoleh empat kategori asik respon awam:

 Sikap terhadap lingkungan.

 Perilaku adopsi dalam lingkungan.

 Modifikasi lingkungan yang tidak disengaja.

 Modifikasi lingkungan yang disengaja.

KESIMPULAN :

Pengaturan kritik terbagi menjadi 4 bagian yaitu, kritik


otoriter, kritik pakar, kritik pemula, dan kritik awam, untuk kritik
otoriter yaitu kekuatan yang melekat dalam posisi sosial,

29
hubungan bersifat hirarkis dengan individu diatas membuat
keputusan dan penilaian, kemudian kritik pakar yaitu, kritikus
ahli beroperasi bukan dari posisi kekuasaan yang ditunjuk,
namun berdasarkan pada dasar informasi khusus, diatas
terbukti sensitivitasnya. Kemudian kritik pemula yaitu kritik yang
bias dalam satu atau cara lain, dan yang terakhir yaitu kritik
awam, seorang kritik awam tidak dapat melihat maupun
menafsirkan lingkungannya dengan cara yang biasanya
seorang professional lakukan. dan yang paling sering kita
lakukan dalam mengkritik yaitu mengkritik diri sendiri, situasi
dimana perancang atau pengambil keputusan mengkritik
dirinya sendiri dalam proses perancangan.

30
BAB VII - AKHIR DARI KRITIK
OLEH B. YOSEF ARYA W.-21020116420017

Akhir dari sebuah kirik seharusnya menjadi awal atas


sesuatu hal kedepannya. Bukan hanya menjadi sebuah kritik
semata saja. Sebuah kritik harus bisa mmberikan dan
mencakup isu-isu mendatang, masalah-masalah yang akan
datang, dan aspirasi atau solusi untuk ke depannya.
Kemampuan melihat dan memandang masa depan inilah yang
membedakan kritik arsitektur dengan kritik untuk seni dan
sastra. Di kritik seni dan sastra mereka lebih berpikir agar
seniman atau penulis kelas tidak akan menjadi tokoh besar
nantinya.

Yang special dari kritik arsitektur ini adalah memiliki


efek bukan hanya untuk nama seseorang saja tetapi juga untuk
kepentingan banyak orang. Hanya di kritik arsitektur lah ranah
tentang lingkungan dan masryakat lebih diambil menjadi
pertimbangan mengambil keputusan. Oleh karena keunikan ini
lah seharusnya kritik arsitektur tidak hanya terpaku pada
mengkategorikan apa yang ada pada masa lalu tetapi juga
seharusnya memang berpikir bahwa menggabung kan masa
depan dan yang akan datang akan mengajari kita tentang
bagaimana mengatasi apa yang akan terjadi.

Menurut Grady Clay (1962) masa depan dari kritik


arsitektur ini seharusnya menjadi :

1. Untuk mengidentifikasikan , mendeskripsikan


dan semoga bisa membersikan kota dari segala hal yang
tidak baik menjadi baik.
2. Untuk mendorong desain kontemporer,
perencanaan, restorasi dan innovasi dari design-design
yang bagus.

31
3. Untuk menghasilkan seorang arsitek,
perencana dan pejabat-pejabat kota yang bisa membuat
keputusan yang tepat.
4. Untuk membantu mendidik konsumen dari
desain perkotaan, konsumen dari kota masa depan dan
para arsitek tersebut.
Menurut Clay kritik harus mempengaruhi tentang
keputusan-keputusan yang akan datang., Kalau masa depan
adalah focus yang mendasar dari kritik , maka seperti yang
diindikasi oleh Clay, persiapan dari konsumen yang menuntut
adalah langkah pertama dan terpenting yang harus diambil..
Yang kemudian seperti pada bab 2 adalah untuk menunjukan
pada konsumen bagiamana sistem berkerja, bagaimana itu
bisa terpengaruhi. Satu kekurangan yang penting dari kritik
arsitektur seperti yang kita tahu tidak menunjukan kita tentang
proses dimana pristiwa pembangunan terjadi. Karena tidak
semua proses pembangunan tidak dipublikasikan sehingga
kritik memang bisa hanya memakai perspektif tanpa melihat
proses.Kritik pada akhirnya yang diihat hanya akhir dari sebuah
karya.

Kiritk yang berorientasi pada masa depan, pada


lingkungan fisik yang sedang dibuat, akan lebih terarah
darpiada yang berfokus pada sesuatu yang sudah terbangun
dan keputusan yang sudah diambil. Kritik akan terus lebih
berkembang daripada yang tertulis dan diharapkan
kedepannya kritik tidak hanya digunakan untuk menyaring
tetapi juga sebagai sebuah respon yang memiliki tujuan.

KESIMPULAN

Sebuah kritik Arsitektur jangan hanya berhenti sampai di kritik


saja tetapi juga harus bisa memberikan solusi untuk kondisi
yang akan datang. Karena kondisi itu lah yang membedakan
antara kritik Arsitektur dengan kritik sastra dan seni. Bahwa
kritik Arsitektur berfungsi bukan hanya untuk karier satu orang
saja tetapi memiliki dampak juga untuk orang banyak.

32
KESIMPULAN
Kritik pertama dan paling utama tentang kritikus, bukan
tentang objek yang dikritik. Citra diri kritikus, cara dia
memandang perannya yang melekat pada pemikiran dan
perasaan. Tindakan atau perilaku seseorang merupakan
pertimbangan penting ketika para desainer dan orang lain
dalam menghadapi kritik dan mulai meresponsnya.

Ada tiga jenis metode kritik. Yang pertama kritik


normatif merupakan kritik yang dilakukan berdasarkan
keyakinan, suatu hal yang dianggap benar untuk menilai
keberhasilan suatu karya arsitektur. Terdapat 4 (empat) jenis
kritik normatif berdasarkan jenis sudut pandang atau keyakinan
dari sang kritikus, yaitu Kritik Doktrinal, Kritik Sistematis, Kritik
Tipikal, dan Kritik Terukur. Lalu yang kedua kritik intrepetif
merupakan kritik yang sifatnya sangat personal, dimana kritikus
berusaha untuk menyamakan pandangan orang lain dengan
cara pandang kritikus.Ada 3 teknik yaitu teknik advokasi,
evokatif,dan impresionistik.

Kritik diskriptif adalah kritik yang memahami melalui


bantuk penjelasan yang bersifat factual yang apa sebenarnya
ada dengan tidak berusaha untuk menilai atau menafsirkan.
Macam dari kritik diskriptif adalag depictive criticism
(gambaran), biographical criticism (riwayat hidup/biografi),
contextual criticism (kontekstual).

Bahasa kritik sulit untuk diungkapkan karena bersifat


personal. Salah satu cara menyampaikan kritik adalah dengan
bahasa retorikal. Kritik mengandung metafora atau kiasan yang
bersifat positif, negatif, dramatis, atau satire. Jenis bahasa
retorik yang dapat digunakan untuk mengkritik antara lain :
Personifikasi, Dualisme, Juxtaposition (penjajaran),
Exaggeration (berlebihan), Dilution (pengurangan), dan Teknik
invention of terminology. Kritik memiliki peran penting untuk kita
mencari dan menerapkan solusi desain yang lebih baik.

33
Pengaturan kritik terbagi menjadi 4 bagian yaitu, kritik
otoriter, kritik pakar, kritik pemula, dan kritik awam, untuk kritik
otoriter yaitu kekuatan yang melekat dalam posisi sosial,
hubungan bersifat hirarkis dengan individu diatas membuat
keputusan dan penilaian, kemudian kritik pakar yaitu, kritikus
ahli beroperasi bukan dari posisi kekuasaan yang ditunjuk,
namun berdasarkan pada dasar informasi khusus, diatas
terbukti sensitivitasnya. Kemudian kritik pemula yaitu kritik yang
bias dalam satu atau cara lain, dan yang terakhir yaitu kritik
awam, seorang kritik awam tidak dapat melihat maupun
menafsirkan lingkungannya dengan cara yang biasanya
seorang professional lakukan. dan yang paling sering kita
lakukan dalam mengkritik yaitu mengkritik diri sendiri, situasi
dimana perancang atau pengambil keputusan mengkritik
dirinya sendiri dalam proses perancangan.

Sebuah kritik Arsitektur jangan hanya berhenti sampai


di kritik saja tetapi juga harus bisa memberikan solusi untuk
kondisi yang akan datang. Karena kondisi itu lah yang
membedakan antara kritik Arsitektur dengan kritik sastra dan
seni. Bahwa kritik Arsitektur berfungsi bukan hanya untuk karier
satu orang saja tetapi memiliki dampak juga untuk orang
banyak.

34