Anda di halaman 1dari 4

Etiologi

Patofisiologi

Manifestasi Klinis

Etiologi
Mastoiditis merupakan hasil infeksi yang disebabkan dari telinga tengah, oleh karena
itu bakteri penyebab mastoiditis sama pada bakteri yang menginfeksi telinga tengah. Berikut
beberapa bakteri penyebab mastoiditis:
 Streptococcus pneumoniae
 Haemophilus influenzae
 Moraxella catarrhalis
 Staphylococcus aureus
 Pseuodomonas aeruginosa
 Klebsiella
 Escherichia coli
 Proteus
 Prevotella
 Fusobacterium
 Porphyromonas
 Bacteroides
 Mycobacterium species

II.4. Manifestasi Klinis


a. Mastoiditis Koalesens Akut
 Demam dan malaise
 Eritema dan edema jaringan lunak
 Nyeri dibelakang telinga
 Mastoid tenderness
 Daun telinga terdorong ke depan
 Abses mastoid
Gambar 5. Gejala klinis mastoiditis
Keluhan nyeri dirasakan cenderung menetap dan berdenyut. Gangguan pendengaran
dapat timbul atau tidak bergantung pada besarnya kompleks mastoid akibat infeksi. Jika tidak
diobati dapat terjadi ketulian yang berkembang secara progresif, sepsis, meningitis, abses otak
atau kematian.
Membran timpani menonjol keluar, dinding posterior kanalis menggantung,
pembengkakan post aurikula mendorong pinna keluar dan ke depan dan nyeri tekan pada
mastoid terutama di posterior dan sedikit di atas liang telinga.
Di dalam tulang juga bisa terbentuk abses. Biasanya gejala muncul dalam waktu
2minggu atau lebih setelah otitis media akut, dimana penyebaran infeksi telah merusak bagian
dalam dari prosesus mastoideus.
b. Infeksi Kronik Pada Telinga Tengah dan Mastoid
Karena telinga tengah berhubungan dengan mastoid, maka otitis media kronik sering
kali disertai mastoiditis kronik. Kedua peradangan ini dapat dianggap aktif atau inaktif. Aktif
merujuk pada adanya infeksi dengan pengeluaran sekret telinga (otorrhea) akibat perubahan
patologi dasar seperti kolestetoma atau jaringan granulasi. Inaktif merujuk pada sekuele dari
infeksi aktif terdahulu yang telah “terbakar habis” dengan demikian tidak ada otorrhoe.
Pasien dengan otitis media kronik inaktif seringkali mengeluh gangguan pendengaran.
Mungkin, terdapat gejala lain seperti vertigo, tinnitus, atau suatu rasa penuh dalam telinga.
Biasanya tampak perforasi membrana timpani yang kering. Perubahan lain dapat menunjukan
timpanosklerosis (bercak-bercak putih pada membrana timpani) bila gangguan pendengaran
dan cacat cukup berat, dapat dipertimbangkan koreksi bedah atau timpanoplasti.
Salah satu kelainan patologi yang dapat ditemukan pada otitis media dan mastoiditis
kronik adalah kolestetoma, yaitu eptiel skuamosa yang mengalami kreatinisasi (“kulit”) yang
terperangkap dalam rongga telinga tengah dan mastoid. Kolestatoma terbentuk sekunder dari
invasi sel-sel epitel liang telinga melalui attis ke dalam mastoid suatu kolesteatoma dapat
mencapai ukuran yang cukup besar sebelum terinfeksi atau menimbulkan gangguan
pendengaran dengan akibat hilangnya tulang mastoid, osikula, dan pembungkus tulang saraf
fasialis.
II.5. Patofisiologi
Peradangan mukosa cavum timpani pada otitis media supuratif akut maupun
kronik yang sifatnya maligna (atikoantral) atau disebut juga tipe tulang (kolesteatom) maka
dapat menyebabkan komplikasi intra temporal berupa mastoiditis, karena kolesteatom
mampu mendestruksi tulang disekitarnya. Oleh karena letak dari antrum mastoid pada
dinding anteriornya berbatasan dengan telinga tengah dan aditus ad antrum.
Mastoiditis merupakan komplikasi intratemporal dari otitis media yang paling
sering dijumpai. Otitis media, khususnya yang kronik (otitis media supuratif kronik) adalah
infeksi telinga tengah yang ditandai dengan sekret telinga tengah aktif atau berulang pada
telinga tengah yang keluar melalui perforasi membran timpani yang kronik. OMSK sukar
disembuhkan dan menyebabkan komplikasi yang luas. Umumnya penyebaran bakteri
merusak struktur sekitar telinga dan telinga tengah itu sendiri. Komplikasi intratemporal
yaitu mastoiditis, labirintis, petrositis, paralisis n. facialis; dan ekstratemporal meliputi
komplikasi intrakranial (abses subperiosteal, abses bezold’s) dan intrakranial (meningitis,
abses otak, sinus trombosis).

nfeksi akut yang menetap dalam rongga mastoid dapat menyebabkan osteoitis, yang
menghancurkan trabekula tulang yang membentuk sel-sel mastoid. Oleh karena itu istilah
mastoiditis coalescent digunakan. Mastoiditis coalescent pada dasarnya merupakan empiema
tulang temporal yang akan menyebabkan komplikasi lebih lanjut, kecuali bila progresifitasnya
dihambat, baik dengan mengalir melalui antrum secara alami yang akan menyebabkan resolusi
spontan atau mengalir ke permukaan mastoid secara tidak wajar, apeks petrosus, atau ruang
intrakranial. Tulang temporal lain atau struktur didekatnya seperti nervus fasiais, labirin, sinus
venosus dapat terlibat. Mastoidtis dapat berlangsung dalam 5 tahapan :
 Tahap 1 : hiperemia dari lapisan mukosa sel udara mastoid
 Tahap 2 : trasudasi dan eksudasi cairan dan atau nanah dalam sel-sel
 Tahap 3 : nekrosis tulang yang disebabkan hilangnya vaskularitas septa
 Tahap 4 : hilangnya dinding sel dengan proses peleburan (coalescence) menjadi
rongga abses
 Tahap 5 : proses inflamasi berlanjut ke struktur yang berdekatan.