Anda di halaman 1dari 27

Etiologi

Mastoiditis terjadi karena Streptococcus ß hemoliticus / pneumococcus. Selain


itu kurang dalam menjaga kebersihan pada telinga seperti masuknya air ke dalam telinga
serta bakteri yang masuk dan bersarang yang dapat menyebabkan infeksi traktus
respiratorius. Pada pemeriksaan telinga akan menunjukkan bahwa terdapat pus yang berbau
busuk akibat infeksi traktus respiratorius (Brook, 2018).

Mastoiditis adalah hasil dari infeksi yang lama pada telinga tengah, bakteri
yang didapat pada mastoiditis biasanya sama dengan bakteri yang didapat pada infeksi
telinga tengah. Bakteri gram negatif dan St. aureus adalah beberapa bakteri yang
paling sering didapatkan pada infeksi ini. Seperti telah disebutkan diatas, bahwa
keadaan-keadaan yang menyebabkan penurunan dari sistem imun dari seseorang
juga dapat menjadi faktor predisposisi mastoiditis. Pada beberapa penelitian terakhir,
hampir sebagian dari anak-anak yang menderita mastoiditis, tidak memiliki penyakit
infeksi telinga tengah sebelumnya. Bakteri yang berperan pada penderita anak-anak ini
adalah S. Pnemonieae (Brook, 2018).

1
Seperti semua penyakit infeksi, beberapa hal yang mempengaruhi berat dan
ringannya penyakit adalah faktor tubuh penderita dan faktor dari bakteri itu sendiri. Dapat
dilihat dari angka kejadian anak-anak yang biasanya berumur di bawah dua tahun,
pada usia inilah imunitas belum baik. Beberapa faktor lainnya seperti bentuk tulang,
dan jarak antar organ juga dapat menyebabkan timbulnya penyakit. Faktor-faktor dari
bakteri sendiri adalah, lapisan pelindung pada dinding bakteri, pertahanan terhadap
antibiotik dan kekuatan penetrasi bakteri terhadap jaringan keras dan lunak dapat berperan
pada berat dan ringannya penyakit (Brook, 2018).

2.5. Gejala
Klinis

Gambar 3. Mastoiditis dengan abses


subperiosteum. Perhatikan hilangnya lekukan kulit
dan abses yang menonjol.

Pasien mungkin memiliki gejala unik dari mastoiditis akut dan kronis. Mastoiditis
akut umumnya timbul setelah episode baru atau terjadi bersamaan dengan otitis media
akut (AOM) dan sering menyebabkan demam.

Presentasinya bervariasi menurut usia dan tahap


infeksi.

Penyakit kronis, yang dapat subklinis, sering terjadi sekunder pada


pengobatan sebagian AOM dengan antibiotik.
Otorrhea yang berlangsung lebih dari 3 minggu adalah tanda yang paling konsisten
yang menunjukkan bahwa proses kronis yang melibatkan mastoideus telah terjadi.

2
Demam bisa ditemukan. Suhu pasien dapat tinggi.
o Demam dapat tak henti-hentinya pada mastoiditis akut dan
mungkin berhubungan dengan AOM terkait.
o Demam yang menetap, terutama jika pasien mendapatkan antimikroba
yang memadai dan tepat, adalah umum pada mastoiditis akut.
Nyeri dapat dilaporkan.
o Nyeri terlokalisir jauh di dalam atau di belakang telinga dan biasanya
lebih buruk pada malam hari.
o Nyeri yang menetap adalah tanda peringatan penyakit mastoideus. Temuan
ini mungkin sulit untuk mengevaluasi pada pasien muda.
Kehilangan pendengaran dapat terjadi.
o Hal ini biasa terjadi dengan semua proses melibatkan celah-tengah telinga.
o Lebih dari 80% pasien tidak memiliki riwayat otitis media yang berulang.
Gejala nonspesifik (paling umum diamati pada bayi) termasuk kehilangan
nafsu makan dan iritabilitas. 5

Pemeriksaan Fisik

Temuan pada mastoiditis akut dan kronis termasuk penebalan periosteal, abses
subperiosteal, otitis media, dan tonjolan nipplelike (seperti puting) dari membran
timpani pusat. Menentukan adanya penebalan periosteal memerlukan perbandingan
dengan bagian telinga yang lain. Perubahan posisi dari daun telinga ke arah bawah
dan ke luar (terutama pada anak-anak <2 tahun) atau ke atas dan ke luar (pada anak-
anak <2 tahun) dapat ditemukan. Abses subperiosteal merubah posisi aurikel ke lateral
dan melenyapkan lipatan kulit postauricular. Jika lipatan tetap ada, proses ini terjadi di
lateral periosteum. Otitis media terlihat pada pemeriksaan dengan otoskop.

Tonjolan nipplelike dari membran timpani sentral mungkin ada, ini biasanya disertai
rembesan nanah. Infeksi ringan persisten ( mastoiditis tersembunyi) dapat terjadi pada
pasien dengan otitis media rekuren atau efusi telinga persisten. Kondisi ini dapat
menyebabkan demam, sakit telinga, dan komplikasi lain.

3
Tanda-tanda mastoiditis akut adalah sebagai berikut:

o Bulging membran timpani yang erythematous


o Eritema, tenderness, dan edema di atas area mastoid
o Fluktuasi postauricular
o Tonjolan dari aurikula
o Pengenduran dinding kanalis posterosuperior
o Demam (terutama pada anak-anak <2 tahun)
o Otalgia dan nyeri retroauricular (terutama pada anak-anak <2 tahun)

Temuan pada mastoiditis kronis mungkin konsisten dengan komplikasi ekstensi


ke luar prosesus mastoideus dan periosteum yang mengelilinginya atau dengan komplikasi
lain intratemporal seperti lumpuh wajah.

Tanda-tanda meliputi:

o Membran timpani terinfeksi atau normal


o Demam berulang atau persisten
o Tidak adanya tanda-tanda eksternal dari peradangan mastoideus

Pemeriksaan neurologis umumnya menghasilkan temuan nonfocal. Namun,


keterlibatan saraf kranialis dapat terjadi pada penyakit lanjut.

Tanda-tanda meliputi:

o Palsy dari saraf abducens (saraf kranial VI)


o Palsy dari saraf wajah (saraf kranial VII)
o Rasa nyeri dari keterlibatan cabang oftalmik dari saraf trigeminal. 5

4
2.6. Diagnosis

Diagnosis mastoiditis ditegakkan melalui gejala klinis, pemeriksaan fisik


dan pemeriksaan penunjang radiologi yang menunjukkan mastoiditis baik foto polos
mastoid Schuller maupun CT scan mastoid. Dengan CT scan bisa dilihat bahwa air
cell dalam prosesus mastoideus terisi oleh cairan (dalam keadaan normal terisi oleh
udara) dan
melebar.1,6

Pemeriksaan penunjang yang dapat diminta adalah, pemeriksaan kultur


mikrobiologi, hitung sel darah merah dan sel darah putih yang menandakan adanya infeksi,
pemeriksaan cairan sumsum untuk menyingkirkan adanya penyebaran ke dalam ruangan di
dalam kepala. Pemeriksaan lainnnya adalah CT-scan kepala, MRI-kepala dan foto polos
kepala. 2

Pemeriksaan Laboratorium

Spesimen dari sel-sel mastoid yang diperoleh selama operasi dan


cairan myringotomy, ketika diperoleh, harus dikirim untuk kultur bakteri aerobik
dan anaerobik, jamur, mikobakteri dan basil tahan asam.
o Jika membran timpani sudah perforasi, saluran eksternal dapat
dibersihkan, dan sampel cairan drainase segar diambil.
o Ketelitian adalah penting untuk mendapatkan cairan dari telinga tengah
dan bukan saluran eksternal.
o Kultur dan pengujian kepekaan terhadap isolat dapat membantu
dalam memodifikasi terapi inisial antibiotik.
o Hasil kultur yang dikumpulkan dengan benar untuk bakteri aerobik
dan anaerobik sangat membantu untuk pilihan terapi definitif.
o Pewarnaan Gram dari spesimen awalnya dapat membimbing
terapi antimikroba empiris.
Kultur darah harus diperoleh.
Pemeriksaan darah rutin dan laju sedimentasi dihitung untuk mengevaluasi
efektivitas terapi seterusnya.
Pemeriksaan LCS untuk evaluasi jika dicurigai perluasan proses ke intrakranial. 5
5
2.7. Tatalaksana

Biasanya gejala umum berhasil, diatasi dengan pemberian antibiotik, kadang


diperlukan miringotomi. Jika terdapat kekambuhan akibat nyeri tekan persisten, demam,
sakit kepala, dan telinga mungkin perlu dilakukan mastoidektomi. Pengobatan dengan obat-
obatan seperti antibiotik, anti nyeri, anti peradangan dan lain-lainnya adalah lini
pertama dalam pengobatan mastoiditis. Tetapi pemilihan anti bakteri harus tepat sesuai
dengan hasil test kultur dan hasil resistensi. Pengobatan yang lebih invasif adalah
pembedahan pada mastoid. Bedah yang dilakukan berupa bedah terbuka, hal ini dilakukan
jika dengan pengobatan tidak
dapat membantu mengembalikan ke fungsi yang normal. 2

Pengobatan berupa antibiotika sistemik dan operasi mastoidektomi. Meliputi dua


hal penting:1
1. Pembersihan telinga (menyedot/mengeluarkan debris telinga dan sekret)
2. Antibiotika baik peroral, sistemik ataupun topikal berdasarkan pengalaman
empirik dari hasil kultur mikrobiologi. Pemilihan antibiotika umumnya berdasarkan
efektifitas kemampuan mengeliminasi kuman (mujarab), resistensi, keamanan,
risiko toksisitas dan harga. Pengetahuan dasar tentang pola mikroorganisme pada
infeksi telinga dan uji kepekaan antibiotikanya sangat penting

2.8. Komplikasi

Mortalitas dan Morbiditas

Mastoiditis, ketika berlanjut di luar 2 tahap pertama dianggap sebagai


komplikasi otitis media. Komplikasi dari mastoiditis adalah perluasan lebih lanjut di dalam
atau di luar mastoideus itu sendiri. Komplikasi yang umum terjadi termasuk kehilangan
pendengaran dan perluasan dari proses infeksi di luar sistem mastoideus,
mengakibatkan komplikasi intrakranial atau ekstrakranial.

6
Komplikasi lainnya termasuk berikut ini :

Perluasan posterior ke sinus sigmoid, menyebabkan trombosis


Perluasan ke tulang oksipital, yang mengakibatkan osteomyelitis calvaria atau abses
Citelli
Perluasan superior ke fosa kranial posterior, ruang subdural, dan meninges
Perluasan anterior ke akar zygomatic
Perluasan lateral membentuk abses subperiosteal
Perluasan inferior membentuk abses Bezold
Perluasan medial ke apex petrous
Keterlibatan intratemporal saraf wajah dan / atau labirin. 5

2.9. Gambaran Radiologi, CT-Scan dan MRI Mastoid

Tulang temporal merupakan bagian paling kompleks dari keseluruhan struktur tubuh
kita. Pemeriksaan gangguan pada tulang temporal secara konvensional masih berlaku
di seluruh dunia. CT dan MRI saat ini sudah menjadi salah satu metode pencitraan
radiologi untuk sebagian besar penyakit pada telinga dan bila ada kerusakan pada
tulang temporal. Pada penyakit pengikisan tulang, seperti otitis media kronik dengan
kolesteatom, CT dengan pengaturan jendela tertentu akan memberikan sumber informasi
yang akurat. CT dengan penggunaan cairan kontras yang disuntikan pada vena telah
digunakan secara terus menerus pada pemeriksaan cerebellopontine angle masses.
Peralatan pencitraan lain untuk tulang
temporal ini meliputi superlatif angiography. 4

7
GAMBARAN RADIOLOGI 7

13
Gambar 4. Gambaran
Tengkorak

Ada tiga jenis proyeksi radiologik yang paling sering dan cukup bermanfaat
serta dapat mudah dibuat dengan memakai alat rontgen yang tidak terlalu besar untuk
menilai tulang temporal, yaitu:

1. Posisi Schuller
Posisi ini menggambarkan penampakan lateral dari mastoid. Proyeksi foto
dibuat dengan bidang sagital kepala terletak sejajar meja pemeriksaan dan
berkas sinar X ditujukan dengan sudut 30° cephalo-caudad.

Pada posisi ini perluasan pneumatisasi mastoid serta struktur trabekulasi dapat
tampak dengan lebih jelas. Posisi ini juga memberikan informasi dasar tentang
besarnya kanalis auditorius eksterna dan hubungannya dengan sinus lateralis. 8

Posisi Pasien

Pasien diposisikan prone.


Berikan tanda letak Mastoid yang akan diperiksa pada 2,5 cm posterior dari
MAE
sebagai CP
14
Kepala diposisikan lateral, dengan menempatkan :
o MSP kepala sejajar dengan bidang film
o IPL tegak lurus dengan bidang film
o IOML sejajar dengan bidang film
Pastikan tidak terjadi pergerakan kepala dengan melakukan fiksasi
Letakkan CP agar terproyeksi dipertengahan film, pada daerah 2,5 cm posterior
MAE.
Central Ray diarahkanmenyudut 25° caudally menembus pertengahan
film. 9

Gambar 5. Posisi pasien pada teknik


Schuller

Kriteria Gambaran
Tampak bagian os mastoid dan sebagian os petrosum dipertengahan film
Mastoid air cells tampak di bagian posterior petrous ridge
TMJ tampak di bagian anterior petrous ridge
Bagian mastoid danpetrossum yang tidakdiperiksaterproyeksi di bagian inferior
Tampak marker R/L di tepi film. 9
15
Gambar 6 : Posisi Schuller

2. Posisi Owen
Posisi ini juga menggambarkan penampakan lateral mastoid dan proyeksi dibuat
dengan kepala terletak sejajar meja pemeriksaan atau film lalu wajah diputar
30° menjauhi film dan berkas cahaya sinar X ditujukan dengan sudut 30° - 40°
cephalo- caudad. Umumnya posisi Owen dibuat untuk memperlihatkan kanalis
auditorius
eksternus, epitimpanikum, bagian-bagian tulang pendengaran dan sel udara
mastoid. 8

16
Gambar 7. Posisi Owen

3. Posisi Chausse III

Posisi ini merupakan penampakan frontal mastoid dan ruang telinga tengah.

Proyeksi dibuat dengan dengan oksiput terletak di atas meja pemeriksaan, dagu

ditekuk ke arah dada lalu kepala diputar 10°-15° ke arah sisi berlawanan dari telinga

yang akan diperiksa.

Posisi ini merupakan posisi tambahan setelah pemeriksaan posisi lateral

mastoid. Posisi Chausse III ini merupakan posisi radiologik konvensional yang

paling baik untuk pemeriksaan telinga tengah terutama untuk pemeriksaan otitis

kronik dan kolesteatoma. 8

Gambar 8. Posisi Chausse III

17
OTITIS MEDIA AKUT / MASTOIDITIS

AKUT Gambaran Radiologik

Pembuatan foto radiologik untuk mastoiditis akut biasanya dipakai posisi

Schuller atau Owen, sedangkan posisi Chausse III dipakai untuk melihat ruang telinga

tengah.

Dengan posisi-posisi ini dapat dilihat dengan jelas perselubungan sel udara mastoid,

destruksi trabekulae atau erosi sinus plate. Gambaran radiologik mastoiditis akut bergantung

pada lamanya proses inflamasi dan proses pneumatisasi tulang temporal. Biasanya mastoid

akut tak terjadi pada mastoid yang acellulair.

Gambaran dini mastoiditis akut adalah berupa perselubungan ruang telinga tengah

dan sel udara mastoid, dan bila proses inflamasi terus berlangsung akan terjadi

perselubungan yang difus pada kedua daerah tersebut. Pada masa permulaan infeksi

biasanya struktur trabekulae dan sel udara mastoid masih utuh, tetapi kadang-kadang

dengan adanya edema mukosa dan penumpukan cairan seropurulen, maka terjadi

kekaburan penampakan trabekulasi sel udara mastoid. Bersamaan dengan progresivitas

infeksi, maka akan terjadi demineralisasi diikuti dengan destruksi trabekulae dimana

pada proses mastoid yang hebat akan terjadi penyebaran ke arah posterior

menyebabkan tromboflebitis pada sinus lateralis (gambar 9).

Jika terjadi komplikasi intrakranial pada daerah fossa kranii posterior atau

media, maka pemeriksaan computerized tomography (CT) merupakan pemeriksaan

terpilih untuk mendeteksi hal tersebut di mana pada pemeriksaan CT dapat ditemui defek

tulang dengan lesi intrakranial. 8

18
Gambar 9. Mastoiditis akut. Dengan posisi Schuller tampak perselubungan

agak difus serta sedikit destruksi trabekulasi bagian superior.

Akut otitis media & mastoiditis :


Hilangnya radiolusen dari tuba eustachi dan meatus acusticus media
Gambaran radioopak antrum mastoid dgn perkaburan batas luar dinding mastoid. 10

OTITIS MEDIA KRONIK DAN MASTOIDITIS

KRONIK Gambaran Radiologis

Gambaran radiologik pada mastoditis kronik terdiri atas perselubungan yang tidak

homogen pada daerah antrum mastoid dan sel udara mastoid, serta perubahan yang

bervariasi pada struktur trabekulasi mastoid. Proses inflamasi pada mastoid akan

menyebabkan penebalan struktur trabekulasi diikuti demineralisasi trabekulae, pada saat

ini yang tampak pada foto adalah perselubungan sel udara mastoid dan jumlah sel udara

yang berkurang serta struktur trabekulae yang tersisa tampak menebal.

Jika proses inflamasi terus berlangsung, maka akan terlihat obliterasi sel udara

mastoid dan biasanya mastoid akan terlihat sklerotik. Kadang-kadang lumen antrum

mastoidikum dan sisa sel udara mastoid akan terisi jaringan granulasi sehingga pada

foto akan terlihat pula sebagai perselubungan. 8

19
Gambar 10. Mastoiditis kronik. Dengan posisi Schuller tampak perselubungan

tidak homogen serta adanya penebalan trabekulasi.

Kronik :
Sclerosis dari mastoid air cell
Merupakan komplikasi dari abscess & sequester dgn sclerosis dari mastoid (
sulit membedakan dengan cholesteatoma ) . Abscess dinding batas tegas
Dapat menyebabkan extradural& intra cerebral sepsis
Komplikasi yang serius Cholesteatoma. 10

KOLESTEATOMA

Gambaran

Radiologik

Pada kolesteatoma yang menyebar kea rah mastoid akan menyebabkan destruksi
struktur trabekulae mastoid dan pembentukan kavitas besar yang berselubung dengan
dinding yang licin. Kadang-kadang kolesteatoma dapat meluas ke sel udara mastoid
tanpa merusak trabekulasi tulang dan jenis ini sering dijumpai pada anak-anak,
dimana gambaran radiologiknya berupa perselubungan pada sel udara mastoid dan
sulit dibedakan dengan mastoiditis biasa. Untuk melihat lesi-lesi kolesteatoma yang kecil
atau ingin melihat lesi lebih
jelas perlu dibuat tomografi tulang temporal.
8

20
Gambar 11. Kolesteatoma. Dengan posisi Owen tampak mastoid yang sklerotik
serta bayangan lusen daerah superior mastoid.

Cholesteatoma :
Secara Ro sulit dibedakan kecuali ada riwayat post op
Perubahan-perubahan post op mastoidectomi: pelebaran aditus parsial atau
complex, bergesernya air cell, mastoid system. 10

GAMBARAN CT SCAN

CT Scan pada tulang temporal adalah standar pada pemeriksaan mastoiditis.


o Sensitivitas CT Scan pada mastoiditis adalah 87-100%. Ini lebih
sensitive karena AOM memiliki komponen dari inflamasi mastoid
o CT scan menggambarkan dimanapun di intracranial adanya suspek
komplikasi atau perluasan
o Bukti dari mastoiditis adalah menggambarkan destruksi mastoid
dan kehilangan ketajaman sel udara mastoid
o Pada kasus-kasus tertentu, dengan menggunakan CT Scan gambaran air
cells yang kabur dapat diungkap, scan tulang dengan technetium-99 dapat
menolong mendeteksi perubahan osteolitic
o Plain radiografi kurang dipercaya, dan penemuan gejala klinis terlambat. Di
beberapa daerah di dunia yang tidak memiliki CT Scan, plain radiografi dari
mastoid menggambarkan destruksi sel udara tulang yang berkabut pada
acute surgical mastoiditis (ASM). Pada kebanyakan kasus, radiografi cukup
kuat untuk menegakkan diagnosis tapi kurang sensitive dalam membedakan
staging dari penyakit dan tidak bisa menggambarkan detail-detailnya.

21
o Temuan lainnya digunakan untuk membedakan acute otitis media (AOM)
dan/atau acute mastoiditis tanpa osteitis dan chronic mastoiditis :
Tampak gambaran berawan atau berkabut dari sel udara mastoid
dan telinga tengah. Ini disebabkan inflamasi pembengkakan
mukosa dan terkumpulnya cairan.
Kehilangan ketajaman atau visibility dari sel mastoid
karena demineralisasi, atrophy, atau necrosis dari tulang
septa.
Kekaburan atau distorsi darimastoid, kemungkinan dengan defek
yang tampak dari tegmen atau cortex mastoid
Peningkatan dari pembentukan area abses
Peningkatan periosteum karena proses mastoid atau fossa
cranial posterior
Aktivitas osteoblastic pada chronic mastoiditis. 5

Gambar 12. Axial CT scan memperlihatkan kuantitas tulang pada telinga kanan
yang terbatas

22
Gambar 13. Acute mastoiditis - CT scan

23
Gambar 14. cholesteatoma dengan erosion pada cochlea

Gambar 15. congenital cholesteatoma dengan erosi pada cochlea

Gambar 16. mastoiditis dengan sigmoid sinus thrombosis

24
Gambar 17. Telinga tengah dan mastoid cholesteatoma – preoperative

Gambar 18. Telinga tengah dan mastoid cholesteatoma – post operative

25
GAMBARAN MRI

o MRI sering digunakan pada pasien dengan gejala klinis atau penemuan CT yang
mengarah ke komplikasi intracranial. Bagaimanapun, MRI tidak rutin digunakan
untuk evaluasi mastoid.
MRI adalah standar untuk mengevaluasi jaringan lunak yang berdampingan,
lebih spesifik, intra cranial struktur dan untuk mendeteksi cairan yang
terkumpul extra axial dan yang berhubungan dengan masalah vascular.
MRI membantu dlaam merencanakan pengobatan operasi yang efektif. 5

Gambar 19. Tulang temporal, kolesteatoma didapat. MRI aksial T1


weighted memperlihatkan massa jaringan lunak di region tegmen kanan
timpani.

Gambar 20. Tulang temporal, kolesteatoma didapat. MRI T1 weighted axial. Terdapat
massa jaringan lunak hipointense pada regio tegmen timpani kanan yang ekstensi ke arah
intracranial.

26
Gambar 21. Tulang temporal, kolesteatoma didapat. MRI T2 weighted axial. Terdapat
massa jaringan lunak hiperintense pada regio tegmen timpani kanan yang ekstensi ke arah
intracranial.

Tingkat Kepercayaan

MRI adalah lebih sensitive daripada radiografi konvensional, tetapi kurang


sensitive dibandingkan CT scan resolusi tinggi, karena keterbatasan untuk
menggambarkan tulang pada MRI. 5

27
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Mastoiditis adalah segala proses peradangan pada sel- sel mastoid yang
terletak pada tulang temporal. Mastoiditis akut (MA) merupakan perluasan
infeksi telinga tengah ke dalam pneumatic system selulae mastoid melalui antrum
mastoid.
Pembuatan foto radiologik untuk mastoiditis akut biasanya dipakai posisi
Schuller atau Owen, sedangkan posisi Chausse III dipakai untuk melihat ruang
telinga tengah.

Pada akut otitis media & mastoiditis akan ditemukan hilangnya radiolusen
dari tuba eustachi dan meatus acusticus media, gambaran radioopak antrum mastoid
dgn perkaburan batas luar dinding mastoid. Sedangkan pada proses kronik
ditemukan sclerosis dari mastoid air cell, merupakan komplikasi dari abscess
& sequester dgn sclerosis dari mastoid ( sulit membedakan dengan cholesteatoma
), abscess dinding batas tegas, dapat menyebabkan extradural& intra cerebral
sepsis. Komplikasi yang serius diantaranya cholesteatoma. Gambaran
cholesteatoma secara Ro sulit dibedakan kecuali ada riwayat post operasi,
perubahan-perubahan post operasi mastoidectomi pelebaran aditus parsial atau
complex, bergesernya air cell, mastoid system.
Pemeriksaan CT Scan menggambarkan dimanapun di intracranial adanya
suspek komplikasi atau perluasan. Bukti dari mastoiditis adalah menggambarkan
destruksi mastoid dan kehilangan ketajaman sel udara mastoid. Pada kasus-
kasus tertentu, dengan menggunakan CT Scan gambaran air cells yang
kabur dapat diungkap, scan tulang dengan technetium-99 dapat menolong
mendeteksi perubahan osteolitic.
MRI tidak rutin digunakan untuk evaluasi mastoid. MRI adalah standar untuk
mengevaluasi jaringan lunak yang berdampingan, lebih spesifik, intra cranial
struktur dan untuk mendeteksi cairan yang terkumpul extra axial dan yang
berhubungan dengan masalah vascular. MRI membantu dlaam merencanakan
pengobatan operasi yang efektif.

28
MRI adalah lebih sensitive daripada radiografi konvensional, tetapi
kurang sensitive dibandingkan CT scan resolusi tinggi, karena keterbatasan
untuk menggambarkan tulang pada MRI.

29
DAFTAR
PUSTAKA

1. Widodo P dkk. Pola Sebaran Kuman dan Uji Kepekaan Antibiotika Sekret Telinga
Tengah Penderita Mastoiditis Akutdi RS Dr Kariadi Semarang 2004 2005.diakses dari
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/155_08PolaSebaranKumanUjiKepekaan.pdf/155_0
8Pol
aSebaranKumanUjiKepekaan.html

2. Kartika H. Mastiditis. Diakses dari


http://hennykartika.wordpress.com/2009/01/25/mastoiditis/

3. Mastoiditis. Diakses dari http://www.kamuskesehatan.com/IstilahPenyakit-


AlatKesehatan

4. Faradilla N. Diagnosis radiologi bidang THT. Diakse dari


http://yayanakhyar.files.wordpress.com/2009/09/diagnosis_radiologi_dalam_tht_files_of
_drs
med.pdf

5. Brook, Itzhak. Mastoiditis. 2010. Diunduh dari


(http://emedicine.medscape.com/article/966099-overview)

6. Mastoiditis akut. Diakses dari


http://medicastore.com/penyakit/824/Mastoiditis_Akut.htm

7. Thieme Pocket Atlas of Radiographic Anatomy 2nd ed, 2000


8. Rasad, sjahriar. Radiologi Diagnostik edisi ke 2. 2005. Jakarta:FKUI
9. Teknik radiografi mastoid air cells, proyeksi schuller’s. diunduh
dari http://www.posradiografer.blogspot.com/2008/04/teknik-radiografi-mastoid-
air- cells.html
10. Idris, Nurlaily. Radiologi Indra Khusus. Diunduh dari (http://www.scribd.com)

30