Anda di halaman 1dari 14

REFERAT

DELIRIUM

Penyusun:
Cita Pratiwi
1102013065

Pembimbing:
dr. Ismoyowati Putri Utami, Sp.KJ

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa


RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta
Periode 22 Mei – 24 Juni 2017
Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
Tahun 2017
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Rabbil a’lamin,puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa telah selesai
referat yang berjudul “Delirium”. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada dr.
Ismoyowati Putri Utami, sp.KJ selaku pembimbing sehingga referat ini dapat terselesaikan
dengan tepat waktu.

Referat ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi kompetensi kepaniteraan klinik Ilmu
Kesehatan Jiwa RSJ Soeharto Heerdjan. Penulis berharap referat ini dapat menjadi literatur atau
sumber informasi pembelajaran Ilmu Kesehatan Jiwa khususnya mengenai delirium.

Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna dan banyak kekurangan.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang berguna demi penyusunan referat
ini.

Jakarta, 6 Juni 2017

Cita Pratiwi
DAFTAR ISI

Pendahuluan
BAB I

PENDAHULUAN

Delirium adalah sindrom, dan memiliki banyak kausa yang semuanya mengakibatkan pola gejala
yang serupa berkaitan dengan tingkat kesadaran dan gangguan kognitif pasien. Delirium
merupakan suatu kondisi akut penurunan perhatian dan disfungsi kognitif dan sering dijumpai
pada pasien di rumah sakit. Delirium merupakan sindrom klinis yang umum, mengancam hidup,
dan dapat dicegah. Umumnya terjadi pada individu berusia 65 tahun atau lebih. Sindrom ini
sering tidak terdiagnosis dengan baik saat pasien berada di rumah akibat kurangnya kewaspadaan
keluarga maupun saat pasien berada di unit gawat darurat atau unit rawat jalan. Gejala dan tanda
yang tidak khas merupakan salah satu penyebabnya.

Prevalensi sindrom deliriumDi Indonesia, prevalensi delirium di ruang rawat akut geriatri RSCM
adalah 23% pada tahun 2004, sedangkan insidennya mencapai 17% pada pasien rawat inap.
Sindrom delirium mempunyai dampak buruk, tidak saja karena meningkatkan risiko kematian
sampai 10 kali lipat, namun juga karena memperpanjang masa rawat serta meningkatkan
kebutuhan perawatan dari petugas kesehatan dan pelaku rawat
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Kata “delirium” berasal dari bahasa latin yang artinya lepas jalur. Sindrom ini pernah
dilaporkan pada masa Hippocrates dan pada tahun 1813 Sutton mendeskripsikan sebagai
delirium tremens, kemudian Wernicke menyebutnya sebagai Encephalopathy Wernicke.

Delirium merupakan suatu sindrom, bukan suatu penyakit. Delirium adalah suatu
gangguan kesadaran, biasanya terlihat bersamaan dengan gangguan fungsi kognitif secara global.
Biasanya delirium mempunyai onset yang mendadak, yaitu beberapa jam atau hari, perjalanan
singkat, berfluktuasi dan perbaikan yang cepat jika faktor penyebab diidentifikasi dan
dihilangkan.

2.2 Faktor predisposisi

 Peresepan obatdan polifarmasi


 Gejala penghentian alkohol dan benzodiazepin
 Sepsis, syok, hipotermia
 Gangguan keseimbangan elektrolit (sodium, kalsium, magnesium, fosfat)
 Defi siensi nutrien (tiamin, B12, folat)
 Gagal jantung, hati, atau ginjal
 Gangguan fungsi paru (terutama pada kondisi hipoksemia)
 CVA (cerebrovascular accident) atau kejang
 Pasca-operasi, terutama jantung, ortopedik, atau perawatan di ICU
 Jatuh dan fraktur
 Anemia atau perdarahan saluran cerna
 Nyeri
 Kanker atau penyakit tahap akhir
2.3 Klasifikasi

Tampilan klinis delirium dapat bervariasi, namun secara umum delirium diklasifikasikan
berdasarkan sifat psikomotorik dalam tiga subtipe, yaitu:

1. Delirium Hipoaktif (25%). Pasien bersikap tenang dan menarik diri, dengan tampilan klinis
letargi dan sedasi, berespons lambat terhadap rangsangan, dan pergerakan spontan minimal. Tipe
ini cenderung tidak terdeteksi pada rawat inap dan menyebabkan peningkatan lama rawat dan
komplikasi yang lebih berat.

2. Delirium Hiperaktif (30%). Pasien memiliki gambaran agitasi, hipervigilansi, dan sering
disertai halusinasi dan delusi, yang walaupun lebih awal dapat terdeteksi, berhubungan dengan
peningkatan penggunaan benzodiazepin, sedasi berlebihan, dan risiko jatuh.

3. Delirium Campuran (Mixed) (45%). Pasien menunjukkan gambaran klinis baik hiperaktif
maupun hipoaktif.

2.4 Patofisiologi

Perubahan transmisi neuronal yang dijumpai pada delirium melibatkan berbagai


mekanisme, yang melibatkan tiga hipotesis utama, yaitu:

1. Efek Langsung: Beberapa substansi memiliki efek langsung pada sistem neurotransmiter,
khususnya agen antikolinergik dan dopaminergik. Lebih lanjut, gangguan metabolik seperti
hipoglikemia, hipoksia, atau iskemia dapat langsung mengganggu fungsi neuronal dan
mengurangi pembentukan atau pelepasan neurotransmiter. Kondisi hiperkalsemia pada wanita
dengan kanker payudara merupakan penyebab utama delirium.

2. Inflamasi: Delirium dapat terjadi akibat gangguan primer dari luar otak, seperti penyakit infl
amasi, trauma, atau prosedur bedah. Pada beberapa kasus, respons infl amasi sistemik
menyebabkan peningkatan produksi sitokin, yang dapat mengaktivasi mikroglia untuk
memproduksi reaksi infl amasi pada otak. Sejalan dengan efeknya yang merusak neuron, sitokin
juga mengganggu pembentukan dan pelepasan neurotransmiter. Proses infl amasi berperan
menyebabkan delirium pada pasien dengan penyakit utama di otak (terutama penyakit
neurodegeneratif).

3. Stres: Faktor stres menginduksi sistem saraf simpatis untuk melepaskan lebih banyak
noradrenalin, dan aksis hipotalamuspituitari-adrenokortikal untuk melepaskan lebih banyak
glukokortikoid, yang juga dapat mengaktivasi glia dan menyebabkan kerusakan neuron.

2.5 Manifestasi Klinis

Gambaran klinis yang dapat ditemukan pada pasien dengan delirium sangat beragam
diantaranya :

1. Prodromal
Biasanya pasien akan mengeluh kelelahan, cemas, menajadi iritabel, tidur terganggu
2. Gangguan Kesadaran
Penurunan kejernihan tingkat kesadaran terhadap lingkungan (kesadaran berkabut)
3. Kewaspadaan
Terdiri dari hiperaktivitas dan hipoaktivitas. Hiperaktivitas kaitannya dengan sindrom
putus zat, misalnya flushing, berkeringat, takikardia, nausea, hipertermia dsb.
Hipoaktivitas, seluruh aktivitas menurun sehingga sering dikatakan sebagai depresi
4. Gangguan Pemusatan Perhatian
Ditandai oleh adanya kesulitan mempertahankan, memusatkan dan mengalihkan
perhatian
5. Orientasi
Gangguan orientasi waktu sering terjadi (pada delirium yang ringan), bila delirium berat
akan mencakup orientasi tempat dan orang
6. Bahasa dan Kognitif
Sering terjadi abnormalitas dalam berbahasa dan terjadi inkoherensi. Daya ingat dan
fungsi kognitif umum mungkin terganggu
7. Persepsi
Halusinasi visual dan auditorik sering ditemukan
8. Mood
Gejala yang sering Nampak adalah marah, mengamuk, ketakutan yang tidak beralasan.
Perubahan mood dapat berfluktuasi sepanjang hari
9. Gangguan tidur-bangun
Individu sering menunjukkan agitasi pada malam hari dan masalah perilaku pada saat
waktu tidur keadaan ini disebut Sundowning
10. Gejala neurologi
Meliputi disfasia, tremor, asteriksis, inkoordinasi dan inkontinenesia urine

2.6 Diagnosis

Secara klinis penegakkan diagnosis delirium dapat menggunakan DSM IV-TR. Di


bawah ini adalah criteria diagnostik delirium berdasarkan DSM IV –TR:

2.6.1 Kriteria diagnostik delirium yang berhubungan dengan kondisi medik umum:

1. Gangguan kesadaran (berkurangnya kejernihan kesadaran terhadaplingkungan dalam


bentuk memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan perhatian).
2. Hambatan dalam fungsi kognitif (hendaya daya ingat segera dari jangka pendek namun
daya ingat jangka panjang tetap utuh, distorsi persepsi, ilusi dan halusinasi terutama
visual, hendaya daya pikir dan pengertian abstrak dengan atau tanpa waham sementara,
tetapi yang khas terdapat sedikit inkoherensi, disorientasi waktu, tempat dan orang).
3. Awitannya tiba-tiba (dalam beberapa jam atau hari), perjalanan penyakitnya singkat dan
ada kecenderungan berfluktuasi sepanjang hari.
4. Berdasarkan bukti dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau laboratorium untuk
menemukan penyebab delirium ini.

2.6.2 Kriteria diagnostik delirium yang disebabkan intoksikasi zat:

1. Gangguan kesadaran (berkurangnya kejernihan kesadaran terhadaplingkungan dalam


bentuk memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan perhatian)
2. Hambatan dalam fungsi kognitif (hendaya daya ingat segera dari jangka pendek namun
daya ingat jangka panjang tetap utuh, distorsi persepsi, ilusi dan halusinasi terutama
visual, hendaya daya pikir dan pengertian abstrak dengan atau tanpa waham sementara,
tetapi yang khas terdapat sedikit inkoherensi, disorientasi waktu, tempat dan orang).
3. Awitannya tiba-tiba (dalam beberapa jam atau hari), perjalanan penyakitnya singkat dan
ada kecenderungan berfluktuasi sepanjang hari.
4. Berdasarkan bukti dan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau laboratorium untuk
menemukan delirium ini (1) atau (2):
(1) Gejala pada kriteria A dan B berkembang selama intoksikasi zat.
(2) Penggunaan intoksikasi disini untuk mengatasipenyebab yang ada hubungan
dengan gangguannya. Intoksikasi zat yang menimbulkan delirium adalah
alkohol, amfetamin, kanabis, kokain, halusinogen, inhalan, opioid, fensiklidin,
sedatif, hipnotik, ansiolitik dsb. Juga zat lain seperti simetidin, digitalis,
benztropin.

2.6.3 Kriteria diagnostik delirium yang disebabkan putus zat:

1. Gangguan kesadaran (berkurangnya kejernihan kesadaran terhadaplingkungan dalam


bentuk memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan perhatian)
2. Hambatan dalam fungsi kognitif (hendaya daya ingat segera dari jangka pendek namun
daya ingat jangka panjang tetap utuh, distorsi persepsi, ilusi dan halusinasi terutama
visual, hendaya daya pikir dan pengertian abstrak dengan atau tanpa waham sementara,
tetapi yang khas terdapat sedikit inkoherensi, disorientasi waktu, tempat dan orang).
3. Awitannya tiba-tiba (dalam beberapa jam atau hari), perjalanan penyakitnya singkat dan
ada kecenderungan berfluktuasi sepanjang hari.
4. Berdasarkan bukti dan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau laboratorium untuk
menemukan penyakit delirium ini dalam kriteria A dan B. Keadaan ini berkembang
selama atau dalam waktu singkat sesudah sindroma putus zat.

2.6.4 Kriteria diagnostik delirium yang berkaitan dengan berbagai penyebab:

1. Gangguan kesadaran (berkurangnya kejernihan kesadaran terhadaplingkungan dalam


bentuk memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan perhatian)
2. Hambatan dalam fungsi kognitif (hendaya daya ingat segera dari jangka pendek namun
daya ingat jangka panjang tetap utuh, distorsi persepsi, ilusi dan halusinasi terutama
visual, hendaya daya pikir dan pengertian abstrak dengan atau tanpa waham sementara,
tetapi yang khas terdapat sedikit inkoherensi, disorientasi waktu, tempat dan orang).
3. Awitannya tiba-tiba (dalam beberapa jam atau hari), perjalanan penyakitnya singkat dan
ada kecenderungan berfluktuasi sepanjang hari.
4. Berdasarkan bukti dan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau laboratorium untuk
menemukan etiologi delirium ini yang disebabkan oleh lebih dari satu penyebab kondisi
medik umum, disertai intoksikasi zat atau efek samping medikasi.
2.7 Diagnosis banding
a. Delirium versus demensia

Yang paling nyata perbedaannya adalah mengenai awitannya, yaitu delirium


awitannya tiba-tiba, sedangkan pada demensia berjalan perlahan. Meskipun kedua kondisi
tersebut mengalami gangguan kognitif, tetapi pada demensia lebih stabil, sedangkan pada
delirium berfluktuasi.

Tabel 1. Perbandingan Delirium dan Demensia

Gambaran Klinis Delirium Demensia


Gangguan daya ingat +++ +++
Gangguan proses berpikir +++ +++
Gangguan daya nilai +++ +++
Kesadaran berkabut +++ -
Major attention deficits +++ +
Fluktuasi perjalanan penyakit +++ +
(1 hari)
Disorientasi +++ ++
Gangguan persepsi jelas ++ -
Inkoherensi ++ +
Gangguan siklus tidur- bangun ++ +
Eksaserbasi nocturnal ++ +
Insight/tilikan ++ +
Awitan akut/subakut ++ -

b. Delirium versus skizofrenia dan depresi


Sindrom delirium dengan gejala yang hiperaktif sering keliru dianggap sebagai
pasien yang cemas (anxietas), sedangkan hipoaktif keliru dianggap sebagai depresi. Keduanya
dapat dibedakan dengan pengamatan yang cermat. Pada depresi terdapat perubahan yang
bertahap dalam beberapa hari atau minggu sedangkan pada delirium biasanya gejala berkembang
dalam beberapa jam.

Beberapa pasien dengan skizofrenia atau episode manik mungkin pada satu keadaan
menunjukkan perilaku yang sangat kacau yang sulit dibedakan dengan delirium. Secara umum,
halusinasi dan waham pada pasien skizofrenia lebih konstan dan lebih terorganisasi
dibandingkan dengan kondisi pasien delirium.

Tabel 2. Perbedaan antara delirium, demensia dan depresi

Delerium Demensia Depresi


Onset Akut Perlahan (tersembunyi) Bervarias
Perjalanan Berfluktuasi Progresif Diurnal
Kesadaran Terganggu berkabut Baik hingga tahap akhir Baik
Perhatian Tidak terfokus Normal Kurang
Memori Memori jangka pendek memori jangka pendek normal
kurang kurang
Proses berpikir Disorgabusasu, inkoheren kesulitan dengan tidak terganggu, kurang
pemikiran abstrak percaya diri, tidak ada
harapan hiduo
Persepsi misinterpretasi, Normal Dapat dengan kompleks
halusinasi, delusi psikosis paranoid

2.8 Tatalaksana
Tujuan utama adalah untuk mengobati gangguan dasar yang menyebabkan delirium,
tujuan lainnya adalah untuk memberikan bantuan fisik sensorik dan lingkungan.

a. Pengobatan farmakologis

Dua gejala utama delirium yang mungkin memerlukan pengobatan farmakologis


adalah psikosis dan insomnia. Obat yang terpilih untuk psikosis adalah Haloperidol. Pemberian
tergantung usia, berat badan,dan kondisi fisik pasien, dosis awal dengan rentang antara 2 sampai
10 mg intramuscular, diulang dalam satu jam jika pasien masih mengalami agitasi. Segera
setelah pasien sudah tenang dapat diberikan obat scara peroral yang terbagi atas dua dosis yaitu
sepertiganya pada pagi hari dan dua pertiga pada saat tidur. Untuk mencapai efek terapeutik yang
sama, dosis oral harus kira-kira 1,5 kali kali lebih tinggi dibandingkan dosis parenteral. Dosis
harian efektif total haloperidol mungkin terentang dari 5 sampai 50 mg untuk sebagian besar
pasien delirium. Pemberian golongan fenothiazine harus dihindari pada pasien delirium, karena
obat tersebut disertai dengan aktivitas antikolinergik yang bermakna.

Insomnia paling baik diobati dengan golongan benzodiazepine dengan waktu paruh
pendek atau menengah seperti lorazepam 1-2 mg sebelum saat tidur. Golongan benzodiazepine
dengan waktu paruh panjang dan barbiturate harus dihindari kecuali obat tersebut telah
digunakan sebagai bagian dari pengobatan untuk gangguan dasar (sebagai contohnya, putus
alkohol)

b. Non farmakologis

Strategi penanganan delirium dapat dibagi dalam strategi nonfarmakologis dan


farmakologis. Strategi penanganan nonfarmakologis merupakan pengobatan utama seluruh
pasien delirium; meliputi reorientasi dan intervensi tingkah laku. Tenaga kesehatan memberi
instruksi yang jelas dan sering membuat kontak mata dengan pasien. Gangguan sensorik seperti
kehilangan penglihatan dan pendengaran,dapat diminimalisir dengan menggunakan peralatan
seperti kacamata dan alat bantu dengar. Imobilisasi harus dicegah karena dapat meningkatkan
agitasi, peningkatan risiko luka, dan pemanjangan lamanya delirium. Intervensi lain termasuk
membatasi perubahan ruangan dan staf serta menyediakan kondisi perawatan pasien yang
tenang, dengan pencahayaan rendah pada malam hari. Kondisi lingkungan yang tenang
memberikan periode tidur yang tidak terganggu, cukup penting dalam penanganan delirium.
Meminimalisir penggunaan obat-obat psikoaktif dengan protokol tidur nonfarmakologis yang
meliputi 3 komponen, antara lain segelas susu hangat atau teh herbal, musik relaksasi, dan pijat
punggung. Protokol ini dapat dilakukan sebagai bagian dari strategi pencegahan multikomponen
yang efektif
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Sindrom delirium sering tidak terdiagnosis dengan baik karena berbagai sebab.
Keterlambatan diagnosis memperpanjang masa rawat dan meningkatkan mortalitasSindrom
delirium sering muncul sebagai keluhan utama atau tak jarang justru terjadi pada hari pertama
pasien dirawat, berfluktuasi dengan gejala tidak khas, dan sering tidak terdiagnosis, padahal
kondisi ini dapat dicegah. Patofisiologi delirium melibatkan berbagai mekanisme dengan tiga
hipotesis utama, yaitu efek langsung pada sistem neurotransmiter, inflamasi, dan stres.

Beberapa penyakit mempunyai gejala dan tanda mirip sehingga diperlukan


kewaspadaan serta pemikiran kemungkinan diferensial diagnosis. Pengelolaan pasien terutama
ditujukan untuk mengidentifikasi serta menatalaksana factor predisposisi dan pencetus.
Penatalaksanaan non-farmakologik dan farmakologik sama pentignnya untuk mengobati pasien
DAFTAR PUSTAKA