Anda di halaman 1dari 3

Statistika Non Parametrik Bab 2 : Uji Statistik Sampel Tunggal

Bab 2
Uji Statistik Sampel Tunggal

3. Uji Sampel Rangkaian Tunggal untuk Memeriksa Keacakan


Tidak jarang, situasi yang dihadapi membuat untuk ingin mengetahui apakah dapat disimpulkan
bahwa sejumlah barang atau kejadian dideretkan atau tersusun secara acak. Salah satu contoh
yang penting tentang itu adalah ketika akan dilakukan suatu analisis secara statistika terhadap
sejumlah data sampel yang tersedia. Perlu diketahui bahwa asumsi dasar yang melandasi uji
statistik pada inferensi statistik adalah inferensi dilakukan menggunakan sampel acak. Apabila
keacakan suatu sampel meragukan, tentu perlu suatu cara untuk menentukan apakah sampel
tersebut betul-betul acak sebelum melangkah ke tahapan analisis. Banyak situasi lain yang
mungkin membuat penyelidikan asumsi yang telah diambil tentang keacakan sampel-sampel yang
bersangkutan.
Uji statistik untuk menyelidiki keacakan biasanya didasarkan pada banyaknya dan sifat
rangkaian yang terdapat dalam data yang diminati. Di sini rangkaian yang didefinisikan sebagai
serangkaian kejadian, hal, atau simbol yang sama yang didahului dan diikuti oleh kejadian, hal,
atau simbol dengan tipe yang berbeda, atau yang belakangan ini tidak ada sama sekali. Keacakan
suatu rangkaian umumnya meragukan apabila rangkaian di sini terlalu banyak tau terlalu sedikit.
Untuk memeriksa apakah data tersebar secara acak diperlukan uji statistik yaitu uji rangkaian
sampel tunggal (one-sample runs test). Uji statistik ini membantu dalam menentukan apakah
suatu rangkaian kejadian, hal, atau simbol merupakan hasil suatu proses acak.

Asumsi-asumsi
Data yang tersedia untuk analisis terdiri atas serangkaian pengamatan, yang dicatat
berdasarkan urutan-urutan perolehannya, dan dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok yang
saling eksklusif. Di sini diandaikan bahwa n = ukuran sampel total, n1 = banyaknya pengamatan
kelompok yang satu, dan n2 = banyaknya pengamatan kelompok yang dua.

Hipotesis-hipotesis
A (Dua Sisi)
H0 : Pola perolehan (kemunculan) kedua kelompok (tipe) pengamatan ditentukan melalui
suatu proses acak.
H1 : Pola perolehan tidak acak.
B (Satu Sisi)
H0 : Pola perolehan kedua kelompok pengamatan ditentukan melalui suatu proses acak.
H1 : Pola perolehan tidak acak (karena rangkaian yang ada terlalu sedikit untuk bisa
dianggap kebetulan)
C (Satu Sisi)
H0 : Pola perolehan kedua kelompok pengamatan ditentukan melalui suatu proses acak.
H1 : Pola perolehan tidak acak (karena rangkaian yang ada terlalu banyak untuk bisa
dianggap kebetulan)

halaman 8
Statistika Non Parametrik Bab 2 : Uji Statistik Sampel Tunggal

α = 0,05)
Taraf Nyata 0,05 (α

Statistik Uji
1. Tentukan kelompok data menjadi dua kelompok berdasarkan permasalahan yang ada.
2. Hitung rangkaian data berdasarkan kelompok data yang telah ditentukan.
3. Tentukan statistik ujinya yaitu r yang merupakan banyaknya rangkaian.

Kaidah Pengambilan Keputusan


Nilai-nilai kritis statistik uji pada uji rangkaian sampel tunggal pada taraf nyata α = 0,05
dengan n1 dan n2 dapat diperoleh dalam Tabel 4. Nilai-nilai kritis bawah untuk r dalam uji
rangkaian untuk rbawah dan Tabel 5. Nilai-nilai kritis atas untuk r dalam uji rangkaian untuk
ratas.
Untuk A (Dua Sisi) :
Tolaklah H0 , jika r lebih kecil atau sama dengan rbawah , atau r lebih besar atau sama
dengan ratas pada taraf nyata α = 0,05.
Untuk B (Satu Sisi) :
Tolaklah H0 , jika r lebih kecil atau sama dengan rbawah pada taraf nyata α = 0,025.
Untuk C (Satu Sisi) :
Tolaklah H0 , jika r lebih besar atau sama dengan ratas pada taraf nyata α = 0,025.

Contoh 2.3 :

Tabel 2.10 memperlihatkan penyimpangan-penyimpangan dari temperatur normal yang setiap


hari dicatat di Jakarta, selama bulan November 1994. Jika ingin diketahui apakah boleh
disimpulkan bahwa pola penyimpangan-penyimpangan di atas dan di bawah normal merupakan
hasil proses yang tidak acak.

Tabel 2.10 Penyimpangan dari temperatur normal sehari-hari yang dicatat di Jakarta selama bulan November 1994

Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Penyimpangan
dari normal 12 13 12 11 5 2 -1 2 -1 3 2 -6 -7 -7 12

Hari 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
Penyimpangan
dari normal -9 6 7 10 6 1 1 3 7 -2 -6 -6 -5 -2 -1

Sumber : data fiktif

Penyelesaian :

Hipotesis :
H0 : Pola perolehan penyimpangan negatif dan positif dari normal ditentukan melalui
proses acak.
H1 : Pola perolehan penyimpangan negatif dan positif dari normal tidak acak.

halaman 9
Statistika Non Parametrik Bab 2 : Uji Statistik Sampel Tunggal

Taraf Nyata : α = 0,05

Statistik Uji :
Dari Tabel 2.10 menunjukkan bahwa untuk hari pertama sampai dengan hari ke-6 merupakan
penyimpangan positif dari normal (rangkaian pertama). Hari ke-7 merupakan penyimpangan
negatif dari normal (rangkaian ke-2). Hari ke-8 merupakan penyimpangan positif dari normal
(rangkaian ke-3). Hari ke-9 merupakan penyimpangan negatif dari normal (rangkaian ke-4).
Hari ke-10 sampai dengan hari ke-11 merupakan penyimpangan positif dari normal
(rangkaian ke-5). Hari ke-12 sampai dengan hari ke-16 merupakan penyimpangan negatif
dari normal (rangkaian ke-6). Hari ke-17 sampai dengan hari ke-24 merupakan
penyimpangan positif dari normal (rangkaian ke-7). Hari ke-25 sampai dengan hari ke-30
merupakan penyimpangan negatif dari normal (rangkaian ke-8). Jadi secara keseluruhan data
ini mempunyai delapan rangkaian, r = 8.

Keputusan
Mengacu pada Tabel 4. Dan Tabel 5., dengan n1 = 17 dan n2 = 13 diperoleh bahwa rbawah = 10 dan
rbawah = 22. Karena r (= 8) lebih kecil daripada rbawah (= 10), maka H0 ditolak

Kesimpulan
Bahwa pola penyimpangan-penyimpangan di atas dan di bawah normal merupakan hasil proses
yang tidak acak, pada taraf nyata α = 0,05.

Aproksimasi bila sampel besar. Bila baik n1 maupun n2 lebih besar dari 20, maka Tabel 4. Dan
Tabel 5. Tidak dapat dipergunakan, untuk menguji hipotesis keacakan. Bagaimanapun, untuk
sampel-sampel besar distribusinya dapat diaprosimasikan terdistribusi normal standar,
sehingga uji statistik untuk uji rangkaian sampel tunggal ini diaproksimasikan ke distribusi
normal dengan menggunakan rumus :

 2n n 
r −  1 2 + 1 
zhit =  n1 + n2  3
2n1n2 (2n1n2 − n1 − n2 )
(n1 + n2 )2 (n1 + n2 − 1)
Untuk taraf nyata α. Bandingkan zhit dengan harga z pada tabel 2.

halaman 10