Anda di halaman 1dari 21

PENGEMBANGAN TRANSPORTASI SUNGAI

DENGAN KONSEP TOD (TRANSIT ORIENTED


DEVELOPMENT) DI SUNGAI MUSI, PULAU
KEMARO, KOTA PALEMBANG

Oleh:
Muhammad Bobby Cahyadi P (16506060)
Cyrilus Aghista (16506060
Mahisma Driya Karenggani (165060601111044)

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
ABSTRAK
Transportasi sungai merupakan salah satu jenis transportasi dimana tidak menimbulkan
dampak yang besar pada lingkungan. Namun pengembangan transportasi sungai di Indonesia
saat ini masih belum maksimal, padahal terdapat beberapa sungai di Indonesia yang berpotensi
untuk dikembangkan sebagai jalur transportasi angkutan sungai. Penulisan ini bertujuan untuk
memberikan arahan mengenai pengembangan transportasi sungai di Sungai Musi, Kota
Palembang dengan penerapan konsep TOD (Transit Oriented Development) sehingga dapat
tercipta infrastruktur transportasi yang berkelanjutan. Metode yang digunakan yaitu melalui
studi literatur untuk mendapatkan data dan informasi mengenai karakteristik sungai dan
wilayah koridor yang menjadi sasaran. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa pada sepanjang
koridor Sungai Musi memiliki potensi untuk dikembangkan transportasi sungai dengan konsep
TOD. Hal tersebut didukung oleh kondisi eksisting sungai dan jenis guna lahan di sekitarnya.
Melalui penerapan konsep TOD, maka transportasi sungai di Sungai Musi akan terintegrasi
dengan angkutan umum darat lainnya. Kesimpulan ….

Kata Kunci: TOD, Transportasi Sungai, Transportasi Berkelanjutan, Sungai Musi


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Transportasi merupakan suatu kegiatan pemindahan penumpang dan barang dari satu
tempat ke tempat lain (Morlok, 1974). Adanya pengembangan teknologi dalam transportasi
selain memudahkan penggunanya namun juga menimbulkan dampak terhadap lingkungan.
Menurut Tamin (2000), permasalahan dalam hal transportasi dan teknik perencanaannya
mengalami revolusi yang pesat sejak tahun 1980-an. Pada saat ini masih saja kita merasakan
permasalahan transportasi yang sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 1960-an dan 1970-an.
Tantangan bagi pemerintah di negara berkembang dalam hal instansi dan departemen terkait
serta para perencana transportasi perkotaan ialah masalah kemacetan lalu lintas serta pelayanan
angkutan umum perkotaan
Secara umum terdapat empat tipe dampak lingkungan fisik dari adanya sarana
transportasi diantaranya yaitu dampak kebisingan, polusi udara, getaran, dan polusi air tanah.
Dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan sebagian besar disebabkan oleh transportasi
darat yang terus berkembang dengan pesat. Moda transportasi darat yang dianggap memiliki
pengaruh besar terhadap peningkatan polusi udara di Indonesia ialah kendaraan bermotor.
Menurut data Badan Pusat Statistik (2012) jumlah kendaraan bermotor di Indonesia semakin
meningkat setiap tahun. Pertumbuhan kendaraan bermotor yang terus menerus dapat
mengakibatkan peningkatan emisi gas rumah kaca yang berbahaya bagi tubuh. Adapun jenis
moda transportasi sampai saat yang dianggap memiliki dampak yang lebih kecil pada
lingkungan namun belum dikembangkan dengan maksimal. Jenis moda transportasi yang
dimaksud ialah ASDP (Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan). Menurut Departemen
Perhubungan (2013), sejak berlakunya otonomi daerah, penyelenggaraan transportasi sungai
minim akan informasi dan data-data, sehingga sering tidak terawasi dan kurang mendapat
perhatian. Angkutan sungai dan danau merupakan salah satu jenis prasarana transportasi
alamiah yang minim dalam menimbulkan dampak lingkungan. Transportasi alamiah telah ada
sejak dulu dimana belum adanya perkembangan teknologi dalam transportasi.
Salah satu kota yang memiliki potensi dalam pengembangan angkutan sungai ialah Kota
Palembang, khususnya di Pulau Kemaro. Hal tersebut karena Kota Palembang merupakan kota
yang berada di tepi Sungai Musi dan dikelilingi oleh anak-anak sungainya. Pulau Kemaro
merupakan delta Sungai Musi yang dikenal sebagai tempat wisata budaya dan religi khususnya
bagi para Tionghoa. Menurut Kepala Bidang Hubungan Laut ASDP Kota Palembang (2009),
Sungai Musi memiliki potensi besar untuk dikembangkan perihal transportasi sungai sehingga
dapat meminimalisir kemacetan di Kota Palembang serta dapat mendukung sebagai transportasi
untuk wisata. Berdasarkan dokumen RTRW Kota Palembang Tahun 2012-2032 terkait rencana
jaringan prasarana transportasi, sistem jaringan angkutan sungai, danau dan penyebrangan
(ASDP) terdiri atas alur pelayaran ASDP dan pelabuhan/ terminal ASDP dimana untuk
keduanya sudah ditetapkan rute dan keberadaannya diantaranya a) Rute pelayaran Benteng
Kuto Besak – Pulau Kemarau (Kemaro); dan b) Rute pelayaran Jakabaring – Pulau Kemarau
(Kemaro).
1.2 Isu Strategis
1. Adanya rencana menjadikan aliran Anak Sungai Musi menjadi jalur transportasi
air. (Kepala Bidang Hubungan Laut ASDP Dishub Kota Palembang). Rencana ini
masih tekendala dari biaya.
2. Rencana menghidupkan kembali aliran sungai sebagai jalur transportasi yang salah
satunya berlokasi di Sungai Musi, Sumatera Selatan. (Kementerian Perhubungan
3. Adanya pengembangan wisata di Kota Palembang (Pulau Kemaro) oleh Walikota
Palembang yang bisa menjadi daya tarik di Kota Palembang. Pengembangan wisata
tersebut dapat memicu pengembangan jaringan transportasi salah satunya ialah
transportasi air yang memanfaatkan aliran Sungai Musi.
4. Adanya rencana pengembangan transportasi air di Sungai Musi dengan
menggunakan moda bus air. (Mentri Perhubungan).
5. Sudah tersedianya alur pelayaran angkutan sungai, danau, dan penyebrangan
(ASDP) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi :
a. Rute pelayaran Benteng Kuto Besak – Sungai Lais
b. Rute pelayaran Benteng Kuto Besak – Tangga Buntung
c. Rute pelayaran Benteng Kuto Besak – Jakabaring
d. Rute pelayaran Benteng Kuto Besak – Multi Moda Karyajaya
e. Rute pelayaran Benteng Kuto Besak – Pertamina
f. Rute pelayaran Benteng Kuto Besak – Pulau Kemarau (Kemaro)
g. Rute pelayaran Jakabaring – Pulau Kemarau (Kemaro)
h. Rute pelayaran Benteng Kuto Besak Benteng Kuto Besak – Pulokerto
i. Rute pelayaran Benteng Kuto Besak – daerah lain
(RTRW Kota Palembang Tahun 2012-2032)
6. Integrasi moda akan dikembangkan di Dermaga Benteng Kuto Besak, Dermaga 7
Ulu, Dermaga Stasiun Kertapati, Dermaga Komplek Pertamina, Dermaga Sungai
Lais, Dermaga Jakabaring, dan Dermaga Gandus.
(RTRW Kota Palembang Tahun 2012-2032)

1.3 Rumusan Masalah


1. Bagaimana Pengembangan trasnportasi sungai dengan konsep TOD dalam
menciptakan infrastruktur yang ramah lingkungan di Pulau Kemaro, Kota
Palembang melalui Sungai Musi?
1.4 Tujuan
1. Mengetahui bagaiamana pengembangan tasnportasi sungai dengan konsep TOD
dalam menciptakan infrastruktur yang ramah lingkungan di Pulau Kemaro, Kota
Palembang melalui Sungai Musi.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Kebijakan RTRW Kota Palembang
A. Visi dan Misi
Visi merupakan penjabaran pernjabaran cita-cita berbangsa sebagaimana tercantum
dalam pembukaan UUD 1945, yaitu terciptanya masyarakat yang terlindungi, sejahtera dan
cerdas serta berkeadilan. Bila visi telah dirumuskan maka selanjutnya perlu dinyatakan secara
tegas misi, yaitu upaya-upaya ideal untuk mencapai visi yang telah dijabarkan. Misi dapat
dijabarkan kedalam arah kebijakan dan strategi pembangunan.
Kota Palembang mempunyai satu rencana pembangunan jangka panjang yang memuat
visi, misi, serta arah pembangunan daerah. Dengan memperhatikan situasi dan kondisi Kota
Palembang pada masa lalu dan saat ini, dan memperhitungkan modal dasar yang dimiliki
setiap motto Kota Palembang maka ditetapkan Visi Kota Palembang adalah: “PALEMBANG
EMAS 2018”. “EMAS” tersebut melambangkan kondisi yang ingin dicapai oleh Pemerintah
Kota Palembang yang memiliki kepanjangan yakni Elok, Madani, Aman dan Sejahtera. Elok
yang dimaksud ialah Kota Palembang yang harus memiliki lingkungan hunian yang bersihm
sehingga menawan untuk dilihat. Madani berarti masyarakat yang menjunjung tinggi norma,
nilai-nilai, dan hukum, yang ditopang oleh penguasaan teknologi, beradab, beriman dan
berilmu. Aman yang dimaksud ialah situasi aman dan tertib yang diperlukan sehingga
terbebas dari gangguan yang mengancam ketentraman kehidupan dan aktivitas masyarakat.
Sedangkan untuk sejahtera yang dimaksud ialah makmur dan berkeadilan secara lahir dan
batin.
Untuk mencapai visi yang diharapkan tentunya diperlukan beberapa langkah yang harus
dilakukan. Langkah tersebut tertuang dalam Misi, antara lain :
a. Menciptakan tata kelola pemerintahan yang amanah dan berwibawa serta
peningkatan pelayanan masyarakat
b. Menciptakan Kota Palembang lebih aman untuk berinvestasi dan mandiri dalam
pembangunan
c. Meningkatkan ekonomu kerakyatan melalui pemberdayaan masyarakat
d. Mendorong keimanan dan ketakwaan masyarakat sehingga terciptanya
masyarakat yang religius
e. Meningkatkan pembangunan yang adil dan berwawasan ligkungan di setiap sektor
f. Meningkatkan Pembangunan Kota Palembang yang elok, sebagai kota
metropolitan bertaraf internasional, beradat dan sejahtera.
B. Rencana Struktur Ruang Wilayah Kota Palembang
Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana
dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang
secara hierarkis memiliki hubungan fungsional (UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang). Rencana struktur ruang termasuk dalam muatan rencana tata ruang yang meliputi
rencana sistem pusat permukiman dan rencana sistem jaringan prasarana. Rencana struktur
ruang wilayah Kota Palembang, meliputi pengembangan sistem pusat pelayanan kota dan
sistem jaringan prasarana kota.
1. Sistem Pusat Pelayanan Kota
Rencana sistem pusat pelayanan perkotaan meliputi pengembangan PPK,
pengembangan Sub PPK, dan pengembangan PPL. Pengembangan PPK yang
dimaksud ialah kawasan yang mampu melayani kegiatan skala kota dan wilayah
regional, nasional dan internasional. Pegembagan Sub PPK yang dimaksud ialah
kawasan yang mempu melayani kegiatan skala kawasan. Sedangkan untuk
pengembangan PPL yang dimaksud ialah kawasan yang melayani kegiatan pada
skala lingkungan di wilayah kota.
2. Sistem Jaringan Prasana
Rencana jaringan prasarana meliputi jaringan prasarana utama (sistem jaringan
ransportasi) dan lainnya. Sistem jaringan transportasi yang dimaksud ialah sistem
transportasi darat, laut, dan udara. Sistem jaringan transportasi darat melingkupi
sistem jaringan angkutan sungai, danau dan penyebrangan (ASDP). Sistem jaringan
angkutan sungai, danau dan penyebrangan (ASDP) terdiri atas alur pelayaran ASDP
dan pelabuhan/ terminal ASDP dimana untuk keduanya sudah ditetapkan rute dan
keberadaannya sebagai berikut :
a. Rute pelayaran Benteng Kuto Besak – Sungai Lais
b. Rute pelayaran Benteng Kuto Besak – Tangga Buntung
c. Rute pelayaran Benteng Kuto Besak – Jakabaring
d. Rute pelayaran Benteng Kuto Besak – Multi Moda Karyajaya
e. Rute pelayaran Benteng Kuto Besak – Pertamina
f. Rute pelayaran Benteng Kuto Besak – Pulau Kemarau (Kemaro)
g. Rute pelayaran Jakabaring – Pulau Kemarau (Kemaro)
h. Rute pelayaran Benteng Kuto Besak Benteng Kuto Besak – Pulokerto
i. Rute pelayaran Benteng Kuto Besak – daerah lain
Integrasi moda pun akan dikembangakn di berbagai dermaga diantaranya Dermaga
Benteng Kuto Besak, Dermaga 7 Ulu, Dermaga Stasiun Kertapati, Dermaga
Komplek Pertamina, Dermaga Sungai Lais, Dermaga Jakabaring, dan Dermaga
Gandus.

2.2 Transportasi Ramah Lingkungan


Transportasi berkelanjutan adalah “upaya untuk memenuhi kebutuhan mobilitas
transportasi generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang dalam
memenuhi kebutuhan mobilitasnya”. Organization for Economic Co-Operation &
Development (OECD, 1994) juga mengeluarkan definisi yang sedikit berbeda yaitu:
“Transportasi berkelanjutan merupakan suatu transportasi yang tidak menimbulkan dampak
yang membahayakan kesehatan masyarakat atau ekosistem dan dapat memenuhi kebutuhan
mobilitas yang ada secara konsisten dengan memperhatikan: (a) penggunaan sumberdaya
energi yang terbarukan pada tingkat yang lebih rendah dari tingkat regenerasinya; dan (b)
penggunaan sumber daya tidak terbarukan pada tingkat yang lebih rendah dari tingkat
pengembangan sumberdaya alternative yang terbarukan.” Adapun Transporasi Ramah
Lingkungan adalah pemenuhan kebutuhan transportasi dimasa sekarang tanpa merugikan
generasi dimasa yang akan datang dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat
(Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam Onogawa
(2007:1). Transportasi ramah lingkungan juga dapat diartikan sebagai sistem transportasi dan
aktifitas transportasi dimana lingkungan dan manusia dapat berjalan selaras dan bermanfaat
untuk memenuhi kebutuhan sosial, ekonomi dan kegiatan lainnya. menurut Onogawa (2007:4)
Transportasi Ramah Lingkungan dapat juga berarti pencegahan (mitigasi) dimana usaha
pencegahan dianggap sebagai usaha yang lebih ringan dan murah daripada usaha untuk
memperbaiki kondisi lingkungan yang sudah rusak. Ada beberapa strategi dalam
pengembangan transportasi ramah lingkungan, antara lain:
Penggunaan
Bahan Bakar
Pengelolaan Pengujian
Rendah Polusi
Jalan Raya Emisi
Bahan Bakar

Pengelolaan Strategi Transportasi Perencanaan


Gangguan Ramah Lingkungan Tata Ruang
Kebisingan Suara Transportasi

Monitoring Pencemaran Penerapan Kendaraan


Lingkungan Non-Motorized
Dan Aktifitas Jalan Raya Dan Transportasi Umum

2.3 Transportasi Sungai


Pengembangan transportasi diarahkan untuk menjembatani kesenjangan antar wilayah
dan mendorong pemerataan hasil-hasil pembangunan. Transportasi air memegang peranan
penting dalam kelancaran perdagangan karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi antara lain
daya angkut banyak, dan biaya relatif murah. Guna menunjang perdagangan dan lalu-lintas
muatan, pelabuhan diciptakan sebagai titik simpul perpindahan muatan barang dimana kapal
dapat berlabuh, bersandar, melakukan bongkar muat barang dan penerusan ke daerah lainnya
(Kramadibrata, 1985). Transportasi sungai dahulu merupakan transportasi satu-satunya yang
menghubungkan daerah-daerah yang terpisahkan oleh sungai. Pada zaman Orde Lama dan
Orde Baru, Pemerintah sangat memperhatikan keberadaan sungai dan transportasi
penghubungnya. Hal ini terlihat pada kebijakan yang ditempuh dalam Pelita III di bidang
angkutan sungai, danau dan penyeberangan adalah peningkatan penggunaan serta perluasan
fasilitas prasarana dan sarana seperti kapal, dermaga, fasilitas keselamatan pelayaran di sungai,
danau dan penyeberangan. Selain itu ditingkatkan pula penyempurnaan di bidang kelembagaan,
perundang-undangan, administrasi dan manajemen agar perusahaan bidang angkutan ini dapat
berjalan lancar serta efisien.
Menurut UU No 21 Tahun 1992 disebutkan bahwa transportasi sungai, danau dan
penyeberangan adalah angkutan menggunakan kapal yang dilakukan di sungai, danau, waduk,
rawa, anjir, kanal dan terusan untuk mengangkut penumpang, barang dan/atau hewan yang
diselenggarakan oleh perusahaan angkutan sungai dan danau yang penyelenggaraannya disusun
secara terpadu intra dan antarmoda yang merupakan satu kesatuan tatanan transportasi nasional
serta menggunakan trayek tetap dan teratur yang dilengkapi dengan trayek tidak tetap dan tidak
teratur. Transportasi sungai merupakan transportasi yang tumbuh dan berkembang secara alami
di Indonesia akibat kondisi geografis alam yang memiliki banyak sungai. Jalan bagi transportasi
air bersifat alami (laut, sungai, danau), ada pula yang bersifat buatan manusia (kanal, anjir,
danau buatan). Transportasi ini biasa disebut juga dengan “inland water transportation”
(Chandrawidjaja, 1998: 5). Sistem Angkutan Sungai dan Danau menurut Nasution (2005: 172)
meliputi: - Alat angkut (vehicles): kapal sungai dan kapal feri, - Alur pelayaran (ways): rambu-
rambu sungai/danau/feri, pengerukan alur sungai, telekomunikasi, navigasi dan kapal inspeksi,
- Terminal (pelabuhan): terminal, gudang, kantor, depot BBM, listrik dan air. Angkutan air
cocok dan efisien sebagai lalu lintas penghubung antara pelabuhan dengan sistem angkutan lain
yang menggunakan perahu untuk membongkar-muat barang dari dan ke kapal. Selain itu, juga
dapat berfungsi sebagai lalu lintas penghubung antartempat (misalnya permukiman) yang
belum terhubung oleh sistem jaringan jalan darat, sebagai lalu lintas penyeberangan antarpulau
atau penyeberangan sungai, dan untuk pengangkutan barang di daerah pedalaman (Warpani,
1990: 48).
Menurut Peraturan Pemerintah No 20 Tahun 2010 Tentang Angkutan di Perarian,
Angkutan Sungai dan Danau adalah kegiatan angkutan dengan menggunakan kapal yang
dilakukan di sungai, danau, waduk, rawa, banjir kanal dan terusan untuk mengangkut
penumpang, barang dan/atau hewan yang diselenggarakan oleh perusahaan angkutan sungai
dan danau

• Target market yang diharapkan adalah komoditas dalam jumlah dan bobot yang besar
dengan barang yang tidak cepat rusak;
Misalnya : batu bara, kelapa sawit, dll
Klasifikasi Alur Sungai
Klasifikasi Kedalaman (D) Lebar (W) Ruang Bebas (H)
Kelas Alur 1 >10 m >250 m >15 m
Kelas Alur 2 5 < D ≤ 10 m 100 < W ≤ 250 m 10 < H ≤ 15 m
Kelas Alur 3 ≤5m ≤ 100 m ≤ 10 m
Sumber: PM 52 Tahun 2012 tentang Alur Pelayaran Sungai dan Danau
Kebijakan Pengembangan Transportasi Sungai dan Danau
• Pelabuhan dan Jaringan Transportasi Sungai Pedalaman
• Diarahkan sebagai komponen pendukung dalam menunjang pergerakan angkutan
barang untuk mengurangi beban angkutan jalan, baik untuk muatan hasil pertanian,
sembako maupun hasil tambang
• Pelabuhan dan Jaringan Transportasi Sungai Perkotaan
• Diarahkan sebagai komponen pendukung pergerakan angkutan barang untuk
mengurangi beban angkutan jalan, pergerakan angkutan penumpang perkotaan yang
terintegrasi dengan moda angkutan jalan/kereta api, menunjang konsep wisata air dan
water front city serta mendukung mitigasi bencana banjir di perkotaan
• Pelabuhan dan Jaringan Transportasi Danau
• Diarahkan sebagai komponen pendukung pergerakan angkutan penumpang dan barang
di danau, pengembangan potensi perikanan/irigasi/PLTA, menunjang konsep wisata air
dan mendukung upaya mitigasi bencana banjir di perkotaan
(KM. Perhubungan No. 31/2006 tentang Pedoman dan Proses Perencanaan di Lingkungan
Kementerian Perhubungan)
Karakteristik sarana transportasi laut
Jenis Angkutan Badan Tenaga Cara Bergerak Sistem Kontrol
Penggerak
1. Penumpang
a. Kapal Kamar/Dek Mesin Diesel Propeler Juru mudi
Penumpang navigasi laut
b. Hidrofoil Tertutup/Seat Propeler/ Jet dan Juru mudi
Ban navigasi laut
2. Barang
a. Kapal Terbuka Mesin Diesel Propeler Juru mudi
Barang navigasi laut
b. Kapal Peti Terbuka/Landasan Mesin Diesel Propeler Juru mudi
Kemas Peti Kemas navigasi laut
c. Bell Aero Terbuka/Landasan Propeler Juru mudi
Space Peti Kemas navigasi laut
Textron

2.4 Konsep TOD (Transit Oriented Development)


TOD merupakan salah satu strategi yang digunakan pemerintah saat ini untuk mengatasi
dampak yang disebabkan oleh pengembangan infrastruktur transportasi sebelumnya dimana
lebih berorientasi pada kendaraan bermotor (ITDP,2015). Konsep TOD berusaha untuk
memformulasikan pola pembangunan yang memaksimalkan pemanfaatan dari system angkutan
umum, juga secara tegas fokus mengembalikan pada penggunanya yaitu manusia. Terdapat
beberapa prinsip TOD yang diterapkan oleh berbagai negara tergantung pada kondisi di negara
tersebut. Salah satu prinsip TOD menurut Ministry of Urban Development in India dalam
dokumen Transit Oriented Development Guidance, mengungkapkan terdapat dua jenis prinsip
dalam menerapkan TOD diantarnya yaitu 12 guiding principles dan 9 supportive principles.
Guiding Principles Supportive Principles
Multimodal Integration Engage Private Sector

First and Last Mile Connectivity Barrier Free Environment


Interconnected Street Network High Quality Transit System
Complete Streets Land Value Capture
NMT Network Preserve and Create Open Space
Traffic Calming Green Building and Infrastructure
Mixed Land Uses Right Size Infrastructure
Optimized Densities Technology Integration
Street Oriented Buildings Safety and Security
Managed Parking
Informal Sector Integration
Housing Diversity
Sumber:
Adapun standar TOD yang dibuat oleh ITDP (Institute for Transportation and Development
Policy). TOD Standard merupakan alat penilaian, pengakuan, serta panduan kebijakan yang
memfokuskan pada pengintegrasian transportasi berkelanjutan dan perencanaan serta
perancangan tata ruang dan wilayah. Standar ini ditujukan untuk berbagai pemangku
kepentingan pembangunan perkotaan, termasuk pemerintah, pengembang dan investor,
planolog dan arsitek, advokat pembangunan berkelanjutan serta warga kota yang tertarik
dengan isu ini. TOD Standard mengidentifikasi sejumlah sasaran kinerja untuk setiap prinsip
dan beberapa variabel terukur, atau metrik, untuk masing-masing sasaran yang diinginkan.
Berikut merupakan 8 prinsip dasar serta sasaran yang menjadi tolak ukur dalam sistem penilaian
TOD.
A. Berjalan kaki/Walk
Berjalan kaki adalah moda transportasi yang paling alami, sehat, tanpa emisi, dan
terjangkau untuk jarak pendek, serta merupakan komponen penting dari suatu perjalanan
dengan angkutan umum. Faktor-faktor kunci yang membuat berjalan kaki menarik
membentuk dasar dari tiga sasaran kinerja di bawah prinsip ini: keselamatan, keaktifan,
dan kenyamanan. Sasaran dalam prinsip ini diantaranya yaitu a) Infrastruktur pejalan kaki
tersedia lengkap dana man; b) Infrastruktur pejalan kaki aktif dan hidup; c) Infrastruktur
pejalan kaki nyaman dan terjaga temperaturnya
B. Bersepeda/Cycle
Bersepeda adalah opsi transportasi bebas emisi, sehat dan terjangkau, yang sangat
efisien dan mengkonsumsi sedikit sekali ruang dan sumber daya perkotaan. Bersepeda
menggabungkan kenyamanan perjalanan door-to-door, fleksibilitas rute dan jadwal
layaknya berjalan kaki, serta jangkauan dan kecepatan layaknya layanan angkutan umum.
Sasaran prinsip bersepeda dalam TOD diantaranya yaitu a) Jaringan Infrastruktur
bersepeda tersedia lengkap dana man; dan b) Parkir sepeda dan lokasi penyimpanan
tersedia dalam jumlah cukup dan aman
C. Menghubungkan/Connect
Jalur pejalan kaki yang singkat dan langsung membutuhkan jaringan jalan-jalan yang
padat di antara blok-blok kecil yang permeabel. Hal ini penting untuk kemudahan berjalan
kaki dan aksesibilitas dari stasiun transit. Sasaran pada prinsip ini yaitu a) Rute berjalan
kaki dan bersepeda pendek, langsung, dan bervariasi; b) Rute berjalan kaki dan bersepeda
lebih pendek daripada rute kendaraan bermotor
D. Angkutan Umum/Transit
Angkutan umum menghubungkan dan mengintegrasikan wilayah-wilayah kota terlalu
jauh bagi pejalan kaki. Angkutan umum massal memainkan peran penting, karena
memungkinkan mobilitas perkotaan yang sangat efisien dan adil, serta mendukung tata
ruang dan pola pembangunan yang padat. Angkutan umum juga hadir dalam berbagai
bentuk moda untuk mendukung keseluruhan spektrum kebutuhan transportasi perkotaan
termasuk kendaraan berkapasitas rendah, becak bermotor, angkutan kota, bus, dan trem.
Sasaran dalam prinsip angkutan umum ialah tersedianya angkutan umum yang berkualitas
dan dapat diakses dengan berjalan kaki. Jarak maksimal menuju stasiun angkutan umum
massal terdekat yang direkomendasikan untuk pembangunan berorientasi transit adalah 1
kilometer, atau 15 sampai 20 menit berjalan kaki. Dengan menciptakan kepadatan yang
lebih tinggi di area stasiun angkutan umum, akan memaksimalkan jumlah pengguna yang
dapat dengan mudah mengakses ke layanan angkutan umum tersebut.
E. Pembauran/Mix
Percampuran yang dimaksud ialah adanya peruntukan dan kegiatan dalam satu area
misalnya antara tempat tinggal, tempat kerja, dan perdagangan, sehingga akan banyak
memunculkan perjalanan sehari-hari dengan jarak yang relatif dekat. Sasaran pada prinsip
ini diantaranya yaitu a) Jarak perjalanan dipersingkat dengan pola pembangunan yang
beragam dan tata guna lahan yang saling melengkapi; dan b) Masyarakat Berpenghasilan
Rendah (MBR) memiliki jarak perjalanan yang dekat.
F. Memadatkan/Densify
Dalam hal ini, pertumbuhan kota lebih diarahkan ke arah vertikal (densifikasi), bukan
secara horizontal (sprawl). Kota dengan tingkat kepadatan yang tinggi dan berorientasi
pada angkutan umum akan mendukung tersedianya layanan dengan kualitas, frekuensi, dan
konektivitas yang juga tinggi sehingga akan membantu peningkatan pendapatan dengan
investasi dalam perbaikan dan ekspansi sistem yang lebih baik lagi. Sasaran yang
diharapkan dari penerapan prinsip ini ialah Tingkat kepadatan hunian rumah dan
perkantoran mendukung beroperasinya angkutan umum yang berkualitas dan aktivitas
perekonomian lokal.
G. Merapatkan/Compact
Prinsip dasar pembangunan perkotaan yang padat (dense) adalah tata ruang yang rapat
(compact). Di wilayah kota ataupun pinggiran kota yang rapat, berbagai kegiatan dan
aktivitas hadir saling berdekatan satu sama lainnya. Pola ini meminimalkan waktu dan
energi yang dibutuhkan untuk menjangkau mereka dan memaksimalkan potensi interaksi
antarwarganya. Terdapat dua sasaran dalam prinsip ini yaitu a) Proyek pembangunan
terdapat di area perkotaan yang sudah berkembang; b) Kenyamanan perjalanan di tengah
kota.
H. Beralih/Shift
Ketika kota dibangun atas dasar tujuh prinsip di atas, kendaraan bermotor pribadi
menjadi hampir tidak diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Berjalan kaki, bersepeda,
dan menggunakan angkutan umum menjadi pilihan bertransportasi yang mudah dan
nyaman, dan dapat juga dilengkapi dengan moda angkutan perantara atau kendaraan
sewaan yang lebih hemat dalam penggunaan ruang. Sehingga sasaran dari prinsip ini ialah
dapat meminimalkan luasan area yang ditujukan bagi kendaraan bermotor.
BAB III
METODE PENELITIAN
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Wilayah Rencana
Secara geografis Kota Palembang terletak di antara 2º 52’ - 3º 5’ LS dan 104º 37’ -
104º52” BT dengan luas wilayah 400,61 km². Kota Palembang berada di tepian Sungai Musi
dan dikelilingi oleh anak-anak sungainya sehingga dapat ditemukan beberapa dermaga
diantaranya yaitu Dermaga Tangga Buntung dan Dermaga Sei Lais. Sungai Musi ini membagi
kota Palembang menjadi dua bagian yaitu wilayah seberang ilir dan seberang ulu. Jumlah
penduduk Kota Palembang pada tahun … sejumlah … jiwa yang tersebar di 14 kecamatan.
Pulau Kemaro merupakan satu-satunya pulau yang ada di Kota Palembang, tepatnya di
atas Sungai Musi dengan luas ±32 ha dan ketinggian 5mdpl (Profil Kota Palembang, 2014).
Pulau ini terletak di sebelah timur Kota Palembang dengan jarak ±5 km ke Jembatan Ampera.
Secara administratif, kawasan Pulau Kemaro berada di kelurahan 1 Ilir Kecamatan Ilir Timur
II dan Kelurahan sei Selincah Kelurahan Kalidoni. Pulau Kemaro sering dikunjungi oleh
wisatawan karena memiliki beberapa spot wisata. Daya tarik wisata ziarah yang ada di pulau
Kemaro berupa adanya peninggalan-peninggalan sejarah (Pagoda berlantai 9, Makam putri
Sriwijaya, Kelenteng hok tjing Rio, Kuil Buddha, Pertunjukkan kesenian, dan Ritual keagamaan
khususnya umat Tridharma). Selain itu Pulau Kemaro memiliki potensi wisata budaya namun
belum diketahui wisatawan, potensi budaya di Pulau Kemaro seperti perahu bidar yaitu salah
satu tradisi perlombaan perahu di kota Palembang. Perahu bidar adalah sebuah perahu
pencalang yang tidak memiliki atap atau penutup. Pencalang sendiri artinya perahu yang cepat
pergi atau menghilang. Perahu tersebut memiliki panjang 12,70 meter, tinggi 60 cm, dan lebar
1,2 meter.
timba air.
4.2 Potensi Masalah
 Salah satu prasarana yang penting dalam perkembangan perumahan dan
permukiman adalah jaringan jalan. Perkembangan kota Palembang telah mengarah
pada semua kecamatan terutama Kecamatan Sako, dan Kercamatan Sukarame.
Pada saat ini, kemacetan di jalan-jalan utama sering terjadi yang disebabkan
kapasitas jalan tidak sesuai lagi dengan jumlah kendaraan (Profil Kota Palembang)
 Rute angkutan umum sebagian besar menuju pusat kota dan beberapa wilayah di
dalam kota yang belum terlayani oleh angkutan umum. (Profil Kota Palembang)
 Angkutan bus antar kota-antar propinsi dan angkutan bus antar kota-dalam propinsi
masih melewati sebagian jalan-jalan utama di dalam kota. (Profil Kota Palembang)

Karakteristik Sungai Musi di Pulau Kemaro


4.3 Rencana Pengembangan Transportasi Sungai dengan Konsep TOD (Transit
Oriented Development)
BAB V
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Lampiran 1. Rancangan Anggaran Biaya (RAB)
Lampiran 2. Surat Pernyataan Orisinalitas
Lampiran 3. Peta Administrasi Palembang
Lampiran 4. Peta Batas Wilayah Rencana
Lampiran 5. Peta Guna Lahan
Teori daya dukung struktur perkerasan jalan menyatakan bahwa peningkatan muatan sebesar
dua kali lipat pada sumbu standar kendaraan akan meningkatkan daya
Potensi revitalisasi transportasi sungai di Provinsi Lampung (R. Didin Kusdian) 149
rusak ke perkerasan menjadi 16 kali (Mulyono, 2008).

Biaya lain yang tentu perlu menjadi pertimbangan adalah biaya yang bersifat spot (pada titik
tertentu saja dan tidak memanjang) untuk pembangunan dermaga. Di titik-titik tertentu, adanya
dermaga dapat berkembang menjadi pelabuhan. Pelabuhan diperlukan untuk keterpaduan
intramoda dan antar-moda/multimoda di titik pertemuan antara sungai dan jalan darat agar
perpindahan muatan menjadi efektif dan efisien (Tjeendra el al., 2008).

Tantangan yang dihadapi adalah bahwa transportasi sungai perlu dipandang sebagai subsistem
suatu sistem transportasi darat-laut-darat yang lebih luas. Di masa depan diperlukan
pertimbangan koordinatif lintas-sektor dan evaluasi kelayakan ekonomis multi-sektor untuk
memperkaya sistem transportasi nasional dengan revitalisasi transportasi sungai, terutama
transportasi barang, yang merupakan pendukung rantai pasok (Robinson, 2005).