Anda di halaman 1dari 3

Kisah Sahabat: Zaid bin Haritsah Anak Angkat Rasulullah Saw

– Pada awal sejarah Islam, Negara Yordania pernah menjadi salah satu pusat peradaban Islam. Konon
negara ini termasuk dalam wilayah Syam karena berdekatan dengan Damaskus. Selama berabad-abad,
Yordania telah menjadi saksi jatuh bangunnya kejayaan Islam. Negara yg pernah menjadi saksi akan
terjadinya perang Mu’tah di jaman Rasulullah Saw dan perang Salib pada masa Dinasti Ayyubiyah.

Sudah dipastikan di negara Yordania terdapat banyak bukti-bukti sejarah tersebut, diantaranya adanya
makam para sahabat. Banyak sahabat yang menjadi syahid di wilayah Yordania. Sampai sekarang
makamnya masih bertahan dan bahkan banyak orang dari mancanegara mengunjunginya. Salah satu
makam sahabat Rasulullah Saw adalah Zaid bin Haritsah.

Kisah Sahabat: Zaid bin Haritsah Anak Angkat Rasulullah Saw


Kisah Sahabat: Zaid bin Haritsah Anak Angkat Rasulullah Saw

Dikisahkan ketika Zaid masih kecil, ketika itu dibawa oleh ibunya yang bernama Su’da binti Tsalabah
pergi untuk mengunjungi keluarganya, Bani Ma’an. Zaid bin Haritsah al Ka’by berasal dari kabilah Kalb
yg menghuni sebelah utaranya jazirah Arab. Tak lama ketika mereka tinggal disana datanglah
segerombolan orang berkuda dari Bani Qain, mereka menyerang juga merampok semua harta benda
penduduk desa, unta dan menculik anak-anak desa. Termasuk anak-anak yang diculik para gerombolan
tersebut adalah Zaid bin Haritsah.

Umur Zaid ketika itu baru menginjak 8 tahun. Para perampok menggiring Zaid ke pasar Ukaz dan
menjualnya kepada para pembeli. Akhirnya Zaid pun dibeli oleh seorang bangsawan dari bangsa Quraisy,
Hakam bin Hazam bin Khuwalid, ia membelinya dengan harga 400 Dirham. Hakam juga membeli
beberapa budak lainnya. Kemudian dibawanya pulang menuju Mekkah. Sepulangnya di Mekkah,
didatangilah Hakam oleh Khadijah binti Khuwalid untuk sekedar mengucapkan selamat datang, karena
Khadijah merupakan bibi dari Hakam.

Hakam berkata pada Khadijah agar memilih salah satu dari budak-budak yang ia bawa sebagai hadiah
untuk bibinya. Khadijah pun memeriksa budak-budak itu satu persatu, yang kemudian jatuhlah pilihan
kepada Zaid bin Haritsah. Khadijah melihat pada diri Zaid terdapat kepintaran dan kecerdikan, dibawalah
budak yang bernama Zaid oleh Khadijah.

Singkat cerita, Khadijah menikah dengan Muhammad bin ‘Abdullah (ketika itu beliau belum menjadi
seorang Nabi). Terbersit Khadijah ingin menyenangkan suaminya dengan menghadiahkan sesuatu sebagai
kenang-kenangan. Setelah menimbang-nimbang, Khadijah tidak menemukan hadiah yg lebih baik untuk
suaminya. Melainkan seorang budak yg memiliki budi pekerti halus, akhirnya Zaid bin haritsah pun
dihadiahkan oleh Khadijah kepada Rasulullah Saw.

Zaid pun menjadi sahabat serta pelayan setia Nabi Muhammad Saw. Ia menikah denan Ummu Ayman dan
mempunyai putra yg bernama Usamah bin Zaid bin Haritsah. Ia selalu mengikuti Rasulullah Saw termasuk
hijrah ke Madinah, serta mengikuti di setiap pertempuran dalam membela islam. Dalam pertempuran
Mu’tah inilah Zaid dipilih Rasulullah Saw sebagai panglima perang namun pada akhirnya ia menjadi
syahid.

Kisah Sahabat: Zaid bin Haritsah Anak Angkat Rasulullah Saw

Zaid bin Haritsah sering disebut putranya Muhammad. Padahal awalnya Zaid dibeli Khadijah, kemudian
menjadi budaknya dan tidak lama diberikan kepada suaminya Nabi Muhammad Saw sebagai hadiah untuk
menjadi kenang-kenangan.

Rasulullah Saw begitu mencintai Zaid, dikarenakan ia memiliki sifat-sifat yg terpuji. Begitu pula Zaid
mencintai Rasulullah. Namun di tempat lain, ada seseorang yang merindukan Zaid, ialah ayahnya yg selalu
mencari kabar tentang kehilangan anaknya waktu dirampok ketika itu. Akhirnya ayahnya mendapatkan
kabar bahwa Zaid telah berada di kediaman Muhammad dan Khadijah. Ia pun mendatangi Rasulullah Saw,
memohon agar beliau bersedia mengembalikan Zaid kepadanya walapun ia harus membayar dengan harga
mahal sekalipun.

Maka Muhammad bin Abdullah pun berkata “panggillah Zaid kesnini, suruh kepada untuk memilih
sendiri. Jika seandainya ia memilih anda, maka saya akan kembalikan kpd anda dengan tanpa tebusan
sepeserpun. Namun jika sebaliknya ia memilihku, Demi Allah aku tidak akan menerima tebusan & tidak
akan menyerahkan orang yg telah memilihku”.

Setelah mendengar perkataan Nabi Muhammad Saw, Haritsah pun tersentuh hatinya. Betapa murah
hatinya seorang laki-laki yg ada dihadapannya itu. Ia pun berujar “sungguh anda telah menyadarkan kami
& anda pun telah memberi keinsafan di balik kesadaran itu”.

Setibanya Zaid dihadapan keduanya, ayah kandungnya dan ayah angkatnya. Muhammad bin Abdullah pun
bertanya kepada Zaid “tahukah engkau siapa orang ini?”

“ya tahu, ini adalah ayahku, sedangkan yg seorang lagi adalah pamanku” ucap Zaid. Kemudian Nabi
Muhammad Saw menjelaskan kepadanya akan kebebasan dalam memilih, apakah ia akan ikut ayahnya
atau ikut bersama dirinya.

Tanpa piker panjang, Zaid memutuskan dan menjawab “tidak ada orang pilihanku kecuali engkau!
Engkaulah ayah dan engkaulah pamanku”

Mendengar jawaban tersebut, Muhammad bin Abdullah terharu, menangis dan bersyukur. Dituntulah Zaid
menuju pekarangan Ka’bah dimana ketika itu orang-orang Quraisy sedang berkumpul. Muhammad
mengabarkan ke khalayak ramai “saksikanlah oleh kalian semua, dimulai dari saat ini Zaid adalah
anakku, yang nantinya menjadi ahli warisku dan aku menjadi ahli warisnya”

Haritsah pun sang ayah aslinya mendapatkan kegembiraan, ia merasakan anaknya sudah merdeka juga
tanpa ada tebusan dan pastinya ketenangan karena kini anaknya berada di bawah asuhan seseorang yg
mulia dari suku Quraisy. Dari situlah Zaid dijuluki Zaid bin Muhammad, tetapi hukum pengangkatan anak
tersebut gugur setelah turunnya ayat yg membatalkannya. Seperti yang telah Allah SWT firmankan dalam
surat at-Taubah: 5.

Kisah Sahabat: Zaid bin Haritsah Anak Angkat Rasulullah Saw – Perannya dalam Perang Mu’tah

Kisah Sahabat: Zaid bin Haritsah Anak Angkat Rasulullah Saw

Perang Mu’tah yang terjadi pada tahun 629 M atau 5 Jumadil Awal 8 Hijriyah, terjadi di kampong yang
bernama Mu’tah, sebelah timur sungai Yordania & al Karak, perang terjadi antara pasukan Khulafaur
Rasyidin yg dikirim Rasulullah Saw dan tentara kekaisaran Romawi Timur (Bashra).

Perang Mu’tah

Sebelum pasukan Islam diberangkatkan, Rasulullah Saw telah memilih 3 orang sahabat untuk mengemban
amanah sebagai panglima dengan cara bergantian, jika panglima pertama gugur dalam medan perang maka
disambung oleh panglima kedua dan ketiga seterusnya. Ini merupakan keputusan yang sebelumnya tidak
pernah Rasulullah lakukan. 3 orang sahabat tersebut adalah Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan
seorang sahabat dari anshar, Abdullah bin Rawahah (seorang penyair Rasulullah Saw).

Setelah dipilihnya panglima tersebut, Rasulullah memberangkatkan sekitar 3000 pasukan tentara Islam.
Terdengar berita bahwa Heraklius telah mempersiapkan 100.000 pasukan. Ditambah bala tentara bantuan
dari kaum Nasrani yang terdiri dari beberapa suku Arab (kaum musyrikin Arab) dengan jumlah yg sama.
Mendengar kabar berita demikian, sebagian para sahabat mengusulkan kepada Rasulullah Saw agar
meminta bantuan pasukan atau memberikan keputusan yg lainnya.

Kisah Sahabat: Zaid bin Haritsah Anak Angkat Rasulullah Saw


Lantas ‘Abdullah bin Rawahah ra mengobarkan semangat juang kepada para sahabat dengan
perkataannya “Demi Allah, sesungguhnya perkara yg kalian tidak sukai ini adalah perkara yg kamu
keluar mencarinya, yaitu Syahadah (gugur dalam medan perang di jalan Allah azza wa jalla). Kita tidak
berjuang karena jumlah pasukan atau kekuatan. Kita berjuang untuk membela agama ini yg Allah azza wa
jalla telah memuliakan kita dengannya. Bergeraklah, hanya ada salah satu dari 2 kebaikan; kemenangan
atau gugur (syahid) dalam medan perang”.

Orang-orang kemudian menanggapi dengan perkataan “Demi Allah, Ibnu Rawahah telah berkata
benar”

Zaid bin Haritsah ra sebagai panglima pertama yg ditunjuk oleh Rasulullah Saw kemudian membawa
pasukan ke wilayah Mu’tah. Kedua pasukan saling bertemu dan berperang begitu sengit. Panglima yang
begitu gigih penebasi panah-panah pasukan musuh dan sampai akhirnya tewas terbunuh fi sabilillah.

Bendera panji pun beralih tangan ke panglima kedua Ja’far bin Abi Thali ra. ia merupakan sepupu
Rasulullah Saw, kemudian ia mengambil pimpinan perang sampai tangan kanannya terputus. Bendera yg
beliau pegang beralih ke tangan kirinya dan akhirnya putus juga oleh tebasan musuh. Dengan kondisi tidak
memiliki tangan, beliau berusaha mempertahankan bendera dengan begitu semangat dengan cara
memeluknya sampai akhirnya beliau pun gugur. Dari keterangan
Ibnu Umar ra, merupakan saksi mata ketika perang tersebut, menyatakan bahwa terdapat 90 luka di tubuh
Ja’far bin Abi Thalib, baik itu luka yang diakibatkna luka tusukan pedang maupun anak panah.

Kemudian pimpinan dilanjutkan oleh panglima yg ketiga Abdullah bin Rawahah ra, setelah melakukan
perjuangan yang gigih, beliaupun menyambut syahadahnya di medan perang. Tak lama Tsabit bin Arqam
ra mengambil bendera yg sudah tidak bertuan karena semua panglima gugur dalam peperangan, ia pun
berteriak memanggil semua para sahabat agar menentukan pengganti pemimpin pasukan muslimin. Pilihan
sahabat jatuh pada Khalid bin Walid ra, dengan kecerdikan dan kecemerlangan strategi perang yg
dimilikinya, atas izin Allah SWT kaum muslimin dimenangkan dalam peperangan Mu’tah ini, pasukan
Romawi terpukul mundur dan mengalami kerugian yang besar.