Anda di halaman 1dari 34

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KASUS

VESIKOLITIASIS

Disusun oleh :
Delia (1703012)
Jeepry (1703017)
Pranata (1703)
Rezky Julian Sitorus (1703033)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BETHESDA YAKKUM


PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke Hadirat Tuhan yang maha Esa, atas berkat dan Rahmat-nya
Sehingga kelompok dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan
Keperawatan Pada Pasien dengan Vesikolitiasis” dengan baik tanpa ada halangan
yang berarti.

Makalah ini telah kelompok selesaikan dengan maksimal berkat kerjasama


dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu kami sampaikan banyak terima
kasih kepada segenap pihak yang telah berkontribusi secara maksimal dalam
penyelesaian makalah ini.

Diluar itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan


dalam penulisan makalah ini, baik dari segi tata bahasa, susunan kalimat maupun isi.
Oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati, kami selaku penyusun menerima
segala kritik dan saran yang membangun dari pembaca.

Semoga makalah ini dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan dan


memberikan manfaat nyata untuk masyarakat luas.

Yogyakarta, 27 April 2018

Kelompok

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .............................................................................................. ii

Daftar Isi ....................................................................................................... iii

BAB I Pendahuluan

A. Latar Belakang ................................................................................... 1


B. Tujuan ................................................................................................ 3
BAB II Konsep Dasar Medis

A. Definisi ............................................................................................... 4
B. Anatomi Fisiologi Mata ..................................................................... 5
C. Klasifikasi ........................................................................................... 8
D. Etiologi ................................................................................................ 10
E. Epidemiologi ....................................................................................... 12
F. Patofisiologi ........................................................................................ 13
G. Manifestasi Klinis ............................................................................... 15
H. Pemeriksaan Penunjang ...................................................................... 17
I. Penatalaksanaan .................................................................................. 18
J. Komplikasi .......................................................................................... 21
K. Prognosis ............................................................................................. 21
L. Konsep Keperawatan .......................................................................... 21
M. Legal Etik ............................................................................................ 28
BAB III Penutup

A. Kesimpulan .......................................................................................... 30
Daftar Pustaka .................................................................................................. 31

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit urologi sudah dikenal sejak zaman Mesir Kuno. Salah satu bukti
arkeologi adalah diketemukannya batu di dalam buli-buli pada kerangka tulang
pelvis anak lelaki pada kuburan yang diperkirakan tejadi pada 5000 tahun yang
lalu. Professor Harold Ellis pada kata pendahuluan tentang monograf penyakit
batu saluran kemih menyebutkan, bahwa tiga jenis operasi elektif yang paling tua
yang dikerjakan pada manusia adalah sirkumsisi, trepanasi kepala, dan
mengeluarkan batu dari buli-buli. Operasi batu buli-buli saat itu adalah operasi
yang dilakukan berdasarkan atas indikasi medis. Penyakit batu saluran kemih
menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan di negara berkembang banyak di
temukan batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih banyak dijumpai batu
saluran kemih bagian atas (ginjal dan ureter), perbedaan ini dipengaruhi status
gizi dan mobilitas aktivitas sehari-hari (Purnomo, 2012: 1).

Kalkulasi vesikalis mengacu pada keberadaan batu atau bahan batu dalam
kandung kemih. Batu-batu ini biasanya berhubungan dengan statis kemih, tetapi
mereka dapat terbentuk pada orang sehat tanpa bukti cacat anatomi, struktur,
infeksi, atau benda asing. Kehadiran batu atas saluran kemih tidak selalu
kecenderungan pembentukan batu kandung kemih. Insiden batu kandung kemih
di Amerika Serikat dan Eropa Barat telah mantap dan signifikan menurun sejak
abad ke 19 karena perbaikan diet, nutrisi, dan pengendalian infeksi. Di Negara-
negara ini, batu kandung kemih mempengaruhi orang dewasa, dengan frekuensi
terus menerus pada anak-anak. Namun, batu kandung kemih tetap umum di
Negara-negara berkembang seperti Thailand, Indonesia, Timur Tengah, dan
Afrika Utara. Meskipun prevalensi batu kandung kemih menurun dalam

1
populasi, ia tetap merupakan penyakit yang mempengaruhi anak-anak. Penyakit
ini jauh lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan (Nursalam,
2008: 111).

Penyakit batu saluran kemih sudah dikenal sejak zaman Babilonia dan
zaman Mesir kuno. Sebagai salah satu buktinya adalah diketemukan batu pada
kandung kemih seorang mumi. Penyakit ini dapat menyerang penduduk di
seluruh dunia tidak terkecuali penduduk Indonesia. Angka kejadian penyakit ini
tidak sama di berbagai belahan bumi. Di negara-negara berkembang banyak
dijumpai pasien batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih banyak dijumpai
penyakit batu saluran kemih bagian atas, hal ini karena adanya pengaruh status
gizi dan aktivitas pasien sehari-hari. Di Amerika Serikat 5-10% penduduknya
mnerita penyakit ini, sedangkan di seluruh dunia rata-rata terdapat 1-12%
penduduk yang menderita batu saluran kemih (Purnomo, 2012: 5).

Batu kandung kemih dapat terjadi pada pria dengan obstruksi saluran
keluar kandung kemih. Anak-anak yang tinggal di negara belum berkembang
juga akan terkena. Batu kalsium oksalat merupakan batu yang paling sering
dijumpai di Amerika Serikat. Batu kandung kemih lebih sering terjadi pada pria
dan dialami semua bangsa (Stanley Zaslau, 2010: 132). Setelah batu dikeluarkan,
tindak lanjut yang tidak kalah pentingnya adalah upaya mencegah timbulnya
kekambuhan. Angka kekambuhan batu saluran kemih rata-rata 7% per tahun atau
kambuh lebih dari 50% dalam 10 tahun (Haryono, 2013: 65).

Menurut WHO (2014), menunjukkan 46% penyakit sistem perkemihan,


salah satunya batu saluran kemih disebabkan karena kurang gerak. Sekitar 60-
70% batu yang turun spontan sering disertai dengan serangan kolik ulangan.
Angka prevelensi rata-rata diseluruh dunia 1-12% penduduk menderita batu
saluran kemih. Sedangkan menurut Departemen Kesehatan RI (2015), jumlah

2
pasien rawat inap penderita BSK di rumah sakit seluruh Indonesia yaitu 16.251
penderita dengan CFR 0.94% (Nurlina, 2015).

B. Tujuan

1. Untuk mengetahui tinjauan teori dari vesicolithiasis meliputi pengertian,


etiologi, patofisiologi, tanda dan gejala, pemeriksaan penunjang, pathway,
penatalaksanaan, komplikasi.
2. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan vesicolithiasis
meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan yang mungkin muncul dan
rencana keperawatan.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Vesikolitiasis adalah penyumbatan saluran kemih khususnya pada vesika


urinaria atau kandung kemih oleh batu penyakit ini juga disebut batu kandung
kemih (Smeltzer and Bare, 2005).

Vesikolitiasis adalah batu yang terjebak di vesika urinaria yang


menyebabkan gelombang nyeri yang luar biasa sakitnya yang menyebar ke paha,
abdomen dan daerah genetalia. Medikasi yang diketahui menyebabkan pada
banyak klien mencakup penggunaan antasid, diamox, vitamin D, laksatif dan
aspirin dosis tinggi yang berlebihan. Batu vesika urinaria terutama mengandung
kalsium atau magnesium dalam kombinasinya dengan fosfat, oksalat, dan zat-zat
lainnya (Brunner and Suddarth, 2007).
Batu kandung kemih adalah batu yang tidak normal di dalam saluran
kemih yang mengandung komponen kristal dan matriks organik tepatnya pada
vesika urinari atau kandung kemih. Batu kandung kemih sebagian besar
mengandung batu kalsium oksalat atau fosfat ( Prof. Dr. Arjatm T. Ph.D. Sp. And
dan dr. Hendra Utama, SPFK, 2006 ).
Vesikolitiasis adalah batu yang ada di vesika urinaria ketika terdapat
defisiensi substansi tertentu, seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat
meningkat atau ketika terdapat defisiensi subtansi tertentu, seperti sitrat yang
secara normal mencegah terjadinya kristalisasi dalam urin (Smeltzer, 2002).

4
B. Anatomi Fisiologi
1. Anatomi

a. Anatomi Ginjal (Renal)


Ginjal suatu kelenjar yang terletak dibagian belakang dari kavum
abdomeinalis dibelakang peritonium pada kedua sisi vertebral lumbalis III,
melekat langsung pada dinding belakang abdomen. Bentuknya seperti biji
kacang, jumlahnya ada dua kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari ginjal
kanan dan pada umumnya ginjal laki-laki lebih panjang dari ginjal wanita.

b. Anatomi Ureter
Ureter terdiri dari dua saluran pipa masing-masing bersambung dari ginjal ke
kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya 25-30 cm, dengan penampang
0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian
terletak dalam rongga pelvis.
Lapisan dinding ureter terdiri dari:
 Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
 Lapisan tengah lapisan otot polos.
 Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa.
 Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan-gerakan peristaltik
tiap 5x/menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk

5
kedalam kandung kemih. Gerakan peristaltik urin masuk ke
dalam kandung kemih.

c. Anatomi Vesika urinaria (kandung kemih)


Kandung kemih adalah satu kantong berotot yang dapat mengempes, terletak
dibelakang simfisis pubis dan kandung kemih mempunyai tiga muara, dua
muara ureter serta satu muara uretra. Kandung kemih dapat mengembang
dan mengempis seperti balon karet, terletak dibelakang simfisis pubis
didalam rongga panggul. Bentuk kandung kemih seperti kerucut dikelilingi
oleh otot yang kuat, berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikus
medius.
Bagian vesika urinaria terdiri dari:
 Fundus yaitu bagian yang menghadap kearah belakang dan
bawah, bagian ini terpisah dari rektum oleh spatium
rectovesikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferent
vesika seminalis dan prostat.
 Korpus yaitu bagian antara verteks dan fundus.
 Verteks bagian yang runcing kearah muka dan berhubungan
dengan ligamentum vesika umilikalis.
Dinding kandung kemih terdiri dari lapisan:
 Peritonium (Lapisan Luar)

6
 Tunika Muskularis (lapisan otot)
 Tunika Submukosa dan
 Lapisan mukosa (lapisan bagian dalam)
d. Proses miksi atau rangsangan berkemih
Distensi kandung kemih oleh air kemih akan merangsang stresreseptor yang
terdapat pada dinding kandung kemih dengan jumlah 250 cc sudah cukup
untuk merangsang berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek
kontraksi dinding kandung kemih, dan pada saat yang sama terjadi relaksasi
spinter internus segera diikuti oleh relaksasi spinter eksternus, akhirnya terjadi
pengosongan kandung kemih. Rangsangan yang menyebabkan kontraksi
kandung kemih dan relaksasi spinter interhus dihantarkan melalui serabut-
serabut saraf para simpatis. Kontraksi spinter eksternus secara volunter ini
hanya mungkin bila saraf-saraf yang menangani kandung kemih uretra medula
spinalis dan otak masih utuh. Bila ada kerusakan pada saraf-saraf tersebut
maka terjadi inkontinensia urin (kencing keluar terus menerus tanpa disadari)
dan retensi urin (kencing tertahan). Persyaratan dan peredaran darah vesika
urinarius. Persyaratan diatur torako lumbar berfungsi untuk relaksasi lapisan
otot dan kontaksi spinter internal peritonium melapisi kandung kemih.
Peritonuim dapat digerakkan membuat lapisan dan menjadi lurus apabila
kandung kemih berisi penuh.
e. Pembuluh Darah
Arteri vesikalis superior berpangkal dari umbikalis bagian distal, vena
membentuk anyaman dibawah kandung kemih. Pembuluh Limfa berjalan
menuju duktus limfatikus sepanjang arteri umbilikalis
2. Fisiologi
Kandung kemih juga sering disebut buli-buli. Adapun fungsi dari kandung kemih
adalah:

7
a) Muara tempat akhir zat-zat sisa dari makanan yang kita makan yang tidak
diperlukan tubuh atau tidak diroabsorsi tubuh.
b) Tempat penampungan atau menyimpan air kemih yang akan dikeluarkan
melalui uretra
Ginjal juga merupakan salah satu salah satu organ tubuh yang sangat penting
berfungsi sebagai:
a) Memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun.
b) Mempertahankan suasana keseimbangan cairan.
c) Mempertahankan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh.
d) Mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh.
e) Mengeluarkan sisa-sisa metabilosme hasil akhir dari protein ureum, kreatinin,
amoniak.

C. Klasifikasi
Batu buli atau batu kandung kemih dalam bahasa kedokteran disebut
vesicolithiasis. Batu kandung kencing digolongkan menjadi 3 macam.

1. Batu sekunder

Dikatakan batu sekunder jika batu di kandung kencing oleh karena suatu
proses yang dapat diketahui atau diterangkan dengan jelas sebab musababnya.
Contohnya batu saluran kencing karena gangguan aliran kencing karena
pembesaran prostat, penyempitan saluran (striktur uretra). Kencing yang lama
tidak mengalir akan mengendap. Jika endapan ini berlanjut maka terbentuklah
batu kandung kencing. Contoh lainnya: batu kandung kencing karena
pembuangan garam kalsium berlebih seperti pada kelainan kelenjar tiroid.
Pada pasien dengan kadar asam urat yang tinggi sering didapatkan kadar asam
urat yang tinggi pula dalam kencingnya. Jika komponen pembentuk batu
banyak di air kencing maka kemungkinan untuk menjadi batu akan besar.

8
Hal yang mungkin dikeluhkan pada pasien ini antara lain: kencing yang
tersendat, pancaran kencing melemah, sering bangun malam untuk kencing,
pancaran kencin yang terbelah, pancaran kencing yang kecil. Ataupun tanda
penyakit asam urat seperti jika makan jeroan jempol kaki bengkak, sendi
badan sakit. Gondok yang membesar, dengan tangan yang gemetaran.
Riwayat infeksi saluran kencing.

2. Batu migrans/migrating stone

Dikatakan migrating stone jika sebetulnya batu berasal dari ginjal (tepatnya di
tubulus colectivus renalis) dan turun mengikuti aliran kencing. Setelah di
kandung kencing batu tersebut membesar oleh karena banyak zat pembentuk
batu dari kencing yang ikut menempel.

Keluhan yang sering dikatakan pasien ini antara lain pernah merasa nyeri
pinggang atau punggung yang tidak jelas/tidak terlalu nyeri, nyeri pinggang
sangat tajam/menusuk yang kadang menyebar ke perut dan paha.

3. Batu primer

Dikatakan batu primer jika tidak dapat diklasifikasikan dalam kedua


kelompok diatas.

Pada pasien batu kandung kencing menimbulkan beberapa gejala yang khas.

a. Rasa nyeri di akhir kencing yang kadang diikuti keluarnya darah.


b. Rasa nyeri di ujung penis.
c. Intermitensi, yaitu kencing— berhenti— kencing lagi. Hal ini karena saat
kandung kencing mengosongkan kencing, batu saluran kencing ikut
hanyut dan menutup lubang kencing bagian dalam (orificium uretra
internum). Saat kencing berhenti, batu terlepas lagi sehingga kencing

9
dapat mengalir lagi. Hal ini terjadi jika batu masih kecil. Jika batu sudah
besar mala tidak dapat terjadi.
d. Kencing tiba-tiba terhenti/tidak dapat kencing yang sebelumnya dapat
kencing lancar tanpa keluhan. Hal ini karena batu kandung kencing
menyumbat dan tidak terlepas lagi.
e. Dalam buku text mungkin tertulis kencing terhenti dan mengalir lagi jika
berubah posisi. Hal ini sulit untul dibawa ke penjelasan klinis, karena kita
biasanya tidak berubah posisi jika kencing, maksudnya tetap saja berdiri
atau jongkok. Mungkin tidak pernah ada yang melakukan saat kencing
terhenti terus nungging agar mengalir lagi. Meskipun demikian pernyataan
ini tetap kita hormati.
f. Pada anak kecil yang belum dapat berkomunikasi dengan baik atau pada
retardasi mental pasien sering menarik penis. Bahkan pernah dijumpai
pasien retardasi datang dengan patahnya penis (rupture penis) dan saat
dilakukan pemeriksaan lanjut ditemukan adanya batu kandung kencing.

D. Etiologi
1. Obstruksi kelenjar prostat yang membesar
2. Striktur uretra (penyempitan lumen dari uretra)
3. Neurogenik bladder (lumpuh kandung kemih karena lesi pada neuron yang
menginervasi bladder)
4. Benda asing , misalnya kateter
5. Divertikula,urin dapat tertampung pada suatu kantung di dinding vesika
urinaria
6. Shistomiasis, terutama oleh Shistoma haemotobium, lesi mengarah keganasan

10
Hal-hal yang disebutkan di atas dapat menimbulkan retensi urin, infeksi,
maupun radang.
Menurut Smeltzer (2005) bahwa, batu kandung kemih disebabkan infeksi,
statis urin dan periode imobilitas (drainage renal yang lambat dan perubahan
metabolisme kalsium).
Faktor- faktor yang mempengaruhi menurut batu kandung kemih
(Vesikolitiasis) adalah :
a. Hiperkalsiuria
Suatu peningkatan kadar kalsium dalam urin, disebabkan karena
hiperkalsiuria idiopatik (meliputi hiperkalsiuria disebabkan masukan
tinggi natrium, kalsium dan protein), hiperparatiroidisme primer,
sarkoidosis, dan kelebihan vitamin D atau kelebihan kalsium.
b. Hipositraturia
Suatu penurunan ekskresi inhibitor pembentukan kristal dalam air kemih,
khususnya sitrat, disebabkan idiopatik, asidosis tubulus ginjal tipe I
(lengkap atau tidak lengkap), minum Asetazolamid, dan diare dan
masukan protein tinggi.
c. Hiperurikosuria
Peningkatan kadar asam urat dalam air kemih yang dapat memacu
pembentukan batu kalsium karena masukan diet purin yang berlebih.
d. Penurunan jumlah air kemih
Dikarenakan masukan cairan yang sedikit.
e. Jenis cairan yang diminum
Minuman yang banyak mengandung soda seperti soft drink, jus apel dan
jus anggur.
f. Hiperoksalouria
Kenaikan ekskresi oksalat diatas normal (45 mg/hari), kejadian ini
disebabkan oleh diet rendah kalsium, peningkatan absorbsi kalsium

11
intestinal, dan penyakit usus kecil atau akibat reseksi pembedahan yang
mengganggu absorbsi garam empedu.
g. Ginjal Spongiosa Medula
Disebabkan karena volume air kemih sedikit, batu kalsium idiopatik
(tidak dijumpai predisposisi metabolik).
h. Batu Asan Urat
Batu asam urat banyak disebabkan karena pH air kemih rendah, dan
hiperurikosuria (primer dan sekunder).
i. Batu Struvit
Batu struvit disebabkan karena adanya infeksi saluran kemih dengan
organisme yang memproduksi urease.
Kandungan batu kemih kebayakan terdiri dari :
1) 75 % kalsium.
2) 15 % batu tripe/batu struvit (Magnesium Amonium Fosfat).
3) 6 % batu asam urat.
4) 1-2 % sistin (cystine).

E. Epidemiologi
Pada studi oleh Curhan et al 2007, menunjukkan insiden 300 per 100.000
populasi pria, dan 100 per 100.000 populasi wanita. Di negara yang sedang
berkembang, insidensi batu saluran kemih relatif rendah, baik dari batu saluran
kemih bagian bawah maupun batu salurankemih bagian atas. Di negara yang telah
berkembang, terdapat banyak batu saluran kemih bagian atas, terutama di
kalangan orang dewasa. Pada suku bangsa tertentu, penyakit batu saluran kemih
sangat jarang, misalnya suku bangsa di Afrika Selatan.

Satu dari 20 orang menderita batu ginjal. Pria:wanita 3:1. Puncak kejadian
di usia 30-60 tahun atau 20-49 tahun. Prevalensi di USA sekitar 12%untuk pria
dan 7% untuk wanita.

12
F. Patofisiologi
Batu saluran kemih merupakan hasil dari beberapa gangguan
metabolisme, meskipun belum diketahui secara pasti mekanismenya . namun
beberapa teori menyebutkan diantaranya teori inti matriks, teori supersaturasi,
teori presipitasi-kristalisasi, teori berkurangnya factor penghambat. Setiap orang
mensekresi kristal lewat urin setiap waktu, namun hanya kurang dari 10 % yang
membentuk batu. Supersaturasi filtrate di duga sebagai factor utama terbentuknya
batu, sedangkan factor lain yang dapat membantu yaitu keasaman dan kebasaan
batu, stasis urin, konsentrasi urin, substansi lain dalam urin ( seperti :
pyrophospat, sitrat, dll). Sedangkan materi batunya sendiri biasa terbentuk dari
kalsium, phosphate, oksalat, asam urat, struvit dan kristal sistin. Batu kalsium
banyak di jumpai, yaitu kurang lebih 70-80 % dari seluruh batu saluran kemih,
kandungan batu jenis ini terdiri atas kalsium oksalat, kalsium fosfat atau
campuran dari kedua unsur itu. Batu asam urat merupakan 5-10 % dari seluruh
batu saluran kemih yang merupakan hasil metabolisme purin. Batu struvit disebut
juga batu infeksi karena terbentuknya batu ini disebabkan oleh adanya infeksi
saluran kemih, kuman penyebab infeksi ini adalah kuman golongan pemecah urea
atau ” urea splitter”, yang dapat menghasilkan enzim urease dan merubah urine
menjadi basa. Batu struvit biasanya mengandung magnesium, amonium dan
sulfat. Batu sistin masih sangat jarang ditemui di Indonesia, berasal dari kristal
sistin akibat adanya defek tubular renal yang herediter. Apabila karena suatu
sebab, partikel pembentuk batu meningkat maka kondisi ini akan memudahkan
terjadinya supersaturasi, sebagai contoh pada seseorang yang mengalami
immobilisasi yang lama maka akan terjadi perpindahan kalsium dari tulang,
akibatnya kadar kalsium serum akan meningkat sehingga meningkar pula yang
harus di keluarkan melalui urin. Dari sini apabila intake cairan tidak adekuat atau
seseorang mengalami dehidrasi, maka supersaturasi akan terjadi dan
kemungkinan terjadinya batu kalsium sangat besar. Ph urin juga sangat membantu
terjadinya batu atau sebaliknya, batu asam urat dan sistin cenderung terbentuk

13
pada suasana urine yang bersifat asam, sedangkan batu struvit dan kalsium fosfat
dapat terbentuk pada suasana urin basa, adapun batu kalsium oksalat tidak di
pengaruhi oleh pH urine.

Karena batu menghalangi saluran kemih maka akan terjadi obstruksi


sehingga aliran yang mula-mula lancar secara tiba-tiba akan terhenti dan menetes
disertai dengan rasa nyeri. Obstruksi yang tidak teratasi akan menyebabkan urin
stasis yang menjadi predisposisi terjadinya infeksi. Adanya obstrusi dan infeksi
akan menimbulkan nyeri koliks, nyeri tumpul (dull pain), mual, muntah. Mual
dan muntah seringkali menyertai obstruksi ureter akut disebabkan oleh reaksi
reflek terhadap nyeri dan biasanya dapat diredakan setelah nyeri mereda.

14
Pathway Faktor penyebab : Idiopatik, Gangguan
aliran urin, Gangguan metabolik, Infeksi
saluran kemih, Dehidrasi

Batu kandung kemih

Penatalaksanaan : Obstruksi
pembedahan DP : Nyeri akut,
kerusakan
eliminasi urin

DP Pre op : Urin stasis

Cemas, kurang
pengetahuan
DP : Resiko
Infeksi
infeksi
DP Post op :

Nyeri, PK :
perdarahan, Resiko
infeksi

G. Manifestasi Klinis
Menurut Smeltzer (2002:1461), Batu yang terjebak di kandung kemih
biasanya menyebabkan iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus urinarius
dan hematuria, jika terjadi obstruksi pada leher kandung kemih menyebabkan
retensi urin atau bisa menyebabkan sepsis, kondisi ini lebih serius yang dapat
mengancam kehidupan pasien, dapat pula kita lihat tanda seperti mual muntah,
gelisah, nyeri dan perut kembung.

15
Batu yang terjebak dikandung kemih menyebabkan gelombang nyeri luar
biasa, akut dan kolik yang menyebar kepala obdomen dan genitalia. Klien sering
merasa ingin kemih, namun hanya sedikit urin yang keluar, dan biasanya
mengandung darah akibat aksi abrasi batu gejala ini disebabkan kolik ureter.

Berikut beberapa gejala umum yang sering terjadi pada penderita batu ginjal :

a. Nyeri
Gejala utama dari penyakit batu ginjal adalah nyeri yang parah, terutama di
punggung atau pinggang. Hal ini terjadi karena saluran kemih mengalami
kekejangan akibat batu menyumbat saluran tersebut. Biasanya penderita akan
mulai kram dan berlanjut hingga merasakan nyeri yang sangat parah.

b. Mual dan Muntah


Nyeri sangat parah akibat batu ginja bisa menyebabkan rasa mual bahkan
muntah.

c. Darah pada Urin


Terkadang kristal batu ginjal merusak saluran kemih saat melewatinya,
sehingga darah mungkin ikut keluar bersama dengan urin.

d. Sering Berkemih
Saluran kemih yang teriritasi membuat penderita merasa ingin berkemih lebih
sering.

e. Demam dan Menggigil


Iritasi saluran kemih akibat batu ginjal dapat menimbulkan infeksi. Jika
kondisi ini terjadi, maka penderita akan mengalami demam dan menggigil
karena kedinginan akibat demam.

16
H. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang di lakukan di laboratorium yang meliputi pemeriksaan :

1. urine
a. PH lebih dari 7,6 biasanya ditemukan kuman area splitting, organism dapat
berbentuk batu magnesium ammonium phospat, PH yang rendah
menyebabkan pengendapan batu asam urat.
b. Sedimen = sel darah meningkat (90%), ditemukan pada penderita dengan
batu, bila terjadi infeksi makasel darah putih akan meningkat.
c. Biakan urine = untuk mengetahui adanya bakteri yang berkonstribusi dalam
proses pembentukan batu saluran kemih.
d. Ekskresi kalsium, fosfat, asam urat dalam 24 jam untuk melihat apakah
terjadi hiperekskresi.
2. Darah
a. Hb akan terjadi anemia pada gangguan fungsi ginjal kronis.
b. Leukosit terjadi karena infeksi.
c. Ureum kreatinin untuk melihat fungsi ginjal.
d. Kalsium,fosfat, dan asam urat.

3. Radiologi
a. foto BNO/IVP untuk melihat posisi batu, besar batu, apakah terjadi
bendungan atau tidak.
b. Pada gangguan fungsi ginjal maka IVP tidak dapat dilakukan, pada keadaan
ini dapat dilakukan retrogad prelografi atau dilanjutkan antegrad prelografi
tidak memberikan informasi yang memadai.

17
I. Penatalaksanaan
1. Tindakan untuk batu kandung kemih adalah dengan memecahkan batu
secara litotripsi ataupun jika terlalu besar memerlukan pembedahan terbuka
(vesikolotomi).
2. Pengobatan medis yang efektif berpotensi hanya untuk penghancuran batu
asam urat. Kalium sitrat (Polycitra K, Urocit K) 60 mEq/d adalah
pengobatan pilihan. Intervensi bedah. Saat, ini terdapat tiga pendekatan
bedah berbeda yang digunakan untuk mengatasi batu kandung kemih tidak
seperti pentalaksanaan pada klien dengan batu ureter atau batu ginjal,
intervensi ESWL pada batu kandung kemih menunjukan dampak terapi
yang rendah, tetapi pada beberapa studi menunjukan bahwa intervensi
ESWL masih dipertimbangkan untuk pengobatan batu kendung kemih
(Muttaqin dan Sari 2011: 205-206).
a. Cystolitholapaxy Transurethral
Setelah alat sitoskop masuk dan memvisualisasikan batu, sumber
energi yang digunakan untuk menghancurkan batu menjadi
serpihan fragmen yang kemudian secara mudah dikeluarkan dengan
alat sitoskopi. Sumber energi mekanik, ultrasonik, elektrohidrolik
(sparkinduced pressure wave), lithotrite manual, dan laser. Dengan
menggunakan jenis panjang gelombang cahaya tertentu (misalnya
holmium), maka dapat menghancurkan batu (Muttaqin dan Sari
2011: 205-206).
b. Cystolitholapaxy Suprapubik Perkutan
Rute perkutan memungkinkan penggunaan lebih pendek dan
diameter yang lebih besar peralatan endoskopik (biasanya dengan
lithotripter ultrasonik), yang memungkinkan fragmentasi cepat dan
evakuasi batu.
Sering kali, pendekatan transurethral dan perkutan digabungkan
untuk membantu stabilisasi batu untuk memfasilitasi irigasi puing-

18
puing batu. Para penulis mendukung pendekatan dikombinasikan
dengan penggunaan lithotripter ultrasonik atau lithoclast pneumatic.
Holmium laser juga efektif, tetapi umunya lebih lambat, bahkan
dengan serat-mikron (Muttaqin dan Sari 2011: 205-206).
c. Cystolitholapaxy Suprapubik Terbuka
Cystolitholapaxy Suprapubik Terbuka, digunakan untuk
menghilangkan batu. Kelebihan cystolothotomy suprapubik
termasuk kecepatan, penghapusan beberapa batu pada satu waktu,
penghapusan kalkuli terhadap mukosa kandung kemih, dan
kemampuan untuk menghilangkan batu besar yang terlalu keras
atau padat. Untuk menghilangkan fragmen secepatnya dapat
digunakan teknih transurethral atau perkutan. Kelemahan utama
termasuk nyeri pascaoperasi, tinggal di rumah sakit lebih lama, dan
waktu lebih lama untuk katetrisasi kandung kemih (Muttaqin dan
Sari 2011: 205-206).
3. Pada dasarnya penatalaksaan secara farmakologis meliputi dua aspek:
a. Menghilangkan rasa nyeri/kolik yang timbul akibat adanya batu.
b. Menangani batu yang terbentuk, yaitu dengan meluruhkan batu dan
juga mencegah terbentuknya batu lebih lanjut (atau dapat juga
sebagai pencegahan/prolifilaksis) (Haryono 2013: 63).

Panduan khusus dalam menatalaksana batu saluran kemih:

a. Pasien dengan dehidrasi harus tetap mendapat asupan cairan yang


adekuat.
b. Tatalaksana untuk kolik ureter adalah analgesik, yang dapat
dicapai dengan pemberian opioid (morfin sulfat) atau NSAID/obat
antiinflamasi nonsteroid (ketorolak) dan obat antimuntah
(metoklopramid). Jika klien dapat mengonsumsi obat secara

19
peroral maka dapat diberikan kombinasi dari ketiganya (narkotik,
NSAID, antimuntah).
c. Pada klien dengan kemungkinan pengeluaran batu secara spontan,
dapat diberikan regimen MET (medical expulsive therapy).
Regimen ini meliputi kortikosteroid (prednisone),calcium channel
blocker (nifedipin) untuk relaksasi otot polos uretra dan alpha
blocker(terazosin) atau alpha-1 selective blocker (tamsulin) yang
juga bermanfaat merelaksasikan otot polos uretra dan saluran
urinari bagian bawah. Dengan demikian, batu dapat keluar dengan
mudah (85% batu yang berukuran kurang dari 3mm dapat keluar
spontan).
d. Pemberian analgesik yang dikombinasikan dengan MET dapat
mempermudah pengeluaran batu, mengurangi nyeri serta
memperkecil kemungkinan operasi. Contoh regimen yang biasa
digunakan adalah sebagai berikut:
1) 2 tablet opioid oral/asetaminofen setiap 4 jam.
2) 600-800 mg ibuprofen setiap 8 jam.
3) 30 mg nifedipin (1x1 hari).
4) 0.4mg tamsulosin (1x1 hari) atau 4 mg terazosin (1x1
hari).

Pemberian regimen ini hanya dibatasi selama 10-14 hari. Apabila


terapi ini gagal (batu tidak keluar) maka klien harus
dikonsultasikan lebih lanjut pada urologis (Haryono, 2013: 63).

4. Pembedahan dilakukan untuk mengeluarkan batu yang tidak mungkin


diharapkan keluar spontan, dilakukan bila fungsi ginjal masih baik. Bila
fungsi ginjal buruk, dilakukan nefrektomi. Batu buli-buli besar dapat
dipecahkan dengan litotripsi. Bila batu lebih besar dari 4cm, biasanya
dilakukan vesikolitotomi (seksio alta) (Mansjoer,dkk, 2007: 490).

20
J. Komplikasi
Komplikasi menurut Haryono (2013: 61) adalah jika keberadaan batu
dibiarkan maka dapat menjadi sarang kuman yang bisa menimbulkan infeksi
saluran kemih, pielonefritis, yang akhirnya merusak ginjal, kemudian timbul
gagal ginjal dengan segala akibat terparahnya.
Komplikasi menurut Mansjoer,dkk (2007: 490) adalah:
a. Hidronefrosis.
b. Pionefrosis.
c. Uremia.
d. Gagal ginjal.

K. Prognosis
Batu kandung kemih sering menimbulkan gejala rasa sakit yang hebat, tapi
biasanya setelah dikeluarkan tidak menimbulkan kerusakan permanen. Memang
sering terjadi kambuh lagi, terutama bila tidak didapatkan penyebabnya dan
diobati. Prognosis tergantung dari faktor-faktor ukuran batu, letak batu, dan
adanya infeksi serta obstruksi. Makin besar ukuran suatu batu makin buruk
prognosisnya, letak batu yang dapat menyebabkan obstruksi dapat
mempermudah terjadinya infeksi (Sumardi, 2013).

L. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan dasar utama proses perawatan yang akan
membantu dalam penentuan status kesehatan dan pola pertahanan klien,
mengidentifikasi kekuatan dan kebutuhan klien serta merumuskan diagnosa
keperawatan.

a. Identitas klien
Meliputi nama lengkap, tempat tinggal, umur tempat tinggal dll.

21
b. Data medik
Dikirim oleh siapa dan didiagnosa medik saat masuk maupun
pengkajian.

c. Keluhan utama
Frekuensi berkemih yang meningkat, urine yang masih menetes
setelah berkemih, merasa tidak puas karena setelah berkemih, sering
berkemih pada malam hari, penurunan kekuatan, dan ukuran pancaran
urine, mengedan saat berkemih, tidak dapat berkemih sama sekali,
hematuria, nyeri pinggang, peningkatan suhu tubuh disertai
menggigil, penurunan fungsi seksual, keluhan gastrointestinal, seperti
nafsu makan menurun, mual, muntah dan konstipasi.

d. Aktifitas / istirahat
Gejala : keterbatasan beraktifitas/ mobilitas.
e. Sirkulasi
Tanda : tekanan darah dalam batas normal, kulit hangat dan kemerahan.
f. Eliminasi
Gejala : obstruksi sebelumnya, penurunan haluan urine, kandung kemih
penuh.

g. Makana dan cairan


Gejala : diet tinggi purin, kalsium oksalat atau fosfat ketidak cukupan
pemasukan cairan.
h. Nyeri / ketidak nyamanan
Gejala : nyeri akut saat eliminasi menyebar di vesika urinaria.
Tanda : nyeri tekan pada area ginjal saat palpasi.

i. Keamanan
Gejala : penggunaan alkohol , demam , menggigil.

22
j. Penyuluhan
Gejala : riwayat kalkulus dalam keluarga, penyakit ginjal, riwayat penyakit
halus, hiperparatiroidisme. Pemasukan berlebihan kalsium atau vitamin.
k. Pemeriksaan fisik
Apakah bledder terasa penuh, pada abdomen adakah nyeri tekan pada
pinggang.
l. Pemeriksaan penunjang
Hematuria ( bila terjadi obstruksi yang lama ) Lab, pemeriksaan pielografi
intravena, pemeriksaan ultrasonografi.

2. Diagnosis Keperawatan

Pra operasi

a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan robekan pada vesika


urinaria
b. Perubahan eliminasi (BAK) retensio urine berhubungan dengan adanya
penutupan saluran kemih oleh batu dan adanya obstruksi mekanik
peradangan.
c. Anxietas berhubungan dengan koping individu yang infektif mengenai
penyakit
Post operasi

a. Gangguan rasa nyeri berhubungan dengan terputusnya kontiunitas


jaringan, inflamasi
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek medikasi,
pembedahan.
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan terputus nya jaringan, dampak
dari insisi pembedahan.

23
d. Anxietas berhubungan dengan koping individu yang infektif mengenai
penyakit.

3. Rencana Keperawatan
No Diagnosis Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Keperawatan

1 Gangguan rasa Setelah dilakukan 1. Kaji nyeri, lokasi 1.Membantu


nyaman nyeri tindakan dan karakteristi, mengevaluasi
berhubungan keperawatan intensitas (skala 0- lokasi nyeri,
dengan selama 3 x 24 jam. 10). dan obstruksi dan
robekan pada Nyeri teratasi. perhatikan tanda- pergerakan batu.
vesika urinaria tanda peningkatan 2.Mengetahui
Kriteria :
. tekanan darah, pengetahuan klien
Melaporkan nadi, tidak bisa dengan penyebab
keluhan nyeri dapat beristirahat, nyeri dapat
berkurang, klien gelisah dan rasa membantu
nampak tenang dan nyeri yang meningkatkan
tidak meningkat, meningkat. koping klien dan
klien dapat tidur 2. Jelaskan penyebab dapat menurunkan
dengan tenang. nyeri dan kecemasan.
pentingnya 3.Meningkatkan
mengidentifikasi relaksi,
perubahan mengurangi
terjadinya ketegangan otot,
karakteristik dan meningkatkan
nyeri. koping.
3. Berikan tindakan 4.Mengalirkan
untuk perhatian sebagai

24
kenyamanan upaya dalam
seperti mebatasi merelaksasi otot.
pengunjung, 5. Meningkatkan
lingkungan yang intake cairan
tenang. minimal 3-4
4. Anjurkan teknik liter/hari sesuai
napas dalam toleransi jantung.
sebagai upaya Mencegah urine
dalam merelaksasi statis dan
otot. mencegah
pembentukan
batu.
5. Anjurkan/ bantu
6. Menurunkan kolik
klien melakukan
dan meningkatkan
ambulasi secara
relaksasi otot/
teratur sesuai
mental.
dengan indikasi.
6. Kolaborasi :
narkotik
misalnya:(demerol
) morphin
biasanya diberikan
pada fase akut .
2 Perubahan Tujuan : perubahan 1. Anjurkan klien 1.Memberikan info
eliminasi pola eliminasi untuk tentang fungsi
(BAK) BAK meningkatkan ginjal dan adanya
retensio urine intake cairan komplikasi seperti
Kriteria:Retensio
berhubungan (minimal 3-4 liter/ infeksi dan
urin teratasi setelah
dengan adanya hari sesuai dengan perdarahan dapat

25
penutupan dilakukan tindakan toleransi jantung. mengidentifikasi
saluran kemih keperawatan 2. Tampung urine 24 peningkatan
oleh batu dan selama 2 x 24 jam. jam catat jika ada obstruksi atau
adanya batu yang ikut iritasi ureter.
obstruksi keluar dan kirim 2.Meningkatkan
mekanik kelaboratorium hidrasi dapat
peradangan. untuk dianalisa. mengeluarkan
3. Observasi bakteri darah dan
perubahan warna, dapat
bau, PH urine memfasilitasi
setiap 2 jam. pengeluaran batu.
4. Kolaborasi dalam 3. Dapat membantu
memonitor dalam
pemeriksaan mengidentifikasi
laboratorium tipe batu dan akan
seperti elektrolit membantu pilihan
BUN (Blood Urea terapi.
Nitrogen), keratin. 4. Mengetahui
peningkatan BUN,
Kreatinin, dan
elektrolit-
elektrolit tertentu
menindikasikan
adanya disfungsi
ginjal.
3 Resiko tinggi Tujuan : infeksi 1.Observasi tanda- 1. Dapat diketahui
infeksi tidak terjadi tanda secara dini tanda-
berhubungan setelahdilakukan Infeksi pada luka tanda infeksi pada

26
dengan tindakan post operasi. luka operasi
terputus nya keperawatan secara edema,
2. Monitor tanda-
jaringan, selama 3 x 24 kemerahan, nyeri,
tanda vital, catat
dampak dari jam . yang bertambah
serangan panas,
insisi berat/ terdapat pus
Kriteria : perubahan
pembedahan. pada luka tersebut.
kesadaran, atau
Tidak ada tanda- 2. Merupakan tanda-
keluhan
tanda infeksi tanda adanya
meningkatnya
luka. peradangan/ sepsis
nyeri yang hebat.
yang berkembang.
3. Berikan informasi
3. Untuk dapat
kelancaran drain,
mengetahui
hitung output dan
adanya infeksi
warna cairan.
pada luka operasi
4. Berikan informasi
ada atau tidak.
tentang hal-hal
4. Meningkatkan
yang
pengetahuan klien
mempengaruhi
tentang hal-hal
daya tahan tubuh .
yang
5. Kolaborasi
mempengaruhi
dengan tim medis
daya tahan tubuh
untuk pemberian
diharapka klien
obat yang sesuai.
dapat operatif
dengan tindakan
keperawatan yang
akan dilakukan.
5. Untuk dapat
memberikan

27
propilaksis/menur
unkan jumlah
organisme untuk
menurunkan
membrane lebih
lanjut.

4. Implementasi
Implementasi adalah suatu proses atau pengelolahan dan perwujudan dari
rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan yang secara
langsung atau tidak langsung yang diberikan untuk pasien. Setiadi (2012).

5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan dengan cara
melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai
atau tidak. Hidayat A. Aziz Alimul (2007). Dimana tahap penilaian atau evaluasi
perbandingan yang sistematis dan terencanaan tentang kesehatan klien dengan
tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara bersinambungan dengan
melibatkan klien, keluarga, dan tenaga kesehatan. Setiadi (2012).

M. Legal Etik
Kode etik adalah norma yang harus diindahkan oleh setiap profesi dalam
melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidup dimasyarakat.
Prinsip-prinsip etik:

28
1. Otonimi adalah setiap orang berhak untk melakukan atau memutuskan apa
yang dikehendaki
2. Non maleficient adalah dalam setiap tindakan jangan sampai merugikan orang
lain
3. Beneficient adalah kewajiban berbuat baik
4. Prinsip keadilan menjelaskan bahwa dalam alokasi sumber daya sedapat
mungkin harus diusahakan agar sampai rata pembagiannya
Hak dan kewajiban
1. Hak adalah kekuasaan atau kewenangan yang dimiliki seseorang untuk
mendapatkan atau memutuskan berbuat sesuatu
2. Kewajiban adalah sesuatu yang harus dilakukan seseorang.

29
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Vesikolitiasis adalah penyumbatan saluran kemih khususnya pada vesika


urinaria atau kandung kemih oleh batu penyakit ini juga disebut batu kandung
kemih. Batu kandung kemih disebabkan infeksi, statis urin dan periode imobilitas
(drainage renal yang lambat dan perubahan metabolisme kalsium). Pembedahan
dilakukan untuk mengeluarkan batu yang tidak mungkin diharapkan keluar
spontan, dilakukan bila fungsi ginjal masih baik. Bila fungsi ginjal buruk,
dilakukan nefrektomi. Batu buli-buli besar dapat dipecahkan dengan litotripsi.
Bila batu lebih besar dari 4cm, biasanya dilakukan vesikolitotomi. Prognosis
tergantung dari faktor-faktor ukuran batu, letak batu, dan adanya infeksi serta
obstruksi. Makin besar ukuran suatu batu makin buruk prognosisnya, letak batu
yang dapat menyebabkan obstruksi dapat mempermudah terjadinya infeksi.

30
DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth’s . 2007. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. (Edisi
kedelapan). Jakarta : EGC.
Gebhart, J.B. (2010). Urologic Surgery for the Gynecologist and Urogynecologist.
Jakarta: Saunders.
Haryono, R. (2013). Keperawatan Medikal Bedah: Sistem Perkemihan. Edisi 1.
Yogyakarta: Rapha Publishing.
Hidayat, A.A.A (2008). Pengantar Konsep Keperawatan. Edisi 2. Jakarta: Salemba
Musika.
Judith M. Wilkinson. dan Nancy R. Ahern. (2012). Buku Saku Diagnosis
Keperawatan. Edisi 9. Jakarta: EGC.
Mansjoer, A., Suprohaita., Wardhabi, W.A., & Setiowulan, W. (2007). Kapita Selekta
Kedokteran. Edisi 3. Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapis.
Muttaqin, A. (2008). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika.
Muttaqin, A. & Sari, K. (2011). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan.
Jakarta: Salemba Medika.
Nurarif, A. H. dan Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan berdasarkan
diagnosa medis & Nanda NIC-NOC. Edisi Revisi Jilid 2. Jogjakarta:
Mediaction Jogjakarta.
Nursalam. (2008). Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem
Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika.
Priharjo, R. (2006). Pemeriksaan Fisik Keperawatan. Jakarta: EGC.
Purnomo, B.B. (2012). Dasar-dasar Urologi. Edisi ketiga. Malang: CV Sagung Seto.
Safitri, A. Eds. (2015). At a Glance Medicine. Jakarta: Erlangga.
Sukandar, Y. E., Andrajati, R., Sigit, I. J., Adnyana, K. I., Setiadi, P. A., Kusnandar.
(2008). Iso Farmakoterapi. Jakarta: PT. ISFI Penerbitan.
Taylor, C. M. dan Ralph, S. S. (2012). Diagnosa Keperawatan dengan Rencana
Asuhan. Edisi 10. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

31