Anda di halaman 1dari 6

E.

Epidemiologi
Pada studi oleh Curhan et al 2007, menunjukkan insiden 300 per 100.000

populasi pria, dan 100 per 100.000 populasi wanita. Di negara yang sedang

berkembang, insidensi batu saluran kemih relatif rendah, baik dari batu saluran

kemih bagian bawah maupun batu salurankemih bagian atas. Di negara yang telah

berkembang, terdapat banyak batu saluran kemih bagian atas, terutama di

kalangan orang dewasa. Pada suku bangsa tertentu, penyakit batu saluran kemih

sangat jarang, misalnya suku bangsa di Afrika Selatan.

Satu dari 20 orang menderita batu ginjal. Pria:wanita 3:1. Puncak kejadian

di usia 30-60 tahun atau 20-49 tahun. Prevalensi di USA sekitar 12%untuk pria

dan 7% untuk wanita

F. Patofisiologi

Batu saluran kemih merupakan hasil dari beberapa gangguan

metabolisme, meskipun belum diketahui secara pasti mekanismenya . namun

beberapa teori menyebutkan diantaranya teori inti matriks, teori supersaturasi,

teori presipitasi-kristalisasi, teori berkurangnya factor penghambat. Setiap orang

mensekresi kristal lewat urin setiap waktu, namun hanya kurang dari 10 % yang

membentuk batu. Supersaturasi filtrate di duga sebagai factor utama terbentuknya

batu, sedangkan factor lain yang dapat membantu yaitu keasaman dan kebasaan

batu, stasis urin, konsentrasi urin, substansi lain dalam urin ( seperti :

pyrophospat, sitrat, dll). Sedangkan materi batunya sendiri biasa terbentuk dari
kalsium, phosphate, oksalat, asam urat, struvit dan kristal sistin. Batu kalsium

banyak di jumpai, yaitu kurang lebih 70-80 % dari seluruh batu saluran kemih,

kandungan batu jenis ini terdiri atas kalsium oksalat, kalsium fosfat atau

campuran dari kedua unsur itu. Batu asam urat merupakan 5-10 % dari seluruh

batu saluran kemih yang merupakan hasil metabolisme purin. Batu struvit disebut

juga batu infeksi karena terbentuknya batu ini disebabkan oleh adanya infeksi

saluran kemih, kuman penyebab infeksi ini adalah kuman golongan pemecah urea

atau ” urea splitter”, yang dapat menghasilkan enzim urease dan merubah urine

menjadi basa. Batu struvit biasanya mengandung magnesium, amonium dan

sulfat. Batu sistin masih sangat jarang ditemui di Indonesia, berasal dari kristal

sistin akibat adanya defek tubular renal yang herediter. Apabila karena suatu

sebab, partikel pembentuk batu meningkat maka kondisi ini akan memudahkan

terjadinya supersaturasi, sebagai contoh pada seseorang yang mengalami

immobilisasi yang lama maka akan terjadi perpindahan kalsium dari tulang,

akibatnya kadar kalsium serum akan meningkat sehingga meningkar pula yang

harus di keluarkan melalui urin. Dari sini apabila intake cairan tidak adekuat atau

seseorang mengalami dehidrasi, maka supersaturasi akan terjadi dan

kemungkinan terjadinya batu kalsium sangat besar. Ph urin juga sangat membantu

terjadinya batu atau sebaliknya, batu asam urat dan sistin cenderung terbentuk

pada suasana urine yang bersifat asam, sedangkan batu struvit dan kalsium fosfat

dapat terbentuk pada suasana urin basa, adapun batu kalsium oksalat tidak di

pengaruhi oleh pH urine.


Karena batu menghalangi saluran kemih maka akan terjadi obstruksi

sehingga aliran yang mula-mula lancar secara tiba-tiba akan terhenti dan menetes

disertai dengan rasa nyeri. Obstruksi yang tidak teratasi akan menyebabkan urin

stasis yang menjadi predisposisi terjadinya infeksi. Adanya obstrusi dan infeksi

akan menimbulkan nyeri koliks, nyeri tumpul (dull pain), mual, muntah. Mual

dan muntah seringkali menyertai obstruksi ureter akut disebabkan oleh reaksi

reflek terhadap nyeri dan biasanya dapat diredakan setelah nyeri mereda.

Pathway Faktor penyebab : Idiopatik, Gangguan


aliran urin, Gangguan metabolik,
Infeksi saluran kemih, Dehidrasi

Batu kandung kemih

Penatalaksanaan Obstruksi
: pembedahan DP : Nyeri
akut, kerusakan
eliminasi urin

DP Pre op : Urin stasis


Cemas, kurang
pengetahuan

DP : Resiko
Infeksi
infeksi
DP Post op :
Nyeri, PK :
perdarahan, Resiko
infeksi
G. Manifestasi Klinis

Menurut Smeltzer (2002:1461), Batu yang terjebak di kandung kemih

biasanya menyebabkan iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus urinarius

dan hematuria, jika terjadi obstruksi pada leher kandung kemih menyebabkan

retensi urin atau bisa menyebabkan sepsis, kondisi ini lebih serius yang dapat

mengancam kehidupan pasien, dapat pula kita lihat tanda seperti mual muntah,

gelisah, nyeri dan perut kembung.

Batu yang terjebak dikandung kemih menyebabkan gelombang nyeri luar

biasa, akut dan kolik yang menyebar kepala obdomen dan genitalia. Klien sering

merasa ingin kemih, namun hanya sedikit urin yang keluar, dan biasanya

mengandung darah akibat aksi abrasi batu gejala ini disebabkan kolik ureter.

Berikut beberapa gejala umum yang sering terjadi pada penderita batu ginjal :

a. Nyeri

Gejala utama dari penyakit batu ginjal adalah nyeri yang parah, terutama di

punggung atau pinggang. Hal ini terjadi karena saluran kemih mengalami

kekejangan akibat batu menyumbat saluran tersebut. Biasanya penderita akan

mulai kram dan berlanjut hingga merasakan nyeri yang sangat parah.

b. Mual dan Muntah

Nyeri sangat parah akibat batu ginja bisa menyebabkan rasa mual bahkan

muntah.
c. Darah pada Urin

Terkadang kristal batu ginjal merusak saluran kemih saat melewatinya,

sehingga darah mungkin ikut keluar bersama dengan urin.

d. Sering Berkemih

Saluran kemih yang teriritasi membuat penderita merasa ingin berkemih lebih

sering.

e. Demam dan Menggigil

Iritasi saluran kemih akibat batu ginjal dapat menimbulkan infeksi. Jika

kondisi ini terjadi, maka penderita akan mengalami demam dan menggigil

karena kedinginan akibat demam.


H. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang di lakukan di laboratorium yang meliputi pemeriksaan :

1. urine
a. PH lebih dari 7,6 biasanya ditemukan kuman area splitting, organism dapat

berbentuk batu magnesium ammonium phospat, PH yang rendah

menyebabkan pengendapan batu asam urat.


b. Sedimen = sel darah meningkat (90%), ditemukan pada penderita dengan

batu, bila terjadi infeksi makasel darah putih akan meningkat.


c. Biakan urine = untuk mengetahui adanya bakteri yang berkonstribusi dalam

proses pembentukan batu saluran kemih.


d. Ekskresi kalsium, fosfat, asam urat dalam 24 jam untuk melihat apakah

terjadi hiperekskresi.

2. Darah
a. Hb akan terjadi anemia pada gangguan fungsi ginjal kronis.
b. Leukosit terjadi karena infeksi.
c. Ureum kreatinin untuk melihat fungsi ginjal.
d. Kalsium,fosfat, dan asam urat.

3. Radiologi
a. foto BNO/IVP untuk melihat posisi batu, besar batu, apakah terjadi

bendungan atau tidak.


b. Pada gangguan fungsi ginjal maka IVP tidak dapat dilakukan, pada keadaan

ini dapat dilakukan retrogad prelografi atau dilanjutkan antegrad prelografi

tidak memberikan informasi yang memadai.