Anda di halaman 1dari 2

PERANAN KELOMPOK TANI DALAM KETAHANAN PANGAN

Dalam upaya meningkatkan pembangunan ketahanan pangan, peranan kelembagaan


kelompok tani di pedesaan sangat besar dalam mendukung dan melaksanakan berbagai
program yang sedang dan akan dilaksanakan, karena kelompok tani inilah pada dasarnya
pelaku utama pembangunan ketahanan pangan.Keberadaan kelembagaan kelompok tani
sangat penting diberdayakan karena potensinya sangat besar. Kelembagaan kelompok tani ini
sangat efektif sebagai sarana untuk kegiatan belajar, bekerja sama, dan pemupukan modal
kelompok dalam mengembangkan usahatani.
Pentingnya pemberdayaan kelompok tani tersebut sangat beralasan karena kalau kita
perhatikan keberadaan kelompok tani akhir-akhir ini ada kecenderungan perhatian pemerintah
daerah terhadap kelembagaan kelompok tani sangat kurang bahkan terkesan diabaikan
sehingga kelembagaan kelompok tani yang sebenarnya merupakan aset sangat berharga
dalam mendukung pembangunan ketahanan pangan belum berfungsi secara optimal seperti
yang diharapkan.
Mengingat semakin kompleks dan besarnya tantangan pembangunan ketahanan pangan
mendatang, terutama untuk mencapai kemandirian pangan, maka kelembagaan kelompok tani
yang tersebar di seluruh pelosok pedesaan perlu dibenahi dan diberdayakan, sehingga
mempunyai keberdayaan dalam melaksanakan usahataninya.
Untuk mencapai keberdayaan tersebut, program pemberdayaan kelompok tani yang dilakukan
harus dapat meningkatkan kemampuan kelompok tani dalam hal :
1. Memahami kekuatan (potensi) dan kelemahan kelompok;
2. Memperhitungkan peluang dan tantangan yang dihadapi, pada saat ini dan masa
mendatang;
3. Memilih berbagai alternatif yang ada untuk mengatasi masalah yang dihadapi, dan
4. Menyelenggarakan kehidupan berkelompok dan bermasyarakat yang serasi dengan
lingkungannya secara berkesinambungan.

Agar upaya memandirikan dan memberdayakan kelompok tani tersebut dapat dilaksanakan,
setidaknya ada empat langkah strategis yang harus dilakukan, yaitu :
1. Peningkatan sumber daya manusia (SDM) petani.
a. Upaya peningkatan SDM petani ini dapat dilakukan melalui proses pembelajaran seperti
bimbingan penyuluhan, pelatihan, kursus, sekolah lapang, pendampingan dan lainnya.
b. Materi dan cara penyampaiannya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi yang
dihadapi kelompok tani.
c. Mengingat peranan penyuluh pertanian sebagai "ujung tombak" dalam memberikan
penyuluhan kepada kelompok tani, maka keberadaan penyuluh pertanian termasuk Balai
Penyuluhan Pertanian (BPP) sebagai wadah pertemuan, uji coba dan lainnya perlu mendapat
perhatian serius dari pemerintah, sehingga para penyuluh pertanian ini dapat melaksanakan
penyuluhan secara profesional.
2. Kemudahan dalam akses sarana produksi pertanian.
a. Keberpihakan pemerintah dan pemangku kepentingan di bidang sarana produksi pertanian
ini sangat diharapkan kelompok tani.
b. Slogan enam tepat (tepat mutu, jumlah, jenis, harga, waktu dan tempat) dalam penyaluran
sarana produksi hendaknya benar-benar dapat dirasakan kelompok tani.
c. Untuk kelancaran produksi lembaga pelayanan kelompok tani yang ada di pedesaan seperti
PUAP, Lembaga Keuangan Mikro (LKM), koperasi tani, KUD, kios sarana produksi dan lainnya
perlu lebih diberdayakan dan mendapat perhatian pemerintah daerah.
3. Akses terhadap informasi.
a. Kelompok tani memerlukan informasi khususnya mengenai pembangunan ketahanan
pangan perlu disebarluaskan kepada petani, sehingga mereka dapat mengakses
informasi/berita yang sedang dan akan terjadi, khususnya yang berkaitan dengan
pembangunan pertanian. Misalnya tentang akan tibanya musim kemarau/hujan, gejala adanya
serangan hama dan penyakit pada tanaman, perkembangan harga gabah di pasaran dan
sebagainya.
b. Akses informasi ini dapat berpengaruh langsung terhadap usahatani yang akan dikerjakan,
diharapkan para petani dapat bekerja sama dengan aparat untuk mengantisipasi permasalahan
yang akan terjadi. Misalnya, ketika mengetahui harga gabah turun, para petani bisa menyimpan
gabahnya terlebih dahulu di lumbung pangan kelompok, dan baru menjualnya ketika harga
gabah sudah membaik dan menguntungkan.
c. Mengingat informasi pertama yang diterima petani/ kelompok tani lebih banyak berasal dari
petugas penyuluh pertanian dan penerangan, maka informasi yang akan disampaikan harus
diolah dan dikemas sesuai dengan bahasa dan kemampuan daya serap petani, sehingga
mudah dipahami.
4. Keberpihakan pemerintah pada sektor pertanian. Karena dari ketiga strategi yang diuraikan
di atas sangat erat kaitannya dengan tugas aparat kelembagaan pemerintah di daerah sebagai
fasilitator, motivator dan regulator, maka berbagai keberpihakan setiap pemimpin daerah
terhadap pembangunan ketahanan pangan perlu terus ditingkatkan dan berbagai program yang
direncanakan dapat diimplementasikan di lapangan.
Dengan beberapa langkah strategis yang dipaparkan di atas, pada akhirnya selain kemandirian
petani/kelompok tani dapat terus ditingkatkan, berbagai program pembangunan ketahanan
pangan yang menjadi tanggung jawab pemerintah bersama masyarakat diharapkan dapat
dilaksanakan dengan baik sebagaimana diharapkan. ( Ars )

Tanggal Artikel: 24-10-2017


http://www.cybex.pertanian.go.id/gerbangdaerah/detail/14416/peranan-kelompok-tani-dalam-
ketahanan-pangan